CONDITIONING

Standar

Refleksi dari kejatuhan manusia dalam dosa dikisahkan dengan sangat mengena dalam salah satu adegan film Italia berjudul 8 ½ , disutradarai Federico Fellini:

Ada seorang calon pastor bersama serombongan anak SD pergi kepantai.

Dua orang anak bertemu dengan seorang perempuan yang lebih tua dari mereka.

Sang anak bertanya, “Kamu siapa?”

jawab perempuan itu, “Aku pelacur”.

Mereka tidak tahu apa itu pelacur, tetapi toh berlagak tahu. Anak yang lebih besar, yang tampaknya lebih tahu, mengatakan kepada temannya,

“Pelacur itu perempuan yang berbuat sesuatu jika dibayar.”

Lalu mereka bertanya, “Apakah pelacur itu akan melakukan sesuatu jika dibayar?”

“Mengapa tidak?” jawab pelacur itu.

Lalu kedua anak itu mengumpulkan uang dan memberikannya kepada pelacur itu, “Maukah sekarang kamu melakukan sesuatu?”

Perempuan itu menjawab,”Oh tentu Nak. Apa yang kamu mau?”

Mereka minta pelacur itu melepaskan pakaiannya. Tentu saja itu tidak sulit dilakukan oleh pelacur itu. Kedua anak itu menatapnya; belum pernah mereka melihat wanita telanjang. Karena tidak tahu mesti berbuat apa, mereka berkata, “Maukah engkau menari?”

Lalu mereka menari bersama, bergembira, suka cita dengan tulus; sampai calon pastor itu datang dan memarahi pelacur tersebut, memintanya berpakaian kembali lalu mengomel-ngomel.

Narrator film itu berkata, “Pada saat itu, anak-anak itu tercemar, sebelumnya mereka begitu suci”.

Itulah conditioning.

#anthony de mello “doa sang katak”

Sekelumit tentang Kebahagiaan…

Standar

No one can be perfectly free till all are free

No one can be perfectly moral till all are moral

No one can be perfectly happy till all are happy –

Herbert Spencer –

Kebahagiaan… sebuah kata yang memiliki banyak arti…

Karena setiap kepala mempunyai ide sendiri-sendiri tentang kebahagiaan… memiliki konsep sendiri & syarat-syarat kebahagiaannya sendiri…

Maka mustahil untuk bisa “membahagiakan semua orang”

Dan juga tanpa kesadaran yang disertai syukur, menerima realita kehidupan sebagai apa adanya.. manusia akan terus menjadi pemburu atau hidup dalam ilusi …

Kesadaran dalam menerima realita apa adanya membawa kita mampu menerima diri apa adanya dan menerima diri orang lain sebagaimana apa adanya… inilah yang saya sebut sebagai moralitas

Dengan moralitas inilah kita akan mampu untuk membina relasi yang saling memerdekakan..

Maka semua orang akan mempunyai bermoral dan merdeka untuk menerima kebahagiannya…

Dimana peran kepemimpinan..?

Tiada tertib social yang mampu menahan kemerosotan, selalu ada orang-orang yang “mampu & tidak mampu”… ada yang “malang & beruntung”..

Hanya manusia yang mampu menyadari yang mampu menjadi pemimpin..

