OBSESI, PERSEPSI & REALITA YANG DIWUJUDKAN

Standar

1. OBSESI HIDUP MANUSIA

Entah saya mengalami delusi atau obsesi utopis, namun saya rasa bagi setiap manusia di segala jaman pasti merindu akan suatu tatanan kehidupan yang berkeadilan social.
Dimana damba tersebut mewujud dalam konsep-konsep akan surga, rahmatan lil alamin, mengayu hayuning bawana, dictator proletariat, ataupun ratu adil.

Berawal dari itu saya membaca keseluruhan alkitab juga sebagai satu idea dasar yang selalu hidup dalam jiwa manusia yaitu keadilan social. Dengan segala liku perjuangan dan jatuh bangunnya manusia di setiap jamannya.

Sebagai bangsa semi nomadis di pinggir padang gurun, telah membangun kesadaran kaum Israel kala itu bahwa seorang individu tak dapat bertahan hidup sendiri, yang akhirnya melahirkan masyarakat keluarga & marga yang menyatu sebagai suku-suku.
Milik kepunyaan tak pernah menjadi suatu hak khusus yang diperoleh dengan membebani orang lain dalam lingkungan yang sama… tiada kepunyaan pribadi… kalaupun ada tak pernah dipakai buat menindas orang lain.
Akhirnya setelah menjadi satu bangsa di Kanaan, kesadaran tradisi semi nomadis tersebut menjadi ‘teologi perjanjian’. Dimana ‘Perjanjian’ itu merupakan ide maupun cita-cita sebuah bangsa yang sederajat, baik diantara mereka sendiri maupun di hadapan Yahwe.

Janji Yahwe akan kemakmuran duniawi dijanjikan sebagai suatu keseluruhan, untuk dinikmati bersama oleh semua anggota masyarakat… asal mereka setia pada perjanjian, Yahwe memberi jaminan ”tidak akan ada orang yang miskin diantaramu” …”asal saja engkau mendengarkan baik-baik suara tuhanmu” .
(suara tuhan saya artikan sebagai idea akan keadilan social tersebut…dikisahkan sebagai larangan untuk mengumpulkan ‘manna’ yang mungkin akan berakibat merusak kesederajatan mereka dalam hal ketergantungan akan Yahwe/ Sang Hidup).

Namun tiada tertib social yang tahan kemerosotan, selalu saja ada orang yang sanggup & tidak sanggup. “Kelalaian dan kemalangan” sementara orang, “kekuatan dan kemujuran” yang lain memainkan peranan. Juga bauran budaya dengan kaum Kanaan & Amori yang menganggap harta mereka sebagai komoditi yang bisa dijual, membuat kaum Israel memiliki dua macam hak milik tanah, satu milik marga yang dibagi saat jaman Yosua, satunya tanah milik pribadi yang dibeli dari Kaum Amori & Kanaan.

Timbullah kekayaan dan keinginan untuk mendominasi…

Inilah yang menjadi permasalahan utama, dimana akhirnya para nabi bernubuat dan lahirlah berbagai perundangan seperti Hukum Taurat, Tahun Sabat, Tahun Yobel, Kabar Gembira Kerajaan Allah, Das Kapital…yang dapat kita tarik kesimpulan bahwa Yahwe yang diimani oleh Israel menurut alkitab bukanlah tuhan yang netral, namun secara gamblang menggambarkan Yahwe yang berada pada pihak kaum miskin dan tertindas.

Keberpihakan tersebut karena Yahwe adalah tuhan yang setia pada ‘Perjanjian’.
“Allah Perjanjian”, Kesadaran sang manusia bahwa dalam kemiskinan & ketertindasan itulah titik dimana kemanusiaannya paling terancam…. Baik penindas & yang tertindas membutuhkan pembebasan, yang bagi para nabi pembebasan adalah berarti kembali kepada ‘Perjanjian’, suatu pengetahuan sejati akan Yahwe, pengetahuan sejati akan idea kemanusiaan… seluruh alkitab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru merupakan suatu undangan untuk menjadi ‘bebas’ dan membiarkan orang lain menjadi bebas sambil menjadi “Anak-Anak Allah”.

Saya tak sedang hendak menjelaskan tesis pokok marxisme dengan pembenarannya secara alkitabiah. Namun mungkin ini sebagai salah satu upaya pemaknaan hidup yang saya coba untuk lebih membumi *atau malahan terhalusinasi oleh mimpi* sesuai keadaan & kondisi jaman dimana saya dihidupi.

Seperti juga “andon laku angulati serat pangruwating papa nista”…bertualang mencari kitab yang akan mengentaskan dan memuliakan keadaan papa nista”…sebuah laku spiritual pencarian makna hidup & perjalanan perjumpaan kembali dengan diri sendiri yang tengah saya lakoni.

2. REALITA

Apa sumbangan kebangkitan spiritualitas bagi moral, etika dan keadaan social manusia, dimana keadaannya seperti yang pernah ditulis Leonardo Rimba “greedy go lucky”?

