Katakan “YA” pada Hidupmu

Standar

Dag Hammersjold berkata,

“Terima kasih untuk semua yang telah berlalu

terjadilah yang akan terjadi

ya, aku terima”.

Kuandaikan ruang kosong dalam otakmu butuh sesuatu yang disebut Tuhan. Jadi setiap ada kekosongan dalam dirimu kau melarikan diri kepada Tuhan.

Ia telah menjadi semacam pelarian bagi jiwamu, semacam ekstasi yang kau butuhkan saat kau mengerut dari kenyataan.

Lalu kau puja dengan mengatakan “Aku mencintaiMu Tuhan lebih dari apapun di dunia ini”.

Kutanya bagaimana caramu mencintaiNya? Ia tak seperti manusia yang dapat dilihat, didengar atau disentuh. Ia bukan seorang pribadi sebagaimana kita mengerti arti kata ini. Karena Ia hanya persepsi / angan2 pengisi ruang kosong. .

CG Jung menjelaskan dalam Imago Dei, imaji mengenai sosok Tuhan yang tertanam dalam jiwa tiap manusia. Mendorong manusia untuk menempatkan entitas tertentu sebagai kekuatan yang berada di atasnya. Saya beranggapan agama cuma pelarian manusia saja yang tak berani mengambil tanggungjawabnya atas hidupnya sendiri
lalu coba mencari pemaknaan suatu entitas lain yang jauh lebih berkuasa dari dirinya, sebut aja Tuhan
Bagiku (jangan percaya..), mencintai Tuhan dengan seluruh hati berarti dengan seluruh hati mengucapkan kata ‘YA’ kepada kehidupan & segala peristiwa yang terjadi didalamnya, menerima tanpa syarat segala sesuatau yang direncanakan Tuhan dalam hidup ini, mengambil & membuat keputusan akan hidupnya & bertanggungjawab penuh atas keputusan hidup itu
Maka Tuhan akan benar2 hidup di hati, dengan kata lain kita benar2 mengalami Yang Illahi, bukan sekedar suatu entitas diluar sana atau ruang kosong dalam benak yang jadi tempat kita membuang tanggungjawab karena tak berani menghadapi HIDUP

Mari kita ambil tanggung jawab itu. Jangan Tuhan diseret-seret sekedar untuk menutupi ketidakberanian kita bertanggungjawab atas hidup,

pembenaran akan ketidakmampuan kita mengelola nafsu.

16 responses »

  1. wah, sudah lama pak tomy tidak mng-update tulisan ya, pak, hiks. kayaknya sedang sibuk banget, yak! tapi begitu mosting langsung menghunjam ke lubuk kesadaran manusia dalam eksistensinya sebagai makhluk yang harus selalu berpikir, “aku berpikir, karena itu saya ada,” kata rene descartes. postingan pak tomy ini mengingatkan saya akan ucapan yang sepele: “orang harus berani mati dalam menghadapi tantangan hidup.” sepele, tapi sebenarnya sangat dalam maknanya. ketika tantangan hidup yang seharusnya disikapi dg sikap pasrah, bahkan terjebakpada sikap predistinasi, itulah yang bikin repot. orang sering melakukan pelampiasan dg cara2 yang justru bertentangan dg hakikat hidup itu sendiri. ketika orang korupsi, dia pura2 jatuh sakit, dg harapan proses hukumnya ditunda. apakah hal itu bisa dikatakan bertanggung jawab atas tindakan dan perbuatan yang telah dilakukan? *walah, kok ndak nyambung, yak?*
    Tapi, saya sepakat apabila kita sudah tak berdaya menghadapi tantangan hidup yang rumit dan kompleks itu, kita perlu bersandar pada kekuasaan Tuhan. tapi ini perlu landasan religi yang kuat, tidak asal anut grubyug ora ngerti rembug. Benar pak tomy,. kita harus mampu mengatakan “ya” pada hidup kita. bukan melakukan pelarian2 mistik yang justru akan meakin menghancurkan manusia pada hakikatnya sebagai makhluk yang berpikir itu tadi. well, ok, pak, semoga makin banyak manusia yang makin menyadari eksistensi hidupnya. salam kreatif, pak tomy!