Dan bukankah kepemimpinan berarti pelayanan…?        Perjuangan dan pengorbanan…

Oeprit_bahagia

KESADARAN YANG MEMERDEKAKAN

Standar

TINJAUAN HIDUP, MOTIVASI & TUJUAN

Beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah acara di Gedong Songo memenuhi undangan Mas Sabdalangit, saya banyak bertemu teman-teman pejalan spiritual.
Pertemuan tersebut adalah pertemuan Kadang Kadeyan Sabdalangit, dimana oleh Ki Sabdalangit dan Nyi Ageng Untari, teman-teman yang tergabung didalamnya ibarat Sedulur Sinarawedi, anak-anak laku Beliau berdua.
Banyak hal saya dapatkan dari sharing kehidupan, salah satunya dari refleksi Mas Setyo Hajar Dewantara.
Saat itu Mas Setyo mengajak untuk merefleksikan motivasi dan tujuan dalam menapaki jalan spiritual yang dalam hal ini spiritualitas kejawaan… sebuah panggilan atau pelarian…kalau boleh saya simpulkan begitu… :mrgreen:
Tak boleh dipungkiri banyak orang menapaki jalan spiritual..*hanya istilah yang sering digunakan*.. boleh jadi merupakan sebuah pelarian… Pelarian dari kesulitan ekonomi, dari penyakit yang tidak sembuh-sembuh, dari kehampaan & kebuntuan hidup, dan beragam sebab yang lainnya.
Namun… pelarian tidak selalu berarti suatu istilah yang kurang baik…
Pelarian bisa berarti suatu evolusi paradigma hidup yang dengan penuh kesadaran kita tingkatkan. Kata kuncinya adalah kesadaran..

Bagi saya sendiri, ketika merefleksikan motivasi dan tujuan tersebut.. saya merasa ada sebuah kecenderungan dalam diri yang membuat saya tertarik akan hal-hal yang bersifat perenungan akan hakikat dari apa yang tergelar dan saya alami.. hal ini pasti karena pribadi saya yang clingus dan introvert kurasa.. juga kecenderungan tertarik akan akar budaya saya yang seorang jawa..
By the way, saya mau menerima istilah Kejawen juga baru saja, karena dasar kecenderungan saya adalah budaya jawa dalam arti yang luas dan merasa istilah Kejawen terdengar ekslusif..    :)
Kecenderungan-kecenderungan tersebut yang lalu dengan GR (keGedhen Rumangsan) dan semena-mena saya istilahkan sebagai “panggilan DNA”.

Panggilan DNA tersebut, mengutip kalimat dari novelnya James Redfield; Celestine Prophecy, yang membawa saya menuju dan menuntun kearah kesempatan yang pernah saya impikan yang dulu hanya merupakan suatu firasat/intuisi mengenai sesuatu yang ingin dilakukan, arah yang ingin ditempuh dalam hidup. Yang setelah agak lama melupakannya dan pikiran terpusat ke hal lainnya ehhh… malah bertemu dengan seseorang /beberapa orang, membaca sesuatu ataupun pergi ke suatu tempat yang membawa saya ke arah pemenuhan hal-hal yang merupakan intuisi atau mimpi tersebut. :mrgreen:

PENEBUSAN DALAM KESADARAN

Banyak hal yang saya dapati lewat event pertemuan tersebut. Saya datang bersama dengan kakak dan anak perempuan saya. Cukup lama untuk saling berdiskusi dengan Kakak saya sambil menunggu rombongan teman-teman yang lain datang.
Kesegaran udara dengan kadar oksigen yang murni terbaik kedua di dunia, heningnya suasana puncak Gunung Hong Aran dan dingin udara saat kabut tebal turun menyelimuti dan melingkupi kami membawa kami dalam sebuah pemahaman baru.

Hong Aran, lebih terkenal dengan sebutan Ungaran, boleh jadi merupakan salah satu situs awal Kebudayaan Jawa. Banyak dikaitkan dengan cerita Ramayana, menjadi tempat Anoman mengubur Rahwana hidup-hidup, sebenarnya merupakan Maha Yoni berhubungan dengan Ratu Shima, Baga-Sri, Anjani dan simbol-simbol per-EMPU-an lainnya.
Di area Gedong Songo sendiri yang merupakan pancernya sebenarnya hanya berdiri 5 Candi utuh yang lainnya masih berbentuk reruntuhan, namun lebih lanjut sejatinya ada 12 bangunan candi sesuai tataran kehidupan manusia.
1 sampai 9 adalah Babahan Hawa Sanga dimana manusia berjuang mengosongkan kesembilan lubang nafsunya, berkutat dalam dualisme kehidupan, baik buruk, laki perempuan..
Ditataran ini manusia sebagai pancer atau inti menemukan Kiblat Papatnya atau plasma. Di Timur ada Empu, Selatan Satria, Barat Pemerintahan dan Utara Sang Smara Hyang. Telah banyak petilasan dan bangunan Candi sebagai plasma Gedong Songo yang ditemukan.
Hingga dalam perjalanan berikutnya mencapai kesadaran lepas dari dualitas menemukan Sang Dasamuka dalam dirinya.. Ia akan menemukan keseimbangan dualitas yang harus dirangkumnya, disimbolkan sebagai Beji Tundha Loro ataupun Kembang Wijayakusuma dan Kembang Wijayamulya yang lalu mewujud menjadi Wit Kastuba Urip, Tree of Life, Khayun, Pohon Kehidupan.
dan dalam Kendali Kesadarannya (KendhaliSadha) ia akan mampu untuk Nglintang Sukma, melakukan penebusan hidupnya seperti legenda Abhyasa.. dan akhirnya mencapai kesempurnaan dalam tataran ke-12 : Moksha.

