Paseksen

Standar

“Liyas kunu latashadu,
Telah ada kenyataan,
Telah ada kesaksian”

Ingkang mengku werdi,
Kang sejatine kahanan sira iku sayekti
minangka pratandha saksi kang nyata
ing kahanan Ingsun

“Kitab suci agemaning Muhammad..
Perang suci gegamaning Muhammad..”

Bali Miwiti

Standar

geguritan dening Tomy Arjunanto

Aku ora bisa nyawang eluhmu,
dleweran netesi praupan ayu,
sumujud ing dlamakan aku njaluk pangapuramu.
Karep lan pepenginanku,
kabeh mau kanggo sliramu,
nanging mbokmenawa kegubel ing nepsu,
dadine gawe gempung susahing atimu,
sepisan maneh tak suwun agunging pangapuramu.

Wis lejara aja kendak ing ati,
Tak madeg jejer lanang sejati,
regem kenceng tangan tak kanthi,
dalan panguripan bareng mecaki.

 

Semarang, 16 September 2015

IDENTIFIKASI

Standar

Ada satu cerita tentang bagaimana Tuhan ingin berbicara secara personal dengan seseorang.
Dia menunggu di kamar sampai pintu diketuk.

“Kulanuwun..”

“Sinten niku?”

“Kula Tomy, Gusti..”

“Wah aku ra pengin ketemu Tomy”

Tomy jadi minder nggak jadi ketemu Tuhan

“Sapa kuwi?

“kula Gusti”

“Kowe sapa?” Tanya Tuhan.

“Kula Buta Tukang Ngowoh, Gusti”

“Wooo. Aku ora pengin ketemu Buta Tukang Ngowohan”

Lalu Si Buto mengurungkan niatnya bertemu Tuhan.
Tak lama seseorang yang lain mengetuk pintu kamar Tuhan.

“Sapa meneh ya?”

“Kula Gusti”

“Lha kowe kuwi sapa?”

“Kula pemain sinetron yang dulu menyumbangkan dana besar untuk pembangunan mesjid itu lho, yang anak saya ada yang jadi ustad dan baru saja membuat banyak orang jadi mualaf”

“Wah saya nggak mau ketemu pemain sinetron yang dulu menyumbangkan dana besar untuk pembangunan mesjid, yang anaknya ada yang jadi ustad dan baru saja membuat banyak orang jadi mualaf”

Tentu saja Tuhan ingat semua deskripsi yang diucapkannya. Wanita itupun pergi tidak jadi menemui Tuhan.

Seorang mahasiswa yang tidak lulus kuliah logika karena tidak bias membuat definisi, mengetuk pintu kamarnya Tuhan juga

“Saya Tuhan…”

“Siapa kamu?”

“Saya…..ya..saya, Tuhan”

Lalu Tuhan membuka pintu dan..

“Oooo kamu. It’s peri nais tu mit yu egen. Piye kabarmu Dab?”

MENCARI WUJUD TUHAN

Standar

Sunan Kalijaga pernah bertapa 3 tahun di pinggir kali untuk mencari Tuhan.
Yang kala itu dicari oleh Sunan Kalijaga adalah wujud Tuhan sebagaiamana dikisahkan dalam Kitab Suci, namun yang beliau dapatkan adalah Tipaking Kontul mabur, oyoting bayu bajra, susuhing angin, galihing kangkung.
Tuhan mengatasi segala peristilahan manusia hingga oleh Simbah-Simbah terdahulu coba disederhanakan sebagai Hidup itu sendiri, dimana karena manusia hidup ia memperoleh kesadaran dapat mengenali dirinya, mencerap seluruh inderanya, timbul akal untuk melangsungkan hidupnya & mampu berkata Tuhan.
Maka sebelum ada Hidup orang Jawa berkata “Sejatine Ora Ana Apa-Apa”

Kawula dan Gusti itu sudah ada dalam diriku, siang dan malam tidak dapat memisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya untuk saat ini nama kawula-Gusti itu berlaku, yakni selama saya mati. Nanti, kalau saya sudah hidup lagi, Gusti dan kawula lenyap, yg tinggal hanya hidupku sendiri, ketentraman langgeng dalam ADA sendiri…Syeh Siti Jenar
Mati dalam hal ini ketika kita dikuasai oleh Hawa Nafsu
Contohnya : Surga, kalau kita mau jujur, seperti yang diajarkan dalam agama, yang menjadi dongeng pengantar tidur anak-anak kita juga sebuah pengharapan akan kehidupan yang lain bagi setiap orang adalah DAMBAAN DARI PUNCAK KENIKMATAN NAFSU.
Ya manusia adalah makhluk berhasrat. Hasrat atau hawa nafsu tidak akan terpenuhi oleh karena selalu direproduksi dalam bentuk yang lebih tinggi lagi. Sekali hasrat dicoba dipenuhi, maka yang muncul hanya hasrat yang lebih tinggi lagi, lebih sempurna lagi.
Salah satu sifat dari hawa nafsu adalah, bahwa ia tidak mau terpancang pada teritorial (kepuasan) yang telah dikuasainya. Hawa nafsu selalu bersifat deteritorial, selalu berontak melewati teritorialnya dan mencari teritori-teritori baru. Ia selalu menembus setiap batas-batas teritorial tanpa akhir. Hawa nafsu selalu membuat trik-trik dan tipu daya. Tipu daya yang dibahasakan sebagai akal budi, nilai-nilai keutamaan, iman dan juga Tuhan. Akan tetapi tipu daya saja tidaklah cukup; Ia butuh sesuatu yang abadi : SURGA, ritual pencarian yang tiada akhir.
Disinilah manusia terperangkap dalam nihilisme, ia tidak mampu untuk hidup, manusia adalah mayat gentayangan, bathang angucap jisim lumaku, hanya mengejar kekosongan demi kekosongan, mengejar pemuasan hasrat demi pemuasan hasrat.