  2. masalahnya, hati katanya bolak-balik. kadang mengangguk, kadang menggeleng. kalo bahasa Jawa niat itu kan disebut “net”. tidak ada kata-katanya, sehingga ucapan mulut hanyalah manifestasi niat. ya ya ya… lho? *gak nyambung*:mrgreen:

  3. Bang… usul boleh ya? Ane demen ama blog abang, tafi suka sakit mata kalo bacanya, template-nya keiteman…🙂 Eh, ini cuman saran dari sahabat setia abang loh…

    Ya… Kami dengar dan kami taat, sami’na wa atho’na. Begitu pan sikap yang sekudu-na ada fada setiap manusia terhadap Tuhan dan firman-firman-Nya. Ah, ane kagak bisa kasih komen pak… masih belajar🙂

  4. kesadaran ilhiah memang sangat subyektif. pengalaman subtektif yang tak terbendung. Dan “Ya” untuk kehidupan adalah bentuk Syahadat itu sendiri atas proses menuhan.. Tuhan hadir manakala ruang kosong itu kita nyatakan untuk-Nya.. Ia lantas menyelimuti dan mengalami kita..

    Tulisan ini sangat menyentuh kesadaran akan kosongnya saya.. saat mengosong itulah kesadaran menuhan demikian merasuk..

    maaf, pak… saya terharu dan merinding tercekam betul akan pengalaman subyektif kemarin.. tulisan ini membangkitkan memory saya..

    pareng rumiyin pak!

  5. @sawali -ya Pak banyak kerjaan nih. satu yang ingin sy samapikan pendidikan sejati seharusnya bisa membebaskan orang muda dari internalisasi & indoktrinasi nilai2 yang telah dianggap ’BAIK & MULIA’ yang harus diterima saja tanpa boleh dikritisi.:mrgreen:

    @danalingga – Tidak ada yang melebihi kesucian mereka yangb telah belajar menerima secara sempurna apa saja yang akan terjadi.

    @siti jenang – nggih makaten niku Mas Jenang

    @ cabe rawit – wah senang ada fans😀 oke deh ntar saya bikin yg bagus

  6. @gempur – Hanya dalam kekosongan diri, saat eling atas keberadaan kita, saat sungguh2 berada ’disini’, kita dapat menghargai hidup ini & berhubungan kembali dengan perasaan yang ajaib bahwa kita HIDUP di dunia ini.😀

    @ Daeng Limpo – Amien Pak Daeng

    @ Fajar Wisnu – Ilmu sejati digelar diatas dunia dalam 4 tahapan : syariat, tarekat, hakekat & makrifat
    Darmogandul menggelar sekaligus menggulungnya (Ilmu Sejati):mrgreen:

  7. whua… keren…Say Tes to your life, say no to drug… haiya.. kayak kampanye narkoba aja… hiks.. yang jelas kalau kita say yes to our life… mesti akan menghindari narkoba.. bener gak seh

  8. Rasa-rasanya KONEK juga dengan kejadian sakit yg barusan aku alami neh…YA aku sudah sembuh..begitu suara itu menggelora, tapi Dokter gak percaya…dan dia malah asyik dengan ANALISA dan OBSERVASI AKADEMISNYA…yah nginep deh 8 hari di rumah sakit….
    Andaikan aku bukan Karyawan…ceilleh…dah kabur hari kedua.

    Hmmm…hmmm…
    Sering kali kita mendengar dari banyak orang tentang ajakan untuk ” MENCINTAI TUHAN “. Namun lagi-lagi penjabarannya gak tuntas malahan kadang MBLARAH. Saya kadang berpikir Tuhan itu WUJUD ( ada ) tapi orang Jawa bilang ” ONO ning Tankeno Kinoyo Ngopo “. Lantas bagaimana kita bisa mencintai yang ADA tapi TIADA…??. Cukupkah hanya dengan menjalankan RITUAL keagamaan..?? Cukupkan hanya dengan Dzikir saja..?? Jika kita menyadari bahwa kita adalah HAMBA, maka sudah selayaknya kita dalam hidup ini harus MELAYANI-Nya, namun lagi-lagi kita dihadapkan pada keadaan yang TIADA. Bagaimana bisa kita melayani sesuatu yang TIADA..??
    dan mungkinkah kita bisa MENCINTAI-NYA…??. Mencintai sesuatu yang ADA namun TIADA..?? Disinilah akhirnya kita benar-benar dituntut untuk MENYELAMI Samudera BATIN dan masuk dalam KESADARAN sang DIRI.
    Diri-ku…Diri-mu…dan Diri-kita…artinya sebagai HAMBA dalam melayani Tuhan harus ada WUJUD karya nyatanya, ada tindakan dan perbuatan yang REALITAS bukan Angan-angan…bagaimana bentuknya…?? LAYANILAH sesama MAKHLUK yang ada di Alam Semesta ini dengan WELAS ASIH, KEBAIKAN dan KEBAJIKAN dengan landasan IKHLAS dan PASRAH menurut Kodrad dan Irodat yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Dengan begitu rasa-rasanya akan KLOP lah peran manusia sebagai Khalifah di muka bumi ini. Yah..yah…kita harus ” Hamemayu hayuning Bawono ” dari situlah akan timbul gerak hidup yang wajar, manusiawi yang patut disebut manusia. Selanjutnya dengan sendirinya akan timbul RASA CINTA kepada sang Khaliq. Bukan dalam bentuk Angan-angan dan pikiran lewat ritual-ritual keagamaan….!!

    Ngeloyor sambil menutup mata NALURI…..dan membuka mata NURANI….

  9. @ toeti – ya sering kita lari dari kenyataan karena tidak berani menghadapi hidup, agama di satu sisi kadang kayak narkoba juga👿

    @ santri gundhul – oalah santri kesayangan Eyang Pamejang bisa sakit juga😀 hehehe.
    betul itu Mas Ndul kalo RASUL utusane ALLAH maka RASA utusane URIP, wong urip kudu duwe rasa myang sepadha-padha ‘memayu hayuning bawana’

  10. jadi teringat sebuah bacaan yang sangat membekas dalam hati saya, judulnya “Mengapa Harus Berserah” di sana saya belajar untuk mengatakan “YA”, tidak bertanya ttg bagaimana atau apa jadinya nanti….

    sebuah perenungan dalam yang mengubah hampir semua ideologi perjuangan hidup yang terengah-engah mencoba bertahan dan menjadi berarti…

  11. @tomyarjunanto
    Setuju. Kasih kepada Tuhan, yang lain menyusul dengan sendirinya.

    “Kalau kau mengasihi Aku, kau akan menuruti perintah-Ku.”

    (Jika P maka Q. Bukan P karena Q atau Q sebagai bukti P. Nggak, ini Jika P maka Q)

    Seperti pertama jatuh cinta itu lho. Dia nyuruh apa aja, langsung kita lakoni. Hehehe. Berbahagialah yang sudah sekian taun nikah tapi tetap jatuh cinta tiap hari. Jatuh cinta kan bikin hati selalu ingin melayani.

    **********
    Terus terang saya nulis diatas karena saya masih belum tahu bagaimana kasih kepada Tuhan itu. Kayaknya cuma manusia saja yang mengsyaratkan segala sesuatu:mrgreen:

  12. @tomyarjunanto
    Minta saja Mas. Minta ditunjukkan seperti apa. Tuhan punya rencana untuk tiap individu. Rencana ini unik. Untuk saya beda, untuk Anda beda. Tiru-tiru boleh, sampai ketemu yg dimaksud.
    .
    Kadang kita dibikin serba salah. Berbuat begini salah, begitu salah. Lalu protes: “Tuhan mau- Mu apa sih?” Agak kurang ajar nanya begitu. Tp ini awal. Nanti Tuhan akan tunjukkan bagaimana mau-Nya. Ketika kita sedang sesuai mau-Nya Tuhan, maka ada damai sejahtera di hati. Kalo ada rasa kosong, sepi, pilu ala eksistensialis, itu artinya kita sedang anjlog. Seperti kereta keluar rel. Mau jalan seret dan pilu.

    **********
    menurut saya hanya manusia yang berencana:mrgreen:
    kalau boleh saya sederhanakan Tuhan sebagai Hidup, hidup ya seperti ini. ada suka duka, kadang benar kadang salah. keberadaan kita setiap saat itulah hidup. namun sungguhkah kita selalu berADA di setiap saat?

    hehehe tuhan jadinya jauh sekali & manusia selalu sibuk mencari-cari rencanaNya

  13. @tomyarjunanto
    Kita mengidap praanggapan yg berbeda. Saya melihat hidup menuju sesuatu, Anda melihatnya siklis. Dari praanggapan berbeda akan melahirkan teologi berbeda.
    “Terjadilah menurut imanmu”. Tuhan akan bersikap sebagaimana yg kita prasangkakan kepadanya.
    .
    Saya meyakini bahwa everything is under His control. Apa yg terjadi di dunia ini adil, apa yang ditabur, itu yang dituai. Tidak ada satu hal pun terjadi tanpa izin Tuhan. Termasuk kemalangan2 saya dan Anda.

    **********
    Pencapaian hidup tidak untuk dipertentangkan:mrgreen:
    Kesadaran tidak diperoleh lewat pengetahuan, tetapi lewat pengalaman pribadi karena agama bisa berubah jadi doktrin
    Selamat mengalami tuhan dalam hidupmu sehari-hari
    😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s