Category Archives: bangsa & manusia

Sekelumit tentang Kebahagiaan…

Standar

No one can be perfectly free till all are free

No one can be perfectly moral till all are moral

No one can be perfectly happy till all are happy –

Herbert Spencer –

Kebahagiaan… sebuah kata yang memiliki banyak arti…

Karena setiap kepala mempunyai ide sendiri-sendiri tentang kebahagiaan… memiliki konsep sendiri & syarat-syarat kebahagiaannya sendiri…

Maka mustahil untuk bisa “membahagiakan semua orang”

Dan juga tanpa kesadaran yang disertai syukur, menerima realita kehidupan sebagai apa adanya.. manusia akan terus menjadi pemburu atau hidup dalam ilusi …

Kesadaran dalam menerima realita apa adanya membawa kita mampu menerima diri apa adanya dan menerima diri orang lain sebagaimana apa adanya… inilah yang saya sebut sebagai moralitas

Dengan moralitas inilah kita akan mampu untuk membina relasi yang saling memerdekakan..

Maka semua orang akan mempunyai bermoral dan merdeka untuk menerima kebahagiannya…

Dimana peran kepemimpinan..?

Tiada tertib social yang mampu menahan kemerosotan, selalu ada orang-orang yang “mampu & tidak mampu”… ada yang “malang & beruntung”..

Hanya manusia yang mampu menyadari yang mampu menjadi pemimpin..

Dan bukankah kepemimpinan berarti pelayanan…?        Perjuangan dan pengorbanan…

Oeprit_bahagia

OBSESI, PERSEPSI & REALITA YANG DIWUJUDKAN

Standar

1. OBSESI HIDUP MANUSIA

Entah saya mengalami delusi atau obsesi utopis, namun saya rasa bagi setiap manusia di segala jaman pasti merindu akan suatu tatanan kehidupan yang berkeadilan social.
Dimana damba tersebut mewujud dalam konsep-konsep akan surga, rahmatan lil alamin, mengayu hayuning bawana, dictator proletariat, ataupun ratu adil.

Berawal dari itu saya membaca keseluruhan alkitab juga sebagai satu idea dasar yang selalu hidup dalam jiwa manusia yaitu keadilan social. Dengan segala liku perjuangan dan jatuh bangunnya manusia di setiap jamannya.

Sebagai bangsa semi nomadis di pinggir padang gurun, telah membangun kesadaran kaum Israel kala itu bahwa seorang individu tak dapat bertahan hidup sendiri, yang akhirnya melahirkan masyarakat keluarga & marga yang menyatu sebagai suku-suku.
Milik kepunyaan tak pernah menjadi suatu hak khusus yang diperoleh dengan membebani orang lain dalam lingkungan yang sama… tiada kepunyaan pribadi… kalaupun ada tak pernah dipakai buat menindas orang lain.
Akhirnya setelah menjadi satu bangsa di Kanaan, kesadaran tradisi semi nomadis tersebut menjadi ‘teologi perjanjian’. Dimana ‘Perjanjian’ itu merupakan ide maupun cita-cita sebuah bangsa yang sederajat, baik diantara mereka sendiri maupun di hadapan Yahwe.

Read the rest of this entry

AKU, KAMU DAN DAFTAR BELANJAAN KITA

Standar

Kulihat kembali profil picture-mu, hmmm… memang sungguh menarik hati, tak salah jika aku langsung jatuh cinta dan buruan nge-add kamu.

Seperti yang ditayangkan dalam iklan-iklan di banyak media, beragam gaya hidup post modern yang sangat mengesan. Dalam diriku terbentuk suatu gambaran ideal tentang sosok yang patut dicinta, gambaran ideal yang lalu menjadi shopping list, daftar belanjaanku, yang kemanapun selalu kubawa.

Aku begitu mencintai daftar belanja itu sehingga saat aku bertemu denganmu, orang yang cocok dengan daftar tersebut, dengan mudahnya kukatakan “Aku Mencintaimu”.

