KANG ZAINU, aku mesti belajar berikhlas hati kayak kamu Kang

Standar

Aku punya teman bernama Kang Zainu yang tinggal di bantaran kali belakang Pasar Gayam, yang tanahnya masih berstatus tanah irigasi. Setahuku Kang Zainu ini kerjaannya serabutan, pernah jadi tukang pijat tapi didemenin sama pasiennya yang homo. Ngacir deh Kang Zainu takut jeruknya dimakan jeruk. Pernah juga jadi tukang becak langganan nganter anak sekolah, tapi didemenin juga sama ibu majikan. Meski lugu dan bodoh orangnya (maaf ya Kang) tapi ia lurus hatinya. Jadilah ia dipecat juga.

Kang Zainu perantauan dari Jepara, di Semarang masih pakai ktp sementara. Kalau pekerjaan pastinya ia buka warung makan soto dan nasi rames di belakang Pasar Gayam.

Suatu saat Kang Zainu kehabisan modal karena uangnya buat bayar sekolah 2 anaknya yang telah nunggak 3 bulan, maklumlah modalnya cupet. Seharian nglentruk aja di rumah, sementara istrinya nyoba-nyoba cari tambahan modal.

Malam harinya ketika Kang Zainu sekeluarga sedang tidur, entah ada bisikan apa teman saya ini terbangun. Ada suatu dorongan kuat dari dalam hatinya untuk segera bangun dan mengeluarkan becaknya yang ndongkrok. Ah siapa tahu malam-malam begini ada yang membutuhkan jasa becakku, lumayan buat nyambung hidup esok hari, begitu bisik hatinya.

Setelah pamit istrinya dengan pelahan nggak ingin mbangunin ke-2 anaknya Kang Zainu keluar untuk mbecak malam itu. Dengan mata masih berat ia keluar menyusuri jalan berbatu sepanjang bantaran menuju jalan raya. Di ujung jalan jembatan Lamper Tengah tampak terlihat seorang lelaki yang sedang menggendong bayi dengan wanita, istrinya yang terlihat letih kelelahan. “Wah ada orang yang butuh becakku nih”, pikir Kang Zainu menghampiri mereka.

Ternyata mereka adalah suami istri yang baru pulang dari Rumah Bersalin membawa bayi mereka yang masih sangat mungil. Karena kehabisan uang mereka berjalan saja menuju rumahnya yang cukup jauh, namun sang istri yang baru melahirkan keletihan dan beristirahat sejenak di pinggir jembatan itu.

Teman saya ini memang sangat baik hatinya, mengetahui keadaan kedua orang itu yang keletihan dan kebingungan tergerak hatinya untuk mengantar mereka sampai di rumah. Semula mereka menolak karena memang tidak punya uang untuk membayar jasa mbecak. Tapi Kang Zainu memaksa untuk menolong hingga akhirnya setelah melihat keadaan istrinya yang memang sudah payah lelaki itu menerima dengan sangat bersyukur pertolongan itu.

Kang Zainu teman saya ini akhirnya mengantar mereka sampai rumahnya yang memang cukup jauh di daerah pemukiman yang keadaannya tidak lebih baik dari rumahnya sendiri. Melihat keadaan keluarga itu Kang Zainu tidak sampai hati untuk menarik bayaran walau sekadarnya, ya teman saya ini tidak mau dibayar. Ia ikhlas menolong keluarga itu meski hanya memberikan tenaganya saja.

Walhasil dia yang seharusnya mau cari uang buat keluarganya malam itu pulang dg tangan kosong, sudah kelelahan teman saya ini ngonthel becaknya. Namun masih saja ia cengengesan menceritakan kisahnya itu pada ku.

Nah ini yang ingin saya ceritakan dan bagikan , betapa Kang Zainu yang sedang susah (emang nggak susah nggak punya uang) ternyata memiliki kepedulian sosial yang begitu hebat yang mungkin akan semakin jarang ditemukan. Begitu kental kepeduliannya pada sesama sampai bisikan hatinya membangunkan dia untuk pergi menemui bapak ibu dengan bayinya itu, agar meski hanya dengan ngonthel becak ia bisa sumbangkan sesuatu yang sangat dibutuhkan sesamanya.

Oalah Kang.. Kang.. aku mesti banyak berguru padamu tentang cara berikhlas hati, tentang bahwa meski kita tidak memiliki apa-apa kita masih memiliki hidup yang menghidupi. Salut aku padamu Kang

Kang Zainu bisa kita temui di belakang Pasar Gayam Semarang ada warung di cat ijo jual soto dan nasi rames, atau dirumahnya dari ditu menyusuri bantaran kali kearah barat rumah no. 40

4 responses »

  1. Ping-balik: IQRO’ Pembacaan Muhammad Atas Tuhan « Mata Air

  2. Bagai rumput ilalang…
    Yang tetap tumbuh dipadang gersang…

    Denyut impulse keikhlasan kang Zainu…
    Tetap tumbuh disela hidup yang serba kekurangan…

    Koin Prita dan berlanjut Koin Keadilan…
    Menjadi Cermin Refleksi Keikhlasan dipadang gersang…

    Ooohhh…Gusti Ingkang Maha Asih…….

  3. Kang Zainu meski bukan Nasrani & sama urakannya dengan saya….urakan ora ngerti syariat ora tau saba gereja apa masjid…namun dialah yang telah menemukan arti Natal sesungguhnya
    Kepeduliannya terhadap sesama manusia terlebih yang miskin & terpinggirkan mempertemukannya dengan Yesus sebagai bayi dari dari keluarga muda yang ditemuinya malam itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s