TRI JANA UPAYA

Standar

Oleh : Ki Atma Sasratama Jati


Tri Jana Upaya adalah tiga macam cara bagi seorang pemimpin untuk menghubungkan atau mendekatkan diri dengan masyarakat yang dipimpinnya. Ada dua cara hidup hewan, yang satu menyendiri seperti tokek, gangsir, dan yang lain berkelompok seperti lebah dan sebagainya. Cara hidup demikian sesuai dengan hukum alam, karenanya tidak dapat diubah. Lebah jika dipisahkan pasti mati. Sebaliknya gangsir, jika dikelompokkan pasti mati.


Sebab dalam kelompok, gangsir selalu berkelahi. Maka bila diubah cara hidupnya, hewan tersebut tidak dapat melangsungkan hidup pribadinya dan jenisnya. Manusia termasuk jenis yang cara hidupnya berkelompok, jadi serupa dengan jenis lebah.

Dalam kelompok, orang saling memberi dan mengambil kefaedahan masing-masing. Tindakan tersebut dinamakan gotong royong atau kemasyarakatan. Adapun cara bertindak untuk saling memberi dan mengambil faedah masingmasing ialah sebagai berikut: Misalnya tukang besi, pekerjaannya tidak lain hanya memukuli besi.


Namun ia makan nasi walaupun tidak menanam padi. Ini hanya mungkin karena adanya saling memberi dan mengambil faedah masing-masing, antara pak tani dan si tukang besi. Tukang besi memperoleh padi dari pak tani dan pak tani memperoleh pacul dari tukang besi. Saling memperoleh kefaedahan di atas, memungkinkan masingmasing pihak merasa cukup dan enak.


Ada contoh lain yang lebih jelas lagi. Misalnya ada nasi sepiring, orang bertanya, “Siapakah yang mengadakannya?”

Bila dijawab bahwa pak tanilah yang mengadakannya karena ia yang menanam padi, maka jawaban itu kurang tepat; karena pak tani tidak dapat menanam padi tanpa pacul, garu dan bajak. Bajak dibuat oleh tukang kayu. Karena itu tukang kayu pun turut mengadakan sepiring nasi itu. Bajak tanpa mata-bajak tidak dapat dipakai. Karena matabajak dari besi itu dibuat oleh tukang besi, maka tukang besi pun turut mengadakan sepiring nasi itu. Apabila pembagian aliran air untuk sawah tidak teratur, maka padi tidak akan tumbuh. Karena itu, pengatur aliran air pun turut mengadakan sepiring nasi itu. Apabila di antara petani timbul perselisihan dan tidak ada yang mendamaikan, maka mereka tidak sempat menanam padi. Dalam perselisihan itu jaksa-lah yang mendamaikan mereka. Ini berarti, jaksa pun turut mengadakan sepiring nasi itu.



RUPA UPAYA


Rupa Upaya artinya seorang pemimpin harus dapat mengenali atau mengamati wajah masyarakat yang

dipimpinnya. Wajah masyarakat dapat menggambarkan apakah rakyat yang bersangkutan dalam keadaan senang, sejahtera atau kesusahan. Pemimpin yang dapat mengetahui keadaan masyarakatnya dengan baik akan lebih mudah dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi rakyatnya.



WAMSA UPAYA


Wamsa Upaya artinya seorang pemimpin harus dapat mengetahui susunan stratifikasi sosial.masyarakatnya.

Seorang pemimpin yang mengenali adat istiadat masyarakatnya dengan baik akan lebih mudah dapat menentukan sistem pendekatan atau motivasi yang harus digunakan dalam mencapai dan mendorong pembangunan menuju kemajuan.



GUNA UPAYA


Guna Upaya artinya seorang pemimpin hendaknya mengetahui tingkat intelektual masyarakatnya termasuk keterampilan dan skill. Dengan mengetahui tingkat kemampuan masyarakatnya seorang pemimpin akan lebih mudah berkomunikasi serta menawarkan ide-ide kepada rakyatnya. Dengan demikian program-program pembangunan akan lebih cepat terealisasi. Di samping program pemenuhan sandang, pangan dan papan, seorang pemimpin harus memprioritaskan program pendidikan kepada rakyatnya, sehingga terjadi keseimbangan antara pembangunan fisik dan peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam rangka membangun nusa dan bangsa di masa depan.

23 responses »

  1. Waaa…pertamax ora komeng…payah ‘i
    Iki jenenge mung arep mbumpeti dalan’e liyan…tur ambuuune tooo hat..hat..hatjjihhsszz
    hihihi…mumpung durung ngamuk…muulllaayyyuuuu

  2. Kalau seorang pemimpin harus mampu mempromosikan negaranya di dunia internasional dan harus mampu mencari utangan baru demi menghidupi rakyatnya, itu masuk upaya yang nomor berapa mas?:mrgreen:

  3. Lha…saya malah bercita-cita nanti mulai 2013, ingin jadi Pemimpi’N semua bangsa/negara didunia je.
    Bahasa harus pakai bahasa Sangiran, ziarah pertahun 3x…hrs ke Sangiran
    Kira2…berbekal “Pitulikur(27) Yana Upaya” cukup mumpuni nggak ya?!?

    Eh…tapi punya angan2 dan cita2 spt ini termasuk bid’ah, kapir, sesat…nggak ya?!?

    Salam…Pemimpi’N

  4. Seorang Pemimpin lebih dahulu harus bisa memimpin dirinya sendiri untuk kedamaian orang lain.Sikapnya harus bisa menginspirasi setiap orang untuk berharap lebih baik,belajar lebih baik dan bertindak lebih baik.

    Salam kasugengan kagem mas tomyarjunanto.

  5. @ Kang Tono
    Takenteni komenge

    @ Kang Lambang
    Majapahit dulu pusat fesyen dunia loh,
    Kayaknya termasuk Percuma Upaya deh, pemimpin itu harusnya bermental berdikari nggak cuma nggaduhke Negara
    Ngemeng-ngemeng caranya biar bisa reply komeng langsung piye ya Mas
..wah ngisin-ngisni tenan aku iki
.

    @Kang Samin
    Dibikin sangalikur (29) upaya wae Mas seperti Pecak sangalikur di Muria sana dijamin biduan kapiran nan futuristic
kelak Sangiran menjadi tempat suci wajib bagi umat manusia bila ingin MENgaji JAti DIri
    Salam Menjadi

    @Yang Kung
    Lah menika wulangan kawicaksanan saking sudarsana kula nenggih Eyang Kakung ingkang dahat luhuring budi. Matur sembah nuwun sanget Yang sampun kersa paring pepenget.

  6. Oiya ini mas:
    1. Buka dashboard
    2. Pilih menu Setting -> Discussion
    3. Contreng “Enable threaded (nested) comments” dan isikan “3 levels deep”.
    4. Tekan tombol Save Changes di paling bawah.
    5. Selesai.

    Mudah-mudahan bisa muncul reply untuk setiap komen sampai 3 level.🙂

  7. MasTomy sing tampan rupawan,Perasaan kemarin ada posting terbaru ya, judulnya membahas Al Qur’an, sekarang kok didelet lagi, memangnya mengundang kontroversi ya mas?Untuk artikel di atas, sementara ndak bisa komen dulu.
    idem sama kank tono, mas lambang dll saja,
    salam karaharjan

  8. Taksih wonten kok Mas Herjun sing ngganteng dewe sak pitung kecamatan lha niku Mas Olads nembe mawon paring komen.
    Artikel itu adalah tulisan teman kita Mas Prayit, saya memang menyediakan blog ini juga untuk publikasi tulisan para sahabat seperti Mas Prayit & Ki Atma Sasratama Jati priyayi Yogya
sekalian jawab Mas Celetuk

    Sumangga diplenet wonten ngriki
    https://tomyarjunanto.wordpress.com/2008/03/12/metode-mempelajari-al-qur%e2%80%99an/

  9. tri jana upaya, tiga pendekatan yang seharusnya bisa menjadi media pencerahan bagi para pemimpin dan elite kita, pak tommy, namun sungguh disayangkan, yang umum terjadi di negeri ini, upapa yang sering dilakukan semata2 demi memenuhi ambisi dan kepentingan pribadi/golongan semata.

  10. pamuji rahayu..

    salam tetepangan kembali Kidimas.. nyuwun gunging pangaksami rehne sampun dangu mboten medal lan nyaba dumateng paseban panjenengan .., kabar mugya sedaya mawon tansah ginanjar wilujeng niring sambikala kalis ing rubedha ya Ki.., nggih ungguling manungswa pandega praja.. njih kedah mekaten menawi njih Ki.. nanging benjang menopo kita sami antuk pemimpin ingkang nggadahi sifat kados ing nginggil manika Ki.. kalo sekarang hanya disimbulkan pada sumpah Tri Brata bandung Medan aja.. hehee.. pelaksanaannya mengko nek wis kecirit cirit ya Ki.. nyuwun ngapunten.
    salam sihkatresnan
    rahayu.

  11. Pohon Cedar

    Ketika Sang Guru mendengar bahwa hutan cedar sebelah telah terbakar, ia
    mengerahkan seluruh muridnya. “Kita harus menanam kembali pohon-pohon cedar,”
    katanya.

    “Pohon cedar?” teriak murid tidak percaya. “Tapi pohon-pohon itu membutuhkan
    waktu 2.000 tahun untuk tumbuh besar!”

    “Oleh sebab itulah,” kata Sang Guru, “tak boleh ada satu menit pun terbuang. Kita
    harus segera mulai.”

  12. kayaknya susah mas mencari pemimpin yg benar2 bisa begitu, mau turun langsung kelapangan…kebanyakan pemimpin itu motonya “dewangkara Rudra manik raja dewaku” atau “iblis laknat jeg jegan”:mrgreen:

    kan yg dicari yg bermoto “iwang suksma adiluwih hong bawono langgeng”……moga2 cepet ketemu pemimpin yg kek gini

  13. Selamat Pagi, Siang & Malam Saudaraku semua :mrgreen:

    Wus mantun hanggenira piningit linuwaran dening Allah kinen anyapih gung-agenging perang rusuh

    Semoga Sang Pemimpin Purnama segara muncul dari tengah bangsa ini 😀
    Sementara itu semoga tulisan ini bisa menjadi sumbangan tuntunan bagi kita semua untuk menjadikan diri masing-masing agen pengubah bangsa

  14. Pemimpin masyarakat,
    Baik lah pemimpi Tri Jana Upaya.

    Pengurus masyarakat,
    Lihai mengurus dan meng-kurus-kannya.

    Masyarakat sering diem aja pilu atau malu
    Bila rasa sudah tak kuat mereka ditunggangin
    Setelah klimak lahirlah pengurus baru
    Lhai mengurus dan meng-kurus-kannya lagi
    Buta? Entah lah!

    Salam Damai!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s