RSS

SIMBOLISME CAKIL DAN PERANG KEMBANG

11 Nov

Susuhunan Kalijaga berada dalam persimpangan.
Sang Pembesar Negara bagaikan makan buah simalakama :
Sabaya pati sabaya mukti labuh Negara berdirinya Demak Bintoro ataukah mikul dhuwur mendhem jero leluhurnya Majapahit.

Mangro tingal Kanjeng Susuhunan, meski batinnya memihak Eyangnya, Sang Prabu Brawijaya; sebagai pendiri Negara dan Panglima ia wajib mewujudkan cita-cita Negara, sebuah tatanan baru yang membawa pencerahan bagi leluhurnya yang kapir kopar.

cakil2Kenya-Wandu03Konon dari vested interest tersebut terciptalah tokoh baru dalam pewayangan, KENYA WANDU dan BUTA CAKIL.
KENYA WANDU, sosok lelaki berpenampilan perempuan sebuah penggambaran diri Sunan Kalijaga, ambiguitas selaiknya si BUTA CAKIL raksasa berpenampilan ksatria.

Dengan rahang bawah yang menonjol keluar dihiasi gigi panjang tajam, si Cakil bersuara kecil kalau ngomong nyerocos tanpa jeda adalah symbol ahli dakwah yang tiada duanya, tiada yang mampu menandingi dalam berdebat.

Kemunculan Cakil dalam pewayangan tercerita dalam adegan Perang Begal, atau yang lebih dikenal sebagai Perang Kembang. Perangnya ksatria melawan para raksasa setelah adegan ‘Gara-Gara’.
Perang Kembang sejatinya tamsil kehidupan manusia.

Setelah mengalami Gara-Gara, chaos, manusia butuh keseimbangan, aktualisasi diri.
Dipenuhi idealisme yang menggebu-gebu tergambar sebagai empat punggawa raksasa pengikut Cakil, symbol 4 elemen dalam dirinya. Bumi, Geni, Angin, Banyu atau dalam terminology Islam Aluamah, Supiyah, Amarah, Mutmainah.
Idealism yang mengebu-gebu ini, yang membawa manusia terbang keawang-awang harus dibumikan kembali
Disesuaikan dengan keadaan & kondisi riil yang dihadapi agar taktik tidak merusak strategi.

CAKIL selalu mati karena tertusuk kerisnya sendiri :mrgreen: Muncul sebagai perlambang kebutuhan Manusia akan WATAK
WATAK adalah keberpihakan pada suatu kepentingan, dimana Ideologi menjadi motor yang bergerak dalam jiwa tanpa henti dengan konsekwen untuk membela kepentingan
WATAK tercermin dalam SIKAP, bermuara pada seluruh aktivitas gerak hidup manusia
Watak inilah yang menjiwai dan memberi visi pada gerak hidup manusia
Watak menghindarkan dari vested interest, sikap yang plin-plan atau mencla-mencle.

Punokawan-Togog

Cakil juga punya pandherek. Pandhereknya malah tidak kalah dengan pandhereknya Arjuna. Yaitu Togog, yang seasal-usul dengan Semar dan Bethara Guru.
Ini juga sebuah simbolisme, dalam aktualisasi diri manusia watak manusia bisa bermutasi sesuai dengan fatsun STATUS SOSIAL MENENTUKAN WATAK SOSIAL.
Maka menjadi sebuah pertanyaan ultim bagi setiap manusia yang memperjuangkan idealismenya, akankah dia bermutasi atau tetap setia pada idealismenya?
Diemong oleh Semar atau menjadi diemong oleh Togog?

CECAK MUNGSUH BAYAPERANG KEMBANG ‘CICAK LAWAN BUAYA’

Dalam konteks Indonesia, menilik situasi akhir-akhir ini dimana seakan terjadi kebangkrutan di segala bidang kehidupan bangsa, kaum muda ditantang dalam Gara-Gara besar untuk memenangkan Perang Kembang.
Perang Cicak lawan Buaya, yang disponsori Buta Cakil.
Dalam pandangan saya, ada sebuah proses yang terjadi sehubungan dengan ‘sileme prau gabus timbule watu item’ sebuah jangka atau ramalan tentang Indonesia.
Akan ada ‘Perang Silih Klambi’, penegak hukum melawan penegak hukum, yang nantinya akan menyingkapkan yang putih sejatinya hitam yang hitam sejatinya putih.
Si Buta Cakil akan menemui naasnya karena tertusuk kerisnya sendiri.

Maka bagi saya segala peristiwa yang terjadi ini menimbulkan optimisme akan bangkitnya ideal reformasi, tidak malah membuat pesimis.

‘Geni sakpelik munggah krapak’ sabda Sang Susuhunan Kalijaga
Ya api yang kecil itu telah menjalar, dan akan membakar semuanya
BAKAR… BONGKAR…

Salam Revolusi
Salam Buta Cakil

About these ads
 
41 Komentar

Posted by pada November 11, 2009 in berjuang & merdeka, perjuangan

 

41 responses to “SIMBOLISME CAKIL DAN PERANG KEMBANG

  1. ratanakumaro

    November 11, 2009 at 4:00 am

    Terimakasih mas Tommy atas artikel menarik ini ;)

    Salam Revolusi [!]

     
  2. S™J

    November 11, 2009 at 9:22 am

    yes yes yes… watak mengendalikan otak, perlambang selalu berulang, dan alam punya cara sendiri dalam menjaga keseimbangan. kita tunggu episode berikutnya… :cool:

     
  3. suprayitno

    November 11, 2009 at 10:16 am

    @mas tomy berkata :

    Dengan rahang bawah yang menonjol keluar dihiasi gigi panjang tajam, si Cakil bersuara kecil kalau ngomong nyerocos tanpa jeda adalah symbol ahli dakwah yang tiada duanya, tiada yang mampu menandingi dalam berdebat.

    koment dari saya :

    Melihat anatomy wajah si Cakil, saya jadi teringat akan wajah “buaya”. yakni, rahang bawah lebih menonjol,sederetan gigi-gignya yang runcing siap menerkam mangsanya.

    Jadi, gambaran bagi para penguasa kita saat ini ya seperti pasukan buto cakil itu.
    Lalu siapa yang dimangsa? siapa lagi kalau bukan rakyatnya sendiri.

    Buto cakil adalah gambaran “keserakahan” dimana tubuhnya manusia tetapi kepalanya “buaya”.

