MUNDHI DAWUH TUMEKANING JANJI

Standar

Tumeka ing janji wajib dilakoni kudu ditindaki,

Aja samar aja cidra punapa semaya,

Kabeh wus tekan titi mangsane,

Putra wayah amusthi aji luhuring budi,

Duhkitaningtyas sumengka kawekas,

Penggalih datan kena ajrih,

Keteging angga mangayu hayuning bawana,

Dilah latu lathi micara,

Mentering aruna netra amyarsa,

Durga sirep,

kala lerep,


PUSAKASejalan dengan SUMPAH BUDAYA yang telah dideklarasikan bersama dan mundhi dawuh untuk menyingkap rekaman sejarah meski menyakitkan, dalam tulisan kali ini perkenankan saya mendongeng sebuah cerita yang tak tertulis hanya dari TUTUR TINULAR dan pengalaman ghaib yang tiada saksi.


Alkisah Sandyakalaning Majapahit, seperti dikisahkan di Kitab Darmagandul.

Para Sunan yang tergabung dalam Wali Sanga, membuat konspirasi untuk Adipati Bintara melakukan kudeta kepada ayahanda-nya dengan alasan membebaskan semua orang dari ke-kafir-an🙂.

Pada saat pertemuan untuk merencanakan kudeta tersebut hanya seorang anggota dari dewan wali yang tidak setuju, yaitu Syekh Siti Jenar, maka kemudian Syekh Siti Jenar di eksekusi oleh Sunan Giri. Syekh Siti Jenar adalah satu-satunya wali yang memberikan ajaran Makrifat yang intinya mirip dengan Manunggaling Kawulo Gusti dari ajaran Jawa sehingga banyak masyarakat dan petinggi Majapahit berkawan akrab dengan Syekh Siti Jenar karena merasa ada kecocokan dalam sudut pandang tanpa harus terpaksa ikut ritual ajaran Makrifat itu sendiri, hal itu tidak disenangi oleh para wali yang lain yang lebih membawa ajaran agama rasul waktu itu ke Syariat. Pada saat leher dari Syekh Siti Jenar dipenggal oleh Sunan Giri terjadilah keajaiban di mana darah yang muncrat dari leher Syekh Siti Jenar membentuk tulisan asma Allah pada lantai, serta berbau wangi tidak anyir.


Singkat cerita, terjadilah kunjungan besar-besaran Pangeran Bintara disertai dengan para wali dan adipati-adipati pesisir yang sudah memeluk agama rasul dengan seluruh bala tentaranya, rencana itu sebetulnya sudah tercium oleh pasukan Majapahit yang menjaga kraton, tapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa karena Pangeran Bintara merupakan salah satu putra dari Sang Prabu Brawijaya VIII sendiri dan kunjungan besar-besaran itu awalnya disampaikan hanya merupakan kunjungan rombongan anak yang akan sowan kepada sang ayah. Pada saat itu kebetulan Sang Prabu Braiwjaya VIII sedang tidak ada di kraton karena sedang menuju Bali dengan diiringkan dua abdi-nya yaitu Sabdapalon dan Nayagenggong.

Kunjungan yang awalnya ditiupkan dalam keadaan damai berubah menjadi kudeta yang sangat berdarah, semua kitab-kitab di kraton dibakar, kraton dirusak habis-habisan dan terjadi pembunuhan massal kepada warga Majapahit di ibukota negara waktu itu yang tidak mau memeluk agama rasul. Kemenangan pasukan Bintara dan para wali itu harus dibayar dengan darah dari banyak warga ibukota Majapahit pada jaman itu


Setelah mereka berhasil memuaskan keinginan untuk merebut Kraton Majapahit *yang direbut waktu itu baru Kratonnya belum menundukkan Majapahitnya sendiri*, rombongan besar Adipati Bintara bersama dengan para wali kemudian sowan kepada kasepuhan mereka yaitu Sunan Ampel di Ampeldenta [Sunan Ampel sendiri merupakan kakek dari Jin Bun dan ayahanda dari Putri Cempa], pada saat itu Sunan Ampel sudah wafat sehingga mereka diterima oleh Nyai Ampel. Alangkah kagetnya Nyai Ampel pada saat mereka semua menghaturkan berita tentang berdirinya Kerajaan Islam pertama dengan jalan seperti itu. Nyai Ampel sangat marah besar dan tidak membenarkan perbuatan itu, apalagi cara yang dilakukan oleh Pangeran Bintara sangatlah tidak ksatria, menikam dari belakang, kepada orangtuanya sendiri lagi, karena bukan seperti itulah sejati-nya Islam yang benar. Sampai Nyai Ampel mengutuk cucunya sendiri yaitu Pangeran Bintara dengan sebutan ‘anak durhaka’
.

