MENJADI DIRI SENDIRI

Standar

Oleh : Suprayitno

Ada sebuah cerita yang cukup menarik. Cerita ini diawali oleh sebuah perjalanan seorang Bapak dengan seorang Anak yang dengan gembiranya berdua menaiki seekor kuda jantan yang berbulu putih bersih. Kuda jantan itu sangat gagah, dengan tubuh yang kokoh dan ekornya terjuntai sangat indah. Kuda terus dipacu melewati satu desa ke desa lainnya.

Banyak warga sekitar yang mengenal bapak tersebut, berdecak kagum “Wah hebat sekali kuda pak Prawiro” puji salah satu warga yang melihatnya.

“Prawiro berhenti sebentar!” teriak yang lain

“Ada apa Kang Dulah?” jawab Pak Prawiro seraya memperlambat laju kudanya. Kang Dulah lari mendekat ke arah Pak Prawiro. Sambil menepuk-nepuk badan kuda yang berbulu putih bersih itu, Kang Dulah menyapa Prawiro.

“Prawiro, setahu saya dimana-mana seekor kuda hanya dinaiki oleh satu orang. Apa sampeyan tidak kasihan dengan beban yang berat itu? Lebih baik anak sampeyan yang naik, sampeyan kan bisa menuntunnya” saran Kang Dulah yang umurnya lebih tua dari Pak Prawiro.

Setelah dipikir sejenak, Pak Prawiro setuju “Iya betul Kang, saya juga sayang sekali dengan kuda ini” Akhirnya Pak Prawiro turun dari punggung kuda dan menuntunnya.

Desa demi desa terlewati. Dan setiap desa yang disinggahi selalu saja banyak warga yang memberi pujian dengan kuda Pak Prawiro. Nama Pak Prawiro sangat terkenal di seantero Kecamatan tersebut. Sehingga banyak warga yang memberi salam dan komentar. Komentar dan saran kedua, Pak Prawiro dianggap aneh ini namanya terbalik-balik, seharusnya bapak yang naik, sementara anaknya yang menuntun kuda. Setelah dipikir-pikir Pak Prawiro pun setuju, gantian anaknya yang turun dari punggung kuda, dan sang anak pun dengan senang hati menuntunnya. Di kampung ke tiga, saran selanjutnya adalah seharusnya mereka sama-sama menuntun kudanya, supaya adil. Masak anak disuruh nuntun sementara ayahnya enak-enakan yang naik. Untuk yang ketiga kalinya Pak Prawiro menuruti saran yang baik itu. Di kampung yang keempat, berjumpa dengan Eyang Mardi. “Wiro-Wiro, kamu ini kok bodoh sekali, wong bawa kuda yang sangat gagah kok malah dituntun, ya dinaiki berdua tho. Kan kuda ini cukup kuat!!” sarannya sambil terkekeh.

Sejenak Pak Prawiro beserta anaknya bingung. Semua yang dilakukan serba salah, bagaimana ini? gumam mereka berdua. Akhirnya mereka minta tolong kepada salah satu kenalan di desa tersebut untuk mengantar kudanya sampai kerumah, yang tinggal melewati tiga desa lagi. Sementara Pak Prawiro beserta anaknya memilih pulang dengan jalan kaki.

Cerita di atas adalah cerita absurd, cerita konyol tetapi banyak terjadi dalam kehidupan nyata dengan berbagai bentuk (varian) yang berbeda. Intinya, dalam kehidupan ini sebenarnya tidak ada hal yang ideal, ideal itu hanya ada dalam mimpi, hanya ada dalam surga. Oleh karena itu tidak ada suatu keputusan pun yang bisa menyenangkan semua orang. Kita tidak boleh menjadi manusia yang tidak punya prinsip, menjadi peragu yang menuruti semua saran orang lain.

Kita dituntut untuk bisa menjadi “dirinya sendiri”. Pertanyaannya, bagaimana kita bisa menjadi dirinya sendiri? Benarkah seseorang yang berusaha untuk menjadi dirinya sendiri bisa digolongkan dalam orang-orang yang egois?

