SUMPAH BUDAYA

Standar

SUMPAH BUDAYA
Selasa 27 Oktober 2009

garuda-pancasilaGlobalisasi di ranah ide, gagasan, ilmu pengetahuan yang diiringi dengan teknologi berkembang amat pesat. Lebih cepat dari kemampuan manusia untuk merenungkan apa hakikat semuanya untuk kemanfaatan hidup. Orang tidak lagi disibukkan dengan pertanyaan untuk apa kita memiliki ilmu, pengetahuan dan teknologi. Namun lebih menekankan pada fungsi-fungsi kemanfaatan/pragmatisnya semata. Semua pada akhirnya mengikuti arus globalisasi secara latah dan masa bodoh dengan hakikat progress/kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahwa hakikat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk penyempurnaan proses hidup manusia menuju kesatuan dan keserasian lahir batin, jiwa dan raga.

Budaya Populer adalah budaya yang berada di pusaran arus global. Sayangnya, perkembangan budaya global justeru mematikan budaya-budaya nasional dan budaya lokal yang ada. Budaya lokal secara substansial tidak mengalami kemajuan yang berarti kecuali hanya untuk sarana komoditas ekonomi dan turisme saja. Budaya yang merupakan hasil manusia untuk mengolah daya cipta, rasa dan karsa berdasarkan atas kehendak dan keinginan masing-masing individu dalam sebuah wilayah tidak mampu lagi dianggap sebagai sebuah kearifan.

Individu yang berada di ruang-ruang budaya pun menjadi tumpul oleh arus pragmatis budaya global yang mungkin dipandang lebih menarik, mudah, cepat dan efisien. Para pengambil kebijakan tidak lagi memiliki semangat yang menyala untuk nguri-uri kebudayaan lokalnya. Apalagi bila semua pihak tidak mendukung lahirnya kreativitas-kreativitas baru berkebudayaan dan berkesenian.

Ini adalah situasi di mana kita mengalami sebuah Degradasi Budaya bahkan kehancuran sistematis budaya lokal. Bhinneka Tunggal Ika sebagai semangat berbudaya dalam rangka kebersatuan berbagai budaya lokal untuk maju dalam frame bangsa dan negara pun hanya sebagai slogan yang kini semakin dilupakan.

Tumbuh berkembang serta kemajuan sebuah budaya ditentukan pada bagaimana kita semua merespon dan menjawab tantangan-tantangan budaya global. Respon dan jawabannya adalah agar kita kembali kreatif, inovatif dan menciptakan wilayah-wilayah perjuangan budaya yang mampu menjadi alternatif budaya global yang terbukti tidak memiliki “ruh” kemanusiaan yang utuh.

Justeru pada budaya lokal, kita menemukan kembali “ruh” kemanusiaan itu. Ruh yang akan menyinari individu agar bisa bergerak secara harmonis antara individu dengan individu yang lain, antara individu dengan alam semesta, bahkan antara individu dengan dirinya sendiri sehingga nantinya individu tersebut akan menemukan diri sejati yang merupakan wakil Tuhan di alam semesta.

Siapa yang harus memulai untuk melakukan penyadaran adanya degradasi budaya ini? Sebuah fakta sejarah terjadi pada 28 Oktober 1928 saat para pemuda mengikrarkan Sumpah Pemuda. Intisari dan hakikat dari Sumpah Pemuda adalah kesadaran bahwa semua elemen bangsa harusnya memiliki kehendak, keinginan, cita-cita yang sama untuk mewujudkan sebuah kesatuan wahana dan ruang kreativitas dan kebebasan ekspresi yang berbeda-beda.

Jembatan untuk memasuki wahana persatuan dan kesatuan tersebut adalah tanah air, bangsa dan bahasa. Setiap babakan sejarah, pemuda selalu menjadi motor penggerak perubahan zaman. Sejarah telah menegaskan tentang kepeloporan pemuda di era kolonial hingga era perjuangan kemerdekaan bahkan di era reformasi. Perjuangan pemuda selalu dihadapkan pada tantangan hambatan dan kesulitan, bahkan darah dan airmata menjadi taruhan.

Di era masa lalu, gerakan kepemudaan lebih berorientasi pada bidang politik. Kini tantangan kaum muda masa kini justeru lebih banyak berupa rongrongan budaya global yang sangat berpengaruh pada pola pikir dan gaya hidup mereka sehingga harusnya gerakan kepemudaan kini lebih diorientasikan pada bidang budaya local (local wisdom).

Pemuda harus memiliki semangat untuk bersatu, lepas dari penindasan dan penguasaan budaya global. Kita berharap agar bangsa Indonesia bisa menghidupkan kembali budaya-budaya lokal yang ada sehingga nanti terwujud bangsa yang maju berkembang tanpa kehilangan jati dirinya. Kita buka mata dan hati kita, lihatlah bangsa India, Cina, Jepang, Thailand, dan Korea telah membuktikan sendiri. Bangsa yang meninggalkan pola hidup taklid hanya ikut-ikutan, ela-elu. Kini telah tumbuh menjadi macan Asia, dihormati dan segani masyarakat dunia, bangkit meraih kejayaan dengan berlandaskan loyalitasnya terhadap nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) yang terdapat dalam tradisi dan budayanya. Bangsa yang tahu karakter diri sejatinya, sangat tahu tindakan apa yang harus dilakukannya. Sementara itu, bangsa kita lebih kaya akan ragam budaya dan kearifan local. Didukung sumber daya alam, kita akan mampu menjadi bangsa yang lebih jayaraya dari bangsa-bangsa tersebut.

Sumpah Pemuda merupakan momentum yang berhasil menyatukan pemuda se-Indonesia dalam satu ikatan kebangsaan, perasaan senasib, sepenanggungan yang diderita oleh pemuda khususnya, telah memberikan kesadaran kritis terhadap situasi yang dihadapinya yaitu adanya sebagai tantangan bersama telah membangkitkan kesadaran kolektif pemuda untuk melawan penindasan budaya global. Diperlukan gerakan massif untuk menghidupkan kembali budaya-budaya lokal (baca; kearifan lokal) di tanah air secara terus menerus sebagai bentuk nyata dari perjuangan kaum muda.

Perjuangan kaum muda di bidang budaya diharapkan akan membawa perubahan sosial yang mendalam bagi masyarakat, terutama di bidang pendidikan. Dari pendidikan ini muncullah pejuang-pejuang muda yang kaya akan ide dan konsep untuk melawan budaya global.

Untuk mewujudkan ide tersebut maka dengan ini kami menyerukan kapada SEMUA PEMUDA DI TANAH AIR untuk bersatu dalam gerakan SUMPAH BUDAYA 2009:

  1. MENGHIDUPKAN KEMBALI BUDAYA DAERAH SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN BUDAYA NUSANTARA
  2. MENJADIKAN BUDAYA DAERAH SEBAGAI DASAR PIJAKAN IDE-IDE KREATIF PEMBANGUNAN
  3. MENGEMBANGKAN KEARIFAN BUDAYA DAERAH SEBAGAI NILAI-NILAI PEMBANGUNAN NASIONAL
  4. MENGEMBANGKAN NILAI-NILAI MORAL, MENTAL DAN AJARAN HIDUP BERMASYARAKAT YANG ADA DI BUDAYA DAERAH DALAM RANGKA MENDUKUNG PERKEMBANGAN BUDAYA NUSANTARA.
  5. MENGURANGI PENGARUH NEGATIF BUDAYA GLOBAL DENGAN MENGEMBANGKAN BUDAYA NUSANTARA

MOTTO :

THINK LOCALLY ACT GLOBALLY !!

SUMPAH BUDAYA

BERBUDAYA SATU, BUDAYA NUSANTARA

BERJATI DIRI SATU, JATI DIRI BANGSA INDONESIA

KASIH SAYANG SATU, KASIH SAYANG LINTAS AGAMA

Indonesia, 28 Oktober 2009

Tertanda:

  1. KI WONGALUS
  2. KI ALANG ALANG KUMITIR
  3. KI SABDALANGIT
  4. KI AGUNG HUPUDHIO
  5. TOMYARJUNANTO

29 responses »

  1. Assalamu alaykum Wr. Wb.

    Wahai saudaraku dimanapun kalian berada!
    Sudah saatnya bagi kita, para pemuda, untuk memenuhi sumpah yang telah kita buat!
    Sumpah suci yang telah kita ikrarkan dengan sepenuh hati!
    Sumpah suci yang akan menjadi saksi kita di hadapan Sang Maha Pencipta!

    “Asyhadu An-Laa Ilâha Illallâh!
    Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullâh!”
    “Saya bersumpah bahwa tiada Illah selain Allah!
    Dan saya bersumpah bahwa Muhammad adalah Utusan Allah!”

    Kami, para pemuda muslim di tanah Indonesia, dengan ini mengaku
    ber-Illah yang satu, Allah SWT!
    berkitab yang satu, Al Qur’anul Karim!
    menjunjung tinggi hukum yang satu, Syariah Islamiah!

    Wahai saudaraku dimanapun kalian berada!
    Camkanlah ini dalam dadamu!
    Penuhilah sumpahmu!
    Kuatkanlah tekadmu!
    Serta raihlah kemenanganmu!

    Semoga Allah senantiasa meridhomu!

    Wassalamu alaykum Wr. Wb.

    _____________________________________
    INDONESIA GO KHILAFAH 2010
    “Begin the Revolution with Basmallah”

    • Wah gagah banget slogannya,……….
      tapi kalau hanya slogan lama-lama bisa musnah esensinya, yang tinggal hanyalah faham-faham golongan yang bercorak beraneka warna, tak menentu.
      Sedang Kekhalifahan itu harus ditandai oleh bersatunya umat, apa mampu ???.

  2. Salam Persatuan Kepada Saudaraku Semua

    Kebanggaan Sebagai Anak Negeri. Jiwa Persatuan sebagai Bangsa Indonesia akan selalu tergurat di dalam diri. Tekad dan Harapan Menjadi Negeri Yang Besar tak akan pernah pudar oleh apapun. Semua berpadu menjadi sebuah Harapan yang bersandar pada Sosok Sang Pemimpin. Sang Pemimpin yang mampu mewujudkan semua itu. Sang Pemimpin Harapan Kita. Harapan Bangsa dan negeri Indonesia.
    Biarkanlah harapan itu selalu tersemai dengan indah. Dan akan kita wujudkan bersama satu saat nanti. Harapan itu pulalah yang mengiringi untaian kata-kata dalam tulisan dibawah ini yang terangkai dalam beberapa bagian. Bagian awal (BabI) akan ku sampaikan saat ini sedangkan bagian lainnya akan kusampaikan kemudian. Dan aku berharap saudaraku semua akan berbagi, menebarkan dan menyampaikannya pula kepada yang lain. Agar Kita dapat merasakan dan meyakini bahwa Harapan itu masih ada dan kelak … akan terwujud.

