RASA BEBAS, URIP KANG TANPA ATURAN???

Standar

Saat saya berbicara tentang kemerdekaan dan kebebasan, selalu ada yang menyalahartikan kalau saya adalah penganut paham urip tanpa pranatan lan kasusilan. Kebebasan yang sebebas-bebasnya tanpa aturan.
Kepada Saudara yang berpendapat seperti itu saya akan mengajak untuk menengok tentang Tujuan Dalam Hidup dan Sarananya.
Tujuan Dalam Hidup adalah pengalaman subyektif dan unik dari manusia sebagai individu yang harus ia putuskan dan tempuh dalam meniti momen-momen hidup ini. Dari perjalanan hidup inilah manusia mengambil makna hidup.
Tujuan hidup dan makna hidup itu sendiri tidak pernah ada yang menentukan, kita sendirilah yang menentukan hidup kita ini mau dibawa kemana. Hendak jadi apa, berkarir di bidang apa, mau jadi manusia dengan tabiat apa, kita sendirikah yang menentukan berdasarkan modal dan kapabilitas masing-masing.
Setelah tujuan hidup ditentukan, muncul kebutuhan akan sarana dan cara bagaimana untuk meraih tujuan tersebut.

Saya akan memberi contoh yang sesuai dengan lingkup budaya dimana saya hidup, dalam hal ini budaya Jawa. Tujuan hidup bagi orang Jawa adalah untuk Manunggaling Kawula Gusti, dalam konteks ini adalah kembali kepada Hakikat Ingsun. Seperti yang diwejangkan dalam Wisikan Ananing Dzat sebagai berikut :

Sejatine ora ana apa-apa, awit dhuk maksih awang-uwung, durung ana sawiji-wiji, kang ana dhingin Ingsun, ora ana Pangeran amung Ingsun, sejatine Dzat Kang Maha Suci, anglimputi ing Sipatingsun, anartani ing Asmaningsun, amratandhani ing Apngalingsun.

Yang dalam wedharannya sangat jelas menyebutkan bahwa yang bersifat ilahi, yang transenden, hakikatnya ada dalam diri dan hidup manusia. Dan hanya dalam diri dan hidup manusialah nilai-nilai ketuhanan itu bisa dinyatakan, dibumikan, di-alam-kan, diimanenkan. Ini yang disebut Manunggaling Kawula Gusti, kembali kepada Hakikat Ingsun.
Berikut penggalan wedharannya :

Mila sampun was sumelang ing penggalih, sebab wahananing Wahyu Jatmika punika sampun kasarira, tegesipun : Lahir batining Allah sampun dumunung wonten ing gesang kita pribadi, manawi ing bebasanipun : “ sepuh Dzating manungsa kaliyan sipating Allah “, awit dadosing Dzat punika Kadim Ajali Abadi tegesipun rumuhun piyambak kala taksih awing-uwung sak laminipun ing kahanan kita, dadosing sipat punika Kudusul Ngalam, tegesipun anyar wonten kahananing ngalam donya

Dan dalam menuju kepada hakikat Ingsun itu tak akan didapat dari luar diri, selalu mensyaratkan pencarian kedalam diri, seperti dalam cerita Dewa Ruci.
Yang ada di luar diri hanyalah sarana, tidak akan pernah menjadi tujuan. Sarana untuk membantu manusia merealisasikan tujuannya. Agama dan ajaran termasuk dalam sarana.
Hanya sayangnya seringkali terjadi kerancuan. Kerancuan dengan menganggap sarana sebagai tujuan. Hal ini membuat manusia tak bisa lagi melihat tujuannya yang sejati, sehingga dengan mudah diombang-ambingkan oleh berbagai fenomena dalam hidup ini.
Maka dari itu, sikap yang pantas terhadap segala yang ada diluar diri yang kita yakini sebagai sarana adalah LEPAS BEBAS.
Lepas Bebas dari sikap menggantungkan hidupnya pada peristiwa tertentu, person tertentu, pada waktu tertentu. Tak lagi mendewakan status tertentu, capaian hidup tertentu, ajaran dan kitab tertentu,
Lepas Bebas dari status quo, dari kemandegan.
Lepas bebas juga berarti memahami sifat-sifat Rasa Pangrasa. Mana yang Rasaning Karep mana yang Kareping Rasa, yang menjadi sarana untuk kembali pada hakikat Ingsun.
Maka, justru karena adanya hakikat Ingsun itulah dimungkinkan (bahkan dituntut) adanya kebebasan. Kalau tidak, Ingsun pada diri kita akan terus dilapisi oleh berbagai macam conditioning dan kita terikat oleh conditioning itu.
Hal ini membuat kita tidak bebas, hanya melakukan perbuatan orang lain, kulak jare adol jare, tak akan bisa mencapai & mengalami Ingsun
Lepas bebas juga berarti menghilangkan kemelekatan, kemelekatan karena ketergantungan emosional pada sarana. Ketergantungan emosional yang memunculkan sikap menuntut dan posesif pada sarana.
Lepas bebas dalam konteks ini sama seperti ungkapan Mas Sabdalangit tentang “Duwe Rasa Ora Duwe Rasa Duwe”.
Lepas bebas dan “Duwe Rasa Ora Duwe Rasa Duwe” ini sama sekali tidak meniadakan prioritas. namun mendasari pertimbangan kita untuk meilih mana yang lebih mengantar kita sampai pada tujuan. Tanpa itu, pilihan-pilihan kita betapapun baiknya, sama sekali tidak bermakna.
Dan tentu saja sama sekali bukan berarti kebebasan yang tanpa aturan sebagaimana sering disalahpahami.
Kesimpulannya, tujuan hidup bagi orang Jawa adalah kembali kepada hakikat Ingsun. Hal-hal lain yang diciptakan hanyalah sarana bagi manusia untuk menuju Ingsun. Karena itu sudah layak dan sepantasnya bahwa manusia menggunakan segala sarana sejauh membantu dan menjauhkan sarana sejauh menghambat untuk mencapai tujuan. Sikap yang relevan adalah sikap lepas bebas dan ini ditunjukkan dengan sikap “Duwe Rasa Ora duwe Rasa Duwe”. Meskipun demikian, tentu saja manusia memiliki prioritas atas hal-hal yang lebih mendukung tercapainya tujuan.

