IDENTIFIKASI

Standar

Ada satu cerita tentang bagaimana Tuhan ingin berbicara secara personal dengan seseorang.
Dia menunggu di kamar sampai pintu diketuk.

“Kulanuwun..”

“Sinten niku?”

“Kula Tomy, Gusti..”

“Wah aku ra pengin ketemu Tomy”

Tomy jadi minder nggak jadi ketemu Tuhan

Read the rest of this entry

Iklan

MENCARI WUJUD TUHAN

Standar

Sunan Kalijaga pernah bertapa 3 tahun di pinggir kali untuk mencari Tuhan.
Yang kala itu dicari oleh Sunan Kalijaga adalah wujud Tuhan sebagaiamana dikisahkan dalam Kitab Suci, namun yang beliau dapatkan adalah Tipaking Kontul mabur, oyoting bayu bajra, susuhing angin, galihing kangkung.
Tuhan mengatasi segala peristilahan manusia hingga oleh Simbah-Simbah terdahulu coba disederhanakan sebagai Hidup itu sendiri, dimana karena manusia hidup ia memperoleh kesadaran dapat mengenali dirinya, mencerap seluruh inderanya, timbul akal untuk melangsungkan hidupnya & mampu berkata Tuhan.
Maka sebelum ada Hidup orang Jawa berkata “Sejatine Ora Ana Apa-Apa”

Read the rest of this entry

LELANAGING JAGAD

Standar

ARJUNA,

dikatakan sebagai Lelananging Jagad,

bukan karena keberhasilannya berpoligami hingga para dewi & bidadari pun diperisteri.

namun sarat makna filosofis sebagai pencapaian hidup.

berikut arti dari istri2 Arjuna yang saya ambil tiga, yang diperistri sah bukan dari nikah siri atau nikah gandarwa :

♥  SUBADRA — lambang sakti seorang pria, aspek kewanitaan yang sempurna (kekuatan feminim dan dinamis), pemenuhan EGO

♥ SRIKANDI — Slamet, Ngliwet, Reja, Mulya, lambang pemenuhan kebutuhan, tak hanya pemuasan nafkah batin namun juga pemenuhan nafkah lahir

♥ LARASATI — Tentrem, Lerem, Teguh Rahayu, Wiyana, lambang hidup tak sekedar sebagai ‘Pemburu’. Sendika Dawuh atas segala yang terjadi dalam hidup. menikmati & mensyukuri hidup yang telah terberi.

Tomy Arjunanto

Tomy Arjunanto

CONDITIONING

Standar

Refleksi dari kejatuhan manusia dalam dosa dikisahkan dengan sangat mengena dalam salah satu adegan film Italia berjudul 8 ½ , disutradarai Federico Fellini:

Ada seorang calon pastor bersama serombongan anak SD pergi kepantai.

Dua orang anak bertemu dengan seorang perempuan yang lebih tua dari mereka.

Sang anak bertanya, “Kamu siapa?”

jawab perempuan itu, “Aku pelacur”.

Mereka tidak tahu apa itu pelacur, tetapi toh berlagak tahu. Anak yang lebih besar, yang tampaknya lebih tahu, mengatakan kepada temannya,

“Pelacur itu perempuan yang berbuat sesuatu jika dibayar.”

Lalu mereka bertanya, “Apakah pelacur itu akan melakukan sesuatu jika dibayar?”

“Mengapa tidak?” jawab pelacur itu.

Lalu kedua anak itu mengumpulkan uang dan memberikannya kepada pelacur itu, “Maukah sekarang kamu melakukan sesuatu?”

Perempuan itu menjawab,”Oh tentu Nak. Apa yang kamu mau?”

Mereka minta pelacur itu melepaskan pakaiannya. Tentu saja itu tidak sulit dilakukan oleh pelacur itu. Kedua anak itu menatapnya; belum pernah mereka melihat wanita telanjang. Karena tidak tahu mesti berbuat apa, mereka berkata, “Maukah engkau menari?”

Lalu mereka menari bersama, bergembira, suka cita dengan tulus; sampai calon pastor itu datang dan memarahi pelacur tersebut, memintanya berpakaian kembali lalu mengomel-ngomel.

Narrator film itu berkata, “Pada saat itu, anak-anak itu tercemar, sebelumnya mereka begitu suci”.

Itulah conditioning.

#anthony de mello “doa sang katak”

Sekelumit tentang Kebahagiaan…

Standar

No one can be perfectly free till all are free

No one can be perfectly moral till all are moral

No one can be perfectly happy till all are happy –

Herbert Spencer –

Kebahagiaan… sebuah kata yang memiliki banyak arti…

Karena setiap kepala mempunyai ide sendiri-sendiri tentang kebahagiaan… memiliki konsep sendiri & syarat-syarat kebahagiaannya sendiri…

Maka mustahil untuk bisa “membahagiakan semua orang”

Dan juga tanpa kesadaran yang disertai syukur, menerima realita kehidupan sebagai apa adanya.. manusia akan terus menjadi pemburu atau hidup dalam ilusi …

Kesadaran dalam menerima realita apa adanya membawa kita mampu menerima diri apa adanya dan menerima diri orang lain sebagaimana apa adanya… inilah yang saya sebut sebagai moralitas

Dengan moralitas inilah kita akan mampu untuk membina relasi yang saling memerdekakan..

Maka semua orang akan mempunyai bermoral dan merdeka untuk menerima kebahagiannya…

Dimana peran kepemimpinan..?

Tiada tertib social yang mampu menahan kemerosotan, selalu ada orang-orang yang “mampu & tidak mampu”… ada yang “malang & beruntung”..

Hanya manusia yang mampu menyadari yang mampu menjadi pemimpin..

Dan bukankah kepemimpinan berarti pelayanan…?        Perjuangan dan pengorbanan…

Oeprit_bahagia

KESADARAN YANG MEMERDEKAKAN

Standar

TINJAUAN HIDUP, MOTIVASI & TUJUAN

Beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah acara di Gedong Songo memenuhi undangan Mas Sabdalangit, saya banyak bertemu teman-teman pejalan spiritual.
Pertemuan tersebut adalah pertemuan Kadang Kadeyan Sabdalangit, dimana oleh Ki Sabdalangit dan Nyi Ageng Untari, teman-teman yang tergabung didalamnya ibarat Sedulur Sinarawedi, anak-anak laku Beliau berdua.
Banyak hal saya dapatkan dari sharing kehidupan, salah satunya dari refleksi Mas Setyo Hajar Dewantara.
Saat itu Mas Setyo mengajak untuk merefleksikan motivasi dan tujuan dalam menapaki jalan spiritual yang dalam hal ini spiritualitas kejawaan… sebuah panggilan atau pelarian…kalau boleh saya simpulkan begitu… :mrgreen:
Tak boleh dipungkiri banyak orang menapaki jalan spiritual..*hanya istilah yang sering digunakan*.. boleh jadi merupakan sebuah pelarian… Pelarian dari kesulitan ekonomi, dari penyakit yang tidak sembuh-sembuh, dari kehampaan & kebuntuan hidup, dan beragam sebab yang lainnya.
Namun… pelarian tidak selalu berarti suatu istilah yang kurang baik…
Pelarian bisa berarti suatu evolusi paradigma hidup yang dengan penuh kesadaran kita tingkatkan. Kata kuncinya adalah kesadaran..

Read the rest of this entry