Category Archives: JANGKA NUSANTARA

KESADARAN YANG MEMERDEKAKAN

Standar

TINJAUAN HIDUP, MOTIVASI & TUJUAN

Beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah acara di Gedong Songo memenuhi undangan Mas Sabdalangit, saya banyak bertemu teman-teman pejalan spiritual.
Pertemuan tersebut adalah pertemuan Kadang Kadeyan Sabdalangit, dimana oleh Ki Sabdalangit dan Nyi Ageng Untari, teman-teman yang tergabung didalamnya ibarat Sedulur Sinarawedi, anak-anak laku Beliau berdua.
Banyak hal saya dapatkan dari sharing kehidupan, salah satunya dari refleksi Mas Setyo Hajar Dewantara.
Saat itu Mas Setyo mengajak untuk merefleksikan motivasi dan tujuan dalam menapaki jalan spiritual yang dalam hal ini spiritualitas kejawaan… sebuah panggilan atau pelarian…kalau boleh saya simpulkan begitu… :mrgreen:
Tak boleh dipungkiri banyak orang menapaki jalan spiritual..*hanya istilah yang sering digunakan*.. boleh jadi merupakan sebuah pelarian… Pelarian dari kesulitan ekonomi, dari penyakit yang tidak sembuh-sembuh, dari kehampaan & kebuntuan hidup, dan beragam sebab yang lainnya.
Namun… pelarian tidak selalu berarti suatu istilah yang kurang baik…
Pelarian bisa berarti suatu evolusi paradigma hidup yang dengan penuh kesadaran kita tingkatkan. Kata kuncinya adalah kesadaran..

Read the rest of this entry

Iklan

SUMPAH BUDAYA 2011

Standar

benderaSituasi mental sosial-budaya bangsa yang cukup memprihatinkan sekarang ini harus segera dicarikan jalan keluarnya dan harus ada langkah raksasa agar ada keperdulian dari semua elemen bangsa untuk memelihara dan menjaga budaya nusantara tidak sekedar parsial namun dalam scope nasional secara komprehensif. Perlu pula dilakukan semacam revitalisasi budaya bangsa dengan visi menjadi bangsa Indonesia yang berkarakter (mempunyai jati diri), bermartabat dan terhormat.

Indonesia kini adalah sebuah bangsa yang telah kehilangan jati dirinya. Bangsa yang tidak lagi mengetahui apa dan bagaimana nilai-nilai interaksi manusia dengan lingkungan alam dan lingkungan sosialnya terbangun sejak ribuan tahun silam. Padahal dari nilai-nilai itu karakter jiwa suatu bangsa terlihat. Setiap celah kesadaran dan aktivitas hidup individu saat ini tidak lagi mencerminkan jati dirinya.

Bangsa kita sudah tidak berbudaya, bobrok moralitas dan etikanya. Budaya kita stagnan bahkan surut mundur ke wilayah masa lalu dimana kita hanya bisa menjadi pasif menerima budaya dari luar tanpa mampu untuk menggeliat, mewarnai dan kreatif menjalin sinergitas dengan budyaa yang dari luar. Masalah ini mutlak segera dibahas dan dipecahkan bersama-sama. Kita perlu menyadari bahwa banyaknya persoalan yang dihadapi bangsa ini sangat kompleks menyangkut kehidupan sosial, ekonomi, politik dan lainnya. Namun harus digarisbawahi kalau bidang-bidang tersebut sangat terkait dengan krisis yang berlaku di lapangan kebudayaan.

Read the rest of this entry

KIDUNG SENGGANA

Standar

Duk semana Jayabaya mantu,
bebesanan Wanara Seta,
Senggana iku arane,
Jaya Sudarma wus kapacak kagyat leng-lenging ndriya,
tinantang Prabu Mawenang,
prang tandhing tumekeng sirna.
Senggana sigra hamipit wayahipun Jaya Sudarma,
Sukeksi araning dewi sayekti putra Kedhiri,
Mukswaning Sang Jayabaya lair kakung Anglingdarma

*****

Prabu Mawenang gugur ing madyaning prang, kasarekaken ing Bergas ingkang ugi katelah Bagasri. Pasareyanipun  tinengeran reca Ganesha.
Gantining jaman ngancik Kamasiya taun 1943 sedane Herucakra nenggih Jatikusuma, peputra Kusna ingkang jejuluk Putra Sang Fajar…..

Kados ingkang kawejang dening Ki Jangkung ing Sendang Cupu Manik Astagina

Read the rest of this entry

NGELMU URIP – BAWARASA KAWRUH KEJAWEN

Standar

Ada sebuah tantangan ultim yang dihadapi dan harus dijawab oleh bangsa ini, dalam pusaran arus globalisasi, manusia Indonesia makin kehilangan jati dirinya digerus pragmatisme budaya popular yang menghilangkan ‘ruh’ kemanusiaannya. Menjadikan  manusia tak lebih dari nilai kegunaan saja yang mudah dimobilisasi menjadi pengabdi  berbagai kepentingan.

