SOSIALISME KERAJAAN ALLAH

Standar

Dalam tulisan saya sebelumnya, diungkap bahwa kemiskinan dan penindasan yang makin parah serta tiadanya harapan untuk mencapai kesejahteraan membuat masyarakat mudah dihinggapi mimpi, ilusi sosial tentang kedatangan Ratu Adil.
Namun benarkah Keadilan *Ratu Adil* hanya sekedar dambaan ilusif ?

MITURUT PEMANGGIH KULA

Banyak orang berpandangan bahwa Ratu Adil adalah satu sosok pribadi, bahkan beberapa spiritualis mengklaim telah bertemu wujud asli dari Ratu Adil beserta pamongnya Sabdo Palon dan Nayagenggong.
Tentang hal ini saya tidak hendak menyanggah, meragukan atau menyetujuinya, namun saya mencoba untuk tidak terjebak *halah* dalam pengkultusan individu. Yang mengagung-agungkan sosok pribadi sebagai jalma linuwih, punjul-punjuling apapak, jalma limpat seprapat tamat. Kultus individu semacam ini tidak sesuai malah cenderung untuk mencederai Keadilan😀

Prinsip Keadilan adalah persamaan derajat diantara semua manusia, sama-sama tinitah di jagad raya sebagai Rasul, utusan Allah sebagai Rahmatin lil Alamin. *kalau kamu tidak merasa sebagai Rasul utusan Allah, lalu kamu itu utusan siapa?*
Manusia yang membawa unsur-unsur yang sama; bumi, api, angin, air, nur, rahsa, roh, akal, budi. Menghirup udara yang sama, sama-sama membawa serta segala kebaikan dan kejahatan dalam diri. Yang membedakan cuma keputusan manusia dalam memilih.
Otentisitas dan kualitas manusia terletak pada ‘pembuatan keputusan’, hendak menjadi baik atau tidak baik, hendak menjadi adil atau tidak adil, hendak menjadi utusan Allah atau utusan iblis:mrgreen:
Nah, kalau begitu mengapa tidak kita putuskan untuk menjadikan diri kita sebagai agen-agen keadilan, sebagai pamomong Sang Adil : menjadi Sabdopalon & Nayagenggong.
Sabdopalon dan Nayagenggong dalam bahasa Jawa termasuk ‘sengkalan memet’; kata yang mengandung makna konotasi.
Sabdo = ucapan yang terimplementasi dalam tindakan,
Palon = tiang pancang untuk mengikat kerbau, dalam hal ini diartikan sebagai patokan.
Naya = kata ganti nama orang seperti Si Naya, Si Suta, Si Waru dan Si Dadap,
Genggong = gede atau besar *jangkrik genggong = jangkrik yang besar*
Jadi arti dari Sabdopalon Nayagenggong : Orang Besar adalah orang yang ucapan & tindakannya bisa dijadikan patokan, bisa dijadikan teladan.😀
Sesuatu yang jarang ditemui di era dimana citra dianggap lebih meyakinkan daripada fakta 😥 sehingga capres cawapres serta para caleg berlomba-lomba mencitrakan diri lewat media informasi tanpa pernah kita tahu bagaimana kontribusi yang sesungguhnya bagi negara & bangsa.

KONSEP KARAJAAN ALLAH

Harus diakui memang, untuk sungguh-sungguh adil itu sulit dan kadang kita tidak tahu adil itu yang bagaimana. Untuk itu saya coba urai konsep Keadilan merujuk Sabda Bahagia *juga Sabda Celaka yang sejajar*:mrgreen: tentang Kerajaan Allah.

Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.
…..
Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalamkekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburan
–. Lukas 6:20,24 .—

Ucapan Yesus tersebut tak hendak merestui kenyataan lahiriah orang yang tak beruang juga tak mengutuk kenyataan lahiriah si orang tajir.
Secara satir, kemiskinan dipuji sebagai suatu berkat *biasanya oleh mereka yang enggan untuk ambil bagian dalam berkat itu*😎 kemiskinan dianggap sebagai situasi yang membahagiakan karena kemiskinan membuat orang lebih terbuka bagi Kerajaan Allah.
Katanya sih, kemiskinan membuat orang patuh secara spiritual, membuat orang menyadari ketak-berdayaannya dan sepenuh hati menyerahkan diri kepada Allah.
Ini mungkin benar berkenan dengan ‘kemiskinan rohani’, sikap yang tak terikat kepada benda-benda material. Namun pada kenyataannya kemisikinan menjadi sumber dari kejahatan. Kemiskinan sebagai penindasan, yang akhirnya merendahkan martabat manusia, sama sekali bukanlah nilai religius.😎
Orang miskin ‘bahagia’, bukan karena kemiskinan mereka itu sesuatu yang baik, bukan karena orang miskin memiliki sifat-sifat istimewa, melainkan tepatnya, karena kemiskinan adalah hal yang jahat yang harus diakhiri dengan kedatangan Kerajaan Allah.
Orang miskin ‘bahagia’, karena Kerajaan Allah berpihak kepada mereka *Tak berarti Kerajaan Allah datang untuk melawan yang tidak miskin.*
Kerajaan Allah ditujukan pada semua orang. Namun pertama-tama dan terutama ditujukan pada titik dimana kemanusiaan paling terancam, yaitu : Kemiskinan!
Di sisi lain kekayaan dianggap celaka bila bila barang-barang material yang menjadi ukuran keberhasilan. Tirani, penindasan serta ketidakadilan sosial adalah buah-buahnya yang berakhir pada kehancuran masyarakat. Ini sungguh tak sesuai dengan cita-cita Kerajaan Allah.😥
Sejak awal, Alam *atau Allah biar lebih religius halah*:mrgreen: telah memberi hak yang sama atas semua barang yang manusia butuhkan guna melangsungkan hidupnya. Tak seorangpun boleh berbangga karena keberuntungan secara alamiah😀 namun hasart, keinginan yang tak pernah puas untuk menambah kepemilikan mengakibatkan penindasan dan kemiskinan. Keinginan itulah yang melahirkan kata-kata ’kepunyaanku’ dan ’kepunyaanmu’.
Baik ’penindas’ maupun ’yang tertindas’ semua membutuhkan pembebasan. Kerajaan Allah memang berada di pihak kaum miskin, tapi tidak membatasi diri pada orang-orang miskin saja. Kerajaan Allah adalah pembebas kedua-duanya.
Kerajaan Allah adalah suatu proses pengembalian kepada Wahyu Ilahi, seperti yang sudah saya tulis di postingan sebelumnya : wahyu yang diturunkan kepada Bapa-Bapa Bangsa; Wahyu yang membawa pengetahuan akan jati diri manusia, bahwa sesungguhnya semua manusia itu sederajat, baik diantara mereka sendiri maupun dihadapan Allah. Sebuah kenyataan religius maupun sosio ekonomis dan politis; menyangkut segala aspek kehidupan manusia.
Dengan pandangan seperti ini maka kemakmuran hidup adalah kemakmuran seluruh umat secara keseluruhan, untuk dinikmati bersama oleh semua umat. Kekayaan tidak merupakan milik pribadi dan milik pribadi tidak pernah menjadi suatu hak khusus yang diperoleh dengan membebani orang lain , tidak pernah dipakai untuk menindas orang lain.
Kemiskinan tidak seharusnya dipandang sebagai suatu kenyataan hidup yang diterima begitu saja, sebagai sesuatu yang tak dapat dihindari. Sebaliknya, kemiskinan harus dianggap sebagai suatu skandal yang bertentangaan dengan cita-cita Allah tentang masyarakat manusia, dan karenanya harus diatasi dengan segala macam cara!!
Keadilan menuntut suatu kemauan konkret untuk membagi apa yang dimiliki. Ukuran yang benar dalam pembagian bukanlah ‘kelebihan’ dari orang ‘ber-punya’ melainkan ‘kebutuhan’ dari orang ‘tak-punya’. Inilah kalau boleh saya katakan😀 sebagai SOSIALISME KERAJAAN ALLAH.

KESIMPULAN

Keadilan butuh tindakan nyata secara kolektif, tidak sekedar berhenti pada pengaharapan saja. Keadilan harus diperjuangkan bukan hanya menjadi dambaan ilusif tentang sosok hero yang dikultuskan.
Perjuangan bersama untuk menjadikan diri kita masing-masing sebagai agen keadilan; kita harus dihadapkan pada keberanian memilih, membuat keputusan dalam hidup & mengambil tanggung jawab penuh atas hasil keputusan itu. Bila salah harus berani mengakui dan menerima resikonya sehingga hidup kita sungguh dapat dijadikan patokan, teladan karena satunya kata dan perbuatan.
Bila keadilan telah menjadi gerakan bersama, niscaya ’Sang Adil’ akan sungguh-sungguh datang, manuksma dalam diri panjengengan sedaya😀
Dan andaikan Ratu Adil sungguh datang sebagai sosok pemimpin paripurna sebagai sosok manusia purnama, maharaja Kerajan Allah dengan segala kebesaran dan kemuliaannya, mengadili orang hidup dan mati. Kita sudah tidak takut lagi untuk DIADILI..!!!

52 responses »

  1. kemiskinan materi yang dialami oleh banyak sufi dalam agama apapun tampaknya justeru menghadirkan kemiskinan dalam wajah lain. Bukan karena ketakberdayaan untuk menjadi kaya, tapi kemiskinan dalam konteks ini malah menjadi pengantar mereka menuju jalan Tuhan.