    KUTEMUKAN SOSOK
    … “SANG PEMIMPIN BESAR” …

    BAB I
    INDONESIA DAN SANG PEMIMPIN BESAR

    Indonesia bagaikan sebuah Permata Berkilau dalam jagat raya kehidupan. Sebuah Permata terindah yang sesungguhnya begitu mempesona, menawan mata hati dan jiwa siapapun yang memandang. Namun sayangnya Kilau Permata itu belumlah mampu memancar dengan sempurna. Sebagian kilaunya masihlah terpendam belum terpendar keindahan sesungguhnya.

    Itulah Indonesiaku negeri kebanggaanku. Negeri yang telah memberikan nafas kehidupan. Walaupun sebahagian kilaunya masih terpendam namun aku menyakini bahwa sebuah Permata tetaplah Permata sampai kapanpun. Dan pada saatnya nanti kilau keindahan sesungguhnya pasti akan memancar.

    Bila saat itu tiba maka siapapun yang memandang akan terpukau, mengagumi bahkan bergetar hatinya karena memandang keindahan dan kebesaran Indonesiaku yang sesungguhnya.

    Indonesia … Keindahannya tak akan pernah cukup untuk dilukiskan dengan berjuta untaian kata sekalipun.

    Indonesia … Kebesarannya tak akan terwakilkan dengan goresan tangan siapapun jua.

    Indonesia … Warna-warni Keragaman Pesona dan Budayanya tak akan mungkin tergantikan oleh sapuan kuas apapun.

    Indonesia Permata Beribu Pulau terpagari oleh tonggak-tonggak Kegagahan Anak-anak negerinya, terpoles Sempurna dengan Keindahan Artistik Alamnya.

    Dan sampai kapanpun Indonesiaku adalah Indonesia … Sang Permata Berkilau di semesta ini.

    Karena memang Indonesiaku adalah Guratan Sempurna. Maha Karya Terindah Guratan Tangan dari Sang Maha Kuasa.

    Itulah Indonesiaku … aliran darahku, helaan napasku, hakikat dan jiwaku sebagai Anak Negeri.

    Dan aku hanyalah salah satu dari anak-anak negeri Indonesia yang selalu berharap Maha Karya Terindah ini akan selalu terjaga sepanjang masa. Selalu berharap dan siap melakukan apapun demi untuk melihat Kilau Permata Indonesiaku tercinta selalu terpendar, tak akan pernah padam oleh siapapun atau apapun.

    Kilau Keindahan, Kilau Kebesaran yang akan selalu ditopang oleh setiap rakyat dan seluruh anak-anak negeri Indonesia yang tentunya berada dalam satu arahan, satu tuntunan dan satu rengkuhan yang akan selalu menaungi, menjaga hingga menghantarkan Perjalanan Sejarah Bangsa dan Negeri Indonesiaku ini. Dan itu akan berpuncak kepada satu figur Pemimpinnya.

    Dan aku hanyalah satu dari begitu banyak rakyat di negeri ini yang berharap menemukan dan memiliki sosok Pemimpin Terbaik. Pemimpin Terbaik yang mampu memimpin dalam arti sesungguhnya. Memimpin untuk dapat melajukan Kapal Kehidupan Negeri ini, menghindari karang-karang terjal ataupun menghadapi garangnya ombak kehidupan hingga kapal ini dapat terus melaju dan pada akhirnya mengembangkan Layar Kehormatan dan Kebanggaan sebagai Bangsa dan Negeri Indonesia.

    Seorang Pemimpin yang mampu menempatkan Bangsa dan Negeri ini untuk berdiri sama tegak bahkan melampaui bangsa-bangsa dan negeri lain.

    Seorang Pemimpin yang memiliki Kharisma Kepemimpinan yang sejati hingga mampu menerpa dan menyentuh setiap rakyatnya, menunjukkan kegagahan diantara pemimpi-pemimpin bangsa manapun hingga mampu menghantarkan bangsa ini ke Puncak Kehormatan, menggenggam Harkat dan Martabat sebagai Bangsa yang Besar.

    Pemimpin yang siap mempersembahkan segala hal terbaik yang dimiliki, berjuang dan mengabdi hanya untuk Sang Pertiwi. Berjuang tanpa pamrih hanya atas dasar tekad dan kesungguhannya sebagai Anak Negeri yang tengah memimpin Bangsa dan Negerinya.

    Pemimpin yang akan selalu dihormati dengan hati karena dirinya adalah Simbol Kebanggaan Rakyatnya.

    Dan untuk menjalankan kepemimpinan itu tentunya membutuhkan seorang
    Pemimpin yang memiliki dasar dan arahan langkah untuk berpijak, memiliki pengetahuan kehidupan, kemampuan untuk membimbing dan mengarahkan kepada satu tujuan besar.

    Karena hanya Pemimpin yang berkharisma, memiliki kemampuan dan dasar pijakan langkah yang kuat yang akan mampu membentuk dan melahirkan anak-anak Negeri yang gagah dan berkarakter yang akan membuat siapapun di negeri ini menepuk dada menunjuk dengan bangga sebagai Rakyat Indonesia.

    Sebuah Seruan Kegagahan yang “berisi” bukan hanya slogan semata. Sebuah seruan yang akan membahana di angkasa raya dan hanya mungkin terwujud dengan sentuhan tangan yang tepat dari Pemimpin Terbaik.

    Itulah harapanku, harapan saudaraku seluruh Rakyat Indonesia. Namun akankah sekeping harapan itu yang selalu berusaha untuk kita jaga akan bisa terwujud?

    Akankah harapan itu tetap mampu bersinar dan menggapai suatu hasil terbaik seperti yang kita harapkan?

    Mungkinkah kita dapat berjumpa dengan seorang Pemimpin yang memang memiliki sebuah tekad dan kesunggguhan untuk memimpin dengan sepenuh hati, berjuang tanpa pamrih, mempersembahkan dan mengorbankan segala kelebihan yang dimiliki hanya untuk Kebesaran dan Kehormatan Negeri Indonesia tercinta ini?

    Ach ……sepertinya semua itu bagaikan mimpi disiang hari, bagaikan pungguk merindukan bulan. Akankah menjadi nyata? Akankah semua itu hanya tetap berakhir menjadi impian kosong?

    Karena seiring waktu yang berputar, disadari atau tidak perlahan-lahan harapan itu seakan seperti memudar karena tak kunjung berjumpa sosok Pemimpin yang diharapkan.

    Siapapun bisa dan mampu duduk diatas kursi kepemimpinan namun tidak semuanya mampu menjadi seorang Pemimpin.

    Sering kali yang terlantun hanyalah bermanis kata, menunjukkan pesona bahkan perhatian tapi semua hanyalah sesaat demi meraih kepentingan dan keuntungan untuk diri mereka. Bukan untuk kita, bukan untuk Rakyat dan Negeri Indonesia.

    Rasanya lelah menanti, lelah berharap tanpa ada setitik cahaya yang memungkinkan semua itu bisa terwujud. Dan disaat sisa-sisa helaan nafas harapan semakin menipis, disaat keinginan dan cita-cita seakan begitu jauh untuk digapai, disaat rasa lelah menyergap begitu kuat dihati ini. Dan disaat kepiluan semakin menyengat ketika memandang satu demi satu Kebesaran Negeri ini meredup, terenggut, terampas tanpa mampu berbuat apapun.

    Kebesaran Negeri yang tak dipandang atau bahkan sengaja dicoreng oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab.

    kebesaran Negeri yang dinodai, terampas dan terenggut oleh keculasan bangsa dan negeri lain, yang semuanya bermula atau sebenarnya didasari karena tidak mampu menerima, berlapang dada memandang Kebesaran, Keindahan ataupun Kemakmuran bangsa dan negeri ini hingga dengan berbagai cara menginginkan pula untuk mampu memiliki dengan meninggalkan goresan tajam kepahitan untuk bangsa dan negeri ini.

    Mereka yang bukan apa-apa, bukan siapa-siapa tapi berlagak seolah mengetahui dan lebih memiliki kuasa untuk menentukan sesuatu atas diri bangsa dan negeri ini.

    Apakah Kebesaran Bangsa dan Negeri ini yang terlalu melimpah? Hingga kita tak mampu menjaganya dengan baik?.

    Ataukah para sosok-sosok yang seharusnya menjaga dan menjadi rantai rantai pengokoh, menaungi dengan kegagahan namun tak mampu menjaga Kebesaran Bangsa dan Negeri ini dengan sepenuh hati?
    Atau apakah karena memang tak mampu untuk melakukannya?

    Belum lagi Kebesaran Bangsa dan Negeri ini yang turut tercoreng, yang diredupkan oleh sesama anak negeri sendiri, sesama saudara sejiwa yang seharusnya saling menjaga, tapi karena ego dan kepentingan sendiri melupakan bahwa kehidupan yang mengalir didalam dirinya adalah merupakan pemberian dari Sang Bumi Pertiwi.

    Hingga disengaja ataupun tidak justru ada sesama anak negeri yang menancapkan sembilu duka pada Sang Pertiwi.

    Bila kebesaran tak mampu lagi memancar, maka harga diri dan martabat pun turutlah redup karena terinjak-injak oleh tangan-tangan dari bangsa bangsa lain yang memandang sebelah mata, menganggap seolah tak berarti bahkan nyatanya ada pandangan yang menganggap kita sebagai bangsa pecundang.

    Siapakah yang seharusnya maju dan berdiri didepan menghadapi semua hal yang datang untuk meredupkan Kebesaran Negeri ini?

    Rakyatnya yang tak mampu bersatu ataukah Pemimpinnya yang tak mampu menyatukan?

    Rakyatnya yang kehilangan arah ataukah Pemimpinnya yang tak mampu menuntun, menunjukkan hingga menghantarkan apa yang harus dilakukan untuk tetap menjaga dan membuat Kilau Kebesaran itu selalu terpancar.

    Bagaimanapun sebagai rakyat maka langkah-langkah kaki anak negeri Indonesia ini akan mengarah dan mengikuti jejak langkah yang ditunjukkan oleh sang Pemimpinnya.

    Lalu bagaimana jadinya bila sosok yang dijadikan panutan, sosok yang memimpin, namun dirinya sendiri tidaklah mengetahui arah mana yang harus dituju atau langkah apa yang tepat yang harus dilakukan.