Abhyasa, entitas kesadaran tinggi.. yang mampu melakukan penebusan pohon kehidupannya..
Bila dalam konteks Kristiani, penebusan adalah memberikan silih atas dosa, seperti Isa yang harus menjadi silih atas dosa Adam.. maka dalam konteks Jawa, Sang Abhyasa dalam diri Isa yang selalu sadar, menyadari apa yang terjadi dalam setiap momen hidupnya.. itulah yang menjadi penebusan.
Kesadaran yang tidak lari dari realita meski ia harus digiring seumpama domba yang akan disembelih, dilecehkan, dianiaya dan dibunuh.. Hingga dalam akhir hidupnya di kayu salib, dalam kesadaran penuh akan hidup dan penderitaannya Isa berkata..”Ya Bapa ke dalam tanganMu kuserahkan hidupku”.. tuntaslah penebusan itu.

MEMBANGUN RELASI

Bila dalam kisah Isa maupun Sidharta, kesempurnaan dicapai lewat diri sendiri.. dalam kearifan Jawa ternyata kesempurnaan tidak ego-sentris, banyak cerita tentang sepasang suami istri yang moksha bersama, bahkan mokshanya karena berpasangan, penebusannya adalah kesadaran dalam membangun relasi yang saling menyempurnakan.

Di situs Candi Gedong Songo, slokanya adalah seperti ini : Candi VI adalah Lingga Yoni, diapit Ratu Shima dan Jejaka, dimana pertemuan Rahsa Sejatinya memancarkan kama ke Candi III yang menjelma menjadi tokoh Abhyasa..

Sering dalam kehidupan ini dalam membina relasi kita terlalu memberi beban yang berlebihan kepada orang lain. Kembali ke refleksi Mas Setyo… pelarian kita kepada jalan spiritual seringkali benar-benar sebuah pelarian tanpa kesadaran..
Kita tak mampu menerima diri apa adanya, tak mampu menerima keadaan diri apa adanya, lalu melarikan diri dalam ilusi pemujaan ide-ide dan figur spiritualis.. kita yang tak mampu menerima diri menimpakan beban kepada orang lain…
Lalu ketika semua harapan tak sesuai dengan kenyataan yang memang harus dihadapi.. banyak yang makin terperosok lagi dalam pelarian dengan menyalahkan orang lain, ide-ide ataupun figur yang semula dikaguminya.. contoh yang paling up to date adalah kasus Adi Bing Slamet dengan Eyang Subur :mrgreen:

Kita tak akan pernah lepas dari lingkaran Nawa Sanga (Babahan Hawa Sanga) bila kita tak mau menghadapi realita kehidupan kita dan menyadarinya dengan kesadaran intens..

Dalam konteks Kadang Kadeyan Sabdalangit, nuju prana sekali mengadakan gathering di Gedong Songo, disinilah kita bisa mengupgrade kesadaran kita.. merefleksi dan menyadari peranan kita masing-masing.. dengan tetap mikul dhuwur mendhem jeru orangtua dalam hal ini Ki Sabdalangit dan Nyi Ageng, juga para leluhur kita.. kita membangun relasi yang saling memerdekakan dan menyempurnakan..