    Yang perlu diperjuangkan adalah keadaan miskin yang terpaksa, miskin karena pemiskinan atau dimiskinkan. baik secara ragawi maupun ruhani.

    Sementara, miskin karena pilihan adalah kehendak bebas individu memilih jalannya mencari Tuhan.

    Catatan:
    Definisi miskin dalam pandangan umum sebagai yang kekurangan dalam urusan dunia. Karena kalau melihat mereka yang memilih jalan miskin sebagai pilihan, mereka tak merasa miskin. Mereka justeru sangat berkecukupan. hehehehehe..

    **********
    itulah Pak yang saya disebut sbg ‘kemiskinan rohani’ di atas. bukan berarti rohani yang miskin tapi kemiskinan sbg jalan rohani menapaki tangga spiritualitas😀
    yang perlu diperangi adalah pemiskinan, akur

  2. Tidak setuju mas.
    Ada sejumlah presuposisi (halah apa pula ini) yang tidak pas. Sehingga kelanjutannya juga jadi tidak pas.
    .
    😀

    Oya salam kenal dulu
    (sambil nyusun argumentasi)
    .
    Be Right Back

    **********
    boleh-boleh silahken
    :mrgreen:

  3. Dimana harus mencari keadilan saja saya tidak tahu, apalagi menemmukan ratunya …

    *dunia membutakan keadilan ya kang*

    **********
    Keadilan tidak harus dicari-cari De😀 namun harus ditemukan, dalam diri kita masing2. Ratu itu angratoni, ratu itu bertahta, ya didalam diri kita masing2; Baitullah yang sejati

  4. dalam pandangan awam saya, ratu adil itu sesungguhnya bisa melekat pada sosok yang memang bisa manjing ajur-ajur-ajer, kreatif, jujur, sekaligus bisa memahami benar konsep manajemen negara berbasis astabrata, pak. di tengah suasana pesimisme menatap masa depan yang belum menentu, kita butuh sosok seperti itu. semoga ratu adil kyang bener2 bisa berbuat adil itu bukan ilusi.

    **********
    bukan sekedar ilusi Pak. Kita nantikan kedatangannya dg membuat diri kita adil dulu karena konsekwensi logis jika ratu adil datang kita pasti juga harus diadili😀

  5. Baru nemu satu poin nih mas:
    Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. (Matius 5:3)

    Dalam bahasa aslinya ‘miskin’ di sini punya arti bergantung kepada pemberian”.

    Tau kan maksudnya, gimana orang yang demikian miskinnya dan hidupnya dari pemberian orang, mungkin belas kasihan tetangga. Misalnya jompo tanpa anak yg tinggal di perumahan kumuh.

    Jadi maknanya adalah “Berbahagialah orang yang menggantungkan hidup kepada pemberian dari Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.”

    Ini klop dengan ayat2 lain seperti: “Berbahagialah orang yang mengandalkan Tuhan.”
    atau:
    “Celakalah orang yang mengandalkan manusia”

    Kritik sastra ataupun Ilmu Tafsir cenderung memberi makna berbeda untuk kepala berbeda (nanti jadi banyak aliran dan berantem). Jadi untuk Alkitab biasanya pake Eksegese dan Hermenetik.

  6. @ Mas Rudi,

    Saya tidak mau seperti Ahli2 Taurat yang dikritik oleh Yesus, Yesus datang untuk membawa pembebasan, *tidak sekedar pembebasan dari dosa asalnya Adam*
    Pembebasan tentang jatidiri manusia bahwa manusia adalah citra Allah, Tohjalining Dzat Kang Maha Suci.
    Sang Hidup *Tuhan* bukan sekedar teks2 kosong dalam kitab suci, bukan sekedar Eksegese dan Hermenetik dari Alkitab *mbuh maksudnya apa*:mrgreen:
    Bukan pula tafsiran para Ahli2 Kitab yang dipaksakan menjadi doktrin & dogma yang membelenggu manusia
    Tuhan adalah Allah yang Hidup yang menyapa dalam setiap peristiwa2 kebetulan dalam hidup, itu semua yang saya pelajari dari Sang Guru *Yesus*
    Seperti yang diucapkannya : Hari Sabat diadakan untuk manusia bukan manusia untuk hari Sabat.😀 Manusia lebih bernilai dari apapun. seharusnya ini memunculkan pengertian & pemahaman bahwa hidup bukan penderitaan

    https://tomyarjunanto.wordpress.com/2008/02/18/katakan-ya-pada-hidupmu/

  7. @tomyarjunanto
    Yesus mengkritik ahli Taurat dan Orang Farisi, tapi tidak mengkritik orang Lewi dan Para Imam kan? Orang Farisi itu siapa sih? Mereka adalah “Awam Terorganisir” yang menguasai dan menjalankan hukum Taurat dan turun-turunannya. Saya dan Anda punya potensi untuk jadi orang Farisi; karena kita suka menggunakan ayat lalu menafsirkannya menurut keperluan kita:mrgreen: (sebaiknya kita jangan bikin organisasi)
    .
    Kenapa orang Farisi ditentang Yesus? Karena mereka mempersulit orang untuk mengenal Tuhan. Caranya dengan membikin agama jadi menyebalkan. Bikin kita jadi berpikir bahwa beragama itu harus ‘menyebalkan kayak begitu’.
    .
    Para Ahli Taurat ditentang keras oleh Yesus karena mengambil orang bejat lalu mengajarinya Ilmu Agama lalu mengubahnya menjadi lebih jahat mereka sendiri. Ya si orang Farisi itu produknya.
    .
    Awam terorganisir, paramiliter, parapsikologi, paranormal, paraseniman, dan para-para lainnya sudah bikin sumpek media massa. :))
    .
    Masih belum OOT kan?

    **********
    teringat ucapan Ignatius dari Loyola : jikalau Kitab Suci tak pernah ditulis aku pun akan tahu kebenaran tuhan, ini sama dengan pandangan spiritual dalam Jawa tentang ‘Kitab teles’ bahwa ayat2 suci itu tergelar dalam sepanjang perjalanan hidup😀
    kitab sejati adalah adalah hidup manusia itu sendiri.

    pemaknaan sepanjang jalan tsb yang memberi kebernilaian dalam hidupnya, dalam hal ini ayat suci tidak sekedar ‘dicomot’ sbg sesuatu yang sudah jadi namun suatu hasil dari proses hidup

    Pemaknaan hidup boleh berbeda asal tidak dijadikan sebagai menara gading kebenaran, yang digunakan untuk mengebiri pencapaian hidup manusia lain apalagi alat untuk mengeksploitasi orang lain
    https://tomyarjunanto.wordpress.com/2007/12/03/bebek-murid/

    Yesus tak pernah menurunkan Injil hanya berkata “Mari ikutlilah Aku”:mrgreen:

  8. maaf OOT maneh bingung arep nulis neng negendi
    injih mas lulusan 98 sak meniko macul wonten purwokerto.
    kulo ngertos blog meniko saking Pak Ersis
    link dadi ora ya.. hehehe.. maklum newbie yang katrok

    **********
    wah adik kelas langsung dong😀 aku lulus 97
    kemarin ikut lustrum gak?

  9. Abot ki Mas bahasan iki.

    Saat ini orang merasa “besar” dan berpikir bahwa semua itu bisa diperoleh dengan pembentukan citra dan “omong besar”, tetapi tidak diimplementasikan dalam perbuatan nyata😦

    **********
    saya berkabung karenanya😀

  10. Salam Kenal Mas Tommy
    Jalan kemiskinan maupun jalan kekayaan adalah sama sama hanya sebuah jalan, memang jalan yang termudah adalah jalan fakir jalan kemiskinan karena mereka tak memiliki dunia untuk dibanggakan sehingga akan jauh lebih mudah membuang rasa memiliki, membuang ego individu akan rasa hormat, mereka bisa menghadap dengan sebaik baik menghadap padaNYA, kecuali yang mbulet mas.
    Jalan kekayaan inilah jalan keseimbangan jalan yang jauh lebih sulit dan trik tipuan jebakannya jauh lebih banyak sehingga kalau kita tidak eling lan waspada, maka akan jatuh dan jatuh terus, susah kita menjalani hidup didunia dan menjadikan dunia di bawah kaki kita, malah terbalik banyak yang kelelep mpe mati kehabisan nafas, he he he, intinya sulit sekali melepas rasa kepemilikan pa lagi menyadari itu hanya titipan, sulit memuang ego rasa hormat pa lagi pejabat, he he he, lagi menghadap siapa tapi ingat ma hartanya jabatannya khan gak pengaruh tuh, bagaimana mo tersungkur sungguh sungguh mengakui kelemahan sang diri..
    Sekali lagi semua jalan hanyalah sebuah jalan kembali semua kepada sipenempuhnya apakah eling lan waspodo
    matur nuwun mas

    **********
    lebih sulit bagi orang kaya untuk masuk kerajaan surga😀

  11. he he he
    Orang parisi adalah gambaran bagi kita kita semua yang ucapan dan hatinya tidak selaras, bahasa kerennya “munafik” bungkus kemasannya baik kelihatan bersih dan suci tapi isinya berbanding terbalik
    Ahli taurat ya di semua kitab dijelaskan sulit untuk masuk surga kenapa????? ya sekali lagi masa agama dicerna dengan akal pikiran bukan ditanam dalam hati dan dicerna dengan rasa yang dalam sehingga menjadi jalan hidup, malah mereka ini tahunya cuma menyalahkan dan menjatuhkan orang dengan isi kepalanya sesuai dalil dan firman yang mereka tanam dikepalanya, mereka lupa ngaji diri ngaji rasa,,, he he he
    matur nuwun mas belum kenal dah cerewet

    **********
    leres mekaten Kang😀
    matur nuwun sanget, kula aturi asring kendel mriki sesarengan ngaji jati diri😀

  12. Mas Tommy sahabatku
    Kita meyakini bahwa norma injil dan teladanNYA tidak pernah menyesatkan dan pada saatnya akan menghasilkan buah2 yang diharapkan.Sebaliknya segala sesuatu yang berlawanan dengan norma itu akan sia2 belaka.Yang penting tindakan kongkrit kita terhadap simiskin.
    Tuhan sendiri berani mengatakan:
    BILA KITA SEDANG BERDOA,DAN ADA KEBUTUHAN MENDESAK DARI ORANG MISKIN,KITA TAK PERLU RAGU UNTUK SEGERA PERGI MELAYANINYA,KARENA DENGAN MENINGGALKAN TUHAN DALAM DOA,KITA AKAN MENJUMPAI TUHAN DALAM DIRI ORANG MISKIN.