    Maka akan menuju kemanakah Kapal Kehidupan Bangsa ini? Terus melaju ataukah terpuruk?

    Lalu apakah kita diam melihat semua itu? Akankah kita biarkan Kebesaran dan Kejayaan yang seharusnya bersinar, pudar, hilang dan terenggut begitu saja?

    Relakah kita melihat Bangsa dan Negeri yang kita cintai, para generasi-generasi penerus yang kita kasihi hanya mendapatkan sisa-sisa dari kehormatan yang seharusnya semakin lama semakin mencapai puncak, dan pada akhirnya hanya akan dianggap menjadi bangsa dari generasi yang tanpa arti.

    Yach …..jawabnya tidak!!! Dan siapapun kita sebagai Rakyat Indonesia tidak akan pernah rela bila harga diri diinjak apalagi dianggap sebagai bangsa pecundang.

    Kita pasti akan siap berdiri gagah menghadapi siapapun atau apapun. Kita pasti akan siap berdiri gagah, mengepalkan tangan bahkan menunjuk hidung, menghadapi siapapun atau apapun yang hendak mencabik harga diri sebagai Bangsa Indonesia.

    Kita siap mencucurkan peluh, mencurahkan segala daya, mewarnai dengan Aliran Darah Keberanian dan Kesucian Hati, demi untuk memandang Sang Merah Putih selalu Berkibar dengan Gagah.

    Kita adalah Ksatria Negeri, yang selalu siap menyatukan jiwa, mempersembahkan segala hal yang terbaik, menggemakan dengan lantang Kehormatan Sang Pertiwi.

    Namun sekali lagi semua harapan itu, semua semangat dan tekad itu seolah bagaikan berlalu begitu saja.

    Tekad, Keinginan dan Semangat Berkobar. Namun tanpa ada satu sentuhan dari seorang Pemimpin yang tepat, yang mengarahkan langkah kita maka kita bagaikan kehilangan arah, terpecah sendiri, bagai kehilangan Satu Tujuan Hidup Berbangsa dan Bernegara yang seharusnya selalu kita junjung.

    Sekali lagi, pada akhirnya semuanya akan berujung dan bergantung kepada satu sosok yaitu sosok Sang Pemimpin. Dan jelas tentunya bukanlah seorang Pemimpin yang hanya memiliki pesona belaka, menjadi sosok yang beruntung karena duduk disinggasana. Tapi yang kita butuhkan sosok Seorang Pemimpin Besar.

    Pemimpin Terbaik karena memiliki pengetahuan dan kemampuan serta segala hal lainnya. Memiliki daya dan karya untuk membimbing kita semua mengarahkan, menuntun, menghantarkan hingga memastikan langkah Bangsa Indonesia akan sampai disatu Puncak Tujuan Tertinggi.

    Seorang Pemimpin yang mampu menjadi Teladan Sejati karena memang telah memahami makna dan hakikat sebenarnya sebagai seorang Anak Negeri dan bagaimana menjalankan peran terbaik itu.

    Seorang Pemimpin yang berjuang tanpa pamrih karena setiap perjuangannya, setiap gema kegagahannya memimpin bangsa ini adalah merupakan wujud nyata, persembahan bakti tertinggi seorang Anak Negeri kepada Ibu Pertiwinya.

    Wujud nyata yang membuat kita pasti dapat menilai dan mengukur sebuah ketulusan sejati. Melihat dengan jelas dan nyata sebuah bentuk pengabdian dari Seorang Pemimpin.

    Bakti tertinggi, pengabdian yang tulus dari Seorang Pemimpin tentunya tak akan pernah mengharapkan pamrih atau imbalan apapun. Bahkan sebuah pembayaran atau bahkan gaji sekalipun. Karena memang pastilah sosok Pemimpin itu memahami benar bahwa dirinya sedang menjalankan Peran Terbaik sebagai seorang Anak Negeri, bukan tengah berniaga dengan Negerinya apalagi mengharapkan upah atas Kepemimpinannya.

    Seorang Pemimpin Sejati yang akan menjadi Motivator Terbesar, Pembangkit Semangat Nasionalisme yang akan mampu menyatukan kita semua menggapai masa depan Bangsa dan Negara yang lebih baik.

    Selalu siap menyuarakan kegagahan, berjuang sebagai sosok Anak Negeri yang membela harga diri Ibu Pertiwinya.

    Wahai saudaraku Rakyat Indonesia. Tentunya gema harapan itu yang berkecamuk didalam dada kita tapi sekaligus bercampur antara keyakinan dan kehilangan keyakinan.

    Karena sepertinya tidaklah mungkin menemukan Sosok Pemimpin seperti yang kita butuhkan. Dan kita pun terkadang bimbang seperti apakah sebenarnya sosok Sang Pemimpin Besar yang kita butuhkan itu?

    Adakah sebuah tolak ukur atau landasan yang menjadi penguat keyakinan kita bahwa itulah sosok Seorang Pemimpin yang sesungguhnya?

    Tentunya pertanyaan itu pun akan terus menjadi pertanyaan tanpa akhir, tanpa kunjung mendapat jawaban bila kita hanya berdiam diri atau termangu saja.

    Bagaimana mungkin kita berharap menemukan sesuatu yang terbaik bila kita hanya berdiam dan menunggu saja. Menanti entah berapa lama, menanti entah sampai kapan. Dan apakah pada akhirnya penantian itu akan menghantarkan bertemu sesuatu yang terbaik bagi kehidupan kita.

    Untuk mendapatkan hal yang terbaik secara pribadi saja maka kita harus mengerahkan segenap kemampuan, segala upaya untuk bisa mendapatkannya. Apalagi ketika berbicara tentang Bangsa dan Negara, tentang peran kita sebagai Rakyat sekaligus Anak Negeri, maka sudah tentu kita pun harus bersiap diri, melakukan segala hal, melakukan apapun untuk memberikan sebuah sumbangsih tersendiri kepada Negeri ini.

    Mulai dari saat ini, mulai dari hal yang terkecil, dimulai dari diri sendiri mencoba menata, mengkondisikan, menyatukan persepsi, menyamakan tujuan dengan menyadari dan menanamkan bahwa segala sesuatu yang ada di Negeri ini, apapun yang terjadi pada Bangsa ini, maka semua itu akan kembali dan berpulang kepada diri kita sendiri.

    Melakukan kebaikan, menjaga dengan kemampuan yang ada, mengerahkan potensi yang dimiliki, hanya dan untuk atas nama Bangsa dan Negeri Indonesia. Sekecil apapun adalah jauh lebih baik dari pada berdiam diri atau bahkan berbuat keburukan.

    Membuka wawasan dan cakrawala berpikir, memandang jauh kedepan untuk menjadi pribadi-pribadi Rakyat sekaligus Anak Negeri yang terbaik. Membekali diri dengan pengetahuan, potensi dan kemampuan untuk kita satukan pada saatnya nanti.

    Dan diujung langkah perjuangan kita sebagai pribadi Anak-anak Negeri maka adalah mempertajam pandangan, memandang dan mendengarkan dengan hati, memberikan penilaian obyektif, memilah dan menetapkan dengan suara hati terdalam hingga langkah kaki kita semua akan sampai disebuah perjalanan, dan pada akhirnya dapat menemukan sosok Pemimpin Terbaik bagi kita semua.

    Pada akhirnya aku berharap apapun yang kita lakukan, apapun pengalaman dan hal-hal berharga yang kita dapatkan. Teruslah berupaya dengan segenap kemampuan agar pada akhirnya kita dapat saling berbagi, mengingatkan, menyampaikan dan saling bersama membulatkan tekad untuk mulai menapak lebih baik, berbuat hal yang nyata untuk Rakyat dan Bangsa Indonesia karena sesungguhnya semua itu adalah untuk diri kita pula.

    Wahai saudaraku … semaikanlah dan biarkan tumbuh dengan kuat Keyakinan dan Kebanggaan sebagai Anak Indonesia. Agar pada saatnya nanti bersama kita gemakan kesegenap penjuru semesta.

    Akulah Anak Indonesia. Akan Kubuat Sang Pertiwi tersenyum Bangga. Akan Kuhiasi Angkasa Raya dengan Kibaran Kegagahan Sang Merah Putih.

    Akan kubuat setiap hembusan angin hanya menebarkan Keharuman Nama Bangsa dan Negeri Indonesia.

    Indonesiaku yang Bersinar bagai Permata Terindah di Jagat Kehidupan.

    Indonesiaku Nan Permai Guratan Maha Karya Sempurna.

    Indonesiaku Yang Gagah dengan Rantai Pengokoh Ikrar Setia Anak-anak Negeri.

    Indonesiaku Yang Bermartabat, menggetarkan siapapun dalam Genggaman dan Pancaran Kharisma Sang Pemimpin Besar.

    Demi Kebanggaan sebagai Rakyat Indonesia.

    Demi Kebesaran Bangsa. Demi Kebesaran Negeri Indonesia yang Berkilau di Puncak Kehormatan Tertinggi yang akan mampu kita wujudkan hanya dengan sentuhan sosok Sang Pemimpin Besar.

    Sang Pemimpin Besar Yang Memimpin dengan Pengetahuan dan Kemampuannya.

    Sang Pemimpin Besar yang Menuntun dengan Daya dan Karyanya.

    Sang Pemimpin Besar yang Menyentuh dengan Ketulusan dan Kebesaran Hatinya.

    Sang Pemimpin Besar … Sang Pemimpin Sejati … Yang akan membuat Bangsa ini Menepuk Dada Menunjuk dengan Bangga sebagai Rakyat Indonesia.

    Hingga pada akhirnya setiap Rakyat, seluruh Anak-anak Negeri akan selalu menggemakan dengan lantang …

    “Aku adalah Kegagahan.”

    “Aku adalah Rantai Pengokoh Sang Pertiwi.”

    “Aku adalah Pengibar dan Penjaga Sang Merah Putih.”

    “Dan aku adalah … INDONESIA.”

    Jadi Mari Kita Bulatkan Tekad dan Kuatkan Keyakinan selalu Bersandar pada Hati, Tegar hadapi apapun.

    Bersama kita Berharap, Mencari … dan terus Melangkah … hingga kita berjumpa dengan … Sang Pemimpin Besar.

    Sang Pemimpin Besar yang akan membuat setiap Bangsa dan Negeri manapun hanya akan memandang …

    “Indonesia adalah Kegagahan” … “Indonesia adalah Kejayaan” … “Indonesia adalah Bangsa dan Negeri Yang Besar.”

