JIKA AGAMA TAK PERNAH SALAH

Standar

Oleh : Suprayitno

Seperti pada umumnya, bagi Dr Asghar Ali Enginneer juga berpendapat bahwa pada hakekatnya semua agama mengajarkan kebaikan. “Agama adalah sumber untuk menciptakan perdamaian. Itulah esensi agama. Mereka yang menggunakan dalih agama untuk melakukan kekerasan adalah mereka yang bermain dengan kekuasaan” tegas tokoh gerakan nonkekerasan dan reformis dari India ini. Ia mengisahkan sepotong pengalaman yang membawanya terlibat dalam gerakan perdamaian dan menolak kekerasan, termasuk kekerasan komunal.
Asghar Ali mengisahkan “Saya sedang belajar ketika terjadi kekerasan komunal di luar. Saya takut sekali. Pertanyaan ‘mengapa orang melakukan kekejian atas nama agama’ terus memenuhi benak. Lalu saya belajar dan terus belajar, sampai akhirnya menemukan, bukan agama yang menyebabkan semua itu.” Selain menguasai ilmu agama (tafsir, ta’wil, fikih dan hadis), Ali juga mengantongi ijazah sarjana teknik sipil (insinyur) dan sempat bekerja di perusahaan milik pemerintah kota Bombay selama 20 tahun. Ia mulai aktivitasnya secara total di dalam gerakan pada tahun 1972 ketika terjadi kerusuhan di Udiapur.
Pandangan-pandangannya tentang berbagai hal, termasuk kesetaraan hubungan perempuan dan laki-laki serta dekonstruksi teks, dituliskan dalam lebih dari 40 buku dan ratusan artikel di media massa. Seluruh upayanya itu membuat Asghar Ali terpilih sebagai penerima penghargaan Nobel Alternatif, The Right Livelihood Awards tahun 2004 (Kompas, 1/6/06).