    Kesadaran akan kehadiran Allah itu akan membantu kita unt menunaikan segala kewajiban kita setiap hari.
    berkat tuhan selalu.

    **********
    leres Yang Kung sudarsana kula
    Injil adalah Kabar Gembira yang harus kita nayatakan dalam hidup sehari-hari :Kerajaan Allah sudah datang !!!
    dimana? dalam diri kita masing2, sejatinya Baitullah, Kraton Agung Kang Rinakit Dening Dzat Kang Maha Mulya

  13. Matur nuwun mas.. sy kok jadi nda mudeng ya dengan 2 post ini:
    1. si rudi Says:
    Ini klop dengan ayat2 lain seperti: “Berbahagialah orang yang mengandalkan Tuhan.”
    atau:
    “Celakalah orang yang mengandalkan manusia”

    2. tomyarjunanto Says:
    Seperti yang diucapkannya : Hari Sabat diadakan untuk manusia bukan manusia untuk hari Sabat.😀 Manusia lebih bernilai dari apapun.

    **********
    Bisakah kita mengenal Bapa tanpa mengenal Putra,
    faham tentang Tuhan tanpa mengetahui tentang manusia😀
    dalam Putra (wujud manusia) kita mampu meng-alami dan berkata Bapa

  14. Maaf mas, sy dari nonkristian. Klo mas berkenan menjelaskan persepsi mas, sy ingin juga mengenal faham tentang Tuhan menurut mas agar menambah wawasan sy tentang ke-Bhineka Tunggal Ika-an bangsa kita dalam pola pikir yg ber-Pancasila.
    Quote; “Bisakah kita mengenal Bapa tanpa mengenal Putra”
    Bila maksud mas adalah seorang anak harus berasal dari Ayahnya(dan Ibu), saya faham dan setuju, atau kita dapat saja mengenali seorang Ayah tanpa harus mengenali anaknya. Quote; “(Bisakah)faham tentang Tuhan tanpa mengetahui tentang manusia”
    Apakah maksud mas itu kita mesti mengenal tentang diri kita sendiri dulu sehingga kita mampu mengenal Tuhan? Klo benar, bisakah mas memberitahukan apa saja yg mesti kita kenali, apakah termasuk wujud dan persamaan/perbedaanNya juga?
    Terima kasih.

  15. Wirengsudra
    tak kasih tahu ya

    Bhawa yang ditemui oleh pakubuwono xiii itu bukan isa al masih si ratu adil tapi jin setan iblis yang menyerupai seolah-olah isa al masih (semoga kesejahteraan bagi Yesus Isa Al Masih Putra Bunda Maria).

    Jangan mudah terkecoh !!!!
    Itu hanya kerjaan prang-orang ingkar dan bodoh

  16. @hadi tapi yang ini lain,
    Sy setuju mas, klo alasan sy karena kesaksian dari pengalaman pak Wirengsudra tersebut hanya ia semdiri yg mengalaminya sehingga menjadi sangat meragukan. Jika ada orang lain khususnya orang2 yg tak dikenalnya, jg membenarkan pengalamannya itu baru bisa ditelusuri kebenarannya. Likewise, konsistensi ucapan & prilaku serta waktu yg akan membuktikannya.

  17. @Mas Budi
    Maksud saya dengan mengenal Bapa melalui Putra & mengenal Allah melalui Manusia mungkin sama dengan Man Arofa Nafsahu Faqod Arofa Rabbahu
    • secara filosofis : Hanya manusia, yang sadar bahwa dirinya sadar lalu bisa berkata Tuhan, mengenal Tuhan juga berarti pemahaman tentang orientasi manusia dalam hidupnya, peng-alam-an dalam memaknai hidupnya, juga kebutuhannya akan kekuatan Ilahi
    • secara budi pekerti : bukan yang suka teriak paling lantang Tuhan..Tuhan yang menunjukkan keluhuran manusia tapi dia yang sungguh2 melakukan hal2 baik yang dicitrakan sebagai sifat tuhan. Jadi bagaimana bisa mengklaim mengimani & mengamini tuhan sekaligus melakukan hal2 buruk kepada sesamanya manusia

    terima kasih senang berkenalan dengan Mas Budi yang Pancasilais😀

  18. @Mas Tomy,
    Terima kasih mas, sy sudah cukup faham, setuju/sependapat dg mas Tomy tentang faham Tuhan dari perspektif filosofis & budi pekertinya karena sama dengan salah satu pokok ajaran kitab suci yg sy yakini yaitu menjalankan perintah2 dan meninggalkan larangan2-Nya serta berbuat baik terhadap sesama ciptaanNya. Mudah2-an lebih banyak lagi bangsa kita yg menyadari arti dan fungsi dari semangat Bhineka Tunggal Ika dan falsafah Pancasila yg dijadikan dasar NKRI oleh para pendiri bangsa sebagai patokan dalam berinteraksi antar sesama WNI-nya dan ajaran2 dalam kitab suci sebagai cara berinteraksi masing2 diri dgn Tuhan Penciptanya. Sehingga NKRI menjadi damai, maju dan sejahtera seperti yg dicita2-kan dalam pembukaan UUD’45, amien.
    Maaf ya mas, sy baru kenal udah cerewet2 nih di blognya, sekali lagi terima kasih sy sdh mendapat wawasan tambahan.
    Matur nuwun.

  19. jadilah garam
    jadilah terang
    artinya masuk kedalam diri untuk memperbaiki sang diri… sehingga ketika kita melangkah keluar menjadi garam dan terang bagi sesama kita….
    cintailah sesamamu manusia seperti engkau mencintai dirimu sendiri… sungguh filosofi yang dalam maknanya… karena ternyata dalam setiap yang berwujud dan yang tak berwujud ada diri kita sendiri… sehingga ketika kita memukul seorang sama saja dengan memukul diri sendiri dan sebaliknya ketika kita memuji dan menyayaangi seseorang sama saja dengan kita memuji dan menyayangi diri kita sendiri…
    Tobat dan Lahir baru… mati daging dan hidup dalam Roh hahaha luar biasa kalau dijabarkan dan dipraktekan dalam kehidupan ini….

  20. wis…wis…wis…
    Maaf saya menyela(bukan mencela…lho), saya mengikuti semua diskusi tadi, tiba2 muncul pertanyaan :1. Apa benar ada ratusan-ribu Utusan Tuhan(Nabi)? Yang ke-2 atau terakhir, Kehadiran Tuhan itu sejak kapan?

    Sekali lagi maaf… nyelani(interupsi)

  21. @Kang Boed
    mawas diri mulat sarira hangrasa wani Kang Boed

    @dbo911
    matur nuwun sanget Pak
    tidak ada yang perlu diselani, terbuka saja
    saling berbagi & mengingatkan membuat kita semakin bertumbuh😀
    bagi saya sih tuhan hanyalah sekedar istilah dari kesadaran kita akan hidup
    maka sesungguhnya setiap manusia adalah utusan hidup, saksinya ya rasa pangrasanya sendiri
    kalo sudah disebut nabi itu hanya aparat kekuasaan sebagai legitimasi kekuasaan
    jadi pertanyaan kedua kehadiran tuhan ada bersama hadirnya kesadaran manusia
    sadar bahwa AKU IKI URIP
    mungkin begitu Pak

    mohon maaf kalo jawaban saya semena-mena & ngawur

  22. Ping-balik: Comment on SOSIALISME KERAJAAN ALLAH « Kang Boed

  23. Ping-balik: Misteri Nama KangBoed « KangBoed

  24. Ping-balik: Misteri Nama KangBoed « KangBoed

  25. mas tomy yang baik,

    wah seneng bisa jumpa lewat sekotak monitor ini.

