Category Archives: syair temaram

SASTRA BINABAR

Standar

Hangidunga Piweling Kaki,

Sabdopalon Pamong Nusantara,

Ameca Kasengsarane,

Rakyat Nusa Sedarum,

Nampi Panodhining Hyang Widhi,

Kalambangnya Wong Nyabrang,

Prapteng Tengah Katempuh,

Santering Kali Kang Bena,

Yeku Ing Gapura Sapta Ngesthi Aji,

Keh Jalma Samya Lena.

Sastra ini harus dibabar

Maka kukidungkan kesedihan, tangisan lampau kisahkan derita menjelang

Kala manusia menyusut hanya menjadi bagian dari suatu nilai kegunaan

dan waktu dirampat ketam bagai binatang buruan

Ilusi diproduksi dalam hingar bingar iklan, jadikan mimpi lebih meyakinkan dibanding kenyataan

Tercampak laiknya budak…

Jalanmu didiktekan sesuai peta…

Sebrangi sungai…

Apa lacur, sesampai di tengah diterjang banjir bandang

Apa yang bisa kau jadikan pegangan?

Pemimpinmu lebih suka berebut remahan roti yang disebut kekuasaan

Sedang…

Pemegang peta tak lebih dari calo tiket yang sibuk perkaya diri berslogan ayat suci hingga membusa mulut

Tuntunan menjadi tontonan..!!!

Pupus harapanmu tiada lagi pegangan

..

..

..

Nandhang Mrata Sak Tanah Jawi,

Dadi Kersaning Kang Murbeng Alam,

Meruhna Pra Kawulane,

Lamun Jagad Puniku,

Mengku Pangeraning Ghoib,

Nraju Becik Myang Ala,

Kang Nandhur Angunduh,

Nandhang Wohira Priyangga,

Den Alamna Kinarya Amratandani,

Jagad Ana Kang Ngasta.

Sastra ini tetap harus dibabar

Maka yang terjadi biarlah terjadi sebagai tanda agung Ilahi

Keadilan adalah dendam, seruan akan sebuah harapan

Sebab dunia adalah ladang, tempat menabur benih dan menuai hasil

Maka siapa yang menabur dialah yang akan menuainya

Sungguh…

Yang dinanti telah datang, namun tak seperti yang kau kira

Dia datang membawa api

dan seperti yang dikehendakinya api itu telah berkobar menjalar kemana-mana

..

kobong.!

kobong.!!

KOBONG..!!!

..

..

..liyep liyep layaping ngaluyut

..

..

Cukup sudah yang perlu kusampaikan

Tunaikan wajib yang mesti diemban

Sastra ini harus dibabar

MIMPIKU

Standar

 

Malam itu aku bermimpi tentang seorang lelaki

putra bumi kesayangan negeri

dia datang disaat fajar

berjalan didalam badai meniti gelombang

 

Aku telah datang dengan membawa bara di dada

dan seperti yang kuinginkan api itu telah membesar dan terus menjalar”

 

bangkit berdiri anak-anak negeri

menghimpitku di tengah-tengah mereka

berseru gegap gempita

canangkan tekad bajakan semangat

 

tiba-tiba dari seluruh penjuru datanglah

laskar petaka mengumbar murka

tercerai berai.. terserak kami semua

 

berdirilah dia dihadapan para dursila

setegar karang setenang samudra

menantang maut serahkan hidupnya

 

…dalam kegeraman

…dalam kemurkaan

mereka menyesahnya

putra bumi kesayangan negeri

direnggut dari tengah-tengah kami

kini telah pergi dia yang kami kasihi

 

lalu kulihat seorang badut

wajahnya dipulas dipatut-patut

seringai serigala namun terlihat selalu tertawa

Aku telah datang membawa kesenangan dan kegembiraan

hidup hanya sekedar permainan mari jadikan sebagai panggung hiburan”

Gegap gempita seluruh negeri

badut diangkat didudukkan kursi

jadilah pemimpin kami

terima hormat daulat kami”

 

hancur hatiku melihat itu

dengan menangis aku berlalu

bangsaku oh bangsaku

mengapa kalian begitu dungu?

 

Terbangun aku oleh suara lembut istriku

Sayangku, Sayangku.. engkau bermimpi buruk lagi

tenanglah ..aku disini ..aku disini”

kulihat wajah cantiknya dengan mata sebening telaga

dalam emosi kudekap dia

menangis aku dalam cintanya

peluk aku… peluk aku…”

 

 

