AGAMA & KODOK

Standar

Bangsa Indonesia selalu bangga akan predikat sebagai bangsa yang religius, yang berketuhanan yang maha esa. Sebuah predikat konyol yang hanya dilihat dari banyaknya tempat ibadah& makin fasisnya jemaat. Bukan dari kualitas hidup manusianya.

Tuhan yang seharusnya berada dalam ’ranah pribadi’ yang akan membentuk kualitas hidup manusia menuju kepenuhannya ditarik ke ’ranah publik’ yang sarat dengan berbagai kepentingan.

Lalu strategi disusun & siasat dijalankan. Kolaborasi kekuasaan & agama membentuk Majelis kaum ulama sebagai pemegang hegemoni, yang akan berfatwa tentang berbagai hal dalam benar-sesat pun halal-haram. Dalam dogma & hukum yang mengatasnamakan Tuhan manusia telah menjadi komoditi yang paling berharga.

Teringat kata Pujangga Besar Ronggowarsito ”Gereja rata Mesjid kanggo saba pitik”. Manusia gagal mengetahui jati dirinya karena ia hanya sebuah predikat kelembagaan yang mangatasnamakan Tuhan, ia cuma komoditi, budak dari suatu kepentingan (disadari atau tidak).

Sebuah cerita tentang katak :

Musim ini musim penghujan

Dikatakan sebagai bulan-bulan penuh kemenangan

Setiap hari turun hujan

Demikian juga berkat & rejeki mengalir layaknya air hujan

Katak katak bernyanyi

Diiringi terbang & rebana

Riang gembira bersahut-sahutan

Kuung Koong Reek Koong

Hidup senang si kodok bangkong

Kuung Koong Reek Koong

Banyak uang tebal kantong

Hari makin malam

Katak-katak mulai mencari pasangan

Bersembunyi dibalik semak

Dalam empuk hangatnya peraduan

Cintaku oh sayangku

Betapa molek indah dirimu

Biar kunikmati surga ini

Berkah karunia Ilahi

Puas sudah si katak

Segalanya sudah terlampiaskan

Segera keluar dari semak

Bersuci diri masuk kubangan

Kembali mereka bernyanyi

Riuh rendah naikkan puji

Kuung Koong Reek Koong

Hidup senang si kodok bangkong

Kuung Koong Reek Koong

Banyak uang tebal kantong

…………..Musim ini musim penghujan

…………..Dikatakan sebagai bulan-bulan penuh kemenangan

11 responses »

  1. Itulah bahayangnya, Pak Tomy, ketika Tuhan dan agama sudah dilembagakan dan diformalkan dalam sebuah institusi. atas nama agama dan Tuhan, para pemegang hegemoni kekuasaan itu merasa sebagai juru bicara kaum beragama yang mesti diikuti semua fatwa dan dogmanya. mereka yang tidak sepaham tak segan2 dikafirkan. btw, apa memag agama telah menjadi sebuah komoditi, pak, hehehehe, sehingga mereka yang sukses memperjualbelikan agama selalu nyaring bernyanyi seperti kodok bangkong itu, hehehehehe🙂

  2. Lah…lah….
    Kenyataannya, faktanya, Negeri ini yg konon katanya dihuni oleh manusia-manusia yang RELIGIUS heks..heks…tapi baru dilevel Penampakan LUAR maksudne. Nek jarene sampeyan kan hanya sebatas ” PEMULASAN LAHIR “….betul..betul…kiks..kiks…

    Lihat saja sekarang ini, AGAMA sudah merambah dunia POLITIK dan dijadikannya sebagai kendaraan….
    Lah…apakah Agama akan bisa menjadi simbol KEDAMAIAN…dalam kancah POLITIK…??.

    Agama sudah tidak bisa lagi menjadi JALAN DAMAI bagi siap saja yang melaluinya…
    Agama telah dijadikan alat dan sarana untuk MENGHAKIMI sesama makhluk…

    Mungkinkah kita sudah LUPA…
    Mungkinkah kita sudah LALAI…
    Atau…
    Mungkinkah kita telah SELINGKUH…

    Hingga kita TIDAK sanggup lagi untuk MENJADI DIRI sendiri…sebagai makhluk yg telah diciptakan Tuhan..??

    Nggelesod….mengamati sang KODOK…

  3. @ sawali – agama tidak sekedar komoditi Pak, seperti halnya kapitalisme agamapun telah membuat manusia menjadi komoditi

    @ rindu – setuju sekali, itulah yang saya katakan bahwa agama adalah ranah pribadi, yang sayangnya demi kepentingan agama telah ditarik menjadi ranah publik

    @ santri gundhul – liyep-liyep layaping ngaluyup mendengar nyanyian kodok

    @ gempur – ini hanya sebuah pembacaan saya terhadap sifat kodok dengan perilaku para pemegang hegemoni kok Pak

  4. JAGAD TAN SOYO RAME
    Panggonan kang wingit wis padang, kaniasan lampu lan bangunan
    setan-setan podo nggolek panggonan, nanging poro setan kebingungan. mergo wit-witan wis kanggo rebutan (jarah hutan) setan sidang mlebu kamar sembayang, setan membo-membo aweh nggo padang, nganti ra kroso jebul negoro bangkrut utang (kasus kredit macet)
    JAGAD TAN SOYO INDAH
    BLOGER PEMULA MBAH… NYUWUN SEWU
    menungso rame podo golek wah, nganti wedi keno belet sawah, sak-iki wis ora ono medi sawah mergo sawah wis dadi omah. manungso sing ora biso urip wah rame-rame podo ngulu ngalap berkah kiblat wis ora ono nimg mekkah nanging ono panggonan sing salah. kiblat pindah ono ing kuburan sing nggowo sejarah.
    ning kono manungso podo ngalap berkah kasebab wong urip sak-iki podo susahketambah roso resah mergo negoro tambah AKEH masalah.
    RAMENING JAGAD INDAHING JAGAD
    Koyo-koyo bumi meh kiyamat. (Tsunami, gempa, Lapindo dll) manungso ngomong sak-omong lali ora nggowo kalimat opo maneh bab sholat, koyo percoyo roso ati lungo minggat.
    ONONE WEDI LAN WEDI
    urip nang negoro iki rasane tan soyo nggegirisi, koyo wis ora ono menungso sing dipanuti,
    maling gede podo minggat maling cilik podo disikat, untung isih ono dino jumat
    JAGAD RA SIDO KIYAMAT heks….heks….heks…

  5. agomo wus kadya wedhak pupur. pecis kaji kanggo nutupi olehe korupsi. sujud rukuk kanggo panyamun olehe colong jupuk. donya wis kuwalik-walik. malinge wis wiwit tobat, malah kyaine ganti nyolong pitik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s