    Urun rembug dikit ya, manusia mang obyek yang susah banget diterka. Lha gimana, kita lihat aja, pada waktu susah “menangis” pas bahagia juga menangis. Jangan-jangan antara susah dan bahagia itu sebenarnya sama. Yah, sama-sama bikin nangis.he he he…kali aja

  26. THE MAN FROM THE EAST
    1. Akan muncul A New World Religion
    2. Dipimpin oleh seorang yang dikenali dengan panggilan The Man From The east
    3. Dia muncul dari negeri yang terletak di pertemuan tiga buah laut
    4. Kemunculannya menggemparkan Timur dan Barat
    5. Ketika muncul, dia memakai serban biru (The Blue Turban)
    6. Dia merayakan hari Khamis sebagai hari istimewa bagi dirinya

    Pertembungan tiga buah laut? Adakah Malaysia? Satria Piningit yang dinanti, adakah dari Bangsa Jawa Indonesia. Ramai bangsa Jawa yang tinggal di Malaysia? Sejak 3 hingga 4 generasi yang lampau. Adakah keturunan Raden Majapahit telah migrant 3, hingga 4 generasi yang lampau, membawa diri dan kini cucu-cicit Raden tercinta telah bersiap sedia untuk bangkit membina kembali empayar Majapahit yang telah runtuh. Biarpun Majapahit dahulunya kerajaan Hindu, adakah Karajaan Majapahit Kedua kali ini adalah sebuah Gagasan Negara Islam Nusantara @ Gagasan Tanah Melayu dan Tanah Jawa. http://www.youtube.com/watch

    Mungkinkah beliau kini warganaegara dan menetap di Malaysia dan darah Panglima Tamingsari terus mengalir dalam jiwanya. Adakah takdir menentukan agar The Man From The East @ Satria Piningit tidak dapat dicari oleh pihak musuh diatas kekeliruan ini.

    Jika dibaca tentang sejarah Laksamana Hang Tuah, beliau telah berguru dengan ahli pertapaan “Jawa” iaitu Sang Adi Putera. Gurunya telah memberitahu dan kelemahan Panglima Tamingsari. Begitulah gagahnya Penglima dan Laksamana kita dia Rumpun Nusantara. Guru, murid, lawan, tak lari daripada rumpun yang sama, Bangsa Melayu dan Bangsa Jawa. http://ms.wikipedia.org/wiki/Taming_Sari

    Di dalam era kepesatan Teknologi Maklumat yang serba moden ini, kaedah yang digunakan juga semakin maju menyampaian maklumat. Jika The Man From The East @ Satria Piningit yang bisa NOTONOGORO nanti muncul, tak mustahil internet menjadi satu kaedah terpantas menyampaikan seruan perjuanggannya.
    http://www.youtube.com/watch

    THE MAN FROM THE EAST

    The Man From The East
    Tercetus dari ramalan manusia,
    Bangkitnya seorang yang akan berkuasa,
    Menggegar setiap penjuru dunia,
    Mengejut dunia yang sedang lena,

    The Man From The East
    Munculnya dari sebelah timur,
    Pertembungan tiga lautan nan makmur,
    Nama kan gah pastinya tersohor,
    Mengubah dunia yang kelam dan kabur,

    The Man From The East
    Serban biru imej dibawa,
    Sunnah dari Nabi tercinta,
    Membawa system ekonomi Yang Esa,
    Mengubah seluruh system manusia,

    The Man From The East
    Kemunculannya terus dinanti,
    Oleh dunia sehari-hari,
    Bagi seorang pejuang sejati,
    Inilah saat yang dinanti,

    The Man From The East
    Mungkinkah beliau dari Malaysia,
    Atau mungkinkah dari Indonesia,
    Pemimpin agung yang dinanti dunia,
    Menggegar seluruh alam semesta,
    Moga dari golongan agama,

    The Man From The East
    Dunia menanti kemunculanmu,
    Bagi mengubah yang bercelaru,
    Di dunia kejam yang penuh seteru,
    Khabarkanlah kemunculanmu,
    Agar dapat kami berjuang bersamamu…

    Sajak Nukilan : Iswan Basro

  27. Sy ingin memperjelas pengertian “utusan Tuhan”. Seseorang menjadi utusan Tuhan bukan atas kemauannya sendiri tetapi memang dipilih Tuhan untuk menjadi utusanNya. Dan Tuhan memilih bukan atas dasar perbuatan manusia karena sebelum dilahirkan Tuhan telah menetapkan orang itu sbg pilihanNya. Sehingga manusia yg terpilih itu tidak bisa menjadi sombong krn Tuhan memilih bkn berdasar perbuatannya melainkan kemurahanNya. Contoh : Yakub, Yesus dll. Jd gak bisa orang semaunya sendiri mengatakan saya utusan Tuhan. Sebab yg namanya utusan Tuhan selalu ada komunikasi antara yang diutus (manusia) dengan Yang mengutus (Tuhan). Contoh : Musa wktu ketemu nyala api dari semak duri yg kemudian terjadi dialog antara Tuhan dan Musa. Dan bnyk nabi lain. Sekarang soal “Ratu Adil” yg berangkat dari ramalan Joyoboyo. Jika Ratu Adil itu Tuhan sendiri maka yg dimaksud ratu adil dlm ramalan itu ya utusan Tuhan disebutkan ratu adil krn dia seorang manusia yg menjadi ratu/pemimpin yg bertindak adil. Jd kedatangan ratu adil dlm konteks ramalan Joyoboyo bukan utk mengadili orang yg hidup atau mati. Klo mengadili org yg hidup atau mati itu kedatangan Tuhan (Sang Ratu Adil) pd waktu dunia kiamat. Terakhir soal kebenaran ramalan Joyoboyo. Klo ramalan itu atas dasar petunjuk Tuhan ya pasti terjadi. Sbaliknya klo tidak ya pasti nggak terjadi. Hal ini sesuai keterangan awal bahwa klo dia utusan Tuhan maka apa yang dikatakan pasti akan terjadi. Krn yang dikatakan adalah perkataan Tuhan, dia sekedar menyampaikan apa yg dikatakan Tuhan. Sbaliknya klo dia bkn utusan Tuhan maka apa yg dikatakan tidak akan terjadi. Namanya utusan Tuhan yg palsu. Demikian pemahaman sy smoga berkenan.

  28. Assalamualaikum dan salam sejahtera…

    Moga Tuhan memberi petunjuk. Saya sangat bersetuju dengan pendapat tonysatria. Seseorang “Utusan Tuhan” pastinya bukan kehendak beliau, namun beliau adalah manusia yang terpilih untuk menyampaikan segala “seruan” Tuhan.

    Berkenaan pengakuan seseorang sebagai “Utusan Tuhan” pula, saya bersetuju seseorang “Utusan Tuhan” yang sebenar tidak akan mengaku beliau adalah “Utusan Tuhan”. Namun apabila tiba masanya, setelah mendapat “petunjuk” suci dari Allah beliau akan bangkit dan tampil bagi menyampaikan seruanNya sebagaimana contoh yang diberi oleh Nabi Yaakub, Nabi Isa (Yesus) dan Musa. Setelah mendapat hidayah dan “petunjuk”, serta masa yang “tepat” maka para Nabi ini memperkenalkan diriNya kepada umum, berjumpa pembesar (pemuka) dan umatnya sebagimana Musa menyampaikan seruan Tuhan dan mengatakan beliaulan “Utusan Tuhan” kepada Raja Firaun yang zalim ketika itu. Serta mengajak Raja Firaun supaya menyembah Tuhan Yang Maha Esa.

    Semua ini bukan atas kehendak masing-masing. Dan semua “Utusan Tuhan” yang sebenar pastinya sentiasa memohon “petunjuk” daripada Tuhan agar dirinya sentiasa dibimbing.

    Mungkinkah Satria Piningit juga telah menerima “petunjuk” dari Tuhan untuk keluar daripada pingitan nya. Seterusnya membimbing sekalian umat manusia agar kembali ke jalan yang diredhai Tuhan serta menyatupadukan sekalian umat manusia tak kira agama, kaum, keturunan dan agama.

    Hanya Tuhan Yang Maha Tahu…

  29. Menurut aku, tuhan gak pernah mengutus seseorang, sebab mestinya tuhan tidak perlu bantuan dari makhluk ciptaan-Nya. Para nabi mengaku mendaptkan wahyu dari tuhan bahwa tuhan itu maha kuasa, apa saja seh yang dikuasai oleh tuhan dan apa saja yang tidak dikuasai oleh-Nya?

    Kalau aku sih merasa tidak dikuasai oleh tuhan, aku bergerak sesuai dengan apa yang aku pikirkan. Dan pikiran itu muncul karena adanya proses stimulasi baik oleh alam maupun akibat dari metabolisme tubuh.

    aku ngerasa justru tuhan yang aku kuasai, sebab ada atau tiadanya tuhan tergantung bagaimana aku memikirkannya.

    tuhan hanyalah sebuah episode “cerita” yang tak kan pernah berakhir sampai kapanpun. Cerita itu bisa dibuat “panjang” atau “pendek” tergantung dari bagaimana dia (yang disebut utusan tuhan itu) menawarkan barang dagangannya yang bermerek tuhan.

    Oleh karena itu, aku berpikir semakin banyak kita berdiskusi tentang tuhan justru semakin banyak kita membuat kesalahan. Kesalahan itu bukan karena kita bodoh, tetapi karena “obyek” itu tak bisa tersentuh kecuali dengan “rahsa” dan setiap orang memiliki ukuran tersendiri sesuai dengan keimanan masing-masing.