    Spesialis pembunuh buto cakil biasanya diperankan oleh Harjuno atau Janaka, nah tetapi siapakah yang bakal membunuh buto cakil-buto cakil yang bergentayangan di tanah nusantara ini?

    Jika tidak bisa sendirian, mari rakyat Indonesia yang tertindas dan selama ini terzalimi kita bersatu, rawe-rawe rantas malang-malang putung,kita gempuR dengan semangat REVOLUSI KITA BANGUN NEGERI SEPERTI YANG DIHARAPKAN OLEH BUNG KARNO MELALUI IDEOLOGY PANCASILANYA.

    Jangan ada lagi, masuk mulut singa ditangkap mulut buaya. Oleh karena itu jangan lengah dan jangan gegabah.

    salam REVOLUSI

     
  4. marsudiyanto

    November 11, 2009 at 11:16 am

    Dunia sudah seperti wayang…
    Setiap muncul, cakil mati oleh kerisnya, tapi pada gelaran berikutnya cakil muncul lagi…

    Jadi :
    Cakil akan selalu ada !

     
  5. sikapsamin

    November 11, 2009 at 11:50 pm

    Yth. Mas Tomy,

    Tertarik dg ungkapan “mikul dhuwur mendhem jero”, ijinkan saya mencoba mbabar dg bahasa populer dan sesuai sikon sekarang, kira2 :

    - NILAI2 POSITIF KITA PELIHARA SERTA KITA JADIKAN PEDOMAN LANGKAH-TINDAK KEDEPAN ;
    - NILAI2 NEGATIF KITA PENDAM/SIMPAN, UNTUK BAHAN KOREKSI DIRI-SENDIRI.
    Landasannya adalah KESADARAN BAHWA TIAP-DIRI INI MEMILIKI NILAI2 POSITIF/NEGATIF (Bhuto-Cakil) TERSEBUT.
    Dengan kesadaran ini, diharapkan SEMANGAT SALING HUJAT DIANTARA KITA APALAGI KEPADA PARA LELUHUR, BISA TERKENDALI.
    Hi..hi..hi..menggurui Resi…
    Nyuwun ngapunten mas, mohon maaf dan koreksi bila ada salah2 tulis.

    @ Yth. Mas Suprayitno,

    Bhuto Cakil mirip buaya?!
    Menurut ‘terawangan’ saya, malah mirip Hyena, jenis anjing-liar yang TINGGAL IKUT/NEMU HASIL BURUAN SINGA. Sang Singa pergi, para Hyena tetap tinggal menyantap hasil buruan sampai bersih.

    Coba kita lihat nasib Nuswantara, Belanda pergi Hyena tetap tinggal disini…

    Nuwun mas Tomy/mas Prayit,
    Salam…Hyena

     
  6. tomy

    November 12, 2009 at 1:35 am

    Hidup itu penuh warna, tentu saja bagi yang tidak buta warna apalagi buta mata
    Namun dalam arti tertentu hidup juga abu-abu, mengacu bahwa tiap diri mempunyai nilai positif atau negative
    Maka hidup yang direfleksikan adalah hidup yang berarti, karena dari situ kita akan mengenal gambaran utuh dari diri kita ini
    Maka pengalaman sejarah, kondisi riil sekarang dan selubung-selubung logos yang coba saya ungkap disini agar kita dapat merefleksikan diri seperti apa manusia Indonesia ini.
    Jadi kalau mau ngebyuk ora kabotan pinjung

    Tesmak bathok, berkacamata tempurung kelapa
    Mripat mlolok, mata mendelik
    Ora bisa ngilo githok, tak mampu mengenali sejatinya diri sendiri
    Mlolo, ora bisa weruh kebo

    Ternyata masih banyak buta terong, buta rambut geni dan buta-buta lainnya pemakan bangkai
    Dan ternyata jiwa kitapun masih terjajah/dijajah dari berbagai segi kehidupan
    Yang menyebabkan kita Cuma jadi bangkai atau mayat hidup mangsa empuk para raksasa itu.
    Nah, kembali kepada ideology & watak, saya tunggu-tunggu baru Mas Prayit yang menulis tentang Pancasila
    Perjuangan berwatak yang membuat kita tahu arah & berdaya, bisakah ditimba dari pandanagn hidup & falsafah bangsa yang kini makin hilang gaungnya, PANCASILA?

    Mangga dilanjut…

     
  7. Sawali Tuhusetya

    November 12, 2009 at 6:05 pm

    salan revolusi, pak tomi. dalam perang kembang mbok sekali-kali cakil dimenangke, pak, biar kontekstual. zaman sekarang, orang berwatak seperti janoko kan malah jarang menang, tuh. hehe …

     
  8. itempoeti

    November 13, 2009 at 6:04 am

    perang kembang seharusnya dipenuhi aroma harum… keharuman yang muncul karena kemenengan kebaikan atas kejahatan…

    namun kali ini kenapa justru perang kembangnya dipenuhi aroma bau bacin, anyir dan bosok???

     
  9. Lambang

    November 13, 2009 at 11:59 am

    mas Tommy,

    Saya kirimi video perang kembang.

    Menyambung komen mas Tommy di Blog mas Jenang, format penulisan YouTube bisa dilihat dengan meng-edit komen ini dari dashboard. Script &w=200 pada akhir URL untuk membuat agar YouTube ditampilkan dalam frame yang kecil.

    Salam.

     
  10. suprayitno

    November 14, 2009 at 12:34 am

    @itempoeti Says:
    perang kembang seharusnya dipenuhi aroma harum… keharuman yang muncul karena kemenengan kebaikan atas kejahatan…

    Menurut penafsiran saya, yang namanya perang “kembang” itu maksudnya, “awal” dari sebuah perang yang sesungguhnya yakni perang besar.

    Biasanya setelah suatu tanaman “berbunga/kembang” lalu akan muncul “buahnya”.

    Nah, jika kondisi saat ini bisa diibartakan sedang terjadi “perang kembang” maka seharusnya sebentar lagi akan ada perang yang lebih substansial (perang besar).

    Baru setelah usai perang besar akan muncul “BUAHNYA”, namun, buah ini juga belum tentu buah yang lebih bermanfaat dan bergizi untuk rakyat.

