PENGAMPUNAN

Standar

MENGAMPUNI…

tidak berarti sanggup melupakan,

pedihnya luka batin yang ditinggalkan..

tidak berarti akan mendapatkan keadilan,

segala sebab akibat yang ditimpakan..

tidak juga menjanjikan perubahan,

akan apa adanya diri & perbuatan..

 

MENGAMPUNI…

kekuatan yang mendamaikan,

sebuah pinta & harapan yang terus dipanjatkan..

 

 

 

 

ada saatnya bahagia – ada saatnya bersedih

    ada saatnya mendapatkan, ada saatnya melepaskan,

    ada saatnya memeluk, ada saatnya melepaskan pelukan

 

 

Paseksen

Standar

“Liyas kunu latashadu,
Telah ada kenyataan,
Telah ada kesaksian”

Ingkang mengku werdi,
Kang sejatine kahanan sira iku sayekti
minangka pratandha saksi kang nyata
ing kahanan Ingsun

“Kitab suci agemaning Muhammad..
Perang suci gegamaning Muhammad..”

Bali Miwiti

Standar

geguritan dening Tomy Arjunanto

Aku ora bisa nyawang eluhmu,
dleweran netesi praupan ayu,
sumujud ing dlamakan aku njaluk pangapuramu.
Karep lan pepenginanku,
kabeh mau kanggo sliramu,
nanging mbokmenawa kegubel ing nepsu,
dadine gawe gempung susahing atimu,
sepisan maneh tak suwun agunging pangapuramu.

Wis lejara aja kendak ing ati,
Tak madeg jejer lanang sejati,
regem kenceng tangan tak kanthi,
dalan panguripan bareng mecaki.

 

Semarang, 16 September 2015

MENCARI WUJUD TUHAN

Standar

Sunan Kalijaga pernah bertapa 3 tahun di pinggir kali untuk mencari Tuhan.
Yang kala itu dicari oleh Sunan Kalijaga adalah wujud Tuhan sebagaiamana dikisahkan dalam Kitab Suci, namun yang beliau dapatkan adalah Tipaking Kontul mabur, oyoting bayu bajra, susuhing angin, galihing kangkung.
Tuhan mengatasi segala peristilahan manusia hingga oleh Simbah-Simbah terdahulu coba disederhanakan sebagai Hidup itu sendiri, dimana karena manusia hidup ia memperoleh kesadaran dapat mengenali dirinya, mencerap seluruh inderanya, timbul akal untuk melangsungkan hidupnya & mampu berkata Tuhan.
Maka sebelum ada Hidup orang Jawa berkata “Sejatine Ora Ana Apa-Apa”

Read the rest of this entry