Category Archives: Uncategorized

Paseksen

Standar

“Liyas kunu latashadu,
Telah ada kenyataan,
Telah ada kesaksian”

Ingkang mengku werdi,
Kang sejatine kahanan sira iku sayekti
minangka pratandha saksi kang nyata
ing kahanan Ingsun

“Kitab suci agemaning Muhammad..
Perang suci gegamaning Muhammad..”

RASA BEBAS, URIP KANG TANPA ATURAN???

Standar

Saat saya berbicara tentang kemerdekaan dan kebebasan, selalu ada yang menyalahartikan kalau saya adalah penganut paham urip tanpa pranatan lan kasusilan. Kebebasan yang sebebas-bebasnya tanpa aturan.
Kepada Saudara yang berpendapat seperti itu saya akan mengajak untuk menengok tentang Tujuan Dalam Hidup dan Sarananya.
Tujuan Dalam Hidup adalah pengalaman subyektif dan unik dari manusia sebagai individu yang harus ia putuskan dan tempuh dalam meniti momen-momen hidup ini. Dari perjalanan hidup inilah manusia mengambil makna hidup.
Tujuan hidup dan makna hidup itu sendiri tidak pernah ada yang menentukan, kita sendirilah yang menentukan hidup kita ini mau dibawa kemana. Hendak jadi apa, berkarir di bidang apa, mau jadi manusia dengan tabiat apa, kita sendirikah yang menentukan berdasarkan modal dan kapabilitas masing-masing.
Setelah tujuan hidup ditentukan, muncul kebutuhan akan sarana dan cara bagaimana untuk meraih tujuan tersebut.

Saya akan memberi contoh yang sesuai dengan lingkup budaya dimana saya hidup, dalam hal ini budaya Jawa. Tujuan hidup bagi orang Jawa adalah untuk Manunggaling Kawula Gusti, dalam konteks ini adalah kembali kepada Hakikat Ingsun. Seperti yang diwejangkan dalam Wisikan Ananing Dzat sebagai berikut :

Sejatine ora ana apa-apa, awit dhuk maksih awang-uwung, durung ana sawiji-wiji, kang ana dhingin Ingsun, ora ana Pangeran amung Ingsun, sejatine Dzat Kang Maha Suci, anglimputi ing Sipatingsun, anartani ing Asmaningsun, amratandhani ing Apngalingsun.

Read the rest of this entry

WS RENDRA…. dalam kenangan

Standar

Puisi oleh WS RENDRA


……………
Ma,
bukan maut yang menggetarkan hatiku
Tetapi hidup yang tidak hidup
karena kehilangan daya dan kehilangan fitrahnya

Ada malam-malam aku menjalani
lorong panjang tanpa tujuan kemana-mana
Hawa dingin masuk ke badanku yang hampa
padahal angin tidak ada
Bintang-bintang menjadi kunang-kunang
yang lebih menekankan kehadiran kegelapan
Tidak ada pikiran, tidak ada perasaan,
tidak ada suatu apa…..

Hidup memang fana Ma,
Tetapi keadaan tak berdaya
membuat diriku tidak ada
Kadang-kadang aku merasa terbuang ke belantara,
dijauhi ayah bunda dan ditolak para tetangga
Atau aku terlantar di pasar, aku berbicara
tetapi orang-orang tidak mendengar
Mereka merobek-robek buku
dan menertawakan cita-cita
Aku marah, aku takut, aku gemetar,
namun gagal menyusun bahasa

Hidup memang fana Ma,
itu gampang aku terima
Tetapi duduk memeluk lutut sendirian di savanna
membuat hidupku tak ada harganya
Kadang-kadang aku merasa
ditarik-tarik orang kesana-kemari,
mulut berbusa sekedar karena tertawa
Hidup cemar oleh basa-basi dan
orang-orang mengisi waktu dengan pertengkaran edan
yang tanpa persoalan, atau percintaan tanpa asmara,
dan senggama yang tidak selesai

Hidup memang fana, tentu saja Ma
Tetapi akrobat pemikiran dan kepalsuan yang dikelola
mengacaukan isi perutku
lalu mendorong aku menjerit-jerit sambil tak tahu kenapa

Rasanya setelah mati berulang kali
tak ada lagi yang mengagetkan dalam hidup ini
Tetapi Ma,
setiap kali menyadari adanya kamu di dalam hidupku ini
aku merasa jalannya arus darah di sekujur tubuhku
Kelenjar-kelenjarku bekerja, sukmaku menyanyi,
dunia hadir, cicak di tembok berbunyi,
tukang kebun kedengaran berbicara kepada putranya
Hidup menjadi nyata, fitrahku kembali

Mengingat kamu Ma
adalah mengingat kewajiban sehari-hari
Kesederhanaan bahasa prosa, keindahan isi puisi
Kita selalu asyik bertukar pikiran ya Ma
Masing-masing pihak punya cita-cita,
masing-masing pihak punya kewajiban yang nyata

Hai Ma,
apakah kamu ingat aku peluk kamu di atas perahu
Ketika perutmu sakit dan aku tenangkan kamu
dengan ciuman-ciuman di lehermu
Masya Allah, aku selalu kesengsam dengan bau kulitmu
Ingatkah waktu itu aku berkata :
Kiamat boleh tiba, hidupku penuh makna
Wuah aku memang tidak rugi ketemu kamu di hidup ini

Dan apabila aku menulis sajak
aku juga merasa bahwa
Kemaren dan esok adalah hari ini
Bencana dan keberuntungan sama saja
Langit di luar langit di badan bersatu dalam jiwa

Sudah ya Ma…

Jakarta, Juli 1992

MAKNA 17-8-1945, WEJANGAN BUNG KARNO

Standar

Bung Karno pernah berkata : “Kutitipkan Negara ini kepadamu, namanya titipan pasti suatu saat akan diminta kembali, namun betapa sangat menyedihkannya bila titipan amanah itu ternyata tak mampu kita kelola denagn baik malahan kita telah merusaknya. Lihat saja Timor Timur yang terlepas dari pelukan Ibu Pertiwi, korupsi yang telah menjadi bagian dari budaya, mental ‘tukang nggaduhke’ yang tidak mau repot mengelola kekayaan Negara ini tapi malah memberikannya pada pihak asing untuk mengelola, maraknya aksi terorime berkedok agama & makin jauhnya kita dari nilai-nilai Pancasila *siapa yang masih hapal Pancasila..anak-anak?*
Kita gagal dalam mengemban amanah, titipan ini yang harus kita jaga & kelola malah kita hancurkan. Read the rest of this entry

KONJUK NGARSA DALEM PANGERAN SEJATI

Standar

Kawula asung sembah pangabekti
konjuk dhumateng Pangeran Sejati
lepat punapa tinitah jalmi
datan kwasa milih saderma nglakoni

Karahayon wus ana kang paring pepeling,
kang nembe dipecaki buntu wusanane,
enggala bali myang kajaten,
mumpung sunaring purnama,
sumrambah paring pepadhang,
yen wus kalimputan mendung nggameng,
sira gampang nyasar lan disasarake,
jebul kang jembar katon gilar-gilar,
satuhu marga kang dudu

Rina wengi tansah dangu,
manungsa tanah jawi anglangut,
ngarep-arep jejere adil,
yaiku manungsa kang nora bisa nampa kawruh nyata kasunyatan,
nyatane yaiku wong kang wening wis tumeka,
ngarepake kang ngarep-arep,
yaiku manungsa kang angsal piwulang suci

Durung turu yen durung tangi,
durung napak lemah yen durung weruh esuk, awan, sore kalawan bengi,
tangeh tangi yen mung dibisiki,
mokal obah diiming-imingi,
turua kaya turune tetuwuhan,
tangia kaya angga-angga nemu mangsa ing pabaratan

Konjuk Ngarsa Dalem Pangeran kita Ingkang Sejati
kawula nyuwun sabda,
lebur sedaya dosa ingkang sampun dilampahi
luputa saking sedaya panggodha
tuwin tinebihna saking sedaya piawon

HASTA BRATA _01, TUNTUNAN BAGI KEPEMIMPINAN INDONESIA

Standar

Hasta Brata merupakan tuntunan laku pada seorang yang satria pinilih [pemimpin yang terpilih],

Hasta berarti delapan sedangkan Brata berarti laku, watak atau sifat utama yang diambil dari sifat alam. Dapat diartikan juga bahwa Hasta Brata adalah delapan laku, watak atau sifat utama yang harus dipegang teguh dan dilaksanakan oleh seorang pemimpin atau siapa saja yang terpilih menjadi pemimpin, seorang pemimpin utama.
Delapan watak utama tersebut diambil dari watak para Dewa bangsa kita yang merupakan manifestasi dari Gusti Kang Murbeng Dumadi, dan masing-masing mewakili sifat dari alam raya, yaitu: bumi, angin, air, bulan, matahari, angkasa, api, dan bintang.
Ke-delapan Dewa tersebut adalah :
– Batara Wisnu : simbol bumi / tanah [earth]
– Batara Bayu : simbol angin / maruto [wind/hurricane]
– Batara Baruna : simbol air / laut [water/sea]
– Batari Ratih/Chandra : simbol bulan [moon]
– Batara Surya : simbol matahari [sun]
– Batara Indra : simbol langit / angkasa [sky]
– Batara Brama : simbol api / dahana [fire]
– Batara Kartika/Ismaya : simbol bintang [star] Read the rest of this entry