    Tergantung bagaimana rakyat dalam memenangkan perang besar dan kemudian mengkonsep Indonesia yang jauh lebih adil, sejahtera,aman damai untuk SELURUH RAKYAT bukan hanya para elite doang yang sejahtera dan mendapat keadilan.

    begitu kira-kira.

    salam

     
  11. dBo

    November 14, 2009 at 2:25 am

    Yth. Kinakmas Tomy tuwin para Kadang Sutresna sadaya, ijinkan saya mencoba menuangkan sudut-pandang yang saya peroleh tentang uraian Perang-Kembang tsb diatas(mohon maaf jika kurang berkenan) :

    …….dihadapkan pada ‘buah’ simalakama…….

    Antara ‘buah’ MAJA yang rasanya PAHIT, yang seyogyanya tidak perlu dimakan, dan Buah-Larangan yang karena bisikan Iblis akhirnya dilanggar oleh ‘Adam’ yang akibatnya dihukum DITURUNKAN-DERAJATNYA ( ( ref.:Penciptaan Adam – http://dbo911mosaik.wordpress.com/ ).
    Yang sangat memprihatinkan, dalam Simbolisme tsb diatas, justru baik ‘buah- MAJAPAHIT’ maupun ‘buah-larangan’, kedua-duanya disantap.
    Simbolisme ‘buah’ saya terjemahkan sebagai ‘benih’ yang menjadi unsur utama bahkan mungkin mutlak dalam BERHASILNYA PROSES REGENERASI.
    Apakah kita sebagai bagian dari hasil proses regenerasi tadi, lebih baik/berkualitas? Ini menjadi renungan kita bersama, kalau setuju.

    Renungan lain yang muncul, Brawijaya yang berputera Jin Bun, apakah boleh dianalogikan sebagai pengulangan sejarah Abraham/Ibrahim yang berputera Ismail..?!
    Seandainya ya, berarti Perang-Kembang sudah mengalami pengulangan2…yang juga berarti ‘memakan buah-larangan’ pun berulang..?! Apakah memunculkan generasi yg lebih baik/berkualitas?!
    Kemana kita harus merefleksikan semua ini..?!

    Sumangga memunculkan sudut-pandang lain, tentang Perang-Kembang tsb.

    Salam…Kanugrahan, Karaharjan, Karahayon kagem kinakmas Tomy tuwin sadaya Kadang Sihkatresnan

     
  12. tomyarjunanto

    November 16, 2009 at 3:09 am

    wah sekarang saya bisa kirim video di komen nih, makasih banget Mas Lambang

     
  13. tomyarjunanto

    November 16, 2009 at 3:48 am

    Cakil dalam setiap cerita pewayangan selalu muncul meski berulang kali mati oleh Ksatria, sebagai tamsil bahwa kontradiksi selalu ada untuk menuju kualitas hidup yang baru
    Oleh karena itu diberi nama juga sebagai PERANG BEGAL, dalam berjalan mencapai kepenuhan hidupnya manusia akan selalu menemui begalan-begalan sepanjang jalan
    Akankah dia terjatuh dalam begalan itu? Dalam pewayangan hanya diceritakan bahwa cakilnya mati dan ksatrianya menang.
    Sebagai acuan yang lebih cocok akan refleksi ini adalah cerita tentang SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU dimana WISRAWA yang putus ilmu mencoba membabar SASTRA JENDRA kepada SUKESI.
    Alih-alih membabar kesejatian DHAMMA *meminjam istilah Budha* meruwat Diyu, Wisrawa malah MUJA DIYU NGUMBAR NEPSU dan lahirlah Rahwana, Kumbakarna, Sarpakenaka & Wisanggeni symbol nafsu manusia yang akan menjalani kisah panjang dalam semesta kehidupan.

    Perihal sejarah yang berulang, saya coba mengajak para kadhang sutrisna membaca tulisan saya WELAS TANPA ALIS DISINI
    Pendapat saya tentang perjuangan tetaplah sama harus memerlukan WATAK agar tidak vested interest, welas tanpa alis seperti kisah Ibrahim & Brawijaya, kalau boleh dianalogikan
    Nah lalu apakah segala kejadian yang tengah berlangsung ini akan membawa kepada proses pengulangan sejarah? Sumangga para Saudara yang tengah menjalani Perang Begal ini merefleksikannya dan menjawabnya

     
  14. suprayitno

    November 17, 2009 at 2:13 am

    Tugas team Pencari Fakta (team 8) sementara sudah selesai, dan rekomendasinya sudah sisampaikan kepada SBY.

    Salah satu rekomndasinya adalah “penghentian penuntutan kasus Bibit-Cahandra” karena dinilai tidak memenuhi bukti.

    Opini publik terbelah, ada yang menghendaki supaya tetap diajukan ke pengadilan ada yang minta di SP3 kan.

    Saya lebih cocok dimajukan saja ke pengadilan, toh nanti dengan bukti yang tidak cukup seharusnya Bibit-Chandra tetap bebas. Tapi akhirnya rakyat kan tahu, bagaimana sebuah persidangan digelar tetapi penuh dengan rekayasa.

    Nah, jika sampai dibebaskan berarti, pecat saja seluruh penyidik, dan level-level diatasnya yang merekayasa alat bukti, di kejaksaan juga, bagaimana mungkin sebuah persidangan dijalankan padahal tidak cukup bukti.

    Sementara, mungkin bagi SBY saat ini sedang menghadapi persoalan yang sangat pelik, yakni tidak disidang salah, disidang juga repot nantinya.

    Persoalnnya, rakyat yang sudah tidak percaya kepada lembaga hukum saat ini bisa digerakkan menjadi kekuatan untuk demo yang luar biasa.

    Jabatan dan kekuasaan, cenderung korup.Dan kalau korupnya makin besar maka rakyatnya akan semakin miskin.

    Jabatan dan kekuasaan ditangan para manusia SERAKAH memang sangat berbahaya.

    Sekarang yang menjadi pertanyaan apakah para pejabat kita dan penguasa kita rata-rata dipegang oleh orang2 serakah?

    Kalau iya, saya yakin negara kita tidak akan pernah bebas dari KEMISKINAN ABSOLUT (absolute poverty). Sebab, rakyat yang bodoh dibiarkan tetap bodoh, rakyat yang melarat dibiarkan tetap melarat.

    Para penguasa dan pemegang kebijakan publik, hanya asyik berkolusi memperkaya diri dan kerabatnya. Ini sungguh-sungguh negeri bedebah!!!!!!!!!!!

    Wahai para pembaca blog ini, apa yang bisa kita lakukan untuk menghentikan para pejabat dan penguasa yang serakah?

    Pasrah saja? atau cukup berdoa saja? atau akan bergerak?

     
  15. hadi wirojati

    November 17, 2009 at 12:04 pm

    PEMUJI RAHAYU…

    yth.. para kadang ingkang kinasih, mugya sedayanipun tansah wonten kahanan kasugengan niring sambikala.. tebih ing rubeda sregep makarya lan tuladha ing praja kangge ngurakabi para keluarga lan sasama kawula…,
    nuninjih.. yang namanya perang… perang dalam arti memperebutkan benar dan salah untuk mencapai hasil, karena dengan bermusyawarah sudah tidak bisa lagi.. maka dilanjutkan ke medan laga untuk bertanding, … dan hasilnya selalu pihak kebenaran yang menang menurut ukuran manusia, dan perang kembang.. adalah awal dari hasil yang akan dicapai untuk menuju perang yang sesungguhnya…, dan hasilnya akan tetap sama… dan setiap perang hasilnya hanya kehancuran.., tapi itu semua adalah untuk evaluasi diri, dimana sesuatu hal yang sifatnya perusakan dan pembunuhan tentunya akan menjadikan manusia merubah sistem . dimana sistem sebelum perang berarti sudah tidak cocok dengan jaman yang ada…, maka perlu perubahan dalam segala bidang.. kalau nusantara saat sekarang keadaannya seperti ini terus .. tentunya kita bisa memulai dengan perbaikan.. terutama kesadaran.. dimana manusia sudah mencapai kesadaran yang meliputi…sampai ke hal yang sekecil kecilnya.. maka akan menjadi baik untuk hidup berbangsa dan bernegara… dimana manusia hidup dalam sekumpulan negara . kalau sudah saling dan sama sadar akan hakekat hidupnya maka akan menuju gemah ripah adil bijaksana dan saling menghormati hak orang lain .. dalam artian demi kepentingan bangsa(rakyat) karena adanya negara adalah karena adanya RAKYAT…, karena pemimpin hanyalah simbul yang harus mengontrol, memperbaiki dan memberikan pengayom kepada rakyat.. bukan pemimpin yang mementingkan diri sendiri.. bersaing dengan kelompok lain yang berambisi menjadi pemimpin.. pemimpin kita dari semua bidang memang hanya memburu popularitas, harta dan kehormatan.. sementara tugasnya untuk melihat, meneliti, merasakan, dan memberikan keadilan, memberikan kemakmuran dan pendidikan, kesehatan …dll yang dibutuhkan oleh rakyat.. namun… semua nihil, hanya kami para kawula berjuang sendiri demi perbaikan negeri kami.. karena kami masih cinta negeri kami…, negeri kami bukan negeri bedebah.. namun yang tak mampu memegang amanah adalah yang memegang tampuk semua bidang, negeri kami adalah negeri asri.. dengan lembah seribu bunga…, nyiur melambai, pantai landai berpasir putih..indah asri bak taman para bidadari.., dan diperut bumi.. tersimpan harta warisan Ibu pertiwi…, namun semua hanya ilusi… , entah kapan buah simalakama tidak dimakan lagi…, karena buah Maja kini hanya tumbuh ditebing kali, maka kami akan menanam Maja disemua tempat di Nusantara ini… biar rakyat dan kami di negeri tahu.. bahwa buah Maja .. rasanya pahit.. namun sebenarnya adalah manis sekali.., yang sebenarnya pahit adalah manis, yang manis saat ini adalah pahit, ( yang hitam sbenarnya adalah putih, dan yang putih sebenarnya adalah hitam kelam..( Kidimas Tomy.)
    mugya kami – kami para pemuda negeri NKRI harga mati.., selalu menjaga akan keutuhan negeri, karena negeri ini hasil jerih payah leluhur kami, menyatukan dan membentuk nuswantara hingga kini seperti ini, membentang bak untaian mutiara berkilau indah menawan hati…, bagi kami yang sudah mulai menyadari bumi kami, negeri kami, NKRI kami… tercinta, bangkitlah.. menuju kejayaanmu kembali…, mari bersama sama kita usung negeri ini ke impian hati…, hingga wujud menjadi nyata.., sudahlah kita ndak usah menghujat para pemimpin kini…, karena bagaimanapun kita sumpah serapah, menghujat, misuh, dan mencaci maki.. toh tak kedengaran dan memang tidak akan didengarkan.
    matur sembah nuwun
    salam sihkatresnan
    rahayu..,

     
  16. cayoga

    November 18, 2009 at 2:28 am

    dalam minggu² ini saya sering sekali melihat buto cakil di tayangan televisi, buto cakil ini sering sekali muncul dalam acara² talk show dan selalu saja menjadi subjek penderita tetapi tetap saja tidak menyerah, apakah ini akan terus begitu? terus berulang? “selalu mati oleh kerisnya sendiri” akhirnya nanti bagaimana…?

     
  17. cayoga

    November 18, 2009 at 2:41 am

    maaf ketinggalan… lalu siapa sebenernya Togognya ini juga…?

     
  18. suprayitno

    November 18, 2009 at 2:57 am

    @katur yth. kadang hadi wirojati

    Panjenengan matur bilih :

    …….karena bagaimanapun kita sumpah serapah, menghujat, misuh, dan mencaci maki.. toh tak kedengaran dan memang tidak akan didengarkan.

    Saya simpulkan negeri ini sedang “sakit parah” yakni kehilangan “alat pendengaran” alias budeg atau tuli kemudian bisu.

    Negeri yang sakit tentu perlu segera diobati bukan dibirakan saja. Membiarkan negeri yang sakit sama saja dengan membiarkan negeri ini akan jatuh. Bila jatuh, bagaimana mungkin kita bisa memelihara NKRI dan Pancasila?

    Sekali lagi perlu saya ulangi bahwa sesungguhnya TIDAK ADA NEGARA YANG MISKIN, YANG ADA HANYALAH “SALAH KELOLA” SEHINGGA MENGAKIBATKAN JUTAAN RAKYAT MENJADI MISKIN”

    Nah siapa yang mengelola negeri ini, ya TENTUNYA DIALAH PARA PENGUASA yang harus BERDIRI PALING DEPAN UNTUK MEMULAI MENGUBAH PRILAKU DIRINYA LEBIH DULU.

    Sederhananya begini, pemimpin itu harus yang memulai dengan ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Nah apa jadinya ketika seorang pemimpin memberi suri tauladan yang buruk? maka akan ada istilah “guru kencing berdiri, murid kencing sambil berlari”.

