KIDUNG SENGGANA

Standar

Duk semana Jayabaya mantu,
bebesanan Wanara Seta,
Senggana iku arane,
Jaya Sudarma wus kapacak kagyat leng-lenging ndriya,
tinantang Prabu Mawenang,
prang tandhing tumekeng sirna.
Senggana sigra hamipit wayahipun Jaya Sudarma,
Sukeksi araning dewi sayekti putra Kedhiri,
Mukswaning Sang Jayabaya lair kakung Anglingdarma

*****

Prabu Mawenang gugur ing madyaning prang, kasarekaken ing Bergas ingkang ugi katelah Bagasri. Pasareyanipun  tinengeran reca Ganesha.
Gantining jaman ngancik Kamasiya taun 1943 sedane Herucakra nenggih Jatikusuma, peputra Kusna ingkang jejuluk Putra Sang Fajar…..

Kados ingkang kawejang dening Ki Jangkung ing Sendang Cupu Manik Astagina


*****
 
Kabupaten Semar_ang, dalam naungan Gunung Ungaran…

Ong Aran, Hong, asal mula sagung dumadi. Di laladan Bergas, dulu disebut Bagasri, berasal dari kata Baga, perangkat kemaluan perempuan pasemon dari Bumi Suci, dan Sri, Sang Dewi Kesuburan. Teruntai kisah pingitan, torehan sejarah, ilham kebangkitan para hanom-hanomaning bangsa.

Bagasri, bumi suci yang penuh kesuburan, tempat menyemai & menuai benih-benih kehidupan, dasanama dari Sang Ibu Bumi, Ibu Pertiwi.

Terbetik keinsyafannya akan cinta Ibu yang agung, Resi Subali mendapatkan Aji Pancasona, karunia yang membuatnya tak akan mati selama jasadnya tetap dalam rengkuhan kasih Ibu Pertiwi. Dan dalam embanan kasih Ibu pula Sang Anoman mendapatkan Aji Wundri, sebuah kekuatan mahadahsyat mampu mengangkat gunung mengguncang dunia.

Di pereng Kendhalisada ini teringat kembali aku akan semangat yang digelorakan Bapak Bangsaku, “…Tetapi beri aku 10 pemuda, karena dengan mereka aku akan mengguncang dunia…”
Maka dalam keheningan malam di dingin udara pegunungan,
selepas membasuh tubuh di sendang bermata air hangat,
kehangatan yang mengalir dari dalam perut bumi ibuku,
kuwiridkan pengharapan,
kulantunkan kidung pujian,
bagi kebangkitan Hanoman… Hanom-hanomaning Bangsa

Hong ngawigena sekaring bawana langgeng,
Dalem angluhuraken saha nyuwun sabdanipun Pepundhen Mayangga Seta,
 ingkang lenggah wonten ing Kendhalisada,
Mugya enggal manuksma para hanom-hanomaning bangsa
Mbengkas kumayan Ratu Ngalengka,
Wus titi wancine pamungkase kang dur angkara
Hayu… Hayu… Rahayu Sagung Dumadi…

Aji Wundri adalah ajian yang diberikan Dewi Sinta kepada Hanoman untuk memerangi Dasamuka si angkaramurka. Sesungguhnya Aji Wundri adalah pengejawantahan kekuatan seorang Ibu yang menghangatkan, yang mencintai kehidupan, tulus, perkasa dan sabar tak terbatas. Hanya orang-orang yang merasa lemah tak berdaya seperti layaknya seorang bayi yang dapat meyerap Aji Wundri

3 responses »

  1. Copas dari http://en-gb.facebook.com/notes/kediri-lama-pusaka-negara/pemerintahan-sri-aji-jayabhaya/438421735577

    Pemerintahan Sri Aji Jayabhaya

    by Kediri Lama – Pusaka Negara on Wednesday, January 20, 2010 at 5:57pm

    Pemerintahan Jayabhaya dianggap sebagai masa kejayaan Kadiri. Peninggalan sejarahnya berupa prasasti Hantang (1135), prasasti Talan (1136), dan prasasti Jepun (1144), serta Kakawin Bharatayuddha (1157).