Aku mencintai kamu, tenan ki ora ngapusi, mencintaimu sesuai dengan segala gambaranku tentang dirimu :

Read the rest of this entry

KRATON YOGYA KEHILANGAN PERKUTUT

Standar

“Begini Mbah, kemaren waktu libur saya berkesempatan untuk berwisata budaya mengunjungi Kraton Yogya. Ada satu hal yang cukup mengganggu saya waktu disana Mbah, saya mendapat gambaran ada banyak sangkar burung namun sayangnya tidak ada satu burungpun di dalamnya”

“Hehehe…… memang itu yang harus terjadi. Burung dalam sangkar para raja adalah perkutut, sebagai symbolisme Wahyu.
Kraton sekarang telah kehilangan perkututnya, kehilangan wahyunya. Wahyu Kraton selama ini dianggap sebagai Wahyu Keprabon , wahyu yang dimiliki oleh para raja sebagai pemimpin umat tiada bedanya dengan wahyu yang diimani dalam agama, wahyu sebagai anugrah untuk manusia terpilih sekedar klaim atas pencapaian diri.
Pengertian wahyu seperti ini yang sejatinya harus dibongkar & dimaknai ulang. Pewahyuan adalah pengungkapan segi terdalam dari manusia. Ketika ia melihat kedalam diri, kesejatian dirinya disingkapkan itulah Wahyu.” Read the rest of this entry

SEBUAH PERNYATAAN KEPENTINGAN

Standar

Spirituality means waking up. Most people, even though they don’t know it, are asleep. They’re born asleep, they live asleep, they marry in their sleep, they breed children in their sleep, they die in their sleep without ever waking up. They never understand the loveliness and the beauty of this thing that we call human existence.

Setiap manusia lahir membawa kepentingan, tak perlu melahirkan jenius psikoanalisa baru lagi untuk itu.
Kepentingan, yang dibawa manusia dalam kaitannya sebagai makhluk social ini bermuara menjadi dua aliran besar, yang satu kepentingan yang mengabdi kepada diri sendiri ataupun kelompok, sedang yang lain adalah kepentingan yang mengabdi pada keseluruhan umat manusia sebagai satu kesatuan social.

Pernyataan dari kepentingan–kepentingan itulah yang disebut ideology, dimana membutuhkan instrumen untuk mewujudkan tujuan dari kepentingan tersebut, yang disebut dengan politik.
Dalam politik inilah kepentingan dikemas dalam nilai-nilai ideal & ilahiah. Sehingga lahirlah apa yang dinamakan Hikmat, Kebijaksanaan, pula Keimanan yang membentuk aparatus pencapai tujuan dalam kelembagan yang disebut agama.

Ah, sebentar … mungkin bagi Anda pernyataan ini terdengar sangat merendahkan agama. 😀  Read the rest of this entry

KASULTANAN CIREBON KEHILANGAN JARI SEMAR

Standar

Wafatnya Sultan Kanoman XI (Sultan Djalaludin) membawa permasalahan perebutan kekuasaan antara Pangeran Raja Muhammad Emirudin dengan Pangeran Muhammad Saladin.

Sesuai adat istiadat dan pepakem, yang berhak menjadi Sultan adalah putra yang lahir dari ibunda permaisuri yaitu Pangeran Raja Muhammad Emirudin, namun munculnya surat wasiat Sultan Kanoman XI (Sultan Djalaludin) yang bunyinya penyerahan tahta ke Pangeran Muhammad Saladin sebagai Sultan Kanoman XII, telah membawa Kasultanan Kanoman kepada konflik keluarga yang berujung ontran-ontran suksesi.

Meski Kasultanan Kanoman tidak lagi mempunyai pamor maupun pengaruh apa-apa bagi masyarakat Cirebon dan boleh dikatakan bahwa ikon feodalisme ini tengah mati ngorak …mati sendiri tanpa revolusi seperti Prancis… tak urung ontran-ontran suksesi ini berimbas kepada panasnya hawa yang sangat dirasakan kaum spiritualis Sunyaragi. Tempat para Sultan Cirebon bersamadhi.

Hawa panas ini sangat menggangu aktivitas spiritualis mereka & meresahkan. Maka dalam sebuah pertemuan mereka sepakat berupaya mencari jawab akan penyebabnya. Dalam meditasi yang mendalam para spiritualis mendapatkan wisikan bahwa Kasultanan Cirebon telah kehilangan Drijine Semar, Jarinya Semar. Read the rest of this entry