Category Archives: berjuang & merdeka

PENGAMPUNAN

Standar

MENGAMPUNI…

tidak berarti sanggup melupakan,

pedihnya luka batin yang ditinggalkan..

tidak berarti akan mendapatkan keadilan,

segala sebab akibat yang ditimpakan..

tidak juga menjanjikan perubahan,

akan apa adanya diri & perbuatan..

 

MENGAMPUNI…

kekuatan yang mendamaikan,

sebuah pinta & harapan yang terus dipanjatkan..

 

 

 

 

ada saatnya bahagia – ada saatnya bersedih

    ada saatnya mendapatkan, ada saatnya melepaskan,

    ada saatnya memeluk, ada saatnya melepaskan pelukan

 

 

Sekelumit tentang Kebahagiaan…

Standar

No one can be perfectly free till all are free

No one can be perfectly moral till all are moral

No one can be perfectly happy till all are happy –

Herbert Spencer –

Kebahagiaan… sebuah kata yang memiliki banyak arti…

Karena setiap kepala mempunyai ide sendiri-sendiri tentang kebahagiaan… memiliki konsep sendiri & syarat-syarat kebahagiaannya sendiri…

Maka mustahil untuk bisa “membahagiakan semua orang”

Dan juga tanpa kesadaran yang disertai syukur, menerima realita kehidupan sebagai apa adanya.. manusia akan terus menjadi pemburu atau hidup dalam ilusi …

Kesadaran dalam menerima realita apa adanya membawa kita mampu menerima diri apa adanya dan menerima diri orang lain sebagaimana apa adanya… inilah yang saya sebut sebagai moralitas

Dengan moralitas inilah kita akan mampu untuk membina relasi yang saling memerdekakan..

Maka semua orang akan mempunyai bermoral dan merdeka untuk menerima kebahagiannya…

Dimana peran kepemimpinan..?

Tiada tertib social yang mampu menahan kemerosotan, selalu ada orang-orang yang “mampu & tidak mampu”… ada yang “malang & beruntung”..

Hanya manusia yang mampu menyadari yang mampu menjadi pemimpin..

Dan bukankah kepemimpinan berarti pelayanan…?        Perjuangan dan pengorbanan…

Oeprit_bahagia

SUMPAH BUDAYA 2011

Standar

benderaSituasi mental sosial-budaya bangsa yang cukup memprihatinkan sekarang ini harus segera dicarikan jalan keluarnya dan harus ada langkah raksasa agar ada keperdulian dari semua elemen bangsa untuk memelihara dan menjaga budaya nusantara tidak sekedar parsial namun dalam scope nasional secara komprehensif. Perlu pula dilakukan semacam revitalisasi budaya bangsa dengan visi menjadi bangsa Indonesia yang berkarakter (mempunyai jati diri), bermartabat dan terhormat.

Indonesia kini adalah sebuah bangsa yang telah kehilangan jati dirinya. Bangsa yang tidak lagi mengetahui apa dan bagaimana nilai-nilai interaksi manusia dengan lingkungan alam dan lingkungan sosialnya terbangun sejak ribuan tahun silam. Padahal dari nilai-nilai itu karakter jiwa suatu bangsa terlihat. Setiap celah kesadaran dan aktivitas hidup individu saat ini tidak lagi mencerminkan jati dirinya.

Bangsa kita sudah tidak berbudaya, bobrok moralitas dan etikanya. Budaya kita stagnan bahkan surut mundur ke wilayah masa lalu dimana kita hanya bisa menjadi pasif menerima budaya dari luar tanpa mampu untuk menggeliat, mewarnai dan kreatif menjalin sinergitas dengan budyaa yang dari luar. Masalah ini mutlak segera dibahas dan dipecahkan bersama-sama. Kita perlu menyadari bahwa banyaknya persoalan yang dihadapi bangsa ini sangat kompleks menyangkut kehidupan sosial, ekonomi, politik dan lainnya. Namun harus digarisbawahi kalau bidang-bidang tersebut sangat terkait dengan krisis yang berlaku di lapangan kebudayaan.