    Pada prasasti Hantang, atau biasa juga disebut prasasti Ngantang, terdapat semboyan Panjalu Jayati, yang artinya Kadiri menang. Prasasti ini dikeluarkan sebagai piagam pengesahan anugerah untuk penduduk desa Ngantang yang setia pada Kadiri selama perang melawan Janggala.

    Dari prasasti tersebut dapat diketahui kalau Jayabhaya adalah raja yang berhasil mengalahkan Janggala dan mempersatukannya kembali dengan Kadiri.

    Kemenangan Jayabhaya atas Janggala disimbolkan sebagai kemenangan Pandawa atas Korawa dalam kakawin Bharatayuddha yang digubah oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh tahun 1157.

    Jayabhaya dalam Tradisi Jawa

    Nama besar Jayabhaya tercatat dalam ingatan masyarakat Jawa, sehingga namanya muncul dalam kesusastraan Jawa zaman Mataram Islam atau sesudahnya sebagai Prabu Jayabaya. Contoh naskah yang menyinggung tentang Jayabaya adalah Babad Tanah Jawi dan Serat Aji Pamasa.

    Dikisahkan Jayabaya adalah titisan Wisnu. Negaranya bernama Widarba yang beribu kota di Pamenang. Ayahnya bernama Gendrayana, putra Yudayana, putra Parikesit, putra Abimanyu, putra Arjuna dari keluarga Pandawa.

    Permaisuri Jayabaya bernama Dewi Sara. Lahir darinya Jayaamijaya, Dewi Pramesti, Dewi Pramuni, dan Dewi Sasanti. Jayaamijaya menurunkan raja-raja tanah Jawa, bahkan sampai Majapahit dan Mataram Islam. Sedangkan Pramesti menikah dengan Astradarma raja Yawastina, melahirkan Anglingdarma raja Malawapati.

    Jayabaya turun takhta pada usia tua. Ia dikisahkan moksha di desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Tempat petilasannya tersebut dikeramatkan oleh penduduk setempat dan masih ramai dikunjungi sampai sekarang.

    Prabu Jayabaya adalah tokoh yang identik dengan ramalan masa depan Nusantara. Terdapat beberapa naskah yang berisi “Ramalan Joyoboyo”, antara lain Serat Jayabaya Musarar, Serat Pranitiwakya, dan lain sebagainya.

    Dikisahkan dalam Serat Jayabaya Musarar, pada suatu hari Jayabaya berguru pada seorang ulama bernama Maolana Ngali Samsujen. Dari ulama tersebut, Jayabaya mendapat gambaran tentang keadaan Pulau Jawa sejak zaman diisi oleh Aji Saka sampai datangnya hari Kiamat.

    Dari nama guru Jayabaya di atas dapat diketahui kalau naskah serat tersebut ditulis pada zaman berkembangnya Islam di Pulau Jawa. Tidak diketahui dengan pasti siapa penulis ramalan-ramalan Jayabaya. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat saat itu untuk mematuhi ucapan tokoh besar. Maka, si penulis naskah pun mengatakan kalau ramalannya adalah ucapan langsung Prabu Jayabaya, seorang raja besar dari Kadiri.

    Tokoh pujangga besar yang juga ahli ramalan dari Surakarta bernama Ranggawarsita sering disebut sebagai penulis naskah-naskah Ramalan Jayabaya. Akan tetapi, Ranggawarsita biasa menyisipkan namanya dalam naskah-naskah tulisannya, sedangkan naskah-naskah Ramalan Jayabaya pada umumnya bersifat anonim.

    Anglingdarma

    Prabu Anglingdarma adalah nama seorang tokoh legenda dalam tradisi Jawa, yang dianggap sebagai titisan Batara Wisnu. Salah satu keistimewaan tokoh ini adalah kemampuannya untuk mengetahui bahasa segala jenis binatang. Selain itu, ia juga disebut sebagai keturunan Arjuna, seorang tokoh utama dalam kisah Mahabharata.