PENGALAMAN PUNCAK

Melanjutkan pembahasan tentang Tujuan dan Sarana, dalam laku hidup spiritual kita akan berjumpa dengan apa yang disebut sebagai Pengalaman Puncak.
Pengalaman Puncak adalah sama dengan “pengalaman akan yang ilahi” bila ditinjau dari agama, atau disebut juga iluminasi.
Seringkali fenomena akan pengalaman puncak ini menjadi jegalan bagi para pejalan spiritual karena kerancuan menganggap fenomena ini sebagai tujuan. Lalu menjadi kehilangan pijakan di dunia nyata, mengawang-awang dalam intuisi dan salah kaprah dengan menjadikan intuisi, yang adalah pengalaman subyektif, sebagai alat pengetahuan yang obyektif dan mutlak.
Meski dalam thread Membangun Kesadaran Rasa ini oleh Mas Sabdalangit telah diterangkan bahwa Kesadaran Intuisi sebagai sumber kebenaran, namun kita tetap harus waspada dalam menyikapinya. Karena bisa jadi yang kita anggap sebagai intuisi tak lain hanya imajinasi kita akibat dari rancunya antara sarana dan tujuan sebagaimana berikut :
– Sikap keterbukaan yang sehat terhadap hal-hal yang misterius, pengakuan yang betul-betul rendah hati bahwa kita tidak tahu banyak, sikap rendah hati dan penuh terima kasih untuk menerima rahmat yang cuma-cuma dan untuk memperoleh kemujuran semata-mata; menjadi sikap yang anti rasional, anti empiris, anti ilmu pengetahuan, anti kata-kata dan anti konseptual.
– Pengalaman puncak diagung-agungkan sebagai satu jalan yang terbaik atau malah menjadi satu-satunya jalan menuju pengetahuan, dan karena itu semua pengujian & pembenaran akan keabsahan iluminasi (jumbuhing akal klawan rahsa) bisa dikesampingkan. Maka dengan sengaja menimbulkan pengalaman puncak, harus dijadwal, diiklankan, dipaksakan, dijual sebagai komoditas (sebagai contohnya iklan yang mensyaratkan bahwa ukuran pencapaian spiritualitas haruslah bisa meraga sukma). Seperti seksualitas yang mengandung spiritualitas tinggi (dimungkinkan dapat memperoleh pengalaman akan yang suci) didesakralisasikan menjadi semata-mata “pasang alat kelamin”. Tingkah laku perziarahan yang kental dengan praktek dagang (ziarah=yaroh=yen ora mbayar ora weroh).
– Kemungkinan bahwa suara-suara dari dalam batin bisa keliru (wahyu jegalan).
– Kespontanan (dorongan-dorongan dari diri kita yang paling baik = kareping rahsa) dicampuradukkan dengan dorongan-dorongan naluriah dan tindakan “acting out” (dorongan-dorongan naluriah dari diri kita yang sakit = rahsaning karep), lalu tiada cara untuk menunjukkan perbedaan itu.

Maka kita tetap harus mengedepankan sikap Lepas Bebas yang tidak membuat sarana seperti pencapaian spiritual tertentu sebagai tujuan dan lalu dikejar-kejar.
Sehingga yang sebenarnya adalah Rasa Sejati, intuisi yang murni malah dikotori oleh imajinasi :mrgreen:
Ibarat kita membuat sangkar dengan harapan agar dapat memelihara perkutut, namun karena kehilangan kewaspadaan kita tak menyadari bahwa yang dianggap perkutut ternyata adalah burung gagak pemakaan bangkai

2 responses »

  1. @ Tomy Arjunanto,

    Maturnuwun tulisan inspiratifnya tentang arti sebuah kebebasan yang sesungguhnya adalah kemerdekaan dari hati yang bernurani…

    @ mas Tomy, mas Tunggal Lanang and All,

    Saya mengucapkan ‘Happy Suro Day’ year of 1946, May all of us be blessed with karahayon, kinasih lan bondo kan tinemu sepanjang tahun… cheeeeerrrss!!….

    salam manis,

    Dewi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s