Category Archives: berjuang & merdeka

TRI JANA UPAYA

Standar

Oleh : Ki Atma Sasratama Jati


Tri Jana Upaya adalah tiga macam cara bagi seorang pemimpin untuk menghubungkan atau mendekatkan diri dengan masyarakat yang dipimpinnya. Ada dua cara hidup hewan, yang satu menyendiri seperti tokek, gangsir, dan yang lain berkelompok seperti lebah dan sebagainya. Cara hidup demikian sesuai dengan hukum alam, karenanya tidak dapat diubah. Lebah jika dipisahkan pasti mati. Sebaliknya gangsir, jika dikelompokkan pasti mati.


Sebab dalam kelompok, gangsir selalu berkelahi. Maka bila diubah cara hidupnya, hewan tersebut tidak dapat melangsungkan hidup pribadinya dan jenisnya. Manusia termasuk jenis yang cara hidupnya berkelompok, jadi serupa dengan jenis lebah.

Read the rest of this entry

Iklan

TRIWIKRAMA, TIGA LANGKAH DEWA WISNU DALAM REVOLUSI INDONESIA

Standar

CAKRABASKARA

PENGANTAR


Seringkali bila berbicara tentang revolusi, khususnya di negeri tercinta ini saya katakan layaknya berbicara tentang menghancurkan gunung batu dengan modal sebuah sekop. 😎

Pernyataan saya bukanlah pernyataan sikap pesimisme namun sebuah refleksi kondisi riil yang dihadapi bangsa ini.

Bangsa yang telah terjajah jiwanya dengan sedemikian parah si segala lini dan segi kehidupan.

Lalu kemudian bila revolusi adalah sebuah keniscayaan, yang menjadi pertanyaan penting adalah apa yang semestinya kita lakukan?

Pemikiran yang saya tuangkan disini sudah pernah saya utarakan dalam beberapa posting sebelumnya, saya rangkum dan coba membuat konklusi praktis.

Tentu saja sangat bersifat subjektif namun harapan saya sih semoga bisa memberi sumbangan bagi jalannya perjuangan menuju kejayaan bangsa ini. Kejayaan yang dicita-citakan para pendahulu bangsa, para pendiri Negara, yang diamanatkan pula dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Read the rest of this entry

SIMBOLISME CAKIL DAN PERANG KEMBANG

Standar

Susuhunan Kalijaga berada dalam persimpangan.
Sang Pembesar Negara bagaikan makan buah simalakama :
Sabaya pati sabaya mukti labuh Negara berdirinya Demak Bintoro ataukah mikul dhuwur mendhem jero leluhurnya Majapahit.

Mangro tingal Kanjeng Susuhunan, meski batinnya memihak Eyangnya, Sang Prabu Brawijaya; sebagai pendiri Negara dan Panglima ia wajib mewujudkan cita-cita Negara, sebuah tatanan baru yang membawa pencerahan bagi leluhurnya yang kapir kopar.

cakil2Kenya-Wandu03Konon dari vested interest tersebut terciptalah tokoh baru dalam pewayangan, KENYA WANDU dan BUTA CAKIL.
KENYA WANDU, sosok lelaki berpenampilan perempuan sebuah penggambaran diri Sunan Kalijaga, ambiguitas selaiknya si BUTA CAKIL raksasa berpenampilan ksatria. Read the rest of this entry

WEDHA PININGIT

Standar

Antara lama ana marmaning Hyang Widhi,

Kusuma taruna jati bebisik Satriya Suci,

Wus mantun hanggenira piningit linuwaran dening Allah,

Kinen anyapih gung-agenging perang rusuh,

Hanyirnakaken durjana durmala durmadi,

Suksmaning Suksma Jati.

Sanadyan hamung priyangga prasasat hangadu jalmi,

Ewa semana mengsahira sami kabarubuh kasoran yudhanira.

Inggih satriya puniki langgeng dzikire,

Pandita, guru, kyai iku kang dadi kawulane.

Narpati Njeng Sunan Herucakra jejulukipun,

Hambawahi Tanah Jawa,

Jawa jawi mapan wus ngerti dadi wajibing wong urip sakdurunge mati.

Pangarsa kang nyata,

Imam Mahdi tetengeripun.

