Category Archives: PERHENTIAN

ASMARADANA PULANG ASMARA

Standar

……….Karipta dening Tomy Arjunanto


Nganyut ndriya ndudut ati,
Kwasa ngimpun rahsa mulya.
Tuhu lam-lamen katreme,
Nyawiji kang dadi sedya.
Mbabar gatining wacana,
Tetimbangan tresna tuhu,
Jimat tulus panarima.

Nimas pepujaning ati,
Salira wewangi ganda.
Rinuket sajroning jinem,
Tan nedya ginggang sakrikma.
Krya sesotya sun pepuja,
Sang mustikaning pandulu,
Sulistya endahing warna.

Tresnaku sundul wiyati,
Tumuwuh jroning prasaja,
Sumedya andum ing paweh,
Daya kamulyaning gesang.
Tinerak alun asmara,
Mbangun turut atut runtut,
Cumbana sigaran nyawa.

MISTIK ADALAH …

Standar

wall_ambiance

Mistik itu …..


bukan orang mati kemaren yang suka meneror

membuat kamu mengidap paranoid

bukan menggantang asap

segala gumam para cenayang

membuat kamu hiperilusif


adalah terpana

temaram lembayung jingga

torehkan syahdu di warna senja

adalah menderu

dingin angin menimang lembut luruh daun

menggigil kelu dalam dekap canggung

adalah berdebur

ombak membelai pantai

tegaskan hadirmu dan hadirku

adalah gemetar

hasrat tersembunyi yang sempat kucuri

dari jengah hangat bibirmu


sadari dan hadapi tak hendak mensiasati

tarian gemulai gerai rambutmu

juga hening nafasmu satu…satu…

menuntun kedalaman rasa

meretas berjuta makna

tanpa kata

dalam penyerahan…

bukan pengendalian…

Yang Tersembunyi.. (sebuah halaman narsis)

Standar

Masih ingatkah dulu?

Kala kau berikan aku

Surat cintamu

narsisku

Aku terlena

Dalam kebimbangan .. kebingungan..

Dan kau hanya tersenyum

Dan berkata…

Surat… untukmu..

Saat itulah aku tertegun

Bingung

Kubuka, kubaca dan kubaca

Kupahami segera

Inilah ungkapan cintamu

Cintamu.. pertamaku

Indah memang

Kunikmati setiap hari

Penuh kebahagiaan

Hari berganti minggu

Minggu berganti bulan

Jika saja waktu tidak berlalu

Kau tak akan pernah tinggalkanku

Dan … saat ini

Aku begitu sangat merindukanmu

BAPAK SIMBOK

Standar

Bukan nabi bukan rasul

Yang kutemui pertama kali saat kulahir

Namun raut muka cantik pucat ibuku

Yang telah bertaruh nyawa melahirkanku

Bukan Isa pula Muhammad

Yang menuntnuku pertama kali saat kulahir

Namun tatap bangga dan doa ayahku

Sebagai tali hidup ditelingaku

Bukan Taurat Mazmur Injil Qur’an

Yang mengajariku pertama kali saat kulahir

Namun payudara ibu

Alirkan empati, pengertian & cinta lewat segar air susu

Kini kembali ku padamu Ibu

Nafas hidupku dihembuskan dalam rahimmu

Sekarang aku pulang ayah

Benih hidup itu bertumbuh sudah