Category Archives: Badan Asli Pambudidaya Amal Kebutuhan

MENCARI WAJAH YESUS

Standar

Bintaro di tahun 80an, seorang mantan tapol, belum beberapa lama menikmati kebebasannya dari pembuangan di Pulau Buru.
Hidup telah berbuat kejam kepadanya dengan merenggut masa mudanya….. meski kini tampaknya tengah bermurah hati, stigma PKI yang disandang menjauhkan dari sapa kasih sesama.
Pergi dari tanah kelahiran yang tak lagi menerimanya ia coba merajut asa dengan terus menapaki hidup yang tetap ia yakini masih berbaik hati menyapa.
……….
Kala itu sebuah gereja tengah dibangun dengan satu semangat mempersembahkan wajah Yesus yang universal kepada dunia.
Berbekal ketrampilannya sebagai pembuat patung ia dipercaya untuk membuat wajah Yesus yang mewakili wajah seluruh bangsa dunia di corpus salib. Ia pun lalu berburu gambar-gambar Yesus, di seluruh perpustakaan-perpustakaan gereja. Namun tak satupun yang mewakili wajah dunia….
Setiap gambar Yesus yang ia temui membawa ciri khusus sesuai latar belakang ras dan budaya yang diwakili. Yesus dalam kepustakaan Cina digambarkan mirip seperti orang Cina dengan matanya yang sipit. Yesus Eropa digambarkan dengan ciri orang Eropa dengan hidung mancung & rambut pirang berombak.
Diapun lalu berpikir bahwa yang dimaksud dengan wajah universal Yesus memang seperti itulah adanya sesuai dengan kebudayaan setempat dimana iman akan Yesus hidup dan dihidupi. Mungkin juga bila Yesus digambarkan secara nJawani akan juga memakai iket atau blangkon.
……….
Hingga setelah pupus harapan untuk menemukan gambar Yesus yang mampu mewakili wajah setiap bangsa di dunia, di satu kesempatan saat ia berjalan, ia berpapasan dengan seorang laki-laki kecil yang bertelanjang dada dengan kulit legam terbakar matahari. Laki-laki tersebut mengulurkan sebuah amplop kepadanya. Ketika ia menerimanya, laki-laki itu lalu pergi & segera menghilang dari pandangannya.
Merasa heran dengan peristiwa aneh tersebut ia membuka amplop dan menemukan 3 buah negative film yang lalu segera ia cuci cetakkan.
Sungguh tak disangka bahwa gambar Yesus yang selama ini ia cari-cari ternyata ada di salah satu foto yang ia cetak.
Senang dengan penemuan tak terduga itu, ia lalu membuat profil wajah Yesus berdasarkan gambaran foto tersebut.
……….
Peresmian gereja harus segera dilaksanakan siang itu tepat jam 10.00, namun ada permasalahan teknis. Karena dibuat ditempat yang berbeda, salib Yesus dan tempat penopangnya ternyata tidak sesuai, ada perbedaan ukuran.
Dengan keterbatasan waktu dan peralatan, untuk menyetel agar pas, maka salib yang besar itu harus dipikul sementara penopangnya diperbaiki.
Kelelahan karena bekerja lembur dikejar tenggat waktu, para pekerjapun tak kuasa untuk memanggulnya.
Hanya satu orang yang menyanggupi untuk memanggul salib sementara pekerja yang lain memperbaiki. Dialah mantan tapol itu…
Seorang PKI atheis, satu-satunya orang yang sanggup memanggul salib Kristus.

NGUSLUK-USLUK BATHOKE SAPA?

Standar

Pamuji rahayu,

Sudah banyak tulisan yang mencoba mengulas makna dibalik tembang dolanan Sluku-sluku Bathok. Ada yang mengaitkannya dengan ajaran agama, pula yang melihatnya dari sudut pandang penekunan spiritual.
Bukan maksud saya ikut-ikutan latah mengulas makna tembang dolanan tersebut, namun kiranya pemaknaan dari sudut pandang lain juga kita perlukan sebagai alternative atau boleh hanya sekedar untuk menambah wawasan.
Saya mencoba memaknainya dari sudut pandang kenakalan saya yang dengan semena-mena saya sebut sendiri sebagai sudut pandang sangkan paran atau Jawa Kawitan.   :mrgreen:

Bagi yang belum tahu, berikut syair Sluku-sluku Bathok selengkapnya :

Sluku-sluku bathok

Bathoke ela-elo

Si Rama menyang Sala/Kutha

Oleh-olehe payung motha

Mak jenthit lolo lobah

Wong mati ora obah

Nek obah medeni bocah

Nek urip goleka dhuwit.