BENARKAH AGAMA TAK PERNAH SALAH?
Di dalam konflik komunal yang mengatasnamakan agama, selalu dikatakan bahwa bukan agamanya yang salah, sebab esensi agama adalah sebagai sumber untuk menciptakan perdamaian. Maka, seperti juga Ali yang bertanya “mengapa orang melakukan kekejian atas nama agama?”, saya pun bertanya “betulkah dalam agama hanya terdapat sisi positif?”. Sehingga agama tidak pernah salah dan tidak bisa disalahkan? Benarkah kekerasan semata-mata merupakan kesalahan pengikutnya (umatnya) bukan agamanya? Benarkah agama HANYA mengajarkan kebaikan? Bagaimana jika sesungguhnya yang terjadi adalah agama tidak hanya mengajarkan kebaikan saja (sisi positif saja), namun dalam praksis agama sebenarnya juga tersimpan banyak cacat (sisi negatif) yang akhirnya mendorong terjadinya aksi kekerasan? Apa sisi negatif atau sisi buruk dari agama?
Melalui tulisan saya dalam Epistemologi Agama dan Politik, saya ingin mematahkan argumentasi para ahli yang mengatakan bahwa “tidak ada yang salah dengan agama” yang salah adalah umatnya. Menurut para ahli, kesalahan umat adalah dalam hal menafsirkan ayat-ayat, karena mereka telah bermain dengan kekuasaan (politik). Jadi agama adalah ibarat “gadis suci” yang telah diperkosa oleh kepentingan umat. Bukan gadis sucinya itu yang salah, tetapi kesalahan ada pada pemerkosa.
Saya ingin membuktikan bahwa agama bukanlah “gadis suci” yang wajah kecantikannya sempurna. Namun, agama ibaratnya adalah “gadis dengan seribu wajah” yang disamping menawarkan kecantikan, kemolekan dan keseksian, juga menggoda untuk perselingkuhan. Jika semua esensi agama adalah baik, maka sejarah agama akan berhenti. Pada kenyataannya, Nabi Ibrahim telah merontokkan agama/kepercayaan nenek moyangnya yang dianggap suci itu (agama paganisme), untuk menyembah kepada yang Esa (agama tauhid/monotheisme).
Untuk melahirkan agama (kepercayaan) baru, para nabi atau mereka yang melahirkan agama telah “merevolusi” agama mapan (status quo) yang telah dianut secara turun temurun oleh nenek moyangnya. Bagi para pemimpin agama pro status quo yang saat itu menguasai pemerintahan, tentu sangat berang dengan cara-cara pemikiran atau penyebaran agama/keyakinan baru yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim, Nabi Muhammad, atau oleh Yesus. Sehingga, konon dalam sejarahnya, sebagai bentuk hukuman, Ibrahim dibakar hidup-hidup dalam api yang membara, namun berkat mukjizat dari Tuhan, Ibrahim tetap selamat.
Nabi Muhammad pun setali tiga uang, yaitu selalu diburu-buru untuk dibunuh oleh penguasa Mekkah pada saat itu. Untung dalam pelariannya ke Madinah ( pasca hijriah) akhirnya Muhammad dapat memperoleh banyak pengikut dan memperoleh kesuksesan dalam menyebarkan agamanya di kota yang mula-mula bernama Yatsrib itu. Kesuksesan itu berawal dari kemenangannya dalam perang Badr. Dan kita tahu, perjalanan penyebaran “kebenaran” yang diajarkan oleh Yesus pun akhirnya harus mendapat hukuman yang sangat berat yaitu dihukum mati dalam tiang salib.
Pertanyaan pun akhirnya muncul, apa yang mendorong mereka melakukan tindakan yang berisiko tinggi dengan merevolusi agama sebelumnya? Benarkah tidak ada yang salah dengan agama sebelumnya? Benarkah menyembah berhala termasuk tindak kejahatan/kriminal dan prilaku bodoh dan keliru, sehingga harus dihancurkan? Benarkah yang mendorong para revolusionist di bidang agama, semata-mata hanya karena sistem keyakinan yang berbeda? Mengapa Nabi Ibrahim atau Nabi Muhammad membenci terhadap nenekmoyangnya yang menyembah banyak tuhan/berhala? Atau sebenarnya ada motif politik untuk memerangi prilaku penguasa yang semakin menindas terhadap rakyatnya? Ataukah dua-duanya yaitu revolusi sosial yang menumpang kendaraan agama (mengatasnamakan Tuhan), sehingga akhirnya agama “bersetubuh” dengan politik?
Bagaimana seandainya nenekmoyang Nabi Ibrahim atau Nabi Muhammad yang penyembah berhala itu mengajukan pertanyaan kepada mereka “Wahai Nabi, apakah menyembah Tuhan yang tidak berujud (abstrak) termasuk perbuatan yang lebih cerdas, lebih baik dan benar dibandingkan penyembah berhala? Mengapa kamu merasa takut dan harus menyembah, memuji serta meminta-minta yaitu minta keselamatan, minta pengampunan, minta rejeki, minta hidayah, pertaubatan dan segala macam permintaan kepada angan-angan yang kamu ciptakan sendiri?
Wahai Nabi, Tuhanmu hanyalah berupa angan-anganmu sendiri, oleh sebab itu hanya kamulah yang tahu siapa dan bagaimana wajah Tuhanmu. Sedangkan tuhan kami juga angan-angan kami yang diwujudkan dengan simbol patung, sehingga siapa pun bisa melihat dan memegang wajah dewa kami. Maka mengapa engkau menghancurkan dan mencela kepercayaan kami?
Wahai Nabi, Tuhan kita sebenarnya sama, yaitu sama-sama berupa “angan-angan”, tetapi mengapa engkau memushi kami? Jangan salah wahai nabi, patung ini bukanlah wujud tuhan kami. Tetapi kami yakin patung ini bisa mengantarkan angan-angan kami menuju wujud Tuhan yang sejati. Maka, diantara Tuhan kita mana yang sebenarnya lebih hebat?
Patung-patung kami memang tidak bisa menciptakan sesuatu, tetapi jika kamu mengatakan Tuhanmu yang abstrak itu sebagai maha pencipta, maka apa yang telah dicipta oleh tuhanmu? Bagaimana dan dari mana kamu bisa mengetahui bahwa Tuhan yang abstrak itu adalah pencipta bumi, matahari dan bintang-bintang? Apakah Nabi pernah mengadakan penelitian bagaimana cara Tuhan mencipta?
Ingatlah wahai nabi, bahwa pengetahuan itu berbeda dengan keyakinan. Kalau penciptaan itu hanya berdasar keyakinanmu maka terserah saja apa yang kamu yakini. Tetapi kalau penciptaan itu berdasarkan pada penelitianmu maka kamu harus bisa membuktikan kebenarannya. Kalau kesimpulanmu yang mengatakan Tuhan sebagai maha pencipta berdasarkan pengetahuan, maka kami harus bertanya kepadamu, apa bukti pengetahuan dan kebenarannya? ” Jika ada pertanyaan seperti ini dari para penyembah berhala, lalu apa kira-kira jawaban dari Nabi Muhammad maupun Nabi Ibrahim?
Menurut pendapat saya, cacat agama yang paling mencolok adalah karena di dalam agama tidak ada “kepastian kebenaran”. Tetapi, agama secara bawaan (secara genetis) justru selalu mengatakan “pembawa pesan kebenaran”, tak peduli apakah berasal dari agama monotheis atau polytheis sama saja. Kontradiksi inilah yang melahirkan kekerasan komunal. Kekisruhan dalam agama, karena agama selalu berdimensi dengan wajah ganda, artinya satu sisi berurusan dengan sistem keyakinan (theologisme) dan sisi lainnya sangat erat dengan pemberontakan atas penindasan yang dilakukan oleh penguasa dengan menggandeng tangan Tuhan (berdalih wahyu).
Andai fungsi agama hanya sebagai piranti untuk hubungan vertikal dengan Tuhannya, sedangkan hubungan horisontal (persoalan mu’amalat) untuk sesama manusia dijembatani melalui nilai-nilai etika, estetika dan humanisme maka saya yakin tidak akan terjadi kisruh pertikaian antar sesama pemeluk agama. Sebab, agama didudukkan hanya sebagai kepentingan pribadi, bukan untuk “mengutuk” dan “mengatur” orang lain, melainkan sebagai sarana menuju ketentraman batin diri pribadi. Kalau pun dikatakan bahwa semua agama sebenarnya mengajarkan kebaikan, mungkin yang dimaksud adalah dalam dimensi sosialnya yang berpihak pada kaum yang lemah dan tertindas.
Kalau benar demikian, berarti agama berada pada jalur yang dilematis. Satu sisi ingin membangun kesakralan hubungan dengan Tuhan (hubungan vertikal), tetapi di sisi lain terjun dalam dunia pragmatis (mu’amalat). Sikap mendua ini akhirnya sangat potensial dalam melahirkan kesesatan berpikir. Sebab, tujuan pragmatis (wilayah profan) ini oleh agama selalu dikaitkan dengan sakralisasi dari Tuhan. Sementara kebenaran wahyu diyakini sebagai “kebenaran yang paling tinggi” tak ada lagi kebenaran di atas wahyu. Padahal, kebenaran wilayah profan justru sebaliknya yaitu menganut sistem dialektis.
Selama kita hidup bersebelahan dengan sesama manusia maka yang namanya kebenaran selalu bisa diperdebatkan. Artinya kita sulit mendapatkan kebenaran absolut. Kebenaran wahyu yang bersifat absolut, sangat tidak applicable untuk urusan dunia profan. Inilah kontradiksi dalam tubuh agama yang tak pernah berakhir sampai kapan pun.