“Sabda sukma, adhep idhep Allah, kang anembah Allah, kang sinembah
Allah, kang murba amisesa.”….Syeh Siti Jenar
Ketika perangkap ini telah mampu dilihat dan disadari maka tirai-tirai Rohani juga akan tersingkap, sehingga kesejatian dirinya beradu-adu (adhep idhep), “aku ini kau, tapi kau aku”.
Maka jadilah dia yg menyembah sekaligus yg disembah, sehingga dirinya sebagai kawula-Gusti memiliki wewenang murba amisesa, memberi keputusan apapun tentang dirinya, menyatu iradah dan kodrat kawula-Gusti.
Karena kualitas hidup manusia terletak pada bagaimana dia membuat keputusan & bertanggung jawab penuh atas keputusan itu dengan atau tanpa tuhan. *atau manusia pun adalah tuhan*

SIRRULLAH, DZATULLAH, SIFATULLAH, SAMPURNANING AF’AL, NUR WUJUD
“Segala sesuatu yg terjadi di alam semesta ini pada hakikatnya adalah af’al (perbuatan) Allah. Berbagai hal yg dinilai baik maupun buruk pada hakikatnya adalah dari Allah juga. Jadi keliru dan sesat pandangan yg mengatakan bahwa yg baik dari Allah dan yg buruk dari selain Allah.”
Nah bila segalanya ada dalam tuhan dan bahwa tuhan pula menyatu dengan kita, dimana kita sendiri manusia ini adalah NUR WUJUD maka daripada mencari-cari wujud Allah sebagaimana dikisahkan di Alkitab menjadi penunggu kali seperti Eyang Kalijaga mari kita WUJUDKAN Allah dalam hidup kita.
Kita wujudkan dalam Sampurnanya af’al kita sehingga Insan Kamil yang Memayu Hayuning Bawana tidak tinggal sebagai kisah komik superhero yang enak untuk dibicarakan & diperdebatkan namun susah untuk dinyatakan
.
.
Katakan YA pada Hidupmu, buatlah keputusan dalam Hidupmu dan bertanggungjawablah penuh
Karena itulah syahadatmu yang hakiki
Ashadu anna Muhammadar Rasulullah
Aku Bersaksi bahwa Aku Muhammad Sang Nur Wujud adalah Utusan Allah
Utusan untuk apa? buat keputusan segera..!!
Memayu Hayuning Bawana atau Muja Diyu Nyebar Angkara Murka

LELANAGING JAGAD

Standar

ARJUNA,

dikatakan sebagai Lelananging Jagad,

bukan karena keberhasilannya berpoligami hingga para dewi & bidadari pun diperisteri.

namun sarat makna filosofis sebagai pencapaian hidup.

berikut arti dari istri2 Arjuna yang saya ambil tiga, yang diperistri sah bukan dari nikah siri atau nikah gandarwa :

♥  SUBADRA — lambang sakti seorang pria, aspek kewanitaan yang sempurna (kekuatan feminim dan dinamis), pemenuhan EGO

♥ SRIKANDI — Slamet, Ngliwet, Reja, Mulya, lambang pemenuhan kebutuhan, tak hanya pemuasan nafkah batin namun juga pemenuhan nafkah lahir

♥ LARASATI — Tentrem, Lerem, Teguh Rahayu, Wiyana, lambang hidup tak sekedar sebagai ‘Pemburu’. Sendika Dawuh atas segala yang terjadi dalam hidup. menikmati & mensyukuri hidup yang telah terberi.

Tomy Arjunanto

Tomy Arjunanto

CONDITIONING

Standar

Refleksi dari kejatuhan manusia dalam dosa dikisahkan dengan sangat mengena dalam salah satu adegan film Italia berjudul 8 ½ , disutradarai Federico Fellini:

Ada seorang calon pastor bersama serombongan anak SD pergi kepantai.

Dua orang anak bertemu dengan seorang perempuan yang lebih tua dari mereka.

Sang anak bertanya, “Kamu siapa?”

jawab perempuan itu, “Aku pelacur”.

Mereka tidak tahu apa itu pelacur, tetapi toh berlagak tahu. Anak yang lebih besar, yang tampaknya lebih tahu, mengatakan kepada temannya,

“Pelacur itu perempuan yang berbuat sesuatu jika dibayar.”

Lalu mereka bertanya, “Apakah pelacur itu akan melakukan sesuatu jika dibayar?”

“Mengapa tidak?” jawab pelacur itu.

Lalu kedua anak itu mengumpulkan uang dan memberikannya kepada pelacur itu, “Maukah sekarang kamu melakukan sesuatu?”

Perempuan itu menjawab,”Oh tentu Nak. Apa yang kamu mau?”

Mereka minta pelacur itu melepaskan pakaiannya. Tentu saja itu tidak sulit dilakukan oleh pelacur itu. Kedua anak itu menatapnya; belum pernah mereka melihat wanita telanjang. Karena tidak tahu mesti berbuat apa, mereka berkata, “Maukah engkau menari?”

Lalu mereka menari bersama, bergembira, suka cita dengan tulus; sampai calon pastor itu datang dan memarahi pelacur tersebut, memintanya berpakaian kembali lalu mengomel-ngomel.

Narrator film itu berkata, “Pada saat itu, anak-anak itu tercemar, sebelumnya mereka begitu suci”.

Itulah conditioning.

#anthony de mello “doa sang katak”