    Indonesia Yang Gagah Butuh Sang Pemimpin Berkharisma
    Indonesia Yang Jaya Butuh Sang Pemimpin Sejati
    Dan Indonesia Yang Besar Butuh … Sang Pemimpin Besar.

    Jadi berarti Untuk Mampu Berdiri Gagah, Memancarkan Kilau Kejayaan,
    Menjadi Bangsa dan Negeri Yang Besar maka yang Kita Butuhkan adalah

    … “ Sang Pemimpin Besar ” …

    Salam Persatuan dan Kebanggaan sebagai Sesama Anak Negeri Indonesia.

  3. Mas Tommy sudah pernah sampai Pantai Ngobaran belum? Di sana ada sebuah tugu kecil seperti sebuah candi, tertutup lebatnya daun pandan, saya pernah dikasih tau tapi lupa siapa yang nyeritain, konon di situ tempat sang prabu Brawijaya maneges.Tempatnya sejuk sekali dan bernuansa magis, saya beberapa kali duduk ngalamun di situ, sambil memandang birunya laut selatan.

  4. @ Sesama anak negeri
    Salam Persatuan dan Kebanggaan sebagai Sesama Anak Negeri Indonesia.
    Terima kasih sekali Saudaraku
    Mari kita terus berjuang merevolusi diri membangkitkan jiwa SANG PEMIMPIN BESAR dalam diri kita masing-masing
    Saat ini semua masih KUMARA, pertanda, yang akan mewujud dari golonging tekad anak bangsa dalam berjuang menuju kejayaan Nusantara
    Kita tak berangkat dari ide, namun dari materi yang sungguh ada, yaitu setiap diri anak bangsa. Yang dengan tulus mempersembahkan yang terbaik bagai potongan kayu yang akan melebur dalam api unggun yang kan menjadi MERCUSUAR DUNIA
    Karena memiliki bukan mengambil tapi dari melepas & memberi yang terbaik
    Di lain waktu akan saya posting WEDHA PININGIT, wedha dari Sang Pemimpin Besar yang dinanti kedatangannya
    Salam Persatuan dan Kebanggaan sebagai Sesama Anak Negeri Indonesia.

    @ m4stono
    Mari Mas sama-sama nyengkuyung adeging nagari:mrgreen:

    @ Ki Ngabehi Says:
    Saya dulu pernah jeng-jeng ke pesisir kidul Wonosari tapi nyumanggakaken, belum pernah ke tugu seperti yang Ki Ngabehi sebutkan.
    Mungkin memang benar adanya itu tempat Eyang Brawijaya manages Ki, ada banyak petilasan dari Kanjeng Eyang.
    Namun satu yang menjadi dawuh dari Kanjeng Eyang sebagai panonopan putra wayah Majapahit adalah di Gandrungmangu
    Ngalamun disana mendapat wisik napa KI?

  5. @Tommy
    Wong waktu itu cuma ngelamun nglelipur ati kok Ki,Kapan2 kalu sampai situ lagi silahken di cari, tempat itu ciri2nya ada teluk kecil, pohon pandannya rimbun, untuk sampai tempat situ harus menyeberangi ombak yang agak besar, jadi hati2. Kalau dah sampai situ mak nyles penak tenan.

  6. Wah judulnya keren banget mas tomy, pakai “sumpah” dan dibelakangnya ada budaya.

    terus terang kalau aku takut deh bilang “sumpah” bukan apap-apa sih, cuma aku pikir tanggungjawab dan konsekuensinya juga berat banget.

    Kecuali jika yang sumpah para pejabat kita, walau di atas kepalanya di taruh kitab suci, aku berani bertaruh gak bakalan mereka akan melaksanakan seluruh sumpahnya.

    Bagi mereka sumpah seperti nyanyian atau koor aja, yang dibacakan cuma sekali pas mereka mau menjabat, setelah itu?

    Niscaya semua sumpahnya dilanggar, berganti dengan sumpah yang lain yakni “aku bersumpah akan korupsi sebanyak-banyaknya dengan segala macam cara dan tipu daya,manipulasi dan kemunafikan” itulah “penyakit kronis” yang saat ini terus menggrogoti kethanan tubuh “ibu pertiwi”

    sebagai generasi muda, terus terang aku kecewea berat dengan cara kerja para pejabat kita (birokrasi), yang jelas-jelas TIDAK MENGUTAMAKAN RAKYAT.Yang diutamakan cuma PERUT SENDIRI dan perut para kroninya.

    Akhirnya negeri ini yang dengan susah payah dibangun oleh para Founding Fathers seperti Soekarno-Hatta dan yang lain-lain,malah dijadikan ajang perebutan kekuasaan dan bagi-bagi kapling oleh para elite, baik elite politik,elite pemerintahan, elite agama dan elite-elite lainnya.

    Optimistis memang bagus, tetapi melihat konstelasi politik dan distribusi kekuasaan
    yang ada saat ini di negeri kita, mustahil akan terwujud “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

    Silakan yang lain semua optimistis, tetapi aku realistis sajalah. Aku lihat di negeri kita sungguh-sungguh terjadi jurang yang amat tajam antara golongan yang berpunya (kaya) dengan golongana yang tak berpunya (miskin).

    Mengapa mereka miskin? karena mereka bodoh. Mengapa mereka bodoh? tentu saja karena miskin. Mengapa di negeri gudang pangan ini justru menjadi “gudang kemiskinan”? Jawabannya jelas karena para pemimpin kita “tidak becus” dalam mengelola negara.

    Kemiskinan terjadi karena tidak meratanya distribusi ekonomi, mengapa distribusi ekonomi tidak merata, jawabannya karena mental KKN masih tumbuh subur di negeri ini.

    Pendidikan bermutu yang seharusnya merupakan “hak” seluruh rakyat dan negara “wajib” menyediakannya, tetapi pada kenyataannya pendidikan yang baik itu hanya bisa dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat.

    Bagaimana negara ini mau maju? NONSENS !!

    Sama nonsensnya dengan sumpah budaya (kali ini aku minta maaf beribu maaf kepada saudaraku tercinta mas tomy), bukan apa-apa mas, aku hanya mencoba realistis saja.

    Kalau aku gak keliru, budaya itu berasal dari kata buddhayah, yakni bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau “akal”. Dengan demikian kebudayaan dapat kita artikan hal-hal yang bersangkutan dengan produk akal. Ada sebagian yang lain mengatakan budaya sebagai perkembangan dari majemuk budi-daya.

    Demikianlah, “budaya” adalah “daya dari budi” yang berupa cipta, karsa dan rasa.

    Oleh karena itu, bila kita sebagai bangsa dan negara ingin (BERSUMPAH) lebih beradab dan segera mengejar ketinggalan dari negara-negara tetangga, maka mau tidak mau harus ada yang mengawali dan memimpin “REVOLUSI BERPIKIR DAN BERTINDAK DALAM SEGALA HAL”.

    Mari kita segera menuju daya cipta, karsa (karep/kehendak) dan rasa yang bertumpu pada peningkatan pendidikan di segala aspek, penegakkan hukum demi mencapai keadilan sosial di segala aspek kehidupan.

    Peningkatan ekonomi pada akhirnya akan dengan sendirinya “mengekor” dibelakangnya.

    maka dicari segera pemimpin revolusioner yang progresif untuk ndandani negeri ini.

    Bila tidak ada? ya “pasrah” saja, sambil menunggu apakah bakal terjadi kiamat pada 21 Desember 2012, yah ini namanya aliran pesimistis.

    salam mas tomy sekali lagi maaf ya?

  7. @Mas Prayit : Memang kamu itu kelebihan energi seperti ban yang lagi bocor alus😀
    ( Jangan ngambek lho yah, ini pujian🙂 )

    Peningkatan ekonomi pada akhirnya akan dengan sendirinya “mengekor” dibelakangnya.

    maka dicari segera pemimpin revolusioner yang progresif untuk ndandani negeri ini.

    ===> Nek sitik-sitik ngenteni pemimpin yo selak kiamat rak ono perubahan.🙂

    Tapi intinya ide kamu itu : Semestinya apa sih yang harus kita lakukan. Ngritik SBY cs terus ??? Ngalem terus ? Atau elo elo gw gw sama pemerintah ? Jelasken dong .

    Kalo kemiskinan karena mental KKN. Solusinya gimana? Menghapus agama bisa melenyapkan KKN gicu ? Hayo saatnya kamu bercerita..

    SALAM Mas Prayit. Hi Hi Hi

    SAlam lagi deh

  8. thank mas love,

    saya pikir, yang paling pas bisa memberikan solusi tentu saja para pemegang kebijakan (eksekutor/eksekutif).

    apalah arti seorang suprayitno, saya sendiri bukan bagian dari birokrasi, tak memiliki sejumput pun kekuasaan untuk mengubah negeri ini. Lha wong mengubah diri ini dari yang pemalas menjadi pekerja keras sajah sulitnya bukan main. dari orang yang pembohong menjadi orang yang selalu jujur saja juga susah. Apa lagi mengubah negara……….??

    wow, terbayanbg deh susahnya!! terus terang aku gak mampu love. aku kan bisanya cuma ngomong doang, ngalor ngidul, ketemu kamu dan kawan-kawan.

    barangkali, untuk mengubah negara kita supaya menjadi lebih baik, dibandingkan hari ini, pertama tentu saja harus ada niat/kemauan yang kuat dari para eksekutor.

    nah, yang aku lihat dan aku rasakan, sejauh ini “kemauan” itu justru tak pernah ada. Ingin bukti? yah lihat sajah, praktik korup atau pungli di lapangan. Mulut mereka seakan tidak pernah kenyang “mangaaaaap terussss” mencari mangsa. Dan mangsanya itu ya bangsa sendiri maupun bangsa asing.

    sekali lagi mas love, aku gak punya solusi. tapi kalau memang mau, ya dari pada sulit-sulit lebih baik mencontoh sajah negara yang sudah maju, gimana caranya. coba sajah tanya sama mereka.mudah kan?

    maaf ya love, soal agama menurut pendapatku, lebih banyak mengajarkan orang untuk menjadi “pengemis” dan “egois”. Lho kok bisa? lihat saja dalam 24 jam berapa kali kedua tangannya “nyadong” mengemis pada tuhan. Soal egois, lihat sajah, prilaku orang-orang yang beragama, selalu ingin menange dewe dan benere dewe.
    tapi, ini sudah terlalu banyak diungkap oleh banyak orang kan?

    salam

  9. CRIME STATE
    Oleh: Suprayitno

    Pernahkah Anda bertanya, untuk apa negara ada? Apa sebenarnya negara itu? Mengapa harus ada negara? Untuk siapa negara ada? Andai saja tidak ada negara, siapa yang paling diuntungkan? Atau sebaliknya, siapakah yang paling diuntungkan dengan adanya organisasi yang bernama negara? Benarkah yang diuntungkan rakyatnya secara keseluruhan? atau hanya mereka yang memiliki kekuasaan mengelola negara itulah yang paling diuntungkan?