ABSOLUTISME AGAMA
Saya pikir, dari sejak awal metode penyebaran agama saja sudah keliru, jadi bagaimana mungkin kita berkata “bukan agamanya yang salah?”. Menurut saya, agama adalah sumber kesalahan akibat dari kekacauan berpikir. Jika pada umumnya orang-orang cerdik pandai mengatakan bahwa pada dasarnya semua agama adalah baik, maka orang awam seperti saya justru berpendapat sebaliknya, yaitu pada dasarnya semua agama adalah buruk. Kok bisa begitu, dimana letak keburukannya? Buktinya dalam transfer keimanan agama, sama sekali tidak terjadi proses dialektika. Tidak ada proses pembelajaran yang bersifat dialektis, tidak ada pembelajaran yang bersifat setara, semua serba dari atas kebawah. Apa yang dituturkan atau disampaikan oleh pemimpin yang teratas yaitu yang disebut Nabi adalah merupakan kebenaran absolut yang tidak boleh diragukan kebenarannya. Prinsipnya apa yang dikatakan nabi sebagai “wahyu” adalah sebuah kalimat sakral yang pasti benar. Wahyu tidak boleh dikritik, sebab mengkritik wahyu sama saja dengan mengkritik Tuhan. Jika kita menolak kebenaran itu, maka kita akan ditempatkan sebagai kaum oposisi/kafir.
Dalam pengajaran agama tidak mengenal tesis dan antitesis. Dalam agama hanya ada tesis, tetapi tesis tersebut tidak pernah benar-benar bisa diuji kebenarananya berdasarkan fakta. Contoh, nabi bersabda bahwa “Surga adalah tempat yang sangat indah dan nyaman” sabda ini jelas harga mati. Sebab ketika kita tanyakan “dari mana nabi tahu kalau surga itu tempat yang indah dan nyaman?” maka jawabannya adalah “pokoknya Tuhan bersabda demikian, jika kamu tidak percaya berarti kamu bukan orang yang beriman”. Akhirnya agama akan berusaha untuk menyingkirkan orang-orang yang berpikiran bebas dan kritis sebagai kaum kafir, bila perlu harus dimusnahkan. Apakah absolutisme kebenaran dalam agama bukan sebagai kejahatan atau keburukan terhadap nilai-nilai intrinsik manusia? Di sini saya berpendapat bahwa semua agama adalah buruk dalam hal keabsolutannya. Agama yang baik hanya ada dalam angan-angan, realitasnya agama itu sebenarnya diktator.
Agama dan Tuhan, sepertinya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan umat manusia yang melintasi waktu dan bersifat lintas generasi. Didalamnya terbungkus “mistisisme” yang sangat tinggi dengan berbagai dalih eskatologisme dan aspek teleologi. Akhirnya menimbulkan pertanyaan pada diri saya yaitu, Tuhan…., mengapa Engkau selalu dijadikan “alat” perjuangan oleh para pemimpin agama untuk alasan-alasan kemanusiaan? Tidak bisakah manusia berjuang atas nama sesama manusia?
Benarkah Tuhan peduli dengan nasib manusia? Berratus juta manusia yang bernasib malang di dunia ini, bisa menanyakan hal tersebut kepada Tuhannya. Namun, saya tahu, pertanyaan ini tidaklah mungkin mendapat jawaban dari Tuhan. Sebab, andaikata muncul jawaban, maka jawaban itu pasti berasal dari “mulut manusia” yang mencoba berbicara atas nama Tuhan (juru bicara Tuhan). Mereka tentu mengatasnamakan mendapat “wahyu” atau paling tidak mereka mencoba menjawab dengan tafsiran pribadinya.
Pertanyaannya, bisakah manusia “menyatakan” (to explain) bahwa dirinya menjadi juru bicara Tuhan (menjadi nabi)? Jika ada manusia yang bisa menjadi juru bicara Tuhan, tentu ada manusia lain yang tidak bisa menjadi juru bicaraNya. Maka atas dasar apa “klaim bisa” dan “tidak bisa” tersebut dan siapa penentunya? Salahkah manusia yang menolak terhadap konsep “kenabian” dengan produk andalannya yang berupa wahyu itu?
(Semarang, June 02, 2006)

38 responses »

  1. Rumit rumit… tulisan yang kritis, rada ada bau protes tetapi pintar… Salah satu tulisan terbaik Mas Prayit..

    Mungkin kalimat yang lebih enak didengar di kuping, agama itu netral, lha semua yang netral itu implementasinya ya tergantung penafsiran pelaku-pelakunya…

    Bukan resep masakan yang membuat kenyang. Tetapi ketika koki menyajikan makanan itu enak dan mengenyangkan.. Kayaknya sih gitu…

