TRIWIKRAMA, TIGA LANGKAH DEWA WISNU DALAM REVOLUSI INDONESIA

Standar

CAKRABASKARA

PENGANTAR


Seringkali bila berbicara tentang revolusi, khususnya di negeri tercinta ini saya katakan layaknya berbicara tentang menghancurkan gunung batu dengan modal sebuah sekop.😎

Pernyataan saya bukanlah pernyataan sikap pesimisme namun sebuah refleksi kondisi riil yang dihadapi bangsa ini.

Bangsa yang telah terjajah jiwanya dengan sedemikian parah si segala lini dan segi kehidupan.

Lalu kemudian bila revolusi adalah sebuah keniscayaan, yang menjadi pertanyaan penting adalah apa yang semestinya kita lakukan?

Pemikiran yang saya tuangkan disini sudah pernah saya utarakan dalam beberapa posting sebelumnya, saya rangkum dan coba membuat konklusi praktis.

Tentu saja sangat bersifat subjektif namun harapan saya sih semoga bisa memberi sumbangan bagi jalannya perjuangan menuju kejayaan bangsa ini. Kejayaan yang dicita-citakan para pendahulu bangsa, para pendiri Negara, yang diamanatkan pula dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.



IDEOLOGI SEBAGAI MATA AIR


Ideologi adalah motor yang bergerak dalam jiwa tanpa henti dengan konsekwen untuk membela kepentingan

Inilah yang menjadi dasar dari WATAK, tercermin dalam SIKAP, bermuara pada seluruh aktivitas gerak hidup manusia

Sejarah manusia adalah sejarah arena kompetisi yang luas dimana ada kontradiksi pokok di dalamnya :

Ada golongan yang menguasai

Ada golongan yang dikuasai

WATAK adalah keberpihakan pada suatu kepentingan

Kepentingan golongan yang menguasai atau kepentingan golongan yang dikuasai

Watak inilah yang menjiwai dan memberi visi dan arah pada gerak hidup manusia

Watak menghindarkan dari vested interest, sikap yang plin-plan atau mencla-mencle

Jadi diambil dari sumber atau mata airnya, ideologi adalah pernyataan kepentingan golongan

Sekuler, parsial, fasisme, kapitalisme, imperialisme, sosialisme maupun komunisme adalah turunan atau variannya

Kita bisa mengambil mata airnya dari ’watak’ atau keberpihakannya pada suatu kepentingan

Dan dalam mewujudkan tujuan dari kepentingan itu, dibutuhkan suatu ’Pengaturan Rumah Tangga’ yaitu ’Politik

Politik pada dasarnya mempunyai 2 tugas pokok :

  1. membangun kekuatan bagi rumah tangganya sendiri
  2. menghancurkan rumah tangga golongan lain

pengaturan rumah tangga ini meliputi seluruh segi kehidupan manusia, mulai dari iman, agama, sosial, ekonomi dan budaya

Dipersonifikasikan sebagai berikut

Ideologi adalah jenderal

Politik sebagai panglima

sosial, ekonomi, budaya dan agama adalah senjata sekaligus peluru bagi Sang Jenderal

Dari sejarah perjalanan bangsa kita bisa belajar dari keruntuhan Majapahit, dimana WATAK mengambil peranan penting. Para Leluhur yang sungguh memahami dharma, budi pekerti luhur yang paham akan kebebasan beragama menjadi vested interest, welas tanpa alis, tak mempunyai WATAK yang tegas terhadap apa yang diyakini sebagai ‘Matahari dari Timur’.

Lalu saat kemladeyan ngrepak tunggak, anak wani marang bapa, humanism para leluhur membawa Nusantara diambang keruntuhannya.

Terjadilah revolusi kebudayaan, budaya para leluhur dianggap budaya kafir dan dihancurkan.

Agama dan Budaya mulai mengambil perannya dalam menstabilkan masyarakat dengan ideology hegemoniknya, kesadaran palsu yang mengacu pada nilai-nilai moral tinggi dengan sekaligus menutup kenyataan bahwa dibelakang nilai-nilai luhur itu tersembunyi kepentingan egois kaum penguasa.

Dan perjalanan sejarah membawa bangsa besar hingga ke abad 21, jaman Kalabendu dimana bangsa ini tak lagi memiliki kedaulatan menjadi bangsa jajahan oleh berbagai bangsa lain pula oleh para penguasanya.


JANGAN BICARA REVOLUSI, REVOLUSI DULU KULTURMU


Ketika masyarakat belum kuat secara ideology, penggantian pemimpin tidak akan pernah memerdekakan rakyat, tetap hanya sebagai obyek kekuasaan

Oleh karena itu pertama kali yang perlu adalah penyadaran dan pemberdayaan masyarakat lewat ideology

Pelu kerja dibidang ideology, mengajarkan rakyat tentang ideology,

Ideologi Revolusioner, Ideologi yang harus bersifat dialektis, yang mengakar kuat dalam kultur manusia

  • Bersifat dialektis berarti sanggup menyesuaikan perkembangan jaman, bebas dari belengggu ideologis yang akan disalahgunakan oleh kekuasaan sebagai dasar legitimasi dari produk-produk kekuasaan.
  • Mengakar kuat dalam kultur manusia berarti membangkitkan penyadaran sejati akan hakekat manusia.Bahwa sesungguhnya manusia berasal dari unsur yang sama, berasal dari hidup yang sama. Namun tidak membuatnya terjebak dalam humanisme yang hanya akan mengkerdilkan arti kemanusiaan.
  • Mengakar kuat juga memiliki arti sebagai roh yang memberi kekuatan dan orientasi pada tiap gerak hidup manusia, roh yang membuat jiwa tidak dimutasi oleh status dan keadaan sosialnya.

Kesadaran manusia bersifat manipulative, dibentuk lewat doktrinasi dan internalisasi secara kultur sejak manusia masih sebagai bayi.

Kerja dibidang ideology adalah membuat testing kritis, menguji secara kritis dan reflektif pada ‘kesadaran’ yang telah tertanam akibat pendidikan sejak kecil.

Ini adalah prasyarat utama yang akan menciptakan masyarakat yang berkedaulatan karena manusianya telah merdeka.

Inilah yang disebut REVOLUSI KULTUR sebagai LANGKAH PERTAMA DEWA WISNU dalam TRIWIKRAMA, ketika manusia kembali kedasar kesejatian dirinya. Timbul pengertian sejati tentang hakekat manusia, hasrat, obsesi dan tujuan hidupnya.

Revolusi Kultur menciptakan kader-kader bangsa yang akan menjadi modal atau stok pemimpin bangsa karena Pemimpin bangsa berasal dari masyarakat.

Ketika manusia telah merevolusi kultur dan kuat dalam ideology maka barulah dilakukan langkah berikutnya LANGKAH KEDUA DEWA WISNU ,gerakan revolusi kebudayaan

:mrgreen: Bersambung, sambil nunggu komen anda semua…

35 responses »

  1. Whah…iki paparan abot tur jero tenan, kimas Tomy.
    Terpaksa menunggu pancingan komen dari para winasis dulu.
    Tapi mengenai BUDAYA, kalau nggak salah didalamnya sudah mencakup religiusitas(agama)?
    Kira2 bagaimana mas Tomy, mohon pencerahannya.
    Terima kasih.

  2. Mas tomy,

    saya memahami “ideology” mungkin sangat simpel, yakni ideologi adalah suatu GEGAYUHAN suatu cita-cita yang dilembagakan.

    Ideologi berasal dari pemikiran “orang kuat” sebab jarang orang lemah yang bisa membuat ideologi (gagasan) atau cita-cita yang dilembagakan.

    Seharusnya, ideologi dalam jangka pendek maupun jangka panjang akan mewarnai karakter suatu bangsa.

    Ideologi bangsa kita secara padat telah digariskan melalui Pancasila dan di rinci secara global melalui penjelasan pasal demi pasal dalam UUD 1945.