    Aku lebih tertarik dengan “keadilan” sebab sepanjang yang aku ketahui jika seseorang diperlakukan tidak adil maka reaksinya akan berontak bagi yang pemberani atau gerundelan atau paling banter protes bagi yang tidak cukup punya nyali. Tetapi, anehnya atau (konyolnya ya?) ketika orang yang tertindas itu gantian diberi wewenang/kekuasaan untuk menegakkan keadilan maka dia pun akhirnya akan berbuat idak adil.

    Jadi, manusia mang makhluk yang paling susah dipahami. dia mengharapkan orang lain untuk selalu jujur etapi tidak dengan dirinya.

    Anda boleh setuju atau tidak dengan pendapatku ini, tapi cerita tentang tuhan tidak akan pernah berakhir sampai kapapun jika manusia masih berharap kepadaNya

  30. Banyak orang bisa mengucapkan syahadat namun sedikit sekali yang mampu bersyahadat 😎

    Bersyahadat sejati bagi aku adalah dengan penuh kesadaran diri sungguh-sungguh bersaksi, mengakui bahwa dirinya adalah sungguh Rasul atau Utusan Allah

    Kalau masih merasa malu atau kurang layak pula rendah diri akibat jejalan doktrin sejak masih bayi buat memakai kata rasul atau utusan ya bahasanya diperhalus jadi Duta, Pesuruh atau Kongkonan😀
    Dengan begitu dengan penuh kesadarannya manusia sungguh-sungguh bertanggung jawab atas hidup & kehidupan ini

    Walau Nabi2 telah diturunkan ke muka bumi ini ribuan tahun lampau keadaan dunia sekarang tak pernah lebih baik karena manusia2 produk doktrin tidak pernah menyadari kalau sesungguhnya mereka itu Utusan Allah, dalam bahasa Jawa Rasul ya Rahsaning Urip Utusan Sang Hidup.

    Tahunya dalam kesadaran Cuma Urip-uripan atau sekedar hidup saja, malah seringkali salah memaknai hidup menjadi Utusan Iblis:mrgreen:

    Tubuhmu adalah Baitullah begitu menyitir ayat-ayat Kitab Suci, singgasana Tuhan artinya Tuhan bertahta dan merajai hidup kita
    Seperti juga Ratu Adil, Ratu mensyaratkan tahta, kuasa dalam bahasa Jawa angratoni.
    Bertahta, berkuasa atau angratoni dimana ?
    Ya didalam diriMU, diriKU, diri KITA semua ini

    Hidup tidak ada pabriknya😀 maka manusia yang hidup dengan dianugrahi kesadaran adalah Utusan Sang Hidup Utusan Ilahi ya Rasul itu sendiri
    & sebagaiamana setiap orang adalah Rasul atau Utusan Ilahi seharusnyalah sungguh menjadi Rahmat Bagi Sekalian Alam, Bagi Semua Hidup
    Maka Ratu Adil akan sungguh bertahta atau angratoni hidup kita dan semua manusiapun adalah Ratu Adil

  31. Wah asyik nih mas tomy, komentarnya aku lanjutin ya, tulisan dibawah ini sudah aku kirim ke redaksi gagasan Suara Merdeka, mudah-mudahan bisa dimuat, kita tunggu aja.

    Nih tulisan selengkapnya, tanpa editing.

    MEMAHAMI JATI DIRI MANUSIA

    Setiap manusia pada umumnya tidak tahan terhadap penderitaan, akibat dari adanya kekalahan, rasa sakit, penghinaan, penipuan, perampasan, penindasan dan bentuk-bentuk siksaan fisik maupun psikis lainnya. Sebaliknya, hampir semua manusia mendambakan “kebahagiaan/kesenangan”. Untuk itu, setiap manusia akan berlomba-lomba dan berusaha mencari “kemenangan” dalam setiap kompetisi kehidupan. Sebab, segala bentuk kekalahan dalam pertandingan, sering sangat menyakitkan. Manusia cenderung menghindar dari rasa sakit.

    Niscaya perasaan kita merasa sakit manakala dihina, ditipu, dirampas/dirampok harta maupun kemerdekaan kita, ditindas maupun disiksa. Sepanjang hayat, kita tak ingin rasa sakit itu menguasai tubuh dan pikiran kita. Untuk itu, setiap manusia akan berusaha melawan atau menghindari rasa sakit. Apakah manusia selalu menang dalam melawan rasa sakit atau penderitaan itu?

    Menang atau kalah, manusia selalu butuh pelampiasan psikis untuk “berkeluh kesah” berharap-harap dan berterima kasih atau bersyukur. Di sinilah, sering muncul spontanitas sebuah “sosok artifisial” sebagai tempat berkeluh kesah. Sosok itu adalah pengaharapan yang “maha tinggi” yang sering disebut sebagai Tuhan semesta alam. Secara teoretis, orang-orang yang kalah, teraniaya, menderita, teralienasi (terasing) dari kehidupan sosial, akhirnya lebih banyak membutuhkan kekuatan eksternal, yakni bisa berupa Tuhan atau sosok Ratu Adil. Padahal, Tuhan dan Ratu Adil itu tak kunjung datang untuk menyelamatkan atau membebaskan penderitaannya.

    Apakah dalam kelimpahan harta benda dan kemenangan otomatis tidak ada penderitaan? Penderitaan pasti selalu ada, sebab sumber penderitaan tidak semata-mata hanya terletak pada harta benda dan kemenangan melainkan pada “harapan, ketakutan dan ketidakpuasan”. Kita tahu, bahwa semua manusia entah kaya atau miskin, tua atau muda, laki-laki atau perempuan, pejabat atau rakyat, pasti memiliki setumpuk harapan, ketakutan-ketakutan dan sejuta ketidakpuasan. Itulah sumber abadi letak “penderitaan”.

    Jadi, semakin sedikit kita berharap dan semakin bisa membebaskan jiwa kita dari aneka belenggu katakutan dan semakin bisa merasa puas terhadap apa pun hasil dari kerja atau apa pun pilihan kita, maka secara teoretis hidup kita akan merasa “nyaman” dan tidak selalu mengeluh pada Tuhan atau berharap datangnya Ratu Adil.

    Orang seperti itu akan sangat tenang dan teduh jiwanya. Itulah yang disebut “orang merdeka” yang tidak senantiasa berharap masuk surga tetapi juga tidak takut masuk neraka.

    Suprayitno
    Sekretaris FPSP
    Jln.Tlogomukti Timur I/878
    Semarang

  32. TUHAN SIAPAKAH SESUNGGUHNYA ENGKAU?
    Oleh : Suprayitno

    Beberapa pertanyaan di bawah ini sering menggoda manakala kita sedang mendekap erat dogma agama yang telah begitu dalam merasuk di relung keyakinan kita (tulang sumsum kita). Pertanyaan-pertanyaan itu adalah sebagai berikut :

