AKU, KAMU DAN DAFTAR BELANJAAN KITA

Standar

Kulihat kembali profil picture-mu, hmmm… memang sungguh menarik hati, tak salah jika aku langsung jatuh cinta dan buruan nge-add kamu.

Seperti yang ditayangkan dalam iklan-iklan di banyak media, beragam gaya hidup post modern yang sangat mengesan. Dalam diriku terbentuk suatu gambaran ideal tentang sosok yang patut dicinta, gambaran ideal yang lalu menjadi shopping list, daftar belanjaanku, yang kemanapun selalu kubawa.

Aku begitu mencintai daftar belanja itu sehingga saat aku bertemu denganmu, orang yang cocok dengan daftar tersebut, dengan mudahnya kukatakan “Aku Mencintaimu”.

Aku mencintai kamu, tenan ki ora ngapusi, mencintaimu sesuai dengan segala gambaranku tentang dirimu :

Cantik…*denok deblong ayune moblong-moblong…sudah pasti,

pandai…*kontak yang intens bila digelindingkan pada lingkaran dasar secara lebih intim akan membentuk lengkung evolvente…hmm itu nilai lebih,

rambut hitam panjang hasil keramas dengan shampoo terkenal…*uangnya habis buat creambath kali ye…wow,

kulit putih bersih seperti yang terpampang di layar gelas, …*berkilau mak-cling…nggak kuku,

Pecinta music dan paham karya-karya sastra…*et tu Brutu?…klepek-klepek.

Apalagi…?

Tetapi mengapa jalinan asmara kita tak semulus pahamu? selalu ada yang tidak sesuai harapan…banyak tingkah & kata yang nylekit tur nyengitke.

Hingga satu ketika aku harus menghadapi seorang tua yang hanya bisa terbaring sakit di tempat tidur, pipis disitu beol ya disitu. Seperti juga ketika harus bertemu dengan para penyandang cacat mental. Saat itu daftar belajaanku terobek-robek… bagaimana bisa aku jatuh cinta pada mereka? Kupikir aku tak akan pernah bisa mencinta.

Dengan segala kekurangan mereka, wajah yang jauh dari menarik…sangat aneh dan jelek menurutku, tingkah laku yang ganjil, bau pesing popok yang sudah basah kuyup, kotoran mereka yang menjijikan dan juga baunya….

 

 

 

 

Ya ya ya… saat itu aku baru tersadar, betapa selama ini kita hidup dalam ilusi. Perasaan yang berkembang di antara kita, sesungguhnya hanyalah ilusi karena kita tidak pernah sungguh saling mencintai dan menerima diri kita apa adanya.

Aku mencintai kamu, yang terjadi sesungguhnya aku sekedar mencintai gambaranku tentang kamu. Begitu juga cintamu kepadaku. Kita tak pernah sungguh-sungguh saling jatuh cinta, yang terjadi adalah kita jatuh cinta pada gambaran kita sendiri, pada selera kita sendiri, pada ke-aku-an kita sendiri.

Itu menjelaskan dari mana segala permasalahan antara aku dan kamu selama ini.

Kita terlalu terikat pada segala atribut, pada segala pengkondisian, pada daftar belanjaan kita. We go on hurting each other, cara Inggrise.. Kita yang tak mau menerima diri apa adanya, kita yang selalu melekatkan label, menimpakan beban pada diri kita dan orang lain, akan selalu tak pernah berhenti saling menyakiti.

Ada aku yang belum terpahami, dan terjadilah kesalapahaman disana-sini.

So, sayangku… mungkin kita bisa mulai kembali dari awal. Lewat observasi tanpa keinginan mengevaluasi. Dengan penerimaan tanpa pengendalian. Dengan saling memahami.

Seperti juga kesadaran yang kuterima lewat membangun relasi dengan mereka yang cacat dan tersingkir. Aku harus membuang semua daftar belanjaanku, mencoba memahami mereka hingga melampaui batas aku. Aku-ku, aku-mu, aku-mereka, yang hanya sekedar konsep, sebuah kondisi yang terus menerus berubah.

Dan kita bisa saling jatuh cinta lagi… seperti aku mungkin nantinya jatuh cinta pada mereka…

Cathetan:

Aku – adalah yang disebut sebagai Kramadangsa oleh Ki Ageng Suryo Mentaram, semua hal yang berkenaan dengan things (kesadaran akan materi) dan thoughts (kesadaran akan pikiran=Tukang Menggagas) seperti : pengalaman, penilaian, gagasan tentang orang lain, Tuhan, agama dan harapan.

