Sebuah Teologi Pembebasan

Standar

Agama & Budaya adalah senjata yang paling amouh bagi Sang Jendral

ditangannya Iman menjadi tipu muslihat bagi kesadaran

dan seni memainkan perannya membangun imajinasi bentuk2 mental

Yang-Tak-Terbayangkan dikonstruksi dalam pahatan

Yang-Tak-Termaknai menjadi baris2 puisi

Yang Maha Misteri disiasati dalam simbol2 fasis

“You have the potential to dominate, rule & subdue the whole earth”, kotbah pendeta di seminar para pengusaha

“Berbahagialah orang miskin karena merekalah empunya Kerajaan Allah”, saat di mimbar kampung, jemaat buruh & kuli panggul

Jadi sudahkah agama membebaskan?

penerimaan takdir bagi yang satu

sedang bagi yang lain legalisasi nafsu

……..atau memang itu arti ‘Pembebasan’?………

7 responses »

  1. Pembebasan dan dibebaskan
    Mengenal Allah lebih sungguh
    Sungguh mudah tapi sulit
    Sungguh sulit tapi mudah

    Selama kita berjalan dengan kekuatan diri
    Selama kita mencari dengan kesombongan diri
    Selama kita bertempur dengan kemampuan diri
    Selama kita berlandaskan sang diri

    Sungguh sungguh sulit sekali
    Seakan jalan tak berujung pangkal
    Entah kapan kita akan sampainya
    Mustahil oh sungguhlah mustahil……

    Tetapi ketika kita menghampirinya dalam kelemahan
    Tetapi ketika kita berhasil membuang semua kesombongan
    Tetapi ketika masuk dengan tangis ketak berdayaan
    Berlandaskan pernyerahan diri bulat bulat

    Masuk dalam pusaranNYA
    Masuk dalam rengkuhanNYA
    Masuk dalam tarikanNYA
    Maka biarkanlah ia membuka diriNYA

    Mudah sungguh mudah
    jalan itu terbuka dengan sendirinya
    hanya dalam ketidak berdayaan dan kepasrahan sejati
    Tiba tiba tak kau sadari engkau sudah dekat
    Dekaaaaat sekali

    mas ikut nulis ya
    corat coret
    asal bukan
    colak colek
    hahaha Salam sejati saudaraku

  2. rahayu…
    yang ikut membebaskan manusia dari belenggu banyak sekali,,
    ketika kita tidak punya daya sedetikpun, tidak punya kekuatan sedikitpun dari penderitaan menuju kebangkitan marilah berdoa, berdoa, berdoa dengan sungguh-sungguh dan yakin.
    ketika akal, pikiran, dan bantuan dari orang lain tidak datang…berdoa adalah sumber api yang kecil yang akan membangkitkan seseorang, kemudian masyarakat dunia.
    dari doa itu merembas dari dalam kalbu kemudian menemukan akar-akar ilmiah dan bergandeng dengan akal pikiran yang menjadi pijakan menjadi bangkit, menjadi bebas….
    wass wb

  3. agama …. selama ini belum bisa menyatukan golongan2 yang berbeda ….
    karena penjaga agama bersikeras melebihi Tuhannya untuk menghakimi manusia yang berbeda …
    karena penjaga agama boleh mengartikan apa yang ia suka sekehendak hatinya … tak peduli membodohi umatnya ….
    penjaga agama adalah pemilik agama …. jadi terserah mata pedang mana yang akan dituju oleh pemilik tersebut …

    jadi agama saat ini hanya tergantung sama penjaga / pemiliknya …. yang secara membabi buta didukung oleh umatnya.

    salam,

  4. Rahayu
    Pak Try itu apa benar foto anda, putra anda yang agak kecil itu fotonya mana.
    ya ya agama satu dan yang lain memang berbeda paham , kadang konpelik.
    bukannya rasa kasih sayang yang ditebar, malah konfelik yang pelik…
    kadang aku berfikir mungkin karena medannya atau suatu bentuk reaksi/akibat dari sebab-sebab medan.
    atau juga umatnya yang tidak mengerti atau menggeserkan arti ajaran suci ya ajaran kasih sayang….
    kalau ajarannya ya tentang kasih sayang, saya kira enggak bergeser, tapi juga mungkin juga bergeser…
    wass wb

