PEMBACAAN DALAM SEONGGOK TAI

Standar

Agama di Indonesia selayaknya sebuah identitas bagi manusia yang telah mengalahkan kepribadian manusia itu sendiri. Ia adalah sebuah ’pembedaantara pribadi satu dengan pribadi lainnya, kerumunan manusia satu dengan kerumunan manusia lainnya. Karenanya sangatlah perlu dituliskan di KTP.

Agama menjadi sangat fasis, diakui atau tidak dalam menilai seseorang tak pernah lepas dari melihat juga apa agamanya.

Dalam pada itu, kapitalisme memperoleh ruang dalam agama, atau agama sendiri masuk dalam kuasa pasar demi melanggengkan hegemoninya. Ayat suci yang yang dibisniskan lewat telepon seluler, ceramah agama yang menjadi ’arena tepuk tangan’ dalam acara Dai cilik di televisi, ibadah haji yang menjadi ’hadiah togel’ di Bank Syariah adalah fakta yang sungguh terjadi.

Agaknya kita telah lupa bahwa setiap bulir nasi yang kita makan adalah hasil dari segenap aktivitas manusia yang saling berhubungan.

Bahkan seonggok tai yang kita produksi setiap hari tidak boleh kita akui sebagai hasil karya pribadi. Dalam seonggok tai itu ada saling keterkaitan. Dalam prosesnya ada saling hubungan dari seluruh aktivitas manusia.

Makan dari hasil jerih payah petani miskin, hangatkan diri dari hasil produksi kaum buruh yang diperas & dihisap keringatnya. Itulah diri kita selama ini, yang bersembunyi lewat peribadahan & pemujaan kepada Sang Khalik. Berharap lewat musahabah bersama yang digelar setiap saat, tangis ratapan sesal juga pujian syukur atas anugrah Ilahi membuat kita bebas dari rasa bersalah atas penghisapan manusia yang kita lakukan.

Sesungguhnya tidak adil sejak dalam pikir adalah sesat yang sadar.

Kita dibutakan oleh kepentingan diri, kita yang selalu mencari pemuasan hasrat nafsu. Kita yang tak mampu melihat saudara kita sebelah rumah meregang nyawa karena lapar.

Doktrin SABAR selalu dikampanyekan sebagai SIKEP kaum jelata yang tertindas & dongeng tentang RATU ADIL, MESIAS yang akan datang diceritakan. Semuanya hanya olok2 para pemegang kekuasaan demi langgengnya rezim eksploitatif.

Lebih dari 2000 tahun lalu Yesus bersabda ’Bertobatlah sebab KERAJAAN ALLAH sudah datang!!!’

KERAJAAN ALLAH, adalah Allah yang meraja dalam tiap hati manusia. RATU ADIL yang benar2 ngratoni telenging ati. Manusialah Sang Ratu Adil sejati dalam hidup, saat tiap pribadi menyadari bahwa ia tak akan bisa hidup tanpa adanya orang lain.

Jangan tinggal mengaharap datangnya RATU ADIL tapi berjuanglah mencapai JAMAN ADIL. Dengan memulai dari diri kita melalui hal2 kecil dalam hidup, seperti kalau menerima uangnya tidak haram😀 (diperempatan jalan mustakane mesjid dipetongkrongke karo ditabuhi njaluk sedekah) berarti menerima uluran tangan sesama kita yang beda agama & sekedar ucapakan selamat hari raya juga pastinya tidak haram.

Sampai akhirnya nanti bila SANG RATU ADIL benar-benar datang kita tidak perlu takut diadili.

Akhir kata, pertanyaan saya tetaplah sama ”Sudahkah agama membebaskan? Penerimaan takdir bagi yang satu, sedang bagi yang lain legalisasi nafsu?”

Wahai Para Pembela Tuhan yang berteriak paling lantang

Masuklah dalam bilik kecilmu

Bacalah…

Bahkan lewat najismu Tuhan juga menyapamu

16 responses »

  1. sungguh, pertanyaa akhir yang menohok pemikiran dan penalaran awam saya, pak tomy. selama ini saya merasa bahwa agama telah banyak dimasukkan pada wilayah publik yang dimitoskan melalui dogma dan fatwa-fatwa. agama yang semula menjadi identitas pribadi disadari atau tidak telash menjadi identitas massa di mana di situ unsur2 primordialisme saling menguatkan. akhirnya, jadilah agama massa yang suka mengklaim diri sebagai agama yang paling benar.😈

  2. @ sawali –😀 hehehe tulisan saya susunannya memang kacau setelah saya baca lagi. tapi maksudnya memang seperti itu Pak. saya adalah predikat yang menempel pada saya, bukan siapa sesungguhnya saya sendiri. lalu mengotakkan diri melupakan kuantitas & kualitas apa saja yang membentuk diri saya ini. yang ternyata seonggok taipun bukan milik saya seutuhnya, ada bagian hidup lain yang saya lupakan.

  3. Ratu ADIL, Satrio Paningit, Satrio Pinandhito Sinisihing wahyu, Imam Mahdi dll.
    Hanyalah sebuah SIMBOL ” KEMANUNGSAN ” yang telah menyadari akan KODRAD dan IRODADNYA sebagai hamba yang selalu ELING dan WASPODHO dalam setiap tindak tanduknya.
    Selalu mengedepankan sikap WELAS ASIH ( Rahman dan Rahim ) diantara sesama makhluk.

    Yah…yah…Kadang AGAMA telah membuyarkan KESUJATIAN DIDRI manusia seperti yang telah disampaikan oleh P. Sawali. Penuh MITOS-MITOS yang diejahwantahkan melalui DOGMA MENGIKAT
    dengan JARGON-JARGON kalau gak sesuai dengan teks book Kitab Suci INI…pasti SALAH dan SESAT….Pedahal teks boook Kitab Suci itu sesungguhnya bersifat DINAMIS namun aplikasinya dibuat STATIS bahkan diposisikan melebihi Tuhan itu sendiri.

    Jadi sudahkah AGAMA telah MEMBEBASKAN manusia…???.

    Mondar-mandir cari Suryo Kontho….
    mengamati…melihat….Kok masih dominan saling KLAIM KEBENARAN yah…ah…masih JAUH dari TUJUAN….

  4. Memang kadang tidak perlu mencampur aduk… hanya saya punya pendapat yang masih sementara dan nantinya saya sendiri tidak tahu… yang jelas sekarang…..
    kita tidak kuasa memiliki (ORA NDUWENI) BAGI PENERIMA TAKDIR dengan LEGALISASI NAFSU hampir tidak berbeda….. (tan ra bedo jarene santri gundul) selama hayat masih dikandung badan nafsu takkan hilang….. roso lan rumongso… wolak-walik dekok……majukena mundur kena….. menthok mas arjun

  5. Sama hal-nya .. ketika kata kata tertulis di blog ini, yang kita produksi setiap hari … tidak boleh kita akui sebagai hasil karya pribadi — maaf meminjam kalimat mas Tommy — karena ada saling keterkaitan. Dalam prosesnya ada saling hubungan dari seluruh aktivitas manusia.

    Kita bisa menulis, karena jasa orang tua atau orang yang membiayai kita untuk sekolah. Pun ketika kita sudah bisa mengolah pikiran, karena jasa guru-guru sejak TK hingga PT atau jasa senior-senior (buat yang tidak sekolah).

    Ketika kita online .. semua ada kaitan dengan jaringan telekomunikasi dan jasa provider. Belum lagi kalo kita online nya di warnet .. berapa banyak jasa-jasanya.

    So .. memang kita tidak bisa hidup sendiri. Semua ada kaitan satu sama lainnya .. itulah indahnya kehidupan.

    Sampai datanglah masa kapitalisme, masa dimana segala jasa dan produksi digantikan dengan satuan yang disebut uang. Sebelum uang ada .. dilakukan dengan barter.

    Karena uang lah .. hubungan itu seperti terputus kan. Ketika kita sudah mengeluarkan uang untuk jasa internet, uang untuk sesuap nasi, uang untuk sekolah .. kita merasa telah membalas ‘jasa’ yang telah diberikan atau dijual mereka.

    Hidup jadi ‘terasa’ kejam hanya karena sudah tergantikan dengan satuan mata uang. Harga diri mu seperti itu. Bahkan untuk membuang hajat pun, digantikan dengan uang.

  6. @ santri gundhul – sarujuk Mas Gun😀 ini adalah komitmen saya pribadi untuk tidak berhenti IQRO’, pembacaan akan selalu dilakukan dalam perjalanan hidup, seperti kata njenengan teks book kitab suci bersifat dinamis, akan selalu tersingkap kebenaran yang lain selaras perkembangan hidup & kedewasaan kita

    @ Ki bodronoyo – kita akan selalu semaya KI kalo benar2 dihadapkan pada kebenaran sejati😀

    @ ekapratiwi – wolakwaliking ati, atining sundari kang kena luguting pring ori, ngaten nggih Dhik

    @ erander – itulah Pak uang hanyalah sekedar alat tukar namun beralih fungsi manusia menukarkan hidupnya demi uang *keluh*

  7. Semua yang diberikan Gratis oleh Tuhan……….kamu jual…….?????????????
    bahkan sekarang harus membeli udara bersih (imbalan bagi negara yang memelihara hutan tropis), air bersih, bahkan tanah untuk mengubur diri kitapun harus pesan jauh-jauh hari sebelumnya. Bahkan Api juga mulai diperjual belikan ?

  8. @ rindu – ah saya seperti marah ya😥 saya cuma mau sampaikan bahwa sering kita terbuai oleh pembahasan2 agama yang hanya bersifat lahiriah saja, padahal sesungguhnya ada persoalan kemanusiaan yang sangat mendesak kita tangani yang harus mengesampingkan segala perbedaan tetek bengek agama, & bukankah sejatinya kita semua sama😀 juga tak bisa hidup tanpa orang lain

    @ daeng limpo – bahkan manusia *dan hidupnya* juga menjadi komoditi😥

    @ ario dipoyono – itulah kenyataan hidup😀

  9. kebanyakan orang secara tidak sadar sering mempraktikkan NATO alias NO Action Talk Only..
    ntah karena gak sadar ato emang sudah terbiasa..

    yups..
    jangan mengesampingkan ampe melupakan persoalan kemanusiaan disekitar kita.. siapapun itu, dari agama mana pun mereka..
    setuju..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s