Dan..
Pribadi-pribadi yang pernah membangun peradaban adiluhung di Gedong Songo ini adalah juga pribadi-pribadi yang melakukang gathering Kadang Kadeyan Sabdalangit. Sang Abhayasa adalah yang sedang duduk berkumpul bersama… pribadi yang melakukan penebusan lewat membina relasi dengan penuh kesadaran…

POWERING THE EMPOWERMENT

Tentang panggilan DNA, ada sesanti Jawa yang sangat diugemi yang juga berhubungan dengan membina relasi yang menyempurnakan yaitu : Ngraketake balung pisah…
Balung-balung pisah yang oleh panggilan DNA lewat peristiwa kebetulan yang Ndilalah Kersaning Allah tadi telah dikumpulkan dan diraketake..
Nah kini dengan penuh kesadaran mulai menata sesuai Tatanan, Tuntunan dan Tuntutan masing-masing… yang menjadi balung sikil mulai menguatkan.. yang menjadi balung iga melindungi, tulang punggung menegakkan dan seterusnya…

Masing-masing mengambil peran dan mengaktualisasi diri sesuai apa yang dimiliki secara potensial…

Dan dalam relasi tersebut akhirnya menyadari tiadanya dualitas, mencapai apa yang disebut dengan sikap lepas bebas, sudah ‘duwe rasa ora duwe rasa duwe’.
Bertemu dengan Dasamuka masing-masing, merangkumnya, memeluknya dalam kerahiman Hong Aran dan terang Kendhalisada

Lalu dalam pandangan terang bathin ini tidak lagi menemukan motif, aku, diriku, dan milikku dari semua yang nampak dalam benak, dalam apa yang dilihat, dirasakan, dicerap, tidak memberi diri dikaitkan dengan semua pengalaman itu.
Bagaikan alam yang hening tiada memuji, tiada mengeluh dan hanya asyik melihat, dan menyokong, dan merahimi mahluk-mahluk hidup menjalani hidupnya dalam kodratnya masing-masing. Seperti Isa yang memberikan dirinya diseret dalam pembantaiannya… Itulah awang-uwung.

Akhir kata…
Semoga kita dalam kesadaran mencapai Pantai Seberang… Mencapai kesadaran rasa. Sadar dan menyatakan, tidak sekedar realize, namun juga release melepaskan.

NYAUR BANYU SUSU

Standar

Hamit-hamit kalimantabik.
Salam karaharjan dhumateng para sedherek sedaya ingkang minulya.
Keparenga kula ngaturi pirsa babagan piwulang kautaman mungguhing Bangsa Jawa saking Para Leluhur.
Jumbuh kalawan kawontenan nagari ingkang samya risak amargi saking tumindake manungsa ingkang sami kicalan jati diri, kula badhe matur tuwin ajak-ajak supados para sedherek sedaya sami-sami putranipun Ibu, kersa kondur wonten pangrengkuhe Ibu.
Kanjeng Ibu tansah kapang dhumateng para putrane, katresnan Ibu tansah lumintu mbanyu mili dhumateng keng putra sarta mboten nyacah lan ngemut-emut kalepatan kita, nanging suwalikipun, kadhangkala kita lali marang wong tuwa malah asring damel getun lan gempunging manah, kados paribasan ‘kasih ibu sepanjang jalan kasih anak sepanjang penggalan’.
Mboten badhe dados lare duraka, mila sumangga kita sedaya purun wangsul dhumateng Bapa Biyung kita sedaya. Kautaman Leluhur sampun paring piwulang bilih Bapa Biyung punika minangka Lajering Urip Pancering Allah, nenggih Allah Katon.
Sumangga sami NYAUR BANYU SUSU dhumateng Ibu,
Mboten nami badhe damel asoripun sih katresnan Ibu dene kumawantun nyaur banyu susu. Badhe kados pundi kemawon, sih katresnan Ibu marang kita mboten badhe saged kasaur. Nyaur banyu susu ngemu suraos bilih kita minangka anak mboten lali marang wong tuwa. Sedaya pangrengkuh lan sih katresnane tiyang sepuh marang kita putranipun mboten badhe kalimengan.