    SALAM

  2. Mas Tomy,
    bagaimana kabar anda , semoga baik.
    saya akan baca dan pahami dulu tulisan teman anda ini
    nanti saya komentari…
    sepertinya bagus

  3. Assalamualaikum..
    Setelah membaca Postingan Mas Suprayitno saya mulai paham bahwa memang ada perubahan dalam hal mengemukakan pendapat , dari yang dulunya masih sembunyi-sembunyi sekarang era tehnologi maju mengakibatkan pendapat seperti itu mudah menyebar luas.
    Apa yang dikemukakan dalam postingan diatas boleh saja bahkan yang lebih dari itu juga boleh saja asalkan lebih hati-hati jangan sampai menyinggung perasaan orang beragama. Dalam artikel itu ditujukan memang untuk semua agama apa iya mas?.
    Kalau menurut saya sebagai pemeluk agama : apa yang ada pada segala pegangan beragama adalah benar seratus persen tidak ada yang salah. Hanya manusialah yang memang salah tafsir atau mengambil dan menyalahgunakannya dengan sengaja atau dengan tidak sengaja. Dan kalau sudah beragama wajib hukumnya menaati segala aturan agamanya . Walau kenyataannya tidak semua beriman dengan kuat , karena kekuatan iman tiap orang memang berbeda hal itu harus dimaklumi. Saya sendiri banyak memperoleh kebahagiaan dengan beragama walau tidak sehebat para ahli agama.
    Tidak ada yang perlu dirubah dalam tata aturan beragama , tetapi sikap-sikap , penilaian, perilaku kitalah yang harus senantiasa lebih baik dari hari kemarin.
    Demikian komentar saya , bila ada salah pengertian mohon maaf,
    Semoga senantiasa bahagia…
    Wassalamualaikum…..

  4. mas Tomy …

    salam kenal, walau sebelumnya kita pernah bertemu di gathok ing roso di jogja …

    tapi mungkin karna belum ada waktu yang bagus, akhirnya kopdar di jogja hanya berjalan begitu saja, tanpa kita bisa saling lebih banyak ..

    rahayu

  5. “agama ageming aji”-adanya agama bertujuan untuk mengatur hidup manusia,agar bisa hidup berdampingan ,saling membantu saling menghormati secara damai.Jadi kita harus punya hubungan yang baik kepada Allah,sekaligus punya hubungan yang harmonis dengan sesama manusia.Meskipun ada perbedaan warna kulit,perbedaan agama,perbedaan suku/perbedaan bangsa,perbedaan tingkat sosial dsb.Agama adalah soal keyakinan dan hak setiap manusia,sebab itu tidak bisa dipaksakan kpd orang lain.Seseorang menaruh hormat dan saluut pada orang lain bukan karena perbedaan agama,tetapi dari moral dan teladan yang baik yg bisa dilihat secara nyata.
    Jadi semua agama itu dasarnya baik,yg menjadikan buruk itu faktor manusianya.

    salam rahayu.