Read the rest of this entry

MUNDHI DAWUH TUMEKANING JANJI

Standar

Tumeka ing janji wajib dilakoni kudu ditindaki,

Aja samar aja cidra punapa semaya,

Kabeh wus tekan titi mangsane,

Putra wayah amusthi aji luhuring budi,

Duhkitaningtyas sumengka kawekas,

Penggalih datan kena ajrih,

Keteging angga mangayu hayuning bawana,

Dilah latu lathi micara,

Mentering aruna netra amyarsa,

Durga sirep,

kala lerep,


PUSAKASejalan dengan SUMPAH BUDAYA yang telah dideklarasikan bersama dan mundhi dawuh untuk menyingkap rekaman sejarah meski menyakitkan, dalam tulisan kali ini perkenankan saya mendongeng sebuah cerita yang tak tertulis hanya dari TUTUR TINULAR dan pengalaman ghaib yang tiada saksi.


Alkisah Sandyakalaning Majapahit, seperti dikisahkan di Kitab Darmagandul.

Para Sunan yang tergabung dalam Wali Sanga, membuat konspirasi untuk Adipati Bintara melakukan kudeta kepada ayahanda-nya dengan alasan membebaskan semua orang dari ke-kafir-an :-).

Pada saat pertemuan untuk merencanakan kudeta tersebut hanya seorang anggota dari dewan wali yang tidak setuju, yaitu Syekh Siti Jenar, maka kemudian Syekh Siti Jenar di eksekusi oleh Sunan Giri. Syekh Siti Jenar adalah satu-satunya wali yang memberikan ajaran Makrifat yang intinya mirip dengan Manunggaling Kawulo Gusti dari ajaran Jawa sehingga banyak masyarakat dan petinggi Majapahit berkawan akrab dengan Syekh Siti Jenar karena merasa ada kecocokan dalam sudut pandang tanpa harus terpaksa ikut ritual ajaran Makrifat itu sendiri, hal itu tidak disenangi oleh para wali yang lain yang lebih membawa ajaran agama rasul waktu itu ke Syariat. Pada saat leher dari Syekh Siti Jenar dipenggal oleh Sunan Giri terjadilah keajaiban di mana darah yang muncrat dari leher Syekh Siti Jenar membentuk tulisan asma Allah pada lantai, serta berbau wangi tidak anyir. Read the rest of this entry

SUMPAH BUDAYA

Standar

SUMPAH BUDAYA
Selasa 27 Oktober 2009

garuda-pancasilaGlobalisasi di ranah ide, gagasan, ilmu pengetahuan yang diiringi dengan teknologi berkembang amat pesat. Lebih cepat dari kemampuan manusia untuk merenungkan apa hakikat semuanya untuk kemanfaatan hidup. Orang tidak lagi disibukkan dengan pertanyaan untuk apa kita memiliki ilmu, pengetahuan dan teknologi. Namun lebih menekankan pada fungsi-fungsi kemanfaatan/pragmatisnya semata. Semua pada akhirnya mengikuti arus globalisasi secara latah dan masa bodoh dengan hakikat progress/kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahwa hakikat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk penyempurnaan proses hidup manusia menuju kesatuan dan keserasian lahir batin, jiwa dan raga.

Budaya Populer adalah budaya yang berada di pusaran arus global. Sayangnya, perkembangan budaya global justeru mematikan budaya-budaya nasional dan budaya lokal yang ada. Budaya lokal secara substansial tidak mengalami kemajuan yang berarti kecuali hanya untuk sarana komoditas ekonomi dan turisme saja. Budaya yang merupakan hasil manusia untuk mengolah daya cipta, rasa dan karsa berdasarkan atas kehendak dan keinginan masing-masing individu dalam sebuah wilayah tidak mampu lagi dianggap sebagai sebuah kearifan. Read the rest of this entry

LOGOSENTRIS DAN STIGMA ANTIKRIS

Standar

Sepanjang sejarah, manusia membutuhkan pemahaman & pemaknaan akan hidupnya, Baik lewat jalan spiritual maupun ilmu pengetahuan, bisa lewat agama, pemuasan hawa nafsu juga eksploitasi alam.

Hanya dalam memperoleh pemahaman & pemaknan itu manusia butuh penanda ‘logos’, dimana para winasis mengibaratkan jaring dalam menangkap ikan

Bila ikan sudah tertangkap seharusnya lupakan jaringnya jangan malah terpaku padanya

Inilah yang terjadi pada manusia saat ia memahami makna namun terperangkap dalam penanda atau logos

Alih-alih menemukan kesejatian diri ia malah terperangkap oleh penanda seperti Tuhan, Tanah Terjanji, Surga dll. Logos menjadi semacam komoditas yang diperdagangkan & diperebutkan.