Budha, menyebut aku ini sebagai “Pancakhanda” , kombinasi dari paduan unsur-unsur fisik dan mental yang senantiasa berubah-ubah setiap detiknya, tansah langgeng owah gingsir. Pancakhanda ini, adalah rupa khanda (bentuk fisik yang terbentuk dari bumi, api, air dan angin), vedana-khanda ( perasaan-perasaan ), sanna-khanda ( pencerapan ; pengenalan terhadap objek ) , sankhara-khanda ( bentuk-bentuk pikiran ), dan, vinnana-khanda ( kesadaran yang timbul akibat kontak dengan objek ).

Dalam mistik Jawa ada ungkapan AKU IKI SEJATINE ORA ANA APA-APA, AKU disini adalah inti jati diri kita yang terdalam, bedakan dengan aku diatas, diri kita yang dilekati label & segala atribut yang merupakan conditioning dalam masyarakat.

AKU iku dudu aku, amerga kang ana kuwi mung ng-aku.

Bagaimana caranya mengenal AKU?, tanya Mas Lambang. Falsafah kok mbulet-mbulet.

Sejauh ini saya hanya bisa menjawabnya dengan cara membangun kesadaran, melakukan observasi AKU terhadap aku. Kalau menurut Ki Ageng Suryo Mentaram disebut sebagai Tukang Nyawang, yang berarti melihat dan memahami.

Melihat dan memahami aku, dengan terus membuat negasi atau sangkalan terhadap hal-hal yang disebut AKU.

Kalau menurut Budha mungkin sejalan dengan Meditasi Pandangan Terang (Vipassana).

Tambah mbulet? Lha wong kuwi ya jarene aku padahal aku kuwi ora ana.

image

19 responses »

  1. @mas tomy yang baek,

    cocok mas, memang seharusnya kita tak perlu membuat daftar belanjaan terlalu banyak.

    Sabutuhe wae, kalau cuma butuh baju tiga stel ya jangan belanja sampai tigapuluh stel.

    citra yang “berhasil kita gambar” itu, memang PASTI bukan wujud yang sebenar-Nya mas.

    sebab (mungkin lho mas), wujud yang sesungguhnya itu adalah tak terbatas.

    Lalu enaknya bagaimana? yah…, dalam segala hal sak perlune wae, sak butuhe wae. Nak perlune mangan sak piring, ojo serakah njupuk sak cething.

    Kelihatannya memang sederhana sih, tapi apa iya kita semua bisa melakukan untuk tidak serakah? serakah apa saja, termasuk serakah mengaku yang paling benar.Serakah mengangkangi agamanya yang paling sempurna, yang lain kafir.

    monggo dipun lanjut mas.

  2. sahabatku mas Tomy,semoga tansah rahayu.

    Sudah lama ya kita tak ngobrol bersama…….
    memang keduniawian itu membuat kita sebagaian besar berlaku munafik,suara hati ndak sesuai dng kenyataan.Kita ingin tampak ngganteng/cantik,dihargai dan dihormati orang lain karena kekayaan kita.Padahal sejujurnya kita ini “Kere watu kiling mbale-ndak punya apa2 dan bukan dari trah ningrat”Lha untuk mencapai pandangan semu itu,manusia berusaha menyusun daftar belanja yang muluk2 demi gengsi dan harga diri.Maka manusia mulai “menipu dan berbohong serta korupsi ”
    Hal ini akhirnya bisa menyakiti diri sendiri dan berimbas pada keluarga.
    Moga2 saja kita bisa membawakan diri kita apa adanya,damai dihati damai di bumi.
    salam kanugrahan.Nuwun……

    • salam kanugrahan Yang Kung memng saya jarang blogging nih karena banyak teman blogger yang aktif di FB, sumangga Yang kula aturi meneruskan silaturahmi kita di sana.
      begitu juga dengan Mas Prayit dan Mas Sikap Samin

  3. Mas Tomy,

    Kalimat “Tukang Nyawang” oleh Ki Ageng Suryo Mentaram Ageng Suryo Mentaram itu, tak gothak-gathuk dengan ajaran lain, hasilnya adalah “mengamati tanpa prasangka”. Di dalam prasangka itu ada ego dan nafsu. Kalau saya mengamati tanpa prasangka, artinya ego dan nafsu saya harus dihilangkan. Tidak boleh ada penghakiman sepihak, tidak boleh ada iri, dengki, tinggi hati, sirik, dll wis pokok’e kabeh sikap dan sifat sing elek-elek.

    Nah, hasilnya nanti bisa ngga beda jauh dengan yang suka bawa tas kresek, kadang telanjang, dan terlihat menyusuri trotoar tanpa kehendak. Sekali-kali wajahnya menegadah ke langit dan ketawa sendiri.