     Kita sering memberikan “pernyataan” bahwa Tuhan itu “ADA”, apakah
    yang dimaksud dengan ADA?
     Apakah Tuhan suatu kenyataan atau bukan kenyataan?
     Jika Tuhan sebagai kenyataan, bagaimana cara menyatakan-Nya?
     Jika Tuhan “bukan sebagai kenyataan”, mengapa kita bisa
    membuat pernyataan? Atas dasar apakah pernyataan yang kita buat?
     Agama telah memberikan pernyataan tentang sifat-sifat Tuhan, seperti Tuhan Maha Kuasa, Maha Tahu, Maha Pencipta, atau hal-hal yang dilarang-Nya,dan yang diperintahkan-Nya. Apakah pernyataan-pernyataan itu dibuat berdasarkan pengetahuan atau hanya sekadar keyakinan (wahyu)? Jika pernyataan dibuat hanya berdasar keyakinan, bukankah keyakinan yang tidak sesuai dengan kenyataan adalah penyesatan yang nyata? Bagaimana cara menyatakan (bukti empirik) kalau tuhan itu maha tahu?
     Sesungguhnya yang disebut nyata itu seperti apa? Adakah kebenaran diluar yang nyata? Apa yang dimaksud BENAR?
     Agama sering mengaku “benar” tetapi tahukah kita bahwa kebenaran tidak butuh pengakuan dari siapa pun?
     Sebab, “Kebenaran” itu akan berbicara pada dirinya sendiri melalui kejelasan, kepastian dan kenyataan atau fakta. Bukan melalui pengakuan agama atau orang per orang. Kesalahan sering menimpa orang-orang yang tidak bisa membedakan antara fakta dengan opini. Antara yang sesungguhnya dengan asumsi (keimanan agama), antara kasunyataan dengan pangangen-angen. Contoh : kita pasti telah membuat kesalahan yang fatal, jika kita “memberi pernyataan” yang bersumber pada keyakinan bahwa tokoh proklamator kemerdekaan RI adalah Gus Dur. Mengapa salah? Karena pernyataan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan/fakta. Faktanya, tokoh proklamator kemerdekaan RI adalah Soekarno-Hatta yang di proklamasikan pada tgl. 17 Agustus 1945. Berkeyakinan pada obyek yang nyata saja sering kali salah, apalagi berkeyakinan tentang obyek yang tidak nyata (ghaib), apakah peluang salahnya tidak jauh lebih besar? Pengetahuan yang nyata itulah yang membimbing kita pada jalan kebenaran, sedangkan keyakinan (iman) hanyalah menggiring kita pada kawasan yang penuh dengan fatamorgana atau lamunan.
     Agama sering membuat analogi tentang hubungan dengan Tuhan, sebagaimana kita berhubungan dengan sesuatu yang sifatnya nyata (riil). Contoh, tentang konsep “perantara” yakni bahwa tidak semua orang bisa berhubungan langsung dengan Tuhan. Alasannya, sama seperti orang biasa yang akan berhubungan dengan sang Presidennya, maka tidak mungkin orang tersebut bisa langsung menemui Presiden, pasti harus melalui “perantara” entah melalui sekretaris, staff pribadi atau satpam. Demikian juga tatacara berhubungan dengan Tuhan, pastilah harus melalui perantara (nabi) baru bisa ketemu/nyambung. Sebab nabi adalah utusan Tuhan, yakni orang yang dipercaya untuk menyampaikan wahyu-wahyu-Nya.
     Mereka (para nabi, ahli agama atau para ahli surga/penikmat agama), berangan-angan bahwa Tuhan seperti seorang presiden atau seorang raja yang memiliki istana dan dikelilingi oleh para asisten (pembantu). Bedanya, di kerajaan surga tersebut, Tuhan tak didampingi permaisuri atau selir-selir. Manusia “kebingungan” dalam menggambarkan wajah tuhan, apakah sosok lelaki atau perempuan. Akhirnya, disepakati bahwa tuhan itu bukan lelaki, juga bukan perempuan (tapi ada agama yang lebih suka memanggil dengan sapaan Tuhan Bapa). Manusia juga bingung dalam menelusuri akar sejarah lahirnya tuhan, sehingga oleh agama-agama disepakati bahwa “tuhan tidak berawal dan tidak berakhir”. Para staff atau pembantu tuhan sering dinamai macam-macam ada yang menyebut para malaikat, ada yang menyebut para dewa. Bagaimana mungkin semua itu dianggap sebagai “kebenaran” absolut? Dan bagaimana seharusnya manusia memperlakukan agama dan tuhannya, apakah harus diterima begitu saja atau harus dikritisi. Bagaian mana yang harus dikritisi dan bagian mana yang harus diterima apa adanya? Mengapa harus demikian? Terserahlah, agama dari sejak paham paganis (Yunani kuno) sampai dengan monotheis memang gudangnya para pengkhayal.
     Jika benar tuhan maha perkasa, berdiri sendiri, maha sempurna, tanpa ketergantungan dari siapa pun maka seharusnya Dia tak butuh sesuatu apa pun. Manusia tidak perlu berkorban untuk tuhannya, manusia juga tidak perlu menyembah-Nya. Buat apa tuhan disembah? Selama tuhan masih memerlukan sesuatu berarti dalam diri tuhan masih memiliki celah kekurangan. Dalam kenyataannya, umat beragama diwajibkan menyembah tuhan, sehingga banyak yang secara psikologis merasa sangat berdosa jika tidak melakukan persembahan tepat pada waktu yang telah ditentukan. Bahkan menyembah tuhan dijadikan sebagai pilar utama tegaknya sebuah agama (keimanan).
     Di sini tampak sekali bahwa angan-angan atau tafsir manusia terhadap Tuhannya sungguh sangat menggelikan karena bila kita komparasikan ternyata banyak hal yang kontradiktif antara pernyataan satu dengan pernyataan lainnya. Contoh, jika tuhan maha tahu pasti tuhan tidak pernah menguji, sebab ujian bersifat penggalian potensi. Padahal, sifat maha tahu dari tuhan berarti tak perlu menggali karena apa pun hasilnya, lulus atau tidak, gagal atau berhasil, maka Tuhan sudah mengetahui sebelumnya. Nah buat apa “pengetahuan tak terbatas milik tuhan” harus dibatasi dengan penyelenggaraan ujian bagi ciptaan-Nya sendiri? Aneh kan khayalan ini, katanya pengetahuan tuhan meliputi rahasia dalam batin dan yang diungkapkan melalui kata-kata/sikap, pengetahuan tuhan juga meliputi masa lalu, sekarang dan yang akan datang, apa tujuan tuhan main coba-coba? Mestinya tuhan sendiri yang menjawab pertanyaan ini.
     Tahukah kita, bahwa jika kita mengumpamakan keberadaan tuhan dengan sesuatu yang bersifat nyata atau riil sebenarnya sangat menyesatkan? Sebab Tuhan adalah abstrak atau ghaib yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun dan siapa pun. Jika kita bisa membandingkan-Nya, berarti kita pernah tahu tuhan, sebab bagaimana mungkin kita membandingkan sesuatu yang kita tidak pernah memiliki pengetahuan tentang obyek yang dimaksud? Ingat bahwa tak ada yang bisa kita persamakan dengan Tuhan, sebab Tuhan tan keno kinoyo ngapa (tidak bisa kita bayangkan seperti apa tuhan itu), Menungso sak jagat raya ora ana sing WERUH GUSTI (tahu), yang ada hanyalah orang-orang yang BERKEYAKINAN (beragama). Bagaimana mungkin kita “bandingkan” sifat tuhan dengan manusia? Misal, manusia sering mengadakan ujian untuk mengetahui sejauh mana tingkat kemampuan seseorang, maka mana bisa kita membandingkan bahwa tuhan juga seperti manusia yang sering memberi ujian atau cobaan? Dari mana manusia memperoleh pengetahuan tentang tuhan, sehingga manusia bisa mengadakan perbandingan? Sekali lagi wahyu itulah sebenarnya biang keladi terjadinya kerancuan antara fakta dengan ilusi.
     Pantaskah kita atau agama mengobral keyakinan/keimanan sebagai pengetahuan (kebenaran)? Kalau kita tidak pernah “tahu” tentang Tuhan, sebaiknya jangan sekali-kali kita memberi “tahu” tentang Tuhan kepada orang lain. Podo-podo ora weruh kok arep nuntun wong liya? Nanti pasti akan terjadi penyesatan yaitu apa yang selama ini disangkanya sebagai kebenaran, jebul mung pangangen-angen. Kalau hanya sekadar pangangen-angen, semua orang boleh menafsirkan. Mengaku mendapat wahyu juga boleh, mengaku nabi utusan tuhan juga tidak dilarang, ada seorang perempuan mengaku dihamili Tuhan dan anak yang dikandung dan dilahirkan adalah anak tuhan juga boleh, sebab dalam hal “berketuhanan” tidak ada orang yang paling benar dan paling pintar. Orang lain mau percaya atau tidak, terserah saja. Agama memang kawasan yang sangat nikmat untuk berkhayal dan bermalas-malasan, sehingga ukuran benar dalam bertuhan, sangatlah subyektif.
     Yang tidak boleh dikerjakan oleh sesama manusia adalah “pemaksaan pangangen-angen”, biar saja agama untuk konsumsi pribadi (menjadi ranah privat), sampai degleng (mabok) juga tak apa, asal jangan dibawa ke ranah publik. Membawa agama pada ranah publik hanya akan menimbulkan berbagai permasalahan sosial yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Misal benturan dengan agama/kepercayaan lain atau terjadi persetubuhan yang intens antara penguasa agama dengan penguasa politik. Akhirnya agama masuk ke dalam urusan Negara, sehingga para pemimpin agama bisa mengatasnamakan tuhan untuk setiap bentuk tindakan/kebijakannya. Setiap warga Negara diwajibkan memeluk salah satu agama yang telah diakui oleh Negara. Jika seorang warga Negara menyatakan tidak memeluk salah satu agama atau menyatakan tidak beragama, konsekuensi politis maupun sosialnya akan sangat berat. Bisa jadi orang tersebut dituduh sebagai komunis yang harus diasingkan dan tidak akan pernah bisa menjadi pegawai pemerintah/negeri apa lagi sampai menduduki jabatan publik (apa pun). Dengan kelakuannya ini, agama tidak pernah merasa bersalah bahkan dianggapnya sebagai kewajiban untuk mengagamakan manusia, sebab orang yang tidak beragama dianggap sesat.
     Sepanjang sejarah umat manusia, posisi Tuhan dalam kehidupan sebenarnya hanyalah sebagai kesempurnaan “yang diimpikan” bukan realitas “yang sesungguhnya terjadi”. Sebab, yang sesungguhnya terjadi adalah manusia telah terhipnotik oleh konstruksi khayalan-khayalannya sendiri. Manusia akan “merasa puas” ketika dia bisa menjunjung tinggi Tuhannya melebihi kekuatan/ketinggian apa pun. Manusia juga akan puas ketika dia bisa “menyembah-Nya” dengan sepenuh perasaan hati dan kepasrahan sambil bertangis-tangisan bila perlu.
     Sifat egoisme manusia sangat nyata ketika manusia “boleh tidur”, tetapi “tuhan tak boleh tidur sedetik pun”. Tuhan harus selalu melek/terjaga karena tuhan yang mengatur perputaran jagad dan seluruh kehidupan. Ingat kata-kata Jawa yang sering meluncur ketika orang tersebut sedang menghadapi ketidakadilan maka ucapaan yang sering keluar adalah “Gusti ora sare”. Padahal, mestinya sambil “merem”pun tuhan bisa mengatur segala sesuatu yang Dia kehendaki sebab bukankah tuhan maha kuasa?
     Kesimpulan : Sesungguhnya, agama tak pernah mempertemukan kita dengan Tuhan, tapi justru mengikat tangan dan kaki kita supaya tidak bisa lari menggapai kebebasan berpikir. Agama menempatkan “keimanan” di atas segala-galanya, barangsiapa tidak mau beriman — tidak mau menuruti kehendak agama — maka orang tersebut akan dicap sebagai kafir. Dan orang kafir adalah musuh agama yang harus diperangi.
     Agama tidak menempatkan kebodohan, ketidakadilan, kekerasan, kemiskinan dan diktatorisme sebagai musuh utama yang harus diperangi. Makanya, banyak orang beragama tetapi tetap bodoh, miskin, bertindak tidak adil, pro kekerasan dan tidak demokratis (otoriter). Inilah anomaly atau penyimpangan agama yang benar-benar ada dihadapan kita. Agama lebih asyik masuk pada dunia ghaib sedang realitas kehidupan yang penuh dengan berbagai rintangan dan kekerasan sering hanya dihadapi dengan sikap pasrah, dianggap sebagai takdir atau cobaan/ujian dari tuhannya.
     Agama telah lupa — atau jangan-jangan memang sengaja melupakannya demi tujuan duniawi — bahwa Tuhan sebenarnya sangat simple/sederhana karena Dia tergantung pada bagaimana kita memikirkan-Nya. Di tangan agama, Tuhan telah dijadikan “barang” yang sangat menyeramkan sekaligus mengagumkan. Agama begitu licik “mempermainkan” Tuhan dengan kedok wahyu. Akhirnya, dengan mengaku mendapat wahyu dari tuhan itulah, agama telah tumbuh menjadi kekuatan sosial dan politik yang sangat menakutkan. Banyak pengikut agama yang bersedia menjadi “tentara tuhan” dengan menghunus pedang atau meledakkan bom untuk memerangi kaum kafir atau mereka yang dianggap menentangnya. Tetapi jarang sekali kita lihat rombongan “tentara atau pasukan kasih sayang tuhan” yang menebar pencerahan berpikir, kebijaksanaan hidup dan memberikan keadilan, kesejahteraan serta kemakmuran bagi seluruh umat, baik yang kafir maupun yang beragama apa saja.