Dene patrapipun kados makaten :
Para sedherek saged nyawisaken Kembang Setaman punapa Kembang Boreh ing njero ngaron/baskom isi toya. Samangke monjuk ngarsaning Ibu, sujud sumungkem, ngaras tuwin ngumbah sukunipun Ibu saking racikan/driji, polok ngantos wengkelan/wentisipun dipun blonyo ngagem sekar, kanthi matur mekaten :
Duh Ibu.. Keng putra sowan wonten ing ngarsanipun Ibu.
Sepisan, caos sembah pangabekti mugi konjuk ing ngarsanipun Ibu.
Angka kalih, mbok bilih wonten klenta-klentunipun atur kula saklimah tuwin lampah kula satindak ingkang kula jarag lan mboten kula jarag ingkang mboten ndadosaken sarjuning panggalih, mugi Ibu kersa maringi gunging samodra pangaksami.
Keng putra nyuwun sabda lebur sedaya kalepatan ingkang sampun kula lampahi, lan keng putra nyuwun berkah pangestu tuwin sabda pangandikanipun Ibu.

Ing mangke biyasanipun Ibu lajeng muwun, tangis-tangisan lan paring sabda pangandika.
Tumetesing waspa Ibu dados pambukaning warana ghaib lan sabda pangandikanipun andadosaken pangestu lan sipat kandel kita.
Inggih punika ingkang ugi dipun wastani salah satunggiling cara GAWE WADAHING NGELMU, Kagem para panggilut Kasampurnan, tamtu sampun boten katilapan menawi Ngelmu puniku wonten wadhahe, wonten isine lan ugi wonten tutupipun. Dipunwastani tutuping ngelmu menawi sampun saged pepanggihan kalawan Sedulur Sejatinipun piyambak. Nanging kados pundi sagedipun nutup menawi wadhahipun kemawon dereng mangertos punapa dene isinipun.??
Sasampunipun sami tetangisan, sukunipun Ibu lajeng kita lap ngantos garing. Toya sajeroning ngaron wau sampun dipun bucal nanging kita pundhut sagelas kangge diminum.
Dene kagem sedherek ingkang sampun katilar dening Ibu punapa dene Bapa ingkang sampun surut ing kasedan jati caranipun benten malih.
Ubarampe ingkang dipuncawisaken :
1. Kembang Boreh lan Kembang Setaman;
2. Santen klapa ijo dicampur gula Jawa.
Patrapipun :
1. Sareyan dipun banyoni santen saking nginggil mangandhap lajeng kanan kering sakupengipun;
2. Kijing/Pathok/Sekaran sareyan dipun blonyo kembang boreh;
3. Nunten sujud sungkem nyuwun pangapunten lan nyuwun berkah keramatipun Ingkang Sumare.
Mugi kita sedaya pra putra Ibu, inggih Ibu kita pribadhi punapi Ibu Pertiwi, tansah dipunjangkungi lan dijampangi sih katresnan Ibu. Nyumanggakaken menawi badhe nglampahi dawuh kautaman leluhur punika.
Wilujeng rahayu kang tinemu, bandha lan begja kang teka.
Nuwun…

RASA BEBAS, URIP KANG TANPA ATURAN???

Standar

Saat saya berbicara tentang kemerdekaan dan kebebasan, selalu ada yang menyalahartikan kalau saya adalah penganut paham urip tanpa pranatan lan kasusilan. Kebebasan yang sebebas-bebasnya tanpa aturan.
Kepada Saudara yang berpendapat seperti itu saya akan mengajak untuk menengok tentang Tujuan Dalam Hidup dan Sarananya.
Tujuan Dalam Hidup adalah pengalaman subyektif dan unik dari manusia sebagai individu yang harus ia putuskan dan tempuh dalam meniti momen-momen hidup ini. Dari perjalanan hidup inilah manusia mengambil makna hidup.
Tujuan hidup dan makna hidup itu sendiri tidak pernah ada yang menentukan, kita sendirilah yang menentukan hidup kita ini mau dibawa kemana. Hendak jadi apa, berkarir di bidang apa, mau jadi manusia dengan tabiat apa, kita sendirikah yang menentukan berdasarkan modal dan kapabilitas masing-masing.
Setelah tujuan hidup ditentukan, muncul kebutuhan akan sarana dan cara bagaimana untuk meraih tujuan tersebut.

