IBU

Standar

Konjuk dumatheng Ibu Bumi Ibu Pertiwi
Dalem Caos Sungkem Bekti saha angluhuraken Panjenengan
Dalem nyuwun sabda lebur sedaya dosa kadurakan ingkang sampun dalem lampahi

…panggrantesku sundul ngawiyat…
tangising ati saya ora kuwat ngglawat

andeleng bocah sekolah nganggo sragam pramuka
kanthi asesuka ngibarake gendera
kumlebet amerbawa Sang Saka Merah Putih
den aras angin ing tangan-tangan ringkih
sujudku di telapak kakimu Ibu
pendurhaka memohon Surgamu
bila selama ini kututup mataku
liarkan getar nafsu
hati kelam membatu

sujudku di telapak kakimu Ibu
sesal marah membakar jiwaku
telah kubiarkan durjana dursila
memperkosa menjarah bumi sucimu
sedang kami anak-anakmu
pecandu peluru berbalut madu

sujudku di telapak kakimu Ibu

sayup kudengar kembali kidung merdumu
yang dikala kecilku dulu
membawaku lelap dalam embanan kasihmu

tak lelo lelo ledung
cup menenga Ngger sun emban sun kekidung
pun Bapa arsa anetepi dharma
paring sesuluh myang kang nandhang rubeda

tak lelo lelo ledung
rep sireping wayah ratri
anakku Ngger tansah sun pepuji
dibisa dadi tepa palupi
dadya jalma utami

7 responses »

  1. Ping-balik: Badan Asli Pambudidaya Amal Kebutuhan « Mata Air

  2. ehmmm …. sejuk, teringat masa kecil saat masih dikampung, dulu sekali….

    kita kadang terlena dengan kondisi ekonomi yang dengan “gagah” mengundang sang investor asing, tetapi kita tidak mengerti mengenai bagi hasil yang adil bagi negeri ini, sehingga hanya beberapa gelintir manusia yang bisa menikmatinya …. selebihnya hanya bisa melihat dan mengelus dada ….

    salam,

  3. rahayu
    kadang juga ingat setelah membaca puisi diatas, kita seperti tidak mengerti mengapa ketika anak berusia 5 bulan yang kayaknya belum bisa mengerti dan bicara, kalau sedang menangis kemudian diajak oleh orang yang bukan ibunya tetap enggak bisa diam , tapi kalau digendong ibaunya sendiri mendadak langsung diam.
    kata jhonson and jhonson itu “bahasa perasaan”
    ya bahasa rasa, merupakan rasa yang merasa kerasan bila di rumah sendiri. bahasa itu bahasa aseli manusia dimana ketika belum bisa bicara dan menulis tapi bisa berbicara dengan perasaan.
    …telah kubiarkan durjana dursila
    memperkosa menjarah bumi sucimu
    sedang kami anak-anakmu
    pecandu peluru berbalut madu
    sujudku di telapak kakimu Ibu
    sayup kudengar kembali kidung merdumu
    yang dikala kecilku dulu
    membawaku lelap dalam embanan kasihmu….

    seorang ibu memang mempunyai ikatan batin yang kuat dengan anak-anaknya, seorang ibu memilih kadang tidak dengan logika , lebih banyak dengan perasaan, dan itu biasanya “sebuah pilihan yang tidak salah”
    ada sebuah obrolan bahawa “orang yang terlalu mencintai tanah dengan serakah akan mudah diajak kembali ke tanah” ….😦
    wass wb

  4. Ngaturaken Salam kasugengan Ki
    Mugi berkahing Gusti, saha wilujeng rahayu tansah kajiwa kasarira dumateng kula panjenengan saha sedaya. Tansah hamemayu hayuning bawana, sura dira jayaningrat, sedaya lebur dening pangastuti.

    Rahayu karaharjan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s