Category Archives: risalah hidup

PENGAMPUNAN

Standar

MENGAMPUNI…

tidak berarti sanggup melupakan,

pedihnya luka batin yang ditinggalkan..

tidak berarti akan mendapatkan keadilan,

segala sebab akibat yang ditimpakan..

tidak juga menjanjikan perubahan,

akan apa adanya diri & perbuatan..

 

MENGAMPUNI…

kekuatan yang mendamaikan,

sebuah pinta & harapan yang terus dipanjatkan..

 

 

 

 

ada saatnya bahagia – ada saatnya bersedih

    ada saatnya mendapatkan, ada saatnya melepaskan,

    ada saatnya memeluk, ada saatnya melepaskan pelukan

 

 

OBSESI, PERSEPSI & REALITA YANG DIWUJUDKAN

Standar

1. OBSESI HIDUP MANUSIA

Entah saya mengalami delusi atau obsesi utopis, namun saya rasa bagi setiap manusia di segala jaman pasti merindu akan suatu tatanan kehidupan yang berkeadilan social.
Dimana damba tersebut mewujud dalam konsep-konsep akan surga, rahmatan lil alamin, mengayu hayuning bawana, dictator proletariat, ataupun ratu adil.

Berawal dari itu saya membaca keseluruhan alkitab juga sebagai satu idea dasar yang selalu hidup dalam jiwa manusia yaitu keadilan social. Dengan segala liku perjuangan dan jatuh bangunnya manusia di setiap jamannya.

Sebagai bangsa semi nomadis di pinggir padang gurun, telah membangun kesadaran kaum Israel kala itu bahwa seorang individu tak dapat bertahan hidup sendiri, yang akhirnya melahirkan masyarakat keluarga & marga yang menyatu sebagai suku-suku.
Milik kepunyaan tak pernah menjadi suatu hak khusus yang diperoleh dengan membebani orang lain dalam lingkungan yang sama… tiada kepunyaan pribadi… kalaupun ada tak pernah dipakai buat menindas orang lain.
Akhirnya setelah menjadi satu bangsa di Kanaan, kesadaran tradisi semi nomadis tersebut menjadi ‘teologi perjanjian’. Dimana ‘Perjanjian’ itu merupakan ide maupun cita-cita sebuah bangsa yang sederajat, baik diantara mereka sendiri maupun di hadapan Yahwe.

Read the rest of this entry

SISTEM RELIGI JAWA

Standar

Pasugatan Ki Sondong mandali

(Lanjutan Rasionalisasi Kejawen)

 

Sistim religi Jawa merupakan hasil olah ‘cipta rasa karsa’ dan ‘daya spiritual’ manusia Jawa. Olah ‘cipta rasa karsa’ dan ‘daya spiritual’ tersebut melahirkan pemahaman adanya ‘maha kekuatan’ yang ‘murba wasesa’ (mengatur dan menguasai) seluruh jagad raya. Maka lahir kesadaran hakiki tentang adanya ‘realitas tertinggi’ yang disebut ‘Kang Murbeng Dumadi’ (sebutan lain: Kang Maha Kuwasa, Hyang Wisesa, Hyang Tunggal, dll.).

Karena dasarnya sebagai hasil olah ‘cipta rasa karsa’ dan ‘daya spiritual’ maka ada ‘perjalanan’ menuju kesadaran ‘adanya’ Realitas Tertinggi yang disebut ‘Kang Murbeng Dumadi’ tersebut secara ‘rasional logic’. Adalah ‘keunikan’ Jawa yang kemudian mendiskripsikan Kang Murbeng Dumadi tersebut ‘tan kena kinayangapa lan murbawasesa jagad saisine’ (tidak bisa digambarkan wujudnya dan ‘melingkupi-menguasai-mengatur-mengendalikan’ seluruh alam semesta dengan seluruh isinya). Diskripsi yang demikian merupakan ‘puncak’ pengertian paripurna orang Jawa tentang ke-‘Maha Esa’-an Tuhan yang bisa digapai ’cipta rasa karsa’ dan ’daya spiritual’ manusia. Read the rest of this entry

AKU, KAMU DAN DAFTAR BELANJAAN KITA

Standar

Kulihat kembali profil picture-mu, hmmm… memang sungguh menarik hati, tak salah jika aku langsung jatuh cinta dan buruan nge-add kamu.

Seperti yang ditayangkan dalam iklan-iklan di banyak media, beragam gaya hidup post modern yang sangat mengesan. Dalam diriku terbentuk suatu gambaran ideal tentang sosok yang patut dicinta, gambaran ideal yang lalu menjadi shopping list, daftar belanjaanku, yang kemanapun selalu kubawa.

Aku begitu mencintai daftar belanja itu sehingga saat aku bertemu denganmu, orang yang cocok dengan daftar tersebut, dengan mudahnya kukatakan “Aku Mencintaimu”.

Aku mencintai kamu, tenan ki ora ngapusi, mencintaimu sesuai dengan segala gambaranku tentang dirimu :

Read the rest of this entry

KASULTANAN CIREBON KEHILANGAN JARI SEMAR

Standar

Wafatnya Sultan Kanoman XI (Sultan Djalaludin) membawa permasalahan perebutan kekuasaan antara Pangeran Raja Muhammad Emirudin dengan Pangeran Muhammad Saladin.

Sesuai adat istiadat dan pepakem, yang berhak menjadi Sultan adalah putra yang lahir dari ibunda permaisuri yaitu Pangeran Raja Muhammad Emirudin, namun munculnya surat wasiat Sultan Kanoman XI (Sultan Djalaludin) yang bunyinya penyerahan tahta ke Pangeran Muhammad Saladin sebagai Sultan Kanoman XII, telah membawa Kasultanan Kanoman kepada konflik keluarga yang berujung ontran-ontran suksesi.

Meski Kasultanan Kanoman tidak lagi mempunyai pamor maupun pengaruh apa-apa bagi masyarakat Cirebon dan boleh dikatakan bahwa ikon feodalisme ini tengah mati ngorak …mati sendiri tanpa revolusi seperti Prancis… tak urung ontran-ontran suksesi ini berimbas kepada panasnya hawa yang sangat dirasakan kaum spiritualis Sunyaragi. Tempat para Sultan Cirebon bersamadhi.

Hawa panas ini sangat menggangu aktivitas spiritualis mereka & meresahkan. Maka dalam sebuah pertemuan mereka sepakat berupaya mencari jawab akan penyebabnya. Dalam meditasi yang mendalam para spiritualis mendapatkan wisikan bahwa Kasultanan Cirebon telah kehilangan Drijine Semar, Jarinya Semar. Read the rest of this entry