    Garis silsilah

    Anglingdarma merupakan keturunan ketujuh dari Arjuna, seorang tokoh utama dalam kisah Mahabharata. Hal ini dapat dimaklumi karena menurut tradisi Jawa, kisah Mahabharata dianggap benar-benar terjadi di Pulau Jawa.

    Dikisahkan bahwa, Arjuna berputra Abimanyu. Abimanyu berputra Parikesit. Parikesit berputra Yudayana. Yudayana berputra Gendrayana. Gendrayana berputra Jayabaya. Jayabaya memiliki putri bernama Pramesti, dan dari rahim Pramesti inilah lahir seorang putra bernama Anglingdarma.

    Kelahiran

    Semenjak Yudayana putra Parikesit naik takhta, nama kerajaan diganti dari Hastina menjadi Yawastina. Yudayana kemudian mewariskan takhta Yawastina kepada Gendrayana. Pada suatu hari Gendrayana menghukum adiknya yang bernama Sudarsana karena kesalahpahaman. Batara Narada turun dari kahyangan sebagai utusan dewata untuk mengadili Gendrayana. Sebagai hukuman, Gendrayana dibuang ke hutan sedangkan Sudarsana dijadikan raja baru oleh Narada.

    Gendrayana membangun kerajaan baru bernama Mamenang. Ia kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Jayabaya. Sementara itu, Sudarsana digantikan putranya yang bernama Sariwahana. Sariwahana kemudian mewariskan takhta Yawastina kepada putranya yang bernama Astradarma.

    Antara Yawastina dan Mamenang terlibat perang saudara berlarut-larut. Atas usaha pertapa kera putih bernama Hanoman yang sudah berusia ratusan tahun, kedua negeri pun berdamai, yaitu melalui perkawinan Astradarma dengan Pramesti, putri Jayabaya.

    Pada suatu hari Pramesti mimpi bertemu Batara Wisnu yang berkata akan lahir ke dunia melalui rahimnya. Ketika bangun tiba-tiba perutnya telah mengandung. Astradarma marah menuduh Pramesti telah berselingkuh. Ia pun mengusir istrinya itu pulang ke Mamenang.

    Jayabaya marah melihat keadaan Pramesti yang terlunta-lunta. Ia pun mengutuk negeri Yawastina tenggelam oleh banjir lumpur. Kutukan tersebut menjadi kenyataan. Astradarma pun tewas bersama lenyapnya istana Yawastina.

    Setelah kematian suaminya, Pramesti melahirkan seorang putra yang diberi nama Anglingdarma. Kelahiran bayi titisan Wisnu tersebut bersamaan dengan wafatnya Jayabaya yang mencapai moksa. Takhta Mamenang kemudian diwarisi oleh Jaya Amijaya, saudara Pramesti.

    (Mas koko 2944)

  2. Ass.wr.wb. rahayu… Pemuda, bukanlah hanya definisi tentang usia seseorang. Pemuda juga berarti siapa saja yang terus menerus sibuk mengadakan perbaikan menuju kemulia-luhuran pribadi dan masyarakat bangsanya menurut yang dikehendaki, direncanakan, dan ditetapkan Allah s.w.t. Semoga panjenengan selalu masuk ke dalam kategori pemuda, dan semoga pula senantiasa dalam limpahan kepemurahan dan bimbingan Allah. Dengan itu, insya Allah termasuk golongan yang dimaksud pada kalimat “…Tetapi beri aku 10 pemuda, karena dengan mereka aku akan mengguncang dunia…”. Sepuluh (10): satu adalah garis (empirik), nol adalah titik sebagai esensi garis (angka Al Qur’an) di balik atau meta empirik. Manusia bersemangat pemuda yang paham akan yang empirik dan meta-empirik sekaligus. Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s