Saat itu Pangeran Bintara sangat terpukul dan menyesal sehingga mengutus Sunan Kalijaga untuk menyusul Sang Prabu Brawijaya VIII yang sedang dalam sebuah perjalanan ke daerah Bali. Sunan Bonang berusaha menenangkan hati Pangeran Bintara bahwa apa yang dilakukan adalah sudah sewajarnya dan tidak usah menurutkan apa yang diucapkan oleh seorang wanita.


Sementara itu Sang Prabu Brawijaya VIII yang sedang dalam perjalanan dengan diiringkan Sabdopalon dan Nayagenggong melintas di daerah Blambangan [letak tepatnya kalo sekarang itu di daerah Porong] yang kemudian disusul oleh Sunan Kalijaga yang kemudian menyampaikan permohonan maaf dari Pangeran Bintara dan mempersilahkan Sang Prabu untuk kembali ke ibukota Majapahit. Berbagai kemarahan dan kutukan diujarkan oleh Sang Prabu demi mengetahui apa yang sudah dilakukan oleh salah seorang putranya itu, dan mempertanyakan sebab kenapa hanya demi sebuah ajaran mereka tega untuk berbuat yang sangat tidak patut itu. Terjadilah dialog yang sangat tinggi pada saat itu, yang disela dalam permintaan maafnya itu Sunan Kalijaga berusaha untuk menerangkan arti ajaran dari agama Rasul, pada saat dialog sampai ke kalimat syahadat secara tidak langsung dan tidak sengaja dalam pembahasan itu Sang Prabu Brawijaya VIII juga mengulang kata itu, yang kemudian disudutkan oleh Sunan Kalijaga bahwa sebagai seorang raja besar, kata yang secara tidak sengaja mengulang kalimat syahadat itu berarti sebuah kata sabda. Sang Prabu Brawijaya VIII terhenyak dan sebagai seorang raja besar tidak mungkin menarik sabda-nya itu.


Dan pada saat Sang Prabu Brawijaya VIII ikutan mengajak Sabdopalon dan Nayagenggong untuk ikutan beliau, maka terjadilah perang kawruh tingkat tinggi antara mereka. Dan pada saat itu juga Sabdopalon menyatakan diri untuk tidak menjadi momongan bagi Sang Prabu Brawijaya VIII alias oncat sebagai pamomong seorang ratu. Sebelum kemudian sirna, Sabdopalon menurunkan sabda-nya yang intinya menyatakan bahwa kelak 500 tahun lagi akan balik masa di mana tanah Jawa akan menagih janji, tiba datangnya agama budi/kawruh

Dan itu terjadi pada saat sekarang ini ketika Para Muda bangkit kesadarannya untuk merevolusi kultur, bertiwikrama budaya, masa akan datangnya jaman keemasan Majapahit, masa 500 tahun ini diakhiri dengan Kala Bendu untuk menyongsong datangnya jaman Kala Suba.


Setelah Sabdopalon moksa di puncak Gunung Mahendra [sekarang Gunung Lawu] dengan disaksikan oleh Sang Prabu Brawijaya VIII. Kemudian Sang Prabu Brawijaya VIII juga berkeinginan untuk kembali ke alam kelanggengan/moksa dan memilih Ngobaran [pantai Ngobaran di daerah Gunung Kidul untuk sanggar pamoksannya]. Sebelum berangkat menuju ke Ngobaran, Sang Prabu Brawijaya VIII mengeluarkan ‘Sabda’ kepada seluruh Kerajaan Majapahit dan wilayah-wilayah tundukannya [Nuswantara] untuk tidak melakukan perlawanan kepada ‘Demak’ karena memang sudah begitu nasib jagad sesuai dengan garis alam, dan memperbolehkan semua Raja/Adipati di semua wilayah Majapahit untuk menentukan nasibnya sendiri-sendiri.


Pada perjalanan Sang Prabu Brawijaya VIII dari puncak gunung Lawu menuju pantai Ngobaran, sampailah beliau di daerah Batur, Putat, Bobung, Gunung Kidul. Di sinilah sebetulnya inti dari awal muasalnya
terciptanya kidung Danghyangan.