  6. KORBAN AGAMA
    Bila ada satu pertanyaan, apakah gerangan HIPNOSIS TERBESAR di jagad raya ini? Hipnosis merupakan kata yang berasal dari bahasa Yunani yaitu hypnos. Dalam mitologi Yunani, Hypnos adalah dewa tidur. Dia memiliki saudara kembar yang bernama Thanatos yang berarti kematian. Ibu Hypnos adalah dewi Nyx yang berarti malam. Sederhananya, hipnosis adalah kondisi peralihan kesadaran yang ditandai dengan meningkatnya kemudahan menerima sugesti.
    Lalu pertanyaannya menjadi, SUGESTI TERBESAR APAKAH yang bisa dilakukan kepada manusia? Jawabnya adalah AGAMA. Agama adalah hipnosis terbesar di jagad raya ini, sebab Agama telah mampu menyihir (baca : menidurkan) manusia dari kesadaran empiric menjadi kesadaran mistik. Ciri-ciri seseorang yang telah terhipnosis oleh daya magic agama adalah dia tidak mampu membedakan antara REALITAS dengan ABSURDITAS.
    Setiap hari manusia beramai-ramai “menyembah” dan memuji tuhan. Jika ia tidak melakukannya akan merasa bersalah, berdosa dan gelisah. Karena pengaruh hipnosis yang telah bekerja pada syaraf otaknya dari sejak tingkat TK sampai dengan mahasiswa bahkan sampai mati, mengatakan bahwa “Sembahlah Tuhanmu!!” maka ketika tuhan tidak disembah akan menimbulkan berbagai “ancaman dan tekanan psikologis”, yang menimbulkan “rasa takut”. Ini namanya kesadaran “absurditas”.
    REALITASNYA : Benarkah tuhan perlu disembah? Ayo silakan bagi yang ahli agama memberikan jawaban. Sekali lagi saya bicara “realitasnya” bukan berdasarkan “keyakinannya”. Analoginya adalah, misalnya seseorang “berkeyakinan” bahwa di bulan “terdapat tumbuhan”.
    REALITASNYA : Benarkah di bulan terdapat tumbuhan? jika setelah dibuktikan ternyata di bulan tidak ada tumbuhan, maka otomatis keyakinan seseorang yang mengatakan bahwa “di bulan ada tumbuhan” merupakan “keyakinan yang sesat/keyakinan yang salah”.
    Menurut saya “kebenaran keyakinan” semudah dan sesimpel itu, tidak perlu kesana kemari gembar-gembor, yang membuat ribet, rumit dan seakan-akan sakral itu sesungguhnya hanyalah akal-akalan para pemimpin agama karena ada motif tertentu, bisa karena motif kekuasaan, motif ekonomi dan motif-motif tersembunyi lainnya.
    Anda mungkin saja salah satu korban hipnosis agama, dan harap diingat korban agama tidak pernah menyadari bahwa dirinya telah menjadi korban. Siapakah yang bisa menjadi korban agama? siapa pun bisa menjadi korban, tidak peduli apakah ia seorang Prof Dr Ma atau cuma sekadar pemulung yang sama sekali tak berpendidikan.
    Korban agama juga bisa menimpa golongan kelas elite dengan status sosial yang tinggi maupun menimpa golongan proletariat/kaum kere. Mengapa banyak manusia yang menjadi korban agama? sebab “racun agama” bersifat “adiktif/membuat ketergantungan” karena begitu nikmat dan memikat baik untuk anak kecil maupun lebih-lebih untuk orang dewasa. Mengapa racun agama begitu memikat dan nikmat? karena racun agama bisa menjadikan seseorang menjadi rileks, penuh harapan, optimistis, melayang (mabok) dan secara psikologis bisa menjadi tempat untuk melepaskan beban/suaka jiwa (exonerate). Racun agama begitu “mengagumkan” tetapi di sisi lain “sangat menyeramkan” karena dapat menyebabkan jiwa seseorang menjadi “sangat baik” dan bisa juga menjadikan seseorang “sangat buruk” disertai rasa takut yang luar biasa.
    Antara kekaguman dan ketakutan yang telah “menyatu/bersenyawa” dalam jiwa seseorang, bisa melahirkan ledakan tindakan yang tak terkontrol berupa perbuatan-perbuatan “destruktif” atau penghancuran terhadap pihak lain yang dianggap sebagai penghalang bagi keyakinannya (baca : kenikmatannya). Mereka menampilkan diri sebagai “penyelamat umat” seperti yang telah diyakininya, meskipun cara penyelamatannya kadang justru bertentangan dengan “prinsisp penyelamatan”. Prinsip keselamatan haruslah disertai rasa kasih-sayang yang dilambari dengan pengetahuan yang benar dan tulus-ikhlas. Sebab, kasih sayang saja tanpa disertai pengetahuan yang benar justru bisa memakan banyak korban.
    Bagaimana cara menangkal “racun agama”? Saya rasa, racun agama “tidak perlu ditangkal” biarkanlah racun itu tetap bekerja menggerayangi pikiran manusia sepanjang pengaruh racun agama itu bisa menjadikan seseorang menjadi lebih “nyaman” dan yang paling penting bisa menjadikan lebih baik prilakunya/perbuatannya.
    Yang perlu ditangkal adalah apabila racun agama itu ternyata membuat seseorang menjadi “extreme” dengan kecenderungan “menyerang” dan menghancurkan terhadap orang lain yang tidak sependapat dengan keyakinannya.
    Sepanjang sejarah, yang namanya agama, tuhan, surga, neraka, malaikat, setan, iblis dan yang gaib-gaib lainnya memang menjadi komoditas yang sangat mengasyikkan untuk diceritakan dan ditanamkan sebagai “jalan hidup/way of life” terutama untuk masyarakat yang lebih banyak menggunakan nalar mistik dari pada nalar empiric.
    Demikianlah, racun agama akan terus dihipnosiskan (disebarkan) kepada umat manusia, karena di sana banyak keuntungan yang bisa diperoleh bagi para pemimpin hypnotik, dan mereka bisa membagi-bagikan “rasa takut” itu kepada banyak orang. Prinsipnya, makin banyak orang yang takut maka semakin “muluslah” racun itu bekerja.
    Masyarakat yang bodoh akan selamanya dibodohi oleh sihir agama. Racun agama bekerja “sangat halus” karena dia menyelusup (penetrasi) melalui pikiran yang diolah melalui “perasaan”. Mengapa disebut racun? Sebab pengaruh agama bisa menyebakan orang waras menjadi sakit jiwanya, walaupun dia tidak pernah menyadarinya/merasakannya. Bagaimana ciri-ciri jiwa yang sakit? Dia tidak bisa membedakan antara yang “sesungguhnya terjadi” dan yang “sesungguhnya hanya angan-angan”. Maka, akhirnya dia mengira bahwa angan-angannya sebagai sebuah fakta/kebenaran. Inilah sebagian ciri-ciri dari jiwa yang sakit.
    Penulis: Suprayitno (11/07/2010)

      • KALAU realitas jangan-jangan memang gak ada bedanya sama absurditas, lantas gak ada bedanya dong antara ilmu fisika dengan ilmu agama? antara atheis dengan orang beriman?

        Atau bagaimana maksudnya mas? aku jadi sedikit puyeng nih, bisa tolong dijabarkan dengan tuntas beserta contoh konkritnya?

  7. nyuwun pangapunten mas Tomy, bade nderek sumbang-komen yang mungkin jadi komen-sumbang, begini :
    Ingat cerita2 simbah tentang Negara Kertagama kalau nggak salah artinya Negara yang penuh ramai (kerta) dg norma-etika, tata-aturan (gama);
    Cerita lain dalam abad pertengahan yang terkenal dg masa-pencerahan(renaisance?) yg konon meningkatnya kesadaran-manusia thd ‘agama’, namun yg terjadi adalah gerakan koloni(al)sasi keberbagai belahan dunia -afrika,amerika,australia- temasuk nuswantara.