Menjadi diri sendiri artinya adalah menjadi pribadi yang otonom. Tidak manut grubyuk, tanpo rembuk, monthak manthuk (manggut-manggut) mudah dipengaruhi oleh faham dan kepentingan orang lain. Ciri-ciri pribadi otonom adalah, mengerti kelemahan dan kelebihan dirinya sendiri. Mengerti, memahami dan mau menjalankan setiap tugas dan tanggungjawabnya dengan penuh kesadaran.

Pribadi otonom tidak mudah iri dan dengki tetapi justru penuh percaya diri. Segala tindakannya selalu diperhitungkan dengan matang berdasarkan logika bukan dengan dorongan nafsu rendah, emosional dan mistik. Ciri pribadi otonom lainnya adalah berkepribadian sangat kuat (bukan orang yang peragu), tenang dalam menyelesaikan masalah (tidak tergesa-gesa) dan berani menanggung risiko atas semua yang telah menjadi keputusannya (tidak pernah mencari kambing hitam atas kegagalannya). Mengakui kesalahan dan kelemahan dirinya sendiri bukan hal yang tabu bagi pribadi otonom. Sebab, sikap yang hanya menyalahkan orang lain menjadikan kita sulit untuk berubah dan berkembang serta sulit menerima kenyataan. Sikap yang hanya pandai menyalahkan orang lain, menunjukkan bahwa pribadi kita sesungguhnya sangat rapuh, kerdil, picik dan egois sebab hanya mau menang dan benar sendiri.

Pribadi otonom mengabdi pada kebenaran bukan pada “kesesatan”. Ukuran kebenaran adalah adanya persesuaian antara pernyataan dan kenyataan. Jika pernyataan kita tidak bisa dibuktikan sesuai dengan kenyataan (fakta), ini namanya pasti bukan kebenaran yang sesungguhnya, melainkan sebuah dusta (kebohongan).

Pribadi otonom juga bisa diibaratkan sebagai a stoic man (kebijakan hidup dalam mazhab Stoa). Dalam a stoic dimaksudkan seorang laki-laki –jarang sekali perempuan- yang tetap tenang dan tidak tergoyahkan dalam situasi-situasi yang paling aneh dan paling sulit sekalipun. Ia berdiri “dengan kepala di awan-awan, namun sepasang kakinya tetap kokoh berpijak di atas aliran banjir deras”, tenang sekali, tak dapat diganggu, dan rasionalistis. Ia bukan seorang manusia emosional, melainkan seorang pemikir dingin. Gejolak perasaan dan hawa nafsu ditolaknya sama sekali karena semua itu adalah irasional, rendah, menyesatkan dan tidak pantas bagi manusia.

Yang sering membuat “sesat pikiran” seseorang, adalah adanya sifat manut grubyuk, tanpo rembuk, monthak-manthuk (ikut arus) pada orang lain. Padahal kita adalah bukan mereka, artinya tiap-tiap orang sesungguhnya memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Kita lebih senang belajar pada orang lain, padahal orang lain tempat kita ngangsu kawruh (menimba ilmu pengetahuan) itu belum tentu benar dan tidak menyesatkan. Kita lupa pada kekuatan dan kelemahan yang ada pada diri kita masing-masing.

Kita memang perlu banyak belajar pada berbagai orang yang memiliki pengetahuan luas untuk pencerahan, tetapi orang lain atau guru tersebut bukanlah penentu akal dan budi kita. Akal dan budi kita hanya diri kitalah yang dapat merasakan, memahami, mengetahui dan menentukan. Artinya, tanpa kita mengenal diri sendiri mustahil kita bisa menjadi diri kita sendiri atau pribadi yang otonom. Selamanya akal dan budi kita dekendalikan oleh orang lain dengan sistem remote control (pengendalian jarak jauh).

