HASTA BRATA _02

Standar

Syahdan Ibu Inggit berpesan kepada Kusno ( Sukarno Muda ) :

“GUNTUR menggelegar suaramu

Diah Permata Sari MEGAWATT 2000 sinar matamu

SUKMAWATI sukmamu

RAHMAWATI rahmatmu

GURUH menggelegar di atas kepala berjalan di bawah kaki

BAYU kekuatanmu

TOPAN badai membelah gunung

Mencari Dewa Ruci RATNA KARTIKA SARIDEWI”

Ini tentu saja bukan saya maksudkan sebagai wujud dukungan kepada salah seorang capres dalam pemilu 2009 nanti:mrgreen: namun ada yang ingin saya bagi tentang wejangan dan kudangan seorang Ibu & kekasih kepada anaknya *hmmm…betapa seorang wanita mempunyai pengaruh begitu besar bagi seorang lelaki😀 * tentang tuntunan laku seorang pemimpin bangsa yang dikenal sebagai Hasta Brata.

Hasta Brata dalam kisah pewayangan; dikisahkan dalam Wahyu Makutharama tentang Prabu Kresna raja Dwarawati dalam membabar konsepsi kepemimpinan menyamar sebagai seorang Pandhita bergelar Begawan Kisawasidhi yang menjadi guru dari banyak raja di banyak kerajaan.

Dari banyak raja itu hanya Arjuna *ehem..seperti nama saya ya* yang mendapat wejangan tentang Konsep Kepemimpinan Hasta Brata tersebut.

Bukan pula karena nama saya kebetulan sama dengan nama satriya penengah Pandawa itu, namun sekali lagi sekedar ingin berbagi tentang wejangan luhur tersebut.

Berikut wejangan Sang Begawan Kisawasidhi kepada Arjuna :

Kepala negara atau raja yang ideal adalah orang yang adil, berwibawa, murah hati pada rakyat dan dicintai para ulama. Kewibawaan, keagungan, dan kebijaksanaan raja diceritakan sebagai berikut :

“Narendra ingkang kinasih Dewa, kinawula ing Widadari, cinedhak ing brahmana, lan kinacek sesamaning agesang / adasih / Narendra. Narendra guna ing aguna tan ngendhak gunaning janma, paring payung kang kudanan, paring teken kang kelunyon, paring obor kang kepetengan”

‘Raja yang dikasihi para Dewa, diperhamba Bidadari, dekat dengan Pandhita [ulama/orang bijak], dan disegani sesama Raja. Raja yang menguasai pengetahuan luas namun tak merendahkan pengetahuan orang lain, memberi payung siapa yang kehujanan, memberi tongkat orang yang kelicinan, memberi pelita orang yang kegelapan’.

Untuk itu seorang Kepala Negara dalam menjalankan pemerintahan, sebagai pemimpin dan teladan serta tuntunan bangsa wajib menjalankan Delapan Laku

Laku Hambeging Candra

Maknanya seorang pemimpin harus memberi penerangan yang menyejukkan seperti bulan bersinar terang benderang namun tidak panas. Bahkan terang bulan tampak indah sekali. Orang desa menyebutnya purnama sidi.

Laku Hambeging Dahana

Maknanya seorang pemimpin harus tegas seperti api yang sedang membakar. Namun pertimbangannya berdasarkan akal sehat yang bisa dipertanggungjawabkan sehingga tidak membawa kerusakan di muka bumi.

Laku Hambeging Kartika

Maknanya seorang pemimpin harus tetap percaya diri meskipun dalam dirinya ada kekurangan. Ibarat bintang-bintang di angkasa, walaupun ia sangat kecil tapi dengan optimis memancarkan cahayanya, sebagai sumbangan buat kehidupan.

Laku Hambeging Kisma

Maknanya seorang pemimpin yang selalu berbelas kasih dengan siapa saja. Kisma artinya tanah. Tanah tidak mempedulikan siapa yang menginjaknya, semua dikasihani. Tanah selalu memperlihatkan jasanya. Walaupun dicangkul, diinjak, dipupuk, dibajak tetapi malah memberi subur dan menumbuhkan tanaman-tanaman. Filsafat tanah adalah air tuba dibalas air susu. Keburukan dibalas kebaikan dan keluhuran.

Laku Hambeging Samirana

Maknanya seorang pemimpin harus berjiwa teliti di mana saja berada. Baik buruk rakyat harus diketahui oleh mata kepala sendiri, tanpa menggantungkan laporan dari bawahan saja. Bawahan cenderung selektif dalam memberi informasi untuk berusaha menyenangkan pimpinan.

Laku Hambeging Samodra

Maknanya seorang pemimpin harus mempunyai sifat pemaaf sebagaimana samudra raya yang siap menampung apa saja yang hanyut dari daratan. Jiwa samudra mencerminkan pendukung pluralisme dalam hidup bermasyarakat yang berkarakter majemuk.

Laku Hambeging Surya

Maknanya seorang pemimpin harus memberi inspirasi pada bawahannya ibarat matahari yang selalu menyinari bumi dan memberi energi pada setiap makhluk.

Laku Hambeging Tirta

Maknanya seorang pemimpin harus adil seperti air yang selalu rata permukaannya. Keadilan yang ditegakkan bisa memberi kecerahan ibarat air yang membersihkan kotoran. Air tidak pernah emban oyot emban cindhe ‘pilih kasih’.

Raja yang melaksanakan 8 Laku yang dikenal sebagai Hasta Brata tersebut akan mampu membawa bangsa & negara menujiu kemakmuran seperti yang diceritakan Dalang :

“nagari ingkang panjang punjung pasir wukir gemah ripah loh jinawi tata tentrem karta raharja”

‘suatu negara yang terbentang luas lautan dan pegunungannya, ramai pelabuhan dan perdagangannya, murah sandang pangan, subur makmur, tertib tentram damai, jauh dari laku kejahatan’.

Tulisan ini melengkapi tulisan saya terdahulu yang mengulas Hasta Brata, sebuah upaya nguri-uri, menimba kembali kekayaan budaya luhur bangsa yang semakin dilupakan dan ditinggalkan.

Tinggal satu pertanyaan besar dalam benak, ”Akankah nilai keutamaan ini masih relevan di jaman sekarang yang segalanya telah dijadikan sebagai komoditas?”

Suatu kekhawatiran yang menggoda, mungkin saja Hasta Bratapun telah mengalami degradasi, hanya sekedar menjadi komoditas politik saja bagi para durjana, durmala, durmadi yang telah njarah rayah anyenyamah bumi pertiwi.

15 responses »

  1. wah, teryata ada seri duanya. salut deh, pak. saya punya percaya jika para elite negeri ini menggunakan “hastabrata” sebagai metode dan manajemen kepemimpinan, msayarakat yang adil, makmusr, dan sejahtera bukan hal yang sulit utk diwujudkan. sayangnya, mereka masih belum sanggup membedung pamrih2 sempit yang terus menggerogoti wibawa dan kehormatannya.

  2. hastabrata sepertinya manifestasi dari dalam diri seorang pemimpin. seperti ajaran-ajaran luhur lainnya, kalo sekadar dibaca dan dihapal aja [kayaknya] gak banyak faedahnya. mudah-mudahan ada orang yg masih mau mendalami lalu berusaha mewujudkan. gak usah delapan, lima aja kayaknya udah mantep tuh…:mrgreen:

  3. “*hmmm…betapa seorang wanita mempunyai pengaruh begitu besar bagi seorang lelaki😀 *”

    di balik sukses laki-laki ada perempuan yang mendukungnya….dan saya percaya demikian pula sebaliknya…

  4. ”Akankah nilai keutamaan ini masih relevan di jaman sekarang yang segalanya telah dijadikan sebagai komoditas?”
    nilai nilai ini akan tetap lestari…dan sangat relevan tergantung dari ekosistim yang ada di negeri ini. hanya saja penerapan bukan langsung pada jagad besar, namun akan lestari di alam jagad alit. maksudnya ilmu hasta brata itu bukan diperuntukkan secara umum melainkan diperuntukkan secara pribadi diri sendiri. sehingga kita bisa membedakan mana jagad alit dan mana jagad besar. dan jagad besar akan secara otomatis terjaga dengan ajaran hasta brata jika jagad alit itu sendiri berjalan secara normal. ilmu ini termasuk ilmu sengkeraning dewo, maksudnya adalah ilmu yang diperuntukkan mengupas habis jiwa raga seorang manusia, berkaitan dengan ilmu yang di turunkan kepada yang raja yaitu ARJUNA, Kalau boleh berkomentar kita harus tahu siapakah arjuna yang dimaksud oleh Kanjeng sunan Kalijaga itu. Ekapratiwi, berpendapat setelah memaknai siapa itu Arjuna, ….. pendapat eka pratiwi Arjuna itu sendiri adalah sebuah bendera yang berkibar paling tinggi diantara yang lain. atau boleh dikatakan sebuah kesenangan (nafsu). sehingga ada hubungannya dengan sebuah lukisan. Arjuna naik kereta yang ditarik kuda empat dengan kusir sang prabu kresna….. muncul pertanyaan.. siapa ( sanepa) prabu kresna..????? seorang raja pemikir sebagai botoh / sutradara yang akan menjalankan masing2 peran.

    “Narendra ingkang kinasih Dewa, kinawula ing Widadari, cinedhak ing brahmana, lan kinacek sesamaning agesang / adasih / Narendra. Narendra guna ing aguna tan ngendhak gunaning janma, paring payung kang kudanan, paring teken kang kelunyon, paring obor kang kepetengan”

    inilah yang dimaksud Arjuna, sadar atau tidak ini semuanya juga bagian dari nafsu, yang digambarkan Raden Arjuna naik kereta denga kusir Prabu kresna. terkenal dengan keahlian Raden Arjuna sebagai juara pemanah jitu, namun tergantung dari Prabu kresna, … walaupun pemanah jitu tetapi jika prabu kresna menahan tali kekang kuda dengan benar maka pemanah jitu tidak akan pernah bisa mengenai sasaran yang diinginkan. Prabu kresa dimaknai dengan hitamnya mata, oleh karebna itu prabu kresna memiliki senjata yang paling ampuh yaitu cakra kebijaksanaan, yang letaknya ada di sekitar mata. oleh karena itu kedokteran menyatakan manusia itu sudah meninggal dengan melihat pupil matanya apakah masih ada sinar bayang2nya apa tidak, istilah pewayangan jika cakra kebijaksanaan itu sudah hilang dari tempatnya maka tidak akan lama lagi ( 40 hari) orang tersebut akan meninggal dunia. sehingga tidak heran ada orang yang tahu ajalnya. karena orang tersebut sudah menjiwai ilmu hasta brata. dengan cara digesekkan ujung jarinya disamping mata maka bila masih terlihat bunga cangkok wijaya kusuma maka umur masih dikandung badan namun jika pupil mat sudah tidak ada bayang2 maka alamat kiyamat akan tiba, (kiyamat alit) ekapratiwi berpendapat kiyamat alit dan kiyamat besar sama saja. dan masih banyak…. dan masih banyak….. ibarat tintanya adalah air samodera dan kertasnya sebua daun yang ada didunia ini maka tidak akan pernah habis untuk membahas hasta brata. semoga….. dan harapan eka pratiwi…. para pemimpin kita …. dapat memaknai ilmu hasta brata….. sehingga ketemu yang namanya satrio piningit. (satrio boleh laki2 boleh pula wanita) yang penting berwatak satria….

    suksess selalu. buat mas arjun

    KALAU ADA KOMODITAS PASTINYA ADA PEMBELINYA, ( penjual dan pembeli sama sama melakukan salah satu kegiatan perdagangan) JUAL-BELI…………. SURGA-NERAKA……….. HITAM-PUTIH………. DST DST …………

    INGIN TAHU LEBIH JAUH TENTANG ILMU SENGKERANING dewo….. GAMPANG.

    terleih dulu harus bisa ilmu KACA BENGGALA……
    untuk bisa mendalami ilmu kaca benggala… HARUS BISA MENDALAMI ajian serat jiwa….. dan seterusnya. sampai katam (MATI).
    WASSALAM,
    kupat disiram santen…. menawi lepat nyuwun ngapunten.

  5. ha ha ha ha ha ha ha ha eka pratiwi ngawur, dan ngelindur, karena kebanyakan tidur……………………………………………………………………….

  6. rahayu
    kapan ada pemimpin yang bisa menerapkan dan mewajibka hasta brata dalam pemerintahan indonesia……
    mengapa orang dulu yang sudah mengenal hastabrata tidak mempraktekan dulu dulunya biar jaya sejak dulu dulu nya….
    wass wb

  7. Budaya luhur layak utk diwariskan, bukan berarti ikut2an nenek moyang zaman bahula.
    Menjelajah jawa dwipa sungguh asik, memperkaya khazanah aksara.
    Saling berbagi, bertutur sapa, turut menyapa dg tarian khazanah kata.
    Saling menikmati, unjuk bahagia, semoga mewujud di alam nyata.

    Bertepuk dada tak berarti menyombongkan selera.
    Bertepuk sebelah tangan bukanlah usaha yang sia-sia.
    Seudati di gelar, berbalas pantun utk menyapa.
    Saman di hentak, seribu tangan menjura di dada.

    Ranup lampuan, hidangan tamu layaknya raja.
    Bagi mereka yg pantas, disambut bagai saudara.
    Bagi mereka yg menindas, biar dirasa baginya hina.
    Menggunting dalam lipatan, selalu berbuat aniaya.

    Bertanding lawan sepadan, tanda diri hendak merdeka.
    Menyapa kawan sejalan, tanda mata dirinya rela.

    Salam kenal dari negeri para raja ^^

  8. Membaca budaya (budaya apapun)juga menggunakan ‘rasa’ kalau dibaca bak baca novel ya gitulah.
    Karena kita sudah terkoptasi dengan segala pelajaran yang menyisihkan ‘rasa’ tidak lagi terasa keindahan budaya.
    Karena kita sudah terbiasa menelan apa yang disuguhkan tidak lagi terasa kenikmatan, yang dinantikan hanya pelampiasan rasa lapar dan dahaga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s