Di daerah Gunung Kidul sebelum masuk kota Wonosari ada daerah yang bernama Bobung yang terkenal dengan kerajinan dari kayu [patung kayu, topeng kayu, dll.] dan naik ke atas lagi daerahnya bernama Batur – Putat, yang sebetulnya asli kerajinan dari kayu itu berasal dari sini, tapi karena letaknya lebih di bawah maka Bobung lebih dikenal sebagai sentra kerajinan dari kayu, padahal pasokannya justru dari Batur – Putat itu. Di Batur – Putat selain penduduknya yang trampil dalam membikin kerajinan dari kayu, di sana juga banyak ragam kesenian yang sampai sekarang masih cukup aktif, semacam gejog lesung, jathilan, reog, tari topeng, dll. Di daerah itu juga terdapat sebuah pohon Beringin putih dan sungsang daunnya. Cerita lisan dari penduduk Batur adalah, bahwa dulu konon Brawijaya pernah singgah di daerah situ dan di bawah pohon beringin itu lahirlah seorang putra dari Brawijaya. Satu kilometer dari letak pohon beringin putih sungsang itu, melewati perkampungan penduduk kita akan sampai ke sebuah air terjun yang landai berundak-undak, kadang pada saat musim kemarau airnya tidak kering, air terjun itu dikenal dengan nama air terjun Banyunibo, dan kalau mata kita cermat, sejajar dengan ketinggian air terjun di badan perbukitan dan tertutup banyak tanaman, kita dapat melihat sebuah gua di atas, yang untuk menuju ke gua tersebut kita harus merayap badan bukit, gua itu hanya muat untuk satu orang saja.


Pada saat dalam perjalanan ke lokasi pamoksannya, sampailah Sang Prabu Batara I Kling [Brawijaya VIII] di Batur – Putat; di saat bersamaan Sunan Kalijaga mendengar bahwa Sang Batara I Kling berniat akan moksa dan segeralah Sunan Kalijaga menyusul hingga mereka bertemu di Batur – Putat. Sunan Kalijaga berusaha mencegah Sang Prabu Batara I Kling untuk moksa karena beranggapan bahwa setelah Sang Prabu Batara I Kling mengucapkan kalimat syahadat dan dalam syariat tidak dikenal yang namanya moksa itu, tapi Sang Prabu Batara I Kling bersikeras dan tidak ada yang dapat mencegah niatnya untuk moksa. Terjadilah dialog yang meningkat ke perdebatan yang cukup tinggi pada saat itu, itulah kenapa daerah itu kelak dikenal dengan nama Batur yang dimaknai dari ‘mbat-mbat-an tutur’.

Dari dialog, meningkat ke perdebatan, sampai akhirnya harus dilanjutkan dengan adu kesaktian. Sehingga akhirnya memaksa Sang Prabu Batara I Kling untuk mengeluarkan ajian saktinya yang bernama ‘ajian waringin sungsang’, sebetulnya ajian itu sangat mematikan tetapi karena Sang Prabu Batara I Kling tidak berniat membunuh Sunan Kalijaga, sehingga tidak sampai terjadi ada nyawa yang melayang pada pertempuran itu. Sunan Kalijaga akhirnya tunduk dan mengakui bahwa memang banyak yang harus dipelajari oleh dia tentang tanah Jawi dan jagad raya.


Sebetulnya yang disebut oleh penduduk tentang Brawijaya mempunyai anak di bawah pohon beringin putih sungsang, kejadian sebenarnya adalah pada saat itu dan pada titik itu telah lahir sosok manusia baru yaitu Sunan Kalijaga yang berusaha mencoba memahami akan keluhuran tanah Jawi.


Kemudian oleh Sang Prabu Batara I Kling dibawalah Sunan Kalijaga ke bawah air terjun Banyunibo untuk disucikan, dan kemudian secara halus memanggil Sabdopalon untuk memberikan ajaran dan wedarannya, Sang Prabu Batara I Kling kemudian melanjutkan perjalanannya menuju pantai Ngobaran.

Oleh Sabdopalon kemudian Sunan Kalijaga diajak bersemadi di gua di punggung bukit air terjun Banyunibo dan memberikan banyak piwulang tentang keluhuran tanah Jawi, serta ada dua syarat yang harus dilakukan oleh Sunan Kalijaga kelak, yaitu bahwa ajaran agama yang akan disebarkan harus melalui jalur ‘nguri-uri kabudayan’ [karena pada saat-saat itu terjadi penghancuran besar-besaran oleh Demak terhadap semua atribut Jawa, mulai dari buku-buku, perilaku, bangunan-bangunan, sampai ke kesenian-kesenian baik bentuknya maupun peralatannya]. Syarat kedua adalah bahwa kelak setelah selesai masa piwulang di Banyunibo, Sunan Kalijaga harus melakukan perjalanan untuk sowan dan menyapa seluruh penunggu/Danghyang di tanah Jawi agar setiap langkahnya mendapat dukungan dari para Danghyang, sehingga dengan cara itu maka ajaran agama dengan muatan nguri-uri kabudayan baru dapat diterima di tanah Jawi hingga tiba pada saatnya.

KALIJAGADari titik itulah, kemudian Sunan Kalijaga mengganti penampilannya, dari berpakaian serba putih-putih berganti dengan jubah hitam, sintingan [ikat kepala] hitam, dan kemana-mana membawa sebilah keris. Secara dalam dapat dicermati bahwa apa jadinya kalau tidak ada peristiwa di Batur itu, ada kemungkinan sekarang kita tidak akan dapat lagi menikmati tari-tarian klasik Jawa, dolanan bocah, nglaras gending-gending Jawa, menikmati pertunjukan wayang, dll.