    Kalau ungkapan2 -amoral, anarchi, asusila- rasanya saya paham.
    Tapi kalau -agama- kok bingung ya.

    Mohon pencerahannya…
    Terimakasih dan mohon maaf bila ada penulisan yg kurang berkenan
    Salam utk semuanya

  8. numpang ngoment…
    a big “WOW”…
    benar benar tulisan yang sangat pintar, topik yang -dipungkiri atau tidak- dibicarakan secara sembunyi sembunyi antara otak dan batin kita semua…
    sangat setuju dengan semua yang tertulis, tp bukan berarti saya atheis…
    pada kenyataannya -pendapat saya- Tuhan benar benar memilih dengan sekehendaknya )karena Dia adalah Tuhan- siapa yang berhak mempercayainya, dengan pilihan yang terkesan asal asalan, mulai dari orang orang kampung yang kerjanya macul di sawah, sampai para cendekiawan yang menyelesaikan S3-nya dengan gratis di al-Azhar (dan tempat tempat hebat lainnya)…
    intinya saya benar benar mengakui bahwa apa yang anda tulis, benar belaka…

  9. hmm definisikan dulu per setiap kata2 u berkomunasi di otakmu dengan respon eksisitensi fisikmu (jika kamu memang riil?) hah?kamu real neo?special one?matrox, eh matrix? hahahahahaha

      • kayaknya itu kesalahan menarik kesimpulan .

        Jika ditulis : Kerbau yang membajak sawah , ya tetap lain artinya dengan kalo gitu sapi gak bisa mbajak sawah ^_^

        kalo kerbau makan rumput tidak sama artinya dengan mengatakan selain kerbau berarti tidak makan rumput.kayaknya gitu sih

        SALAM

  10. orang sejenis anda, mas yitno telah pula disebutkan dalam agama yg sy yakini. Anda terlalu mengandalkan rasio anda dan menolak rasio di luar anda.

  11. Menurut saya iman dan logika tidak bisa berjalan dengan selaras..Ketika iman dipertanyakan secara harafiah dan meminta penjelasan secara logic ataupun matematic hanya akan memunculkan krisis terhadap kepercayaan itu sendiri…Kita hidup bukan untuk menyembah agama, tetapi agama adalah media untuk menyembah Tuhan YME…

  12. silakan aja anda berpendapat begitu, tetapi sy justru berpendapat logika harus selalu selaras dgn iman. Masalahnya kadang logika kita sangat terbatas untuk bisa menjangkau logika Tuhan. Nah menurut saya mas yang nulis artikel ini lebih mengandalkan logikanya yg terbatas itu sedangkan sebagian besar orang menyerahkan kpd logika Tuhan (iman) ketika menjumpai hal yang tak masuk di logika mereka.

    • Tuhan itu dari pertama ada kehidupan hingga sekarang ini memang terus menerus menjadi bahan diskusi dan pertentangn.

      Apa sebab? sebabnya karena tuhan adalah objek abstrak,Dia bisa digambar apa saja dengan dalih apa saja.

      Juru gambar itu bernama para nabi atau rasul.Yah, namanya gambar tentu saja tergantung kualitas yang menggambar, makanya terjadilah pamer atau adu “keindahan dan kesempurnaan” masing-masing dari para juru gambar.

      Nah,semua yang ada itu SESUNGGUHNYA BUKAN TUHAN melainkan hanya gambar tuhan. Mengapa? sebab TUHAN yang ASLI tak seorang pun yang TAHU.

      Semua para juru gambar itu hanyalah berbekal KEYAKINAN/KEPERCAYAAN bukan PENGETAHUAN.Betapapun huebaaaatnya ilmu seseorang, tidaklah mungkin dia memiliki PENGETAHUAN TENTANG TUHAN.

      Ayo coba saya tanya, apa yang sampeyan KETAHUI TENTANG TUHAN?kita sesungguhnya tidak tahu apa-apa tentang tuhan, tetapi kita sok tahu, kita hanya MEREKA-REKA/MENDUGA-DUGA BERDASARKAN KEYAKINAN MASING-MASING.Apakah keyakinan kita BENAR? Bagaimana cara membuktikan kebenaran keyakinan itu?

      Kita yakin 100% bahwa yang mencipta alam ini adalah tuhan,pertanyaannya adalah : Bagaimana cara membuktikan bahwa keyakinan itu BENAR adanya?

      • yang perlu dibuktikan itu kan bagi yang pengin membuktikan. lha bagi yang merasa nyaman tanpa dibuktikan ya gak usah dibuktikan juga gak papa. ^_^

        Iya, kalo konsepnya tidak menyerupai apapun , maka ya memang tidak bisa 100 persen diketahui manusia… Tapi sejak dulu dalam filsafat agama manapun kan manusia yang terbatas memang tidak bisa menjangkau Tuhan yang dipercaya tidak terbatas. Jadi oke oke saja aslinya…Kayaknya gitu sih.

        SALAM

  13. @lovepassword,

    hai jumpa lagi mas LP, mas kadang saya bertanya, kehadiran tuhan dalam pemikiran manusia itu kok sepertinya sangat menyita waktu dan energi terutama untuk masyarakat kita ya mas mengapa?

