Orang Muda, siapkan dirimu..!!

Standar

Saya sedang mencari bahan tulisan masalah pertanian untuk ikut programnya Pak Gempur.

pertanian memang materi yang cukup berat untuk diulas bagi saya yang tidak mudeng, bahkan teman saya yang staf ahli juga tidak begitu paham, akan masalah yang sesungguhnya *apa apatis saya tidak tahu*

Dia hanya memberikan referensi kebijakan pemerintah di sektor industri agro.

Namun satu hal yang menarik perhatian saya adalah ketika berbicara tentang substitusi terigu dengan menggunakan tepung cassava (singkong, pohung).

Ternyata pemakaian tepung cassava mampu memberikan kontribusi cukup besar bagi pemecahan masalah ketergantungan akan terigu.

Seperti kita tahu gandum sebagai bahan pokok terigu adalah tanaman sub tropis yang sulit hidup di Indonesia yang beriklim tropis. Padahal rakyat Indonesia sangat membutuhkan terigu sebagai makanan (mie instant, roti, gorengan).

Gandum pernah dicoba untuk dibudidayakan di Indonesia namun tidak berhasil.

Beberapa contoh keberhasilan tepung cassava sebagai substitusi terigu adalah adanya mie , bakpia & bakpao bahkan brownies ada yang dibuat dari tepung ini. Sedikit bocoran ada perusahaan kacang yang terkenal, telah menggunakan tepung cassava ini sebagai pengganti terigu.

Memang karena kadar gluten-nya *apa maneh kuwi* yang kurang tepung cassava Cuma bisa untuk makanan basah seperti brownies, belum bisa untuk makanan yang butuh keliatan & gorengan, jadi belum bisa sepenuhnya menggantikan terigu.

Tapi inipun sebenarnya prospek yang cukup menjanjikan bagi pertumbuhan industri agro yang telah ditetapkan pemerintah sebagai industri prioritas. Dari proses penanaman & perawatannya yang mudah *tinggal tancapkan kayu tak perlu irigasi* sampai pembuatan tepungnya yang mampu dikerjakan oleh industri –industri kecil.

Tinggal perlu sosialisasi membudayakan kepada masyarakat. Terus terang saya belum bisa memberikan data yang lengkap tentang tepung cassava ini.

Karena ada keprihatinan yang ingin saya ungkapan lewat postingan kali ini.

Saat pembicaraan makin berkembang & bertambah seru hingga ke masalah teknologi tepat guna, revitalisasi UPT & pencarian dana bantuan untuk pemberdayaan IKM, seorang teman yang masih cukup muda *jauh dibanding saya* ikutan nimbrung ” ah Mas hal-hal seperti itu di luar kewenangan kita, yang penting itu kita sudah melaksanakan tugas yang diberikan atasan dengan baik. Bagi saya hal-hal tersebut terlalu idealis.”

nah, pikiran seperti ini apalagi diucapkan oleh seorang anak muda harapan wanita bangsa *halah* sangat membuat saya sedih, jengkel & gemes. Bagaimana bangsa ini mau maju & lepas dari keterpurukannya kalo anak mudanya kayak gitu.

Saya bangga dengan teman2 para Blogger, seperti STR dengan The Manifestonya, Pak Gempur yang dengan ide jeniusnya mengajak para Blogger untuk ikut memberikan kontribusi nyata bagi bangsa, juga Pak Sawali yang begitu concern dengan pendidikan anak bangsa.

Kita memang perlu membangun kualitas bangsa agar bisa keluar dari kebodohan, kemiskinan & krisis multidimensi *halah* yang melanda negeri tercinta ini.

Salah satunya melalui GoBlog sebagai media pembelajaran, media sharing & juga media curhat😳

Akhir kata bagi orang muda harapan bangsa :

Siapkan mental, spiritual & intelektualmu untuk turut serta berpartisipasi aktif menjadi bagian penyelesaian persoalan carut marut negeri ini.

Sebab jika kamu bukan bagian dari penyelesaian masalah, boleh jadi kamu adalah bagian dari persoalan negeri ini.

11 responses »

  1. Staf ahli kan taunya cuma ngantor, Pak. Maaf.😆

    Kalo mau ngomong soal pertanian, omongan yang bisa dipercaya justru omongannya petani asli, bukan staf ahli yang ngaku-ngaku tau soal tani.

  2. Oya, omongan bloger juga lebih bisa dipercaya dari pada staf ahli. *subyektif pol*

    Masalahnya, kalo staf ahlinya itu ternyata juga bloger gimana? *ditampar pipi kanan, beri pipi kiri*

  3. sebenarnya saya juga pingin ikutan meramaikan topik yang ditawarkan pak gempur. sayangnya saya ndak mungkin mampu mengangkat topik2 yang bagi saya sangat awam itu menjadi sebuah postingan, hehehehe😆 paling2 hanya bisa komen, itu pun sering berupa sampah dan OOT.