    Rakyat yang tak punya kekuasaan apa-apa seperti kita, PASTI AKAN BERUBAH DENGAN SENDIRINYA manakala para pemimpin BERUBAH LEBIH DAHULU (ing ngarso sung tulodho).

    Persoalanya, bagimanakah cara yang paling efektif untuk mengubah mental dan moral para pemimpin kita? Dari yang semula serakah menjadi pribadi yang sederhana dan jujur, dari semula yang hanya mementingkan diri sendiri dan kelompoknya menjadi mementingkan RAKYAT. Begitu seterusnya.

    Saya kira mendiskusikan hal ini akan jauh lebih menarik, dari pada pasrah.

    salam

     
  19. hadi wirojati

    November 18, 2009 at 10:30 am

    pamuji rahayu…

    *Ingkang kinasih kadangku Ki Suprayitno,

    betul sekali pemaparan dan pemikiran penjenengan Ki…, kita wajib mengingatkan dan memang betul para pemimpin hendaknya sadar diri, tidak memelihara ego dan kehormatan yang berlebihan serta menjaga kewibawaan diri.. jangan hanya karena rakyat mengingatkan lantas merasa pamor dan kewibawaannya jatuh.. seharusnya memang seperti apa yang panjenengan tulis :

    **** Sederhananya begini, pemimpin itu harus yang memulai dengan ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Nah apa jadinya ketika seorang pemimpin memberi suri tauladan yang buruk? maka akan ada istilah “guru kencing berdiri, murid kencing sambil berlari”.

    Rakyat yang tak punya kekuasaan apa-apa seperti kita, PASTI AKAN BERUBAH DENGAN SENDIRINYA manakala para pemimpin BERUBAH LEBIH DAHULU (ing ngarso sung tulodho)***

    terus sampai kapan, kalau para pemimpin kini tidak pernah tahu keadan yang sebenarnya negeri ini .. apa yang harus kita perbuat.. sebagai rakyat.. paling hanya menunggu dan menunggu.., dan menunggu itu sangat menjenuhkan…, lebih baik kita yang segera berkiprah.. mulai memperbaiki dari lingkungan tempat kita, kalau jangkauan kita ke para pemimpin , kita hanya bisa mengkritik dan memberikan masukan lewat media yang ada.., supaya bisa dibaca, dipelajari, dikaji, lalu diterapkan.., banyak kaum muda yang kritis seperti panjenengan, nanging… kita tidak hanya berdiskusi dalam lingkup skala seperti ini.. apa tidak sebaiknya segera menyembuhkan negeri yang sakit, kita mulai cancut taliwanda dan menjadi pendega – pandega NKRI dan Pancasila.., mengganyang kedurjanaan, kedurmalaan, kedurmadian.., karena badan sakit rasanya tidak nyaman…, badan sakit.. maka semua komponen akan sakit.., hanya satu dari komponen yang selalu menjaga supaya badan segera sembuh dari sakit.. antibodi dan hati..,
    rasanya mengubah pribadi orang lain yang ambisi dan serakah sulit sekali Ki…, karena hati dan pikiran serta kesadarannya hanya dibungkus oleh ke – ego-an.., apa yang bisa kita lakukan untuk mengubah tabiat para pemimpin yang sudah dalam keadaan ” mumpung ” dan merekapun mempunyai ajian ini..,ajian ini sangat ampuh Ki.. tidak akan bergeming walau diseblak dan dicerca sana sini…tetap mentheles tatag tanggon…, karena sudah kekurung iga…,
    salam sihkatresnan
    rahayu..,

     
  20. suprayitno

    November 19, 2009 at 3:02 am

    Matur suwun pandangannya Ki Wiro,

    saya melalui LSM yang bergerak pada jurnalism dan educations watch sudah langsung berhadapan dengan “penguasa” dan berani secara terang-terangan yang salah kami nyatakan salah dan harus segera dikoreksi sesuai dengan Undang- Undang yang berlaku.

    Hasilnya sangat “bagus” tetapi itu hanya ibarat penyembuhan kasus per kasus tidak komprehensive (holistik). Dan terus terang dengan hasil yang sangat MINIMAL ini saya merasa kurang puas.

    Saya pernah mencoba untuk ikut mencalonkan diri menjadi Caleg untuk kota Semarang, tetapi ternyata bukan main susahnya. Sebab disitu ada money politics yang jelas saya tidak punya. Akhirnya saya tidak terpilih, yang terpilih MEWAKILI SUARA RAKYAT adalah mayoritas para PEDAGANG, yang segera ketika dia sudah dilantik akan menggelar barang dagangannya mengatasnamakan RAKYAT.

    Untuk menembus kebekuan itu saya pikir,kuncinya adalah setiap RAKYAT HARUS BERANI MELAWAN PENINDASAN TETAPI BERDASARKAN ILMU PENGETAHUAN (memahami hak sesuai Undang-Undang dan kewajiban sesuai dengan undang-undang juga).

    Jangan hanya PASRAH tetapi lawanlah dengan kecerdasan, keberanian, pengetahuan dan tentu saja harus berani menanggung risiko (berkorban). Pemerasan itu ada dimana-mana di jalan raya, di sekolah, dikantor-kantor pemerintah lainnya, di pasar, di Bank dan seterusnya.

    Keberanian yang digabung dengan kecerdasan, pengetahuan, dan pengorbanan serta nasionalism yang dahulu dilakukan oleh para pemberani yang cerdas itu akhirnya membawa hasil yakni negara Indonesia yang merdeka.

    Sekarang ketika negeri ini sudah merdeka tugas kita adalah MEWARISI SEMANGAT JUANG PARA PEMBERANI itu. Cuma meneruskan saja kan saya pikir lebih ringan.

    Begitu ya Ki…

    salam

     
  21. cayoga

    November 19, 2009 at 5:53 am

    hmmm… kata bokap… Togog itu mirip Anggo**… :Peace: ___________:ngacir:

    sekarang siapa Satria Janokonya ya…?

     
  22. hadi wirojati

    November 19, 2009 at 5:55 am

    pamuji rahayu…

    kadhang muda ingkang cerdas Ki Suprayitno..,

    sungguh luar biasa kiprah panjenengan Ki .. kangge negeri kita tercinta.. saya sebagai golongan sepuh, namung saged urun rembug ing madya mangun karsa tut wuri handayani…, walau kami kaum yang sudah terseok seok dalam ikut ndulit negeri, nanging tumpuan harapan kami pada kaum kaum muda yang kritis, cerdas dan berbudi pekerti luhur kadya panjenengan Ki…, pangestu dan donga serta sekuat tenaga kami, kami jadikan dukungan untuk nyengkuyung cita cita anak negeri dalam membangun, panjenengan dan kaum muda sebagai pandega yang cerdas dan pemberani tentunya harus bisa memperbaiki dan menjadikan negeri ini sehat lahir bathin…, yang dapat memberikan pengayoman dan memakmurkan serta mengerti akan keluhan dan kesengsaraan rakyat sehingga menjadi negeri yang .. Gemah ripah repeh rapih karta tata tur raharja, panjang dawa pocapane, punjung luhur kawibawane, adoh kuncarane kadya dek jaman keemasan nusawantara yang pernah menjadi negeri adi kuasa di tlatah benua Asia. tentunya tidak lupa selalu kembali kepada PANCASILA SEJARAH dan BUDAYA sendiri,

    matur sembah nuwun
    salam
    rahayu..,

     
  23. sikapsamin

    November 19, 2009 at 10:08 am

    Yth. Para Sedulur Sejati Tunggal-Sikep NKRI,

    Sangat sepakat dg pandangan mas Suprayitno, yang saya yakin banyak pandangan2 senada -kita harus ekstra cerdas- untuk bangkit menghapus carut-marut kemelut NKRI tercinta kita ini.
    Saya coba menyegarkan pada hal yang paling mendasar (menurut pandangan saya), yaitu : Kita -MASYARAKAT- harus menjadi SUBYEK/TITIK SENTRAL, yang MEMILIKI-IDEOLOGI, MEMILIKI-WILAYAH dan MEMILIKI-KEDAULATAN.
    Pilar-pilar inilah yang menjadi ‘tolak-ukur’ sebuah NEGARA-MERDEKA, yang akhirnya kita bisa memproklamirkan diri sebagai BANGSA-MERDEKA.
    Maaf saya agak meloncat, KEDAULATAN kita AMANATKAN dalam penjabaran dalam PILAR-PILAR SISTIM PENGELOLAAN NEGARA, yaitu Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif beserta seluruh strata jabatan yang disertakan didalamnya.
    Kesimpulan singkatnya adalah: “Seluruh Jabatan yang ada, baik Eksekutif, Legislatif maupun Yudikatif, SEJATINYA ADALAH AMANAT-KEDAULATAN BANGSA”.

    KEDAULATAN harus diimplementasikan dalam SEMUA SENDI KEHIDUPAN BANGSA YANG MERDEKA, yang bebas dari semua bentuk ANCAMAN STIGMA, spt Ekstremis, Kafir, Sesat dan semacamnya.
    Kita sebagai BANGSA-NUSWANTARA, sebagai ETNIS-TERTENTU dan DITANAH-AIR TERTENTU, adalah KETETAPAN HYANG MURBENG DUMADI.

    Kiranya sangat panjang bila dipaparkan secara detail, saya percaya para
    Sedulur sekapasitas dengan mas Suprayitno, sdh dapat menjabarkan
    kelanjutannya.

    Para Sedulur Tunggal-Sikep siap merapatkan barisan dalam Bhinneka Tunggal-Sikep, merajut dan merangkai Keutuhan Mosaik Zamrud Khatulistiwa, NKRI.

    Salam Ing Sejatining Seduluran
    Bhinneka Tunggal-Sikep
    Bakuh-Kukuh-Utuh…NKRI
    Samin adalah Sikap

     
  24. m4stono

    November 19, 2009 at 4:46 pm

    dulu waktu pemilu istilah cakil itu kepanjangannya “calon wakil” rakyat yg kampanye jor2an…kalo gak jadi ya masuk di pedurungan :mrgreen: sekarang yg dah jadi kita liat aja…apakah para anggota dewan yg terhormat itu ntar “mati” oleh kerisnya sendiri….kita tinggal menyaksikan saja mas sambil nyruput kopi, cemilan kacang dan ngudud rokok klembak menyan :mrgreen:

     
  25. suprayitno

    November 20, 2009 at 1:31 am

    Untuk Yth. Ki Sikapsamin,

    Kalau tidak salah Lord Acton menyatakan bahwa “power tends to corrupts” kekuasaan cenderung korups (busuk/jahat/mudah disuap).

    Oleh karena itu akhirnya kekuasaan atau power dalam suatu organisasi yang bernama negara harus dipecah-pecah supaya tidak menumpuk pada satu tangan (diktator/monarchi).

    Kita sepakat menggunakan trias politika, yakni ada tiga kekuasaan yang harus dipisah yakni kekuasaan membuat UU ada ditangan Legislatif, kekuasaan melaksanakan UU atau eksekutor ada ditangan eksekutif, dan kekuasaan dalam bidang peradilan ada ditangan Yudikatif.

    Sesungguhnya pembagian kekuasaan tsb sangat bagus, tetapi sayangnya di negeri kita, lagi-lagi “sistem yang bagus” ternyata tidak otomatis melahirkan kebijakan yang bagus.

    Ada banyak “distorsi” di sana, yakni terjadinya simbiosa mutualisme antara kekuasaan Legislatif, eksekutif dan yudikatif. Simbiosa mutualisma artinya terjadi “kolusi” untuk memperkaya diri atau kelompoknya, melalui kekuasaan masing-masing saling tekan dan saling memanfaatkan, baik secara politis, yuridis maupun ekonomis.

    Negara-negara lain yang menggunakan sistem sama dengan kita mungkin bisa jauh lebih tertib dan terkontrol karena fungsi masing-masing menjadi sangat jelas. Dan akhirnya bisa menjadi negara yang modern, sukses dan makmur dan sejahtera.

    Nah,mungkin negara kita tak akan pernah “beres” jika dipimpin oleh orang-orang yang tak beres juga.

    Sumongo kerso, negara kita adalah negara demokrasi, yang rakyatnya sesungguhnya memiliki persamaan hak untuk mengatur negeri ini bagaimana baiknya.

    Saya pikir, pemimpin yang tak beres adalah merupakan cerminan dari masyarakatnya yang tak beres juga. Karena siapakah yang telah melahirkan pemimpin-pemimpin itu kalau bukan rakyatnya sendiri? Melalui Pilkada dan Pemilu?????

    Salahkah rakyat, yang telah dengan sengaja memilih wakilnya/pemimpinnya dengan pertimbangan pragmatisme/motivasi demi uang, yang akhirnya melahirkan pemimpin yang tak beres?

    Mohon diskusi dilanjutkan.

    Suwun.

     
  26. sikapsamin

    November 21, 2009 at 4:13 am

    Yth. Kimas Suprayitno,

    …kekuasaan cenderung korup…

    Makanya, mari kita mulai ‘menghapus kekuasaan’.
    Caranya, dalam tulis/tutur-kata sehari-hari mulai kita hindari penggunaan kata ‘kekuasaan’, misanya kita ganti dengan lembaga, pelaksana, pengelola (Negara, Hukum, Perundang-Undangan dsb).

    Contoh lain(agak OOT), kita Ganyang ‘Malaysia’. Bukan harus angkat senjata, cukup dalam tulis/tutur-kata sehari-hari kita biasakan dengan kata Semenanjung/Tanah Melayu, Singapura kita biasakan dengan Tumasik.
    Dimulai dari diri kita dalam kegiatan diskusi sehari-hari.

    Yang justru sangat penting(menurut saya), adalah JASMERAH. Dengan tetap mengenakan JASMERAH, rentang-jangkau memori kita bisa sangat panjang. Dengan bercermin pada masa lalu, kita dapat merencanakan arah-langkah kedepan. Dan ini berarti peningkatan kecerdasan, kecermatan, kejelian dan ketajaman, akan kita peroleh.
    Contoh untuk ini adalah, pembalakan-hutan yang luar biasa yang kemudian diikuti dengan gerakan menanam satujuta-pohon. Fenomena ini jika kita refleksikan melalui JASMERAH, kita mendapat per’ingat’an..oo dulu jaman penjajahan/penjarahan, leluhur kita pernah mengalami ‘SIKSAAN TANAM PAKSA’. Kembali pada Gerakan Menanam Sejuta Pohon, mari kita proyeksikan dalam rentang (35 – 70)th kedepan. Apabila nanti terjadi lagi pembalakan, berarti terulang Gerakan Tanam Paksa.
    Berkait pembalakan(dan teror), diberbagai komen saya malah menggunakan ungkapan “PEMBALAK/TERORIST MULTI-DIMENSI”

    Anekdot yang sudah muncul berkait carut-marut NKRI saat ini adalah “kapan ya kemerdekaan ini berakhir?”. Saya malah menanggapi “ooo…penjajahan berganti nama kemerdekaan to?”.

    Apalah arti sebuah nama?…kelihatan sepele, tapi penuh racun.

    Nama saya sikapsamin, apa image/kesan yang muncul dari ‘nama’ tsb.
    Kemudian dari nama ‘Ming Gie Jun’ sebagai nama-alias sikapsamin, pasti muncul image/kesan lain lagi…(Padahal Ming Gie Jun adalah MINGgu leGIE bulan JUNi).
    Mari kita refleksikan pada nama ANG GOdo WIjoyo, misalnya.
    Itulah “racun” dari ungkapan “apalah arti sebuah Nama?”.
    Terjadi PEMBALAKAN NAMA ETNIS TERTENTU.

    Pembalakan dibidang Moneter/Perbankan -BLBI, CENTURY-, saya malah ingat kekejian GENGHIS KHAN/KHUBLAI KHAN dimasa lalu.

    Silahkan kimas Suprayitno dipun lanjut…
    Mohon koreksi dan maaf bila Ada yang kurang pas

    Salam…JASMERAH
    Bhinneka Tunggal-Sikep
    Bakuh-Kukuh-Utuh…NKRI
    Samin adalah Sikap

     
  27. cayoga

    November 26, 2009 at 4:58 am

    yg penting tuh buto cakil dah diganti…. :D :Peace:
    tinggal togognya nih…. :p

     
  28. tomy

    November 26, 2009 at 6:14 am

    Tinggal kita yang harus bergelut dengan cakil-cakil didalam diri :D
    menurut saya sendiri Togog adalah tokoh yang konsisten dengan tugasnya meski hasilnya akan tetap sama, orang atau manusia yang diemong agar berjalan lurus tetap akan melakukan perbuatan jahat :mrgreen:

     
  29. suprayitno

    November 27, 2009 at 1:41 pm

    Betul mas tomy,

    setahuku, Togog gak pernah menasihati ndoronya untuk berbuat curang, makanya Togog juga sering dimarahi, tetapi dia tetap tidak peduli.

    Tetapi benar juga, Togog adalah informan atau sumber informasi yang sering ditanyai ndoronya.

    Togog memberi informasai karena memang tugasnya, tetapi sekali-kali togog tidak pernah “menganjurkan” kejahatan, meskipun dia selalu nderekke bos yang jahat.

    Ini sebetulnya cuma gambaran saja, yakni bahwa di dalam kejahatan sesungguhnya ada “nur kebaikan (Togog)” yang selalu mengikuti, cuma tinggal si jahat itu mau tetap berbuat jahat atau mau menuruti bisikan nur kebaikan.

    Itu tafsirku doang sih, gimana menurut tafsir mas tomy?

     
  30. tomy

    Desember 2, 2009 at 12:31 am

    Maaf Mas baru bisa online skaranag karena keadaan :D
    Bagi saya kalau memang penguasa tidak mau mendengar kata punakawan atau rakyat, ya sikap yang bisa kita lakukan ya menjadi togog sarahita, jlomprongake sekalian
    :mrgreen:

     
  31. sikapsamin

    Desember 2, 2009 at 2:34 pm

    …kalau penguasa tidak mau mendengar suara punokawan atau rakyat ….jlomprongake sekalian.

    Lha…iki mathuk tenan mas Tomy,
    Jlomprongake… kursinya kita cabut/duduki…

    Bahasa konstitusinya, KITA CABUT AMANAT-KEDAULATAN yang kita percayakan kepada para pejabat/penguasa baik dilingkungan Eksekutif, Legislatif maupun Yudikatif.
    Kita telah MENJADI BANGSA SAKSI-KURBAN DARI SEBUAH ANARKHISME TINGKAT ELIT.

    KITA BERSIHKAN BHUMI-PERTIWI NKRI DARI PARA PEMBALAK/TERORIS MULTI-DIMENSI.

