SANG TOKOH TELAH MATI

Standar

Oleh : Suprayitno

Apakah saat ini kita masih memiliki tokoh-tokoh publik yang patut kita hormati dan patut kita percayai? Sekarang tidak ada lagi tokoh. Yang ada hanyalah orang-orang terkenal karena “ucapan-ucapan atau omongannya” bukan karena watak, prilaku, sikap dan tanggungjawabnya yang besar terhadap bangsa dan negara. Para tokoh kita tidak berbuat apa pun terhadap perubahan masyarakatnya. Tokoh kita hanya sibuk mencacimaki terhadap sesama tokoh lainnya, sibuk berwacana, obral janji dan obral nasihat. Padahal yang lebih dibutuhkan oleh rakyat adalah NASI tanpa tambahan hat. Tokoh kita hanya pandai memproduksi “mimpi” tentang perubahan.

Perubahan dari masyarakat yang melarat menjadi masyarakat yang sejahtera. Perubahan dari masyarakat yang bodoh menjadi masyarakat yang cerdas, takwa dan bijaksana. Perubahan dari masyarakat agraris menuju masyarakat industrialis yang maju. Perubahan dari masyarakat yang tertindas menjadi masyarakat yang mandiri dibidang politik, ekonomi dan kebudayaan.

Sepanjang masa, para tokoh hanya menjual impian, sehingga perubahan-perubahan yang diinginkan tidak pernah tercapai sampai dengan detik ini. Perubahan hanya bisa terjadi dengan kerja keras, komitmen, konsistensi, integritas, dan awareness (kesadaran) yang tinggi. Sementara para tokoh yang ada saat ini tidak mau kerja keras, tidak ada komitmen, tidak ada konsistensi, tidak memiliki integritas (kejujuran) dan kesadaran yang tinggi akan nasib bangsa dan negara kedepan. Para tokoh hanya berpikir untuk dirinya sendiri dan kelompok.

Akhirnya, rakyat bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya. Anak-anak itu benar-benar dibiarkan hidup dengan caranya sendiri-sendiri. Sehingga, mereka banyak yang mati kelaparan, banyak yang sakit tanpa mampu berobat (akhirnya pun mati juga). Banyak yang tidak bisa sekolah karena biayanya semakin tidak terjangkau dengan berbagai beban lainnya. Akibatnya, tumbuh generasi bodoh yang hanya bisa mengemis atau menjadi pengangguran atau penjahat yang akhirnya pun mati juga karena dibakar massa atau ditembak petugas. Para pengkhianat itu benar-benar nyata di depan mata rakyat!! Rakyat harus menggugat, dimana tanggungjawab pemerintah terhadap nasib rakyatnya? Untuk apa dan untuk siapa sebenarnya kita mendirikan negara?

Para tokoh telah menjadi pengkhianat agung terhadap Republik Indonesia ( RI ). Sebutkanlah siapa tokoh yang Anda kagumi di negeri ini? Kemudian teliti dengan penuh kejelian, apa yang telah mereka kerjakan untuk perubahan nasib masa depan bangsa dan negera kita? Malangnya, masih banyak rakyat kita yang selalu saja terkagum-kagum dengan bayang-bayang sang tokoh. Rakyat tetap berharap dan percaya kepada para tokoh.

Padahal, sampai mati pun rakyat berharap, tidak mungkin tokoh-tokoh yang kita kagumi itu akan mampu menyelamatkan Republik ini dari kehancuran moral yang telah menggejala di semua sektor kehidupan. Sebab, para tokoh kita sejatinya adalah makhluk-makhluk egois yang hanya memperjuangkan nasib dirinya dan kelompoknya. Sesekali mereka tampil dihadapan publik seolah-olah seperti tokoh yang baik hati, lembut, dermawan dan perhatian. Semua itu hanyalah dalam rangka membangun politik citra (imajinasi) yang sebenarnya bohong belaka!!!!! Percayalah sekarang ini tokoh telah mati!!

Harus kita akui bahwa, “tokoh panutan” sebenarnya begitu penting bagi masyarakat yang masih memiliki tradisi paternalis seperti di negeri kita ini. Hanya sayangnya, dalam sistem paternalisme terjadilah dikotomi yang tajam antara penguasa dan yang dikuasai (rakyat), antara pemimpin dan anak buah. Dari sistem paternalisme lahirlah masyarakat yang birokratis disatu sisi, yaitu pada aspek pelayanan publik (public service). Sedangkan di sisi lain yaitu pada aspek kultural, tumbuhlan paham feodalistik. Birokratisme yang bersetubuh dengan feodalisme akan melahirkan perbedaan-perbedaan hak dan kewajiban yang tajam antara rakyat dan penguasa, antara pemimpin dan anak buah. Penguasa berhak mengatur apa pun terhadap rakyatnya. Sementara rakyat hanya pasrah terhadap apa pun yang dilakukan oleh para penguasa.

Secara konseptual sistem politik di negara kita memang menganut paham demokrasi dan Republik. Artinya, kedaulatan ada di tangan rakyat melalui proses pemilihan umum dengan menggunakan sistem perwakilan. Tetapi secara mental kultural basis negara kita masih sangat lekat dengan konsep feodalisme. Sehingga gejala yang tampak yaitu spirit kerja para pemimpin kita atau penguasa kita bukan untuk “melayani” rakyat, tetapi rakyatlah yang harus senantiasa melayani para pemimpin kita melalui politik birokratisme yang memang sengaja dibuat panjang dan berbelit-belit.

Kultur feodalis inilah biang kerok terjadinya KKN, karena para penguasa akhirnya bekerja tanpa tanggungjawab moral tetapi bekerja seadanya karena hanya diikat oleh etika subyektifisme dan oleh emosi primordialisme (kesukuan/kekerabatan). Aparat yang seharusnya menjadi “abdi rakyat” justru berubah menjadi “raja” yang serba harus dilayani oleh rakyat. Jika tidak dilayani, jika tidak disuap mereka akan “mengancam” dengan pelayanan yang “semau gue”. Sungguh menjijikkan prilaku mereka.

Sistem kerja penguasa atau birokrasi kita tidak mau menjujunjung tinggi disiplin dan tata kerja. Bila melangar aturan disiplin dan tanggungjawab pekerjaan, tidak ada kepastian hukuman sesuai yang telah mereka tetapkan sendiri. Ditengah keletihan masyarakat akan berbagai kondisi yang menekan, mestinya rakyat Indonesia harus bangkit dan berani dengan tegas menolak sistem feodalisme dan birokratisme yang tidak masuk akal.

Setelah menjalani reformasi lebih dari sewindu, kita semakin sulit mendapatkan agen perubahan untuk kehidupan yang lebih baik. Semua ini terjadi karena demokratisasi kita menghadapi persoalan “defisit agen”. Mengapa terjadi defisit agen padahal kita sudah menganut sistem demokrasi? Kita harus merunut waktu kebelakang, karena memang dalam tiga dasa warsa sejak pemerintahan dan negara dikuasai oleh rezim Orde Baru dibawah Pak Harto, kaderisasi kepemimpinan Nasional sengaja dibuat mati, agar hanya ada satu tokoh tunggal yaitu Soeharto. Oleh karena itu, begitu Soeharto jatuh maka tak ada tokoh nasional yang sanggup menggantikannya.

Sistem diktatorisme militer yang dijalankan oleh Soeharto selama tigapuluh dua tahun sangat ampuh untuk menciptakan stabilitas keamanan, politik dan ekonomi sehingga angka pertumbuhan ekonomi mengalami kemajuan yang pesat (modernisasi Indonesia). Namun, di sisi lain telah membuat defisit agen perubahan. Sebab, yang berani tampil beda dan berani mengkritik secara terbuka terhadap sistem kepemimpinan Soeharto pasti akan dilibas dengan berbagai cara. Akhirnya tumbuhlah sikap Asal Bapak Senang (ABS) dan Nepotisme yang berlanjut dengan korupsi. Pada waktu itu, militerisme dengan konsep Dwi Fungsi ABRI telah menyelinap jauh dalam segala urusan dari tingkat RT, RW, Lurah sampai dengan jenjang tertinggi.

Inilah bahayanya sistem “diktatorisme”, yaitu ketika sang diktator jatuh tersungkur, segeralah diikuti eforia politik. Pesta “kebebasan” atau demokrasi marak dimana-mana, golongan tua-tua yang selama itu bekerjasama erat dengan rezim masa lalu tiba-tiba saja mencuatkan diri dengan penampilan seolah-olah seperti pahlawan penyelamat. Padahal setelah mereka tampil sebagai pemimpin yang diharapkan menjadi agen perubahan ternyata hanyalah “begundal-begundal” yang tidak lebih baik dari pada pemimpin di era diktatorisme. Mereka selalu saja akhirnya mengkhianati rakyat.

