WS RENDRA…. dalam kenangan

Standar

Puisi oleh WS RENDRA


……………
Ma,
bukan maut yang menggetarkan hatiku
Tetapi hidup yang tidak hidup
karena kehilangan daya dan kehilangan fitrahnya

Ada malam-malam aku menjalani
lorong panjang tanpa tujuan kemana-mana
Hawa dingin masuk ke badanku yang hampa
padahal angin tidak ada
Bintang-bintang menjadi kunang-kunang
yang lebih menekankan kehadiran kegelapan
Tidak ada pikiran, tidak ada perasaan,
tidak ada suatu apa…..

Hidup memang fana Ma,
Tetapi keadaan tak berdaya
membuat diriku tidak ada
Kadang-kadang aku merasa terbuang ke belantara,
dijauhi ayah bunda dan ditolak para tetangga
Atau aku terlantar di pasar, aku berbicara
tetapi orang-orang tidak mendengar
Mereka merobek-robek buku
dan menertawakan cita-cita
Aku marah, aku takut, aku gemetar,
namun gagal menyusun bahasa

Hidup memang fana Ma,
itu gampang aku terima
Tetapi duduk memeluk lutut sendirian di savanna
membuat hidupku tak ada harganya
Kadang-kadang aku merasa
ditarik-tarik orang kesana-kemari,
mulut berbusa sekedar karena tertawa
Hidup cemar oleh basa-basi dan
orang-orang mengisi waktu dengan pertengkaran edan
yang tanpa persoalan, atau percintaan tanpa asmara,
dan senggama yang tidak selesai

Hidup memang fana, tentu saja Ma
Tetapi akrobat pemikiran dan kepalsuan yang dikelola
mengacaukan isi perutku
lalu mendorong aku menjerit-jerit sambil tak tahu kenapa

Rasanya setelah mati berulang kali
tak ada lagi yang mengagetkan dalam hidup ini
Tetapi Ma,
setiap kali menyadari adanya kamu di dalam hidupku ini
aku merasa jalannya arus darah di sekujur tubuhku
Kelenjar-kelenjarku bekerja, sukmaku menyanyi,
dunia hadir, cicak di tembok berbunyi,
tukang kebun kedengaran berbicara kepada putranya
Hidup menjadi nyata, fitrahku kembali

Mengingat kamu Ma
adalah mengingat kewajiban sehari-hari
Kesederhanaan bahasa prosa, keindahan isi puisi
Kita selalu asyik bertukar pikiran ya Ma
Masing-masing pihak punya cita-cita,
masing-masing pihak punya kewajiban yang nyata

Hai Ma,
apakah kamu ingat aku peluk kamu di atas perahu
Ketika perutmu sakit dan aku tenangkan kamu
dengan ciuman-ciuman di lehermu
Masya Allah, aku selalu kesengsam dengan bau kulitmu
Ingatkah waktu itu aku berkata :
Kiamat boleh tiba, hidupku penuh makna
Wuah aku memang tidak rugi ketemu kamu di hidup ini

Dan apabila aku menulis sajak
aku juga merasa bahwa
Kemaren dan esok adalah hari ini
Bencana dan keberuntungan sama saja
Langit di luar langit di badan bersatu dalam jiwa

Sudah ya Ma…

Jakarta, Juli 1992

19 responses »

  1. rendra memang sosok penyair yang konsisten dalam menekuni dunianya, pak tomy. bukan hanya dalam lirik2nya yang cerdas dan kritis, melainkan juga dalam sikap dan perilaku kesehariannya. sungguh, indonesia sangat kehilangan dengan sosok-nya. semoga akan lahir rendra2 baru dalam belantara perpuisian indonesia mutakhir.

  2. itulah susahnya, pribadi yang menentang arus
    dia kadang kesepian ditengah keramaian hiruk pikuk arus kehidupan yang memuja harta benda dan kenikmatan duniawi tanpa menggunakan pijakan hati nurani.

    mau ikut arus, tidak tahan dan betentangan dengan sikap bathinnya. Serba membingungkan, tetapi ditenah-tengah kebingungan Rendra tetap tegar berdiri ditengah derasnya arus sungai kehidpan yang kadang menghempasnya.

    siapa yang ikut dibelakang rendra, kitakah? atau tak seorang pun?