231107

BERPISAH JALAN

Standar

tinggalkan saja aku

sudi apa mengikutimu

kalau gambaran surgamu

hanyalah pendambaan puncak kenikmatan nafsu

caci maki saja aku

sudi apa mendengar celotehanmu

sebab aku tahu

sejatinya engkau seorang pemburu

memang aku berjalan diatas awan

hidupku membadai topan

kalau awan ketidakpastian

halilintar kujadikan pedoman

kutuk saja aku

sudi apa menggubrismu

sebab aku juga telah tahu

berjuta kepentingan bersembunyi di balik baju

sudah sudahlah

tinggalkan saja aku

GEDIBAL

Standar

Bahasa yang indah adalah bahasa Tuan

Bahasa kami gonggongan anjing liar

Pikiran yang mulia adalah pikiran Tuan

Pikiran kami pikiran otak udang

 

 

Kami bangsa taklukan

Diperbudak di tanah moyang

Para perempuannya pemuas zakar

Lelakinya penjilat pantat

Kaum muda layu tunas tidak berakar

Kaum tua lapuk kayu dimakan ngengat

 

 

Jangan minta kami berjuang

Kemerdekaan cuma bidaah besar

Upah kami surga di tangan

Kau bilang fatamorgana ?

 

Enyah kau setan !!!

Lolonganmu tak kami butuhkan

Kami dilahirkan dari kebohongan

Kami dihidupi oleh kebohongan

Jangan pernah kau ambil dari kami

Karena hanya itu …

Sisa-sisa hajat untuk kami makan

YANG TERBUANG

Standar

aku adalah serigala liar yang melolong di tengah malam

burung memiliki sangkar … serigala memiliki liang
anak manusia punya tempat menghangatkan badannya

namun aku adalah yang terbuang
tempat bersandarpun aku tiada

ya aku adalah serigala liar
terbuang dari kawanan
mengembara di padang gersang
melolong menjerit di tengah malam

sering lolonganku terdengar seram
membangkitkan bulu kuduk bagi yang mendengar
kadang terdengar menyakitkan telinga
membangkitkan amarah dan kecaman …
o asssu !!!
makian, hinaan serta kutukan akrab denganku
ya aku adalah serigala liar yang dinajiskan orang

namun sering pula lolonganku terdengar menyayat hati
membuat kelu, tajam mengiris hati membatu
membuat orang berpaling merasa haru
mengisi relung kalbu yang telah lama kosong bagaikan hantu

o asssu!!!
ya itulah aku serigala liar yang melolong di tengah malam

IBU

Standar

Konjuk dumatheng Ibu Bumi Ibu Pertiwi
Dalem Caos Sungkem Bekti saha angluhuraken Panjenengan
Dalem nyuwun sabda lebur sedaya dosa kadurakan ingkang sampun dalem lampahi

…panggrantesku sundul ngawiyat…
tangising ati saya ora kuwat ngglawat

andeleng bocah sekolah nganggo sragam pramuka
kanthi asesuka ngibarake gendera
kumlebet amerbawa Sang Saka Merah Putih
den aras angin ing tangan-tangan ringkih
sujudku di telapak kakimu Ibu
pendurhaka memohon Surgamu
bila selama ini kututup mataku
liarkan getar nafsu
hati kelam membatu

sujudku di telapak kakimu Ibu
sesal marah membakar jiwaku
telah kubiarkan durjana dursila
memperkosa menjarah bumi sucimu
sedang kami anak-anakmu
pecandu peluru berbalut madu

sujudku di telapak kakimu Ibu

sayup kudengar kembali kidung merdumu
yang dikala kecilku dulu
membawaku lelap dalam embanan kasihmu

tak lelo lelo ledung
cup menenga Ngger sun emban sun kekidung
pun Bapa arsa anetepi dharma
paring sesuluh myang kang nandhang rubeda

tak lelo lelo ledung
rep sireping wayah ratri
anakku Ngger tansah sun pepuji
dibisa dadi tepa palupi
dadya jalma utami

TANGISKU.. DUKAKU

Standar

..aku mencintaimu ayah..

..namun kaki ini sudah tak mampu lagi melangkah..

Untukmu Ayah Bapa Segala Bangsa

Bapa Semua Orang Beriman

Bila tembok Berlin yang memisahkan

Jerman Barat dan Jerman Timur

telah dapat diruntuhkan

Lalu .. bilamanakah

tembok Jordan

yang angkuh

terbuat dari baja kebengisan nafsu manusia

yang telah memisahkan anak-anak Ibrahim

dapat diruntuhkan?

sungguh aku berduka untukmu

wahai Ayahku

di hari tuamu

waktu istirahatmu dalam keabadian

yang seharusnya terengkuh dalam kedamaian..

anak-anakmu saling berbunuhan

seharusnyalah bagi seorang putra

mempersembahkan doa dan air pelepas dahaga

bukan mempersembahkan api, darah dan air mata

di haribaan ayahanda tercinta

hanya demi pengakuan palsu

pewaris berkah cinta ayahanda

sungguh aku berduka untukmu

wahai Ayahku

tangis dan airmata

mengeringkan kedua mata

rintih kelu menyayat kalbu

hanya itu..

aku sudah tak mampu

hanya itu..

persembahan tanda cintaku

maafkan aku Ayah..

maafkan aku..