Untuk keluar dari blunder (kesalahan/kebodohan) yang terus menerus itu, tersedia alternatif yaitu kita harus mampu “membangun kualitas warga negara”. Caranya? Harus disediakan wadah untuk pendidikan politik yang akan senantiasa terus menerus mengadakan pembelajaran politik terhadap masyarakat (proses nasionalism) melalui warung-warung demokrasi kerakyatan sebagai wahana untuk sharing politik (political sharing media) atau sebagai “Ajang Curhat Politik”.

Dasar pemikirannya yaitu pertama agar masyarakat mengetahui akan hak-hak dan kewajiban sebagai warga negara. Kedua, kita harus sadar akan prinsip bhineka tunggal ika atau koeksistensi. Artinya, kita harus tahu juga hak-hak hidup orang lain. Ketiga, secara progresif kita akan selalu menggugat kepada pemerintah untuk terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Keempat, melatih kewirausahaan agar rakyat yang tidak terserap pada lapangan kerja formal dapat hidup mandiri tanpa selalu tergantung pada pihak lain. Kelima, siap melawan ketidakadilan dengan cara yang beradab, cerdas, argumentatif tanpa disertai tindakan-tindakan yang anarkis.

Siapkan mental, spiritual dan intelektual Anda untuk menjadi bagian penyelesaian persoalan karut marut negeri ini. Sebab jika anda bukan bagian dari penyelesaian masalah, boleh jadi Anda adalah merupakan bagian dari persoalan negeri ini.

Alamat Penulis :

Perum Graha Mukti

Jln.Tlogomukti Timur I/878 Semarang

Telp. (024) 70279103 & 081325736405

Penulis adalah sekretaris jenderal Forum Penulis Surat Pembaca (FPSP)

15 responses »

  1. pak tomy, tulisan mas suprayitno ini menggunakan analisis yang tajam, didasarkan pada fakta dan realitas politik yang belum berpihak kepada rakyat. saya setuju kalau negeri ini memang bener2 sedang mengalami krisis keteladanan. para tokoh pendahulu yang begitu tinggi citranya hanya tertinggal dan memfosil dalam sejarah. yang ada sekarang hanya tokoh2 karbitan yang menghamba pada budaya instan dalam meraih sukses. kayaknya dibutuhkan beberapa generasi lagi agar negeri ini bisa melahirkan tokoh2 yang berwawasan kebangsaan dan kerakyatan.

    **********
    kepedulian kita Pak😀 & mari mulai dari saat ini mulai dari diri kita masing2

  2. Kalaupun tokoh itu masih hidup, gerakannya akan tenggelam dan tidak akan terlihat di tengah gerakan-gerakan memperkaya diri sendiri yang diperlihatkan orang-orang yang mengaku dirinya “tokoh” yang ada saat ini.

    **********
    kang ngaku-aku iku sejatine dudu:mrgreen:

  3. lha gimana lagi …
    kita sendiri juga sering salah kaprah … yang di wah kan … yang dipuji-puji … yang di elu-elukan, itu bukan karena akhlaknya, tapi karena tampilannya …
    ya wajar saja kalau jadi banyak yang ngejar-ngejar kulit, jor-joran penampilan, pamer-pameran kepemilikan barang, dst …

    jadi, ayo mulai dari sekarang, dari diri kita sendiri-sendiri, jangan menyanjung kulit, jangan memuji penampilan, berikan penghargaan hanya pada yang bermanfaat.

    “lha bermanfaat itu kan subyektif, tergantung saya sedang di kelompok mana, bersama kubu siapa, gimana dong ??”, ya … memang … pada akhirnya memang itu tergantung dirimu masing-masing,
    kalau masih kelas cekeremes jangan minta yang berkualitas,
    kalau cara memandang masih sempit jangan minta yang pemahaman luas,
    kalau masih cacing jangan minta pemimpin elang … bisa disikat sampeyan.

    **********
    benar sekali Kang😀 revolusi harus dimulai dari diri sendiri, seperti tagline saya
    & memang perlu dilakukan kerja di bidang ideologi dalam menyadarkan bangsa ini
    jangan vested interest, musang & ayam tak akan bisa hidup dalam satu kandang:mrgreen:

  4. Ya memang, kita harus memulai dari diri sendiri, tapi dalam keadaan darurat keputusan tetap harus diambil, pilihan tetap harus dijatuhkan, setidak2 nya memilih yang terbaik dari yang terburuk, supaya negeri ini tetap berjalan walau terseok seok,

  5. Iya ya mas Tomy, tulisan diatas ada benarnya..

    Tokoh2, kebanyakan hanya menjual “politik-citra”, supaya tampil mengesankan, didukung publik, lalu ujung2nya : popularitas, harta, tahta, dan banyak juga yang mengejar : wanita.