    Negara bermula dari konsep pemikiran orang-orang cerdik pandai yang tahu persis bagaimana seharusnya suatu negara itu didirikan. Yakni, ada beberapa alasan baik alasan budaya maupun alasan politis. Alasan budaya karena sebagai bangsa ingin hidup dengan cara pikir (sistem ideologis), cara mengelola (menentukan nasib sendiri), dan cara berekspresi sesuai dengan tuntutan dari rakyatnya. Sedangkan alasan politis, ingin diakui keberadaannya oleh negara-negara lain (aspek legal internasional) sebagai bangsa yang sah untuk bergabung dalam organisasi-organisasi dunia. Untuk memperoleh pengakuan baik budaya maupun politis, diperlukan “kemerdekaan”. Hanya kemerdekaan jalan satu-satunya untuk membentuk “nation”. Tanpa kemerdekaan, tak akan pernah lahir nation yang bernaung dalam sebuah organisasi yang bernama negara merdeka.

    Para cerdik pandai, sebenarnya telah merumuskan konsep negara dengan semangat idealisme yang tinggi. Yakni, negara harus befungsi sebagai rumah bersama yang disangga oleh pilar-pilar hukum dan demokrasi demi keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran bersama. Ini adalah konsep negara modern. Sedangkan konsep negara tradisional, lebih bertumpu pada mistisisme. Artinya, orang-orang kuat yang mungkin memiliki pemikiran serakah, akan mengungkapkan kepada publik bahwa kekuasaan adalah merupakan hal yang sangat sakral. Karena, sang penguasa harus memiliki “wahyu keprabon”. Tanpa wahyu tersebut kekuasaan menjadi delegitimate. Kekuasaan seakan-akan satu hal yang sangat suci, yang tidak mungkin jatuh ditangan rakyat jelata.
    Sistem kekuasaan tradisional lebih ditentukan oleh patron-klien, dimana sang patron mempresentasikan dirinya seolah-olah sebagai wakil Tuhan untuk mengatur negara (kerajaan) tanpa melalui demokratisasi konstitusional. Yang sering keluar adalah ucapan “sabdo pandito ratu”, apa kata sang penguasa adalah harga mati yang harus ditaati dan dijalankan oleh rakyatnya. Cacat dan borok ruang lingkup kerajaan sangat tertutup rapat oleh dinding mistisisme yang mustahil bisa ditembus oleh rakyat jelata.

    Konsep negara modern sangat berbeda dengan sistem kekuasaan tradisional. Karena, konsep negara modern memberi harapan kepada seluruh rakyat untuk memiliki hak dan kewajiban yang sama. Sama di depan hukum, sama dalam hal kewajiban membela negara, sama dalam kesempatan memperoleh kehidupan yang layak dan berbagai hak dan kewajiban sosial lainnya.

    Negara adalah satu bentuk organisasi yang legal untuk membentuk angkatan bersenjata dan kepolisian serta sistem yudisial (peradilan) sesuai dengan yang dikehendaki oleh rakyatnya. Negara juga berhak menggunakan berbagai senjata demi keamanan rakyat dan keutuhan wilayahnya, yang dikelola oleh pemerintah dengan berdasar pada undang-undang. Pemerintah atas nama negara kemudian juga menciptakan simbol-simbol kenegaraan, seperti bendera dan lambang negara serta produk hukum lainnya. Negara sebagai konsep abstrak, sebenarnya selalu berpretensi baik terhadap seluruh rakyatnya. Namun, pemerintah sebagai pihak yang sah untuk mengelola negara tidak selamanya memiliki niat baik terhadap rakyatnya.

    Sangat mungkin terjadi, yaitu bahwa atas nama negara pemerintah telah menjadikan organisasi yang bernama negara, menjadi organisasi kriminal. Ciri-ciri pemerintah yang telah menjadikan negara sebagai organisasi kriminal adalah menerapkan sistem politik diktatorisme atau totaliterisme dimana hak-hak rakyat ditindas dibawah bendera negara. Para pejabat (penguasa) selalu hidup bermewah-mewah sementara banyak rakyatnya yang hidup susah. Birokrat yang seharusnya menjadi abdi rakyat justru menjadi maling dan pemeras tanpa ada hukuman yang adil untuk menyeret mereka ke penjara. Para birokrat yang tidak bekerja dengan disiplin waktu dan disiplin pelayanan yang ketat. Fungsi pemerintah lebih membela kepentingan kaum konglomerat (kapitalisme), sedangkan ekonomi rakyat dibiarkan sekarat. Senjata yang dimiliki oleh aparat bukan untuk menembak koruptor kelas kakap tetapi untuk menembak rakyat yang berontak karena hak-haknya diinjak-injak.

    Masih banyak tanda lainnya yang menunjukkan sebuah pemerintahan telah menyeret negara menjadi organisasi kriminal. Namun, secara umum jika satu pemerintahan tidak bisa memberikan keadilan sosial dan keadilan hukum bagi seluruh rakyatnya, maka itulah preseden (cikal bakal) lahirnya “criminal state”. Yang jahat atau kriminal sebenarnya bukanlah negaranya, namun karena pemerintah berbuat atas nama negara yang berlindung pada undang-undang maka mau tidak mau akhirnya citra negara menjadi tercoreng. Kriminalisasi negara akhirnya menyebabkan kemiskinan dan pengangguran yang semakin besar, kelaparan, buruknya tingkat kesehatan masyarakat, buruknya mutu pendidikan dan berbagai kemunduran di bidang human index development. Dampak psikilogoisnya tampak pada semakin tumbuh suburnya mistisisme dan klenik pada masyarakat serta mengentalnya komunitas-komunitas (fanatisme) berdasarkan kepentingan golongan. Hal ini terjadi karena pemerintah melalaikan tugas pengembangan kognisi masyarakat dan mundurnya sektor ekonomi rakyat.

    Mengapa akhirnya negara menjadi organisasi kriminal? Faktor penyebab yang paling utama adalah terletak pada “proses menjadi pemimpin” yang tidak didukung oleh kematangan “mental dan intelektual”. Mental jelas berhubungan dengan dimensi kejiwaan, dimana secara emosi seorang pemimpin haruslah memiliki kedalaman kebijaksanaan (integrity) yang tinggi. Memiliki keluhuran budi pekerti. Memiliki dasar-dasar kepemimpinan dengan ketajaman intuisi yang kuat. Sedangkan intelektual berhubungan dengan kompetensi dan profesionalisme. Cerdas dalam menyelesaikan setiap masalah dan mampu berpikir futuristic tapi bukan peramal.

    Proses menjadi pemimpin di segala sektor mestinya harus bebas dari segala macam praktek KKN. Hanya orang-orang yang memiliki integritas dan kapabilitas yang hebatlah yang mestinya bisa menduduki kursi pemimpin. Dengan penempatan pemimpin yang tepat sesuasi keahliannyalah yang akan mampu menggerakan institusi yang dipimpinnya secara efektif dan efisien, berhasil guna dan tepat sasaran.

    KKN yang terjadi pada level perekrutan pemimpin, berakibat sangat fatal terhadap kejahatan negara. Selama proses menjadi pemimpin masih didominasi oleh unsur-unsur KKN, maka negara tidak mungkin akan bisa mensejahterkan rakyatnya. Karena pada akhirnya para pemimpin hanya sibuk dengan kalkulasi ekonomis dan politis serta balas jasa bagi yang telah mengangkatnya. Pemimpin yang lahir dari kawah KKN sangat besar kemungkinannya untuk menjadi “bandit” dan preman-preman negara serta menjadi koruptor yang berlindung pada legalitas negara. Efek yang jauh lebih berbahaya dari sistem kepemimpinan yang diwarnai KKN dan pada level kepresidenan yang didapat dengan cara-cara tidak demokratis (coup d’etat), akan menyeret fungsi militer sebagai backing untuk kegiatan curang para pemimpin. Militer yang seharusnya berfungsi menjaga keutuhan wilayah kedaulatan negara dan keamanan rakyat, diajak menjadi “super body guard” yang akhirnya mau tidak mau bergerak dalam kancah politik praktis. Militer terjerumus dalam tugas pengamanan kepentingan para pemimpin. Sebagai kompensasi, sang pemimpin (eksekutif) dengan suka rela membagi-bagi hasil jarahannya kepada militer, legislatif maupun yudikatif. Terjadilah hubungan simbiosa mutualisma antara para pemimpin dan institusi negara dengan mengorbankan kepentingan rakyat banyak (hukum) .

    Pada status kekuasaan yang dibalut angkara murka, pelan-pelan telah terjadi degradasi terhadap makna negara dan kekuasaan. Degradasi itu terlihat dari terlepasnya nilai-nilai moral dari kancah politik kekuasaan. Demi keuntungan dan keamanan sang pemimpin serta ditambah satu lagi alasan demi stabilitas negara, maka penculikan, pembunuhan dan berbagai penganiayaan terhadap rakyat yang dianggap membangkang, menjadi tindakan yang “halal” dan sah-sah saja. Moral yang didengung-dengungkan hanyalah upaya artifisial untuk menciptakan citra yang baik bagi politik kekuasaan. Parfum moral ditaburkan disekujur tubuh politik kekuasaan untuk mengurangi aroma busuk yang menyengat.

    Sungguh sangat menyayat hati jika konsep yang agung dari organisasi yang bernama negara itu, telah diselewengkan oleh pengelolanya menjadi organisasi kriminal yang sempurna. Dikatakan sempurna karena tindakan kriminalnya mendapat dukungan dari unsur militer dan segenap jajaran pemimpin serta anak buahnya yang mengelola negara. Rakyat hanya dijadikan simbol bahwa negara benar-benar masih memiliki “rakyat”. Bahwa rakyat yang ada dalam suatu negara itu tertindas, miskin, dan kelaparan adalah hal lain yang tidak perlu dipikirkan oleh penguasa. Dalam kondisi gelap gulita seperti itu, kemudian rakyat dalam suatu negara menjadi relevan jika bertanya “Negara ada sebenarnya untuk apa dan untuk siapa?”.

    Semarang, September 29, 2005.