Manusia tidak lagi mencari makna ia sudah puas dengan segala pemaknaan yang secara kutural didoktrinasi & diinternalisasi kepadanya.

Inilah sumber kekacauan atau chaos. Manusia tak mampu meneruskan evolusinya menuju manusia atas meminjam istilah Nietzche.

Sebenarnya dibalik segala penanda yang secara empiris kita cerap ada yang disebut arche, kalau orang Jawa menyebutnya Sangkan Paraning Dumadi nggih sumangga kersa, sebuah proses yang membawa kita pada suatu kepenuhan hidup.

Contohnya infrastruktur yang dibuat manusia untuk memnuhi kebutuhan hidup seperti bendungan atau waduk. Ratusan tahun sebelumnya para Winasis telah meramalkan bahwa sebagian Jawa akan kembali jadi laut. Nah bukankah kalau terjadi gempa besar di daratan Jawa bendungan seperti Wadas Lintang, Gajahmungkur dadal sungguh2 akan membuat Jawa menjadi laut.

Ada sebuah proses yang sedang berlangsung dalam setiap peristiwa yang terjadi

Ada makna dibalik segala penanda

Ada arche yang mengawali logos

Sangkan paraning dumadi

Yesus

Yesus

Sebuah cerita di keluargaku


Saat pertemuan keluarga besar yang diadakan di rumahku rajah Kalacakra yang kupasang diatas pintu lupa belum kuambil.

Banyak Saudaraku yang mengernyitkan dahi melihatnya seakan melihat suatu hal ganjil dan aneh.

Seorang pamanku beragama Kristen bertanya apa maksud dari gambar coret-coret yang ada di atas pintuku.

Sebelum sempat menjawab pamanku yang lain mengatakan ,”Oh Tomy itukan penganut Kejawen..”

Yang lalu disambut pamanku yang tadi bertanya, “Gambar-gambar seperti itu namanya Antikris”

Dengan senyum aku menjawab sekenanya saja “Boleh jadi Om, tapi Yesus sendiri yang mengajarkan makna gambar itu kepada saya”.

Ah andai mereka mau mendengarkan tidak segera memberi penilaian dan stigma


Simbol apapun baik dalam bentuk kata, lukisan atau tulisan diperlukan manusia untuk menangkap makna, seperti pamanku yang Kristen ia menggunakan Salib yang digantung di dinding untuk menjelaskan hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesamanya sementara pakdheku yang Islam lebih afdol memakai syair2 indah yang disebut dengan Al Fatihah.

“Kok bisa Yesus yang mengajarkan seperti itu?” Tanya pamanku sewot

“lho Yesus khan mengajarkan untuk mengasihi musuh-musuh kita bahkan salah satu sabdaNya adalah bila pipi kirimu ditampar berikan pipi kananmu. Sekarang coba Om kita simak doa dalam Kalacakra :


YAMARAJA
JARAMAYA

– siapa yang menyerang berbalik menjadi berbelas kasihan

YAMARANI
NIRAMAYA

– siapa datang bermaksud buruk akan malah menjauhi

YASILAPA
PALASIYA

– siapa membuat lapar akan malah memberi makan

YAMIRODA
DAROMIYA

siapa memaksa, malah menjadi memberi keleluasaan atau kebebasan

YAMIDOSA
SADOMIYA

-siapa membuat dosa malah membuat jasa

YADAYUDA
DAYUDAYA

-siapa memerangi malah menjadi damai

YASIYACA
CAYASIYA

-siapa membuat celaka malah menjadi membuat sehat, sejahtera

YASIHAMA
MAHASIYA

-siapa membuat rusak malah menjadi membangun dan sayang.

Nah, makna yang tersirat sama antara tanda Salib, Al Fatihah maupun Rajah Kalacakra.

Bila kita telah mampu mengupas buah dan memakan isinya yang berasa sama, mengapa kita harus meributkan pembungkusnya


Sementara itu didalam rumah ada terpampang lukisan Ibu Ratu Kidul yang segera disikapi oleh bibiku sebagai musyrik. Dengan tenang istriku menjawab,

”Bila Bunda Maria menampakkan diri di Meksiko memakai pakaian Indian, masak Yesus jalan-jalan di Tanah Jawa tidak boleh pakai blangkon” :mrgreen: