SURGA.. Kalau Habis Syur Lega.??

Standar

Salah seorang guru saya mengajarkan bahwa hidup di dunia ini sesungguhnya adalah mati. Dikatakan demikian karena hidup di dunia ini ada surga dan neraka yang tidak bisa ditolak oleh manusia. Manusia dalam menjalani hidupnya selalu mengalami kemelekatan dan penolakan. Setiap hal yang menyenangkan menimbulkan kemelekatan bila tercapai pemenuhannya dikatakan manusia mendapatkan surga. Sebaliknya hal-hal yang tidak menyenangkan menimbulkan penolakan bila tak mampu menghindarinya dikatakan neraka.
Dalam agama kita diajarkan bahwa Tuhan bertahta dalam Kerajaan Surga, juga diimani Tuhan ada dimana-mana, anglimputi ing sakabehing kalir. Jika Ia ada dimana-mana, tidakkah Surga juga ada dimana-mana. Jika surga ada dimana-mana lalu mengapa banyak orang masih berpaling dan tidak mau menghadapi dunia yang saat ini dijalani dan malahan terus berharap pada dunia (surga) yang nun jauh diseberang sana ?

Surga, kalau kita mau jujur, seperti yang diajarkan dalam agama, yang menjadi dongen pengantar tidur anak-anak kita juga sebuah pengharapan akan kehidupan yang lain bagi setiap orang adalah DAMBAAN DARI PUNCAK KENIKMATAN NAFSU.
Ya manusia adalah makhluk berhasrat. Hasrat atau hawa nafsu tidak akan terpenuhi oleh karena selalu direproduksi dalam bentuk yang lebih tinggi lagi. Sekali hasrat dicoba dipenuhi, maka yang muncul hanya hasrat yang lebih tinggi lagi, lebih sempurna lagi.
Salah satu sifat dari hawa nafsu adalah, bahwa ia tidak mau terpancang pada teritorial (kepuasan) yang telah dikuasainya. Hawa nafsu selalu bersifat deteritorial, selalu berontak melewati teritorialnya dan mencari teritori-teritori baru. Ia selalu menembus setiap batas-batas teritorial tanpa akhir. Hawa nafsu selalu membuat trik-trik dan tipu daya. Tipu daya yang dibahasakan sebagai akal budi, nilai-nilai keutamaan, iman dan juga Tuhan. Akan tetapi tipu daya saja tidaklah cukup; Ia butuh sesuatu yang abadi : SURGA, ritual pencarian yang tiada akhir.
Disinilah manusia terperangkap dalam nihilisme, ia tidak mampu untuk hidup, dalam bahasa guru saya manusia adalah mayat gentayangan, bathang angucap jisim lumaku, hanya mengejar kekosongan demi kekosongan, mengejar pemuasan hasrat demi pemuasan hasrat.
Nihilisme yang mengantar Begawan Wisrawa menuju kehancuran saat mewejang Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu kepada si cantik Sukesi. Seorang Raja Besar dengan dalih yang tak kurang besarnya, madheg pandhita, mengejar sosok superman, manusia linuwih yang punjul-punjuling apapak.
Metafisika Cartesian yang mengagungkan akal budi dengan cogito ergo sum-nya pun meregang nyawa dalam persetubuhan Wisrawa & Sukesi.
Diyu, hasrat, hawa nafsu yang seharusnya diruwat, diterima sebagai bagian dari kesejatian diri malahan ditolak dibiarkan terlepas dari rengkuhan kesadaran. Lahirlah Rahwana yang terus menerus mereproduksi hawa nafsu yang dalam apa yang disebut oleh Deleuze & Guattari sebagai ’mesin hasrat’. Mesin yang terus-menerus mereproduksi ‘perasan kekurangan’ didalam diri manusia. Menjadikan hawa nafsu bergejolak dan menjadi korba rasa ketakutan tiada akhir terhadap tidak terpenuhinya kepuasan.
Lebih lima ratus tahun berlalu semenjak Sang Guru menyibaknya. Beliau mengalami nasib yang tragis, dihukum mati oleh persekutuan tidak suci para penguasa dan pemegang kepentingan. Kepala anjing dijadikan dalih ketakmampuan mereka menodai kemurnian jasadnya. Dan namanya sebagai simbol ‘the outsider’ mereka yang mencari makna kemerdekaan hidup sejati. Menak JINGGA, Lemah ABANG, juga kaum ABANGAN.
MERAH…MERAH…MERAH…
Jadi bagaimana dengan surgamu kawan, kemelekatan akan segala yang menyenangkan di dunia atau pencarian akan pemenuhan hasrat yang abadi hingga ke dunia lain nun jauh diseberang sana?

21 responses »

  1. Iya, percaya bahwa Tuhan ada di mana-mana…tapi kenapa ya ketika berdoa seringkali mendongak ke atas…

    *biasanya di sinetron-sinetron heheheh

    **********
    kalau dikantor saya doanya menundukkan kepala Mbak
    :mrgreen:

  2. Menarik sekali kata² bijak sang Guru .. manusia seperti mengejar nihilisme. Bayangkan saja, sejak kecil hingga tua .. kita bekerja banting tulang untuk memenuhi segala hasrat.

    Setelah semua didapat .. eh, malah ditinggal mati. Yang nikmati malah anak cucu bahkan boleh jadi orang lain. Trus, ngapain ya .. kita mesti fight untuk mengejar semua ‘kesenangan’ hidup tersebut kalo pada akhirnya ditinggal juga.

    **********
    Kata orang bijak hidup yang tak direfleksikan bukanlah hidup yang layak untuk dijalani😀
    Dunia manusia adalah dunia yang penuh dengan banalitas kepentingan yang diatasnamakan tuhan. Padahal jika semua selimut yang berlogo tuhan itu disingkap , maka akan tampak semuanya bermuara pada pemenuhan hasrat manusia.Tak terkecuali mereka yang rela meledakkan diri dalam nama tuhan demi harapan pemenuhan hasrat akan pahala diakhirat. Sang guru membantu kita untuk merefleksikannya. Menyingkap motivasi & kepentingan apa yang tersembunyi dalam pencarian manusia akan kepenuhan hidupnya.

    So .. pasti ada ‘maksud’ lain dari kehadiran kita didunia ini. Bukankah Sang Pencipta telah menciptakan surga dan neraka? yang tentunya untuk ‘dihuni’ ato jangan² hanya ilustrasi dari kejadian didunia nyata saat ini?

    **********
    Dilain pihak manusia sendiri adalah entitas yang terlempar kedalam dunia dalam ketidakutuhan dan kesementaraannya, dimana untuk mencapai kepenuhan juga kenyamanan hidupnya manusia butuh simbol2 atau penanda seperti nama, agama, Tuhan, surga & neraka

    Hmm .. memang sejatinya kita di-create oleh-Nya untuk ‘meramaikan’ jagad ini dengan segala peran yang ada. Dan ‘sepertinya’ memang ‘disengaja’ untuk menciptakan kebaikan untuk meredam kejahatan.

    Diciptakan terang untuk mengeliminir gelap. Diciptakan pintar untuk menghapus bodoh. Dan selanjutnya .. hidup adalah kebebasan yang diberikan oleh-Nya pada manusia.

    Seperti dalam dialog film Spartacus yang diputar disalah satu stasiun TV yang kata²nya kira² seperti ini: “Beruntung kita sebagai manusia diberikan kebebasan untuk memilih oleh-Nya. Apakah mau jadi baik atau jahat.”

    **********
    Nah, dalam memaknai hidup, dalam pencarian kepenuhan hidup, manusia selalu dihadapkan pada keputusan. Manusia bisa hanya sekedar mengambil keputusan atau membuat keputusan. Disinilah letak otentisisitas dan kualitas manusia. Mengambil apa yang sudah ada tanpa memahami esensinya hanya sekedar untuk memperoleh rasa nyaman. Atau dengan segala kesadaran membuat keputusan,yang untuk itu diperlukan tanggung jawab yang besar. Manusia harus dibebaskan dan dihadapkan pada keberanian untuk memilih😀 Jangan hanya selalu menyeret Tuhan dalam segala hal, manusialah yang bertanggungjawab atas nilai & kebernilaian hidupnya
    :mrgreen:

  3. Btw .. kenapa sang Guru dihukum mati? .. boleh saya tahu siapa dia?

    **********
    Tuhan adalah Sang Hidup itu sendiri. Tuhan bukan teks2 kosong dalam kitab suci, Ia ada & selalu bersama kita karena Ia adalah Hidup kita sendiri. Bukan tuhan yang dimodifikasi jadi mesin perang oleh berbagai pihak untuk berbagai kepentingan.
    Ajaran ini membebaskan manusia untuk sungguh2 menjadi manusia yang merdeka, bertanggungjawab penuh atas hidupnya. Namun hal ini membawa konsekwensi institusi agama dengan segala hirarkinya merasa terancam. Eksploitasi mereka atas manusia lain yang dibungkus sebagai kebenaran dari atas akan terancam. Karena itulah Sang Guru harus dihukum mati. Ah.. masa belum tahu Pak:mrgreen: beliau Mbah Jenar

  4. swarga, srowa-srawu sarwa lila lan legawa.:mrgreen:

    **********
    betul sekali Kangmas😀 ketika keikhlasan dan penyerahan diri, terbuka atas segala apapun yang terjadi dalam hidup kita, Sendika Gusti, Let Go & Let God cara mancane, itulah surga:mrgreen:

  5. hawa nafsu kalau sudah merasuki diri manusia, apapun akan dilakukan
    perang palestina salah satu bukti kerakusan hawa nafsu manusia

    **********:mrgreen: akan banyak sekali contohnya

  6. wah, makin terbukti kalau manusia memiliki watak tak pernah puas terhadap apa yang telah didapatkan, pak tomy. sudah dapat “syurga” tapi masih juga suka mengejar “syurga” yang lain.. postingan yang menarik dan mencerahkan, pak.

    **********
    jagad arepe diemperi Pak:mrgreen:

  7. Manusia memang dilekati nafsu, bila sang empunya nafsu bisa menguasainya, dan melampiaskannya dengan cara-cara yang baik, maka derajatnya akan menjadi makhluk paling mulia di muka bumi.

    Sebaliknya, bila nafsu tak dapat dikendali, maka sang empunya menjadi manusia paling rendah derajatnya, bahkan dibanding binatang sekalipun.

    **********
    persamaan manusia & binatang adalah dikuasai nafsu:mrgreen:

  8. Surga dan Neraka dalam agama adalah sebiah konpensai mutlaq yang ditawarkan Tuhan, sekaligus merupakan doping & penyemangat pengabdian. Namun pada level ikhlash surga & neraka sudah tidak diharapkan lagi kecuali hanya mengharapkan Tuhan Sejati karena Tuhan itu sendiri adalah tempat kembali. Sedang pada kenyataanya secara konsep surga neraka sudah dialami manusia dibumi, kebahagiaan & keburukan dalam hati perasaan & prilaku nampak jelas pada diri kita dan orang lain, bahwala surga neraka itu memang diciptakan oleh manusia itu sendiri sejak kehidupannya diatas bumi. Bukti kongkrit secara nyata dan terasa harus melalui/merasakan mati dulu.

    **********
    seperti ajaran Sang Guru : Bisa ngajal sajroning gesang
    :mrgreen:

  9. wah …. syur ….. lega deh,
    saat kecil sudah diceko’i cerita bahwa bila sudah disurga nanti akan beristrikan bidadari yang cantik sebanyak 7, inipun sama saja dengan me”legal”kan pemenuhan syahwat setelah di syurga (saat didunia), untuk menjadi baik … kita diiming-imingi bidadari – dan bidadara…. biar syur..
    (untuk yang homo, maaf tidak ada pilihan)😀

    jadi dari awal sudah di doktrin … pencapaiannya adalah surga …. tapi dengan syarat mencintai dan memuja Tuhan …😛

    **********
    lepaskan diri dari belenggu persepsi:mrgreen:

  10. Salam ya buat mbah SSJ
    Excellent si Mbah berhasil membuka rahasia penciptaan dunia sampai tatar tertinggi, hidup manusia dan kehendak bebas palsunya he he he
    si Mbah SSJ sudah membongkar satu pemahaman yang sempurna akan kesejatian dalam perjalanan masuk ke dalam dirinya, orang biasanya senang menempuh jalan keatas karena sensasinya banyak dan bisa unjuk kebolehan tapi mpe tue mpe mati juga gak nyampe nyampe, lain dengan si mbah beliau dah berhasil menepuk lantai paling bawah dari sang diri “Ingsun Dzat Kang Amurbeng Wisesa”, orang seperti ini buat pulang dah gak perlu nyawanya diambil malaikat maut lagi sebab si mbah dah bisa beres beres menggulung sendiri nyawanya dengan menutup sembilan hawa.
    Habis syur lega surga kenikmatan duniawi bagi orang awam adalah persetubuhan badan, he he
    Sedang bagi mereka yang tercerahkanpun sama habis syur lega mereka terus mencari kenikmatan ukhrawi dalam persetubuhan roh he he he banyak yg ga terima tuh hampir mirip yach sama sama menggelinjan seakan seluruh sendi dilolosi tapi teeeteeep beda kenikmatan duniawi beres nikmat sekali mo ngulang lagi perlu istirahat dulu sehari sekali ato dua kali dah hebat dilakukan tiap hari kaya makan obat dak nyampe sebulan mateeee kurus kering tapi kenikmatan ukhrawi dengan sensasi hampir mirp bahkan lebih luar biasa menggetarkan bisa di ulang mpe beribu ribu kali bahkan makin lama muuuakin nikmat makin syuuuuuuur makin lega he he he
    Salam kenal Muuuas he he

    **********:mrgreen: lam kenal juga, salamnya dah aku sampein

  11. jadi adem nih baca postingan ini🙂

    mungkin lagu ahmad dhani pass di buat soundtrack artikel ini kang

    (jika surga dan neraka tak perna ada)apakah kau akan tetap sujud kepada NYA

    salam kenal kang🙂

    **********
    makasih banget bisa jadi inspirasi😀
    lam kenal juga🙂

  12. walau kaya raya dan kuasa
    walau cantik indah mempesona
    walau perkasa gagah wicara
    percumalah tanpa cinta kasih

    cinta kasih itu murah hati
    cinta kasih sabar dan tawakal
    cinta kasih tak megahkan diri
    tak mencari keuntungan diri

    ITULAH MODAL KITA MASUK SORGA

    Berkah dalem Gusti kagem panjenengan sklg.

    **********
    matur nuwun sanget Pak Frans😀
    berkah Gusti ugi sumrambah dumateng panjenengan sakbrayat agung

  13. Mas Tomy,

    [melongo mode : on]
    Jadi, apakah maksud Mas Tomy surga dan neraka itu tidak seperti yang digambarkan oleh Al-Qur’an ? Yang proporsi pembalasannya (baik atau buruk) berlipat-lipat ? Anggaplah di dunia ini ada surga dan neraka. Tapi kan gitu-gitu aja. Ngga ada yang spektakuler. Nerakanya ya paling-paling cacat, pikiran terganggu, gila atau penjara. Surganya ya paling-paling harta, tahta dan wanita. Rahma Azhari-lah gitu.
    Atau dengan kata lain Tuhan hanya ngiming-ngimingi dan ngeden-ngedeni aja dengan Al-Quran-nya ? Hih, sereem. Kalau saya belum berani menduga seperti itu. Langit belum sampai, bumi sudah dilepas. Lha iya kalau bener, kalau ngga’, lha modar kiye, menyesal berkepanjangan di neraka beneran. Atau orgasme berkepanjangan dengan 72 bidadari di surga beneran.
    [melongo mode : off]

    Salam.

  14. @Mas Lambang
    Hidup adalah proses
    Pemaknaan hidup manusia yang berkembang menjadi agama dan budaya terus bertumbuh. Bagi seorang anak kecil mungkin perlu diming-imingi & ditakuti untuk mengajarkannya melakukan sesuatu. Namun seorang dewasa melakukan sesuatu karena hal itu telah menjadi kebenaran bagi dirinya bukan kebenaran ‘katanya’. Ia bukan anak kecil yang harus diajari mengucapkan sahadat namun ia adalah pribadi otonom yang merdeka yang sungguh mengimani dirinya sebagi Utusan Allah, Utusan Sang Hidup.
    Yang ingin SSJ ungkap adalah peng-alam-an & pemaknaan Tuhan *atau Hidup* dalam setiap ulah kridaning manusia. Sebuah pengejaran kepuasan hasrat yang tiada henti atau sebagai Utusaning Urip Kang Anguripi atau sebagai apa? Untuk bisa menjawabnya butuh iman yang dewasa.
    Lebih jauh lagi saya coba mulai dari nama blog Mas Lambang yaitu Islam Abangan. Setahu saya istilah tsb adalah penamaan bagi pengikut SSJ *juga Sunan Kalijaga karena beliau berdua adalah Sedulur Tunggal Wirid* dalam ajaran SSJ agama adalah ageming aji kang mahanani marang pranatan kabudayan saha kasusilan, agama adalah budi pekerti manusia dalam menjalani hidupnya.. Tujuan hidup bukanlah mencari Surga namun Memayu Hayuning Bawana seperti diterangkan diatas tadi sebagai Utusaning Urip. Dan nantinya akan kembali kepada Sumbering Urip., sangkan paraning dumadi.bukan surga namun kasampurnan *dalam istilah budaya lain adalah moksa*
    Nah ini inti dari Inalilahi wa inalilahi rojiun manusia mati tidak ke neraka tidak ke surga*manifestasi nafsu* namun kembali ke asalnya. Unsur2 yang dari api kembali keapi, dari tanah kembali ketanah dari air kembali keair dan Urip kembali ke Sumbering Urip
    Mungkin sedikit penjelasan saya semoga tidak menjadi kurang renaming penggalih

  15. Mas Tomy,

    Diskusinya makin menarik nih. Kelihatannya Mas Tommy juga termasuk kaum yang berfikiran terbuka, tidak emosional. Kebetulan saya bawa kopi dua bungkus. Kita bisa ngopi bareng.
    Dari berbagai cerita tentang SSJ, disebutkan bahwa para pengikutnya akhirnya membuat huru-hara agar dapat meninggal dengan segera, sesuai dengan ajaran SSJ, bahwa kehidupan yang sebenarnya adalah di alam setelah mati (alam akhirat), dan melanjutkan manunggaling kawulo gusti yang pernah dicapai di dunia ini (dengan catatan kalau sudah pernah mencapainya). Para pengikut ini tentunya hanya sekedar ikut-ikutan, belum sampai ilmu puncak (bukan kanuragan lho), mungkin baru bisa ngeden aja, kemudian mencoba menerapkan ilmu puncak, ya akhirnya mati ngga jelas arah ruh-nya kemana.
    Saya tidak mengecilkan peran SSJ sebagai seorang yang linuwih. Yang menjadi pertanyaan saya adalah bagaimana nasib para pengikut ajarannya yang masih di tataran pemula, maupun yang baru setengah sampai.
    Nah, anggaplah saya sedang belajar menjalankan ajaran SSJ itu. Tujuan sudah jelas seperti yang mas sampaikan, yaitu Memayu Hayuning Bawana. Tentunya tidak mungkin bisa dalam waktu singkat langsung sampai ke tataran tertinggi. Itu memerlukan perubahan perilaku, watak, sifat dan kebiasaan. Kalau mendadak terhenti di tengah jalan, karena sakit parah, strook atau mati, apa saya akan sampai ke tujuan dengan cara yang benar ? Kemungkinan besar ya matinya nggladrah ngga karuan. Mungkin akan dilahirkan kembali jadi kodok atau wedus. Apa kalau sudah nggladrah begitu lalu akan muncul pertolongan dari sang pemimpin ajaran ? Barangkali ada penjelasannya, mohon dilanjut mas.

    Salam.

  16. @ Mas Lambang:mrgreen: matur nuwun sanget kopinya Mas. Seger ning awak
    Saya tidak mengikuti perkembangan ajaran SSJ & para pengikutnya yang katanya membikin huru-hara agar memperoleh jalan untuk mati, yang saya tahu para pengikutnya dikejar untuk dibunuh seperti yang terjadi pada Ki Lontang , Wibisana & Mbah Gusang di Semarang. Beliau bertiga berlari terus dari kejaran tentara Demak hingg kedlarang-dlarang sampai Semarang & berhasil moksa di suatu tempat yang menjadi tetenger nama Semarang.
    Hidup adalah Proses
    Agama diambil dari asal kata A=Tidak Gama=Kacau, maka sebenarnya tujuan semua agama adalah sama, kalau dalam bahasa jawa yaitu Memayu Hayuning Bawana. Agama disini saya merujuknya sebagai pemaknaan hidup, sebagai ageming aji ,budi pekerti manusia bukan sebagai institusi kelembagaan. Dengan tujuan hidup yang sama itu manusia membuat suatu sistem keimanan atau sistem ritual berdasarkan pengalaman transendental, pengenalan dan penghayatan empirisnya untuk selanjutnya diteruskan, diajarkan dan didoktrinkan kepada para pengikutnya.
    Dan seperti semua ajaran kebajikan yang lain tidak ada yang tahan kemerosotan juga pasti ada orang yang mampu & tidak.. Yang menyedihkan kadang ajaran yang telah dilembagakan tsb malah menjadi sumber kekacauan dengan menjadi menara gading & batu sandungan manusia lain.

    Ngelmu iku kalakone kanthi laku. Sudah ada banyak jalan namun perjalananlah yang membuat manusia mencapai kepenuhannya

    Untuk menjawab pertanyaan Mas Lambang tidak bisa tidak kita memasuki dimensi mistik yang kurang pada tempatnya kita paparkan disini agar seperti saya katakan tadi tidak menjadi batu sandungan & malah menyebar fitnah. Namun sedikit saya jawab Moksa tidak berarti harus hilang seraganya namun saat maut menjemput itulah kita tahu mana Hidup kita yang sejati
    Nah untuk medar kawruh itu kita perlu wedangan semalam suntuk Mas *halah*
    Maafkan saya bila tidak memberikan tanggapan yang memuaskan

  17. Luar biasa. Sangat mencerahkan. Penalaran yang menakjubkan.

    Saya sungguh berterima kasih kepada “kehidupan” yang telah mempertemukan saya dengan Mas Tomy.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s