  10. Nuwun Mas Prayit, tidak apa-apa Mas, saya terima permintaan maafnya yang beribu-ribu itu:mrgreen:
    Saya menganut MATERIALISME DIALEKTIKA HISTORIS dari Feurbach dan Karl Marx
    Secara ringkas, untuk membentuk suatu sintesa baru kita harus membuat antitesa
    Atau untuk mencapai suatu kualitas baru ya kita harus membuat kontradiksi dengan kualitas yang sekarang ada
    Nah yang berperan bukan ide, seperti RATU ADIL, SOSOK PEMIMPIN BESAR namun adalah materi
    Yang dimaksud adalah keseluruhan materi yang ada di alam semesta gung liwang-liwung ini, Keadaan alam juga manusianya.
    Bertolak dari saya ikut nyengkuyung SUMPAH BUDAYA ini

    Berangkat dari kebangkitan kesadaran dan kepedulian para MUDHA TARUNA SATRIANING BANGSA untuk berjuang menuju kejayaan bangsa & negara tanpa meninggalkan & kehilangan jati dirinya
    Bangkitnya kesadaran dan Orang Muda ini juga adalah bagian dari materi yang perlu kita kelola

    Dan secara historis kita dapat belajar dari Sumpah Pemuda merupakan momentum yang berhasil menyatukan pemuda se-Indonesia dalam satu ikatan kebangsaan, perasaan senasib, sepenanggungan yang diderita oleh pemuda khususnya, telah memberikan kesadaran kritis terhadap situasi yang dihadapinya yaitu adanya sebagai tantangan bersama telah membangkitkan kesadaran kolektif pemuda untuk melawan penindasan budaya global. Diperlukan gerakan massif untuk menghidupkan kembali budaya-budaya lokal (baca; kearifan lokal) di tanah air secara terus menerus sebagai bentuk nyata dari perjuangan kaum muda.

    Disamping itu saya adalah seorang MISTIK *mohon dibedakan dengan klenik* dimana Mistik dimaksudkan melihat kedalaman dalam kedangkalan peristiwa sehari-hari seperti yang telah kita bahas tentang logo & makna sebelumnya
    Hidup adalah proses, dan ada proses besar yang tengah berlangsung kalau kita mampu melihat makna dibalik segala peristiwa yang terjadi ini

    GO KAMANING ALLAH
    DZAT KANG ILANG RUSAK RAGANE
    KABEH LABETE TAN KENA KERI
    DZAT KANG TANPA KUMPULAN KAHANANE ORA ANA
    YA INGSUN SEJATINE ORA ANA APA-APA

    Seperti Tuhanpun tanpa adanya dzat yang berkumpul, materi yang membentuk manusia yang berkesadaran tak akan pernah ada, yang ada cuma embek, meong & guk-guk
    Begitupun perubahan bangsa yang diharapkan ini tak akan pernah tercapai tanpa adanya relasi, asas saling hubungan & kontradiksi segala macam materi alam

    Saya juga seorang kapitulasi yang pernah pesimis dengan keadaan negeri tercinta ini, namun dalam pandangan Mistik itu, alam adalah juga materi dalam dialektika Karl Marx
    Bila memang mengharapkan revolusi dilakukan manusia ibarat njugrugakake gunung gegaman cethok, akan mengahabiskan waktu ratusan tahun lagi, maka biar alam yang merevolusi manusia seperti yang tengah terjadi ini, hingga kiamat 2012 sampai 2018 nanti
    DZAT KANG MAWA KUMPULAN, bumi, geni, angin , banyu, bledeg, cahya, banjir bandang, lindhu/gempa bumi, titahing manungsa tanpa kuwi ya ORA ANA APA-APA

    Salam revolusi Mas Prayit

  11. =====Bila memang mengharapkan revolusi dilakukan manusia ibarat njugrugakake gunung gegaman cethok, akan mengahabiskan waktu ratusan tahun lagi.=====

    Mas tomy, masih ingatkah anda, betapa pada saat itu kekuasaan pak harto yang telah dibangun selama tiga dekade, begitu kokoh bagai “gunung besi” yang seakan-akan tak mungkin bisa “dirobohkan”, tetapi ternyata dengan pergerakan yang sinergis antara rakyat dengan mahasiswa (1998-1999), maka hancurlah kekuasaan soeharto itu.

    sayangnya, waktu itu gak ada konsep yang jelas “what next setelah soeharto jatuh?”.
    saya pernah menulis di koran, mana ada bekas diktator yang dijatuhkan kok masih enak-enakan hidup di negerinya sendiri tanpa pernah diadili lagi?

    seharusnya dihukum mati atau mengasingkan diri ke luar negeri, lalu seluruh hartanya disita untuk negara. Seluruh kontrak dengan asing harus ditinjau ulang,dan bila perlu utang luar negeri yang dibuat orde baru dikemplang saja, atau dijadwal ulang pembayarannya, sampai perekonomian indonesia benar-benar pulih (baru mulai dicicil).

    seluruh partai bentukan orde baru harus dilikuidasi/dibubarkan, dan segera dibentuk UU tentang sistem multi partai. Segera diadakan pemilu dengan peserta seluruh PARTAI BARU, tak ada pemain partai lama lagi. Lha kok pada saat itu enak-enakan, soeharto jatuh, lalu kekuasaan diambil alih oleh habibie. Seharusnya, pada sat itu langsung dibentuk dewan presidium yang terdiri dari wakil atau tokoh pergerakan mahasiswa,tokoh reformasi, militer, kepolisian, MA, dan siapa lagi lah yang dianggap kompeten untuk menentukan nasib bangsa dan negara pasca reformasi.

    Reformasi birokrasi secara total, rasio pegawai negeri benar-benar harus seimbang antara volume pekerjaan, tanggungjawab dengan jumlah pegawai.

    Reformasi di bidang agraria juga harus ditata ulang mengenai tanah-tanah yang ditelantarkan oleh pemiliknya harus dikembalikan kepada negara untuk dibagikan kepada rakyat yang benar-benar membutuhkan untuk peningkatan produktifitas.

    ah, pokoknya masih begitu banyak dan kompleks pekerjaan yang harus SEGERA diselesaikan pasca reformasi.

    Nah, sementara kita lihat kan? pasca reformasi malah rusak-rusakan, penjarahan dimana-mana,keadaan menjadi tambah buruk dibandingkan pada jaman pak harto, iki piye?

    saya sedih, moment yang begitu sakral dan strategis akhirnya terlewati begitu saja.

    itulah pendapat saya mas tomy.

  12. @Mas Prayit :

    Saya rasa kita harus melihat bahwa memang ada dilema. Idealis itu oke lah – tetapi dalam idealisme itu mestinya kan harus bisa diaplikasikan gicu lho. LHA DUA SISI inilah yang selalu debatable.

    Ada orang yeng terjebak menjadi sok idealis tetapi endingnya malah tidak merubah apapun karena saking idealisme idenya menjadi tidak aplikatip.

    Pada sisi lain ada juga yang terjebak menjadi sangat hedonis kompromis sehingga menggadaikan idelisme.

    Dalam kasus Suharto, kalo konsepnya tumpas kelor tentu saja tidak segampang itu. Ada sangat banyak manusia berpengaruh yang berhutang budi kepada Suharto. Para pengambil kebijakan bahkan andaikata mereka sama sepetnya kepada Suharto juga layak mempertimbangkan sisi itu.

    Kalo terjadi perang besar beneran yang belum tentu reformis menang dan endingnya tentara malah masuk, dengan dalih penyelamatan negara – justru orang2 yang pro status quo bisa memanfaatkan itu dari belakang layar. Indonesia bisa jadi Myanmar kedua malahan.

    Jadi bagai saya pribadi reformasi terlepas begitu banyak kekurangannya adalah hasil terbaik yang bisa kita capai pada waktu itu.

    Suharto dilindungi oleh banyak jendral yang walaupun bisa jadi tidak sependapat, tetapi tetap menghargai dia sebagai salah satu orang yang berjasa besar bagi negeri ini. Dalam bahasa Jawa kurang lebih : Tega larane ora tega patine.

    Saya bisa sedikit maklum walaupun merasa itu ironis ketika rezim berganti rezim bahkan termasuk pada masa Megawati, kasus hukum yang menyangkut Suharto tidak pernah diselesaikan. Secara normatif itu jelek, tetapi pemerintah juga harus mempertimbangkan banyak aspek secara komprehensip .

  13. @mas love,

    apa yang kamu sampaikan normatif saja.

    pemimpin yang baik itu memang kadang justru bukan pemimpin yang disukai oleh banyak pihak.

    Kita tahulah, China, Korea Selatan, Singapura, Malaysia dan terakhir Venezuela dan Bolivia bisa maju karena mereka memiliki pemimpin yang baik.

    Pada prinsipnya TIDAK ADA NEGARA YANG MISKIN, yang ada hanyalah SALAH KELOLA sehingga mengakibatkan RAKYATNYA MISKIN.

    Negara seperti Taiwan, Korsel, Singapura, Jepang, Malaysia, Hongkong, China bisa jauh lebih maju dari pada Indonesia, jelas BUKAN KARENA NEGARA MEREKA LEBIH KAYA SDAnya tetapi karena sistem pengelolaan negaranya yang efektif dan efisien sehingga mereka mampu melahirkan SDM yang handal di berbagai bidang. Semboyan Korsel adalah “Kekayaan alam boleh terbatas tetapi KREATIFITAS TIADA BATAS”.

    Di negara kita ada banyak departemen, banyak menteri, banyak dirjen tetapi mengapa mereka tidak mampu menyejahterakan rakyatnya? alih-alih yang sejahtera hanya para pejabatnya?

    Ini harus dibongkar love, dimana sebenarnya akar yang menjadi penyebab tersumbatnya kemajuan negeri ini.

    saya pikir tak mungkin akar itu bisa dijebol dengan pemikiran-pemikiran yang normatif saja.

    salam

  14. Ibarat kata keluar dari mulut singa masuk ke mulut buaya, mungkin begitu gambaran Negara ini pasca reformasi. Kita tak punya konsep yang jelas saat menggulingkan rezim yang lampau, yang penting bongkar!! Persis seperti Revolusi Prancis, itulah kita

    Saya rasa kita telah banyak belajar dari situ Mas.
    Saat ini banyak anak bangsa yang bangkit kesadaran, kepedulian untuk sungguh berjuang bagi negeri ini sesuai dengan kompetensi & kemampuan masing-masing.
    Meski masih sporadis tapi itu adalah materi yang penting bagi perjuangan kebangkitan bangsa ini.
    Saya banyak terhubung dengan mereka yang mempersembahkan yang terbaik dari mereka dengan pedoman DARIPADA MEMAKI KEGELAPAN LEBIH BAIK MENYALAKAN SEBATANG LILIN.
    Banyak kerja telah dilakukan baik kerja bidang ideology maupun pemberdayaan,

    Saya sangat berterima kasih sekali kepada Mas Prayit yang banyak memberikan curah pemikiran yang sebenarnya menjadi nutrisi pencerahan bagi kita untuk tetap eling, mawas diri & waspada

    Manusia hidup untuk menjadi dia tidak dapat tidak menjadi, dalam menjadi semua terletak pada keputusan & pilihan manusia dalam bertindak,
    seperti dalam pesimisme Sartre, harapan adalah buah dari keputusan & pilihan kita

  15. Daripada memaki kegelapan lebih baik menyalakan lilin. Hi Hi Hi. Kata2 yang keren. Tetapi mungkin ada juga gunanya pihak-pihak yang memaki itu. Biar lilinnya cepet2 dinyalakan.