    Ideologi seharusnya bisa menjadi alat yang ampuh untuk sebuah revolusi, yakni ketika ada arus pertemuan yang besar antara kehendak rakyat dengan kehendak pemimpin.

    Saat ini untuk mencetuskan api revolusi memang benar agak berat. Sebab kondisi obyektif belum mendukung. Saat ini belum terjadi kesulitan pangan secara meluas, harga-harga masih cukup stabil (inflasi cukup terkendali) dan golongan menengah bawah masih bisa hidup cukup nyaman walau mungkin banyak kekurangan.

    Menurut saya revolusi kultur itu jauh lebih sulit dari pada revolusi politik. Sebab, revolusi kultur perlu seorang tokoh (manifest) yang benar-benar teruji. Sedangkan dalam revolusi politik mungkin tokohnya bisa sekali tampil lalu hilang.

    Revolusi kultur memang jauh lebih penting dari sekadar revolusi politik, sebab pengaruh revolusi kultur akan bisa menggembleng karakter suatu bangsa secara “permanen”.

    Bangsa yang terkenal jujur, cerdas, pekerja keras, kreatif, pantang menyerah, tidak takut mati seperti bangsa Jepang misalnya saya kira, juga lahir dari revolusi kultur.

    Nah, bagaimana kita akan menyiapkan revolusi kultur untuk bangsa kita? ini adalah pertanyaan yang kiranya perlu kita jawab bersama.

    salam

  3. Mao Zedong, pemimpin besar China yang telah membawa Negara dan bangsanya menjadi Negara dan bangsa besar mengajarkan tentang kerja ideology seperti berikut ini :

    “Di dalam semua pekerjaan praktis dari partai kita, semua kepemimpinan yang benar niscaya ‘dari tengah-tengah massa kembali ke tengah-tengah massa’. Ini berarti mengambil gagasan massa (gagasan yang tercerai berai dan tidak sistematis) serta mengumpulkannya (melalui penelitian diubah menjadi gagasan yang terkumpul dan sistematis), lalu pergi lagi ke tengah-tengah massa untuk menyebarluaskan serta menerangkan gagasan ini sampai mejadi milik massa, agar massa berpegang teguh pada gagasan itu dan menerapkannya ke dalam tindakan, memerikan apakah dalam tindakan massa itu gagasan itu tepat atau tidak. Lalu mengumpulkannya lagi dari tengah massa, dan dikembalikan ke tengah-tengah massa sampai massa berpegang kuat. Demikianlah seterusnya, berputar tak putus-putusnya, setiap kali semakin tepat,
    semakin hidup, semakin kaya. Itulah teori pengetahuan Marxis.”

    mangga dilanjut😀

  4. Mas tomy, kalau itu pedoman kerja ideology, maka tanpa bermaksud melecehkan bangsa sendiri saya berkesimpulan bahwa yang dikembangkan dari masa ke masa kultur kita adalah budaya MISTISISME.

    Lihat saja betapa kita terlalu mengagungkan TUHAN sehingga pada pasal 29 yat 1 UUD 1945 disebutkan bahwa Negara kita BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA SESA.

    Lha, bagaimana mungkin konsep Ketuhanan dijadikan sebagai dasar negara? Sejauh yang saya ketahui TIDAK ADA SATU PUN REFRENSI DI DUNIA INI TENTANG KONSEP SEBUAH NEGARA BERSDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA, sebab ketuhanan yang maha esa TIDAK PERNAH BERBICARA/BERBUNYI TENTANG KONSEP NEGARA.

    Kalau negara berdasarkan AGAMA memang cukup banyak, lha kalau negara berdasarkan Ketuhanan yang maha esa itu konsep riilnya atau penjabaran riilnya seperti apa?

    Nah akhirnya kacau kan? sebab dikiranya Ketuhanan yang maha esa itu sebuah AGAMA,sehingga dalam praksis ketatanegaraan kita AGAMA nyelonong tanpa malu-malu dan sungkan-sungkan masuk dalam domein publik (negara)padahal seharusnya agama “harus berada di ranah privat”.

    Kekacaun semakin tambah parah ketika negara HADIR pada kehidupan privat, semisal ketika kita akan membuat KTP maka negara harus tahu apa agama kita? Pokoknya agama seseorang selalu ditanyakan oleh negara hampir pada pengurusan apa pun. Untuk apa negara menanyakan agama rakyatnya?

    Untuk menunjang operasional agama, kemudian dibentuk oleh negara badan-badan seperti departemen agama, pengadilan agama dan lain-lain yang berbau agama. Menurut saya jelas ini merupakan penafsiran yang salah atas pasal 29 ayat 1 dan 2.

    Agama yang WAJIB DIPELUK pun dibatasi oleh negara, padahal dalam pasal 29 ayat 2 Negara menjamin kebebasan masing-masing individu untuk memeluk agama dan kepercayaannya masing-masing.

    Lalu apa artinya kebebasan beragama itu?kebebasab beragama juga seharusnya diikuti dengan kebebasan TIDAK BERAGAMA sebab tidak beragama juga merupakan pilihan. Pembaca jangan sekali-kali mengacaukan TIDAK BERAGAMA dengan ATHEISM atau ideologi KOMUNIS, ini sangat menyesatkan. Dua hal tersebut sangat berbeda.

    Ideologi mistisisme sukses banget dalam membentuk karakter budaya bangsa kita terutama melalui agama.

    Padahal mana ada ajaran mistisism agama yang explore oriented, pengembangan pemikiran dan kesetaraan hak (demokrasi)? Biarpun dia seorang Prof Dr Ma PASTI akan takluk pada kata-kata WAHYU, beranikah mereka mengkritik prilaku nabinya, yang ada pasti hanya SANJUNGAN DAN KEBENARAN ABSOLUT( bebas dari dosa/maksum)? betul kan?

    Ajaran agama itu membuat manusia menjadi BODOH dan TERKEKANG dengan semboyan yang paling ampuh yakni OTAK MANUSIA ITU TERBATAS. Nah siapakah sesungguhnya yang membatasi manusia untuk tidak terlalu banyak menanyakan tentang kelakuan nabi, konsep Tuhan, alam ghoib dan alam semesta?

    Siapa lagi kalau bukan para Nabi sendiri dan pemimpin agama yang takut kehilangan “pengaruh” dan takut ditinggal umatnya? Selama mereka bisa mengendalikan umatnya dengan “teror” maka mereka cenderung enak-enakan duduk di singgasana sambil terus memproduksi wahyu, sementara kepada umatnya dibombardir dengan kepatuhan tanpa syarat dan ayat-ayat teror.

    Jika bangsa Indonesia kepingin segera bangkit dan menguasai sain dan teknologi dan mengembangkan humanisme yang bersifat universal, maka Ideologi MISTISISME menurut saya harus segera DIBERANTAS secara sistematik menggunakan kerangka pimikiran HUMANIORA yang sangat TERUKUR. Dasarnya adalah fakta dan kuncinya adalah LOGIKA, keputusannya menggunakan hati nurani.

    Di negara-negara dengan kondisi alam yang sangat EKSTREM, dimana pilihannya hanya ada dua yakni HIDUP atau MATI maka ideologi MISTISISME TIDAK AKAN LAKU DIJUAL

    Mengapa? sebab mereka lebih memusatkan segala daya upaya untuk tetap survive, pilihannya hanya satu TIDAK BISA MENGATASI GANASNYA ALAM BERARTI KAMU AKAN MATI.

    Tuhan bagi mereka adalah EXPLORE ORIENTED, kerja keras, disiplin, jujur, efektif, tepat waktu,inovatif, kreatif, pantang menyerah dan bertanggungjawab. Nah coba tolong, bandingkan dengan karakteristik bangsa kita pada umumnya dari Sabang sampai Merauke, Jawa dan Luar Jawa.

    Nah mengapa ideologi mistisisme di negara kita berkembang sangat subur? karena berkat alam yang yang ramah, kita tak perlu kerja keras toh tetap bisa hidup. Pengangguran, pemulung, pengamen, penjabret, pencopet,pelacur semua bisa bertahan hidup tanpa negara sesen pun MENYUBSIDI kebutuhan hidupnya.