    Mangkanya ada yang memberi petuah, kalau mencari AKU jangan tinggal di kota, iso ndarani wong edan…😀

    Salam.

  4. aku Tukang Nyawang,
    padahal aku kuwi ora ånå…
    _______________________________________
    kok…mbulet tenan yå!?!
    mmm…*?!#^#!?*…bén tambah ruwet sisan, énak’é ngéné :
    blbi, century…aku yå wis nyawang,..nyawang thok…
    lpg 3kG…akèh sing njeblug…aku yå wis nyawang…nyawang thok…
    banjir-bandhang, gempa-bumi, lemah-longsor, tsunami…aku yå wis nyawang…nyawang thok…

    whah mèh lali, aku diutus simbah nggolèki pak min ‘tukang-nyawang’…bén resik2 gandhok kulon sing kebhak ‘sawang’ (omah kemånggå)

    nék ngono…kepekså aku pamit dhisik, mengko disambung manéh…

    *iki mbuh komèné såpå…lha wong aku ora ånå*

    • kanggo realitas awake dewe isane mung nyawang, nampa apa anane.
      lan kalimat “KUDUNE” lha kuwi kang relevan marang apa kang ditindake awake dewe.

      asem ki pejabate maling kudune….
      lha wong wis realitas yen pejabat kuwi maling.
      KUDUNE mau ya mung kanggo awake dewe iki… kudune aku ora tumindak kaya ngono, kudune aku ngandani belis kae, kudune aku marani terus ngaploki cah kae…

  5. Kalau membahas falsafah hidup dari agama atau aliran kepercayaan manapun, memang selalu dipilihkan kata-kata yang mbulet dan multi tafsir, karena sang master penemu falsafah itu memang tidak bisa menjelaskan semua perjalanan astralnya dengan kata-kata. Selain itu, falasafah yang multi tafsir paling gampang untuk digothak-gathuk-kan dengan fenomena apapun. Mangkanya falsafah yang melegenda adalah falsafah yang paling mbulet.😀

    • Betul mas lambang,soalnya manusia itu sangat unik.

      Kelihatannya susah, belum tentu juga susah, kelihatannya bahagia, belum tentu juga benar-benar bahagia.

      Akhirnya, dalamnya lautan bisa diduga tetapi dalamnya hati (bathin seseorang) siapa yang tahu?

      Oleh karena itu akhirnya yang muncul ya multi tafsir, sesuai dengan pengalaman dan pengetahuan transendental masing-masing individu.

      Orang yang bijak tentu tidak berani mengatakan “akulah yang paling benar”. Ketika didesak dia pasti akan memberikan alasan yang sangat filosofis yang mungkin terkesan “mbulet”.

      ya mau bagaimana lagi, bumi ini bisa berputar juga karena “bulet” mungkin kalau bentuknya trapesium atau kotak, ya tidak bisa berputar.

      Kita nikmati saja “bulatan” ini dengan hati yang nyaman dan tenteram, mungkin itulah yang dinamakan “aku tukang nyawang”.

      • orang bijak adalah “Orang yang tahu bahwa ia tidak tahu”
        Karena ketidaktahuan itu, tentu saja orang tidak bisa mengklaim bahwa ia sudah sampai pada kebenaran sejati. Maka orang mesti siap berubah untuk berdialog dan menemukan hal2 baru yang mengarah pada kebenaran

        sudah diberi contoh sama mas STMJ = pokoke kontra 😀
        ya kita butuh oposan untuk terus berkembang
        karena pencari Kebenaran yang Sejati adalah orang yang sadar bahwa mungkin saja telah terjadi kesalahan :mrgreen:

  6. mbulet…multi tafsir…
    _______________________________________

    kok akhirnya ingat obrolan pakdé/simbah dg pårå sepuh lainnya, sekitar 7-th yl.
    Ngobrol tentang tafsir dari sebuah ‘Kakawin’ atau Ajaran dari Sri AJI SAKA (saka Sangiran-ini tafsir saya) yaitu ba’it MÅ GÅ BÅ THÅ NGÅ…
    Kesimpulan obrolan…ba’it itu memiliki multi tafsir yg luar biasa bahkan menjangkau fenomena alam semesta tentang adanya BLACK-HOLE…

    Black Hole konon menurut para pakar astronomi adalah proses akhir dari melebur/menyatunya semua paradoks…tak ada yg kalah dan tak ada yg menang…
    Yaitu yg disimbolkan dlm NENGNGNG…

    *mbuhlah…gundhulku cekot-cekot, mas*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s