Saya akan memberi contoh yang sesuai dengan lingkup budaya dimana saya hidup, dalam hal ini budaya Jawa. Tujuan hidup bagi orang Jawa adalah untuk Manunggaling Kawula Gusti, dalam konteks ini adalah kembali kepada Hakikat Ingsun. Seperti yang diwejangkan dalam Wisikan Ananing Dzat sebagai berikut :

Sejatine ora ana apa-apa, awit dhuk maksih awang-uwung, durung ana sawiji-wiji, kang ana dhingin Ingsun, ora ana Pangeran amung Ingsun, sejatine Dzat Kang Maha Suci, anglimputi ing Sipatingsun, anartani ing Asmaningsun, amratandhani ing Apngalingsun.

Yang dalam wedharannya sangat jelas menyebutkan bahwa yang bersifat ilahi, yang transenden, hakikatnya ada dalam diri dan hidup manusia. Dan hanya dalam diri dan hidup manusialah nilai-nilai ketuhanan itu bisa dinyatakan, dibumikan, di-alam-kan, diimanenkan. Ini yang disebut Manunggaling Kawula Gusti, kembali kepada Hakikat Ingsun.
Berikut penggalan wedharannya :

Mila sampun was sumelang ing penggalih, sebab wahananing Wahyu Jatmika punika sampun kasarira, tegesipun : Lahir batining Allah sampun dumunung wonten ing gesang kita pribadi, manawi ing bebasanipun : “ sepuh Dzating manungsa kaliyan sipating Allah “, awit dadosing Dzat punika Kadim Ajali Abadi tegesipun rumuhun piyambak kala taksih awing-uwung sak laminipun ing kahanan kita, dadosing sipat punika Kudusul Ngalam, tegesipun anyar wonten kahananing ngalam donya

Dan dalam menuju kepada hakikat Ingsun itu tak akan didapat dari luar diri, selalu mensyaratkan pencarian kedalam diri, seperti dalam cerita Dewa Ruci.
Yang ada di luar diri hanyalah sarana, tidak akan pernah menjadi tujuan. Sarana untuk membantu manusia merealisasikan tujuannya. Agama dan ajaran termasuk dalam sarana.
Hanya sayangnya seringkali terjadi kerancuan. Kerancuan dengan menganggap sarana sebagai tujuan. Hal ini membuat manusia tak bisa lagi melihat tujuannya yang sejati, sehingga dengan mudah diombang-ambingkan oleh berbagai fenomena dalam hidup ini.
Maka dari itu, sikap yang pantas terhadap segala yang ada diluar diri yang kita yakini sebagai sarana adalah LEPAS BEBAS.
Lepas Bebas dari sikap menggantungkan hidupnya pada peristiwa tertentu, person tertentu, pada waktu tertentu. Tak lagi mendewakan status tertentu, capaian hidup tertentu, ajaran dan kitab tertentu,
Lepas Bebas dari status quo, dari kemandegan.
Lepas bebas juga berarti memahami sifat-sifat Rasa Pangrasa. Mana yang Rasaning Karep mana yang Kareping Rasa, yang menjadi sarana untuk kembali pada hakikat Ingsun.
Maka, justru karena adanya hakikat Ingsun itulah dimungkinkan (bahkan dituntut) adanya kebebasan. Kalau tidak, Ingsun pada diri kita akan terus dilapisi oleh berbagai macam conditioning dan kita terikat oleh conditioning itu.
Hal ini membuat kita tidak bebas, hanya melakukan perbuatan orang lain, kulak jare adol jare, tak akan bisa mencapai & mengalami Ingsun
Lepas bebas juga berarti menghilangkan kemelekatan, kemelekatan karena ketergantungan emosional pada sarana. Ketergantungan emosional yang memunculkan sikap menuntut dan posesif pada sarana.
Lepas bebas dalam konteks ini sama seperti ungkapan Mas Sabdalangit tentang “Duwe Rasa Ora Duwe Rasa Duwe”.
Lepas bebas dan “Duwe Rasa Ora Duwe Rasa Duwe” ini sama sekali tidak meniadakan prioritas. namun mendasari pertimbangan kita untuk meilih mana yang lebih mengantar kita sampai pada tujuan. Tanpa itu, pilihan-pilihan kita betapapun baiknya, sama sekali tidak bermakna.
Dan tentu saja sama sekali bukan berarti kebebasan yang tanpa aturan sebagaimana sering disalahpahami.
Kesimpulannya, tujuan hidup bagi orang Jawa adalah kembali kepada hakikat Ingsun. Hal-hal lain yang diciptakan hanyalah sarana bagi manusia untuk menuju Ingsun. Karena itu sudah layak dan sepantasnya bahwa manusia menggunakan segala sarana sejauh membantu dan menjauhkan sarana sejauh menghambat untuk mencapai tujuan. Sikap yang relevan adalah sikap lepas bebas dan ini ditunjukkan dengan sikap “Duwe Rasa Ora duwe Rasa Duwe”. Meskipun demikian, tentu saja manusia memiliki prioritas atas hal-hal yang lebih mendukung tercapainya tujuan.