Kelak setelah Sunan Kalijaga dengan nguri-uri kabudayan-nya mengunjungi lokasi malinggihnya para Danghyang se tanah Jawi, maka dibuatlah Kidung Danghyangan. Sunan Kalijaga adalah satu-satunya Sunan yang sudah dimaafkan oleh para leluhur bangsa kita.

SUJUD SUNGKEM

Bukan bermaksud ngurek-urek barang bosok, membuka luka lama & membangkitkan sentiment masa lalu. Namun tulisan ini semoga dapat menjadi sebuah pelajaran bagi generasi sekarang.

Nusantara sangat kaya akan kearifan budayanya yang berdasarkan welas asih mawas diri tepa slira, tak seharusnya kita menganggap rendah budaya & pencapaian kita, bahkan memberi stigma kafir.

Seperti pada tulisan saya terdahulu,

Dalam hidup ini memang banyak hal yang tak dapat dinamai, tak dapat dijelaskan, tak dapat diringkus oleh keterbatasan nalar.

Untuk itu diperlukan penandaan, metafora, penamaan, penjelasan, penyederhanaan. Lalu diciptakanalah teks2 yang kita baca sebagai Tuhan, Allah lan sapanunggalanipun.

Budaya Nusantara menjelaskan dalam sanepan agar tiada finalitas definisi, karena selalu ada penundaan makna dari setiap symbol yang hadir

Penundaan yang akan terus menyingkap diri dalam setiap proses perjalanan manusia, dalam setiap relasi manusia.

Maka mari kita teruskan perjalanan manusia ini dalam mencapai kepurnamaannya, dengan membangun dan membina relasi.

Relasi dengan sesama, dengan alam dan diri sendiri


Semoga kita tak terperangkap dalam Logo-sentrisme, memaknai simbol hanya dalam batas apa yg tampak secara visual dan level “kulit” lalu memberi stigma buruk kepada orang lain yang kita anggap tak sepemahaman dengan kita

Semoga kita dapat mengambil hikmah.


Panutuping atur,

Tidak semua pihak akan dengan mata hati dan mata batin secara terbuka dapat menerima sebuah kenyataan yang memang kadang-kadang pahit untuk diungkap, tidak hanya sekedar open-mind untuk memahami ini, dibutuhkan juga open-wide🙂

” luwih becik wong sing ngakoni mung ora nglakoni tinimbang wong sing nglakoni mung ora ngakoni, mung tetep paling becik wong sing iyo nglakoni, iyo ngakoni. “

29 responses »

  1. pamuji rahayu..

    Kidimas … matur nuwun pembabaran kisah sang Prabu dan kelahiran seorang sunan yang Njawani…, memang kita sebagai penerus titahing leluhur sepantasnya kita cancut taliwanda.. nyengkuyung dan mandegani untuk mengembalikan kejayan Nuswantara tercinta sesuai cita cita dan weajangan para pendahulu kita.., tidak harus terus terjajah sejak jaman perdagangan barter, bangsa lain berbondong bondong datang ( kebo bule, Onta, beruang, panda ) kenuswantara untuk kedok berdagang.. dan ternyata setelah mengetahui tanah nusawantara ini subur makmur dan banyaknya rempah rempah serta hasil bumi meliputi.., mereka timbul niat buruk untuk mempolitisir dan mengeruk serta menjarah dan menyingkirkan kearifan lokal yang ada pada saat itu.. mentang – mentang bangsa kita bangsa yang sumeh.. luhur bebudhene dan tepa slira mau menerima siapapun yang datang karena kamanungsannya…, karena budinya.. nanging semua ini di artikan sebagai bangsa yang bodoh .. mau diadu domba… dan dijajah,… kita tetap terima karena ya keluhuran pekerti kita sebagai bangsa nusantara…. nanging mbok ojo nemen nemen…, saat ini kita mustinya harus sudah gumbregah.. ngudari benang ruwet.. supaya lurus kembali untuk menyulan dengan pesona dan warna indah linambaran ati suci lan sihingkatresnan…,kembali sebagai bangsa yang arif …. arif terhadap diri, arif terhadap bangsa lain, arif terhadap sesama dan menuju arif terhadap negeri wutahing trah tercinta…, Indonesia ( NKRI ). semoga…
    matur sembah nuwun
    salam sihkatresnan
    rahayu,

  2. Wis katon suryo mencorong saking bangbang wetan. Paramudha bangkit dari kungkungan kesadaran semu, mendobrak belenggu kesadaran palsu, yakni “kesadaran” insting dasar hewani (lymbic section) yang dibalut doktrin agama sebagai pemerhalus dan pelembut lymbic. Simbol-simbol kesalehan dan kesucian agama digunakan sebagai tempat bersembunyinya “binatang bertubuh manusia”. Dan tipikal orang demikian, mereka TIDAK TAHU bahwa DIRINYA DALAM KETIDAK-TAHUAN. Itulah “kejahilian religius” yang kini membuat mabuk banyak orang. Mabuk agama tanpa tahu hakekat sesungguhnya. Mabuk doa tanpa pernah tahu hakekat doa.