    Semoga bangsa kita ini, bisa maju, makmur, sejahtera, dan semoga memiliki pemimpin yang tidak sekedar “bersolek” demi sebuah “citra-diri”.

    Wah, topik yang pas menjelang Pil Pres Juli 2009 nanti.

    Maturnuwun mas Tomy…😉

  6. Semoga bangsa kita ini, bisa maju, makmur, sejahtera, dan semoga memiliki pemimpin yang tidak sekedar “bersolek” demi sebuah “citra-diri”.

    Wah, topik yang pas menjelang Pil Pres Juli 2009 nanti.

    Maturnuwun mas Tomy…
    ===========================================
    he he leres mas ratana niku, kalu perlu pemimpin kedepan orangnya pemberani, galak, tegas, tapi jujur, ya modelnya paling tidak seperti Pak Karno itu, he he

  7. @mas Behi..,

    Wah, setuju itu mas… .

    Indonesia memang seharusnya model pemerintahannya semi2 kerajaan.

    Kewibawaan bangsa sekarang ini telah turun, negara tetangga saja berani “nantang”2 dan “mampang”2 di depan kita… .

    Kalau ada orang seperti Pak Karno lagi, pasti saya pilih…

    Kira2, siapa ya capres sekarang yang mirip2 sama Pak Karno dalam hal ketegasannya, galak, garang, pemberani, jujur ?
    Dipilih saja tuh kalau ada mas..
    [wah, malah kayak kampanye ya..]

  8. Indonesia tidak butuh politisi, namun butuh NEGARAWAN.
    Negarawan adalah orang yang berdiri di atas semua golongan, berdiri di atas semua kelompok, suku, ras, agama. Ia berdiri netral, arif bijaksana, dan adil.

    Sementara itu, seorang politisi biasanya bersifat primordialis, etnosentris, berjuang hanya demi kepentingan kelompoknya, kepentingan politik tertentu, bahkan mengejar kepentingan pribadi.

    Kini negarawan sulit di cari, mungkin benar kata Mas Tommy, tokoh telah mati. Tokoh itu bernama negarawan sejati.
    Kini, yang hidup subur tinggalah para politisi, dengan lantang mengaku-aku seorang negarawan, dengan tega mengatas namakan kepentingan rakyat, padahal hanya sibuk mengejar kepentingan kelompok dan pribadi.

    salam asah asih asuh

  9. pamuji rahayu..,

    merubah sistem.. susah sekali walau dimulai dari kita dan diri sendiri.., tapi mungkin juga akan berhasil apabila generasi dan para tokoh saat ini dimatikan alias dibunuh semua dan ganti generasi baru…,tapi sulit juga karena kesemua ini sudah membudaya.., tapi untuk mengkaji kembali dan mengembangkan serta memunculkan dan menerapkan budaya leluhur malah terlupakan.. semua sibuk kiprah seperti prahara untuk mengusung diri menjadi no.1 dan 2, obral cangkem,abab mangambar aroma busuk, sementara mental laku lampah hati nurani, kalbu malah lebih busuk tambah bosok.., negara jadi bosok, rakyat tambah bobrok, arep milih milih malah kapok.., wah tambah ke kuping jadi kopok.., akhirnya ya semua jadi terolok olok seantero pelosok,
    wahh.. jadi pening sendiri mikirin negara.. kangmas.., sementara lingkup dalam keluarga harus kita bina untuk menjadi generasi yang lebih mumpuni dalam segala bidang,
    matur sembah,

    salam sihkatresnan
    rahayu..,

  10. Mas Hadiwirojati,

    Ngomong2 masalah budaya leluhur, apakah bisa kita menunjuk dengan persis, yang manakah budaya leluhur kita ?

    Budaya leluhur, setahu saya, adalah sebuah perjalanan “akulturasi” dan “asimilasi”.

    Maaf, nyuwun sewu lho kangmas yang terhormat, punika hanamung sekedar bertanya.. .Rak boten punapa2 to kangmas ?

    Maturnuwun,
    Rahayu kangmas… .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s