     Anda beriman? Mohon tanggapannya. Dari suprayitno

  33. Dear All🙂

    Wah, saya tertarik dengan komentar mas Suprayitno. Jadi ini to yang tadi di copykan mas Tommy di blog saya .. Ternyata komentar dari tamu disini ya.

    Saya juga ada artikel yang membahas topik yang sama dengan yang dibahas mas Suprayitno :

    http://ratnakumara.wordpress.com/2009/06/22/tuhan-yang-maha-dimata-seorang-buddha/

    Barangkali mas Suprayitno sendiri tertarik untuk berkunjung🙂

    May Happiness Always b With U All.. ,
    Sadhu,Sadhu,Sadhu.

  34. Matur sembah nuwun Mas Tomy Yth
    Komentar-komentar panjenengan sangat mencerahkan saudara-saudara kita semua terutama yg mampir di gubuk saya. Membuat hati lega, plong, dan menampilkan wawasan spiritual yang mencerahkan. Mugi kabegjan, karaharjan, kasantosan tansah kajiwa kasarira dumateng kula panjenengan sedaya.

    Rahayu
    salam asah asih asuh

  35. Mengapa ya, menurut pengamatanku, bangsa kita kok begitu bersemangat (dan sensitif banget) jika bicara agama, tuhan, wahyu, surga-neraka,pahala, haram-halal, malaikat, setan, iblis dan dosa? tetapi kalau berbicara masalah yang riil umpamanya mengenai good governance, kualitas pendidikan, kemajuan sain dan teknologi, kok aras-arasen, males gitu lho.

    Padahal jika bangsa kita ingin segera menjadi negara yang maju dan beradab, seharusnya jangan terus menerus mau menerima dicekoki racun agama (maaf agak kasar), tetapi harus dibangkitkan semangatnya untuk bangun mengejar ketinggalan dari negara-negara maju lainnya.

    Memang dinegara yang penduduknya masih miskin -dan kebanyakan tentu saja bodoh- jualan agama sangat laris manis. Tetapi, para pemimpin harus sadar, bahwa agama bukan solusi untuk mewujudkan cita-cita negara yang adil makmur sejahtera.Coba kita teliti bersama, sejauh ini ada gak negara berbasis agama yang yang kemajuan sain dan teknologinya melampaui negara-negara sekuler?kalau ada tolong sebutkan contohnya.

    Sebagai “agen moral” terbukti agama juga tidak bisa membendung kebejatan moral bangsa Indonesia, dimana antara bangsa yang religius dan tingkat korupsi berjalan paralel.

    Bicara penegakan moral mang susah banget ya, sebab dalam diri manusia ada standar ganda mengenai nilai-nilai baik dan buruk. yakni seperti yang pernah aku ungkapkan bahwa manusia selalu saja menuntut keadilan tetapi ketika orang tersebut menjadi penegak keadilan maka dia akan berbuat tidak adil.

    Moral itu (baca : hukum) barangkali akan efektif ditegakkan apa bila kemajuan teknologi telah mampu mengontrol gerakan-gerakan setiap manusia, sehingga ketika seseorang melanggar hukum pasti akan tertangkap oleh piranti teknologi. Contohnya, setiap pembunuhan atau perampokan pasti pelakunya akan tertangkap karena teknologi akan membuat gerakan seseorang selalu termonitor. Begitu juga jika ada aparat penegak hukum yang melanggar juga pasti akan terekam oleh rekayasa teknologi. Jadi, mereka takut melanggar hukum bukan karena merasa selalu diawasi oleh Tuhan, tetapi selalu dimonitor oleh kecanggihan teknologi yang pasti bisa dipertanggungjawabkan (tidak usah harus menunggu kematian dulu, seperti yang selalu diungkap oleh agama).

    Dengan demikian tak ada lagi kesempatan untuk mengelak atas kejahatannya. Nah, aku pikir kan lebih baik mencari atau menemukan teknologi yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dari pada menegakkan sumpah pocong dan presure dari agama.

    Ngrembug agama dan tuhan bisa berlama-lama bahkan berjam-jam, tetapi mengapa ketika ngrembug masalah yang riil (secara ilmiah) menjadi tidak menarik? Agama dan tuhan seperti narkoba,sungguh sangat enak untuk dinikmati sambil duduk-duduk, tak perlu keningnya berkeringat seperti kalau kita sedang menghadapi persoalan sains.

    Aku tidak benci dengan agama dan tuhan, cuma aku menyayagkan waktu manusia habis hanya untuk membayangkan/mendiskusikan apa kira-kira “isi pepesan” yang ada dihadapan mereka. Semestinya, tidak usah terlalu lama untuk tahu isinya, yakni beranikah kita bersama-sama membukanya/membongkarnya? itu saja!! Dan niscaya, ketika dibongar, pepesan itu (yang berbau sangat lezat dan harum) hanyalah pepesan kosong belaka.

    Waktu kita sangat berharga mengingat kondisi bangsa dan negara kita yang semakin jauh tertinggal dibanding negara-negara tetangga. Kapan kita akan menjadi bangsa yang maju jika otak anak bangsa terus menerus hanya dijejali dengan cerita-cerita mistik dan super mistik, dari sejak tingkat TK sampai dengan menjelang ajal?

    Ayo silakan diberi komentar, ibu/bapak, mas mbakyu sdr, sdri atau adek-adek tercinta.

  36. Sesungguhnya SABDO PALON ini merupakan perwujudan dari pada manusia-manusia yang memiliki KECERDASAN SPIRITUAL dalam kesehariannya yang sama sekali TIDAK TERKAIT dengan LABEL FORMALITAS nama AGAMA yang disandangnya. Karena SUKMO SEJATI tidak terkurung oleh sebuah LABEL AGAMA, PANGKAT, JABATAN, PREDIKAT yang disandang oleh seseorang. Ia berada di dalam maupun luar AGAMA itu sendiri.

    jadi SABDO PALON merupakan PENGEJAH WANTAHAN sifat dan KEPRIBADIAN LUHUR, BUDI PEKERTI LUHUR dengan landasan dan perwujudan dari sifat-sifat yang IKHLAS, PASRAH dan RIDHO semata-mata hanya untuk PENGABDIAN kepada TUHAN yang APLIKASINYA adalah MELAYANI sesama makhluk ciptaan-NYA dan semesta Alam. Barang kali inilah sifat-sifat yang dimiliki oleh bangsa Indonesia guna mewujudkan negara yang ” GEMAH RIPAH LOH JINAWI ” agar bangsa ini menjadi komunitas yang TOTO, TENTREM, KARTO, RAHARDJO ” sebagai efek DOMINONYA.

    Mohon maaf kalau saya memahami tentang SABDO PALON dalam nuansa UNIVERSAL yang dimiliki oleh DIRI-DIRI manusia di bumi pertiwi ini, bukannya terfokus pada keberadaan JASAD yang bakal tumungkul ” SAWIJI-WIJI “.
    Supaya kito-kito poro sedulur ora bakal KECELEK ing tembe mburi, yen sok wis wektune TINIMBAL LAHIR SABDO PALON iki biso soko pro Sanak Kadhang ing Blog kene iki bisa saja terjadi kan…??.

