Category Archives: DEKONSTRUKSI

Yang Mendasar

Standar

Aku Si Kramadangsa …

Aku urip, mituhu marang uripku,

Golek pangan, sandang lan papan.

Aku manungsa, njejegake nilai2 kamanungsan,

Murubake uripku marang liyan.

Aku Indonesia, sokong adeging nagari.

Aku Jawa, ngluhurake bebuden lan kabudayan Jawa,

Selaras karo bumi kang dipidak.

Agamaku kapetung keri …

Tuwuh saka rasa sejati,

Mahanani kasusilan lan kabudayan pribadi.

Iklan

MENCARI WUJUD TUHAN

Standar

Sunan Kalijaga pernah bertapa 3 tahun di pinggir kali untuk mencari Tuhan.
Yang kala itu dicari oleh Sunan Kalijaga adalah wujud Tuhan sebagaiamana dikisahkan dalam Kitab Suci, namun yang beliau dapatkan adalah Tipaking Kontul mabur, oyoting bayu bajra, susuhing angin, galihing kangkung.
Tuhan mengatasi segala peristilahan manusia hingga oleh Simbah-Simbah terdahulu coba disederhanakan sebagai Hidup itu sendiri, dimana karena manusia hidup ia memperoleh kesadaran dapat mengenali dirinya, mencerap seluruh inderanya, timbul akal untuk melangsungkan hidupnya & mampu berkata Tuhan.
Maka sebelum ada Hidup orang Jawa berkata “Sejatine Ora Ana Apa-Apa”

Read the rest of this entry

CONDITIONING

Standar

Refleksi dari kejatuhan manusia dalam dosa dikisahkan dengan sangat mengena dalam salah satu adegan film Italia berjudul 8 ½ , disutradarai Federico Fellini:

Ada seorang calon pastor bersama serombongan anak SD pergi kepantai.

Dua orang anak bertemu dengan seorang perempuan yang lebih tua dari mereka.

Sang anak bertanya, “Kamu siapa?”

jawab perempuan itu, “Aku pelacur”.

Mereka tidak tahu apa itu pelacur, tetapi toh berlagak tahu. Anak yang lebih besar, yang tampaknya lebih tahu, mengatakan kepada temannya,

“Pelacur itu perempuan yang berbuat sesuatu jika dibayar.”

Lalu mereka bertanya, “Apakah pelacur itu akan melakukan sesuatu jika dibayar?”

“Mengapa tidak?” jawab pelacur itu.

Lalu kedua anak itu mengumpulkan uang dan memberikannya kepada pelacur itu, “Maukah sekarang kamu melakukan sesuatu?”

Perempuan itu menjawab,”Oh tentu Nak. Apa yang kamu mau?”

Mereka minta pelacur itu melepaskan pakaiannya. Tentu saja itu tidak sulit dilakukan oleh pelacur itu. Kedua anak itu menatapnya; belum pernah mereka melihat wanita telanjang. Karena tidak tahu mesti berbuat apa, mereka berkata, “Maukah engkau menari?”

Lalu mereka menari bersama, bergembira, suka cita dengan tulus; sampai calon pastor itu datang dan memarahi pelacur tersebut, memintanya berpakaian kembali lalu mengomel-ngomel.

Narrator film itu berkata, “Pada saat itu, anak-anak itu tercemar, sebelumnya mereka begitu suci”.

Itulah conditioning.

#anthony de mello “doa sang katak”

NGUSLUK-USLUK BATHOKE SAPA?

Standar

Pamuji rahayu,

Sudah banyak tulisan yang mencoba mengulas makna dibalik tembang dolanan Sluku-sluku Bathok. Ada yang mengaitkannya dengan ajaran agama, pula yang melihatnya dari sudut pandang penekunan spiritual.
Bukan maksud saya ikut-ikutan latah mengulas makna tembang dolanan tersebut, namun kiranya pemaknaan dari sudut pandang lain juga kita perlukan sebagai alternative atau boleh hanya sekedar untuk menambah wawasan.
Saya mencoba memaknainya dari sudut pandang kenakalan saya yang dengan semena-mena saya sebut sendiri sebagai sudut pandang sangkan paran atau Jawa Kawitan.   :mrgreen:

Bagi yang belum tahu, berikut syair Sluku-sluku Bathok selengkapnya :

Sluku-sluku bathok

Bathoke ela-elo

Si Rama menyang Sala/Kutha

Oleh-olehe payung motha

Mak jenthit lolo lobah

Wong mati ora obah

Nek obah medeni bocah

Nek urip goleka dhuwit.