    Bukannya waktunya diperuntukkan sebesar-besarnya untuk berpikir tentang inovasi, kreatifitas dan akselerasi buat kemajuan sain dan teknologi yang JELAS-JELAS SANGAT TERUKUR BENAR DAN SALAHNYA, MUDARAT DAN MANFAATNYA.

    Sudah bukan rahasia lagi lah, kalau di undang untuk pengajian pasti yang datang banyak tetapi kalau untuk pembicaraan-pembicaraan serius mengeni masa depan bangsa yang datang kok ya sedikit ya?

    Kadang saya merenung, andai kata tuhan benar-benar ada, sesungguhnya manusia itu mau apa? sebaliknya jika tuhan tidak ada, manusia juga mau apa?

    Kayaknya (lebih banyak) manusia MENGHENDAKI TUHAN ITU ADA, karena motifasinya hanya pengin minta-minta,minta apa sajalah (dasar mental pengemis kali ya?) dan untuk mengagumi alam semesta dan untuk mencari keabsahan/apologi tentang berbagai kelemahan manusia dihadapan alam semesta.

    Nah kalau tuhan tidak ada bagaimana? mau minta-minta pada siapa? mau berdoa kepada siapa? terus kalau di alam akherat tidak ada surga, kapan manusia akan menikmati berbagai macam fasilitas yang di dunia nyata hanya sebatas angan-angan?

    Maka, akhirnya lebih banyak manusia yang TIDAK BERANI MEMBUNUH KHAYALANNYA SENDIRI, khayalan tentang tuhan tentu saja.

    Khayalan itu sesuatu yang sangat mengasyikkan, jadi memang tidak perlu dibunuh. Khayalan juga kadang bisa menjadi kenyataan.

    • kehadiran tuhan dalam pemikiran manusia itu kok sepertinya sangat menyita waktu dan energi terutama untuk masyarakat kita ya mas mengapa?

      Bukannya waktunya diperuntukkan sebesar-besarnya untuk berpikir tentang inovasi, kreatifitas dan akselerasi buat kemajuan sain dan teknologi yang JELAS-JELAS SANGAT TERUKUR BENAR DAN SALAHNYA, MUDARAT DAN MANFAATNYA.

      Sudah bukan rahasia lagi lah, kalau di undang untuk pengajian pasti yang datang banyak tetapi kalau untuk pembicaraan-pembicaraan serius mengeni masa depan bangsa yang datang kok ya sedikit ya?

      Kadang saya merenung, andai kata tuhan benar-benar ada, sesungguhnya manusia itu mau apa? sebaliknya jika tuhan tidak ada, manusia juga mau apa?

      Kayaknya (lebih banyak) manusia MENGHENDAKI TUHAN ITU ADA, karena motifasinya hanya pengin minta-minta,minta apa sajalah (dasar mental pengemis kali ya?) dan untuk mengagumi alam semesta dan untuk mencari keabsahan/apologi tentang berbagai kelemahan manusia dihadapan alam semesta.

      Nah kalau tuhan tidak ada bagaimana? mau minta-minta pada siapa? mau berdoa kepada siapa? terus kalau di alam akherat tidak ada surga, kapan manusia akan menikmati berbagai macam fasilitas yang di dunia nyata hanya sebatas angan-angan?

      Maka, akhirnya lebih banyak manusia yang TIDAK BERANI MEMBUNUH KHAYALANNYA SENDIRI, khayalan tentang tuhan tentu saja.

      Khayalan itu sesuatu yang sangat mengasyikkan, jadi memang tidak perlu dibunuh. Khayalan juga kadang bisa menjadi kenyataan.

      ===> Masalah manfaat mudharat itu gak ada urusannya sama apakah itu sains, agama, bahasa atau lainnya karena semua hal ya punya potensi manfaat dan juga mudharat.

      Sains pun juga bisa jadi manfaat atau mudharat , termasuk yang lain2.

      Sebenarnya saya rasa bagus-bagus saja .

      Konsep Tuhan itu kan mengandung dua hal esensial : Yang pertama usaha manusia, yang kedua keterbatasan manusia.

      Jadi yah manusia sebaiknya berusaha, tetapi tidak lantas diperbudak usaha. Kalo kamu gagal, berusaha terus itu bagus, tetapi napsu tanpa batas itu merusak . Kadang manusia perlu mengkalemkan dirinya ^_^. Jadi ya berusaha tetapi tidak melekat.

      SALAM

  14. itulah yg sy maksud mas yitno, dan telah pula dijelaskan dgn bahasa yg lain oleh lovepasword. Segolongan kecil orang anggap Tuhan hanya hayalan trmasuk anda karena keterbatasan logika manusia termasuk saya(saya juga manusia lho). Tapi sy dan sebagian besar manusia lain menyerahkan kepada logika Tuhan(iman) dan merasa cukup dgn bukti yang ada. Kata lovepassword gak perlu dibuktikan lagi, udah nyaman kok. he..he..he..

  15. Bisakah orang2 atheis membuktikan TUHAN TIDAK ADA? Mereka menjawab BISA!!.. dgn penuh semangat dikemukakan argumen2 yang mendukung sesuai logika mereka. Sementara orang beriman pura2 mendengar dgn antusias dan serius pdhal dlm hati mereka berkata,”Kasian orang2 yang berakal sempit ini”. Maaf lho tdk bermaksud menyinggung.

  16. akan kukatakan siapa itu TUHAN, andai kau beritahu aku siapa itu AKU :mrgreen:
    apakah AKU bentuk fisik ini?
    ataukah jiwa & nyawa ini?
    atau semua tempelan atribut, label, perasaan, pengalaman, pengkondisian ini yang kau sebut AKU?

  17. ……apakah AKU bentuk fisik ini?……..

    Rasanya kok bukan mas tomy. Sebab jika aku bentuk fisik maka akan ada banyak aku, misal rambut, bibir, perut, telinga, kaki, tangan dan seluruh apa yang ada dalam wujud badan wadag kita, bisa kita tambahi dengan Ku, misal rambut-Ku, perut-Ku dst.

    Mungkin, AKU itu tidak berujud mas tomy, karena AKU = HIDUP. Makanya AKU tidak bisa mati, sebab yang bisa mati tentulah RAGAnya, aku tidak bisa merasa lapar, sebab yang bisa merasa lapar adalah perut dst. AKU adalah dzat tunggal yang melintasi segalanya.

    Setiap hari kita mengAKU, tetapi niscaya kita belum pernah ketemu dengan AKU.Sebab, AKU hanya bisa kita temui melalui KEKOSONGAN.

    Sanggupkah dan Relakah kita mengosongkan diri meski cuma sejenak?

  18. Saya orang yang setuju kalo dalam hal keyakinan kita tidak boleh bertaqlid buta tanpa pembuktian atau mengetahui hakikat kebenranya.
    Namun dalam mengungkap kebenaran apalagi pembuktian tentang keberadaan Tuhan, kita tidak bisa menggunakan perangkat lahiriah. Semua indra lahiriah sangatlah terbatas. Dengan mata lahir kita tdk bisa melihat sesuatu dibalik tembok,juga tdk bisa melihat kejadian kemarin, tapi dgn mata yg lain kita bisa melihatnya. Tuhan itu nyata kok, bisa disaksikan, apalagi tentang surga dan neraka itu sangat mudah mas. Tapi sekali lagi bukan dgn perangkat lahir kita, disinilah agama berperan sbg pembimbing yg bisa menyampaikan seseorang pd tujuanya. Mas Prayitno tdk mungkin menemukan mutiara yg ada di dasar laut hanya dgn mengelilingi pantai, atau melihat air laut dgn segala bahaya dan ancamanya. Anda harus berani basah2an, berenang dan menyelam ke dsar laut. Kalau mau menyelam jangan pakai dasi,kemeja dgn jas layaknya seorang direktur, anda harus menanggalkan semuanya ganti dgn baju renang lengkap dgn perangkatnya.

  19. @Mas Prayit :

    KALAU realitas jangan-jangan memang gak ada bedanya sama absurditas, lantas gak ada bedanya dong antara ilmu fisika dengan ilmu agama? antara atheis dengan orang beriman?

    Atau bagaimana maksudnya mas? aku jadi sedikit puyeng nih, bisa tolong dijabarkan dengan tuntas beserta contoh konkritnya?

    ===> Ternyata dibales aku gak nyadar lama ^_^…

    Apa yang dianggap sebagai realitas itu kan fenomena yang ditangkap indra manusia dan ini juga terkait pengalaman manusianya .

    Jadi ada jarak antara apa yang ditangkap indra dengan apa yang real aslinya.

    Orang buta yang bermasalah dengan matanya, bisa saja tahu apa itu bola dengan indranya yang lain, misalnya dengan meraba.
    Ketika orang buta tersebut bisa melihat, dan anda minta bola, belum tentu dia tahu mana yang dimaksud bola karena dia tidak terbiasa melihat dengan matanya dan tidak punya pengalaman melihat bola

    Jadi realitas itu juga terkait dengan pengalaman seseorang. Tidak ada realitas objektif karena objektif itu tidak ada.

    Jika ateis berkata Tuhan tidak ada karena tidak objektif, tentu saja ateis mesti juga mikir mengapa objketif itu dianggap ada dan malahan bisa menghakimi semua hal , padahal objektif itu sendiri juga absurd. Realitas berada di dalam batasan apa yang dianggap objektif itu.

    Kayaknya menurutku gitu sih….

  20. Ass.wr.wb., rahayu… Tentang keberbedaan beragama, marilah kita sikapi seperti memotong tumpeng. Daerah keyakinan, adalah daerah puncak tumpeng yang dipotong (tak usah diperdebatkan); daerah bawah adalah implementasi dari keyakinan it secara sosietal/kemasyarakatan. Yang harus diurus bersama adalah daerah lauknya yang ada di bagian bawah tumpeng. Sudah adilkah pembagiannya dan secara sosial, masyarakat telah makmur-bersahaja/prasaja? Salam.

  21. tidak semata2 Tuhan menciptakan mahluknya (manusia, jin, setan, malaikat, dunia dgn segala isinya) adalah untuk beribadah kepada-Nya. Tapi manusia sebagai ciptaan Tuhan diberi kesempurnaan untuk memilih, mau milih yang diridhoi atau yang tidak diridhoi (Agamalah Panduannya). Silahkan bebas untuk memilih karena semua pilihan yang ada di dunia ini (yang sedang kita jalani) sudah jelas ada konsekuensinya.

  22. Masih ingat saya, Mas Prayit ? Anda sudah pernah main ke rumahku. Teruskan menulis di berbagai media untuk menyadarkan mereka yang masih dililit/ terbelenggu kebodohan/kebutaan hati dan salah cara berfikirnya. Dari yonsan di gombong.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s