    Mulo poro sanak kadang kabeh
    Monggo, Ayo Podho CANCUT TALI WONDO NGLOKOR SABUK GEMBOLO GENI dengan semangat RAWE RAWE RANTAS, MALANG-MALANG TUNTAS untuk bergandengan tangan turut serta ” MEMAYU HAYUNING BAWONO “…

    Rahayu

  37. AGAMA BUKAN JALAN KEKERASAN
    Oleh : Suprayitno

    Hampir semua agama yang kita kenal, selalu mengajarkan “anti kekerasan”. Tujuan beragama juga jelas yakni membuat seseorang menjadi lebih dekat dengan Tuhannya dan agar menjadi insan yang lebih baik, sabar dan lebih santun. Oleh karena itu, sejauh ini tidak ada satu agama pun yang mengajarkan seseorang menjadi brutal, liar dan jahat.Setidaknya, itulah klaim yang sering kita dengar.
    Namun, seringkali terjadi multi tafsir dalam menerjemahkan kata-kata “baik” . Sebab, ternyata “baik bagi agama/kepercayaan yang satu” belum tentu “baik bagi agama atau keyakinan yang lainnya”. Benar bagi agama yang satu, belum tentu dianggap benar bagi agama lainnya. Akhirnya, proses pengadilan -benar dan salah- yang dianggap sebagai “penodaan agama” juga sering dilakukan secara sepihak. Intinya, pemahaman dan aplikasi agama sering kali diajarkan sebagai “kebenaran tunggal yang absolute”. Sehingga ketika terjadi perbedaan pendapat dengan sesama pemeluk agama, berujung pada tindak kekerasan dalam menyelesaikan perbedaan tafsir tersebut.
    Mereka saling berebut “tuhan” siang dan malam tanpa jeda sepanjang waktu. Tuhan yang seharusnya “Maha Besar” dan milik semua umat, justru telah tersekap dalam kotak kecil sebagai “piala” yang diperebutkan mati-matian dengan segala aksioma dan dogma melalui balutan mistis yang bernama “teks” (ayat-ayat). Teks kadang kala menjelma menjadi “berhala” baru yang melampaui rasionalitas (akal budi). Mengapa bisa terjadi? Sebab, manusia sering merasa “inferior” (lumpuh) ketika berhadapan dengan teks. Teks telah bermetamorfosa sebagai “kekuasaan alam semesta yang superior”. Pihak superioritas ini secara semiotis sering diterjemahkan atau ditandai sebagai “ Wahyu Tuhan”. Selanjutnya, Tuhan dan wahyunya telah diinjeksi atau didistribusikan melalui “selang infuse” yang bernama agama.
    Dengan demikian “agama” senantiasa memiliki karakter bawaan (genetic) yang bersifat “mengagumkan” tetapi di sisi lain sekaligus “menyeramkan”. Mengagumkan karena agama benar-benar bisa membawa seseorang menjadi pelaku kehidupan yang penuh dengan keluhuran budi pekerti. Tetapi di sisi lain, bisa juga menjadikan seseorang menjadi sangat bengis, kejam, brutal, menyeramkan atau menakutkan dengan sikap tanpa kenal kompromi demi membela “kebenaran tuhan” dengan siap perang seraya meneriakkan mantra saktinya, misalnya “allahuakbar!!!” seraya menghantam sasaran.
    Agama hanya sedikit sekali mengajarkan “pengetahuan tentang Tuhan”, yang lebih banyak diajarkan hanyalah persoalan “keimanan atau kepercayaan”, yaitu bagaimana dan mengapa kita harus percaya terhadap keberadaan Tuhan. Sedangkan pengetahuan tentang Tuhan, yakni meliputi hal-hal apa sajakah yang bisa kita “keTAHUi” tentang Tuhan, hanya sedikit sekali diajarkan bahkan mungkin tidak diajarkan, sebab Tuhan memang bukan “obyek pengetahuan” melainkan “obyek kepercayaan/keimanan”.. Padahal, mestinya dengan “pengetahuan” kita akan mampu melihat sudut-sudat ruang kegelapan milik tuhan dan kebenaran, sedangkan melalui iman/kepercayaan kita berharap akan mampu memproyeksikan keterlibatan diri terhadap makro kosmos (Tuhan) atau manunggaling kawulo Gusti.
    Agama ibarat cat yang tertuang di atas kanvas, tergantung di tangan siapa cat itu ditorehkan. Bila yang menorehkan pelukis yang berbakat, maka akan sangat indah dan sangat berharga hasil lukisan (agama) itu. Sebaliknya, jika cat itu ditorehkan oleh orang yang sama sekali tidak memiliki jiwa seni maka hasilnya hanyalah pemandangan yang kering kerontang, berantakan dan “menyeramkan/menakutkan”. Pertanyaannya, termasuk jenis pelukis yang manakah diri kita?
    Baik atau buruk pemahaman agama kita, tergantung seberapa kita bisa memahami dan membedakan antara “keyakinan dengan pengetahuan”. Agama dan Tuhan harus dipeluk sebagai keyakinan bukan pengetahuan, sebab ketika agama dimasukkan dalam domain pengetahuan, akan terjadi tabrakan antara “obyektivisme” versus “subyektivisme”.
    Apakah Anda siap, mau, mampu dan ihklas menelanjangi agama anda dihadapan anda sendiri? Apa tujuannya? Tujuannya jelas dalam rangka mencari dan menelusuri “sungai kehidupan” dimanakah sebenarnya hulu dan hilirnya air kehidupan itu? Bisakah kita menjadi manusia merdeka? yakni, merdeka dari segala macam tekanan dan perbudakan? Atau jangan-jangan, kita mempersilakan diri kita untuk selalu dijajah? Cobalah kita tanyakan pada diri pribadi masing-masing, termasuk jenis manusia yang manakah kita?

  38. THE LAST BOMB

    Mungkinkah bom bunuh diri di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton
    tanggal 17 Juli 2009 yang baru lalu –yang telah merenggut korban
    nyawa dan harta benda– merupakan bom terakhir (the last bomb) yang
    dilakukan oleh para terorist?

    Kita yang mencintai cara-cara demokratis, perdamaian, musyawarah,
    keamanan, kemanusiaan yang adil dan beradab, niscaya berharap tak ada
    lagi cara-cara kekerasan (peledakan bom) untuk mencapai tujuan.
    Andaikata yang melakukan bom bunuh diri tersebut oknum orang kafir pun
    –karena didorong egonya untuk mewujudkan cita-cita perjuangannya
    (ideologinya)– saya kira tetap saja perbuatan itu bukanlah “jalan
    perjuangan” yang pro kemanusiaan. Apalagi jika yang melakukan
    pengeboman kelompok atau orang-orang yang beriman (beragama) atas nama
    tuhan demi meraih tujuan sucinya (sacred missions), pastilah
    samasekali tidak bisa dibenarkan.

    Suka atau tidak, rentetan peristiwa bom bunuh diri yang telah beberapa
    kali terjadi di tanahair kita tercinta, justru dilakukan oleh
    oknum-oknum atau kelompok orang yang beriman (beragama). Meskipun
    fakta itu masih diperdebatkan –dan kadang disangkal– tetapi hampir
    semua pelaku atau perakit bom yang berhasil ditangkap oleh aparat
    kepolisian, semua berlatar nelakang agama tertentu.

    Kita sebagai masyarakat awam tentu bertanya, mengapa bisa terjadi
    kekerasan atas nama agama/tuhan? Bukankah dari berbagai perbincangan
    dan pernyataan yang disampaikan oleh para pemuka agama selalu
    menegaskan bahwa agama tertentu tersebut tidak pernah mengajarkan
    kekerasan, pembunuhan atau pengrusakan? Jika benar demikian, dimanakah
    sesungguhnya letak missing understandingnya (kekeliruan pengertian),
    mungkinkah telah terjadi miss interpretasi (salah tafsir) atau bahkan
    telah terjadi penyimpangan/penyesatan ajaran? Jika dugaan ini benar,
    tentu harus segera diadakan “pelurusan”. Pertanyaannya, bagaimana cara
    yang paling efektif untuk proses dialog/dialektika supaya tercapai
    “pemurnian/purifikasi” dari ajaran tersebut? Agar nantinya, kesalahan
    tafsir –bila memang ada– tidak terus menggelinding menjadi bola
    salju yang makin mengkristal, membentuk kekuatan destruktif yang akan
    menghancurkan usaha-usaha penegakkan kemanusiaan yang adil dan
    beradab.

    Kita tahu, sekali sebuah ideologi, agama, atau keyakinan telah dianut
    atau dipeluk oleh masyarakat luas, maka terlepas dari ideologi
    tersebut salah atau benar, baik atau buruk, masuk akal atau tidak akan
    sangat sulit diberangus.Penanganan secara represif –hukuman yang
    berat bagi para pelaku– mungkin saja efektif untuk menghentikan
    “aktivitas fisiknya” tetapi pasti tidak akan mudah menghentikan
    “aktivitas idenya”.

    Oleh karena itu, meluruskan konsep sebuah ideologi atau agama bukanlah
    pekerjaan mudah. Harus diciptakan situasi yang kondusif untuk
    terselenggaranya dialektiaka dan pendalaman secara ontologism maupun
    epsistemologis dari setiap fenomena empirik maupun yang transendental.
    Apakah cukup ruang kebijaksanaan yang disediakan oleh para pemuka
    agama dan para pendidik bagi generasi muda khususnya? save our young generations from terrorist disaster!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s