Jika Anda begitu gandrung atau mengidamkan pribadi otonom, maka belajarlah mengenali diri sendiri. Siapakah Aku? Untuk apa tujuan hidupku? Apa kelemahan-kelemahan dan kelebihan-kelebihan diriku? Maukah aku terus belajar untuk memperbaiki semua kelemahanku? Maukah aku membagi kelebihan-kelebihan yang aku miliki untuk orang lain? Bisakah aku merasakan bahagia ditengah-tengah kesedihanku? Bisakah aku merasa sedih ditengah-tengah kebahagianku? Mampukah aku menerima kenyataan yang menyedihkan dengan perasaan biasa? Mampukah aku menerima kenyataan yang membahagiakan dengan perasaan yang biasa pula?

Pertanyan-pertanyaan itu cukup mendasar yang tidak mungkin dijawab dengan benar oleh orang lain. Hanya pribadi kitalah yang mampu menjawabnya dengan benar, sebab “akal dan budi” kita hanya bisa kita bentuk dengan benar apabila kita telah mengadakan penyelidikan yang mendalam tentang siapa diri kita. Semakin banyak kita berbohong terhadap diri sendiri, semakin sulit kita menjadi pribadi yang otonom. Kita bisa berbohong terhadap Tuhan maupun kepada orang lain, tetapi bagaimana mungkin kita bisa berbohong terhadap diri sendiri?

Contoh kasus, banyak orang yang berprilaku kejam yaitu menjadi teroris. Padahal, andaikata para teroris itu mau belajar untuk menjadi pribadi yang otonom, maka tidak mungkin mereka akan terjerumus dengan pikiran orang lain yang ditanamkan pada akal budinya. Akal budi kita, kita sendirilah yang menentukan sebab kita sendirilah yang paling tahu bagaimana kita akan membentuk kehidupan untuk diri kita sendiri.

Para teroris atau orang-orang yang hanya manut grubyuk dan monhtak manthuk (manggut-manggut) saja, adalah pribadi-pribadi yang “hilang” dari jagad kecil dirinya sendiri. Mereka tersesat dalam belantara ide orang lain. Kita patut mengasihani pribadi-pribadi yang hilang ini, kita patut menuntunnya untuk bisa kembali menemukan jalan menuju pada “dirinya sendiri”.

Kebenaran itu tidak perlu banyak teman (bolo sing akeh), sebab teman kebenaran hanya butuh fakta dan kuncinya adalah logika. Seseorang yang ingin menjadi dirinya sendiri, hendaknya lebih banyak belajar pada kasunyatan. Kasunyatan adalah fakta dan fakta bisa kita pelajari melalui hukum-hukum alam semesta yang tidak pernah berdusta. Sebab alam tidak memiliki kepentingan politik dan kekuasaan. Kepentingan alam adalah “bekerja sesuai dengan hukum-hukumnya” yang tidak mungkin bisa kita suap dan tidak bisa kita bohongi.

Duplikating alam semesta itu sesungguhnya ada dalam tubuh dan pikiran kita. Jika kita mampu mengekplorasi atau menjelajah pada “jagad kecil kita”, niscaya kita akan selamat dari bencana karena kebodohan dan ketidaktahuan kita. Dalam jagad kecil kita ada matahari, bulan, bintang, tanah, air, api, udara, hutan belantara, dan aneka binatang baik yang buas maupun yang jinak dalam wujudnya yang berupa “sinyal” atau simbol-simbol. Sistem kerja tubuh kita mengikuti alur kerja alam semesta. Oleh karena itu kita perlu belajar banyak dari alam semesta untuk memparalelkan dengan mekanisme kerja tubuh kita.

Guru sejati kita adalah alam dan diri kita, bukan orang lain. Orang lain betapa pun mengaku dirinya sebagai orang pintar atau mengaku siapa pun, tetaplah bukan guru yang tak pernah berbohong. Bukan guru yang tak memiliki kepentingan-kepentingan tersembunyi. Hati-hatilah dengan peran guru, sebab guru yang baik bukan guru yang meminta tetapi guru yang senantiasa memberi dengan kelapangan hati nurani.

Guru yang lebih banyak memberi, pasti sedikit jumlahnya. Sebab, guru tersebut pastilah seseorang yang sudah memiliki “harta berlimpah”, harta tersebut berujud karunia hati. Karunia hati inilah yang selanjutnya akan mengantarkan kita dan menuntun kita untuk “mengenal dirinya sendiri”. Bukan dengan cara mistik tetapi melalui pendekatan kawruh jiwo (pengetahuan mengenai jiwa yang sesungguhnya).

Tugas guru tersebut hanya mengantarkan. Jadi sama sekali tidak meminta dan menanamkan doktrin kebenaran berdasarkan idenya sendiri.

Selamat berjuang untuk menjadi pribadi yang otonom. Pribadi yang otonom bukanlah pribadi yang rakus, iri dan dengki, suka berbohong dan mengumbar nafsu angkara murka. Pribadi yang otonom adalah pribadi yang menikmati hidupnya apa adanya (tidak neko-neko) tidak menginginkan sesuatu yang diluar kemampuannya dan mau menikmati tugas yang diemban dengan penuh tanggungjawab.

Saya percaya, semakin banyak masyarakat kita yang mau menggali dan mengamalkan prinsip “jati diri”, maka mental dan budaya bangsa Indonesia perlahan-lahan akan bangkit menuju abad pencerahan perpikir dan bersikap. Tanpa revolusi cara berpikir, tidak mungkin bangsa Indonesia akan bisa meraih kejayaan. Kita akan menjadi bangsa yang maju hanya apabila kita mampu mengubah pola pikir (mind set) dari pemikiran tradisional yang lekat dengan feodalisme, tahayul dan mistik menjadi progresif revolusioner berdasarkan rasionalitas dan tanggungjawab pribadi yang tinggi.

Sedikit ajaran Epikurus (341-270 SM), sebagai penutup tulisan ini. Bagi Epikurus kodrat manusia adalah mencari “kesenangan”. Tetapi, banyak penderitaan lebih pantas dipilih apabila dengan penderitaan itu lambat laun mendatangkan kesenangan yang lebih besar bagi kita. Jadi setiap kesenangan, sesungguhnya adalah sesuatu hal yang baik, namun tidak seharusnya kita mencari setiap kesenangan dengan menempuh jalan apapun. Setiap penderitaan sesungguhnya suatu hal yang buruk, namun tidak seharusnya kita menghindari setiap penderitaan.

Menurut Epikurus, kesenangan tertinggi adalah kesenangan jiwa atau ketenangan jiwa yaitu jiwa dalam keadaan yang sejahtera. Memperoleh ketenangan jiwa ini adalah kemungkinan ultim manusia selama hidupnya dan makna seluruh keberadaannya. Untuk kebahagian sedemikian itu, sebetulnya kita tidak memerlukan harta benda yang berlebihan, karena manusia batiniah itu sebenarnya sudah memilikinya lebih dari cukup. Ketenangan hati dan kedamaian jiwa membuat kita tak tergoyahkan dalam segala situasi kehidupan ini.

17 responses »

  1. kadang…menjadi diri sendiri juga masih harus mempertimbangkan orang lain..jangan sampai menjadi tegar egois berkilah menjadi diri sendiri, sementara mengorbankan orang lain…

    **********
    benar sekali Mbak, kita hidup tak akan bisa terlepas dari peran orang lain *sebutir nasi yg kita makan adalah dari saling keterkaitan*.😀 hidup itu solider bukan soliter

  2. menjadi oribadi yang otonom seringkali bukan hal yang mudah di tengah2 mayarakat yang demikian kuat kuktur kolektifnya. sepanjang kita bisa memanage diri dengan baik, menurut saya kok, kita juga tidak akan mudah terjebak melakukan tindakan2 tak terpuji. kita pun juga mesti menghargai pendapat, saran, dan komentar para tetangga kiri kanan ketika kita melakukan aktivitas tertentu.