  5. @ mas Hidayat,
    iya itu foto yunior saya, untuk yang terkecil nanti muncul sendiri …. diacak oleh komputer.

    mas penjaga agama kadang memang menyedihkan, saya sampai terkaget2 saat melihat fatwa2 MUI yang dengan “gagah” nya mengatakan Syiah dan ahmadiyah itu tidak sesuai islam …..
    dan di tahun 2005 juga dikeluarkan fatwa bahwa pluralisme, liberalisme juga dianggap bertentangan dengan islam ….

    wah, mau jadi orang baik kok harus dikekang begitu ya ??? sehingga kita ini kalau bisa hanya menuruti kehendak si penjaga tersebut … tidak boleh menafsirkan selain yang sudah ditafsirkannya …😥

    salam,

  6. Rahayu
    sebenarnya sejak dulu saya ingin menulis tentang hal itu.
    Kalau kita perumpamakan negeri kita ini seperti sebuah keluaga terkecil di desa, atau sebuah rumah dengan seorang ayah, ibu dan 5 anaknya yang berbeda watak, penghasilan, tingkat kebaikan.
    misal ayah adalah seorang yang diam dan cenderung pendiam, kemudian sifat ibu adalah ngemong menyayangi semua anak-anaknya dan tentu saja ibu ini senantiasa menjaga kerukunan di rumah tangganya. kerukunan anak-anaknya juga penting seperti kerukunan antara ayah dan ibu.
    jika misalkan anak pertama / mbarep ini pinter sekali, penghasilannya besar, teman-temannya banyak, paling ahli ngolah sawah/ perusahaan keluarga dibanding keempat saudaranya.juga tetapi jika temperamen/watak anak mbarep ini kurang baik, menang sendiri, penghasilan banyak sendiri, ditakuti seluruh orang dirumah ini juga banyak teman dan menjadi mayoritas. akhirnya memang gandengannya arogan.
    Jika negeri ini dimisalkan jadi orang tua, apa yang harus kita lakukan dalam ketidak berdayaan seperti kedua orang tua diatas, sementara “kerukunan dan persatuan” keluarga terus harus dijaga.
    yah benar…. akhirnya ya mbatin saja ” kok begitu ”
    apakah ibu akan membela anak kedua atau anak keempat, bila terjadi perkara?
    bila pemahaman anak ke empat misalnya “benar” apakah ibu akan membela anak ke empat itu hanya karena “kebenaran hakiki” yang dipunyai anak keempat?
    disinilah yang perlu dipahami tentang “kekuasaan anak mbarep yang berhubungan dengan temperamen”
    disinilah yang perlu dipahami arti kebenaran itu. apakah ibu dan bapak seorang yang tidak bijak jika tidak bisa menindak anak mbarep karena kekuasaanya ? belum tentukan.
    jika anak keempat mempunyai “kebenaran hakiki”
    jika anak mbarep mempunyai “kebenaran palsu”
    jika orang tua itu dikatakan “menjaga kerukunan”
    tapi tidak bijak.
    sekarang apakah “menjaga kerukunan itu sebuah model kebenaran jika tanpa kebijakan?
    apakah juga orang tua itu tidak mampu bijak karena ketidak mampuannya menghadapi si Mbarep dan teman-temannya/ massanya juga kekuatan ekonominya,
    seorang ibu tentunya tidak akan menyalahkan anak mbarep atau juga anak keempat karena “kasih sayangnya”, orang tua itupun bukan orangtua yang salah tentunya.
    apakah keadaan itu terus berlanjut? tentu tidak karena dunia pasti berubah…..
    wass wb

  7. NB:
    perlu saya tambahkan Pak Try , ada pihak ketiga yang senantiasa menunggu kesempatan untuk mencabik-cabik seluruh keluarga kita, kesempatan pihak ketiga ini bisa masuk dalam kawasan kita syaratnya hanya satu ” bila keluarga kita telah ribut/ geger/ tidak rukun/ adu arep”. tetapi jika keluarga kita rukun “para cecunguk harimau penjajah” itu enggak bisa masuk sama sekali. inilah hebatnya orang tua kita telah berpikir panjaaaaaaaaaaang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s