PENGALAMAN PUNCAK

Melanjutkan pembahasan tentang Tujuan dan Sarana, dalam laku hidup spiritual kita akan berjumpa dengan apa yang disebut sebagai Pengalaman Puncak.
Pengalaman Puncak adalah sama dengan “pengalaman akan yang ilahi” bila ditinjau dari agama, atau disebut juga iluminasi.
Seringkali fenomena akan pengalaman puncak ini menjadi jegalan bagi para pejalan spiritual karena kerancuan menganggap fenomena ini sebagai tujuan. Lalu menjadi kehilangan pijakan di dunia nyata, mengawang-awang dalam intuisi dan salah kaprah dengan menjadikan intuisi, yang adalah pengalaman subyektif, sebagai alat pengetahuan yang obyektif dan mutlak.
Meski dalam thread Membangun Kesadaran Rasa ini oleh Mas Sabdalangit telah diterangkan bahwa Kesadaran Intuisi sebagai sumber kebenaran, namun kita tetap harus waspada dalam menyikapinya. Karena bisa jadi yang kita anggap sebagai intuisi tak lain hanya imajinasi kita akibat dari rancunya antara sarana dan tujuan sebagaimana berikut :
– Sikap keterbukaan yang sehat terhadap hal-hal yang misterius, pengakuan yang betul-betul rendah hati bahwa kita tidak tahu banyak, sikap rendah hati dan penuh terima kasih untuk menerima rahmat yang cuma-cuma dan untuk memperoleh kemujuran semata-mata; menjadi sikap yang anti rasional, anti empiris, anti ilmu pengetahuan, anti kata-kata dan anti konseptual.
– Pengalaman puncak diagung-agungkan sebagai satu jalan yang terbaik atau malah menjadi satu-satunya jalan menuju pengetahuan, dan karena itu semua pengujian & pembenaran akan keabsahan iluminasi (jumbuhing akal klawan rahsa) bisa dikesampingkan. Maka dengan sengaja menimbulkan pengalaman puncak, harus dijadwal, diiklankan, dipaksakan, dijual sebagai komoditas (sebagai contohnya iklan yang mensyaratkan bahwa ukuran pencapaian spiritualitas haruslah bisa meraga sukma). Seperti seksualitas yang mengandung spiritualitas tinggi (dimungkinkan dapat memperoleh pengalaman akan yang suci) didesakralisasikan menjadi semata-mata “pasang alat kelamin”. Tingkah laku perziarahan yang kental dengan praktek dagang (ziarah=yaroh=yen ora mbayar ora weroh).
– Kemungkinan bahwa suara-suara dari dalam batin bisa keliru (wahyu jegalan).
– Kespontanan (dorongan-dorongan dari diri kita yang paling baik = kareping rahsa) dicampuradukkan dengan dorongan-dorongan naluriah dan tindakan “acting out” (dorongan-dorongan naluriah dari diri kita yang sakit = rahsaning karep), lalu tiada cara untuk menunjukkan perbedaan itu.