    **********
    sama dengan jawaban saya dengan Mbak Icha di atas Pak😀

  3. pelajaran berharga banget buat gw. tmakacih banget pak tom.
    kadang keraguan yang merajalela bikin sesuatu yg telah dipikir matang2 mjd goyaaah 😦 … siip deeeh.. heheh .. spt motoku dulu first step design ur self hehehe😀

    **********
    thank you Bu, saya suka itu first step design yourself😀

  4. COCOK ITU MAS TOMMY…. (berarti aku ikut anut grubyuk ra ngerti rembuk… ikut-ikutan dong sama mas Tommy ) enggak gitu maksudnya…. intinya tidak perlu egois untuk menjadi diri sendiri, untuk mengenal jati diri, menjadi diri yang otonomi, benar mas Tommy tidak salah, memang kita tidak boleh hanya ikut-ikutan (penganut), kita harus OTONOMI(nyipta), Namun karena kita berada didua alam (nyata dan abstrak). HOMO HOMINI LUPUS DAN HOMO HOMINI SOSIUS. Dengan akalku..(entah akal sehat atau akal sakit) maka toleransi sangatlah dibutuhkan (roso lan rumongso …walau kita harus bersandiwara…) pandai-pandailah kita bersandiwara itu jika kita di dunia nyata. (YANG NYATA JADI ABSTRAK dan YANG ABSTRAK JADI NYATA) Dunia mana yang mau kita pakai ? kenyataan ? maka kita sebaiknya mengikuti arus menjalankan peran kita, namum kadang aku juga harus hidup di dunia maya (SIR) yang tidak boleh orang lain ikut campur dengan urusanku. DISINILAH …..tempatnya yang seharusnya kita tidak boleh sedikitpun bergeser oleh siapapun kecuali sang guru sejati yaitu sang pamomong, kita adalah kita, aku adalah aku, JATI DIRI BUKAN EGOIS… tapi tempatnya di SIR, anut grubyuk ra ngerti rembuk bukan berarti ikut-ikutan (ngenaki wong liyan)..DUNIA PANGGUNG SANDIWARA. ayoo kita temukan jati diri sampai menghembuskan nafas terakhir.
    salam sejahtera buat Mas Tommy, sukses selalu !!!

    **********
    kamu kecil2 cabe rawit ya😀

  5. Tugas Guru hanya mengantar, saya terkesan dengan kalimat ini Mas Tommy. Juga tentang Jati Diri, dan saya saat ini masih terus menggali Jati Diri Saya.
    –salam–

    **********
    mari terus lanjutkan pelayaran kita dg phinisi menuju pantai seberang😀
    –salam hangat–

  6. setuju sekali pak guru..
    jika kita adalah yang orang lain pikirkan..silakan mati saja.

    **********
    waduh jangan sampai mati dong😀
    manusia adalah makhluk subjektif, aku subyek demikian pula kamu
    apa yang aku pikir tentang kamu adalah subyektivitasku tentang kamu, pembacaanku tantang dirimu😀

  7. simbah pernah bilang..
    “le, kalau kamu mencari jati diri karena ingin menjadi diri kamu sendiri.. jangan sampai kamu menjadi manusia egois. kenapa? karena jati diri itu bukan egois.. dan itu letaknya di hati.. ya udah, sekarang dah sore.. sana sekarang mandiiii…. ”

    🙂

  8. Menjadi diri sendiri perlu, namun juga harus mempertimbangkan apakah tingkah laku kita akan mengganggu lingkungan sekitar?

    Sebagai umat yang diberi nalar, maka justru setiap tingkah laku harus dipertimbangkan masak-masak. Kalaupun ada saran dari orang lain, juga tetap dinilai apa sarannya sesuai apa tidak.

  9. BAJIGUR tenan iki Kang Tommy,
    Aku mung biso MAnthuk-manthuk lan godheg-godheg wea loh…

    Hmmm…KEBENARAN kuwi sejatine WUJUD sing OPO ANANE tanpo TEDHENG ALING-ALING…

    Lah menjadi DIRI sendiri kuwi pancen sekilas koyo EGOIS, kenopo…?? Jaman saiki pancen ora akeh Menungso sing dadi DIRINYA SENDIRI.