***

”Dengan mata, seseorang dapat melihat pandangan memilukan; Mengapa Brahma itu tidak menciptakan secara baik? Bila kekuatannya demikian tak terbatas, mengapa tangannya begitu jarang memberkati? Mengapa dia tidak memberi kebahagiaan semata? Mengapa kejahatan, kebohongan dan ketidak-tahuan merajalela? Mengapa memenangkan kepalsuan, sedangkan kebenaran dan keadilan gagal?
SAYA MENGANGGAP, BRAHMA ADALAH KETIDAK-ADILAN .
Yang membuat dunia yang diatur keliru.”
[Bhuridatta Jataka, Jataka 543]

***

Mungkin memang saya sedang mengalami delusi,
Realitas konkret alam semesta berjalan apa adanya sesuai hukum kausalitas dan kesetimbangan, tiada mengenal apa itu yang disebut keadilan social… namun kedegilan dan keterpurukan bangsa ini telah telanjur membuat saya menjadi obsesif sekaligus kapitulasi… butuh berapa ratus tahun lagi buat bangsa ini untuk bisa berevolusi mencapai kesadaran?
Butuh suatu revolusi besar yang mungkin bila tak mampu dimotori manusia, akan diambil alih oleh alam sendiri sebagai konsekwensi hukum kausalitas tersebut. Dan pemikiran akan hal-hal ini yang menciptakan delusi… pengalaman puncak & intuisi… sosok-sosok hero?

Bagaimanapun, saya berusaha untuk terus memahami, dan menerima realitas sebagaimana apa adanya bukan sebagaimana seharusnya…
Menerima realitas, memahami realitas… Lalu bertindak berdasarkan apa yang seharusnya kita lakukan…
Karena memang realitas hanya bisa kita terima ‘apa adanya’, sedang menerima ‘apa yang seharusnya’ hanya relevan untuk keputusan yang akan kita ambil…

Dan disinilah dalam pengambilan & pembuatan keputusan ini… saya menyadari akan otentisitas, orisinalitas & kualitas kemanusiaan…
Segala arketipe bukan lagi suatu fixasi infantile, namun adalah gambaran dari kesadaran tentang kesejatian diri yang ingin diwujudnyatakan. Keperkasaan dan kehebatan segala sosok hero (ratu adil, satriya piningit) mendapatkan dan hanya akan mendapatkan eksistensinya dalam diri kita.

….”Keadilan sosial, moral, dan etika adalah bahasa manusia. Sebuah konsep yang ditemukan oleh manusia dalam meniti dan memaknai kehidupannya yang lahir karena adanya interaksi dan dialektika kepentingan dari manusia dengan manusia, manusia dengan alam. Jadi karena konsep ini dilahirkan oleh manusia, maka tugas manusia pula untuk terus mengusahakan dan mengembangkannya baik secara individual maupun kolektif”….

Semangat, keberpihakan, kejelasan orientasi tidak bisa diukur dari sensasi supranatural yang mungkin hanyalah pelarian infantile dari obsesi kita… juga tak pernah bisa dilihat dari reaksi-reaksi emosional terhadap realitas yang mau kita lawan (seolah-olah dengan demikian kita sudah berjuang melawan penindasan dan ketidakadilan), melainkan dari tindakan konkret yang dilakukan. realitas yang kita wujudnyatakan.

Ingin meruwat papa nista… ingin mengubah dunia… Hmmmm….

Yang rasional saya lakukan adalah mengubah diri terlebih dahulu!
Karena tindakanku tak pernah berhadapan dengan dunia luas secara langsung, hanya kontak dengan dunia kecil yang saya hadapi, yang tergantung pada keterbatasan penginderaan.
Dunia kecilku… itulah yang mestinya saya ubah.

Kalau tidak menghadapi itu, saya tidak mengubah apa-apa.

Bila saya menghadapinya, berarti menghadapi diri sendiri juga, dan itu juga berarti bergulat dengan perasaan dan pemikiran.

Dan mungkin realitas tak seburuk yang selama ini saya duga…
Realitas yang saya maksud adalah realitas konkret segala hal yang bisa kita cerap secara inderawi, bukan realitas persepsi kita, yang kita cerap secara intelektual, gagasan, pemikiran, dugaan, prasangka.

Realitas itu baik adanya, dimana yang namanya kejahatan memang inheren ada dalam diri manusia.
Mengapa seseorang menjadi koruptor, pelacur, karena mereka mempunyai kondisi-kondisi tertentu yang membuat mereka menjadi seperti itu, mereka bermasalah karena mereka belum sadar. Masih hidup dalam dunia insting mereka.

Memahami mekanismenya, memahami pelaku-pelakunya, memahami bagaimana mereka bisa bertindak seperti itu. Memahami apa yang mengkondisikan mereka begitu, tahu keadaan yang melatarbelakangi dan akibat-akibatnya kemudian mencari alternative tindakan yang dilakukan.
Lalu kita nantinya akan memahami bahwa manusia ini memang sedang tidur. Asyik masyuk terbuai mimpi.