    Dan kini…para kawula muda nuswantara sedang bangkit kesadarannya, dihajar oleh keganasan alam dan beringasnya nafsu binatang bertubuh manusia. Manusia-manusia berlagak saleh padahal sesungguhnya hanya seonggok nafsu angkara. Namun kita tak mudah membedakan mana kebaikan, mana setan. Karena, datangnya janji Kaki Sabdapalon dan Nayagenggong ditandai semakin bergentayangannya “setan riwa-riwa mindha manungsa anggowo agomo”. Orang yg seolah tampak suci sebagai pembela agama, namun kenyataannya hanyalah sekumpulan jasad penuh tumpukan setan (nafsu).
    Para mudha generasi penerus bangsa, wong jowo (nusantara) para kaki sabdapalon nayagenggong, yg kenyang menelan UWIT KAWRUH, Dimas Tommy adl salah satunya, yang sadar utk menyongsong kebangkitan spiritualitas sejati. Menanti saat datangnya “kiamat 2012” yakni kiamatnya “kesadaran jahiliah”. Untuk melanjutkan menjadi manusia generasi baru yakni manusia yg lolos seleksi alam. Mereka akan “bangkit dari kuburan” kebodohan spiritual, lahir sebagai manusia baru, menjadi adam sejati, yakni manusia yang sudah mengalami evolusi kesadaran. Dari kesadaran semu nan palsu, kesadaran insting dasar hewani, menjadi manusia dengan kesadaran rahsasejati.

    salam karaharjan
    wilujeng rahayu kang tinemu
    bondo lan bejo kang teko

  3. Njih…njih… Kinakmas Tomy,

    Luar biasa, gamblang dan sangat rinci pembabaran FAKTA2 SEJARAH TANAH JAWA/NUSWANTARA… Tak terbantahkan…

    SEJARAH ADALAH SATU2NYA SARANA DAN MENJADI BAGIAN TAK TERPISAHKAN DARI RANAH PENELUSURAN SANGKAN-PARANING DUMADI
    PENELUSURAN JATI-DIRI SEJATI…

    Sebenarnya telah dimulai sejak KERTANAGARA/Singhasari, difitnah dan diperdaya saat berusaha menyelamatkan Sriwijaya…
    Namun terlambat…
    Sejak itu, yang mengaku Sriwijaya…bukan yang sebenarnya…

    Hayam Wuruk/Gajah Mada, menghormati para pendahulunya melalui pembuatan ‘Prasasti Singhasari 1351’
    KERTANAGARA adalah konseptor NAGARA KERTAGAMA….

    Seorang anak yang ternyata jelmaan-JIN melawan Bapa, adalah simbol mulai rusaknya tatanan Nuswantara, yang masih terus terjadi sampai saat ini…
    Jika dianalogikan si anak adalah Adam, artinya Adam melawan Siapa..?

    JIN, Siluman…telah beranak-pinak. Tersamar dalam berbagai-nama, bahkan agama…

    Kita perkuat Kebulatan Tekad dlm TRIWIKRAMA BUDAYA : – HYANG MURBENG DUMADI ;
    – SANGKAN-PARANING DUMADI;
    – JATI-DIRI SEJATI.

    Salam…Kanugrahan, Karaharjan, Karahayon

  4. Kita adalah klg besar yang perlu mematuhi norma2 yang diajarkan orang tua kita.Yaitu sebagai bangsa yang berbudaya yang selalu hormat,berkata jujur,dan tidak mem-beda2kan tingkat sosial dan suku.Kurang pahamkah kita makna dari keberadaan bangsa Indonesia dan “sumpah pemuda”?Mengapa kita lebih merasa hebat kalau menggunakan bahasa asing ?Padahal berbahasa Indonesia akan lebih baik,hal ini juga kebanggaan terhadap tanah air Indonesia.Anak2 bangsa saat ini,mulai terbius dengan gebyar materi yang pada akhirnya akan menggerogoti diri sendiri dan menghancurkan jati diri bangsa.

    Sungguh sangat ironis negeri ini,sebuah negara besar yang hanya dipandang sebelah mata.Negara yg subur dan luas namun masih banyak kemiskinan dan kebodohan.Ibarat ayam dalam lumbung mati kelaparan.
    Ayo para pemuda kita bangkit,makna Sumpah Pemuda bukan hanya wacana tetapi perlu tindakan kongkrit yang terbaik bagi bangsa.Semoga kita tansah eling lan waspada.

    salam rahayu.

  5. Dan itu terjadi pada saat sekarang ini ketika Para Muda bangkit kesadarannya untuk merevolusi kultur, bertiwikrama budaya, masa akan datangnya jaman keemasan Majapahit, masa 500 tahun ini diakhiri dengan Kala Bendu untuk menyongsong datangnya jaman Kala Suba.

    ==> Kalo mau lebih blak-blakan lagi ada yang ngomong gini : Adanya gempa bumi, bencana alam segala macam saat ini adalah tanda-tanda kedatangan Sabdopalon .🙂

    Cukup banyak yang menafsirken demikian lho🙂

  6. @ Pak Sunarnosahlan
    Mangga dipunsekecakaken rumiyin anggenipun pinarak Pak😀

    @ Kang S™J
    Mangga-mangga Mas katuran pinarak😀

    @ Kangmas Hadi Wirojati
    Menika sanes saking kula nanging sebuah persembahan dari para pelaku jangka, putra wayah Majapahit.
    kawula namung sakderma mundhi dawuh para leluhur atur wahana kagem nuduhake sing putih iku sejatining ireng lan sing ireng sejatine putih
    mugya kita saged ‘golek banyu bening’ saking riwayatipun para Leluhur
    mulat jantraning jagad, ambabar kawruh kasaenan memayu hayuning diri, sesami tuwin jagad sawegung. Menawi panjenengan kersa wonten dawuh angidung Pedhanhyangan memule para leluhur.
    salam karaharjan salam sih katresnan

    @ Kangmas Sabdalangit
    Matur sembah nuwun Mas Sabda
    Sudah tiba saatnya tersingkap tabir kegelapan dunia
    Berbicara tentang seleksi alam, bila mengandalkan manusia untuk merevolusi kultur dapat diibaratkan njugrugake gunung nganggo gaman cethok, akan butuh waktu ratusan tahun. Oleh karena itu biar alam yang nyengkakake revolusi manusia yang telah lama ber de-evolusi menjadi setan riwa-riwa mindha manungsa anggawa agama
    Salam karaharjan
    Hayu rahayu tentrem sekti teteg teguh wiyono

    @ Eyang dbo911 saha Yang Kung
    Nuwun Eyang, mugya para mudha saged bangkit winisuda dados manggalaning triwikrama budaya
    Pangestunipun saking para pinisepuh dados gegamaning laku
    Nuwun
    Rahayu
    Salam…Kanugrahan, Karaharjan, Karahayon

    @ Mas Lovepassword
    Inggih kados mekaten Mas, cobi panjenengan waos kanthi trewaca thread Kaki Tunggul Jati Jaya Amongraga:mrgreen:

  7. Whhuuaaahhh, pencerahan yang PADHANG-JINGGLANG dari kimas Tomy,

    Lha kalau menyinggung JUMBUHING TITIWANCI JAYABAYA- SABDAPALON-MAYA.., para Sedulur-Sikep sing seprana-seprene ‘setia njaga UWIT-KAWRUH’ ing tlatah SANGIRAN.., kira2 bakal melu slamet ora ya? Nyuwun pencerahan kimas Tomy/kimas Sabda…
    Sumangga kawula aturi lenggah wonten gubug mbluthuk suwung sikapsamin
    Matur nuwun sakdurunge…

    Salam TRIWIKRAMA BUDAYA
    Salam TRIWIKRAMA SUMPAH-PEMUDA

    Semoga Gusti Ingkang Maha tansah paring Karaharjan lan Karahayon marang panjenengan kabeh, para Sedulur Sejati Tunggal-Sikep ing NKRI

    Bhinneka Tunggal-Sikep
    Bakuh-Kukuh-Utuh…NKRI

  8. PAMUJI RAHAYU..,

    sendika dhawuh Kidimas… dhawuhipun kula tampi kanthi renaning penggalih… kangge memule para leluhur.. “‘padhanhyangan ” tanah jawi.
    matur sembah nuwun.
    salam sihkatresnan, karaharjan , kasugenngan.
    hayu . hayu.. hayu.. rahayu.

  9. sebuah kisah historis yang layak utk diungkap kembali sebagai bahan refleksi utk konteks kekinian, pak tomy. saya setuju, kalau budaya perlu segera direvitalisasi. nilai2 kearifan lokal yang sarat dg simbol dan pasemon, perlu dibedah dan digali kembali sbg kekayaan kultural. sayangnya, ketika reformasi di negeri ini teah bergulir, budaya (nyaris) tak pernah direformasi.

  10. Dari semua kisah tentang sunan kali jaga seh siti jenar kisah ini baru saya dengar teruskan nguri uri budaya leluhur mas tomi salam sejati.

  11. wah mantep kakangmas tomy………….

    penjelasan panjenengan melengkapi wawasan saya, setahu saya yg telah saya baca kisah sunan kalijaga dan prabu brawijaya itu hanya sampai pada sejarah kota banyuwangi, sedangkan moksanya beliau di ngobaran baru tahu setelah baca tulisan ini…duhh kupere aku ki…:mrgreen:

    memang antara penyebaran agama apapun juga itu pasti menimbulkan konflik/gesekan dengan budaya setempat…..sebagai contoh dulu pada waktu ajisaka datang menumbal tanah jawa dan mengusir para dedemit2….secara maknawi dedemit2 itu bisa berarti orang asli jawa yg masih beragama lokal dan tidak mau masuk ke agama hindu…ini perkiraan saya lho…begitu pula dengan islam yg diceritakan di darmogandul dan kristen…..tapi seiring dengan perjalanan waktu, hindu/budha lama2 jadi kejawa jawaan juga, pada waktu mataram purba aroma hindu india masih kental, tapi pada waktu jaman kediri sudah menemukan identitas asli hindu yg ke jawa jawaan, demikian pula dengan islam pada waktu jaman demak masih ke arab araban tapi ketika jaman mataram islam panembahan senopati sudah ke jawa2 an hingga pewaris sekarang ini.

    maka kesimpulannya…agamanya tidak salah yg salah pemahaman umat thd agama itu sendiri, seperti pisau ditangan juru masak bisa utk merajang bahan makanan, tapi ditangan perampok bisa utk membunuh………begitu pula dengan kitab/buku suci ditangan agamawan bisa utk mengajarkan kebaikan tapi ditangan orang jahat bisa juga utk membunuh dengan cara memukulkan kitab yg tebel itu ke kepala korban…:mrgreen:

  12. Yth. Kimas Tomy,
    Saya baca-baca lagi lebih teliti, saya jadi tertarik atas peran/posisi Sunan Kalijaga… Melamun…siapa dia sebenarnya..?
    Akhirnya ingat ada sumber lain yang pernah saya baca(kalau nggak salah Wikipedia juga), yang intinya ” bahwa Sunan Kalijaga sebenarnya/atau punya nama lain Gan Si Cang anak dari Gan Eng Cu, seorang adipati/bupati Tuban yang diangkat Majapahit tapi akhirnya juga memberontak.
    Mana yang benar, mohon pencerahan mas Tomy.
    Matur nuwun…

    @ Yth. Kimas Dr. M4stono, SpJ,..

    Whaaahhh…pinanggih wonten mriki to kangmas,
    Nyuwun pangapunten ngengingi koment panjenengan bab ‘juru-masak, perampok…lsp, kepareng kawula ngaturi ‘anti-panadol'(‘anti-lupa), jelasipun mekaten :
    Sudah cukup lama sebenarnya fakta/fenomena bahwa Juru-Masak, Ahli-Dakwah, Dokter, Pembunuh, Pemerkosa dsb., mampu diperankan oleh satu-orang. Mekaten kangmas, nyuwun pangapunten bilih wonten ing pas wonten ing penggalih. Matur nuwun…

    Salam…Kanugrahan, Karaharjan, Karahayon kagem panjenengan sami

  13. @ Kakang Sedulur Sikep

    Mbah Kali sebenarnya adalah cucu dari Mbah Brawijaya sendiri, putra Dipati Tuban yang dulunya saudagar/nakhoda kapal cina yang diangkat Mbah Brawijaya
    Mbah Kali yang menciptakan tokoh wayang cakil juga menyebut dirinya sebagai KENYA WANDU
    sebagai pasemon atas dirinya sendiri yang lahirnya ikut Jin Bun tapi batinnya tatap condong kepada Simbahnya sendiri Mbah Brawijaya
    ia adalah seorang ksatria tapi berwujud raksasa
    ujudnya lelaki tapi suara & cerewetnya seperti wanita
    juga punya mulut mrongos bergigi tajam sebagai maksud seorang pengkotbah ulung tiada yang bisa menandingi dalam berdebat

    maka ksatria sejati dikisahkan dalam pewayangan harus membunuh cakil beserta 4 punggawa raksasanya, lambang nafsu & kemunafikan, ini yang disebut Perang Kembang
    sekarang sumangga Kakang kita lewati Perang Kembang dalam diri kita masing-masing

    Haywa samar dur sukering kamurkan
    salam karahayon

  14. Yth. Mas Tomy,

    Matur nuwun, matur nuwun sanget atas paparannya…
    Berulang-kali saya baca, lama-lama kepala kliyengan, rasanya ubun-ubun berasap, dada menggelegak karena mendengar gema sajak Adi M. Masardi “NEGERI PARA BEDEBAH” yang menyeruak ditengah puncak “Peperangan Kembang-Telon”: Buaya-Cicak-Godzila.
    Saya malah menggambarkan dalam gelar lakon “Perang Kembang-Telon” ini, justru didalangi Bhuto-Cakil…..