Read the rest of this entry

KRATON YOGYA KEHILANGAN PERKUTUT

Standar

“Begini Mbah, kemaren waktu libur saya berkesempatan untuk berwisata budaya mengunjungi Kraton Yogya. Ada satu hal yang cukup mengganggu saya waktu disana Mbah, saya mendapat gambaran ada banyak sangkar burung namun sayangnya tidak ada satu burungpun di dalamnya”

“Hehehe…… memang itu yang harus terjadi. Burung dalam sangkar para raja adalah perkutut, sebagai symbolisme Wahyu.
Kraton sekarang telah kehilangan perkututnya, kehilangan wahyunya. Wahyu Kraton selama ini dianggap sebagai Wahyu Keprabon , wahyu yang dimiliki oleh para raja sebagai pemimpin umat tiada bedanya dengan wahyu yang diimani dalam agama, wahyu sebagai anugrah untuk manusia terpilih sekedar klaim atas pencapaian diri.
Pengertian wahyu seperti ini yang sejatinya harus dibongkar & dimaknai ulang. Pewahyuan adalah pengungkapan segi terdalam dari manusia. Ketika ia melihat kedalam diri, kesejatian dirinya disingkapkan itulah Wahyu.” Read the rest of this entry

SEBUAH PERNYATAAN KEPENTINGAN

Standar

Spirituality means waking up. Most people, even though they don’t know it, are asleep. They’re born asleep, they live asleep, they marry in their sleep, they breed children in their sleep, they die in their sleep without ever waking up. They never understand the loveliness and the beauty of this thing that we call human existence.

Setiap manusia lahir membawa kepentingan, tak perlu melahirkan jenius psikoanalisa baru lagi untuk itu.
Kepentingan, yang dibawa manusia dalam kaitannya sebagai makhluk social ini bermuara menjadi dua aliran besar, yang satu kepentingan yang mengabdi kepada diri sendiri ataupun kelompok, sedang yang lain adalah kepentingan yang mengabdi pada keseluruhan umat manusia sebagai satu kesatuan social.

Pernyataan dari kepentingan–kepentingan itulah yang disebut ideology, dimana membutuhkan instrumen untuk mewujudkan tujuan dari kepentingan tersebut, yang disebut dengan politik.
Dalam politik inilah kepentingan dikemas dalam nilai-nilai ideal & ilahiah. Sehingga lahirlah apa yang dinamakan Hikmat, Kebijaksanaan, pula Keimanan yang membentuk aparatus pencapai tujuan dalam kelembagan yang disebut agama.

Ah, sebentar … mungkin bagi Anda pernyataan ini terdengar sangat merendahkan agama. 😀  Read the rest of this entry

JIKA AGAMA TAK PERNAH SALAH

Standar

Oleh : Suprayitno

Seperti pada umumnya, bagi Dr Asghar Ali Enginneer juga berpendapat bahwa pada hakekatnya semua agama mengajarkan kebaikan. “Agama adalah sumber untuk menciptakan perdamaian. Itulah esensi agama. Mereka yang menggunakan dalih agama untuk melakukan kekerasan adalah mereka yang bermain dengan kekuasaan” tegas tokoh gerakan nonkekerasan dan reformis dari India ini. Ia mengisahkan sepotong pengalaman yang membawanya terlibat dalam gerakan perdamaian dan menolak kekerasan, termasuk kekerasan komunal.
Asghar Ali mengisahkan “Saya sedang belajar ketika terjadi kekerasan komunal di luar. Saya takut sekali. Pertanyaan ‘mengapa orang melakukan kekejian atas nama agama’ terus memenuhi benak. Lalu saya belajar dan terus belajar, sampai akhirnya menemukan, bukan agama yang menyebabkan semua itu.” Selain menguasai ilmu agama (tafsir, ta’wil, fikih dan hadis), Ali juga mengantongi ijazah sarjana teknik sipil (insinyur) dan sempat bekerja di perusahaan milik pemerintah kota Bombay selama 20 tahun. Ia mulai aktivitasnya secara total di dalam gerakan pada tahun 1972 ketika terjadi kerusuhan di Udiapur.
Pandangan-pandangannya tentang berbagai hal, termasuk kesetaraan hubungan perempuan dan laki-laki serta dekonstruksi teks, dituliskan dalam lebih dari 40 buku dan ratusan artikel di media massa. Seluruh upayanya itu membuat Asghar Ali terpilih sebagai penerima penghargaan Nobel Alternatif, The Right Livelihood Awards tahun 2004 (Kompas, 1/6/06). Read the rest of this entry