  3. RENDRA…

    KEPEKAAN DAN KETAJAMAN RASA
    PEMILIHAN TIAP KATA
    DIA TUANGKAN DALAM GORESAN PENA

    RINGKAS BERGELORA…BERGEMA
    DAN…PENUH MAKNA

    DALAM BERBAGAI DERA
    ENGKAU TETAP TEGAR… BERTRIWIKRAMA

    RENDRA…
    KINI ENGKAU T’LAH TIADA
    AKANKAH TRIWIKRAMA TETAP BERGEMA…

  4. Sesungguhnya langkah pertama adalah meraih Fitrah diri.. merekam dan mengingat kembali alam bawah sadar kita akan perjalanan sebelumnya.. sangkan paraning dumadi.. mengenal diri sebenar diri.. bukan hanya memikirkan perjalanan dan kesenangan lahiriah dan berolah akal pikiran dan angan angan.. tetapi mulai olah rasa.. melatih mental spiritual.. meningkatkan EQ dan SQ.. menemukan diri sebenar diri.. menjadi manusia meliputi lahir dan batin.. Fitrah Diri Manusia.. Jati Diri Manusia ini sesungguhnya baru merupakan Pintu Gerbang Ketuhanan.. hmm.. Sejujur dan Sebenarnya Tiket masuk pembuka pintu Gerbang Ketuhanan hanyalah satu.. di dalam La Hawla Walla Quwata.. sangatlah mudah untuk mengucapkannya tapi SESUNGGUHNYA SANGATLAH SEDIKIT SEKALI manusia yang menemukan FREKWENSI HATI dari La Hawla Walla Quwata tersebut..

    Lanjuuuuuut.. Karenanya mematikan diri itu tidak hanya sebatas mematikan ke AKU an diri.. tetapi yang lebih utama sekekali adalah mati dalam Hidup dan Hidup dalam Mati.. sehingga tiada dikenal lagi baginya.. manakah yang dikatakan Mati ??.. dan manakah yang dikatakan Hidup ??.. selama masih Hidup.. pasti suatu saat akan Mati.. dan apa bila ada Mati pasti ada Hidup.. dan Hidup maupun Mati.. itu adalah Sifat dalam Dunia (Permainan Dunia).. dan di balik kehidupan dan kematian itu….disitulah kehidupan yang sesungguhnya.. yang tidak bisa dikatakan mati lagi dan tidak juga bisa dikatakan Hidup

    Kehidupan yang Hidup dalam Hidup-Nya sendiri.. Kehidupan yang berdiri dengan sendirinya.. inilah sesungguhnya Hidup semakin Hidup bahkan tiada di sebut Hidup lagi.. melainkan yang ada hanyalah DIAM dalam ke DIAM anNYA.. Esa dalam ke Esa-anNya tiada antara dan tiada berantara.. maka pandanglah sesuatu itu, maka tidak lah yang di pandang melainkan Ia jua yang memandang.. lebur segala pandangan ke dalam yang memandang.. lenyap segala ragam warna dan bentuk.. musnah segala perbedaan.. hancur lebur.. musnah sudah tak berbekas.. tinggallah DIRI-Nya sendiri dalam ke DIAM an-Nya… yang tiada perbedaan.. yang tiada perpecahan.. yang tiada ragam macam.. hanya SATU dalam ESA.. dan ESA meliputi SATU.. Subhanallaaaaaaaah.. wallahuallaaaaam..

    RAIHLAH JATI DIRI MANUSIA untuk
    MENGEMBALIKAN JATI DIRI BANGSA INDONESIA
    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang
    ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaaaank
    I Love U fuuulllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllll

  5. Kidimas Tommy ingkang kinasih, serta para Kadang-Sutresna sadaya…

    Cukup lama saya tercenung, menerima pesan panjenengan tentang air bening dingin diblog saya 1-minggu yl,
    Tetes air bening dari Aku Iki Urip, yang apabila diurai dapat menyuburkan Idiologi-Pancasila menjadi Idiologi-Dunia ; yang dapat Menggelorakan Tekad Revolusi Kultur/Budaya, demi Kembalinya Kejayaan Nuswantara.
    Cukup lama menunggu tetes air bening dingin dari Aku Iki Urip…

    Ternyata tidak mudah mencari Benang-Merah sekaligus Garis-Resultan antara bahasa Intuitif/Kontemplatif/Mistis kedalam bahasa Generasi Muda Penerus Bangsa secara umum.
    Sebagai jalan tengah saya mencari model figur yg mungkin dapat menjadi Sumber Getar Resonansi yang Komplit/Pariipurna, yg meliputi Revolusi-Budaya, Demokrasi dan Idiologi.
    Semula saya menimbang2 tokoh Semar, namun saya kira kandungan mistisnya masih cukup kental.
    Akhirnya, kebetulan ‘menemukan’ sebuah buku dg judul ”RENDRA-ia tak pernah pergi” oleh Kompas dg. pengantar Ignas Kleden.
    Di Gramedia, harganya Rp.68.000,-

    Penuh berisi pemikiran, pengamatan dan perasaan RENDRA secara menyeluruh. Tentang Demokrasi Kerakyatan, Ekonomi Kerakyatan, dan terutama Revolusi-Budaya/Culture.

    Sampai akhir hayat… RENDRA tetap BERTRIWIKRAMA-BUDAYA…

    Selain itu, ada sedikit goresan saya diblog http://serbasejarah.wordpress.com/ pada 3-posting masing Vivere Pericoloso, Polemik Naskah Nagara Kertagama dan Sekelumit Kisah Syekh Siti Jenar Bagian-4.
    Apabila berkenan sumangga tindak kesana guna melengkapi/meluruskan goresan saya.

    Akhir kata, kesekian kali saya mohon maaf yg sedalam-dalamnya atas keterlambatan ini.
    Matur nuwun

    Rahayu…….

  6. Ping-balik: Hai, Ma! oleh W.S. Rendra | Aku Darah Anak Melayu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s