Read the rest of this entry

PANGRUWATING PANCENDRIYA

Standar

Pethikan Kitab Sastra Cetha

Amangsuli tembung Pancen Driya (Pancadriya), senajan sampun sami dipun sumerepi, nanging menggah ing salokanipun, punapa dene dunungipun, kinten-kinten taksih awis-awis sanget ingkang ngawuningani, mila perlu ing ngriki kedah katerangaken. Inggih punika makaten :

Kasebut ing Serat Mahabarata bageyan ing Adiparwa, kacariyos Dewi Drupadi punika dados garwanipun Pandhawa Gangsal, sarta saking garwa wau sami peputra satunggal-satunggal. Para Raja Putra wau kasebut Pancabala, Pancawala, Pancakumara lan ugi Pancabalawitiya.

Tegesipun Pancabala = anak jaler gangsal, Hadiwitiya = pinunjul tanpa timbang. Inggih Pancabala Hadiwitiya punika ingkang dados pralampitaning Pancadriya. Raja putra gangsal wau, putra saking Prabu Yudhistira nama Sang Pretiwindya, kangge pralambanging paningal, saking Sang Werkudara asma Sang Sotasoma, kangge pralambanging pangganda, saking Sang Arjuna nama Sang Sutakirti kangge pangumpamening pamiyarsa, saking Sang Nakula nama Sang Sutanika kangge sanepaning raosing ilat, saking Sang Sadewa nama Sang Srutakarma kangge pralampitaning rasaning anggota (badan).

Read the rest of this entry

PANCADRIYA PEPANCENING KARSA

Standar

Kapethik saking Kitab Sastra Cetha

Temptation of Sage Wisrawa and Dewi Sukesi


Amratelakaken kawruh pasamaden ingkang sanyata langkung ageng pigunanipun ingkang kasebut SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU.

Tegesipun :

  • SASTRA = empaning kawruh,
  • JENDRA = saking panggarbaning tembung Harya Endra, tegesipun Harya = raharja, Endra = ratu = dewa,
  • HAYU = rahayu = wilujeng,
  • NINGRAT = jagad = enggen = badan.

Suraosipun  : mustikaning kawruh ingkang kuwasa amartani ing karahayon, karaharjan, katentreman lan sapanunggalipun.

Dene tegesipun PANGRUWATING DIYU inggih amalihaken diyu, dene diyu = danawa, raseksa, asura, buta, punika kangge pasemoning piawon, penyakit, rereged, bebaya, pepetang, kabodhowan lan sesaminipun. Mengku suraos : amastani ingkang saged anyirnakaken saliring piawon tuwin samubarang bebaya pakewed.

Read the rest of this entry

KRATON YOGYA KEHILANGAN PERKUTUT

Standar

“Begini Mbah, kemaren waktu libur saya berkesempatan untuk berwisata budaya mengunjungi Kraton Yogya. Ada satu hal yang cukup mengganggu saya waktu disana Mbah, saya mendapat gambaran ada banyak sangkar burung namun sayangnya tidak ada satu burungpun di dalamnya”

“Hehehe…… memang itu yang harus terjadi. Burung dalam sangkar para raja adalah perkutut, sebagai symbolisme Wahyu.
Kraton sekarang telah kehilangan perkututnya, kehilangan wahyunya. Wahyu Kraton selama ini dianggap sebagai Wahyu Keprabon , wahyu yang dimiliki oleh para raja sebagai pemimpin umat tiada bedanya dengan wahyu yang diimani dalam agama, wahyu sebagai anugrah untuk manusia terpilih sekedar klaim atas pencapaian diri.
Pengertian wahyu seperti ini yang sejatinya harus dibongkar & dimaknai ulang. Pewahyuan adalah pengungkapan segi terdalam dari manusia. Ketika ia melihat kedalam diri, kesejatian dirinya disingkapkan itulah Wahyu.” Read the rest of this entry

Badan Asli Pambudidaya Amal Kebutuhan

Standar

Wejanganipun BAPAK (Badan Asli Pambudidaya Amal Kebutuhan) mengeti dinten Riyaya Qurban

Bismillahirrohmanirohim,

Allahumma ya dayanu waya qowwiyal ardhi waya karimu antakhfadlona man anzalna bil khaqi ya rohmanu ya rohimu ya mannanu ya khannanu
ya Allah ya Allah ya Allah ya Robalalamin Amien

Doa Ibrahim

 

Anak-anakku tercinta, aku kumpulkan kalian malam ini untuk bersama-sama melakukan kebaktian kepada kedua orangtua kita Ayah & Ibu.

Dalam agama-agama besar, ayah & ibu mendapatkan tempat yang sangat terhormat & mulia.

”Hormatilah Ibu Bapamu!”’ demikian salah satu Perintah Allah dalam Taurat Musa.

”Surga ditelapak kaki ibu”, pun sabda Rasulullah dalam sebuah Hadits.

’Menghormati & mencintai kedua orang tua kita’…….tidaklah sekedar mengenang & membalas jasa mereka. Namun lebih dari itu menuntut kesadaran & sikap hidup kita akan nilai2 kemanusiaan, penghargan bagi semua manusia. Meski terdengar utopis harus disadari bahwa kita semua adalah ’Saudara’.

Read the rest of this entry