    Lagian kalo semuanya menyalakan lilin memang terang, tetapi boros . Mana listriknya menyala masih lama lagi, mana PLN kekurangan listrik lagi. Kalo semua pihak menyalakan semua lilin. Persediaan lilin cepet habis.🙂 dan kita akan mendapatkan kegelapan kembali.

    Kalo kita tidak tahu kapan akan pagi. Atau kita tidak tahu ujung lorong sebuah gua yang akan membawa kita keluar dari lorong yang gelap. Selain mendapatkan terang, selain menyalakan pelita menerangi jalan – yang juga penting adalah mempertahankan terang kecil itu supaya tetap menyala.

  16. Yang penting bongkar itu ada gunanya tetapi memang ada juga persoalannya. Jika para pemuda kebanyakan pikiran seperti seniornya yang kebanyakan pertimbangan maka tidak akan ada yang menculik Soekarno dan Indonesia tidak merdeka. Indonesia merdeka itu jasa banyak pihak – selain para pemikir yang berjuang secara elegan juga harus kita hargai dorongan semangat berangasan para pemuda yang sedikit banyak “memaksa generasi tua yang terlampau hati2” untuk terpaksa bergerak. Soekarno biarpun pada masa kini terkenal gagah berani, masih terlalu lembek dan banyak pertimbangan. Sehingga bahkan untuk ngomong Merdeka pun dia perlu diculik dan dipaksa.

    Dalam kasus reformasi yah kurang lebih sama. Tanpa adanya manusia2 berangasan yang berbuat dulu mikirnya ntar, ya nggak pernah ada reformasi. Tetapi memang efek tanpa rencana ini tentu pada akhirnya harus dikelola lagi sistemnya.

  17. mas tomy,

    jika penanganan “cicak VS buaya” tidak bisa tertangani dengan baik, saya khawatir akan terjadi “revolusi cethok” yang tentu mas tomy susah membayangkannya. sebab bukankah mas tomy percaya butuh waktu lama (bahkan mustahil) untuk menggugurkan gunung dengan alat cethok?

    mari kita ikuti bersama,setelah terbongkar rekaman yang sangat “memukau” antara anggodo dengan para penegak hukum, akan kemanakah episode selanjutnya?

    apapun hasil akhir dari babak belur hukum kita, saya tetap memegang prinsip bahwa “TIDAK SEHARUSNYA ADA KEMISKINAN ABSOLUT (ABSOLUTE POVERTY) DI NEGERI GUDANG PANGAN DAN GUDANG KEKAYAAN ALAM LAINNYA DI INDONESIA INI, JIKA SAJA PARA PEMIMPIN NEGERI INI MENGELOLANYA DENGAN BENAR”.

    Saya sediiiiiiiiih sekaliiiiii, kapan bangsa ini akan bangkit? dulu ratusan tahun dijajah bangsa asing, kita kepingin merdeka, kini setelah merdeka, rakyat indonesia tetap banyak (jutaan rakyat) yang tetap hidup sengsara/dililit kemiskinan absolut.

    Yah, bagaimana gak miskin, jika hak-hak rakyat selalu “dirampas atau dicuri atau dicurangi” oleh para pemimpinnya.

    kata teman-teman, marilah kita mulai berubah dengan diri sendiri dulu.atau kata mas tomy, lebih baik menyalakan lilin dari pada memaki kegelapan. Kalimat normatif ini memang tidak salah, tetapi yang paling MUTLAK HARUS BERUBAH ADALAH PARA PEMIMPINNYA.

    Mengapa? asumsinya adalah, jika para pemimpin berubah dalam menangani negeri ini, OTOMATIS RAKYATNYA AKAN BERUBAH DENGAN SENDIRINYA.

    Karena negara mempunyai HAK MEMAKSA,jadi menurutku perubahan yang efektif,taktis DAN STRATEGIS harus dimuali lebih dulu dari KEPALANYA (hulunya) bukan EKORNYA (hilirnya). istilahnya TOP DOWN bukan bottom up.

    Jika dahulu kita berani berperang melawan penjajah, sekarang kita harus berani berperang melawan para maling, para koruptor dan para pemegang kekuasaan yang zalim.

    Mari kita siapkan sejuta cethok untuk melawan mereka dengan semboyan RAKYAT BERSATU TAK BISA DIKALAHKAN, VOX POPULI VOX DEI, RAWE-RAWE RANTAS MALANG-MALANG PUTUNG, HOLOBIS KUNTUL BARIS, MAJUUUU……..SERBUUUU……………

    salam

  18. Siapa yang punya kekuatan riil untuk menghancurkan Status Quo sekarang ini?
    Sedang kaum gedibal, jiwa yang terjajah hanya memburu pemuasan nafsu saja….
    Dan pengulangan sejarah akan tetap terjadi, dari mulut singa masuk mulut buaya😥

    Dalam nihilism
    Saat tuhan telah dibunuh oleh para pembunuh tuhan, dengan apakah lagi manusia bisa mengada? Ia kehilangan satu-satunya pegangan
    Dalam keadaan bangsa yang rusak seperti ini memang banyak menimbulkan pesimisme, loyoisme
    Dalam kebangkrutan reformasi seperti ini lalu terjadi pencarian tuhan-tuhan yang lain, kekayaan, partai politik, ideology….
    Jiwa yang merdeka tahu akan topeng-topeng permukaan ini, ia juga bergelut dengannya
    Namun ia sadar di balik topeng-topeng permukaan itu ada kedalaman, kebenaran.. ideal reformasi…

    Jiwa yang merdeka hidup dalam tegangan seperti itu, tidak jatuh loyo atau mencari-cari pegangan, ia mengaffirmasi segala yang terjadi, dalam tragedy ia menjadi

  19. Secara filosofis yang namanya membangun rumah itu perencanaannya dihitung mulai dari atas, beban2 atas dihitung karena akan membebani struktur dibawahnya. Atap membebani cagak, cagak membebani pondasi dsb. Jadi ngitungnya itu pasti dari atas.

    Lha setelah dihitung mbangunnya harus dimulai dari bawah. Nggak ada rumah yang pondasinya belum dibuat, cagak2nya belum ada terus atapnya bisa dipasang .

    Lha kalo mau merubuhkan atau merenovasi rumah , yang dicopoti ya memang mulai dari atas. Kalo cagak dicpot ya atapnya ambruk. Gentengnya dulu yang mesti dilepas satu -satu. Jadi memang benar bahwa yang namanya reformasi itu harus dimulai dari atas.

    Itung2nya harus dari bawah , artinya keinginan rakyat, aspirasi diakomodasi gicu. Tetapi saat copot-copotan sebelum membuat bangunan baru yang lebih baik. Yang harus dirombak itu harus atas dulu. Nggak ada ceritanya atas belum dirombak bawah dirombak dulu. Itu bisa merusak bangunan total , malah ngambruki yang merenovasi.
    🙂
    😀

  20. MENEGAKKAN HUKUM DAN KEADILAN

    Setelah sekian lama terjadi “perang” antara lembaga kepolisian RI
    dengan lembaga KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang diawali dengan
    semboyan “Cicak melawan buaya”, akhirnya masing-masing saling
    buka-bukaan.

    Dalam buka-bukaan tersebut entah siapa yang benar, sebab masing-masing
    memiliki kronologis dan alat bukti. Tetapi ketika diklarifikasi,
    masing-masing mengaku tidak pernah menerima uang sogokan. Penyelesaian
    paling tepat tentu melalui “pengadilan” tetapi apakah pengadilan kita
    masih bisa dipercaya?

    Di sisi lain, ada seorang bernama Anggodo Widjaya yang dalam rekaman
    percakapannya dengan berbagai sumber baik dari Kejaksaan Agung maupun
    dari Polri, begitu gamblang menyebut beberapa nama yang ikut terlibat
    dalam proses hukum kasus PT Masaro. Anggodo menyeret seorang bernama
    Ary Muladi untuk memberikan sejumlah “uang pemerasan” kepada pejabat
    KPK.

    Melihat kronologis dari peristiwa tersebut, ada penggalan tertentu
    yang membuat saya bertanya-tanya yakni mengapa seorang Anggodo yang
    sedemikian “hebat” jaringannya baik dengan Kejaksaan Agung maupun
    lembaga Kepolisian, tidak memberikan “uang perasan” itu sendiri kepada
    pejabat KPK? Anggodo selalu menyatakan “pemerasan” oleh pejabat KPK,
    jadi bukan dalam rangka menyuap. Sebab, kalau diperas kan tidak bisa
    dihukum, karena posisinya sebagai korban. Tetapi kalau penyuapan bisa
    dikenakan pidana karena ikut terlibat dalam konspirasi kejahatan.

    Bagi saya hal ini sungguh aneh, mengapa Anggodo mau diperas, bukankah
    beliau bisa secara tegas menolaknya? Implikasi dari penolakan
    pemerasan ini bisa saja berakibat pada dilanjutkannya proses hukum.
    Tetapi jika akhirnya Anggodo tetap menyerahkan sejumlah uang, bukankah
    hal ini sama juga dengan “penyuapan”? Dan mengapa uang pemerasan itu
    yang menyerahkan seorang Ary Muladi? Apakah level Ary Muladi
    memungkinkan untuk berhubungan dengan pejabat KPK? Andaikata betul ada
    penyerahan uang kepada pejabat KPK (Bibit dan Chandra), mengapa bukan
    Anggodo yang menyerahkannya sendiri? Sekali lagi, andaikan pengakuan
    Anggodo mengenai pemerasan itu benar adanya.