     
  32. m4stono

    Desember 4, 2009 at 12:44 am

    tapi kalo njlomprongke dengan menjorokkan keknya bukan domain budayawan deh…haalaah…..

    seperti kalo imam sholat bacaannya salah maka makmum dibelakangnya harus membetulkan bacaannya bukannya malah ngatain “minggir mam, nek ra gelem tak plorotke sarungmu lho” :mrgreen:

     
  33. sikapsamin

    Desember 5, 2009 at 2:44 am

    Lha…gimana lagi?!?
    Para makmumnya gonta-ganti sajadah kardus/koran bekas, berkali-kali diobrak-abrik satpol-tramtib.., sementara imamnya njegidheg/njubleg nggak mau tahu, harusnya diapake jal..?!?

    Btw…aku kok merasa dioyak-oyak Kumbokarno ya… Ben, saya coba pancing ke SANGIRAN, biar dikemah-kemah Danhyang e Sangiran, baru kapok…
    Mbah..,Kumbokarno ngoyak mbah…(mblayuuu…….)

    Salam…Danhyang SANGIRAN

     
  34. m4stono

    Desember 5, 2009 at 7:24 am

    wakakakakakakak…kumbokarno ke sangiran naek apa yah…naek ojek nyampe nggak…hihihihihihi

    kita itu dari waktu ke waktu dah ganti2 pemimpin tapi hasilnya sama saja, kalo misal SBY dijlomprongke ntar yg jadi siapa?? megawati? prabowo? wiranto? ato mas tommy aja yaa, ntar saya dukung 1000 % kalo hasilnya harus lebih baik tapi kalo sama saja ya dijlomprongke juga :mrgreen:

    caranya gimana kalo menurut saya melalui revolusi spiritual tanpa darah dan korban, kalo mau bikin unjuk rasa rosa besar2an lalu ujung2nya rusuh ya sama saja menjadi anak buah buto rambut geni

     
  35. tomy

    Desember 7, 2009 at 1:30 am

    hehehe….
    Kalau menurut Mas Prayit saya ini contoh manusia yang terjebak budaya mistis, ya saya harus mau mengakuinya :mrgeen:
    Karena ibarat politikus saya ini khan politikus dhemit
    Belajar politik dari para dhemit
    Dhemit itu khan lebih jujur dari para manusia, maka bicaranya ya apa adanya
    Dari para dhemit itulah istilah njlomprongake muncul, khan banyak manusia bilang dia suka dijlomprongake dhemit :D
    Njlomprongake disini maksudnya dilulu, diuja, hingga harus berhadapan dengan kebenaran yang dalam wayang direpresentasikan sebagai satriya pilih tanding
    Maka para Dur-Dur akan dihadapkan pada perang tanding, jadi Si Punokawan ini sanadyan hamung priyangga prasasat hangadu jalmi

    Bila diibaratkan Hastina harus kembali ke tangan Pandawa setelah masa pembuangan kalah dadu usai
    Harusnya ada yang Prabu Matswapati dari Kerajaan Wiratha yang menjadi sponsor Pandawa merebut kembali tahta
    Namun kalaupun Prabu Matswapati yang sedang pada mengusung hak angket ini malah cidra ing janji, para dhemit berjanji akan menggelar perang Sirullah, revolusi manusia oleh alam

    Hingga manusia bersama menyenandungkan lagunya Kang Ebiet yang berjudul Perjalanan

    Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah & bangga akan dosa-dosa
    Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
    Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang

    Ya memang suket godhong kayu watu yang akan bangkit berperang, kesandung wae nemahi lena
    Salam dedhemitan

     
  36. m4stono

    Desember 7, 2009 at 2:25 am

    @ mas tomy

    nyuwun ginging pangaksami lho panjenengan buat conto….estu mung gojekan ben gayeng le cecaturan….

    kalo saya lain lagi, politikus bukan, pekerja kantoran bukan, pedagang/saudagar bukan….wong cuman buto bocor alus, makan tidur be’ol ngudud karo ngalamun…hihihihihi….dulu niatnya pasang internet mo ngasih pencerahan…halaah…ala bocor alus saya :mrgreen: tapi kok lama2 mbak miyabi jadi katut, akhirnya terjebak “vest of interest” antara ngeblok ato nurutin mbak miyabi, jadinya ya saya buto kenya wandu bocor alus… :mrgreen:

    salam bocor alus

     
  37. tomy

    Desember 7, 2009 at 2:48 am

    Loh itu tadi nama saya yang dicatut tho
    tak kirain Tommy yang lainnya lagi kayak Tommy Suharto atau Tommy Winata atau Tom Cruise *weleh…weleh sing jenenge Tomy kuwi kok mesti ngganteng2 ya* :mrgreen:

    lha saya dulu taunya internet khan sebenarnya ingin lebih mengenal dunia kaum putri makanya ya saya cari situs Pondokputri
    lha terus kok ketemu yang namanya blog seperti ini, jadi banyak ketemu teman sebocor alus buat curhat nggak lagi curhot, meski kadang *apa sering ya* masih suka maen ke pondoknya si putri

    hehehehe…. pis Kang :D

     
  38. m4stono

    Desember 7, 2009 at 6:30 am

    walah kok ngingetin saya dgn situs pondokputri yah :mrgreen: dulu waktu jamannya internet ndak enak alias mahal bin lemot…..gimana ya kabarnya situs itu… :mrgreen:

    ya dunia ini memang penuh dengan dualitas antara baik dan jahat, contohnya ya seperti kita2 ini, niatnya awal2 baik tapi lama2 kecampuran juga sama yg “ndak baik” ….tapi akhirnya saya menemukan formula yg manjur2 nggak, biarlah racun itu nggedibal ditubuh saya setebal mungkin hingga berkarat ntar lama2 saya kebal sendiri dgn racun2 tsb ato jangan2 malah tambah ndadi dan kecanduan yah :mrgreen: lha gimana lagi je, mo dihindari aja susah apalagi menahan utk tidak ingin ini lebih susah….solusinya ya pake metode biarinisme ala gusdur……

    asal kalo kita bisa menemukan gantinya yg lebih baik ntar juga lama2 hilang sendiri, ibarat pentium I ntar kalo diganti dgn intel core i9 juga yg pentium I ditinggal dgn sendirinya….halaah mbandinginnya kejauhen :mrgreen:

     
  39. cayoga

    April 22, 2010 at 1:50 am

    mohon pencerahan..

    setelah perang kembang, kemudian perang apalagi yg diperankan cakil dan togog…?

    sepertinya sekarang cakil dan togog memasuki babak baru…

     
  40. pelajar badung

    Februari 10, 2012 at 5:08 pm

    keren kang…. :D ijin kopas gan….

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: