LOGOSENTRIS DAN STIGMA ANTIKRIS

Standar

Sepanjang sejarah, manusia membutuhkan pemahaman & pemaknaan akan hidupnya, Baik lewat jalan spiritual maupun ilmu pengetahuan, bisa lewat agama, pemuasan hawa nafsu juga eksploitasi alam.

Hanya dalam memperoleh pemahaman & pemaknan itu manusia butuh penanda ‘logos’, dimana para winasis mengibaratkan jaring dalam menangkap ikan

Bila ikan sudah tertangkap seharusnya lupakan jaringnya jangan malah terpaku padanya

Inilah yang terjadi pada manusia saat ia memahami makna namun terperangkap dalam penanda atau logos

Alih-alih menemukan kesejatian diri ia malah terperangkap oleh penanda seperti Tuhan, Tanah Terjanji, Surga dll. Logos menjadi semacam komoditas yang diperdagangkan & diperebutkan.

Manusia tidak lagi mencari makna ia sudah puas dengan segala pemaknaan yang secara kutural didoktrinasi & diinternalisasi kepadanya.

Inilah sumber kekacauan atau chaos. Manusia tak mampu meneruskan evolusinya menuju manusia atas meminjam istilah Nietzche.

Sebenarnya dibalik segala penanda yang secara empiris kita cerap ada yang disebut arche, kalau orang Jawa menyebutnya Sangkan Paraning Dumadi nggih sumangga kersa, sebuah proses yang membawa kita pada suatu kepenuhan hidup.

Contohnya infrastruktur yang dibuat manusia untuk memnuhi kebutuhan hidup seperti bendungan atau waduk. Ratusan tahun sebelumnya para Winasis telah meramalkan bahwa sebagian Jawa akan kembali jadi laut. Nah bukankah kalau terjadi gempa besar di daratan Jawa bendungan seperti Wadas Lintang, Gajahmungkur dadal sungguh2 akan membuat Jawa menjadi laut.

Ada sebuah proses yang sedang berlangsung dalam setiap peristiwa yang terjadi

Ada makna dibalik segala penanda

Ada arche yang mengawali logos

Sangkan paraning dumadi

Yesus

Yesus

Sebuah cerita di keluargaku


Saat pertemuan keluarga besar yang diadakan di rumahku rajah Kalacakra yang kupasang diatas pintu lupa belum kuambil.

Banyak Saudaraku yang mengernyitkan dahi melihatnya seakan melihat suatu hal ganjil dan aneh.

Seorang pamanku beragama Kristen bertanya apa maksud dari gambar coret-coret yang ada di atas pintuku.

Sebelum sempat menjawab pamanku yang lain mengatakan ,”Oh Tomy itukan penganut Kejawen..”

Yang lalu disambut pamanku yang tadi bertanya, “Gambar-gambar seperti itu namanya Antikris”

Dengan senyum aku menjawab sekenanya saja “Boleh jadi Om, tapi Yesus sendiri yang mengajarkan makna gambar itu kepada saya”.

Ah andai mereka mau mendengarkan tidak segera memberi penilaian dan stigma…

Simbol apapun baik dalam bentuk kata, lukisan atau tulisan diperlukan manusia untuk menangkap makna, seperti pamanku yang Kristen ia menggunakan Salib yang digantung di dinding untuk menjelaskan hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesamanya sementara pakdheku yang Islam lebih afdol memakai syair2 indah yang disebut dengan Al Fatihah.

“Kok bisa Yesus yang mengajarkan seperti itu?” Tanya pamanku sewot

“lho Yesus khan mengajarkan untuk mengasihi musuh-musuh kita bahkan salah satu sabdaNya adalah bila pipi kirimu ditampar berikan pipi kananmu. Sekarang coba Om kita simak doa dalam Kalacakra :


YAMARAJA…JARAMAYA

– siapa yang menyerang berbalik menjadi berbelas kasihan

YAMARANI…NIRAMAYA

– siapa datang bermaksud buruk akan malah menjauhi

YASILAPA…PALASIYA

– siapa membuat lapar akan malah memberi makan

YAMIRODA…DAROMIYA

siapa memaksa, malah menjadi memberi keleluasaan atau kebebasan

YAMIDOSA…SADOMIYA

-siapa membuat dosa malah membuat jasa

YADAYUDA…DAYUDAYA

-siapa memerangi malah menjadi damai

YASIYACA…CAYASIYA

-siapa membuat celaka malah menjadi membuat sehat, sejahtera

YASIHAMA…MAHASIYA

-siapa membuat rusak malah menjadi membangun dan sayang.

Nah, makna yang tersirat sama antara tanda Salib, Al Fatihah maupun Rajah Kalacakra.

Bila kita telah mampu mengupas buah dan memakan isinya yang berasa sama, mengapa kita harus meributkan pembungkusnya


Sementara itu didalam rumah ada terpampang lukisan Ibu Ratu Kidul yang segera disikapi oleh bibiku sebagai musyrik. Dengan tenang istriku menjawab,

”Bila Bunda Maria menampakkan diri di Meksiko memakai pakaian Indian, masak Yesus jalan-jalan di Tanah Jawa tidak boleh pakai blangkon”:mrgreen:

59 responses »

  1. Saya sangat mengapresiasi kalimat:
    “Bila kita telah mampu mengupas buah dan memakan isinya yang berasa sama, mengapa kita harus meributkan pembungkusnya”

    **********
    Maturnuwun Pak atas apresiasi & atensinya😀

  2. akhirnya di apdet juga mas tomy…heheheheh

    btw ternyata panjenengan penganut kitab teles yah hihihihihi, kalau menurut hemat saya secara muslim, kitab teles itu memang kitab yg tersirat dan terdapat di semua kitab, sesuai dgn namanya teles berarti basah dan mudah menyerap didalam kitab garing qur’an, injil, taurad dll…kitab teles ini tidak tertulis tapi nyata yaitu budi pekerti/akhlak mulia……..

    kalau menurut saya pribadi kalau kita menjaring mendapatkan ikan maka jaringnya akan tetap terpakai untuk mendapatkan ikan lainnya, kamsudnya gini, apabila sudah mencapai tataran makrifat maka sholat yg notabene ibadah syariat tetap dijalankan tapi sudah bukan kewajiban lagi tapi sudah merupakan hak bagi org yg makrifat…..sholat 5 waktu bagi orang yg makrifat ibarat pegawai negeri gajian 5 kali sehari, kalo tidak diambil sekali saja sudah merasa rugi bgt…..inilah beda motivasi antara tataran syariat dgn makrifat…apabila masih suka meributkan kulit maka ibadah ibarat siksaan karena keterpaksaan, maka berlaku sebaliknya bagi yg sudah bermakrifat, orang yg bermakrifat tidak suka meributkan jaring/kulit, semua akan kembali kepadaNya…………….maka syariat itu diperintahkan utk dilaksanakan bukan utk membebani umatNya melainkan sebagai bonus apabila dia yakin dan percaya, bukaanya malah ditinggalkan karena sudah terpuaskan tujuan hidupnya tercapai………..tapi sekali lagi ini pendapat lho mas…….ya monggo kerso aja namanya juga berpendapat……………….:mrgreen:

    **********
    Matur nuwun sanget Mas Tono atas sharing kawruhnya. Saya sependapat dengan panjenengan.
    Hidup akan selalu berproses demikian juga manusia hendaklah tak pernah berhenti berproses.
    Dalam berproses itu manusia butuh penguatan-penguatan
    ibarat menapaki perjalanan manusia butuh perhentian, untuk mengambil hikmah dari jejak langkahnya dan kekuatan dalam melanjutkan
    Untuk itulah penanda akan selalu hadir
    :mrgreen:

  3. Uraian yang mengupas kulit guna memperoleh isi/MAKNA…

    Ya..ya..PENGGALIAN-MAKNA…

    Yang sering diabaikan, dibalik kulit-luar…masih ada kulit-ari…
    Tapi memang kebanyakan isinya boleh dimakan bersama kulit-arinya…

    Setelah nung-nong-nangng-ningngng-nengngngngng…
    Kulit-aripun…seyogyanya dikupas…

    Salam…Kanugrahan, Karaharjan lan Karahayon kagem kinakmas Tomy sakaluwarga…

    **********
    Semoga kita dapat mencapai inti kesejatian
    Tidak hanya muja diyu ngumbar nepsu rebutan klambi
    Salam…Kanugrahan, Karaharjan lan Karahayon ugi kagem Eyang sakaluwarga…

  4. Jati diri manusia adalah “anak Allah”,dan panggilan hidupnya adalah hidup sesuai dengan martabatnya,yaitu hidup dalam kasih,menjadi penerus kasih Allah :berpikir,bersikap,berbicara dan bertindak berlandaskan kasih.

    dari logosentris yang ada bisa dipahami secara kasatmata nilai2 moralspiritual bagi sesama yang berkeyakinan lain.

    salam rahayu.

    **********
    Nuwun Yang Kung
    Semoga kita anak Allah ini mampu mewujudkan Kerajan Allah di muka bumi
    Salam karahayon

  5. Mas tomy, hidup ini memang kadang-kadang lucu, sebab kan sudah ada pribahasa “apalah arti sebuah nama”. Bunga mawar atau melati dinamai apa saja tidak akan “mengubah” bau harumnya.Apa pun namanya tidak akan mengubah sifatnya.

    Tetapi dalam perjalanannya, manusia lebih terjebak pada “nama” bukan pada substansinya. Hiruk pikuk tentang semiotika ini kadang berakhir dengan “peperangan”.

    Tetapi jangan-jangan dalam kehidupan ini memang harus ada peperangan kali ya? yo embuhlah………

    Nih mas tomy saya copykan, salah satu diskusi saya di sebuah blog MAKRIFAT, mbok menowo berguna, atau paling tidak sekadar untuk ngisi blog nya panjenengan. Sbb :

    ya sama dong, saya juga YAKIN bahwa tuhan BISA mengerjakannya sendiri apa pun yang Dia kehendaki.

    So, tuhan gak perlu NABI, jika ada orang yang mengaku sebagai NABI atau ROSUL bagiku itu TIDAK MUNGKIN utusan dari Tuhan. Oleh karena itu aku tidak percaya jika mereka “menggendong” wahyu.

    Mengapa saya berpendapat seperti itu? Jawabannya mudah saja kok.

    Sebab, seluruh KEHENDAK TUHAN telah diTRANSFER melalui ALAM SEMESTA. Mari kita uji kebenaran keyakinan ini.

    Bagiku inilah yang disebut THEOLOGI RASIONAL bukan theologi yang mistis transendental-subyektif yang dijual oleh para nabi/rosul melalui kedok agama.

    ILMU TUHAN YANG TAK TERBATAS telah membuat seluruh manusia yang NORMAL selalu dibekali akal budi dimana secara GENETIS setiap insan PASTI MEMILIKI KESADARAN untuk berbuat BAIK, di mana pun atau di belahan bumi mana pun.

    HATI NURANI INI TELAH ADA TANPA PERLU MANUSIA MEMINTANYA (taken for granted), INILAH YANG DISEBUT DENGAN NUR ALLAH AKAN MENETAP PADA DIRI SETIAP INSAN.

    Memang dalam perjalanannya, banyak manusia yang akhirnya KEHILANGAN HATI NURANI, hal ini jelas bukan kesalahan tuhan melainkan karena manusia telah MENGANIAYA dirinya sendiri.

    ALAM ini adalah KUMPULAN ATAU GUGUSAN WAHYU TUHAN YANG TIADA TERHINGGA, tinggal tergantung KEMAMPUAN MANUSIANYA UNTUK MEMBACA ATAU MENAFSIR RUMUS-RUMUS ALAM SEMSTA, mampu atau tidak?

    Bagi saya NABI ATAU ROSUL terlalu sangat kecil dibandingkan dengan KUASA TUHAN. Lagi pula semua itu hanyalah PENGAKUAN SEPIHAK.

    Bagiku, Tuhan terlalu “agung dan suci” untuk menitipkan wahyu-wahyu-Nya melalui orang-orang seperti muhammad, yesus dan sebagainya.

    Mengapa?

    sekali lagi DENGAN MEKANISME KERJA ALAM SEMESTA YANG TIADA TERBATAS, Tuhan telah berbicara dengan BAHASA-NYA SENDIRI, yang tak pernah BOHONG. Bisa melalui bahasa fisika, geometri, aljabar, biologi, kimia, matematika dan sejuta bahasa “alam” lainnya.

    Dengan keyakinan seperti itu, makanya saya TIDAK PERLU NABI atau ROSUL, terus terang saya JUSTRU sangat senang dan LEBIH MEMERLUKAN BANYAK ORANG SEPERTI MAS BASET untuk bersama-sama MEMAYU HAYUNING DIRI DAN MEMAYU HAYUNING BAWONO.

    Bagiku, hidup tak perlu terlalu banyak teori keagamaan, sebab semakin banyak teori keagamaan justru semakin bubrah karena masing-masing mengaku yang paling benar dan sempurna. Kalau sudah begitu ujung-ujungnya saling merendahkan, menghina dan saling menyalahkan. Terus terang aku bosan dengan situasi semacam itu.

    Dengan tulisan-tulisan ini aku sama sekali TIDAK BERHARAP dan TIDAK INGIN anda mengikuti KEYAKINANKU, sebab aku rasa keyakinanku hanya cocok untuk diriku sendiri.

    Jika ada yang berkenan menanggapi, monggo silakan supaya blog ini tidak berhenti.

    wassalam

  6. Yth. Mas Tomy,

    Uraian yang mencerahkan, logo2 yang akhirnya marai gegeran.
    Tapi saya tertarik dg Rajah-Kalacakra, soalnya tetangga rumah, orang Bali tapi istrinya ‘jawa’, pasang Rajah tsb ditiap tiang-tembok pagar. Katanya pesan dari Bali, tapi kok huruf2-nya Cina? Pertanyaan lain Rajah tsb konon bisa menolak bala ya, terus daya tolaknya sampai radius brp?
    Mohon pencerahannya, matur nuwun.

    Soal ‘dijadikan komoditas yang diperdagangkan’, kan memang sudah menapaki Sejarah cukup panjang.
    Silk-Road adalah Jalur-Perdagangan, yang mula-mula komoditasnya Sutera (kain, bukan merek). Tahap berikutnya Agama kemudian Politik. Ini kalau saya nggak salah menyimpulkan.., DAGANG – AGAMA – POLITIK. Malah simbah dulu wanti2 utk terjun kedunia Dagang…

    Menyinggung simbah, tertarik komentnya mas Suprayitno diatas,
    @yth. Mas Suprayitno, benar2 PENER(istilah simbah), 1000%-PENER/TEPAT mas komentnya. Apalagi yang bagian …’tidak percaya kalau mereka menggendong wahyu’… Kembali refer dawuhe simbah YANG PASTI MEREKA MENGGENDONG-LALI(LUPA).
    Salut mas Prayitno, cuma mau berkunjung kok harus lewat Gerbang-Detektor ya, tapi nggak apa lain kali saja.

    Matur nuwun mas Tomy, mas Suprayitno,
    Mohon maaf kalau ada kata2 yang kurang berkenan.

    Salam Tunggal-Sikep
    Bakuh-Kukuh-Utuh…NKRI
    Samin adalah Sikap

  7. @ Mas Sikap Samin
    RAJAH KALACAKRA

    Dalam kisah pewayangan, dikisahkan tentang Batara Kala yang tercipta dari kama salah kedaden Batara Guru. Batara kala symbol dari Diyu, nafsu salah kedaden manusia yang perlu diruwat atau dimuliakan kembali. Batara Winu sebagai dewa pelindung & penjaga keharmonisan alam mendapat tugas untuk meruwat Sang Batara kala. Menyamar sebagai dalang Kandhabuwana Batara Wisnu melaksanakan upacara ruwatan Murwakala dan mampu membaca tulisan yang tergores di dada batara Kala, yang disebut dengan Rajah Kalacakra.
    Karena hal itu, Batara Kala kemudian mengikuti kehendak Batara Wisnu. Dan Kalacakra digunakan sebagai mantra untuk mengenyahkan pelbagai kekuatan magis jahat yang mengganggu kesentosaan lahir batin pada waktu berlangsung upacara ruwatan bagi para bocah sukerta. Mantra Rajah Kalacakra dibaca berulang kali oleh ki dalang sewaktu memotong rambut bocah sukerta dan sewaktu memandikanya dengan air kembang.
    Ada lagi yang disebut Kalacakra Samba yang dimiliki oleh Pepundhen Samba dan pernah digunakan oleh Kebo Kanigara membawa cucunya Hadiwijaya atau Karebet atau Jaka Tingkir mencapai kamukten.
    Dikisahkan Hadiwijaya adalah juga keturunan Brawijaya & berhak atas tahta yang kini dikuasai Panembahan Jimbun. Oleh Sang Eyang hadiwijaya diberi ilmu Kalacakra Samba yang berada di telapak tangan sebagai sarana memperoleh kembali hak warisnya.
    Sang Eyang menyatu dengan Kebo Landoh & hanya bisa diswargakake oleh kesaktian Kalacakra ditangan Hadiwijaya.
    Bagi yang telah paham Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu Kalacakra baik yang di dada maupun ditelapak tangan ini bisa diakses karena segala apa yang ada di jagad gumelar ini juga ada dalam jagad pribadi kita.
    Namun yang penting bagi kita adalah laku dari Kalacakra ini.
    Sama dengan perintah agama tentang cinta kasih & mengasihi musuh, Kalacakra pun demikian juga, lakunya bila ada yang meminta sesuatu darimu berilah lebih dari yang dia minta meski dari kekuranganmu. Kalau ada maling ketangkap jangan digebuki tapi malah diberi apa yang menjadi kebutuhannya yang tak mapu ia penuhi sehingga maling
    Identik dengan Salib dalam Kristen adalah tanda kemenangan Tuhan yang telah menyelamatkan dunia Rajah Kalacakra adalah tanda kemenangan meruwat diyu
    Jadi keampuhan Rajah Kalacakra terletak pada tutuge laku kita
    Apakah kita menehi teken marang kang kalunyon, menehi managn marang kang luwe menehi banyu marang kang ngelak menehi pepadhang marang kang nandang kapetengan
    Seperti juga keampuhan Salib terletajk pada bagaiaman kita mewartakan kasih Allah

    Symbol atau penanda memang punya kuasa
    Tapi manusia mampu memberi kuasa pada semua symbol & penanda
    😉

    Terimakasih Mas sudah bertanya, dengan menceracau seperti ini saya turut diingatkan & dikuatkan kembali:mrgreen:

    mungguh wis pada saguh (karena sudah saling sanggup)
    anggladi oyoting jati (melatih akar kesejatian)
    sakmadyaning kuwat kulup (selama masih kuat anakku)
    Narima yen kataman (terimalah jika mendapat cobaan)
    isin panggawe dudu (malu berbuat keliru)
    ninggalaken laku ngiwa (tinggalkan perilaku jahat)
    oleha hayu swarganipun (dapatkanlah kebahagiaan sejati)

  8. Mas Prayit leluhur kita tak mengenal Nabi , sebutan Rasulpun diinterpretasi sebagai Rahsa, utusan Urip
    Utusan Urip itu semua, sama tak mengenal kelas nabi, yang membedakan hanyalah laku sebagaiaman ynag Mas Prayit katakan sebagai MEMAYU HAYUNING DIRI DAN MEMAYU HAYUNING BAWONO.
    Kafirpun tidak dikenal tapi kalau kapiran yaitu kebangkrutan diri karena ketakmampuan mengenal jati diri ada
    Hidup bukan sekedar arena kompetisi yang luas yang mempertentangkan benar atau salah apalagi bila melihatnya memakai kacamata kuda
    Namun keharmonisan dan keselarasan
    Mengenal JADI DIRI dan JATI DIRI

  9. @Mas Prayit : Oke hadir deh. Hi Hi Hi. Kau itu jan penuh semangat. Aku baru nyadar lho kalo obrolan kita ternyata kamu post ke mabesnya JIL barang. Hi Hi Hi. Aku membaca sampe melongo je. :)Tahu gitu kan aku dandan dulu pake jas.

    Teologi Rasional ki opo mas ? Rak ono teologi sing full rasional. Sing ono sok rasional . Lha nek rasional kabeh yo dudu teologi kuwi. ( mringis mode on )

    Pa Kabar ?

    See You

  10. Jumpa lagi mas love, kau penuh cinta deh.

    Theologi rasional itu kan istilah yang aku buat sendiri, aku gak tahu landasan theorinya/literaturnya ada apa tidak.

    Oleh karena itu kau boleh anggap/interpretasikan/nilai salah juga boleh kau anggap benar. Aku tak menuntut keduanya dari anda.

    tapi sesungguhnya yang aku maksudkan adalah, cara kita mendekati ke Allohan/Ketuhanan menggunakan pendekatan yang lebih rasional ketimbang mistik.

    Sebab tuhan itu bagiku hanyalah masalah semiotis, nah supaya gathuk ya harus di komparasikan dengan kenyatan-kenyataan yang lebih terukur.

    Di luar itu yang tidak terukur, tentu masuk pada ranah mistisisme. Gitu lho mangsudku, kau tentu saja boleh dan sah untuk tidak setuju, sebab latarbelakang pemikiran dan keyakinan kita mang berbeda.

  11. WAHYU ILAHI

    ALAM ini adalah KUMPULAN ATAU GUGUSAN WAHYU TUHAN YANG TIADA TERHINGGA, tinggal tergantung KEMAMPUAN MANUSIANYA UNTUK MEMBACA ATAU MENAFSIR RUMUS-RUMUS ALAM SEMSTA, mampu atau tidak?

    Pengertian wahyu diberbagai agama memang berbeda, bila dalam Islam wahyu adalah anugerah Tuhan bagi manusia terpilih dalam Kristen wahyu adalah Sabda yang menjadi Daging yang terwujud dalam diri Yesus.
    Bagi mistikus Timur seperti leluhur Nusantara, wahyu seperti yang telah dijelaskan oleh Mas Prayit. Wahyu adalah tersingkapnya kesejatian diri.
    Hasil dari laku kita sebagai manusia dalam memaknai hidup.

    Sebagai contoh :
    Seorang wanita, istri yang sungguh2 menghayati hidupnya sebagai mitra lelaki dalam penciptaan, penjaga, pelindung dan perawat kehidupan suatu saat ketiban wahyu SRI GADUNG MELATI dhanghyang penunggu mata air symbol penjaga mata air kehidupan.
    Sepasang suami istri yang telah setia atut runtut tansah reruntungan kadya mimi lan mintuna mendapat wahyu KEONG MAS symbol cinta yang tak terpisahkan dari Panji Inukertapati dan Dewi Galuh Candrakirana.
    Seorang seniman yang mengabdikan dirinya demi seni guna membuat hidup lebih indah mendapat wahyu KAPUJANGGAN.
    Dan masih banyak lagi termasuk wahyu jadi Ratu atau Presiden.

    Jadi menurut saya memang benar wahyu adalah anugerah bagi manusia terpilih yang mampu memaknai hidupnya sehingga kesejatian dirinya akan disingkapkan.
    Namun tak seorangpun boleh mengklaim pencapaian hidupnya itu dengan menafikan pencapaian hidup orang lain atau malah menganggap dirinya lebih dari orang lain, karena wahyupun bisa dijabel, diambil lagi dari dirinya. Saat laku hidupnya tak lagi menggambarkan citra wahyu itu.
    Benar juga bahwa wahyu adalah Sabda menjadi Daging.
    Bila Mas Prayit menganggap Tuhan hanya sekedar konsep, maka wahyu adalah sebuah peng-alam-an manusia atas segala konsep yang dibuatnya itu. Suatu yang trensenden yang jauh diawang-awang yang dicipta dalam angan-angan manusia itu mulai di-alam-i dijadikan suatu yang imanen.😀
    Jadi Tuhan tidak lagi di atas langit entah dimana namun sungguh2 membumi, hidup dalam diri kita, mewujud dalam tingkah laku “solah bawa” kita😉

    Maka kita juga sama identik dengan Yesus, Tuhan yang meninggalkan segala kemuliaanNya dan mengambil wujud dalam rupa manusia:mrgreen:

  12. pamuji rahayu..

    betul Kidimas … Yesus .. adalah gambaran wahyu disabdakan menjadi daging… untuk lebih mengena dan membuat kita lebih tahu dan mengerti hidup, tujuan hidup.. uripmu kuwi kanggo opo lan opo sing kok gayuh sakjeroning uripmu…, kita adalah gambaranNya…, bagaimana sejatinya kita mengejawantahkan gambaran itu sebagai wujud yang konkrit dalam diri untuk menapaki urip ing gelaring jagad..,atau dalam pendapat Ki Suprayitno ” memeyuhayuning Diri memayuhayuning Bawono” sehingga menemukan sejatinya diri dan setelah ketemu mungkin bisa menebarkan keseluruh alam untuk kebaikan yang penuh dengan kasih sayang tanpa pandang golongan, ras, agama, aliran dlll…, itulah sejatinya satriyo piningit.. sehingga setelah kita menjadi satriyo semua tidaklah lagi memingit diri…, tapi menebar keseluruh alam untuk kelanggengan, kejayaan dan kemakmuran berlandaskan kasih sayang, tepa slira tenggang rasa dan selalu sumeh…, karena jaman ini sudah mendekati puncak jaman kalabendu, sehingga diperlukan para satriyo unggul untuk memayuhayuning bawono dan mengemban amanat leluhur.. tentunya setelah mengalami semuanya, semoga kita menjadi para satriyo yang bisa mengemban amanat dan melaksanakan dibumi ini…, makna dari semua wejangan yang tersirat dan tersurat yang diberikan leluhur sebenarnya sama saja dengan apa yang dihayati sekarang ini.. seyogyanya kita tidak usah rebutan kulit/klambi, begitu baju dibuka kita adalah sama ..,
    matur sembah nuwun
    salam sihkatresnan
    rahayu..,

  13. Hamengeti pambukaning pikir
    kang hangatur raharjaning rasa
    kang magawe ing papane
    pagelaring dunung
    paring padang jayaning urip
    Kamulyan sakjeroning rasa
    Panglejaran iku, pasujudaning sujalma

    kang kepeingin atur sembah mring Hamurbeng Dumadi,
    lan kang hanyipta jagad, Atur tata ing pisumbang kuwi,
    Atur dana ing karyaning gesang
    kanggo kadang kang magawe
    golek lerem lan kukuh
    Golek seneng ing tata lan bekti
    Mulo iki cekelen ing tuntunan agung,
    karsao hangagem nyata, yen tho pancen karsa hangguladi ing pikir, wis niat hangatur rasa.

  14. Dear All , saudara-saudari yang terkasih😉

    @ Mas Suprayitno ,

    Mas Suprayitno berkata :

    tapi sesungguhnya yang aku maksudkan adalah, cara kita mendekati ke Allohan/Ketuhanan menggunakan pendekatan yang lebih rasional ketimbang mistik.

    Sebab tuhan itu bagiku hanyalah masalah semiotis, nah supaya gathuk ya harus di komparasikan dengan kenyatan-kenyataan yang lebih terukur.

    Saya selama beberapa bulan ini telah cukup banyak membaca komentar2 dari mas Suprayitno terutama di blog mas Tomy ini dan blog saya sendiri.

    Sesungguhnya, ada hal yang saya setujui dari pendapat mas Prayit. Juga, terkait dengan artikel mas Tomy mengenai “logosentris” ini.

    Alih-alih menemukan kesejatian diri ia malah terperangkap oleh penanda seperti Tuhan, Tanah Terjanji, Surga dll. Logos menjadi semacam komoditas yang diperdagangkan & diperebutkan.

    Benang-merahnya adalah, manusia dogmatis umumnya tidak berangkat dari “ketidaktahuan”, dari “emptiness” dari “pure-mind”… , tetapi berangkat dari “iman” terhadap ajaran agama.. ,

    Bila berangkat dari “iman” atas ajaran agama, maka dia tidak pernah menemukan kesejatian. Tepat seperti sepenggal kalimat mas Tomy yang ini : ” Alih-alih menemukan kesejatian diri ia malah terperangkap oleh penanda seperti Tuhan…dst.”

    Yang semula hendak dicari adalah, kesejatian, mengenai alam-semesta, diri ini, kehidupan, tujuan-hidup dan lain2 sebagainya. Namun, karena sudah berangkat dari “iman” , maka ia tidak akan pernah menemukan kesejatian yang ia cari2 tersebut, sebab dalam pikirannya telah terinduksi, bahwa kesejatian itu adalah “Tuhan” seperti yang dikonsepsikan oleh ajaran2 kepercayaan dan agama yang diajarkan turun-temurun dan diindoktrinasikan kedalam cetak-biru batinnya.

    Bila sudah begini, maka sudah tidak diperlukan lagi pencarian, karena mencari seperti apapun, yang ketemu di depan mukanya adalah “LOGO” yang sudah disuntikkan kedalam segenap pikirannya, baik dalam alam-sadar maupun bawah-sadar.

    Yang lebih parah lagi, bila Tuhan itu diberi “nama” khusus sesuai ajaran yang dianutnya, maka akhirnya seperti yang banyak terjadi di sekitar kita, pemaksaan keyakinan/kepercayaan.

    Dan, kebenaran pun menjadi kabur, karena apa-apa yang seharusnya hanyalah ranah “kepercayaan” digeneralisasi sebagai “kebenaran” ; padahal antara (sekedar) “kepercayaan” dengan “kebenaran” ( yang-sejati ), itu adalah dua hal yang jauh berbeda.

    MEMAHAMI BENCANA ALAM

    Banyak pemeluk2 agama / ajaran tertentu mengexploitasi penderitaan, kegagalan, dan berbagai frustasi yang dialami oleh ummat manusia untuk kepentingan agamanya.

    Semisal, bila di daerah tertentu sebagian besar penduduknya mengalami kesusahan, tertimpa musibah, maka akan diberi stempel seturut perintah ego-nya, “Itu karena penduduk wilayah itu tidak mengenal Tuhan “ABCDE”.. , coba kalau mereka semua mengenal Tuhan “ABCDE”, pasti nasibnya akan berbeda. Maka dari itu, sadarlah dan bertaubatlah, kembalilah kepada Gusti “ABCDE” yang ESA dan Maha-Kuasa!… dst.”

    Contoh yang nyata adalah, peristiwa bencana-alam yang datang bertubi-tubi.

    Karena peristiwa itu, lalu muncul statement2 tendensius dari orang2 yang menyebut dirinya “spiritualis” , “pejalan-spiritual”. Bahkan, ini tidak hanya muncul dari mulut satu orang saja, tapi banyak orang di negara ini termasuk hingga lembaga agamanya ( Majelis Agama tersebut ) ikut memberikan statement senada. Statement itu kurang-lebih berbunyi demikian :

    Bencana ini semua terjadi karena adalah kehendak “Tuhan” ( ia menyebut nama Tuhannya spesifik sesuai agamanya ) . Ini pertanda bagi kita semua supaya hendaknya sadar dan kembali kepada sebenar-benar ajaran ke-ESA-an “Tuhan” ( kembali ia menyebut nama “Tuhan”-nya dengan spesifik sesuai dalam agamanya dengan berbagai terminologi agamanya ). Agama yang mengajarkan sebenar-benar ke-ESA-an “Tuhan” adalah sebenar-benar petunjuk sejati, dan selama ini masyarakat Indonesia telah melupakan … dst. (dengan banyak menyebutkan istilah2 / kosakata2 agamanya yang bersifat tendensius / “mengarahkan” )

    ( Padahal, bila masalahnya adalah mengenai kembali pada “Tuhan” yang disebutkannya tersebut, maka masalah akan menjadi rumit ketika bilamana mayoritas korbannya dan wilayah tempat terjadinya itu, adalah orang2 dan wilayah yang menganut kepercayaan yang ia seru2kan untuk kembali dipeluk dengan teguh tersebut. Coba, bagaimana bila yang terjadi adalah demikian, apakah tidak menjadi hal yang me-“wirang”2-kan ( mempermalukan ) diri sendiri ?

    Dan, bila sekalipun permasalahannya adalah mengenai “MORALITAS” yang dianggapnya telah “bejad”, maka… serukanlah saja hal2 mengenai perbaikan moralitas tanpa harus membawa2 nama “Tuhan” dan agamanya. Toh, belum tentu dengan meyakini “Tuhan” sebagaimana diseru2kan itu seseorang menjadi ber-moral luhur, sementara banyak pula manusia2 ber-MORAL “sempurna” tetapi tidak meyakini Tuhan dan agama yang dia seru2kan dan bahkan tidak pernah menjadi korban bencana alam tersebut… Bagaimana bila faktanya demikian ? )

    Yang disayangkan adalah, tanpa disadari, orang2 dan sekelompok orang dalam lembaga agama yang merasa dirinya “spiritualis” tersebut, telah mengexploitasi penderitaan yang dialami oleh masyarakat demi pembenaran atas ajaran agamanya sendiri, ditambah lagi, ia telah “menimpakan-tangga” terhadap orang-orang yang sudah “terjatuh” tersebut ( sudah jatuh tertimpa tangga pula ) dengan menjatuhkan penghakiman bahwa mereka telah bersalah karena telah melupakan agama ( tentu saja yang dimaksud adalah agama yang dianut oleh si pengucap tersebut , tampak jelas pada statementnya yang tendensius tersebut ).

    Dan, kalau kita mau jujur, inilah contoh2 orang yang batinnya telah terpenjara dengan “konsepsi” ; atau istilah mas Tomy : LOGOSENTRIS

    Banyak orang2 menyebut2 “Tuhan” – bahkan kemudian lengkap dengan “nama”-nya spesifik sesuai ajaran agamanya – dalam rangka berkomentar akan sesuatu kejadian. Tentunya, tak dapat dihindari, ucapan2nya menjadi “terbingkai” untuk mengarahkan pembaca supaya “membenarkan” ajaran agamanya. Dan, inilah yang tanpa disadari telah dilakukan oleh banyak manusia.😉

    LALU HARUS BAGAIMANA ?

    Menurut saya ( tanpa harus disepakati, karena tidak memaksakan pendapat juga ; ) Dalam menanggapi sesuatu hal, tidak perlu membawa-bawa nama “Tuhan”. Karena, bahkan apakah si pengucap yang membawa2 nama “Tuhan” itu sendiri telah benar2 menyaksikan oleh dirinya sendiri, bahwa konsepsi Tuhan ( yang bernama “ABCDE” atau pun “FGHIJ” atau nama yang lain2nya ) seperti yang ia sebut2kan itu, benar2 merupakan sosok “pribadi” yang “berkuasa” atas alam-semesta seisinya dan yang telah “menciptakan” segala sesuatu ? Bila telah meyaksikan bahwa ia memang “berkuasa” dan “pencipta”, bagaimana kisah penciptaannya itu berlangsung sesuai pengalaman spiritual diri sendiri tersebut ? Seberapa “berkuasa”-nya Tuhan konsepsi-nya itu ? Dan jika memang ada sosok “pribadi” pencipta itu, seperti apakah dia, tinggal dimana, ? dan lain-lain sebagainya, dan lain2 sebagainya.

    Inilah, bila tidak berhati-hati, maka orang akan terjebak dalam “logosentris” seperti yang mas Tomy maksudkan :

    Alih-alih menemukan kesejatian diri ia malah terperangkap oleh penanda seperti Tuhan…dst.

    “TUHAN” konsepsi, , muncul atas desakan psikologis dan pencarian manusia atas kesejatian hidup dan kehidupan ; lantas, karena ke-tidak berdaya-annya, muncullah konsepsi “Tuhan” sebagai “hal-ikhwal”, sebagai “penguasa”, sebagai “pencipta”.

    Ditambah runyam lagi, bila ada seorang tokoh berpengaruh dalam sejarah hidup manusia, yang melalui pencariannya lalu bertemu dengan sesosok “pribadi” non-manusia tertentu, yang “ghaib”, dan kemudian mengklaim diri dengan menyatakan, “Aku adalah Tuhan, Pencipta, Penguasa, Pengendali dari semua, Bapa dari yang telah ada dan yang akan ada…dst.” , lantas seorang tokoh berpengaruh yang mengalami hal itu mempercayai pernyataan2 pribadi non-manusia yang “ghaib” tersebut dan kemudian mewartakannya pada orang-orang disekitarnya dan orang2 menjadi mempercayainya, maka, “Tuhan-konsepsi” ini kemudian menjadi “CREDO” ; dogma yang tidak boleh dibantah dan menyebar luas dalam masyarakat , yang akhirnya menjadi sumber malapetaka dan bencana-spiritual, termasuk ekses2 peperangan fisik, pertumpahan2 darah, dan lain2 sebagainya.

    Padahal, tokoh berpengaruh yang mengalami hal itu , belum tentu juga telah menyelidiki hingga tuntas, “benarkah sesosok “pribadi” yang memberikan “wahyu”2 tertentu itu adalah benar2 yang berkuasa atas alam-semesta dan semua makhluk ? Benarkah ia memang pencipta semua makhluk dan alam-semesta ? Apakah benar, bahwa alam-semesta ini diciptakan oleh sesosok pribadi tertentu dan Ia adalah yang berkuasa atas semua makhluk dan alam semesta ? Pertanyaan2 yang menuntut pengungkapan “KEBENARAN-SEJATI” seperti itu, belum tentu telah benar2 terjawab dengan tuntas.

    Maka, sejauh manusia terhenti pada konsepsi yang ditawarkan ini, hingga disitu sajalah pencapaian spiritual / “pencerahan”-nya.

    Sebatas kisah2 “penciptaan” yang diceritakan dalam kitab2 agama, sebatas pada pengakuan bahwa hal2 yang tidak dapat ia jangkau semuanya adalah wilayah “Tuhan” yang telah dibingkai dalam konsepsi2 tertentu tersebut.

    MEMECAHKAN BELENGGU SPIRITUAL

    Konsepsi2 dan “logo”-sentris inilah yang sesungguhnya telah membelenggu kemampuan manusia yang sesungguhnya dahsyat luar-biasa untuk memahami alam-semesta seisinya. Dengan berpedoman pada bingkai “logosentris” dalam kemasan “CREDO ( dogma yang tidak boleh dibantah, hanya di”iya”kan saja ) , maka, “puncak-spiritual” / “pencerahan” yang seharusnya bisa diraih manusia, menjadi “TER-KEBIRI” ; bagaikan seorang kasim yang dipotong alat-vitalnya.

    Apakah kita semua hendak meneruskan pola2 “pemenjaraan-spiritual” yang seperti ini ?

    Memang, “kebebasan-pencarian-spiritual” seperti ini susah dipahami. Dan, justru inilah yang seringkali menimbulkan salah-paham antara beberapa “pejalan-spiritual” yang bertipikal bebas dan radikal ( radix = akar ; radikal disini saya maksud mencari jawaban atas kebenaran sejati hingga tuntas sampai ke akar2nya ) sebagaimana saya maksud tersebut dengan ummat2 agama tertentu yang berpegangan pada “iman” dan “dogma”.

    Dan, inilah yang seringkali membuat orang salah-paham dengan pola-pola saya pribadi ; dimana saya memilih untuk membuktikan segala sesuatu oleh diri-sendiri, akan tetapi banyak orang2 sebagai lawan-bicara telah mula2 berpegangan pada “iman” ajaran tertentu, seperti misal “iman” terhadap “Tuhan-Pencipta”.

    PERILAKU PERNUJUMAN

    Banyak pula, kemudian orang2 yang telah berpegangan pada “iman”, ketika berjalan di dalam perjalanan spiritualnya mendapatkan “vision” atau penglihatan2 tertentu akan apa yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi, lalu dikait2kan bahwa itu petunjuk dari “Tuhan”-nya. Lalu menceritakan kesana-kemari pada orang2 lain.

    Apakah fungsi dan guna-nya ?

    Sementara, banyak pula orang2 yang mencapai tataran spiritual tertentu, yang juga mampu melihat kesejatian, mengenai apa yang sedang terjadi, dan apa yang akan terjadi justru tidak bercerita kesana-kemari tentang apa yang dilihatnya, tetapi lebih memilih untuk “menawarkan-solusi” berupa perbaikan2 kualitas diri dengan tanpa menceritakan pengalaman spiritualnya , sebab ia mengetahui, bahwa apa yang dialaminya sesungguhnya adalah hal yang biasa dan tidak istimewa.

    Hal seperti ini juga sering menjadi salah-paham. Orang2 yang berpegang pada “iman” tersebut diatas, yang merasa telah diwahyui oleh “Tuhan”-nya , lantas men-cap orang yang berikutnya, yang memilih lebih giat menawarkan solusi dengan ajaran2 kebajikan dan moralitas, sebagai orang2 yang “TEORITIS”, tanpa pernah mengalami suatu pengalaman spiritual yang “ghaib”. Padahal, apakah seseorang yang mengalami pengalaman spiritual yang “luar-biasa” sekalipun harus diwartakan kesana-kemari ?

    AKHIR KATA

    Sampai pada kalimat terakhir. Bahwa, “logosentris” dan “Tuhan-Konsepsi” adalah merupakan “BELENGGU-SPIRITUAL” terkuat dan terbesar dalam hidup manusia.

    Bila memang hendak merealisasi “Pencerahan-Sejati”, seseorang harus berani memecahkan belenggu ini ( termasuk dengan berani meninggalkan dogma yang paling mendasar : dogma tentang adanya “Tuhan-Pencipta” ), keluar dari penjara-spiritual yang dibuatnya sendiri ini. Kemudian, melangkah dan menyelami kehidupan tanpa batas, alam-semesta yang tak terkira luasnya dan tak terkira usianya ini.. dengan begitu, kebenaran-sejati akan benar2 bisa kita raih, bisa kita dapatkan , bukan “kebenaran” konsepsi yang diajarkan turun-temurun.

    Semoga Bermanfaat.😉

    May All Beings b Happy and Well😉
    Ratana Kumaro.

  15. Luar biasa, diskusi tentang ranah transedental…

    Sumangga para kadang kinasih yth. Kinakmas Tomy, yth. Kidimas Mastono, yth. Kidimas Suprayitno, yth. Kidimas Sikap Samin, yth. Kidimas Lovepassword, yth. Kidimas Hadi Wirojati…
    Sumangga dilanjut… kawula nderek ngangsu kawruh…

    Menuju Menyatunya SUMBER dan MUARA
    Menuju Alam AWANG-UWUNG, alam ka-SUNYA-tan
    Alam TAN KENA KINAYA APA

    Yang penting dilandasi kesadaran MA GA BA THA NGA
    Kesadaran keaneka-ragaman Perspektif dan
    Kesadaran keaneka-ragaman Persepsi

    Salam Sihkatresnan kagem sedayanipun

  16. Mas tomy inilah problemku mas,

    setelah aku menemukan “spiritualism” yang cocok untuk diriku sendiri, justru aku merasa mulai terasing dengan “kelompok beragama yang lain”.

    aku mulai sombong, sehingga aku ogah campur dengan mereka dalam hal “ritual-ritual agama”, cara menyembah dan berbagai khotbahnya kadang bagiku sangat tidak masuk akal. Mereka benar-benar sok tahu keadaan akherat dan jalan pikiran tuhan.

    dulu aku rajin sembahyang/sholat dan bersama-sama teman seiman pergi ketempat ibadah. Sekarang sama sekali tak pernah lagi melakukan itu semua.

    Kadang aku sungguh merasa “kesepian” karena orang-orang di lingkunganku yang sejalan dengan “keyakinanku” hampir tidak ada. Mereka semua pada takut dengan tuhan, takut bukan main menyentuh daging babi,dan sangat antipati terhadap setan.

    Tetapi anehnya, rata-rata temanku yang rajin beribadah juga rajin “berbohong” dan bagi yang ada kesempatan untuk korupsi juga terus dilakukan.

    Jika mendengar suara (panggilan) adzan, cepat-cepat pergi sholat tetapi jika mendengar suara rintihan orang-orang yang melarat dan tertindas pura-pura tidak tahu.

    Mereka rata-rata sangat takut dengan “tuhan” tetapi jika menyakiti sesama justru tidak ada beban rasa bersalah.

    Yah, mohon maaf akhirnya aku menyimpulkan bahwa “pada umumnya” atau “kebanyakan” orang-orang kita itu munafik, suka berbohong/ngapusi, suka ngutang, nyolong-njupuk, tidak disiplin (kurang menghargai waktu), kurang menghargai/menegakkan hukum dan kurang menghargai/menepati janji.

    Sifat-sifat “negatif” tersebut berbaur jadi satu dengan sugesti ketuhanan yang kadang sangat fanatis.

    Jadi disatu sisi begitu “agamis” tetapi di sisi lain begitu “amoralis”. Inilah menurutku sebuah masyarakat yang terbelah kepribadiannya (split personality).

    Aku bisa menyampaikan segala uneg-unegku tentu hanya melalui blog, di luar itu terus terang aku masih mikir-mikir.

    Yah………..inilah aku yang sendiri dengan pemikiran-pemikiranku yang mungkin merugikan orang-orang yang sudah mapan dengan keimanannya.

    aku yang akhirnya memilih tak beragama ini, mungkin memang semua salahku. Apakah problem sperti ini hanya aku alami seorang diri, ataukah teman-teman juga mengalaminya?

  17. Bila memang hendak merealisasi “Pencerahan-Sejati”, seseorang harus berani memecahkan belenggu ini ( termasuk dengan berani meninggalkan dogma yang paling mendasar : dogma tentang adanya “Tuhan-Pencipta” ), keluar dari penjara-spiritual yang dibuatnya sendiri ini.

    Ungkapan atau pernyataan Mas Ratnakumaro di atas, sangat menggelitik untuk ditanggapi. Berikut ini tanggapan saya atas pernyataan mas kumaro tersebut. Mudah-mudahan ada gunanya.

    BENARKAH TUHAN MAHA PENCIPTA?

    Saya pernah berdiskusi dengan teman-teman mengenai Tuhan sebagai Maha Pencipta. Bagi teman saya, adalah merupakan keyakinan mutlak bahwa “Bumi, matahari,bintang-bintang serta aneka kehidupan di jagat raya ini adalah ciptaan Tuhan.”
    Lalu saya tanyakan, bagaimana Anda “mengetahui” bahwa semua itu yang mencipta Tuhan? Teman saya menjawab, sebab hanya Tuhan yang mampu menciptakan itu semua. Tak ada satu makhluk pun di atas bumi ini yang mampu menciptakan sel kehidupan, apalagi mencipta matahari dan bintang selain Tuhan.

    Lantas saya tanyakan lagi, dengan cara bagaimana Tuhan menciptakan sel kehidupan, bumi, matahari, bintang-bintang serta semua kehidupan lainnya ini? Jawab teman saya, Tuhan maha kuasa, jadi cukup berfirman “jadilah maka apa yang dikehendaki oleh tuhan akan terjadi.” Benarkah asal usul penciptaan sesederhana itu?

    Pertanyaan saya lanjutkan, adakah di dunia ini satu peristiwa atau suatu “materi/benda” yang terjadi “begitu saja secara spontanitas tanpa melalui proses?”
    Coba tunjukkan kepada saya, adakah contoh sebuah benda yang semula tidak ada “tiba-tiba” saja langsung menjadi “ada” tanpa melalui proses dengan cara “jadilah”?
    Kita membuat tape singkong saja melalui berbagai tahapan (proses), bagaimana cara Tuhan membuat bumi ini? Benarkah cukup hanya berfirman “jadilah” maka bumi yang semula tidak ada tiba-tiba langsung “jedul” muncul bumi? Mustahil bukan, bumi, matahari dan bintang-bintang di langit terjadi tanpa melalui proses?

    Jadi kalau kita percaya Tuhan Maha pencipta, bagaimana sebenarnya cara tuhan mencipta sesuatu? Jika kita tidak bisa menjawab dengan pasti, berarti keyakinan kita selama ini
    –yang mengatakan bahwa tuhan maha pencipta–, sangat lemah dan rapuh. Kita beriman, kita percaya bahwa Tuhan maha pencipta. Tetapi, kita tidak pernah “mengetahui” apakah keimanan kita selama ini benar atau salah?

    Orang-orang yang beriman sangat arogan dan sombong mengatakan bahwa bumi ini hasil ciptaan tuhan, tetapi mengapa mereka tidak bisa menjawab ketika ditanyakan “bagaimana cara tuhan menciptakan?”

    Keyakinan apa pun bisa benar bisa juga salah. Untuk “menguji” kebenaran dari suatu keyakinan adalah melalui “bukti nyata.” Jika kita mengatakan “benar”, konsekuensinya ya harus berani diuji!! Selama keyakinan kita tidak bisa dibuktikan kebenarannya melalui fakta, maka apa pun yang kita yakini belumlah mencapai “kebenaran murni”. Yang ada hanya sekadar “kebenaran dalam angan-angan atau mimpi” asumsi atau keyakinan.

    Mengapa orang-orang beriman “tidak bisa” membedakan antara “mimpi” dan “realitas”? Mengapa orang-orang beriman tidak bisa membedakan antara “pengetahuan” dengan “keyakinan”? Mengapa orang-orang beriman beranggapan bahwa keyakinannya adalah suatu “kebenaran absolut/mutlak”, meskipun keyakinan itu hanya berdasarkan lembaran-lembaran kitab purbakala yang katanya wahyu itu?
    Jawabnya, karena orang-orang yang beriman telah terpengaruh atau berada dalam kekuasaan ilmu sihir/guna-guna atau secara psikologis mereka telah berada dalam ruang hipnotik.

    Maka selama-lamanya keyakinan tinggal keyakinan. Sebab, agama selalu menekankan pada “keimanan” bukan bagaimana “Cara berpikir dan memecahkan persoalan dengan benar” berdasarkan realita, hukum sebab-akibat, aksi-reaksi, pro dan kontra. Yang tidak mau beriman, berarti “kafir” itulah tabiat atau ciri khas dari agama dalam menebarkan ilmu hipnotiknya.

    Agama mengajarkan Tuhan maha pencipta, tetapi agama tidak memberikan “pengetahuan” secara detail bagaimana cara Tuhan mencipta sesuatu. Adakah kitab-kitab agama yang memberikan teori astronomi atau fisika secara lengkap? Penjelasan alkitab tentang penciptaan hanya menggunakan kata “jadilah” maka apa yang dikehendaki oleh tuhan tiba-tiba berwujud. Ini pasti mustahil!!!!

    Kita beriman berdasarkan “warisan” kepercayaan atau agama yang berasal dari para nabi yang kemudian diajarkan secara turun temurun oleh nenek moyang kita. Dalam penerimaan warisan kepercayaan ini, kita hanya menerima begitu saja apa kata nabi, tanpa kritisisme, tanpa dialektika. Nabi atau siapapun tokoh agama adalah orang-orang yang penuh ambisi dengan berbekal pada ilmu “hipnotik”.

    Prinsip hipnotik adalah harus terjadi sebuah hubungan yang “tidak imbang” yaitu superior yang berhadapan dengan inferior. Para nabi atau para pemimpin agama pasti tidak mungkin bisa mengajarkan keimanannya (menghipnotik) kepada orang lain dengan posisi sama-sama superior. Hanya para inferior yang bisa dihipnotik dan digiring oleh agama untuk dimasukkan dalam sangkar mistisisme. Pola ini terus berlanjut dari jaman purbakala sampai dengan hari ini.

    Para Nabi dan pemimpin agama dengan berbagai cara, entah dengan kekuatan magis atau “berbekal wahyu tuhan” telah menempatkan dirinya pada posisi “superior” (sering menyebut dirinya sebagai utusan Tuhan) sedangkan para pengikutnya “dibuat mati rasionya/inferior” sehingga akhirnya mudah dikendalikan untuk selanjutnya dihipnotik/dikuasai.

    Sudah begitu, mereka mengaku agamanya yang paling benar. Inilah kekeliruan manusia beragama yang paling konyol/nyata, karena seolah-olah telah berhasil “menangkap” sosok Tuhan beserta seluruh pemikiranNya. Dikiranya “WAHYU” bisa ditangkap oleh manusia. Wahyu Tuhan, tidak bisa ditangkap, karena wahyu Tuhan hanya berupa “signal/tanda-tanda” bukan produk kata-kata.

    Signal itu misalnya ketika kita menderita suatu infeksi maka tubuh kita akan memberi tanda/signal berupa “demam”. Gunung akan meletus pun pasti memberikan tanda-tanda, alam akan terjadi gempa pun pasti ada tanda-tanda dst. Nah tanda-tanda itulah menurut saya yang disebut “wahyu”. Dan jangan lupa, di dunia ini penuh diselimuti dengan “TANDA-TANDA” alam, alias wahyu Tuhan. Namun, hanya sedikit orang yang mampu menerjemahkan dan mau tahu dengan tanda-tanda alam itu. Tanda alam “pasti benar” dan tidak pernah berbohong tetapi penafsirannyalah yang sering tidak benar.

    Para nabi tidak lebih banyak mengungkap “tanda-tanda” dari alam, yaitu belajar fenomena alam semesta melalui ilmu fisika, kimia, biologi, matematika, astronomi atau filsafat namun mereka lebih banyak merenung dan kontemplasi untuk mendapatkan petunjuk goib. Akhirnya mereka mengungkapkan melalui “gagasan” (produk kata-kata) atau konsep yang selalu dikatakan bermula dari langit. Padahal yang terjadi sebenarnya, bermula dari “niat” untuk berbuat sesuatu, baik untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain (sebuah tafsir realita kehidupan). Konsep itu selalu dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya faktor budaya, sosial, pendidikan, lingkungan masyarakat maupun keluarga.

    Produk kata-kata (wahyu) akhirnya menggelinding sebagai alat untuk menyerang atau merendahkan kepercayaan/keyakinan dari umat lain –tujuan keimanan– dan sebagai alat politik untuk menciptakan tatanan sosial dengan menghandel nama Tuhan –tujuan kekuasaan–. Sehingga terjadilah perang yang seru diantara sesama umat beriman atau umat beragama. Biasanya, ungkapan yang sering keluar adalah “mereka golongan sesat” atau mereka golongan kaum kafir, ahli neraka, musuh Tuhan dan hujatan-hujatan lainnya.
    Padahal menurut saya, mereka sama-sama sesat. Mengapa? Sebab prilaku mereka bukan dibimbing oleh “ilmu alam” tetapi oleh ilmu mistik.

    Apakah ilmu alam itu? Ilmu alam adalah ilmu kenyataan yang tingkat kebenarannya bisa dibuktikan secara nyata dan dasar kebijaksanaannya bukan karena mendapat wahyu dari Tuhan, melainkan karena mereka paham dan mengerti bahwa manusia harus bisa saling kerja sama untuk kebaikan.

    Sebab, jika kita tidak bisa kerja sama maka akan terjadi saling menindas dan memusnahkan antar sesama manusia (homo homini lupus), kalau sudah demikian maka terjadilah perang, padahal memulai perang jauh lebih mudah daripada mengakhirinya.

    Semarang, April 2006

  18. Dear mas Suprayitno😉

    Setuju mas Prayitno… passs banget….😉

    Maen2 lagi ke blog saya to Mas Prayit…😉

    Ini link-nya, ada kado istimewa Ultah satu tahun blog saya mas, berupa beberapa e-book yang bisa didownload :

    http://ratnakumara.wordpress.com/2009/09/28/kado-ultah-ke-1-dari-lovepassword-e-book-blog-ratna-kumara/

    Kapan2 kita ketemuan di Semarang juga mantabs pastinya…😉

    Monggo mas, dilanjut.. gayeng tenan ini diskusinya.. cocok….😉

    Mugi Rahayu Karaharjan..😉

  19. Matur suwun mas ratnakumaro,

    rupanya saya juga banyak mendapatkan inspirasi dari pemikiran Sang Buddha.

    Hatinya yang “sebening kristal” dan pandangan matanya yang tajam tetapi penuh dengan kelembutan, cukup membuat orang yang lemah (putus asa) menjadi kuat kembali (penuh optimisme),orang yang sedih menjadi bergembira kembali, orang yang jatuh menjadi bangkit kembali.

    Semua itu bukan karena hipnosis, surga – neraka, haram-halal, pahala atau dosa,melainkan karena PENERANGAN YANG LEBIH REALISTIS.

    suatu saat bila saya ketemu dengan mas ratna kumaro, saya akan senang bila panjenengan bisa memberikan wulangan yang lebih banyak lagi.

    matur suwun mas ratna………..

    salam

  20. Whaduh…bingung aku yang mau dibales yang mana . Hi Hi Hi. Alamax keren-keren semuanya plus panjang kali🙂
    ===========================================
    setelah aku menemukan “spiritualism” yang cocok untuk diriku sendiri, justru aku merasa mulai terasing dengan “kelompok beragama yang lain”.

    aku mulai sombong, sehingga aku ogah campur dengan mereka dalam hal “ritual-ritual agama”, cara menyembah dan berbagai khotbahnya kadang bagiku sangat tidak masuk akal. Mereka benar-benar sok tahu keadaan akherat dan jalan pikiran tuhan.

    ===========================================

    Justru itulah masalahnya. sokur kalo saling sadar. Yang kadang bikin masalah itu kan sok tampil beda itu. Kita sebal dengan orang lain yang sok tampil beda tetapi pada sisi lain kita melakukan perbuatan serupa. Berpikir serupa. Lalu masing2 sama2 ngelus dodo ( dodonye dhewe dhewe pasti ) : Wong kae kok kebangeten men yo ? Padahal yang kita lakukan kita pikirken sama. Koyo ndeleng banyu bening .Lha yo kuwi.

    Masalah logika versus percaya. Saya tidak yakin ada agama yang sama sekali keluar dari sisi percaya. Hi Hi Hi.

    Kita bisa promosi sok logis dsb. Lha untuk menuju fase mengalami saja harus lewat percaya dulu kok.

    Anggap saja kita jualan kecap ngomong gini : membuktikan bisa saja. Kamu belajar sana sama guru X nanti diajari ajian kuntul mabur, lha ntar kamu buktiken sendiri kata2 saya bener apa nggak.

    Lha apakah seseorang mau belajar itu , membuktikan benar tidaknya ya pasti dasarnya ya percaya . Kalo nggak sama sekali, itu dianggap membuang-buang waktu.

    Kalo saya minta kamu meditasi sambil ndeleng es cendol 3 tahun agar kamu bisa melihat jin penyangga jagad misalnya.
    Saya bisa saja dianggap sekedar melemparken beban pembuktian ke kamu.

    Lha saya kan ngasih solusi – kamu nggak praktekkan ya kalo kamu nggak liat urusan kamu dong. Ikutlah denganku mengalami sendiri.

    Apakah bisa segampang itu tanpa rasa percaya sama sekali?
    Yah nggak mungkin lah yao.

    Jadi mau jualan kecap kayak apa, agama apapun unsur percaya sedikit banyak yah pasti adalah. Tanpa percaya orang tidak bakal mau menjalankan meskipun diiming-imingi bakal mengalami X, Y, Z dsb.Mau ketemu Tuhan, mau pencerahan, dsb tanpa percaya sama sekali ya nggak bakal mau menjalankan.

    Gicu kayaknya sih.

    Setuju nggak setuju tetap thank you

  21. Terima kasih Saudara Saudara seperjalanan sekalian atas atnsi & ketulusan berbagi nutrisi pencerahannya
    HAYWA SAMAR DUR SUKERING KAMURKAN
    MRIH DU KAMARDIKAN
    BAYA SIRA HARSA MARDIKA

    Manusia memang harus dimerdekakan dari belenggu spiritual, sebab jika memang jujur kepada diri sendiri jujur kepada motivasi yang tersembunyi dalam diri, manusia harus mengakui adanya hasrat yang butuh pemuasan.
    Manusia adalah makhluk hasrati.
    Bila selimut logo disingkap, semua bermuara pada pemuasan hasrat manusia. Bahkan konsep tentang surgapun adalah puncak dari dambaan pemuasan hasrat tersebut.
    Hal-hal yang mengatasnamakan Tuhan hanyalah lapisan atas untuk menutupi hidupnya yang hasrati.meminjam istilah Mas Sabdalangit ‘Lymbic Section’.
    Dalam banyak konteks, keduanya *hasrat manusia dan kedok penutup seperti Tuhan* saling bertentangan.
    Hasrat yang ditutupi itu akhirnya menampakkan diri sebagai bayangan, yang disebut Mas Prayit ‘split personality’ atau kemunafikan.

    Ingsun Tohjalining Dzat Kang Maha Suci Kang Amurba Amisesa
    Kang Kuwasa angandika Kun FayaKun
    Dadya Sakciptaningsun
    Ana Saksedyaningsun
    Teka sakersaningsun
    Metu Saka Kodaratingsun

    Manusia harus dimerdekakan dalam melihat dirinya dengan sejujurnya, mengenali JATI DIRI dan untuk menJADI DIRI. Karena manusia hidup untuk MENJADI & kegagalannya karena terbelenggu oleh persepsi & konsepsi yang secara cultural didoktrinasi kepadanya.
    Perjalanan yang didikte oleh peta selalu membawa kekerasan pada ruang, akan tercipta batasan-batasan, perangkap-perangkap & pengkotakan. Dan hidup hanya menjadi arena kompetisi yang luas mencari kebenaran*pembenaran*.
    Sedang kebenaran hanyalah ekspresi dari individu atau kelompok social atas kehendaknya untuk berkuasa, yang jaminan atas klaim kebenarannya itu tak lebih dari nilai subyektivitas individu atau kelompok social tersebut dalam membenarkan status quo.
    Terjadilah eksploitasi manusia atas manusia dalam nama ‘kebenaran’
    Manusia harus pula dimerdekakan dari pengkotakan tsb, dimerdekakan dari paradigma oposisi biner, benar dan salah untuk berani merayakan kemungkinan yang lain.
    Kemungkinan yang lain, kebernilaian hidup dari perjalanannya sendiri dalam meyelami kehidupan tanpa batas.
    Maka kualitas hidup manusia terletak pada ‘pembuatan keputusan’ dalam hidupnya bukan sekedar mencomot & mengambil apa yang sepertinya telah dibuatkan untuknya. Manusialah yang amurba amisesa hidupnya
    ‘Aku seorang Kafir’ bisa jadi hanya sekedar bergenit-genit saja namun juga bisa merupakan sebuah pernyataan dari pembuatan keputusan dalam memaknai hidup
    Tiada nilai mutlak berasal dari Tuhan, manusia sendiri yang harus bertanggung jawab atas nilai & kebernilaian hidupnya.

  22. Dear mas Suprayitno😉

    Siip mas Prayit… Sangat Sepaham mas… ,

    Jalan pencarian spiritual ini memang unik.
    Orang harus mulai mencari dari “pertanyaan”, mempertanyakan segala sesuatu ; bukan memulai dari meng-iman-i sesuatu.

    Maka pantas saja, dari yang orang awam / tidak mengerti spiritualitas, sampai yang bangkotan yang suka spiritualitas susah memahami pencarian “pencerahan-sejati” seperti ini.

    Yang awam yang tidak mengerti pencarian “spiritualitas” , kalau bertemu dengan tipe2 seperti anda, pasti akan mengajak debat-kusir mas.., artinya, perdebatan yang tidak berasal dari pengalaman-spiritualitas dan hanya retorika2 / omong-kosong belaka.

    Di sisi lain, yang merasa spiritualis tetapi berangkat dari “iman”, juga bisa2 sama2 mengajak debat tak berujung. Mengapa ? Karena mata-batinnya sudah “bledugen” , penuh debu ; ya debu2 dogma yang dia amini sebelum berjalan mencari “pencerahan”.

    Baik yang beragama, maupun yang tidak beragama.. , selama dirinya masih berangkat dari kepercayaan akan adanya TUHAN-PENCIPTA, dirinya masih terbelenggu dengan kuatnya oleh dogma yang tidak disadarinya ; karena dogma yang sesungguhnya ( dan sangat halus tidak terasa ) itu ya dogma tentang adanya “TUHAN PENCIPTA”. Dan, selama itu pula, dia tidak akan pernah bertemu kesejatian, karena, setiap kejadian, akan dia kait2kan dengan “Tuhan” yang sudah ada di benaknya itu.

    Misal, dapat wangsit / petunjuk berupa suara dan penglihatan, dikait2kan dengan Tuhan. Bisa menyembuhkan orang, dikait2kan dengan Tuhan. Kenapa bisa begitu ? Karena di pikirannya sudah “nongkrong” konsep tentang “TUHAN YANG MAHA KUASA”. . Hal seperti ini, tidak hanya terjadi pada orang2 dari agama2 tertentu, tetapi juga dari kalangan aliran2 kepercayaan non-agama. [!]

    Orang2 tua leluhur Jawa sejak beberapa abad yang lalu sesungguhnya sudah bijak dengan menyuruh anak-cucunya mencari sendiri benar tidaknya konsepsi adanya “Tuhan-Pencipta” , ketika ditanya , “Tuhan pencipta itu ada apa tidak ?” , maka dijawab, “Carilah sendiri, dibuktikan, ada apa tidak!” .

    Ini sesungguhnya kalimat diplomatis [!]. Jika orang2 tua jaman bebebarapa abad2 yang lalu, terutama sejak runtuhnya Majapahit, menjawab dengan tegas bahwa “Tuhan-Pencipta” itu “TIDAK-ADA” , maka bisa2 lehernya digorok dan dipenggal seperti nasibnya si “SYEKH SITI JENAR”.

    Tapi sayangnya, ( yah, tapi ini menurut hemat saya pribadi😉 ) oleh generasi muda kultur Jawa sekarang ini kalimat itu dipahami dengan makna yang berbeda ; bahwa mencari ya mencari , tetapi sudah di “panjer” bahwa tetep ada “TUHAN-PENCIPTA” – ini sudah paham yang bercampur2 dengan konsep2 ajaran yang masuk belakangan beberapa abad ini.

    Kemudian, sekarang yang terjadi adalah nasehat bijak dari leluhur tersebut hanya jadi kalimat2 retoris yang indah tapi tidak dipahami maknanya dengan sungguh2. Jadi, seharusnya kita diminta mencari dengan sungguh2, dan berawal dari “mempertanyakan” serta bertujuan mendapatkan jawaban, tetapi era2 sekarang ini menjadi berubah, yakni diawali dari “Ada GUSTI, dan aku hendak MANUNGGAL dengan GUSTI!” . Ini sudah SEMEDI yang salah-arah ; karena sudah diawali dengan belenggu “DOGMA”. ; karena dogma apapun seharusnya ditanggalkan jika memang benar2 hendak mencari kesejatian [!].

    Kalau di perjalanan ketemu pribadi non-manusia yang “ghaib” , penuh wibawa, penuh cinta-kasih dan kedamaian, dengan bercahaya sangat terang luar biasa berbeda dari yang pernah ditemui sebelum2nya, lalu menyatakan, “Aku ini TUHANmu, Pencipta, Maha-Agung, Maha-Kuasa..dst.” , ya lantas jangan percaya begitu saja.. harus ditelusur lebih lanjut hingga tuntas. Dan disinilah seringkali para pejalan-spiritual gagal , dan akhirnya “MANDEG” sampai disitu saja. Sampai akhirnya menjadi “hamba” , atau mungkin yang lebih baik sedikit merasa sudah bertemu dan “manunggal” .

    Pencarian itu harus hingga tuntas, hingga bagaimanakah alam-semesta ini berawal, bagaimanakah awal-mula terjadinya “DIRI”-ku, dan seterusnya, dan seterusnya.

    Jika, yang ketemu adalah suatu “proses” dari masa yang sudah sangat lama sekali, trilyunan tahun yang lampau bahkan lebih melewatinya , dan tanpa adanya campur tangan “sosok-Pencipta” dalam proses2 tersebut, maka ya itulah kebenarannya [!]. Jangan lantas otak yang sudah dikotori dengan “konsep” adanya “Tuhan-Pencipta” ini ikut berperan dengan mencampuri fakta yang ditemui dan kemudian jadi keliru menarik kesimpulan : ada “TUHAN-PENCIPTA” tapi tidak kelihatan, dan lantas akan jadi lebih parah dan runyam lagi kalau kemudian dikait2kan dengan Tuhan dari agama tertentu. Ini namanya sudah lepas dari objektivitas maupun subjektivitas ; existensi itu tidak dihayati dengan apa adanya tapi dikontaminasi dengan “konsep”2 yang sudah ditanamkan dan “NYANTHOL” dengan kuat dalam otak dirinya-sendiri.

    Saya katakan hal tersebut diatas sebagai “Lepas dari objektivitas”, karena tidak apa adanya ; juga “lepas dari subjektivitas”, karena menarik kesimpulan tidak berdasar atas “pengalaman-sejati” dari apa yang dialami oleh diri-sendiri itu ; sehingga kebenaran-sejati atas “existensi” yang dialami menjadi terkaburkan lagi, menjadi bias kembali ; diselimuti kabut dogma2 yang halus luar biasa karena sudah “bercokol” kuat dalam otaknya.

    Dan, kembali lagi , disni pula lah banyak “pejalan-spiritual” gagal dalam pencariannya ; karena tidak bisa memisahkan ajaran / kepercayaan turun-temurun yang diajarkan padanya ( entah mungkin dari orang-tuanya, dari Pak-Dhe-nya, dari Guru kebatinannya, atau dari leluhur beberapa generasi yang lalu, atau dari seorang “Nabi” sekalipun ) ; dengan pengalaman / pengetahuan-langsung atas kesejatian.

    Demikan mas Suprayitno , tambahan dari saya😉

    Semoga bermanfaat😉

    Hayu…Rahayu…, Niskala… s a t u h u !

  23. saya ssungguh senang dan berbahagia setiap kali memasuki lorong ini, pak tomy. ada nilai2 kebhinekaan dan toleransi beragama yang selalu diangkat, bukannya mengipas-ngipaskan semangat fanatisme yang seringkjali berujung pada konflik dan friksi.

  24. Terimakasih mas ratnakumaro,

    Apa yang mas sampaikan, persis seperti apa yang aku pikirkan.

    wah, jangan-jangan aku telah menjadi Budhis tanpa aku sadari ya mas kumaro?

    Yah, aku senang sekali mendapat banyak guru/kawan ada Sang Buddha, IBrahim, Yesus, Muhammad,Thales, Sokrates,Plato, Aristoteles, Epikurus, Gandhi,Hegel, Karel Marx & Engel, Sartre (atheis yang konsekuen), Albert Kamus, Nietzsche (sang pembunuh tuhan), Descartes (cogito ergo sum), Darwin (master evolution), Sigmund Freud (master psiko analisa), Romo Suryo Mentaram (master konsep hidup bahagia ala wong Jowo), Romo Mangunwijaya (master humanisme univesal), Tan Malaka (si kritis, realistis, progresif, revolusioner dan nasionalist) dan teman-teman lainnya teristimewa Mas Tomy dan Mas Ratnakumaro.

    Betapa berharganya hidup ini, oleh karena itu belajarlah dari banyak guru, dan guru yang paling baik tetap diri kita sendiri.

    Makanya saya setuju ungkapan mas tomy “Be your self” jadilah dirimu sendiri. Nah memang tidak mudah untuk menjadi diri sendiri, karena kita harus mampu untuk tidak menjadi diri oang lain yang selama ini banyak meracuni diri kita.

    Orang lain jelas kita perlukan sebab sebagai makhluk sosial niscaya kita tak bisa hidup sendirian.

    Tetapi orang lain pastilah memiliki agenda kepentingan-kepentingan dirinya sendiri yang kadang bertentangan dengan kepentingan diri kita. Kita kadang hanya dijadikan kuda tunggangan tanpa kita merasa sebagai “kuda” itu karena seperti kata Mas Ratnakumaro begitu halus penetrasinya.

    terima kasih.

  25. Dear mas Suprayitno…😉

    Benar sekali mas, always b yourself..😉

    Persamaan saya dengan anda adalah, kita sama2 berangkat dari “mempertanyakan”, bukan berangkat dari “beriman”.

    Mengenai saya yang seorang Buddhis sedangkan anda bukan Buddhis, hal itu tidak perlu dipermasalahkan. Toh, ternyata penemu kita sama, betul gak ? Saya menjadi Buddhis, karena ke-cocok-an saja, bukan berarti Buddhisme adalah yang paling baik dan harus dipaksakan pada orang lain untuk dianut ( no, buddhism tidak mengenal ajaran seperti itu.. saya sendiri menjadi Buddhis tanpa pernah diajak orang, tetapi karena apa yang diajarkan di Buddhism sesuai dengan apa yang saya alami dan temui, itu saja )

    Semoga suatu saat kita bisa berjumpa dan berbincang2 mas..😉

    Menurut saya, satu hal yang harus selalu kita ingat, bahwa kita harus senantiasa membuktikan segala sesuatu hal… apabila ternyata setelah dibuktikan sesuatu hal itu adalah salah, tidak perlu kita ikuti. Betul gak mas ?😉

    Salam persahabatan,

    Semoga terus maju dalam spiritualitas😉
    ( by the way, dulu saya sebelum jadi Buddhis juga seorang spiritualis independen seperti anda…😉 )

    Mugi Rahayu Karaharjan😉

  26. Ada dikit tambahan mas ratna, mumpung saya ingat.

    Jadi ceritanya, pada saat makan bareng anak saya yang waktu itu masih sekolah di SMA jurusan IA (Ilmu Alam) berdiskusi dengan saya mengenai PENCIPTAAN MANUSIA PERTAMA yakni bagaimana Tuhan menciptakan Adam dan Hawa, apakah ujug-ujug langsung dewasa? atau melalui proses dari awal sekali sebagai janin? lalu siapakah Ibu yang mengandung bayi adam?

    Pada waktu itu saya sarankan untuk di tulis di koran saja supaya dari orang-orang yang berkompeten bisa menjawabnya.

    Tetapi pertanyaan-pertanyaan dari anak saya, tak pernah dimuat di koran hingga sekarang.

    Nah, mbok menowo dari komunitas ini ada yang bisa bantu menjawab pertanyaan anak saya (sekarang anak saya sudah kuliah di UNDIP smester II jurusan Biologi).

    Pertanyaan selengkapnya sbb. :

    PENCIPTAAN MANUSIA

    Saya seorang pelajar kelas X sebuah SMA, saat ini saya sedang belajar memahami kandungan Al Qur’an yang berhubungan dengan penciptaan manusia.

    Dari beberapa ayat yang saya baca, saya mengalami kesulitan dalam memahaminya. Ayat-ayat tersebut adalah seperti yang terdapat pada Surat Al Baqarah (QS:2) ayat 30-39, surat Al Hijr (QS:15) ayat 28-44, surat Al Hajj (QS:22) ayat 5, surat Al Mu’minun (QS: 23) ayat 12-14 , surat As Sajdah (QS:32) ayat 7-9 dan surat Al ‘Alaq (QS:96) ayat1-2.

    Mengacu pada penciptaan manusia pertama yaitu Nabi Adam dan Hawa dalam QS 2 : 30-39, mula-mula terjadilah dialog antara Allah dengan para malaikat tentang rencana Tuhan yang hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi dan seterusnya.

    Akhirnya, Adam diciptakan yang kemudian disusul Hawa. Namun, karena nabi Adam melanggar perintah Allah maka nabi Adam beserta Hawa diturunkan ke bumi.

    Jika sejak semula Allah memang telah merencanakan Adam dan Hawa harus turun ke bumi, mengapa mereka harus berada di surga lebih dulu? tidak langsung saja dua-duanya diciptatakan di atas bumi?

    Toh Tuhan jelas-jelas sudah berfirman “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”(…inni ja’ilun fil-ardi khalifah..)

    Apakah permulaan penciptaan manusia oleh Allah ini “tiba-tiba langsung menjadi manusia dewasa” sebagai Adam, tanpa melalui proses menjadi bayi lebih dulu?

    Jika tiba-tiba langsung dewasa, maka bagaimana proses perkembangan seluruh organ tubuhnya?

    Adakah contoh lain ciptaan Allah yang langsung pada hasil akhir tanpa melalui tahapan (proses)?

    Adakah ciptaan Tuhan lainnya yang ujug-ujug jadi tanpa melalui proses? Jika ada barang apa contohnya?

    Apakah keberadaan nabi Adam dan Hawa di surga benar-benar hadir secara fisik? Jika benar, bisakah surga dihuni oleh badan wadag (bukan roh)?

    Lalu jika diandaikan surga ada di atas, maka bagaimana cara Nabi Adam dan Hawa jatuh ke bumi?

    Kenapa pada waktu memasuki atmosfir bumi tubuhnya tidak hancur dan terbakar?

    Dimana sebenarnya lokasi surga dan neraka tempat tinggal Adam dan Hawa?

    Kemudian pada QS15:28-44, dinyatakan bahwa Allah akan mencipta manusia dari tanah liat kering yang diberi bentuk kemudian ditiupkanlah ruh kedalamnya. Bisakah permulaan hidup berasal dari benda mati?

    Apakah bukan sebaliknya bahwa tidak ada “hidup baru” tanpa ada kehidupan lama sebelumnya?

    Dari manakah asal mula kehidupan, dan apa hidup itu?

    Pada QS 22: 5 , QS 23: 12-14 dan QS 32 : 7-9 diterangkan bahwa penciptaan manusia berawal dari air mani. Nabi Adam dan Hawa adalah manusia, mengapa mereka tidak diciptakan dari air mani juga?

    Kemudian pada QS 96 ayat 1 dan 2 dikatakan bahwa manusia dicipta dari segumpal darah (bukan dari air mani).

    Dari beberapa ayat tersebut di atas, bisa disimpulkan bahwa informasi mengenai penciptaan manusia, ada yang tercipta dari tanah liat kering, dari air mani, dan ada yang dari segumpal darah.

    Mengapa Al Qur’an hanya menyebutkan penciptaan manusia dari air mani saja (segumpal darah)?

    Padahal berdasarkan pelajaran biologi yang saya peroleh mengatakan bahwa air mani tidak sama dengan sperma.

    Karena, air mani merupakan campuran antara sperma dan semen. Semen adalah cairan yang dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar reproduksi, berfungsi untuk melengkapi sperma dalam proses reproduksi.

    Sperma adalah sel kelamin laki-laki yang apabila bertemu dengan sel kelamin perempuan (ovum) maka bisa berkembang menjadi bayi, pertemuannya dinamakan pembuahan.

    Jadi air mani saja (tepatnya sperma) yang tidak pernah membuahi ovum (sel kelamin perempuan) maka tidak akan pernah berkembang menjadi bayi (manusia).

    Mohon penjelasan dari para pembaca yang budiman. Terima kasih.

    Andrei Febrian

    Itu mas kumaro, surat anak saya setelah melalui diskusi dengan saya.

    Thank u.

    • mas prayit salam rahayu, mas saya ijin comot komennya/pertanyaan menarik sekali bagi sya, buat PR

      boleh gak boleh ttep saya ambil he he he

      wassalam mugio tansah pinaringan rahayu selamet

      matur swun

  27. Dear mas Suprayitno… ,

    Penjelasan saya mengenai terjadinya manusia berbeda dengan yang dijelaskan di AL-Quran.

    Dan ini hanya bisa di alami dalam meditasi yang benar.

    Bila dibahas disini, mungkin juga akan tidak tepat ya.. .

    Karena hanya akan menimbulkan kontroversi di dalam khalayak pembaca di blog ini.

    Mungkin akan lebih menyenangkan kalau mas Tomy, saya, dan njenengan suatu waktu nanti bisa ketemu, bisa ngobrol sharing lebih dalam lagi…

    Salam Rahayu mas…

  28. Rasanya merinding membaca tulisan orang-orang pinter.🙂

    @Mas Prayit : Kalo anakmu sampai kepikiran pertanyaan seperti itu, saya rasa paling tidak buah memang tidak jatuh jauh dari pohonnya. Anakmu pasti anak dengan daya nalar tinggi dan kritis sama seperti bapaknya.🙂

    Kalo menurut saya gini yah : Kita memang boleh saja mengatakan mulainya dari pertanyaan, misalnya saja Tuhan itu ada atau tidak , Nibbana itu ada atau tidak dsb.

    Tetapi disadari atau tidak bahwa untuk sekedar bertanya pun pastilah diperlukan pengalaman atau pengetahuan sebelumnya.

    Kalo anda tidak pernah dengar soal Tuhan , anda tidak kepikiran bertanya soal Tuhan. So mau mulainya dari tanda tanya atau tanda seru – tetap saja endingnya kita akan selalu mundur mundur dan mundur terus kebelakang ke asal mula yang kita tidak mungkin tahu secara pasti – hanya bisa diteorikan belaka 🙂

    Artinya ada semacam siklus pengetahuan – misalnya saja anggap saja gini : tanda tanya – tanda tanya berkembang jadi pengetahuan dsb. Atau pengetahuan – pengetahuan menimbulkan tanda tanya .

    Lah apakah mulainya dari tanda tanya dulu atau pengetahuan awal dulu – itu pertanyaan yang rasanya tidak mungkin terjawab seperti menanyakan dahulu mana telur dengan ayam.

    Saya rasa masih cukup masuk akal bahwa siklus bola salju pengetahuan , pengalaman dsb kalian anggap dimulai dari tanya. Itu logika yang masih masuk akal lah menurut saya.

    Tetapi pada sisi lain , juga cukup masuk akal menurut saya bahwa untuk sekedar bertanya pun pastilah diperlukan sebuah pengetahuan awal. Itu juga masih logis.Tanpa pengetahuan awal tidak akan ada pertanyaan.

    Salam Mas Prayit, Mas Ratna, Mas Tomy, dan semua rekan yang hadir di sini.

    Matur Suwun.
    Setuju tidak setuju tetap thank you.

    SALAM

  29. Dear mas love,

    he…he….he, baru kali ini aku menemuimu “serius banget” biasanya serumit apa pun atau segarang apa pun persoalannya, kau selalu ber hi..hi.hi, itu kan ciri khasmu. Katamu di sunia ini sudah terlalu banyak orang yang stres dan terlalu banyak orang yang serius, maka bergembira sajalah.

    Ya, sesungguhnya apa yang kita cari dalam hidup ini? kebenarankah?

    menurutku kok bukan ya, ya yang kia cari sesungguhnya “kesenangan” sebab saya yakinlah gak ada orang yang secara sengaja mencari “penderitaan/kesusahan”.

    Kalaupun sementara dia rela menderita, pasti karena di seberang sana ada sesuatu yang digayuh yang dia yakini bakal mendatangkan kesengangan. Tetapi kalau ada orang yang senang dengan penderitaan, yo embuh ya….(ya tapi kan tetap yang dicari senang).

    Bayi juga mencari kesengangan dengan pertama-tama memasukkan segala sesuatu kedalam mulutnya (kadang kotorannya sendiri juga dimasukkan kedalam mulutnya), atau memainkan alat vitalnya. Semakin tumbuh dewasa maka alat dan cara mencari kesenangan semakin kompleks dan tak terbatas (incremental demands).

    Manusia yang seluruh hidupnya digunakan untuk mencari “kesenangan” biasanya ketika kesenangan itu tak bisa diraihnya akan mudah kena depresi, stres, putus asa, kecewa/frustrasi dan sering meyalahkan orang lain (mencari alibi, atau mencari kambing hitam).

    Kita melakukan diskusi melalui blog ini juga saya rasa tidak mungkin kita lakukan jika kita tidak merasa senang.

    Nah kita melakukan hal ini juga dalam rangka mencari “kesenangan” bukan kebenaran. Tetapi memang kita akan lebih senang lagi jika ternyata dari kesenangan ini menimbulkan kebenaran.

    Cuma yah, di dunia ini selain ada “senang” pastinya ada “susah”. Lha, kalau kita senang terus gak pernah susah, saya rasa hal ini malah bertentangan dengan kodrat kehidupan.

    Sebagaimana senang maka susah sudah pasti ada dan sedang menghadang dihadapan kita.

    Pertanyaannya, akan kita apakan “makhluk” yang bernama “susah”itu? akankah kita bunuh? supaya hanya tinggal senang saja?

    Nah jika kita tahu tidak mungkin kita bisa membunuh “makhluk” yang bernama “susah” itu, ya kita mesti harus baik-baik sama dia (si susah) itu, supaya kita bisa menerima susah dan senang sebagai pasangan yang harmonis. Enaaak tha……..manthep tha…… rasa susah dan senang tak gendhong kemana-mana…..kata mbah surip alm.

    Jadi kita ngomong panjang lebar seperti apa pun juga dalam rangka mencari kesenangan, beragama, mencari ilmu macam-macam,apa pun yang dikerjakan manusia NORMAL oreientasinya (ujung-ujungnya lho ya) niscaya mencari KESENANGAN.

    Ada orang yang SENANG MENOLONG, senang berdoa, senang memancing, senang selingkuh, senang berbohong, sejuta kesenganan bagi masing-masing individu.

    Aku menulis di blog ini juga dalam rangka mencari kesenganan syukur-syukur jika kesengan ini ada benarnya dan ada manfaatnya buat kita bersama, berarti lebih banyak orang yang senang.

    Maka bagi yang senang silakan terus dilanjut, bagi yang tidak senang silakan cabut.

    Enaaak tho…….mantheb tha…….. ha…….ha……..ha…… susah dan senang tak gendhong kemana-mana.

    salam di sini senang di sana senang…..mas, mas, tanggapan ini nggathuk po ora yo karo topiknya mas tomy?

    aku cuma pengin nanggapi mas love aja.

    thank u.

  30. Ono wong serius kok malah diguyu🙂 Wadoh

    Habis auranya nyeremin – ketoke serius banget kuwi, dadi nek aku cengengesan dewe ketoke njur piye ngono …?🙂

    SALAM Mas Prayit

  31. pamuji rahayu..,

    jadi ingat Kidimas Tomy… waktu kecil kelas 5 sd alat tulis masih pake sabak tahun 1970 karena kami tinggal didesa terpencil Kab. Wonogiri berbatasan bag.selatan dengan Kab. Pacitan.

    saya juga bingung apa yang dipasang di atas pintu depan ” RAJAH KALACAKRA “, saya tanya simbah .. niku tulisan np mbah…? ** itu untuk tolak bala le…, bacanya gimana mbah..? *** kamu ndak bakalan ngerti.. nanti aja tanya sendiri…, lho kok tanya , malah disuruh tanya sendiri.. pripun tho mbah..? —– dan sekarang baru ngeh Ki…, dari panjenengan, memang betapa bermanfaatnya berteman dan bersaudara tanpa membedakan apapun…dan tanpa punya rasa memanfaatkan dan dimanfaatkan, kita saling asah asih asuh ya Ki…,
    matur sembah nuwun
    salam sihkatresnan
    rahayu..,

  32. Nyuwun sepura, kagem sedaya Sedulur Sejati.
    Kepareng nderek diskusi, sesambetan kalian dawuhipun simbah, kinten2 mekaten:
    ”le, urip kuwi sing apik dilakoni kanthi Sabar, Trokal.
    Bungah utawa Susah, sing gawe awake dhewe.
    Sing ora tau bungah, yo ora ngerti susah;
    Sing ora tau susah, yo ora ngerti bungah;

    Malah buyutmu biyen nuturi simbah luwih mbingungke. ”Ora perlu mikir bungah/susah”

    Saya diam dan menjawab ”nggih mbah”, tapi sebebarnya sampai sekarang masih bingung.

    Mangga dipun lanjut. Nyuwun sepura mbok bilih wonten klenta-klentunipun.

    Salam Ing Kasejaten Seduluran

  33. Kagem Ki Sikapsamin,

    Sesungguhnya, mbah-mbah kita jaman dulu “pengetahuan spiritualitasnya” saya pikir justru lebih maju.

    Lihat saja kata-kata yang bijak, yang panjenengan kutip di atas, saya pikir itu menunjukkan bahwa “bungah-susah kuwi ora ono bedane” jika kita bisa menerima dua-duanya kanthi ikhlasing panggalih (lilo-legowo).

    Jika kita bisa mengamalkan ajaran tersebut, maka akan tercapailah “manusia tanpa ciri” tegese menjadi manusia “mardhiko” yo mardiko penggalihe, yo mardiko uripe.

    Nah, itulah yang disebut juga “manusia sejati” sejatining manungso yo sing ngerti apa sebenere urip iku.

    Sebab sejatine, akeh wong kang urip, mung sekadar “urip-uripan”. Cirine, gampang banget “dipermainkan perasaannya” oleh kahanan, dimana sesungguhnya banyak kahanan di dunia ini yang sesungguhnya palsu.

    Dengan demikian, hidup sejati adalah hidup yang bisa membedakan antara yang palsu dan yang asli. Antara tuhan palsu dan Tuhan yang Asli.

    Bagaimana caranya? tanyalah pada diri sendiri, jawablah sendiri sampai ketemu.

    Jika orang lain yang menjawab, iyo menowo seliramu puas/marem, lha nek ora puas? njur tekan kapan? Mulo, sing paling apik, bertanyalah pada dirimu sendiri dan jawablah dengan jawaban dirimu sendiri pula.

    Pertanyaan bisa dimulai dengan “apa aku iki wis kelebu menungsa kang sejati?”.

    Kalau saya jujur akan menjawab diriku belumlah mencapai manusia sejati.

    mbok bilih makaten, Monggo dipun raosaken Ki Sikapsamin, nyuwun pangapunten bilih ada kata-kata yang tidak berkenan.

  34. Untuk mas adi,

    ini yang dimaksud kang siapa ya? kang tomy apa kang siapa (kalau saya suprayitno).

    siapa pun yang anda tuju, saya senang kenal dengan anda.

    wah pengenal anda dibelakangnya kok ditambahai dzikrullah ya? aku tertarik bisa dong di jelaskan latar belakangnya?

    lalu anda tertarik dengan komentar atau topik yang mana mas adi? terus kia-kira apa yang menarik hati anda?

    matur suwun.

  35. Mas tomy,
    ini aku postingkan diskusiku dengan teman blog lain, yang kayaknya orang tersebut tergila-gila (mabok) dengan agama dan tuhan.

    Mungkin bisa menjadi bahan diskusi kita bersama. Coment ini adalah sebagai jawaban atas sebuah pertanyaan, maka jawaban saya sebagai berikut :

    Jujur saya katakan, saya tidak sedang mengemban misi untuk menyebarkan paham kejawen atau apalah.

    Saya hanya ingin tahu,karena saya melihat banyak manusia yang akhirnya menjadi “budak” agama. Padahal seharusnya dengan akal manusia bisa menciptakan tuhan dan agamanya sendiri, sebab tidak ada tuhan dan agama tanpa akal/pikiran. Anda tidak bisa membantahnya kan?

    Orang gila (skizofrenia) itu jelas hilang akalnya, makanya tidak mungkin dia bisa menciptakan peradaban, dan tidak mungkin bisa berpikir tentang tuhan, dosa, halal, haram bahkan berpikir tentang siapa dirinya pun pasti tak mampu (disoriented).

    Saya hanya ingin menggunakan akal untuk berpikir yang lebih baik, dan menanyakan kembali (reinterpreting) tentang kebenaran agama beserta tuhan yang diusungnya, bagi saya merupakan awal dalam hal menghargai akal sehat kita.

    Meskipun boleh jadi para pemimpin agama akan mengatakan aku ini kafir atau sesat yang kelak akan dilaknat oleh allah dan pasti “diancam” untuk dikubur dineraka selama-lamanya.

    Jika anda tidak sependapat, silakan saja. Mari kita uji akal kita dihadapan “kenyataan”, bukan dihadapan mistisisme.

    Ok mas, salam I Love u forever

  36. @Mas Prayit : Ngomong sama kamu memang kadang bikin geli kadang perlu mringis🙂
    Geli karena kayaknya kamu bener bahwa mungkin ada banyak pemuka agama yang dongkol dengan gaya kamu. Lha gaya dongkol manusia itu kadang2 juga lucu. Mringis karena saya sendiri juga kadang perlu garuk-garuk kuping mikir bagaimana enaknya njawab kamu. Hi Hi Hi. Bagus ..bagus…

    Saya hanya ingin tahu,karena saya melihat banyak manusia yang akhirnya menjadi “budak” agama. Padahal seharusnya dengan akal manusia bisa menciptakan tuhan dan agamanya sendiri, sebab tidak ada tuhan dan agama tanpa akal/pikiran. Anda tidak bisa membantahnya kan?

    Orang gila (skizofrenia) itu jelas hilang akalnya, makanya tidak mungkin dia bisa menciptakan peradaban, dan tidak mungkin bisa berpikir tentang tuhan, dosa, halal, haram bahkan berpikir tentang siapa dirinya pun pasti tak mampu (disoriented).

    ==> Saya nggak tahu kamu mau nyamber siapa . Saya tidak sedang membela diri. Tetapi secara objektif saja bahwa semua pihak berperan dalam peradaban manusia sampai seperti sekarang.

    Jadi peradaban tidak terkait dengan agama atau non agama. Pemeluk agama juga punya kontribusi dong.

    Agama bagi orang tertentu mungkin akan dipersepsikan menghambat tetapi juga bisa mendorong. Jadi itu aduhai relatip. Tidak bisa digneralisasi – baik dengan tujuan jualan kecap agama maupun sebaliknya untuk tujuan menjatuhkan agama.

    SALAM

  37. @buat love

    iya selama orang itu masih punya akal, tentu bisa menciptakan peradaban, agama juga salah satu produk dari “akal”. Sebab, tanpa akal gak mungkin ada agama dan tuhan.

    Cuma bagi yang mengaku agama samawi, menolak mentah-mentah jika agamanya dikelompokkan kedalam produk “budaya”, katanya itu bukan produk manusia tetapi produk tuhan (wahyu).

    Nah di sini beda mendasarnya, secara tinjauan filsafat gak ada tuhan kok memproduksi agama/wahyu.

    Namun demikian, memang bisa dan sah-sah saja orang semacam muhhamad mengatakan mendapat wahyu tuhan, lha tergantung wong sing diceritani dan yang mendengarnya jika mau percaya silakan gak percaya juga silakan.

    Jangan kayak model premanlah, orang yang menentang muhammad langsung divonis “neraka” bolone setan, kafir yang halal darahnya. Ini peradaban macam apa bro? Ini fasis kan? ini namanya kejahatan agama atas nama tuhan kan? podo jamane soeharto, sopo wae sing di cap “komunis/PKI” bisa dibunuh tanpa proses. Ini namanya kejahatan pemerintahan soeharto atas nama negara.

    Di sini jelas posisinya bahwa saya adalah musuh agama, walaupun tak pernah sedikit pun terbesit di otak saya untuk memusuhi tuhan yang asli. Apa salah agama? terlalu banyak nanti di tulis sendiri saja, dengan judul yang besar KEJAHATAN-KEJAHATAN AGAMA.

    saya gak tahu, orang semacam kamu percaya apa tidak dengan mantra sakti dari muhammad itu, tetapi saya yakin jika pun kamu percaya mungkin agak lebih rasional “dikit”lah tenimbang para teroris yang makan buah durian sak kulite itu. Sebab, aku yakin view kamu lebih luas.

    gitu love? maaf ya, beda pendapat dan sudut pandang kan tidak haram.

  38. @Mas Prayit : Whaduh Whaduh🙂

    Cuma bagi yang mengaku agama samawi, menolak mentah-mentah jika agamanya dikelompokkan kedalam produk “budaya”, katanya itu bukan produk manusia tetapi produk tuhan (wahyu).

    ===> Sebenarnya nggak gitu-gitu amat. Agama manapun termasuk agama2 langit tentu saja mesti bersentuhan dengan kepentingan manusia bumi. Agama jelas tidak akan mungkin lepas dari sisi budaya sama sekali karena agama itu ditujukan untuk manusia dan diturunkan dalam bahasa manusia. Lha di dalam bahasa manusia itu sedikit banyak kan dipengaruhi budaya jadi yah jelas tidak tepat jika dikatakan kalo agama langit itu kemudian terpisah dari sisi manusia.

    Saya kan sudah ngomong soal ini secara mendasar :

    Bagi seseorang apa yang terjadi sekarang dimulai dari tanya.

    Bagi yang lainnya semuanya mesti dimulai dari pengetahuan awal.

    secara logis benar mana ? Tidak ada yang bisa membuktikan benar salahnya. Mengapa ? Karena tanpa tanya tidak ada pengetahuan. begitu juga tanpa pengetahuan awal darimana bisa timbul pertanyaan.

    Kamu memilih yang pertama
    Saya memilih yang kedua.

    Benar mana ? Kau tidak bisa membuktikan aku salah begitu juga aku tidak bisa membuktikan engkau salah. Hi Hi Hi

    Masalah kejahatan agama ? Tidak ada kejahatan agama, yang ada adalah kejahatan manusia. jadi menyalahken agama maupun membela agama sama salahnya. Mengapa ? Karena yang salah kan selalu manusia. Jika manusia yang salah yah manusia yang bertanggung jawab.

    Dalam tataran implementasi yang selayaknya dihukum itu manusia .

    Masalah percaya atau tidak sekali lagi asumsimu bahwa segalanya dimulai dari tanya itu sebenarnya juga pasti punya sisi percaya. jadi saya selalu berpikir bahwa di dunia ini yang namanya manusia tetap tidak bisa dipisahkan oleh percaya / tidak percaya meskipun dia ngeles sekalipun.

    Mengapa ? Karena selalu ada asumsi yang memang tidak bisa dibuktikan.

    SALAM
    Matur Nuwun

    Setuju nggak setuju tetap thank you

  39. memang kamu benar semua juga karena “manusianya”.

    Adanya tuhan juga karena ada manusia, coba kalau yang ada cuma kambing, ya tentu saja adanya cuma “embeeeeek…….”.

    kejahatan agama yang aku maksudkan adalah kejahatan manusia juga, sebab si manusia itu telah membuat kejahatan atas nama agama yang diciptakannya.

    nah di dalam agama yang diciptakan manusia itu, ternyata penuh dengan “tipu daya”.

    Oleh karena itu, kalau aku membongkar kejahatan agama, berarti aku membongkar kejahatan manusianya juga.

    intinya agama itu merupakan alat yang digunakan untuk kejahatan. Mengapa agama bisa dijadikan alat untuk kejahatan? oh,bisa banget, lihat saja dengan doktrin-doktrinnya.

    seakan-akan sang nabi sedang membuat konfrontasi antara kepentingan “tuhan” dengan “manusia”.

    Padahal yang sesungguhnya terjadi itu merupakan kepentingan nabi sendiri dan Nabi sendiri berlindung di balik wahyu.

  40. Matur nuwun sanget para sanak kadhang yang sudah berbagi kawruh dan bercurah pendapat dalam semangat saling asah, saling asih & saling asuh.
    Pertama-tama ijinkan saya *halah* mengutip pernyataan Founding Father kita tercinta Bung Karno yang kalau tidak salah begini : ”Kemerdekaan bukan jalan yang bertabur bunga namun penuh linangan air mata”
    Saya ingin berbagi kemerdekan sebenarnya dalam setiap postingan.
    Dan berikut sedikit curhat
    Dalam hidup ini memang banyak hal yang tak dapat dinamai, tak dapat dijelaskan, tak dapat diringkus oleh keterbatasan nalar. Untuk itu diperlukan penandaan, metafora, penamaan, penjelasan, penyederhanaan.
    Lalu tercipta teks2 yang kita baca sebagai Tuhan, Allah lan sapanunggalanipun. Yang celakanya malah diberhalakan & malah makin jauh dari ’spirit’ dibalik teks.
    Inilah manusia yang terjebak dalam kekosongan karena teks tak lagi punya arti tanpa adanya ’spirit’ yang jadi rujukannya.
    Kita menjadi terbiasa hidup dengan terberi, terpaku pada realitas, berhenti melakukan pencarian terhadap apa yang ada di balik realitas, terjebak dalam rutinitas, hidup secara mekanis seperti sebuah mesin.
    Hidup seperti ini bagi saya adalah hidup yang kehilangan maknanya, hidup yang tak layak dijalani *sekali lagi miturut saya*

    Sependapat dengan Mas Ratanakumaro & juga memang begitu yang saya alami, saya mulai berjalan dengan mempertanyakan segala yang telah terberi itu tadi .
    Mencoba mencari kesejatian yang tersembunyi & tertunda oleh kehadiran penanda atau teks-teks itu.
    Melakukan dekonstruksi, pembacaan ulang
    Petunjuk pertama saat saya menjalaninya adalah :
    1. HIDUP ADALAH PROSES
    2. JANGAN PERCAYA APAPUN DAN SIAPAUN SEBELUM ITU MENJADI KEBENARANMU SENDIRI

    Ternyata dalam dekonstruksi itu secara jujur tersingkap motivasi hidup manusia, yaitu mencari pemuasan hidup, pemuasan hasrat, tercapainya kesenangan.
    Dan sejujurnya tuhan bagi saya hanyalah berhala guna menutupi ketakmampuanku untuk bertanggung jawab atas hidupku sendiri. Segala kepentinganku kuatasnamakan tuhan bahkan untuk sekedar berebut tempat buang hajat.😥

    Maka akhirnya nih, seperti yang sudah saya tulis di komeng sebelumnya, nilai & kebernilaian hidup manusia adalah keputusan & tanggung jawab manusia sendiri
    Maka dengan atau tanpa Tuhan, keputusan manusialah yang membuat hidupnya berarti
    Bila dalam penghayatannya ia mensyaratkan adanya tuhan agar hidupnya berarti Inggih Sumangga Kersa.
    Tidak ada SETUJU atau TIDAK SETUJU
    Bukan mencari BENAR & SALAH
    Namun merdeka dalam melihat kesejatian hidupnya
    Yang terpenting adalah PROSES, perjalanan manusia itu sendiri dan keputusan demi keputusan yang di buat dalam setiap peristiwa kehidupan yang dijalaninya

    Atheis atau Theis bukan itu yang membuat manusia bernilai namun penghayatan & pembuatan keputusan dalam hidupnya.

    Dan bagi dunia bukan bertuhan atau tidak bertuhan yang berguna namun sikap hidupnya dalam membuat dunia makin indah sebagai tempat hidup bersama

  41. iyo bener mas tomy,

    asline urip kuwi sederhana banget kok, yang bikin sok ruwet, rumit, sinengker, dll itu kan dalam rangka “memelihara atau melindungi kepentingan”.

    kepentingan itu macam-macem sih, ada kepentingan kekuasaan, harga diri, ekonomi,seks dan kepentingan lain yang disembunyikan.

    bagi orang-orang yang mardhiko, yo mardhiko penggalihe yo mardiko uripe, sudah tidak takut kehilangan apa pun. Bagi mereka “duwe opo ora duwe” podo wae. Yo podo rasane yo podo kepenake. Sing penting urip kuwi “seneng” ning sing ora nyusahke utowo merugikan liyan (others).

    Sebab jika “kesenangan kita atau kebahagiaan kita” dibangun diatas fondasi “penderitaan” orang lain, ini namanya jelas penindasan. Kemerdekaan tidak bisa dibangun dengan cara seperti itu.

    Nah, adakah orang yang seperti ini? mugkin ada walaupun saya belum pernah menemui orang yang seperti itu.

    Kebanyakan orang, pinter meden-medeni (menakut-nakuti/mengancam), pinter ngapusi, pinter berpura-pura, pinter nggoleki salahe liyan lan liyo-liyani sing intine nek iso aku dewe sing seneng (enak) lan aku dewe sing bener.

    Kita semua tahu orang dengan karkter seperti itu sesugguhnya jelek/buruk tumraping kehidupan yang berkeadilan.

    Nah pertanyaannya, utuk menjadi orang yang baik, apakah lebih efektif menggunakan paksaan hukum (negara) atau menggunakan pendekatan spiritual atau agama?

    ini mungkin bisa dibahas dalam topik lain mas tomy, silakan.

  42. intinya agama itu merupakan alat yang digunakan untuk kejahatan.

    ===> Palu, gergaji, kampak , duren pun bisa jadi alat kejahatan🙂

    Tetapi kan bukan palunya yang salah. hI hi hi

  43. Nah pertanyaannya, utuk menjadi orang yang baik, apakah lebih efektif menggunakan paksaan hukum (negara) atau menggunakan pendekatan spiritual atau agama?

    —> Yang paling baik tentu kesadaran. Bukan paksaan baik hukum negara atau hukum agama. Tetapi kita tidak bisa menutup mata bahwa yang namanya hukum selalu diperlukan.

  44. menurut pendapat saya, pada awalnya agama memang hanyalah sebagai “alat” tetapi dalam perjalanannya agama menjadi “tujuan” maka itulah bedanya antara agama dengan palu, gergaji, clurit dsb.

    dan benar memang yang paling baik untuk mewujudkan orang yang baik melalui “kesadaran” pribadi.

    Nah pertanyaannya, seperti kita ketahui fakata berbunyi mayoritas kesadaran orang indonesia itu sangat rendah dalam berbagai aspek.

    Nah lho, mau diapakan?

  45. Salam Persatuan Kepada Saudaraku Semua

    Kebanggaan Sebagai Anak Negeri. Jiwa Persatuan sebagai Bangsa Indonesia akan selalu tergurat di dalam diri. Tekad dan Harapan Menjadi Negeri Yang Besar tak akan pernah pudar oleh apapun. Semua berpadu menjadi sebuah Harapan yang bersandar pada Sosok Sang Pemimpin. Sang Pemimpin yang mampu mewujudkan semua itu. Sang Pemimpin Harapan Kita. Harapan Bangsa dan negeri Indonesia.
    Biarkanlah harapan itu selalu tersemai dengan indah. Dan akan kita wujudkan bersama satu saat nanti. Harapan itu pulalah yang mengiringi untaian kata-kata dalam tulisan dibawah ini yang terangkai dalam beberapa bagian. Bagian awal (BabI) akan ku sampaikan saat ini sedangkan bagian lainnya akan kusampaikan kemudian. Dan aku berharap saudaraku semua akan berbagi, menebarkan dan menyampaikannya pula kepada yang lain. Agar Kita dapat merasakan dan meyakini bahwa Harapan itu masih ada dan kelak … akan terwujud.

    KUTEMUKAN SOSOK
    … “SANG PEMIMPIN BESAR” …

    BAB I
    INDONESIA DAN SANG PEMIMPIN BESAR

    Indonesia bagaikan sebuah Permata Berkilau dalam jagat raya kehidupan. Sebuah Permata terindah yang sesungguhnya begitu mempesona, menawan mata hati dan jiwa siapapun yang memandang. Namun sayangnya Kilau Permata itu belumlah mampu memancar dengan sempurna. Sebagian kilaunya masihlah terpendam belum terpendar keindahan sesungguhnya.

    Itulah Indonesiaku negeri kebanggaanku. Negeri yang telah memberikan nafas kehidupan. Walaupun sebahagian kilaunya masih terpendam namun aku menyakini bahwa sebuah Permata tetaplah Permata sampai kapanpun. Dan pada saatnya nanti kilau keindahan sesungguhnya pasti akan memancar.

    Bila saat itu tiba maka siapapun yang memandang akan terpukau, mengagumi bahkan bergetar hatinya karena memandang keindahan dan kebesaran Indonesiaku yang sesungguhnya.

    Indonesia … Keindahannya tak akan pernah cukup untuk dilukiskan dengan berjuta untaian kata sekalipun.

    Indonesia … Kebesarannya tak akan terwakilkan dengan goresan tangan siapapun jua.

    Indonesia … Warna-warni Keragaman Pesona dan Budayanya tak akan mungkin tergantikan oleh sapuan kuas apapun.

    Indonesia Permata Beribu Pulau terpagari oleh tonggak-tonggak Kegagahan Anak-anak negerinya, terpoles Sempurna dengan Keindahan Artistik Alamnya.

    Dan sampai kapanpun Indonesiaku adalah Indonesia … Sang Permata Berkilau di semesta ini.

    Karena memang Indonesiaku adalah Guratan Sempurna. Maha Karya Terindah Guratan Tangan dari Sang Maha Kuasa.

    Itulah Indonesiaku … aliran darahku, helaan napasku, hakikat dan jiwaku sebagai Anak Negeri.

    Dan aku hanyalah salah satu dari anak-anak negeri Indonesia yang selalu berharap Maha Karya Terindah ini akan selalu terjaga sepanjang masa. Selalu berharap dan siap melakukan apapun demi untuk melihat Kilau Permata Indonesiaku tercinta selalu terpendar, tak akan pernah padam oleh siapapun atau apapun.

    Kilau Keindahan, Kilau Kebesaran yang akan selalu ditopang oleh setiap rakyat dan seluruh anak-anak negeri Indonesia yang tentunya berada dalam satu arahan, satu tuntunan dan satu rengkuhan yang akan selalu menaungi, menjaga hingga menghantarkan Perjalanan Sejarah Bangsa dan Negeri Indonesiaku ini. Dan itu akan berpuncak kepada satu figur Pemimpinnya.

    Dan aku hanyalah satu dari begitu banyak rakyat di negeri ini yang berharap menemukan dan memiliki sosok Pemimpin Terbaik. Pemimpin Terbaik yang mampu memimpin dalam arti sesungguhnya. Memimpin untuk dapat melajukan Kapal Kehidupan Negeri ini, menghindari karang-karang terjal ataupun menghadapi garangnya ombak kehidupan hingga kapal ini dapat terus melaju dan pada akhirnya mengembangkan Layar Kehormatan dan Kebanggaan sebagai Bangsa dan Negeri Indonesia.

    Seorang Pemimpin yang mampu menempatkan Bangsa dan Negeri ini untuk berdiri sama tegak bahkan melampaui bangsa-bangsa dan negeri lain.

    Seorang Pemimpin yang memiliki Kharisma Kepemimpinan yang sejati hingga mampu menerpa dan menyentuh setiap rakyatnya, menunjukkan kegagahan diantara pemimpi-pemimpin bangsa manapun hingga mampu menghantarkan bangsa ini ke Puncak Kehormatan, menggenggam Harkat dan Martabat sebagai Bangsa yang Besar.

    Pemimpin yang siap mempersembahkan segala hal terbaik yang dimiliki, berjuang dan mengabdi hanya untuk Sang Pertiwi. Berjuang tanpa pamrih hanya atas dasar tekad dan kesungguhannya sebagai Anak Negeri yang tengah memimpin Bangsa dan Negerinya.

    Pemimpin yang akan selalu dihormati dengan hati karena dirinya adalah Simbol Kebanggaan Rakyatnya.

    Dan untuk menjalankan kepemimpinan itu tentunya membutuhkan seorang
    Pemimpin yang memiliki dasar dan arahan langkah untuk berpijak, memiliki pengetahuan kehidupan, kemampuan untuk membimbing dan mengarahkan kepada satu tujuan besar.

    Karena hanya Pemimpin yang berkharisma, memiliki kemampuan dan dasar pijakan langkah yang kuat yang akan mampu membentuk dan melahirkan anak-anak Negeri yang gagah dan berkarakter yang akan membuat siapapun di negeri ini menepuk dada menunjuk dengan bangga sebagai Rakyat Indonesia.

    Sebuah Seruan Kegagahan yang “berisi” bukan hanya slogan semata. Sebuah seruan yang akan membahana di angkasa raya dan hanya mungkin terwujud dengan sentuhan tangan yang tepat dari Pemimpin Terbaik.

    Itulah harapanku, harapan saudaraku seluruh Rakyat Indonesia. Namun akankah sekeping harapan itu yang selalu berusaha untuk kita jaga akan bisa terwujud?

    Akankah harapan itu tetap mampu bersinar dan menggapai suatu hasil terbaik seperti yang kita harapkan?

    Mungkinkah kita dapat berjumpa dengan seorang Pemimpin yang memang memiliki sebuah tekad dan kesunggguhan untuk memimpin dengan sepenuh hati, berjuang tanpa pamrih, mempersembahkan dan mengorbankan segala kelebihan yang dimiliki hanya untuk Kebesaran dan Kehormatan Negeri Indonesia tercinta ini?

    Ach ……sepertinya semua itu bagaikan mimpi disiang hari, bagaikan pungguk merindukan bulan. Akankah menjadi nyata? Akankah semua itu hanya tetap berakhir menjadi impian kosong?

    Karena seiring waktu yang berputar, disadari atau tidak perlahan-lahan harapan itu seakan seperti memudar karena tak kunjung berjumpa sosok Pemimpin yang diharapkan.

    Siapapun bisa dan mampu duduk diatas kursi kepemimpinan namun tidak semuanya mampu menjadi seorang Pemimpin.

    Sering kali yang terlantun hanyalah bermanis kata, menunjukkan pesona bahkan perhatian tapi semua hanyalah sesaat demi meraih kepentingan dan keuntungan untuk diri mereka. Bukan untuk kita, bukan untuk Rakyat dan Negeri Indonesia.

    Rasanya lelah menanti, lelah berharap tanpa ada setitik cahaya yang memungkinkan semua itu bisa terwujud. Dan disaat sisa-sisa helaan nafas harapan semakin menipis, disaat keinginan dan cita-cita seakan begitu jauh untuk digapai, disaat rasa lelah menyergap begitu kuat dihati ini. Dan disaat kepiluan semakin menyengat ketika memandang satu demi satu Kebesaran Negeri ini meredup, terenggut, terampas tanpa mampu berbuat apapun.

    Kebesaran Negeri yang tak dipandang atau bahkan sengaja dicoreng oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab.

    kebesaran Negeri yang dinodai, terampas dan terenggut oleh keculasan bangsa dan negeri lain, yang semuanya bermula atau sebenarnya didasari karena tidak mampu menerima, berlapang dada memandang Kebesaran, Keindahan ataupun Kemakmuran bangsa dan negeri ini hingga dengan berbagai cara menginginkan pula untuk mampu memiliki dengan meninggalkan goresan tajam kepahitan untuk bangsa dan negeri ini.

    Mereka yang bukan apa-apa, bukan siapa-siapa tapi berlagak seolah mengetahui dan lebih memiliki kuasa untuk menentukan sesuatu atas diri bangsa dan negeri ini.

    Apakah Kebesaran Bangsa dan Negeri ini yang terlalu melimpah? Hingga kita tak mampu menjaganya dengan baik?.

    Ataukah para sosok-sosok yang seharusnya menjaga dan menjadi rantai rantai pengokoh, menaungi dengan kegagahan namun tak mampu menjaga Kebesaran Bangsa dan Negeri ini dengan sepenuh hati?
    Atau apakah karena memang tak mampu untuk melakukannya?

    Belum lagi Kebesaran Bangsa dan Negeri ini yang turut tercoreng, yang diredupkan oleh sesama anak negeri sendiri, sesama saudara sejiwa yang seharusnya saling menjaga, tapi karena ego dan kepentingan sendiri melupakan bahwa kehidupan yang mengalir didalam dirinya adalah merupakan pemberian dari Sang Bumi Pertiwi.

    Hingga disengaja ataupun tidak justru ada sesama anak negeri yang menancapkan sembilu duka pada Sang Pertiwi.

    Bila kebesaran tak mampu lagi memancar, maka harga diri dan martabat pun turutlah redup karena terinjak-injak oleh tangan-tangan dari bangsa bangsa lain yang memandang sebelah mata, menganggap seolah tak berarti bahkan nyatanya ada pandangan yang menganggap kita sebagai bangsa pecundang.

    Siapakah yang seharusnya maju dan berdiri didepan menghadapi semua hal yang datang untuk meredupkan Kebesaran Negeri ini?

    Rakyatnya yang tak mampu bersatu ataukah Pemimpinnya yang tak mampu menyatukan?

    Rakyatnya yang kehilangan arah ataukah Pemimpinnya yang tak mampu menuntun, menunjukkan hingga menghantarkan apa yang harus dilakukan untuk tetap menjaga dan membuat Kilau Kebesaran itu selalu terpancar.

    Bagaimanapun sebagai rakyat maka langkah-langkah kaki anak negeri Indonesia ini akan mengarah dan mengikuti jejak langkah yang ditunjukkan oleh sang Pemimpinnya.

    Lalu bagaimana jadinya bila sosok yang dijadikan panutan, sosok yang memimpin, namun dirinya sendiri tidaklah mengetahui arah mana yang harus dituju atau langkah apa yang tepat yang harus dilakukan.

    Maka akan menuju kemanakah Kapal Kehidupan Bangsa ini? Terus melaju ataukah terpuruk?

    Lalu apakah kita diam melihat semua itu? Akankah kita biarkan Kebesaran dan Kejayaan yang seharusnya bersinar, pudar, hilang dan terenggut begitu saja?

    Relakah kita melihat Bangsa dan Negeri yang kita cintai, para generasi-generasi penerus yang kita kasihi hanya mendapatkan sisa-sisa dari kehormatan yang seharusnya semakin lama semakin mencapai puncak, dan pada akhirnya hanya akan dianggap menjadi bangsa dari generasi yang tanpa arti.

    Yach …..jawabnya tidak!!! Dan siapapun kita sebagai Rakyat Indonesia tidak akan pernah rela bila harga diri diinjak apalagi dianggap sebagai bangsa pecundang.

    Kita pasti akan siap berdiri gagah menghadapi siapapun atau apapun. Kita pasti akan siap berdiri gagah, mengepalkan tangan bahkan menunjuk hidung, menghadapi siapapun atau apapun yang hendak mencabik harga diri sebagai Bangsa Indonesia.

    Kita siap mencucurkan peluh, mencurahkan segala daya, mewarnai dengan Aliran Darah Keberanian dan Kesucian Hati, demi untuk memandang Sang Merah Putih selalu Berkibar dengan Gagah.

    Kita adalah Ksatria Negeri, yang selalu siap menyatukan jiwa, mempersembahkan segala hal yang terbaik, menggemakan dengan lantang Kehormatan Sang Pertiwi.

    Namun sekali lagi semua harapan itu, semua semangat dan tekad itu seolah bagaikan berlalu begitu saja.

    Tekad, Keinginan dan Semangat Berkobar. Namun tanpa ada satu sentuhan dari seorang Pemimpin yang tepat, yang mengarahkan langkah kita maka kita bagaikan kehilangan arah, terpecah sendiri, bagai kehilangan Satu Tujuan Hidup Berbangsa dan Bernegara yang seharusnya selalu kita junjung.

    Sekali lagi, pada akhirnya semuanya akan berujung dan bergantung kepada satu sosok yaitu sosok Sang Pemimpin. Dan jelas tentunya bukanlah seorang Pemimpin yang hanya memiliki pesona belaka, menjadi sosok yang beruntung karena duduk disinggasana. Tapi yang kita butuhkan sosok Seorang Pemimpin Besar.

    Pemimpin Terbaik karena memiliki pengetahuan dan kemampuan serta segala hal lainnya. Memiliki daya dan karya untuk membimbing kita semua mengarahkan, menuntun, menghantarkan hingga memastikan langkah Bangsa Indonesia akan sampai disatu Puncak Tujuan Tertinggi.

    Seorang Pemimpin yang mampu menjadi Teladan Sejati karena memang telah memahami makna dan hakikat sebenarnya sebagai seorang Anak Negeri dan bagaimana menjalankan peran terbaik itu.

    Seorang Pemimpin yang berjuang tanpa pamrih karena setiap perjuangannya, setiap gema kegagahannya memimpin bangsa ini adalah merupakan wujud nyata, persembahan bakti tertinggi seorang Anak Negeri kepada Ibu Pertiwinya.

    Wujud nyata yang membuat kita pasti dapat menilai dan mengukur sebuah ketulusan sejati. Melihat dengan jelas dan nyata sebuah bentuk pengabdian dari Seorang Pemimpin.

    Bakti tertinggi, pengabdian yang tulus dari Seorang Pemimpin tentunya tak akan pernah mengharapkan pamrih atau imbalan apapun. Bahkan sebuah pembayaran atau bahkan gaji sekalipun. Karena memang pastilah sosok Pemimpin itu memahami benar bahwa dirinya sedang menjalankan Peran Terbaik sebagai seorang Anak Negeri, bukan tengah berniaga dengan Negerinya apalagi mengharapkan upah atas Kepemimpinannya.

    Seorang Pemimpin Sejati yang akan menjadi Motivator Terbesar, Pembangkit Semangat Nasionalisme yang akan mampu menyatukan kita semua menggapai masa depan Bangsa dan Negara yang lebih baik.

    Selalu siap menyuarakan kegagahan, berjuang sebagai sosok Anak Negeri yang membela harga diri Ibu Pertiwinya.

    Wahai saudaraku Rakyat Indonesia. Tentunya gema harapan itu yang berkecamuk didalam dada kita tapi sekaligus bercampur antara keyakinan dan kehilangan keyakinan.

    Karena sepertinya tidaklah mungkin menemukan Sosok Pemimpin seperti yang kita butuhkan. Dan kita pun terkadang bimbang seperti apakah sebenarnya sosok Sang Pemimpin Besar yang kita butuhkan itu?

    Adakah sebuah tolak ukur atau landasan yang menjadi penguat keyakinan kita bahwa itulah sosok Seorang Pemimpin yang sesungguhnya?

    Tentunya pertanyaan itu pun akan terus menjadi pertanyaan tanpa akhir, tanpa kunjung mendapat jawaban bila kita hanya berdiam diri atau termangu saja.

    Bagaimana mungkin kita berharap menemukan sesuatu yang terbaik bila kita hanya berdiam dan menunggu saja. Menanti entah berapa lama, menanti entah sampai kapan. Dan apakah pada akhirnya penantian itu akan menghantarkan bertemu sesuatu yang terbaik bagi kehidupan kita.

    Untuk mendapatkan hal yang terbaik secara pribadi saja maka kita harus mengerahkan segenap kemampuan, segala upaya untuk bisa mendapatkannya. Apalagi ketika berbicara tentang Bangsa dan Negara, tentang peran kita sebagai Rakyat sekaligus Anak Negeri, maka sudah tentu kita pun harus bersiap diri, melakukan segala hal, melakukan apapun untuk memberikan sebuah sumbangsih tersendiri kepada Negeri ini.

    Mulai dari saat ini, mulai dari hal yang terkecil, dimulai dari diri sendiri mencoba menata, mengkondisikan, menyatukan persepsi, menyamakan tujuan dengan menyadari dan menanamkan bahwa segala sesuatu yang ada di Negeri ini, apapun yang terjadi pada Bangsa ini, maka semua itu akan kembali dan berpulang kepada diri kita sendiri.

    Melakukan kebaikan, menjaga dengan kemampuan yang ada, mengerahkan potensi yang dimiliki, hanya dan untuk atas nama Bangsa dan Negeri Indonesia. Sekecil apapun adalah jauh lebih baik dari pada berdiam diri atau bahkan berbuat keburukan.

    Membuka wawasan dan cakrawala berpikir, memandang jauh kedepan untuk menjadi pribadi-pribadi Rakyat sekaligus Anak Negeri yang terbaik. Membekali diri dengan pengetahuan, potensi dan kemampuan untuk kita satukan pada saatnya nanti.

    Dan diujung langkah perjuangan kita sebagai pribadi Anak-anak Negeri maka adalah mempertajam pandangan, memandang dan mendengarkan dengan hati, memberikan penilaian obyektif, memilah dan menetapkan dengan suara hati terdalam hingga langkah kaki kita semua akan sampai disebuah perjalanan, dan pada akhirnya dapat menemukan sosok Pemimpin Terbaik bagi kita semua.

    Pada akhirnya aku berharap apapun yang kita lakukan, apapun pengalaman dan hal-hal berharga yang kita dapatkan. Teruslah berupaya dengan segenap kemampuan agar pada akhirnya kita dapat saling berbagi, mengingatkan, menyampaikan dan saling bersama membulatkan tekad untuk mulai menapak lebih baik, berbuat hal yang nyata untuk Rakyat dan Bangsa Indonesia karena sesungguhnya semua itu adalah untuk diri kita pula.

    Wahai saudaraku … semaikanlah dan biarkan tumbuh dengan kuat Keyakinan dan Kebanggaan sebagai Anak Indonesia. Agar pada saatnya nanti bersama kita gemakan kesegenap penjuru semesta.

    Akulah Anak Indonesia. Akan Kubuat Sang Pertiwi tersenyum Bangga. Akan Kuhiasi Angkasa Raya dengan Kibaran Kegagahan Sang Merah Putih.

    Akan kubuat setiap hembusan angin hanya menebarkan Keharuman Nama Bangsa dan Negeri Indonesia.

    Indonesiaku yang Bersinar bagai Permata Terindah di Jagat Kehidupan.

    Indonesiaku Nan Permai Guratan Maha Karya Sempurna.

    Indonesiaku Yang Gagah dengan Rantai Pengokoh Ikrar Setia Anak-anak Negeri.

    Indonesiaku Yang Bermartabat, menggetarkan siapapun dalam Genggaman dan Pancaran Kharisma Sang Pemimpin Besar.

    Demi Kebanggaan sebagai Rakyat Indonesia.

    Demi Kebesaran Bangsa. Demi Kebesaran Negeri Indonesia yang Berkilau di Puncak Kehormatan Tertinggi yang akan mampu kita wujudkan hanya dengan sentuhan sosok Sang Pemimpin Besar.

    Sang Pemimpin Besar Yang Memimpin dengan Pengetahuan dan Kemampuannya.

    Sang Pemimpin Besar yang Menuntun dengan Daya dan Karyanya.

    Sang Pemimpin Besar yang Menyentuh dengan Ketulusan dan Kebesaran Hatinya.

    Sang Pemimpin Besar … Sang Pemimpin Sejati … Yang akan membuat Bangsa ini Menepuk Dada Menunjuk dengan Bangga sebagai Rakyat Indonesia.

    Hingga pada akhirnya setiap Rakyat, seluruh Anak-anak Negeri akan selalu menggemakan dengan lantang …

    “Aku adalah Kegagahan.”

    “Aku adalah Rantai Pengokoh Sang Pertiwi.”

    “Aku adalah Pengibar dan Penjaga Sang Merah Putih.”

    “Dan aku adalah … INDONESIA.”

    Jadi Mari Kita Bulatkan Tekad dan Kuatkan Keyakinan selalu Bersandar pada Hati, Tegar hadapi apapun.

    Bersama kita Berharap, Mencari … dan terus Melangkah … hingga kita berjumpa dengan … Sang Pemimpin Besar.

    Sang Pemimpin Besar yang akan membuat setiap Bangsa dan Negeri manapun hanya akan memandang …

    “Indonesia adalah Kegagahan” … “Indonesia adalah Kejayaan” … “Indonesia adalah Bangsa dan Negeri Yang Besar.”

    Indonesia Yang Gagah Butuh Sang Pemimpin Berkharisma
    Indonesia Yang Jaya Butuh Sang Pemimpin Sejati
    Dan Indonesia Yang Besar Butuh … Sang Pemimpin Besar.

    Jadi berarti Untuk Mampu Berdiri Gagah, Memancarkan Kilau Kejayaan,
    Menjadi Bangsa dan Negeri Yang Besar maka yang Kita Butuhkan adalah

    … “ Sang Pemimpin Besar ” …

    Salam Persatuan dan Kebanggaan sebagai Sesama Anak Negeri Indonesia.

  46. memang terkadang kalau kita perhatikan, kita2 ini lucu. meributkan dan berdebat mempertahankan sesuatu yg belum tentu benar. kalau satu dengan yg lain berbeda, terimalah sebagai suatu yang wajar, karena kita memang berbeda dan jangan dijadikan dasar untuk konflik. terima kasih pak atas pencerahannya. Gbu

  47. nuhun kaula nuhun sugeng tetepangan kaleh kula Gamoer Terate, kahem mas Tomy engkang hamengku hati salam rahayu, kagem para pinisepuh engkang nyengkuyung blog meniko salam seh katresnan wonten mas lovepassword, mas suprayitno, mas ratna, lan sedaya mawon tiang22 hebat, mantepp sanget mas diskusine matur sembah nuwun geh kagem ilmu nipun, sanget22 migunani tumprah kula engkang taseh cetek pangertosan mas,
    dados kesimpulanipun (miturut kula) :

    – tidak ada Tuhan & Agama klo gak da akal/ pikiran,
    – gak ada akal/pikiran kalo gak ada kehidupan
    – gak ada kehidupan kalo gak ada Tuhan

    *kesimpulan ANTARA TUHAN, AKAL/PIKIRAN, & KEHIDUPAN, GAK BISA DIPISAHKAN ! ! !
    he he he peace……

    jadi kemutan sanjange simbah, makaten sanjange :

    simbah : le…… yen kowe pengen pinter ojo mbeguru menyang wong, uga yen kowe pengen ngerti ojo takon buku.

    aku : (bingung) lajeng pripun mbah ???

    simbah : takonno menyang awakmu dewe, merga sing ngerti awakmu, eo awakmu dewe

    aku :BINGUNG BINGUNG BINGUNG ….! ! !

    Jd kesimpulanipun urip meniko membingungkan, hidup BINGUNG he he he
    hidup semakin dicari semakin gak ngerti
    semakin dimaknai semakin banyak pertanyaan dlm hati, he he he

    gelem eo ngene ora gelem eo ngene he he he……..

    salam paseduluran

    gamoer terate

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s