    Lalu, bagaimana logika hukum yang berkembang di masyarakat? sebenarnya
    penegakan hukum bisa diawali dengan pembuktian terbalik. Misalnya,
    gaji per bulan seorang Kapolri itu seberapa sih? Gaji seorang Kepala
    Bareskrim, Kepala Kejaksaan Agung, Gaji Hakim Agung berapa sih? dan
    seterusnya. Kemudian mari kita lihat seluruh harta benda kekayaan yang
    mereka miliki. Jika “surplus”nya lebih dari 100% dari gaji, maka ada
    indikasi korupsi, semakin besar surplus hartanya semakin besar pula
    indikasi korupsinya, simple kan? Rumah yang dimiliki bisa terlihat,
    tanah bisa terlihat, simpanan deposito, mobil, perhiasan, gaya hidup,
    anaknya sekolah dimana, semua bisa terlihat.

    Mendeteksi seorang pegawai negeri atau pejabat negara korupsi atau
    tidak, sesungguhnya sangat sederhana, karena pendapatan atau gaji PNS
    atau pejabat negara termasuk para anggota dewan, sangat terukur. Jika
    kekayaannya karena mereka nyambi bisnis, petanyaannya apakah UU
    memperbolehkan PNS atau pejabat negara berbisnis?

    Sayang sejauh ini yang saya tahu tidak pernah ada pembuktian terbalik
    atas semua harta yang dimilikinya, bahkan tanpa rasa malu sering
    seorang pejabat membuat rumah mewah dengan gaya hidup borjuis
    ditengah-tengah penderitaan rakyatnya. Rakyat yang justru telah susah
    payah “membayarnya”. Silakan kita amati rumah mewah di sekililing
    kita, rumah siapakah gerangan? Jika bukan milik pejabat biasanya milik
    pengusaha. Betul?

  21. Hi..hi..hi..mas Prayit tanya ‘logika-hukum’?!?
    Logikanya ya logika angka-8…LOGIKA-CONFUSE

    Angka-8 ini angka sihir lebih manjur dibanding Rajah Kalacakranya mas Tomy tempo hari.
    Coba mata ditutup…diputer-puter dam bentuk angka-8, jadi LOGIKA-CONFUSE(SIUS)…hi..hi..hi..

    Densus-88…bikin bingung pokoke tembak pateni nggak tahu siapa, rumah ditutup rapet pakai-seng persis ketok-mejik(magic). Alasannya ternyata ada bahan peledak 600-kg utk cikeas…?!?
    Terus skrng, Tim-8(tapi 1-org mundur)…

    Untung idola saya angka-7……
    Silahken mau percaya atau nggak, tapi gamblang LOGIKA-CONFUSE

    Salam…777

  22. Dalam situasi “NEGERI PARA BEDEBAH” ya pakai mbuh filosofis mbuh itung2an AIR… posisinya selalu dibawah tapi bagaimana bisa jadi TSUNAMI…pasti bersih deh PARA BEDEBAH.
    Apalagi TSUNAMInya pakai garam… habis semua demit, JIN, siluman dsj.

    Salam…TSUNAMI

  23. Angka delapan itu memang simbol ruwet, dalam strategi perang biasanya itu kaitannya dengan seni jebak-menjebak semacam labirin tak berujung pangkal bikin kesasar musuh gicu. Asal nggak diri sendiri saja yang kesasar.

  24. Pada lebaran yang lalu, ketika saya pulang mudik, kebetulan saya ketemu dengan seorang yang bekerja di Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Pusat Jakarta.

    saya sempat diskusi dengan beliau tentang situasi atau UU Ketenagakerjaan, sistem outsourching, sistem kontrak dan penentuan upah buruh.

    Namun, yang menarik ketika saya tanyakan “pernahkan anda berkunjung ke Freeport?” dia bilang baru saja tiga bulan lalu inspeksi ke Freeport.

    Ada satu pengamatan yang sangat menakjubkan. Teman saya sampai menangis (gregel) dalam hati, digambarkannya, andai mas yitno tahu, gunung yang dipapras itu bila pagi hari cuaca sedang cerah, maka akan terlihat bekas paprasan gunung itu bersinar kemilauan, entah apa yang menyebabkan sinar kuning kemilauan itu.Apakah karena kandungan emasnya, atau kemilau apa, tetapi teman saya menduga itu karena kandungan emasnya.

    dan saat ini sedang digali dibawah tanah, entah apa lagi yang dicari.

    Mungkin, andai saja seluruh kekayaan itu dikerjakan oleh anak negeri, bukan mustahil hasil dari tambang itu sudah cukup untuk menyejahterkan “seluruh rakyat Indonesia”. Apalagi untuk orang-orang Papua.Kata teman saya, banyak tenaga ahli dari anak negeri yang sanggup mengolah atau menangani teknologi pertambangan.

    Tapi apa yang terjadi? ketika saya ketemu dengan seorang pejabat Kadin di Jawa Tengah dan saya tanyakan sistem kontrak kerja dengan Freeport, berapa persen bagian untuk kita? saya agak lupa persisnya, tetapi yang jelas dibawah 10 persen (kalau gak salah nettnya sekitar 3 persen).

    Saya terperanjat, mengapa bisa sedemikian bodoh para penguasa dan bangsa kita membiarkan kekayaan alam di usung tiap detik kenegeri kapitalis? Negara mereka makin kaya dan sejahtera, lha negei kita semakin sengsara, apa lagi jika hasil bumi/tambang itu sudah dikuras habis, maka yang tinggal hanyalah puing-puing reruntuhan bangunan dan limbah beacun serta kerusakan alam yang tidak bisa diperbaiki lagi.

    Saya undang sekalian anak negeri, jika kondisi demikian BENAR ADANYA, maka mari kita rumuskan bersama apa yang mesti bisa kita kerjakan. Apakah kita hanya bisa menonton mesin kapitalisme itu melindas kita, atau bagaimana?

    Mohon maaf mas tomy, barangkali diskusi seperti ini jauh lebih mnyemangati rasa nasionalisme daripada disksui tentang hal-hal yang upredictable.

    silakan para sutrisno, kita mau maju atau diam saja, atau justru malah mundur? semua pilihan ada ditangan kita.

    DULU KETIKA BANGSA KITA MASIH JAUH LEBIH TERBELAKANG DAN MISKIN DIBANDINGKAN SEKARANG, TOH SOEKARNO DENGAN GAGAH BERANI BILANG MARI KITA BERDIKARI DIBIDANG POLITIK, EKONOMI DAN BUDAYA (TRISAKTI). AMERIKA KITA SERTIKA INGGRIS KITA LINGGIS.

    SEKARANG KETIKA KEADAAN EKONOMI DAN SDM SUDAH JAUH LEBIH BAIK, MENGAPA PARA PEMIMPIN KITA TIDAK BERANI BILANG GO TO HELL WITH YOUR AID.

    Hal-hal inilah yang senantiasa membuat saya sedih dan kadang putus harapan, sebab untuk perbaikan yang dramatis, tidak perlu banyak orang cukup satu saja yakni SANG PRESIDEN.

    Mengapa? jelas karena dialah yang mengemudikan kapal besar yang bernama Indonesia ini. Masyarakat yang jumlahnya ratusan juta hanyalah “penumpang”.

    Kita sangat butuh pemimpin yang visioner dan progresive-revolusioner macam Hugo Chaves atau Evo Morales atau Ahmad Dinedjad.

    Pertanyaannya, mampukah penumpang yang jumlahnya ratusan juta itu “melahirkan” sang nahkoda yang kuat dan pemberani mengarungi lautan yang maha ganas ini?

    Jika tidak bisa, saya tidak tahu apa akibatnya. Tetapi saya pikir, akan ada banyak kelaparan di penjuru negeri.

    salam

  25. Betul mas Prayit, hak/jatah kita dari hasil Freeport hanya 2,5% saja. Ini sdh saya cantumkan dlm uraian pertama saya saat peluncuran blog ‘sikapsamin’. Dimana saya tulis…”menolak hak jahiliyah(2,5%)”…
    Celakanya…selama ratusan tahun kita sdh ‘dilatih utk posisi nyadhong(tangan-tengadah)…PARINGI-NDORO…

    Solusinya… kelihatannya sdh mulai menggelinding saat ini akibat pertarungan Buata – Cicak – Godzila.

    Ini mungkin menjadi kata-kunci : “SELURUH JABATAN DALAM SITIM PENGELOLAAN NEGARA, BAIK EKSEKUTIF, LEGISLATIF MAUPUN YUDIKATIF, ADALAH CERMINAN AMANAT-KEDAULATAN BANGSA AGAR BERKEHIDUPAN SECARA ADIL, AMAN DAN SEJAHTERA”.

    Semoga kata kunci ini bisa membentuk TSUNAMI…yang dahsyat.

    Salam…TSUNAMI

  26. Terima kasih Mas Prayit, Mas Lovepassword & Mas Sikap Samin atas atensinya
    Mari kita lanjutkan diskusinya di
    https://tomyarjunanto.wordpress.com/2009/11/09/wedha-piningit/#comment-1140

    ………..
    Revolusi adalah keniscayaan, yang harus dimulai dari penyadaran dan pemberdayaan.
    Perlu dilakukan kerja di bidang ideologi untuk melawan ideologi hegemonik tersebut.
    Ideologi harus bersifat dialektis, yang mengakar kuat dalam kultur manusia
    Bersifat dialektis berarti sanggup menyesuaikan perkembangan jaman, bebas dari belengggu ideologis yang akan disalahgunakan oleh kekuasaan sebagai dasar legitimasi dari produk-produk kekuasaan.
    Mengakar kuat dalam kultur manusia berarti membangkitkan penyadaran sejati akan hakekat manusia.
    Bahwa sesungguhnya manusia berasal dari unsur yang sama, berasal dari hidup yang sama. Namun tidak membuatnya terjebak dalam humanisme yang hanya akan mengkerdilkan arti kemanusiaan.
    Mengakar kuat juga memiliki arti sebagai roh yang memberi kekuatan dan orientasi pada tiap gerak hidup manusia, roh yang membuat jiwa tidak dimutasi oleh status dan keadaan sosialnya…….

  27. Lho,….Mas Tom.

    Aku baru masuk kesini kok baru tahu ya, pdahal sudah beberapa bulan yang lalu,tapi gak apalah dari pada gak tahu sma sekali tentang Sumpah Budaya yang menurut Mas Prayit tanggungjawab dan koskwensi nya berat.

    Tapi sesungguhnya saya sangat setuju-2 saja, walapun harus ada tanggug jawab dan koskwensi, toh lebih sreg dan pas dengan tradisi budaya kita, dari pada mengadopsi sumapah-sumpah budaya bangsa lain yang susah ditelan malah berkecamuk di mulut yang akhirnya makan angin dan masuk angin dikerok merah-merah kayak api, tandanya budaya nafsu yang penuh darah sambil teriak-2 manggil Tuhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s