    Enaknya hidup di negeriku juga cukup dengan berbekal “ayat-ayat tuhan” Juru dakwah dari masjid ke masjid, dari gereja ke gereja bisa hidup mewah. Sementara umatnya disuruh banyak berdoa dan pasrah oleh berbagai kesulitan hidup yang justru diakibatkan oleh KETIDAK ADILAN SOSIAL

    Ya harusnya mereka mengajari umatnya suruh BERANI BERONTAK ATAS SEGALA MACAM PENINDASAN DAN KETIDAKADILAN SOSIAL,tidak berani sendirina ya kolektif saja, bukan malah disuruh BERSYUKUR SIANG DAN MALAM, meski jelas-jelas HAK-HAKNYA DIINJAK-INJAK.

    Beranikah dan maukah Mas Tomy atau kita semua memberantas ideologi misitisme yang telah ratusan tahun membelenggu bangsa kita?

    Saya mohon maaf kepada mas tomy juga kepada para bloger kita yang justru tampaknya banyak yang KESENGSEM/menikmati dengan ideologi MISTIK.

    Apa pun cara Mas Tomy dalam membalut pengertian mistisisme, bagi saya mistisisme adalah akar dari TIDAK BERKEMBANGNYA NALAR NEGERI INI.

    silakan dilanjut, suwun.

  5. Mas Tomy dan para kadang sutrisno sedoyo,
    Berikut ini saya sampaikan tulisan mengenai bagaimana kita menafsirkan PANCASILA dengan judul:

    MEMAHAMI KEMBALI PANCASILA

    Monggo sareng-sareng dipun waos lan dikritisi, matur suwun.

    Evaluasi yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Kesatuan Bangsa dan Politik Departemen Dalam Negeri mengenai pemahaman para siswa terhadap Pancasila sebagai dasar negara, terutama pada para siswa yang ada di perkotaan menunjukkan hasil yang sangat memprihatinkan yakni untuk sekadar menghapal urut-urutan sila pun banyak siswa yang salah (Kompas,20/11).

    Sebagai mahasiswa, saya merasa terusik, apakah jika evaluasi itu dilakukan pada para mahasiswa hasilnya juga sama memprihatinkannya? Tulisan berikut mencoba menggali nilai-nilai luhur Pancasila berdasarkan persepsi seorang mahasiswa, yang boleh jadi tidak sama seperti yang dipahami oleh rezim status quo.

    Dalam perjalananannya sebagai bangsa, hingga kini sebenarnya belum ada kata final dalam merumuskan arah kebijakan negara. Kita telah kehilangan definisi mengenai identitas sebagai bangsa sekalius konsep hidup bersama sebagai bangsa (Robertus Robert,Kompas 22/11). Negara dalam pengertian sebagai organisasi, memang benar sudah final yakni berbentuk Republik yang berkedaulatan rakyat berdasar pada Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta untuk mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonsesia.

    Kelima dasar negara yang tercantum pada alinea ke empat dari pembukaan UUD 1945 tersebut kemudian disebut sebagai Pancasila. Dengan demikian, Pancasila seharusnya menjadi kompas atau pemandu bagi arah perjalanan bangsa dan negara kita. Seluruh kebijakan publik seharusnya tidak boleh bertentangan dengan Pancasila. Namun, benarkah demikian dalam implementasinya?

    Mari kita coba ungkap pasal demi pasal, kita mulai dengan pasal yang pertama yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Pasal ini saya melihat ada suatu keterkaitan spiritulitas yang sangat dalam dari para founding father, yakni bahwa melepaskan spirit religi dari kehidupan rakyat Indonesia menjadi negara sekuler jelas sesuatu yang bertentangan dengan karakter bangsa kita pada umumnya.

    Spirit religiositas tampak sekali di dalam pembukaan UUD 1945 pada frasa “Atas berkat rakhmat Allah yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginanan luhur dst”. Semangat religiositas ini kemudian diimplementasikan melalui pasal 29 ayat 1 yang berbunyi Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa dan ayat 2 berbunyi Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap individu untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu.

    Pasal tersebut secara eksplisit jelas menyebutkan bahwa negara kita “bukan” berdasarkan “agama” tertentu, melainkan negara berdasar Ketuhanan yang Maha Esa, lalu apa artinya ini? Bisakah ketuhanan yang maha esa dijadikan sebagai dasar sebuah negara? Jika bisa maka pertanyaan selanjutnya adalah ketuhanan yang bagaimana yang bisa mengatur dasar negara kita? Sejauh yang saya ketahui, di dalam paham ketuhanan yang maha esa, tidak terdapat doktrin tentang negara. Ketuhanan yang maha esa hanyalah sebuah konsep dimana implementasinya (praksisnya) ada di dalam setiap agama-agama.

    Pasal ini akhirnya membuat kerancuan tersendiri yang menyebabkan tidak jelasnya hubungan antara negara dengan agama. Seharusnya agama tidak boleh memasuki ranah negara karena domain agama ada di wilayah privat. Negara hanya menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing. Dengan demikian, seharusnya agama menjadi urusan masing-masing individu dengan tuhannya.

    Tetapi pada praktiknya, mengapa misalnya negara merasa perlu untuk menanyakan agama rakyatnya ketika akan membuat KTP? Apa hak negara untuk menanyakan agama seseorang? Mengapa harus ada departemen agama, pengadilan agama dan semua yang berbau agama dalam tubuh negara kita? Apakah hal ini tidak bertentangan dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa? Ketuhanan yang maha esa menurut pemahaman saya jelas tidak sama dengan agama dan tidak pernah bertujuan untuk “mengagamakan” negara. Boleh saja doktrin agama menggunakan Tuhan yang Esa (monotheisme), tetapi doktrin tuhan yang esa tidak serta merta boleh memasuki ranah negara, yang akan mengatur prilaku publik. Bahaya agama yang mencampuri urusan negara adalah akan terjadi hegemoni antara agama mayoritas terhadap minoritas.

    Jadi sejauh ini, menurut saya, belum ada kejelasan mengenai apa yang sesungguhnya di harapkan atau dikehendaki oleh para perancang Pancasila terhadap pasal Ketuhanan Yang Maha Esa, sebab negara kita bukan negara agama tetapi kenyataannya agama justru banyak terlibat dalam wilayah negara. Mengapa negara kita harus berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa? Bukankah ketika kita berbicara tentang “Tuhan” sesungguhnya kita sedang berbicara tentang konsep yang transenden dan sifatnya sangat subyektif? sementara negara adalah wilayah profan yang sangat jelas parameter-parameternya. Misal ketika kita berbicara tentang kemiskinan, kemakmuran, keamanan maka semua tolok ukurnya harus jelas. Apakah sila Ketuhanan yang maha esa berarti negara tidak membolehkan adanya pemahaman/konsep polytheisme, padahal di sisi lain yakni pasal 29 ayat 2 negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap individu untuk memeluk agamanya masing-masing?

    Menurut pandangan saya implementasi dari pasal 29 ayat 1 dan 2 seharusnya institusi agama tidak berhak memasuki wilayah negara dan negara tidak berhak pula mengatur agama rakyatnya. Ritual atau ibadah agama dan pengembangannya masing-masing diserahkan sepenuhnya kepada umatnya. Namun ketika terjadi pertikaian atau gesekan antar agama yang menyebabkan keamanan umum terganggu, maka negara wajib turun tangan untuk menjaga stabilitas dan bila perkaranya menyangkut kriminal maka menjadi urusan aparat penegak hukum.

    Kemudian bagaimana kita akan menafsirkan dan mengimplementasikan sila ke dua yakni “Kemanusiaan yang adil dan beradab” dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara khususnya di bidang sosial, politik, ekonomi dan hukum? Atau pertanyaan kita balik, apakah seluruh sistem sosial, politik ekonomi dan hukum kita, sudah mengacu pada pedoman Kemanusiaan yang adil dan beradab? Sepintas kalau kita amati tentang sila kemanusiaan yang adil dan beradab erat kaitannya dengan masalah “kesetaraan hak dan kewajiban”.

    Kesetaraan hak dan kewajiban bisa dilihat dari sistem hukum (regulasi) kita. Misalnya, apakah sistem hukum yang sedang kita jalankan benar-benar merupakan representasi dari nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab? Apa ukurannya? Ciri-ciri hukum yang bersumber pada rasa kemanusiaan yang adil dan beradab adalah selalu mengacu pada azas manfaat untuk sesama. Artinya, suatu produk hukum dibuat harus dilandasi oleh jiwa atau semangat ingin melindungi sesama dari segala macam bentuk ancaman, penindasan, pengisapan, atau bentuk-bentuk kekerasan lainnya oleh pihak mana pun. Hukum juga tidak boleh membuat sekelompok kecil masyarakat hidupnya berkelimpahan sementara sebagian besar masyarakat hidupnya menderita. Jika ini terjadi, pasti karena adanya ketimpangan di bidang distribusi modal atau pendapatan dan ketimpangan di bidang ilmu pengetahuan (pendidikan). Oleh karena itu azas hukum disamping harus ada kepastian juga harus ada keadilan dan kebijaksanaan.

    Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah cara hidup dalam suatu negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika moral yang bersumber pada keluhuran budi pekerti dan akal pikiran sesuai dengan prisnisp-prinsip human right dan demokrasi.

    Kemudian kita bahas pasal tiga. Bagaimanakah “rasa Persatuan Indonesia” akan kita bentuk? Mestinya rasa persatuan itu harus diikat oleh adanya kesamaan nasib, nasionalisme, budaya dan ideologi (kesatuan ideologis) sebagai sesama bangsa Indonesia. Bila kohesi NKRI karena adanya kesamaan ideologi (cita-cita), maka sampai kapan pun bangsa dan negara Indonesia tetap akan bersatu (exist in unity).

    Namun, jika persatuan itu karena dibawah tekanan (represi) dan ketidakadilan baik dalam distribusi ekonomi maupun kekuasaan maka NKRI merupakan kesatuan yang sangat rapuh dan mudah tercabik-cabik. Kita tidak bijaksana jika mengangkangi NKRI sebagai harga mati, tetapi di sisi lain mengabaikan pemerataan pembangunan di seluruh daerah baik di Jawa maupun di luar Jawa.

    Pancasila sila ke empat menurut hemat saya lebih banyak berbicara tentang sistem politik kita, yakni sebuah negara yang menjalankan kedaulatan rakyatnya berdasarkan prinsip prinsip hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.

    Pertanyaannya, apakah seluruh bangunan politik negara kita saat ini mengacu pada sistem kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan? Menurut pemahaman saya, saat ini justru sistem politik kita sudah meninggalkan prinsip Pancasila sila ke empat, sebab mestinya pemilihan kepala daerah atau presiden tetap dijalankan dengan sistem permusyawaratan perwakilan, tidak dipilih secara langsung oleh rakyat.

    Terakhir adalah sila “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, apakah spirit keadilan benar-benar menjadi arah dalam menentukan kebijakan negara di bidang ekonomi? Kebijakan ekonomi seperti apakah sebenarnya yang diharapkan oleh Pancasila? Kemudian sistem ekonomi yang tengah berlangsung saat ini, apakah tidak bertentangan dengan “ruh” Pancasila?

    Derivasi sistem ekonomi menurunkan berbagai macam produk Undang-Undang (regulasi), baik yang menyangkut sistem keuangan negara, perpajakan (fiscal), perburuhan, penanaman modal (investasi), agraria, lingkungan hidup, kesehatan dan seterusnya.

    Apakah seluruh derivasi produk hukum ekonomi itu sudah benar-benar memenuhi rasa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia? Apakah investasi asing yang selama ini dilindungi oleh undang-undang kita tidak menyebabkan ekonomi kita terjerat oleh kekuatan global capitalism yang ditandai oleh eksploitasi buruh dan sumber daya alam kita? Apakah sistem perpajakan kita benar-benar menempatkan orang-orang kaya sebagai obyek pajak yang harus dihitung secara progresif agar jurang antara kaya dan miskin tidak semakin lebar? Di dalam undang-undang agraria, apakah negara menempatkan “tanah” sebagai obyek ekonomi semata-mata ataukah menjadi obyek sosial yang memiliki nilai guna bagi kemakmuran dan kesejahteraan bersama?

    Bagaimana pun Pancasila hanyalah sekadar “alat” atau guide (pemandu) bagi arah perjalanan bangsa dan negara Indonesia. Ia serupa dengan “rel” yang dibentangkan yang arahnya akan menuju pada station kesejahteraan, kemakmuran dan keadilan. Rel itu tidak akan berfungsi sama sekali manakala kereta yang lewat di atasnya tidak mau menyusuri jalan yang telah dibentangkan itu.

    Bila kita menginginkan kehidupan seperti yang diamanatkan oleh Pancasila, mau tidak mau seluruh tata aturan negara dan bangsa harus berkiblat pada masing-masing silanya. Oleh karena itu pendidikan Pancasila harus terus digelorakan dengan model yang lain, yakni sistem terbalik. Artinya, seluruh kebijakan publik harus di uji ulang apakah kebijakan itu sudah sesuai dengan Pancasila? Guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) yang baik mungkin akan memulai mengenalkan Pancasila melalui uji materiil tentang kebijakan publik, misalnya apakah Undang-Undang Perburuhan tentang outsourching tidak bertentangan dengan jiwa Pancasila? Pancasila adalah way of life, maka ketika Pancasila dilepaskan dari persolana hidup yang sesunguhnya, tentu saja dia akan kehilangan “ruhnya”. Pengajaran Pancasila yang hanya berupa “ide” menjadi tidak menarik (Kompas,21/11). Melalui pengajaran dialektis saya berharap akan terjadi proses kognisi yang lebih konstruktif sekaligus kritis dalam memahami apa itu Pancasila.

    Jika kebijakan yang jelas-jelas bertentangan dengan “ruh Pancasila” terus dijalankan, dan akhirnya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat tidak kunjung datang,maka jangan salahkan Pancasilanya. Kata orang bijak, sesungguhnya tidak ada negara yang miskin, yang ada hanyalah salah kelola sehingga mengakibatkan rakyat jatuh miskin.

  6. saya sangat setuju reformasi segera dilaksanakan untuk memperbaiki carut marutnya negeri yang semakin tidak jelas ini.Pondasi negara Pancasila harus betul2 dipahami dan dipraktekan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
    Sebenarnya strategi Orde Baru untuk mensosialisasikan P4 saat itu masih bisa kita lakukan-sekaligus untuk menanamkan ajaran2 luhur budaya Nusantara.P4/Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila bisa terus diajarkan dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan bersama pelajaran Budi Pekerti.Kita jangan apriori,merasa ketakutan dng politik partai tertentu.Pancasila ini adalah ideologi bangsa yg sudah teruji kehebatannya-keluhurannya.Kalau hal ini bisa kita laksanakan di sekolah2/di RT/dimasyarakat saya yakin bumi Nusantara ini akan kemali”tata tentrem karta raharja”

    salam rahayu.

  7. @ Pak Marsudiyanto, Kang Tono – the teacher is within you :mrgreen:
    @ Yang Kung & Pak Sawali – perlu penyadaran dalam ideology agar manusia dapat sungguh merdeka, reformasi hanya menambal kain rusak dengan benang baru, alih-alih menutup lubang malah memperparah kerusakannya. Mari berevolusi kultur :mrgreen:
    @ Mas Sikap Samin – leres Mas Kebudayaan sudah mencakup segala aktivitas dan solah bawa masyarakat, sebenarnya rancu juga karena keterbatasan bahasa saya, menggunakan istilah kultur, budaya & kebudayaan. Kultur saya maksudkan mengacu pada internal diri manusia :mrgreen:

    @ Mas Prayit
    Bila ideology hanya cita-cita atau gegayuhan yang dilembagakan dimana hanya produk dari ‘orang kuat’ sudah layak dan sepantasnya kalau rakyat akan tetap menjadi objek penderita 😎
    Manusia tidak hanya bisa berpegang pada idealismenya saja.
    Ada materi-materi yang harus dia kontribusi😀
    Disinilah WATAK seseorang ditentukan, akankah berWATAK yang mengabdi pada KEPENTINGAN BERSAMA atau hanya pada KEPENTINGAN DIRI SENDIRI/GOLONGAN
    Revolusi kultur adalah pula melakukan dekonstruksi dari segala persepsi, yang perlu dilakukan testing kritis dan reflektif.
    Sebab persepsi juga adalah belenggu terbesar manusia 😉
    Seluruh pencarian filsafat adalah tentang mistik atau metafisika pula, sebuah usaha pemahaman tentang ADA
    Bahkan Nietzche ‘Sang Pembunuh Tuhan’ tidak hanya berbicara tentang Tuhan Kristiani, Tuhan yang diyakini oleh agama-agama samawi, yang perlu dibunuh, namun pula adalah Tuhan-Tuhan ciptaan manusia yang lain, persepsi, idealism, kesadaran dan logika
    Bagaimanapun manusia adalah makhluk pemuja, butuh sesuatu untuk dipuja sebagai sebuah jangkar atas bahtera hidupnya agar tak terombang-ambing dalam samudra kehidupan ini.
    MANUSIA ATAS yang dibicarakan oleh Nietzche adalah manusia yang tak butuh lagi jangkar atau pegangan bagi hidupnya. Manusia yang bagaikan kapal tak bersauh di tengah lautan tanpa horizon namun disitulah letak harapannya atas kemanusiaannya, kemanusiaannya yang mampu membuat segala keputusan atas hidupnya dan bertanggung jawab penuh atas segala resiko dari hasil keputusan yang dibuatnya itu. Adakah manusia seperti itu….???
    Taktik harus mengabdi pada strategi, jangan malah menghancurkan strategi, keberhasilan Mao Zedong membangun China karena ia mampu mengadopsi ideologi revolusioner disesuikan dengan kenyataan material bangsa & alam Cina.
    Klenik dan segala yang pating clekenik adalah pula materi, bahasa-bahasa yang dapat digunakan sebagai sarana agitasi & provokasi sambil menyiapkan manusia-manusia menjadi merdeka
    Maka Mas Prayit mari kita MERDEKA!!

  8. Ya mari kita tularkan RASA MERDEKA kita kepada orang lain, supaya kita tidak terus menerus terbelenggu oleh simbol-simbol dan gagasan-gagasan yang hanya akan memperlemah GERAKAN MEMERDEKAKAN PRIBADI.

    saat ini persisnya semenjak REFORMASI, telah terjadi degradasi yang parah terhadap proses identifikasi bangsa (karakter bangsa) yang lebih mengarah pada egoisme golongan, primordialisme dan agama sehingga negara yang seharusnya sebagai “rumah bersama” dengan sangat mudah dikapling-kapling.

    Sebelum reformasi, relatif nafsu hegemoni ideologi agama timur tengah (Islam radikal) sangat terkendali. Tetapi setelah reformasi justru mereka makin agresif menelusup hingga ke desa-desa, sektor pendidikan dan pemerintahan.

    Mengapa mereka mudah sekali dipengaruhi, hingga banyak anak muda yang bangga memilih menjadi teroris? ya, karena dalam masyarakat kita ada semacam KEKOSONGAN KERJA IDEOLOGI, disamping tentu saja akibat dari kemiskinan, pengangguran dan kebodohan.

    Maka, saya berharap ayo mari kita secara riil berjuang menebarkan ideologi Indonesia yang lebih logis, pragmatis, cerdas, bijaksana dan senatiasa menjaga kelangsungan lingkungan hidup. Sikaaat saja pengajaran agama yang tak mencerahkan.

    Mereka anggap Pancasila sebagai ideologi yang tak jelas dan harus diganti dengan hukum tuhan (syariat islam) yang lebih jelas.

  9. Itulah langkah selanjutnya dalam Triwikrama Indonesia, langkah kedua Revolusi Kebudayaan
    Perlu disadari bahwa budaya termasuk didalamnya agama adalah peluru berbalut madu yang telah meledakkan otak banyak manusia Indonesia, hingga menganggap budaya asli budaya sendiri adalah budaya sampah & mengagungkan budaya bangsa lain.
    Peluru berbalut madu inilah yang juga harus kita gunakan dalam merevolusi bangsa😀
    Perlu diciptakan kontradiksi internal (konflik) , unsur terpenting dalam perkembangan masyarakat yang menimbulkan perubahan-perubahan, mendorong perkembangan dan kemajuan masyarakat.

  10. pamuji rahayu…

    betul Ki Prayit dan Ki Tomy serta para kadhang kinasih…, kita mesti dan harus menjadi Manusia Merdeka.., Merdeka dari semua doktrin. terkadang saya ikut prihatin dan nandang sungkawa…, melihat masyarakat Desa .. khususnya tempat kami dulu tinggal.., tempat lahir saya…, manusianya sudah begitu mabok agama.., kemarin ponakan mitoni.. saya sarankan agar dilaksanakan sesuai tradisi dan budaya leluhur saja yang sudah turun temurun, nanging ditolak oleh saudara2 lain bahwa mitoni dengan cara begitu namanya musyrik.. harus diganti dengan ceramah dan kidung kitab garing ayat sekian sampai ayat sekian.., upacara bersih desa dan ruwatan bhumi tidak usah ada lagi.. namanya musyrik harus diganti dan ndak usah dilaksanakan…, desa kami sekarang jadi gersang… penuh pertikaian alias pada padhu antar tetangga… kalu kumpul saling pamer baju panjang sampai penutup kepala… ganti2 .., kalu ga ada yang ganti setiap kumpulan dicemooh.. apa ga punya lagi.. dll, akhirnya saling seudzon..duh .. PERLU SEKALI UNTUK BERTIWIKRAMA yang meliputi.

  11. Whaahh…diskusi TRIWIKRAMA yang semakin menukik jauh kedalam samudra…
    Saya sementara tidak mampu urun rembug, soalnya terlalu banyak yang akan diutarakan, akhirnya penulisannya terkesan me-lompat2.
    Sumangga para winasis Sedulur Sejati Tunggal-Sikep, dipun lajengaken.

    Namun apabila berminat, saya habis ‘blayangan’ keberbagai blog, dalam blog http://kangboed.com/ ada postingan bagus (menurut saya) berjudul Tiga Pengkhianatan Yang Menghancurkan Jati Diri Bangsa, karya Frans Magnis Suseno. Silahkan meringankan langkah kesana.

    Mohon maaf bila ada salah2 komen/tulis yang kurang berkenan.
    Matur nuwun…

    Salam Ing Kasejaten Seduluran

  12. Ki Wirojati yth,

    Ki seharusnya yang paling efektif untuk bisa membendung gerakan Arabisasi adalah Islam Tradisional alias NU bersama-sama Muhammadiyah.

    Tetapi sayangnya, kedua organisasi masa berbasis Islam terbesar di negeri ini, kalah cepat gerakannya dibanding gerakan Islam Radikal versi Timur Tengah.

    Gerakan mereka seperti sel kanker yang terus merangsek ke berbagai sudut kehidupan. Bisa melalui jalur legislatif maupun eksekutif, formal maupun informal.

    Sementara yang namanya kaum NASIONALIS malah pada sibuk rebutan kekuasaan dan malah banyak yang terjerumus ke liang kubur korupsi.

    Wahai kaum nasionalis, kemana saja kalian? tidakkah kalian melihat bagaimana kondisi negeri ini mulai tercabik-cabik oleh berbagai ragam kepentingan yang sempit?

    Bagaimana kalian melihat Anggodo begitu powerfull sementara pembela kebenaran malah dijadikan pesakitan?

    Ada apa sebenarnya dengan Indonesiaku tercinta????

  13. pamuji rahayu

    Kadangku kinasih Ki Prayit…Yth,

    keduanya sibuk berpolitik ..malah akeh akehan masa untuk pencalonan menuju gegedug praja.. sudah tidak lagi bisa noleh dan tumungkul…,bukan berarti tumakninah… malah justru lehernya kamitenggengen kakehan angen- angen Ki…, sopo meneh selain orang2 yang sudah merambah kekesadaran dan menuju manusia merdeka kalau bukan yang harus berTIWIKRAMA…, semangat dan tekad para mudha saya lihat wah jan tenan… makantar kantar… nanging ujug ujug makpless.. ilang, begitu digempur dengan prahara, akhirnya jadi semangat cocacola atau semangat tai embek..< ngumpul didalam begitu kena serangan diluar berceceran..ilang.., harusnya semakin banyak gempuran semakin eratkan barisan semakin bersatu padu bergandeng tangan dalam kebersamaan membentuk suatu benteng yang tatag tanggon,
    salam dalam kesatuan NKRI..,
    rahayu..

  14. Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila adalah sebuah kesadaran dari para Pendiri Bangsa, bahwa secara esensi manusia sejatinya sama dan sederajat, berasal dari HIDUP yang sama, dari pabrik yang sama😀
    Hal ini pernah saya urai secara panjang lebar disini
    https://tomyarjunanto.wordpress.com/2009/08/17/makna-17-8-1945-wejangan-bung-karno/

    sebuah landasan utama untuk mempersatukan bangsa yang sangat plural ini, terdiri dari banyak suku bangsa adat-istiadat, agama & kepercayaan yang perlu disatukan
    disatukannya ya oleh kesadaran bahwa sejatinya semua manusia sama dihadapan tuhan atau hidup itu sendiri adalah satu, tidak perempuan tidak lelaki, tidak arab tidak cina, hidup adalah Satu,
    ini adalah pencapaian tinggi dari para leluhur bangsa yang perlu diwacanakan kembali dan diajarkan dalam kerja di bidang ideology, bukan malah memerangkap manusia dalam perangkap agama
    karena oleh Para Pendiri Bangsa pernah dinyatakan bahwa Indonesia adalah Negara yang berdasarkan sosialisme, seperti yang tercantum dalam Manifesto Politik RI
    “Hari depan revolusi Indonesia bukanlah menuju ke kapitalisme, dan sama sekali bukan menuju ke feudalisme… Hari depan Revolusi Indonesia adalah masyarakat adil dan makmur atau… Sosialisme Indonesia”
    Dimana sosialisme Indonesia adalah :
    “Sosialisme yang disesuaikan dengan kondisi-kondisi yang terdapat di Indonesia, dengan alam Indonesia, dengan rakyat Indonesia, dengan adat-istiadat, dengan psikologi, dan kebudayaan rakyat Indonesia.”
    Pancasila lebih jauh dapat diperas menjadi TRISILA yaitu :
    1. Sosio nasionalism
    2. Sosiso demokratism
    3. Ketuhanan Yang Maha Esa (pemberi dasar)
    Dan akhirnya menjadi EKASILA yaitu GOTONG-ROYONG
    Mangga dipunlanjut:mrgreen:

  15. Mas Tomy yang baik,

    Di sinilah terusterang saya tidak sepakat dengan negara yang berdasar kepada KETUHANAN YANG MAHA ESA.

    Alasan sudah saya jelaskan. Tetapi yang paling pokok, hingga sekarang saya tidak bisa memperoleh “refrensi” tentang konsep sebuah negara yang menggunakan basic Ketuhanan Yang Maha Esa.

    Saya belum pernah tahu atau mendengar konsep ketatanegaraan modern yang bersumber pada Ketuhanan Yang Maha Esa.Sejauh ini belum saya temukan doktrin “ketuhanan yang maha esa” yang berbicara tentang negara.

    Apakah ketuhanan yang maha esa itu sebuah ajaran atau sebuah konsep keagamaan?

    Jika sebuah “ajaran” mana kitab atau buku yang mengupas/mengulas tentang prinsip-prinsip ajaran “Ketuhanan Yang Maha Esa” tersebut? karangan siapa?

    Jika “Ketuhanan Yang Maha Esa” adalah sebuah agama, maka apa nama agamanya dan siapa nabi pembawanya? Gak jelas kan? agama bukan, ajaran juga bukan.

    Sejauh ini yang saya ketahui, konsep negara berdasarkan “agama” memang cukup banyak. Ada negara vatikan, negara Islam,atau mungkin konsep negara Hindhu.

    Sekali lagi dengan alasan-alasan seperti itulah dengan ini saya menyatakah TIDAK SETUJU dengan pasal 29 ayat 1 yang menyatakan Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.

    Negara itu masalah profan yang nggak ada hubungannya dengan hal-hal ghoib/transenden (Tuhan).

    Jadi, biarkanlah soal Tuhan dan yang ghoib-ghoib lainnya, menjadi urusan pribadi masing-masing rakyatnya (menjadi ranah privat).

    Sebab, mencampuradukkan antara wilayah profan dengan transendental dalam “badan negara” akan berimplikasi pada kekacauan sistem.

    Mas Tomy Tidak percaya? kan sudah terbukti? atau mas tomy akan mengelak dan bilang “Itu kan karena salah penafsiran saja?” ya sumonggo.

    Bagaimana nih dengan para pembaca yang budiman? ayo komentar dong!!!

  16. ……disatukannya ya oleh kesadaran bahwa sejatinya semua manusia sama dihadapan tuhan atau hidup itu sendiri adalah satu, tidak perempuan tidak lelaki, tidak arab tidak cina, hidup adalah Satu,…..

    saya pikir kalau dasar kebijakannya itu,kan bisa dan sangat relevan apabila menggaunakan ideologi HUMANISM dan HAM yakni Kemanusiaan yang adil dan beradab.

    Sesungguhnya, substansi dasar “kemanusiaan yang adil dan beradab” sudah cukup mengisi ruang ketuhanan, tanpa negara terjebak pada dasar ketuhanan.

    Pembuktianya sederhana saja, adakah ajaran ketuhanan atau agama yang menentang Kemanusiaan yang adil dan beradab? tentu tidak ada kan?

    Tetapi,memang ada banyak kesalahan “fatal” ketika agama disusuh menerjemahkan Kemanusiaan yang adil dan beradab ini.

    Nanti masing-masing agama akan merusmuskan sendiri-sendiri berdasarkan kitab sucinya dan petunjuk dari nabinya masing-masing, yang boleh jadi justru akan bertentangan dengan demokrasi/kesetaraan hak dan HAM.

    Sekali lagi jika panjenengan sedoyo tidak percaya, silakan kita buktikan dalam praktik sehari-hari.

    demikian tambahan mas tomy.

  17. Yth. Kinakmas Tomy,

    Saya mohon maaf teramat sangat, berkenaan kunjungan panjenengan diblog saya tgl.20 Nop., ternyata masuk spam dan baru tadi pagi saya buka dashbor dan lihat isi spam. Saya kurang tahu apa penyebabnya.
    Ada sedikit uraian dlm jawaban saya untuk panjenengan, semoga berkenan. Sumangga dipun pirsani diposting TRIWIKRAMA-BUDAYA.
    Jika kurang berkenan, ya jangan dipenggalih.

    Matur nuwun, sumangga dipun lajengaken.
    Rahayu…

  18. RAIHLAH JATI DIRI MANUSIA untuk
    MENGEMBALIKAN JATI DIRI BANGSA INDONESIA
    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang
    ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaaaank
    I Love U fuuulllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllll

  19. Hanya dengan membenahi DIRI kita masing masing maka kebangkitan akan tercapai.. selain itu hanyalah muncul tiran berikutnya.. hendaknya kita melihat reformasi 98.. dan sesudah itu yang korup semakin korup.. yang kapal keruk kerukannya bertambah dahsyat.. Hanya Kebangkitan Hati Nurani.. Manusia dengan Jiwa Jiwa yang MERDEKA.. mereka akan mengerti arti spiritualitas dan semangat kebersamaan dalam berbagi sebagai satu keluarga besar.. tanpa itu kembali hanya kelompok kelompok yang berkepentingan yang akan bermain

  20. @ KangBoed said :
    ……Hanya dengan membenahi DIRI kita masing masing maka kebangkitan akan tercapai..

    Berkali-kali saya sampaikan di blog mas tomy, memang benar dan TIDAK ADA YANG SALAH dengan kata-kata MARI KITA MULAI MEMBENAHI DARI KITA LEBIH DULU.

    KangBoed, mohon diingat bahwa secara struktural kita hidup dalam suatu ORGANISASI YANG BERNAMA NEGARA dan di dalam negara itu selalu ada YANG MENGUASAI dan YANG DIKUASAI.

    Posisi yang dikuasai (rakyat) kuwi mung manut-manut wae, di suruh bayar ini yo manut, di suruh bayar itu yo manut, pokoknya serba manutlah.

    Apa artinya? artinya adalah, PERUBAHAN MUTLAK HARUS DIMUALAI DARI SANG PENGUASA.

    Percaya saya kangboed, jika penguasanya berubah (menjadi baik) RAKYAT PASTI BERUBAH, itu sudah KENISCAYAAN. Tetapi kalau rakyat berubah belum tentu penguasa akan berubah.

    jADI SEKALI LAGI APA YANG PANJENENGAN SERUKAN MEMANG TIDAK SALAH, YANG SALAH ADALAH KETIKA RAKYAT BERUBAH TETAPI PEMIMPIN TIDAK MAU BERUBAH.

    Saya justru lebih tertarik andaikata panjenengan memiliki “formulasi” bagaimana cara melahirkan seorang pemimpin yang bersih dan benar-benar pro rakyat.

    Terus terang sebagai rakyat, saya bingung bagaimana cara “MEMAKSA” para pemimpin kita supaya berlaku BERSIH, JUJUR, BERTANGGUNGJAWAB dan BENAR-BENAR MAU MELAYANI KEPENTINGAN MASYARAKAT LUAS.

    Saya menunggu, bagaimana konsep panjenengan, terima kasih.

  21. Hahahaha.. memang Zaman nya Zaman Edan.. siapa yang tidak edan engga kebagian.. tapi lebih baik yang eling dan waspada.. maka langkah awal adalah ELING dan WASPADA.. mari kita membaca setiap petunjuk yang di berikan.. mulai dari alam.. situasi dan kondisi.. semuanya semakin mengerucut dan mungkin akan segera terjadi sesuatu HAL.. tapi jika HAL itu benar terjadi dan manusia belum ELING dan WASPADA.. akan seperti apakah yang terjadi berikutnya..Merubah manusia itu sepertinya sesuatu hal yang mustahil.. jangankan mau merubah seseorang yang berkuasa.. merubah lingkungan saja sudah sulitnya minta ampun.. kalau kita bicara kejujuran dan NIAT dalam berbangsa dan bernegara sesuai dengan nilai luhur pancasila.. memang sesungguhnya kritis sekali..

  22. Yth. Para Sedulur Sejati semua,

    Dalam suasana Hari Kurban kali ini, ada Fenomena yang kiranya dapat dijadikan bahan renungan bersama.
    Apakah itu?!?

    BANYAK SAPI YANG MENGAMUK SAAT MENUNGGU GILIRAN DISEMBELIH.

    SAPI-SAPI YANG BERANI MEMBERONTAK KEPADA SANG PENGUASA.
    MEREKA BANGKIT KESADARANNYA, BAIK PIKIRAN MAUPUN NURANINYA.

    APAKAH DERAJAT/HARKAT/MARTABAT KITA LEBIH RENDAH DARI SAPI?!?

    MARI…KITA RENUNGI BERSAMA…

  23. Yth. Kimas Tomy dan Sedulur Sejati semua,

    Mohon maaf Ada tambahan informasi (agak khusus kagem Mas Suprayitno), saya mohon meringankan langkah ke http://serbasejarah.wordpress.com/ pada dua serial posting(masing2 terdiri 5-seri), yaitu tentang SYEKH SITI-JENAR dan Peng-ISLAM-an Nusantara.
    Menurut saya sangat baik untuk menambah referensi Sejarah ‘SAPI-KURBAN’ seperti saya gambarkan diatas.

    Saya persilahkan meringankan langkah… Terima kasih

    Salam…JAS MERAH
    Salam…JAKET MERAH (hadiah dari mas Itempoeti)

  24. @mas sikapsamin sedulur sebocor alus saya:mrgreen: sing ganteng dewe

    injih leres dengan apa yg panjenengan sampaikan, kalau agama hanya berhenti ditataran label dan mandek maka yg terjadi ya itu, sebagai contoh dulu orang2 spanyol dengan mas hernan cortes membumi hanguskan masy indian di amrik sehingga suku maya, inca dan aztec punah berganti dengan orang2 eropa dengan semangat gold gospel dan glory nya…ini adalah salah satu genosida terbesar sepanjang sejarah dengan atas nama agama/gospel

    begitu pula dengan ajisaka dengan memimpin ribuan pasukan dari ngerum lalu menumbal tanah jawa mengusir para dedemit, dedemit disini mungkin yg dimaksud adalah para penduduk pribumi yg masih beragama lokal dan berganti dengan agama hindu…

    demikian pula dengan islamisasi di masa kerajaan demak…….ya ini semua karena sudah terjadi ya sutralah dan alangkah baiknya bisa dijadikan pelajaran di masa mendatang bahwa kristenisasi, hinduisasi atau islamisasi itu bukan penyelesaian suatu masalah, prinsipnya kalo memeluk salah satu agama itu baik tapi alangkah baiknya kalo tidak terjadi pemaksaan kehendak….semua agama benar, yg salah adalah pemahaman umat atas agama itu sendiri………

    salam bocor alus:mrgreen:

  25. @m4astono said :

    ….semua agama benar, yg salah adalah pemahaman umat atas agama itu sendiri………

    Sebagian besar umat akan berpendapat bahwa TIDAK SEMUA AGAMA ITU BENAR, yang paling benar dan paling sempurna hanyalah “agamaku” dan tuhanku.

    Jika semua agama itu benar, tak perlu banyak agama. Satu saja cukup, dan yang satu itu adalah MANUNGGAL KAREP PADA KEBAIKAN.

    Sebab, semua yang bertententangan dengan nilai-nilai LUHUR KEMANUSIAAN atau bertentangan dengan “kebaikan” pastilah akan bertentangan juga dengan AGAMA.

    Masalahnya, sering terjadi UKURAN YANG BERBEDA antara KEBAIKAN AGAMA YANG SATU DENGAN KEBAIKAN AGAMA YANG LAIN.

    Untuk lebih MEMANUSIAKAN MANUSIA bagi agama yang satu, berbeda ukurannya dibanding agama yang lain.

    Ingin contoh? cara Islam untuk memanusiakan manusia perempuan, maka harus berjilbab. Tidak boleh (haram) berjabatan tangan antara perempuan muslim dengan laki-laki yang bukan muhrimnya.
    Contoh lain masih sangat banyak.

    Itulah “problem agama” yang selalu mengikuti sejarah kehidupan.

    Jadi “semua agama itu benar” memang mudah sekali diucapkan, tetapi tidak dengan praktiknya. Betuuuul????????

  26. @kangmas suprayitno

    itukan tergantung persepsi masing2 to, memang mudah diucapkan tapi prakteknya angel tenan….maka dari itu perlu sikap andhap asor, saling menghormati kepercayaan dan juga persepsi orang lain tentang agama itu sendiri….bagi saya pribadi mau atheis kek atau mau mengikuti paham keras semisal salafy ndak masalah, asalkan mereka tidak menghakimi persepsi dan kepercayaan orang lain dengan kacamata hitam putih, semua pasti ada plus minusnya……..

    contohnya…..ada seorang wanita muslimah yg berpakaian hitam2 dan bercadar, bagi saya pribadi itu memang aneh, mungkin juga bagi mas prayitno aneh juga kok betah ya berpakaian hitam2 bercadar pulak disiang hari bolong yg panas……tapi bagi si wanita itu malah merasa bahagia dengan berpakaian seperti itu, dan dia sendiri tidak mempermasalahkan persepsi orang2 thd dia dan juga dia sendiri juga tidak terlalu ambil pusing dengan keyakinan dan persepsi orang lain……nah inilah dia bisa mengambil manfaat dari agama dan keyakinan yg dia peluk dan sebagai hadiahnya, berbahagialah hatinya….tapi ini hanya conto lho yaa……………

    tapi itu semua bisa dicapai asal tidak nuruting rasaning karep merasa benar sendiri, apalagi sampai memaksakan kehendak………..karena setiap orang itu punya kesukaan masing2, ada yg suka warna pink, ijo, putih atau warna2 lainnya….alangkah indahnya yg ijo menghormati yg pink serta warna2 lainnya, kalo semua harus ijo ntar malah jadi moto duiten to:mrgreen: biarlah dunia ini beragam sebagai warna warni dunia yg pelangi ini :mrgreen:

  27. @kangmas Mastono, Sedulur Sejati Tunggal-Sikep…

    Matur nuwun mas dukungannya serta kesamaan pandangan/sikap kita,
    Tiga Langkah yang harus kita lakukan (menurut pandangan saya) adalah:

    1. Membongkar GUNUNG DOGMA DAN STIGMA (apapun versinya), yang telah MENGKERDILKAN, MEMPERBODOH KITA SEBAGAI BANGSA ;
    2. Memulihkan KESADARAN JATI DIRI SEJATI KITA, BAHWA DERAJAT/HARKAT/MARTABAT KITA SEBAGAI BANGSA BERBUDAYA, SETARA DENGAN BANGSA2 LAIN DIDUNIA ;
    3. MengGELORAKAN SEMANGAT KEBHINNEKAAN-SARA DALAM FRAME KEBANGSAAN NKRI.

    Ini pandangan saya, silahkan dikoreksi, dilengkapi maupun diluruskan.
    Maaf bila ada tulisan yang kurang berkenan.

    Salam…JAS MERAH
    Salam…JAKET MERAH

  28. PEMBANGUNAN MANUSIA INDONESIA SEUTUHNYA

    Sebuah program yang nonsense karena kita sebagai manusia tidak pernah tahu apa arti manusia itu sesungguhnya, apalagi mau membangun seutuhnya😎
    Manusia, andai kita mau sedikit rendah hati adalah hasil dari berbagai materi yang saling berhubungan, berdialektika.
    Saat kita jadi janinpun adalah tidak hanya hasil hubungan dari simbok sama bapak saja tapi juga materi lain seperti keadaan alam, jantraning jagad bintang dan planetnya, nutrisi yang diasup oleh orangtua dsbnya
    Maka ada yang lahir ngganteng kayak saya ada pula yang cantik kayak Luna Maya *maksud loh…* :mrgreen:
    dan saat kita MENJADI punjuga adalah hasil dari saling hubungan yang akan terus berproses membentuk kualitas baru setiap momentnya
    saat inipun saya menjadi manusia baru yang lain dari saya yang tadi saat belum mebaca koment dari saudara terkasih semua
    hidup dan manusia sendiri adalah suatu yang luas, besar & tak terbatas dan memang manusia hidup untuk menjadi, tidak dapat tidak menjadi, ia hanya gagal karena telah dibelenggu oleh berbagai macam persepsi
    sebagai contoh adalah Kenyataan Bagi Jiwa, bagi jiwa yang disebut kenyataan bukan hanya segala peristiwa empiris namun juga adalah intuisi dan mimpi-mimpi.
    Jiwa tidak melihat perbedaan antara mimpi dan peristiwa nyata, keduanya merupakan kenyataan. Karena kita memimpikan apa yang ingin kita raih, apayang menjadi harapan & perasaan kita juga kita dalam dunia nyata kita melakukan segala sesuatu demi mengejar impian kita
    Contoh lain lagi, evolusi manusia telah melahirkan manusia-manusia Indigo, manusia yang tanpa diajari telah tahu akan moralitas sejati & bahwa semua yang didoktrinkan adalah manipulasi kesadaran, juga manusia yang memiliki bakat kewaskitaan, intuisi yang kuat.
    Tanpa kerendahatian dan hanya pendewaan rasio, kita hanya akan menghakimi mereka sebagai produk cacat dalam evolusi yang perlu dokter indigo agar menjadi manusia normal
    Manusia ada yang mampu ada yang tidak, ini juga harus kita terima dengan kesadaran & kerendahan hati bahwa kita adalah makhluk social yang saling melengkapi dalam relasi yang saling memerdekakan
    Yang bahkan seonggok tahi yang kita hasilkan tak boleh kita klaim sebagai hasil produksi kita sendiri
    Dalam seonggok tahi itu ada saling hubungan, kerja keras petani, keringat buruh dan kuli, makian kasar preman pasar, senyum senang borjuis local, doa-doa para ulama, senyum manis ibu yang menghidangkan makan
    Maka dalam memaknai HIDUP, MANUSIA & KEMANUSIAAN mari kita membina relasi yang saling memerdekakan

    Ini cuma hasil renungan saja selama beberapa hari ini tidak online

  29. pamuji rahayu..,

    nggeh.. kidimas Tomy dan para sedulur disini.., meniko rak pemaparan kita untuk mampu menjadi yang sebenar manusia.. semua saling keterkaitan karena memang diciptakan demikian.., lha menjadi manusia dari jaman dulu sampai siki..,kan isinya selalu berevolusi dan harus menjadi lebih baik ketimbang timbangan yang hanya menimbang nimbang…, menentukan pilihan dan akhirnya cocok.. yang ndak cocok ya karena saudara, teman, seagama. akhirnya ya biarkanlah. memaksakan supaya setiap manusia untuk menjadi apa yang dikarepke kita menjadi baik ya memang sulit.. terutama tingkat penalaran dan kejiwaan seseorang kan berbeda-*, kalau cuma memperstukan dan menjadikan ikatan kebersamaan ya tentunya bisa digalang.. nanging kalu sudah menyangkut keinginan dan kepentingan .. ya mbalik lagi ke asal.., sulit diatur dinasehati diajak untuk menjadi manusia yang baik, merdeka, jujur, saling tepa slira, tengang rasa, akhirnya ya.. cuma perdebatan dan penalaran yang selalu mencari pembernaran- pembenaran.., lha wong manusia asalnya baik.. mbok ya menjadi baik.. kok malah menjadi lali, lalen, kelalen apa karena lingkungan alam..? lha wong alam juga selalu mengajarkan kebaikan.., lha pripun kok jadi manungso gaweane gur nyalahke. .. dan akhirnya ingin memperbaiki diri.. kembali kesejatinya manusia…, lha sejak dalam kandungan sampai mau matek.. itu yang berkecimpung didalam diri siapa..?
    lha sejak diturunkannya agama dimuka bumi itu kan semua ajarannya adalah doktrin, dogma dan unsur pemaksaan, kalau tidak ditakut takutin.., ya karena manusianya.. nek ndak digitukan nanti ndak nurut.., lha wong manusia itu isinya cuma lemah dan selalu kalah, mutungan, nek dilok e elek malah mbrengkele, wis jan, mahluk paling aneh. karena unsur baiknya dalam diri ndak pernah diajak mergaul, mergawe berkiprah sak bendinane.., lha isine gur golek samubarang sing menakne.., njur kalu sudah penak .. harus mempertahankan kepenaknya dengan jalan apapun, ya.. akhirnya sing jenenge manungswa kawulo ya.. cuma melihat, meratap, menangis, menyumpah, memaki, nrima.. lha wong jenenge panguasa kuwi luwih diwedeni ketimbang sing Kawasa, lha sing jenenge penguasa kabeh kabehane.. ya Bebal.., jadi.. kepripun niki Kidimas lan para sedulur..? landasan menapa ingkang dipun trapaken dumateng kita..?
    rahayu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s