Read the rest of this entry

KIDUNG SENGGANA

Standar

Duk semana Jayabaya mantu,
bebesanan Wanara Seta,
Senggana iku arane,
Jaya Sudarma wus kapacak kagyat leng-lenging ndriya,
tinantang Prabu Mawenang,
prang tandhing tumekeng sirna.
Senggana sigra hamipit wayahipun Jaya Sudarma,
Sukeksi araning dewi sayekti putra Kedhiri,
Mukswaning Sang Jayabaya lair kakung Anglingdarma

*****

Prabu Mawenang gugur ing madyaning prang, kasarekaken ing Bergas ingkang ugi katelah Bagasri. Pasareyanipun  tinengeran reca Ganesha.
Gantining jaman ngancik Kamasiya taun 1943 sedane Herucakra nenggih Jatikusuma, peputra Kusna ingkang jejuluk Putra Sang Fajar…..

Kados ingkang kawejang dening Ki Jangkung ing Sendang Cupu Manik Astagina

Read the rest of this entry

NGELMU URIP – BAWARASA KAWRUH KEJAWEN

Standar

Ada sebuah tantangan ultim yang dihadapi dan harus dijawab oleh bangsa ini, dalam pusaran arus globalisasi, manusia Indonesia makin kehilangan jati dirinya digerus pragmatisme budaya popular yang menghilangkan ‘ruh’ kemanusiaannya. Menjadikan  manusia tak lebih dari nilai kegunaan saja yang mudah dimobilisasi menjadi pengabdi  berbagai kepentingan.

Dan ketika berbicara tentang budaya sendiri kita merasa inferior. Kearifan budaya bangsa hasil olah cipta, rasa dan karsa leluhur yang adiluhung dianggap sebagai suatu yang ketinggalan jaman. Sehingga tonggak pegangan dalam menghadapi gempuran budaya dan ideology global tersebut malah terpinggirkan dan ditinggalkan. Read the rest of this entry

KRATON YOGYA KEHILANGAN PERKUTUT

Standar

“Begini Mbah, kemaren waktu libur saya berkesempatan untuk berwisata budaya mengunjungi Kraton Yogya. Ada satu hal yang cukup mengganggu saya waktu disana Mbah, saya mendapat gambaran ada banyak sangkar burung namun sayangnya tidak ada satu burungpun di dalamnya”

“Hehehe…… memang itu yang harus terjadi. Burung dalam sangkar para raja adalah perkutut, sebagai symbolisme Wahyu.
Kraton sekarang telah kehilangan perkututnya, kehilangan wahyunya. Wahyu Kraton selama ini dianggap sebagai Wahyu Keprabon , wahyu yang dimiliki oleh para raja sebagai pemimpin umat tiada bedanya dengan wahyu yang diimani dalam agama, wahyu sebagai anugrah untuk manusia terpilih sekedar klaim atas pencapaian diri.
Pengertian wahyu seperti ini yang sejatinya harus dibongkar & dimaknai ulang. Pewahyuan adalah pengungkapan segi terdalam dari manusia. Ketika ia melihat kedalam diri, kesejatian dirinya disingkapkan itulah Wahyu.” Read the rest of this entry

QUOTE OF THE DAY : REVOLUTION

Standar

Ketika Sang Guru mendengar bahwa hutan cedar sebelah telah terbakar, ia mengerahkan seluruh muridnya.

“Kita harus menanam kembali pohon-pohon cedar,” katanya.

“Pohon cedar?” teriak murid tidak percaya.

“Tapi pohon-pohon itu membutuhkan waktu 2.000 tahun untuk tumbuh besar!”

“Oleh sebab itulah,” kata Sang Guru,

“tak boleh ada satu menit pun terbuang. Kita harus segera mulai.”

**********

Yang dikeluhkan Sang Guru terhadap kebanyakan aktivis social adalah ini: yang mereka perjuangkan adalah pembaruan, bukan revolusi.

Katanya, “Suatu ketika ada seorang raja yang sangat bijaksana dan baik hati. Pada suatu ketika ia tahu bahwa ada sejumlah orang yang tak bersalah ternyata dikurung di dalam penjara negaranya. Maka, ia memerintahkan supaya dibangun sebuah penjara lain yang lebih nyaman untuk orang-orang yang tak bersalah itu.”

**********

Berbasa-basi Sejenak – Anthony De Mello, SJ