    Kira-kira apa begitu mas, maaf kalau keliru…

    Salam…”Perang Kembang-Telon”

  15. Nuwun Mas,
    semua ini yang terjadi dalam rangka nuduhake sing putih kuwi ireng sing ireng kuwi putih
    memang dalam keadaan negara sekarang ini banyak menyebabkan kepala kliyengan

    namun jiwa yang merdeka tahu dibalik peristiwa yang tergelar ini ada kedalaman
    mbah Kali sudah paring dawuh adanya Brang Bring Brung, perang silih klambi, pecahing raga rasa lan sukma
    kaum agama melawan kaum agama, penegak hukum melawan penegak hukum

    dan disitulah Sang Durjana Durmala Durmadi akan disingkapkan

    salam “Perang Kembang Macan Kerah”

  16. waduh, kromo inggile mlipis. wis suwe tinggal di jakarta… kromo inggil jarang dipraktekkan. sing lancar ngoko…. kasar.
    bacaan inspiratif, mengenang keagungan dan kejayaan nenek moyang kita di bumi nusantara ini. namun anak cucunya skrg pada kurang ajar. tdk ada tanda2 mewarisi kebesaran & keagungan jiwa + moral leluhurnya. mbuh, nurun siapa para pimpinan bangsa ini. korupsi, berbohong, kasar, tidak tepo seliro, gila hormat, adigang adigung adiguno menyadi gaya hidup & standar moral mereka. tobyat…..

  17. Pamuji Rahayu katur Kangmas Tomy, ugi kadang sepuh sedoyo….

    Ingat cerita sesepuh2, daerah Pedan Klaten adalah saksi sejarah Eliminasi final besar-besaran pengikut Hindu Majapahit, hingga daerah ini disebutkan sebagai Perang Peped-an, pengejaran berakhir di desa Kamar Ratu Ngernak kecamatan Ceper Klaten….

    Pembunuhannya(!!) sendiri melebihi kekejaman tentara Merah tahun 65….

    Sungguh sejarah yg sangat memilukan.

    Klo ada orang awam bilang Masuknya Islam di Jawa tidak melalui pertumpahan darah, itu adalah KEBOHONGAN BESAR!!!

    Banyak kerabat keraton Majapahit yg pergi mengungsi agar tidak dibunuh prajurit Demak!
    Salah satunya Eyang Pepe (KGP Haryo Kusumo hingga harus berpura2 menjadi wong edan agar lolos dr pembunuhan….

    Saya sebagai warga Pedan menjadi ngungun….

    SOPO SING SEJATINE WONG SING RA NGERTI UKUM LAN UNGGAH UNGGUH !!!!!!!!

    CATATAN KHUSUS LAN PENTING:

    YEN DINALAR TENAN, ORA ONO WONG TUWO SING NGOJOK-OJOKI ANAK-ANAKE SUPOYO PODO GETHING LAN PATEN PINATEN!!!!!
    OPO ONO WONG TUWO NGOJOK-OJOKI ANAKE MATENI SEDULURE DEWE AMARGO ANAKE LIYANE NAKAL LAN MBALELO ORA MANUT BAPAKNE ???????!!!!!!!!!!!!!!!

    Matur nuwun.
    Salam karahayon, karaharjan tumrap sagung dumadi….

  18. Salam ku untukmu kang…
    Dalam temaram sore menjelang surup matahari di balut mega-mega tipis, sejenak kabut air memberikan salam kepada mata. Seakan menginyakan juga termangu membaca kisah yang elok dan bersahaja…

    Kang….
    Di depanku sekarang terpampang cerita kehidupan milik orang lain, tetapi bersinggungan langsung dengan rentetan kisah sambungan cerita yang terpintal dengan terpaksa. Mudah-mudahan apa yang telah terlontar karena kekesalan diri tidak menjadikan diriku lupa. Pengadilan Gusti pengeran turun dengan benar dan sempurna dengan segera. MERAJAM SAHWAT TIDAK PATUT yang terjadi di depan mata antara kebinalan bibi (HAJAH, bulan besok UMROH) berGANGNAM STYLE di muka bumi dengan bocah bau kencur putra adiknya sendiri, HABIS TUNTAS beserta seluruh turunan yang mencoba menutupi aroma busuknya.

    Kang… minta bantuan dan sokongan do’anya, agar cepat terlaksana pembersihan ini…

  19. he2. sejarah kwi kedadean masa lampau yg sudah terjadi ratusan th yg lalu. msih aslikah kisah2 sejarah yg ada di negara ini? pd hal slma lbh dr 300 th bgsa kita dlm penguiasaan pnjajah yg notabene mrka dpt melakukan apapun termasuk mengubah buku2 sjarh. bgmna dg sejarah 65 tntang pki dan supersemar
    yknkah annda bhwa emg spt itu kejadiany? trnyta sejarh bgsa kita bsa di buat sesuka hati oleh mrk yg brkpntngan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s