Maka kita tetap harus mengedepankan sikap Lepas Bebas yang tidak membuat sarana seperti pencapaian spiritual tertentu sebagai tujuan dan lalu dikejar-kejar.
Sehingga yang sebenarnya adalah Rasa Sejati, intuisi yang murni malah dikotori oleh imajinasi :mrgreen:
Ibarat kita membuat sangkar dengan harapan agar dapat memelihara perkutut, namun karena kehilangan kewaspadaan kita tak menyadari bahwa yang dianggap perkutut ternyata adalah burung gagak pemakaan bangkai

MENCARI WAJAH YESUS

Standar

Bintaro di tahun 80an, seorang mantan tapol, belum beberapa lama menikmati kebebasannya dari pembuangan di Pulau Buru.
Hidup telah berbuat kejam kepadanya dengan merenggut masa mudanya….. meski kini tampaknya tengah bermurah hati, stigma PKI yang disandang menjauhkan dari sapa kasih sesama.
Pergi dari tanah kelahiran yang tak lagi menerimanya ia coba merajut asa dengan terus menapaki hidup yang tetap ia yakini masih berbaik hati menyapa.
……….
Kala itu sebuah gereja tengah dibangun dengan satu semangat mempersembahkan wajah Yesus yang universal kepada dunia.
Berbekal ketrampilannya sebagai pembuat patung ia dipercaya untuk membuat wajah Yesus yang mewakili wajah seluruh bangsa dunia di corpus salib. Ia pun lalu berburu gambar-gambar Yesus, di seluruh perpustakaan-perpustakaan gereja. Namun tak satupun yang mewakili wajah dunia….
Setiap gambar Yesus yang ia temui membawa ciri khusus sesuai latar belakang ras dan budaya yang diwakili. Yesus dalam kepustakaan Cina digambarkan mirip seperti orang Cina dengan matanya yang sipit. Yesus Eropa digambarkan dengan ciri orang Eropa dengan hidung mancung & rambut pirang berombak.
Diapun lalu berpikir bahwa yang dimaksud dengan wajah universal Yesus memang seperti itulah adanya sesuai dengan kebudayaan setempat dimana iman akan Yesus hidup dan dihidupi. Mungkin juga bila Yesus digambarkan secara nJawani akan juga memakai iket atau blangkon.
……….
Hingga setelah pupus harapan untuk menemukan gambar Yesus yang mampu mewakili wajah setiap bangsa di dunia, di satu kesempatan saat ia berjalan, ia berpapasan dengan seorang laki-laki kecil yang bertelanjang dada dengan kulit legam terbakar matahari. Laki-laki tersebut mengulurkan sebuah amplop kepadanya. Ketika ia menerimanya, laki-laki itu lalu pergi & segera menghilang dari pandangannya.
Merasa heran dengan peristiwa aneh tersebut ia membuka amplop dan menemukan 3 buah negative film yang lalu segera ia cuci cetakkan.
Sungguh tak disangka bahwa gambar Yesus yang selama ini ia cari-cari ternyata ada di salah satu foto yang ia cetak.
Senang dengan penemuan tak terduga itu, ia lalu membuat profil wajah Yesus berdasarkan gambaran foto tersebut.
……….
Peresmian gereja harus segera dilaksanakan siang itu tepat jam 10.00, namun ada permasalahan teknis. Karena dibuat ditempat yang berbeda, salib Yesus dan tempat penopangnya ternyata tidak sesuai, ada perbedaan ukuran.
Dengan keterbatasan waktu dan peralatan, untuk menyetel agar pas, maka salib yang besar itu harus dipikul sementara penopangnya diperbaiki.
Kelelahan karena bekerja lembur dikejar tenggat waktu, para pekerjapun tak kuasa untuk memanggulnya.
Hanya satu orang yang menyanggupi untuk memanggul salib sementara pekerja yang lain memperbaiki. Dialah mantan tapol itu…
Seorang PKI atheis, satu-satunya orang yang sanggup memanggul salib Kristus.