  4. @ all – kayaknya saya emang kudu pulang kedesa cari tau masalah pertanian ma mertua saya yang petani, cuma di desa mereka terbiasa dg pertanian tradisional & tak jarang malah menyebabkan kerusakan ekosistem*halah*, ya seperti membuka lawan persawahan di wsaduk yang bisa sebabkan pendangkalan waduk, juga menebang pohon di bukit2 untuk ditanami palawija yang nantinya sebabkan longsor. itu yang saya liat pas pulang kedesa. Ya semoga program dari Pak Gempur ini sebagai awal sumbangsih kita kepada negri ini, yang diharapkan tidak sekedar menjadi tulisan saja namun bisa menghasilkan solusi.
    Buat saya pribadi : selama ini saya cuma kebanyakan OOT😥 , hanya berhenti di pemikiran *yg sekarang baru dapat pelampiasan lewat blog*, moga saya dapat lebih peduli & sungguh2 mengimplementasikan pengetahuan saya, nggak cuma ngantor didepan komputer postingin omong kosong doank

  5. @Pak Tomy: Pak, makasih banget sudah ikut urun rembug masalah pak tani, persoalannya bukan pada “cuman bisa ngomong doang”.. saya sendiri tugas saya memang ngomong.. mengajar itu kudu banyak ngomong, “menyebarkan keresahan” untuk perbaikan bangsa bukan untuk menghasut.. sebenarnya kalo dilihat dari segi profesionalitas, maka saya ngaku SANGAT TIDAK PROFESIONAL… karena urusan petani bukanlah wilayah saya, kalau mau profesional, mungkin saya harus seperti pak sawali yang memang berbicara tentang sastra dan pendidikan.. Tapi, kembali pada persoalan perut, bukankah urusan perut itu masalah kita bersama? tentunya, di luar kemampuan akademis yang saya miliki, saya berhak dan bicara mewakili perut saya.. yang ujung2nya terkait dengan para penjaga kestabilan yang penuh keringat tapi seringkali terabaikan..

    Keresahan perut saya harus saya sebarkan, kepada semua yang berkepentingan dengan kelangsungan perut mereka.. teruama yang berada di leve kebijakan, seperti bapak ini harus memperjuangkan petani.. nuwun sewu pak, informasi yang masuk ke telinga saya, di jepang, petani lebih kaya dari pada politisi lho pak! mereka sangat menghargai petani yang menjaga kelangsungan hidup..

  6. Lah..lah….Leres panjenengan Kang Gempur,

    Saya setuju dengan pendapat kakang Gempur, bahwa pemberdayaan EKONOMI MIKRO ( kelas Petani maksudne ) seharusnya menjadi FOKUS UTAMA poro pengatur di Pusat sono. Ngomon-ngomon pemberdayaan Ekonomi Mikro neh…bukan bermaksud PAMER…Perusahaan dimana saya kerja punya program yang namanya PKBL ( Program Kemitraan Bina Lingkungan ) yang dalam satu tahun menghabiskan biaya sekitar 4 milyard buat menghidupkan pengusaha KECIL di seluruh Kalimantan dan bahkan telah menyebar sampai di pulau Jawa loh…walau dengan status PINJAMAN LUNAK seh..saking LUNAKNYA kadang sampek yg gak bisa ngebayar masih ttp dikasih kelonggaran sampek bisa ngangsur.

    Asal anda tahu saja….dan bukan bermaksud Su’udhon,
    Uang sebanyak itu, pada jaman KOLO BENDHO dibagi-bagi ( BANCAK-AN ) oleh poro PENGGEDHE di Pusat sono…nah…loh…baru tahu saya klu BUMN selama ini harus nyetor ANGPAOW sebanyak itu untuk MAKANI poro punggowo negeri tercinta ini, pedahal ada berapa ratus BUMN yah…
    Kujuuuuuuuuurrrrrr…..tenan toh….
    Inilah INDONESIA yg katanya MAKMUR….
    yah..yah…memang yg makmur cuman poro PEJABAT LANGITAN….he..he..

    Maju terus Kang Gempur, P. Sawali dan Kang Tomy dalam menyuarakan Pemberdayaan EKONOMI Kawulo Alit….
    Walau sementara ini masih dalam bentuk TULISAN….minim sudah ada ENERGI POSITIF untuk ke arah itu.

    Salam MAHARDIKO bumi Nuswantoro

  7. sayang sekali saya sudah agak kehabisan tenaga untuk menulis hasil seminar tentang bantuan dana UMKM. di otak saya malah ada ide lain, soal pertanian juga sih… tapi kalo udah agak longgar waktunya [minggu2 ini]..

  8. @all – terima kasih atas tanggapannya,
    bukanlah masalah sekedar omong doang tapi lebih sebagai kepedulian kita akan nasib bangsa ini. Memang segala kebijakan yang baik akan muspra dalam tahap operasional saat aparatur seperti saya ini masih terbiasa dengan budaya ‘mencari kenyangnya perut sendiri’
    tulisan ini tidak sebagai urun rembug saya akan masalah pertanian yang kompetensi saya sangat diragukan, tapi sebagai refleksi diri sebagai orang muda dalam melihat maslah bangsanya.
    mari kita terus suarakan kepedulian, keberpihakan & sumbang pemikiran kita sebagai anak negri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s