Manusia yang telah terbangunkan yang memutuskan hal yang nyata atau cuma sekedar mimpi…dan dalam mewujudnyatakankan segala mimpi, kita tetap menyadari bahwa kita sedang mengalami segala sensasi dari kesadaran kita yang tengah asyik bermain-main…

Actor perubahan social adalah orang-orang yang sadar. Kesadaran yang menjadi penggerak perubahan!!

Seorang Yogi harus bisa melihat
Hasil kerjanya selama hidup dihancurkan
Harapannya musnah
Rencananya dan semua usahanya sia-sia
Semuanya kandas

Dan masih saja
Tidak goyah
Tidak peduli
Sejauh itu

Dengan hati yang tiada sedih
Sebuah keluhan
Atau penyesalan

Ia terus berusaha
Tanpa rasa kecut

Tanpa ketamakan
Tanpa kebencian
Tanpa ilusi

“Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta!”

*****

5 responses »

  1. pamuji rahayu..

    terima kasih dimas… ya kita mesti merubah dunia dari diri kita.. mulai berkesadaran pada diri kita lebih dulu baru merambah pada kel kecil kita lalu.. dst. terima kasih dimas atas pelajaran ini.
    salam Semarang.
    nuwun

  2. Salam Rahayu Slamet

    Mas Tommy, lewat blog ini aja ya kita komunikasi. Hp lama udah nggak ada, kalau berkenan, kirim no hp ke email saya aja ya.
    Matur Nuwun
    Berkah Dalem Gusti

  3. Welcome to the world reformers.
    I tried updating from the other side.
    I will give a warning to countries giant, who committed the crime world.

    TRISULA WEDA is SUPER STRENGTH, to PARALYZE GIANT STATE CRIME.
    STATE SUPER POWER, HAVE ANY ASSUMPTION CAN DO.
    DO NOT BE AFRAID. I AM COMING TO CANCEL THE THEORY OF SUPER POWER COUNTRIES.
    THIS CONCEPT “TRISULA WEDA” WILL OPEN A NEW WORLD.

    Open the human mind to understand the nature of life that is inseparable from the existence of the universe is the duty of the “New Man”.
    Sandi Kaladia come stunned World. I was a “New Man”

    That might be a big surprising news, that the universe, in the body of God.
    All life is in God’s body, therefore the Lord able to feel everything that happens in the body.
    Sure. Excavation of Philosophy, from Sandi Kaladia: It is shocking the World.
    You think having the distance with God? You think life outside the body of the Lord? Be careful to kufr.

    2013 will be universally understood, that our lives are in God’s body.
    If we have been convinced that life is in God’s body, then all the lies would be revealed.
    On human beings full of mystery. It was there that God’s many secrets.
    If someone has found itself, it will be understood the existence of God.

    TRY TO THINK, THE SECRET OF THREE ELEMENTS of DEVINITY JOIN TO BE ONE (Trisula Weda):
    1)Water comes from “ACINING~CAI” is a supernatural element. Element of divinity.
    2)Land comes from “ACINING~TANEUH” is a supernatural element. Element of divinity.
    3)Fire comes from “ACINING~SEUNEU” is a supernatural element. Element of divinity.
    1+2+3) The air is “SAJATINING~HUDARA” is a supernatural authenticity. Divine authenticity.

    All forecasts are engineering science capabilities. This situation can be realized by anyone who has reached such dimensions. It is unfortunate that they stigmatize natural disaster,

    when in fact it is a super engineering. But do not be arrogant I will thwart all prophecy.

    I say to everyone, that everyone in the body of God, therefore, must be safe and not get hurt, but if it’s a kind of disorder cancer, I would definitely destroy, to be a lesson.
    I will alert the giant state and its crimes against humanity. Hurry up you’re all doing good, and abstain from evil.
    Do not until you receive a fatal consequence of your crime. We will forgive you.

    Please wake peace with love.
    PLEASE, FIX THIS LIFE WITH LOVE ::

    ‘Bridge of Love’ will be a liaison trip, meeting someone with God.
    ‘Bridge of Love’ can enhance meaning: From the ‘Sense of Humanity’ to the ‘Taste of Divinity’.
    ‘Bridge of Love’ can enhance meaning: From the ‘Sense of Divinity’ to the ‘Taste of Caring’.
    ‘Bridge of Love’ can enhance meaning: From the ‘Sense of Caring’ to the ‘Sense of Belonging’.
    ‘Bridge of Love’ can enhance meaning: From the ‘Sense of Belonging’ to the ‘Sense of Maintaining’.
    ‘Bridge of Love’ can enhance meaning: From the ‘Sense of Maintaining’ to the ‘Sense of Glorifying’.
    ‘Bridge of Love’ can enhance meaning: From the ‘Sense of Glorifying’ to the ‘Sense of Devotion’.
    ‘Bridge of Love’ can enhance meaning: From the ‘Sense of Devotion’ to the ‘Sense of Truth’.
    ‘Bridge of Love’ can enhance meaning: From the ‘Sense of Truth’ to the ‘Sense of Absolute’.

    Bandung
    Sandi Kaladia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s