    Menjadi DIRI SENDIRI bukan berarti lantas mau berbuat sak KEPENAK UDELE dhewe. Karena orang yang sudah bisa menjadi dirinya sendiri akan mengenal Tuhan-Nya. lah kalau sudah kenal Tuhan maka 99 sifat itu terangkum dalam tindak-tanduk dan perbuatan menungso.

    Orang yang sudah menjadi DIRINYA SENDIRI itu bukan karena FRUSTASI menjalani hidup, melainkan karena telah memahami ” SEJATINING URIP “.

    Lah…lah…Kang URIP mau neng endi yah….
    Kabuuuuuuuurr…nguber kang URIP.

  10. waduh, angel kiy…

    Pemahaman kebenaran tu butuh elmu, mengenal diri sendiri juga butuh elmu. lha elmu itu macem2, ada elmu agama, elmu sosial, elmu alam, elmu serat jiwa, lsp.
    Intinya, kita perlu elmu sebagai referensi diri kita untuk memahami hidup. sebab tanpa elmu kebenaran menjadi absurb, ngga nyata!

    menurut elmu, jaran itu ya jadi tunggangan, dirawat dan dikasih makan. nggak terus dituntun dibawa mloka-mlaku. itu saru!

    Pribadi otonom itu juga perlu elmu, potensi diri juga digali harus dengan elmu, sebab tanpa elmu ya gak bakalan ngerti yang bener dan gak bener. Kalo kebetulan ngertinya elmu sing keliru, bisa jadi orang tersebut memiliki pribadi otonom yang ‘nyleneh’ karena kebanjur ‘keliru memahami hidup’.

    Jadi, ‘tiru-tiru’ mungkin bisa jadi salah satu karakter ‘pribadi otonom’ manusia,
    sebab, menurut teori elmu sosial si Aristoteles yang berbunyi ‘the fittest will survive’, tafsirnya : ‘pribadi yang pandai beradaptasi (meniru karakter orang/lingkungan/benda lain) yang akan menang (dalam kehidupan)’

    Inti kebenaran hidup itu bisa ketemu kalo kita sudah mati. jadi kalo kepengin ngerti ‘sejatining urip’ ya matilah dulu!. gitu koq repot.
    Yang penting kita berusaha urip bener di menurut agama, tradisi, etika dan budaya masyarakat kita, itu sudah cukup.
    Gitu mas…. Biar pating pecothot, sing penting salam kenal!

  11. Saya lebih suka menjadi pribadi yang manjing ajur ajer, ning ora kejer. Menyesuaikan dengan pranata lingkungan setempat tanpa harus kehilangan jati diri dan hal-hal prinsip dalam dari saya. Masuk kandang kambing mengembik, masuk kandang kuda meringkik, masuk kamar istri melenguh😀, tentu tanpa harus menjadi kambing atau kuda.

  12. xixi, setujuuu…
    tapi kan nggak selamanya menjadi diri sendiri (yang kadang diartikan juga egois oleh orang lain) itu nggak peduli apa kata orang. seperti kata bang tomy, nggak ada sesuatu yang ideal yang bisa terjadi di dunia ini. semua hanya ada di alam khayal. begitu juga dengan menjadi diri sendiri. kalo terlalu cuek juga bisa2 dianggap egois dan tak tau diri. terlalu dengar apa kata orang juga bikin kita jadi bunglon yang nggak punya warnanya sendiri. yang penting kan kita tau warna kita, dan punya batas resistensi sendiri, dimana setelah batas itu orang nggak punya hak mengusik apapun mau kita (tapi jangan lantas dijadikan alasan untuk semaunya sendiri). ah, au ah. aku juga masih bingung dengan batasan2 itu. perlu cuci otak neh. hehehe.salam,,

    -kupu kupu liar-

  13. wah aku terlambat baca nih ….. kalau dari dulu sudah baca ini … mungkin ceritanya jadi lain😀

    karena sejatinya aku ini adalah peragu dan pemalu … jadi mendapat pelajaran dari Mas Tomy ini sangat berguna untuk mawas diri .. dan lalu percaya diri …

    terima kasih atas pemahamannya.

    **********
    kembali kasih😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s