Category Archives: agama

SISTEM RELIGI JAWA

Standar

Pasugatan Ki Sondong mandali

(Lanjutan Rasionalisasi Kejawen)

 

Sistim religi Jawa merupakan hasil olah ‘cipta rasa karsa’ dan ‘daya spiritual’ manusia Jawa. Olah ‘cipta rasa karsa’ dan ‘daya spiritual’ tersebut melahirkan pemahaman adanya ‘maha kekuatan’ yang ‘murba wasesa’ (mengatur dan menguasai) seluruh jagad raya. Maka lahir kesadaran hakiki tentang adanya ‘realitas tertinggi’ yang disebut ‘Kang Murbeng Dumadi’ (sebutan lain: Kang Maha Kuwasa, Hyang Wisesa, Hyang Tunggal, dll.).

Karena dasarnya sebagai hasil olah ‘cipta rasa karsa’ dan ‘daya spiritual’ maka ada ‘perjalanan’ menuju kesadaran ‘adanya’ Realitas Tertinggi yang disebut ‘Kang Murbeng Dumadi’ tersebut secara ‘rasional logic’. Adalah ‘keunikan’ Jawa yang kemudian mendiskripsikan Kang Murbeng Dumadi tersebut ‘tan kena kinayangapa lan murbawasesa jagad saisine’ (tidak bisa digambarkan wujudnya dan ‘melingkupi-menguasai-mengatur-mengendalikan’ seluruh alam semesta dengan seluruh isinya). Diskripsi yang demikian merupakan ‘puncak’ pengertian paripurna orang Jawa tentang ke-‘Maha Esa’-an Tuhan yang bisa digapai ’cipta rasa karsa’ dan ’daya spiritual’ manusia. Read the rest of this entry

JIKA AGAMA TAK PERNAH SALAH

Standar

Oleh : Suprayitno

Seperti pada umumnya, bagi Dr Asghar Ali Enginneer juga berpendapat bahwa pada hakekatnya semua agama mengajarkan kebaikan. “Agama adalah sumber untuk menciptakan perdamaian. Itulah esensi agama. Mereka yang menggunakan dalih agama untuk melakukan kekerasan adalah mereka yang bermain dengan kekuasaan” tegas tokoh gerakan nonkekerasan dan reformis dari India ini. Ia mengisahkan sepotong pengalaman yang membawanya terlibat dalam gerakan perdamaian dan menolak kekerasan, termasuk kekerasan komunal.
Asghar Ali mengisahkan “Saya sedang belajar ketika terjadi kekerasan komunal di luar. Saya takut sekali. Pertanyaan ‘mengapa orang melakukan kekejian atas nama agama’ terus memenuhi benak. Lalu saya belajar dan terus belajar, sampai akhirnya menemukan, bukan agama yang menyebabkan semua itu.” Selain menguasai ilmu agama (tafsir, ta’wil, fikih dan hadis), Ali juga mengantongi ijazah sarjana teknik sipil (insinyur) dan sempat bekerja di perusahaan milik pemerintah kota Bombay selama 20 tahun. Ia mulai aktivitasnya secara total di dalam gerakan pada tahun 1972 ketika terjadi kerusuhan di Udiapur.
Pandangan-pandangannya tentang berbagai hal, termasuk kesetaraan hubungan perempuan dan laki-laki serta dekonstruksi teks, dituliskan dalam lebih dari 40 buku dan ratusan artikel di media massa. Seluruh upayanya itu membuat Asghar Ali terpilih sebagai penerima penghargaan Nobel Alternatif, The Right Livelihood Awards tahun 2004 (Kompas, 1/6/06). Read the rest of this entry

IQRO’ Pembacaan Muhammad Atas Tuhan

Standar

Dalam suatu momen intens yang dahsyat di Gua Hira, Muhammad mengalami kehadiran ‘sesuatu’ Yang Maha Lain. Tremendum et Fascinatum melingkupi seluruh keberADAan diri.

“Bacalah wahai Muhammad!!”

Gemetar dalam takjub & ngeri Sang Pencari insaf akan keterbatasan diri.

“Aku tidak bisa membaca…” Bagaimanakah keterbatasan manusia sanggup menjelaskan Yang Tak Terbatas? Read the rest of this entry