Dan ketika berbicara tentang budaya sendiri kita merasa inferior. Kearifan budaya bangsa hasil olah cipta, rasa dan karsa leluhur yang adiluhung dianggap sebagai suatu yang ketinggalan jaman. Sehingga tonggak pegangan dalam menghadapi gempuran budaya dan ideology global tersebut malah terpinggirkan dan ditinggalkan. Read the rest of this entry

WEDHA PININGIT

Standar

Antara lama ana marmaning Hyang Widhi,

Kusuma taruna jati bebisik Satriya Suci,

Wus mantun hanggenira piningit linuwaran dening Allah,

Kinen anyapih gung-agenging perang rusuh,

Hanyirnakaken durjana durmala durmadi,

Suksmaning Suksma Jati.

Sanadyan hamung priyangga prasasat hangadu jalmi,

Ewa semana mengsahira sami kabarubuh kasoran yudhanira.

Inggih satriya puniki langgeng dzikire,

Pandita, guru, kyai iku kang dadi kawulane.

Narpati Njeng Sunan Herucakra jejulukipun,

Hambawahi Tanah Jawa,

Jawa jawi mapan wus ngerti dadi wajibing wong urip sakdurunge mati.

Pangarsa kang nyata,

Imam Mahdi tetengeripun.

Read the rest of this entry

MUNDHI DAWUH TUMEKANING JANJI

Standar

Tumeka ing janji wajib dilakoni kudu ditindaki,

Aja samar aja cidra punapa semaya,

Kabeh wus tekan titi mangsane,

Putra wayah amusthi aji luhuring budi,

Duhkitaningtyas sumengka kawekas,

Penggalih datan kena ajrih,

Keteging angga mangayu hayuning bawana,

Dilah latu lathi micara,

Mentering aruna netra amyarsa,

Durga sirep,

kala lerep,


PUSAKASejalan dengan SUMPAH BUDAYA yang telah dideklarasikan bersama dan mundhi dawuh untuk menyingkap rekaman sejarah meski menyakitkan, dalam tulisan kali ini perkenankan saya mendongeng sebuah cerita yang tak tertulis hanya dari TUTUR TINULAR dan pengalaman ghaib yang tiada saksi.


Alkisah Sandyakalaning Majapahit, seperti dikisahkan di Kitab Darmagandul.

Para Sunan yang tergabung dalam Wali Sanga, membuat konspirasi untuk Adipati Bintara melakukan kudeta kepada ayahanda-nya dengan alasan membebaskan semua orang dari ke-kafir-an :-).

Pada saat pertemuan untuk merencanakan kudeta tersebut hanya seorang anggota dari dewan wali yang tidak setuju, yaitu Syekh Siti Jenar, maka kemudian Syekh Siti Jenar di eksekusi oleh Sunan Giri. Syekh Siti Jenar adalah satu-satunya wali yang memberikan ajaran Makrifat yang intinya mirip dengan Manunggaling Kawulo Gusti dari ajaran Jawa sehingga banyak masyarakat dan petinggi Majapahit berkawan akrab dengan Syekh Siti Jenar karena merasa ada kecocokan dalam sudut pandang tanpa harus terpaksa ikut ritual ajaran Makrifat itu sendiri, hal itu tidak disenangi oleh para wali yang lain yang lebih membawa ajaran agama rasul waktu itu ke Syariat. Pada saat leher dari Syekh Siti Jenar dipenggal oleh Sunan Giri terjadilah keajaiban di mana darah yang muncrat dari leher Syekh Siti Jenar membentuk tulisan asma Allah pada lantai, serta berbau wangi tidak anyir. Read the rest of this entry

SUMPAH BUDAYA

Standar

SUMPAH BUDAYA
Selasa 27 Oktober 2009

garuda-pancasilaGlobalisasi di ranah ide, gagasan, ilmu pengetahuan yang diiringi dengan teknologi berkembang amat pesat. Lebih cepat dari kemampuan manusia untuk merenungkan apa hakikat semuanya untuk kemanfaatan hidup. Orang tidak lagi disibukkan dengan pertanyaan untuk apa kita memiliki ilmu, pengetahuan dan teknologi. Namun lebih menekankan pada fungsi-fungsi kemanfaatan/pragmatisnya semata. Semua pada akhirnya mengikuti arus globalisasi secara latah dan masa bodoh dengan hakikat progress/kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahwa hakikat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk penyempurnaan proses hidup manusia menuju kesatuan dan keserasian lahir batin, jiwa dan raga.

Budaya Populer adalah budaya yang berada di pusaran arus global. Sayangnya, perkembangan budaya global justeru mematikan budaya-budaya nasional dan budaya lokal yang ada. Budaya lokal secara substansial tidak mengalami kemajuan yang berarti kecuali hanya untuk sarana komoditas ekonomi dan turisme saja. Budaya yang merupakan hasil manusia untuk mengolah daya cipta, rasa dan karsa berdasarkan atas kehendak dan keinginan masing-masing individu dalam sebuah wilayah tidak mampu lagi dianggap sebagai sebuah kearifan. Read the rest of this entry