Dalam tulisan saya sebelumnya, diungkap bahwa kemiskinan dan penindasan yang makin parah serta tiadanya harapan untuk mencapai kesejahteraan membuat masyarakat mudah dihinggapi mimpi, ilusi sosial tentang kedatangan Ratu Adil.
Namun benarkah Keadilan *Ratu Adil* hanya sekedar dambaan ilusif ?
MITURUT PEMANGGIH KULA
Banyak orang berpandangan bahwa Ratu Adil adalah satu sosok pribadi, bahkan beberapa spiritualis mengklaim telah bertemu wujud asli dari Ratu Adil beserta pamongnya Sabdo Palon dan Nayagenggong.
Tentang hal ini saya tidak hendak menyanggah, meragukan atau menyetujuinya, namun saya mencoba untuk tidak terjebak *halah* dalam pengkultusan individu. Yang mengagung-agungkan sosok pribadi sebagai jalma linuwih, punjul-punjuling apapak, jalma limpat seprapat tamat. Kultus individu semacam ini tidak sesuai malah cenderung untuk mencederai Keadilan
Prinsip Keadilan adalah persamaan derajat diantara semua manusia, sama-sama tinitah di jagad raya sebagai Rasul, utusan Allah sebagai Rahmatin lil Alamin. *kalau kamu tidak merasa sebagai Rasul utusan Allah, lalu kamu itu utusan siapa?*
Manusia yang membawa unsur-unsur yang sama; bumi, api, angin, air, nur, rahsa, roh, akal, budi. Menghirup udara yang sama, sama-sama membawa serta segala kebaikan dan kejahatan dalam diri. Yang membedakan cuma keputusan manusia dalam memilih.
Otentisitas dan kualitas manusia terletak pada ‘pembuatan keputusan’, hendak menjadi baik atau tidak baik, hendak menjadi adil atau tidak adil, hendak menjadi utusan Allah atau utusan iblis 
Nah, kalau begitu mengapa tidak kita putuskan untuk menjadikan diri kita sebagai agen-agen keadilan, sebagai pamomong Sang Adil : menjadi Sabdopalon & Nayagenggong.
Sabdopalon dan Nayagenggong dalam bahasa Jawa termasuk ‘sengkalan memet’; kata yang mengandung makna konotasi.
Sabdo = ucapan yang terimplementasi dalam tindakan,
Palon = tiang pancang untuk mengikat kerbau, dalam hal ini diartikan sebagai patokan.
Naya = kata ganti nama orang seperti Si Naya, Si Suta, Si Waru dan Si Dadap,
Genggong = gede atau besar *jangkrik genggong = jangkrik yang besar*
Jadi arti dari Sabdopalon Nayagenggong : Orang Besar adalah orang yang ucapan & tindakannya bisa dijadikan patokan, bisa dijadikan teladan. 
Sesuatu yang jarang ditemui di era dimana citra dianggap lebih meyakinkan daripada fakta
sehingga capres cawapres serta para caleg berlomba-lomba mencitrakan diri lewat media informasi tanpa pernah kita tahu bagaimana kontribusi yang sesungguhnya bagi negara & bangsa.
KONSEP KARAJAAN ALLAH
Harus diakui memang, untuk sungguh-sungguh adil itu sulit dan kadang kita tidak tahu adil itu yang bagaimana. Untuk itu saya coba urai konsep Keadilan merujuk Sabda Bahagia *juga Sabda Celaka yang sejajar*
tentang Kerajaan Allah.
Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.
…..
Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalamkekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburan
–. Lukas 6:20,24 .—
Ucapan Yesus tersebut tak hendak merestui kenyataan lahiriah orang yang tak beruang juga tak mengutuk kenyataan lahiriah si orang tajir.
Secara satir, kemiskinan dipuji sebagai suatu berkat *biasanya oleh mereka yang enggan untuk ambil bagian dalam berkat itu*
kemiskinan dianggap sebagai situasi yang membahagiakan karena kemiskinan membuat orang lebih terbuka bagi Kerajaan Allah.
Katanya sih, kemiskinan membuat orang patuh secara spiritual, membuat orang menyadari ketak-berdayaannya dan sepenuh hati menyerahkan diri kepada Allah.
Ini mungkin benar berkenan dengan ‘kemiskinan rohani’, sikap yang tak terikat kepada benda-benda material. Namun pada kenyataannya kemisikinan menjadi sumber dari kejahatan. Kemiskinan sebagai penindasan, yang akhirnya merendahkan martabat manusia, sama sekali bukanlah nilai religius. 
Orang miskin ‘bahagia’, bukan karena kemiskinan mereka itu sesuatu yang baik, bukan karena orang miskin memiliki sifat-sifat istimewa, melainkan tepatnya, karena kemiskinan adalah hal yang jahat yang harus diakhiri dengan kedatangan Kerajaan Allah.
Orang miskin ‘bahagia’, karena Kerajaan Allah berpihak kepada mereka *Tak berarti Kerajaan Allah datang untuk melawan yang tidak miskin.*
Kerajaan Allah ditujukan pada semua orang. Namun pertama-tama dan terutama ditujukan pada titik dimana kemanusiaan paling terancam, yaitu : Kemiskinan!
Di sisi lain kekayaan dianggap celaka bila bila barang-barang material yang menjadi ukuran keberhasilan. Tirani, penindasan serta ketidakadilan sosial adalah buah-buahnya yang berakhir pada kehancuran masyarakat. Ini sungguh tak sesuai dengan cita-cita Kerajaan Allah. 
Sejak awal, Alam *atau Allah biar lebih religius halah*
telah memberi hak yang sama atas semua barang yang manusia butuhkan guna melangsungkan hidupnya. Tak seorangpun boleh berbangga karena keberuntungan secara alamiah
namun hasart, keinginan yang tak pernah puas untuk menambah kepemilikan mengakibatkan penindasan dan kemiskinan. Keinginan itulah yang melahirkan kata-kata ’kepunyaanku’ dan ’kepunyaanmu’.
Baik ’penindas’ maupun ’yang tertindas’ semua membutuhkan pembebasan. Kerajaan Allah memang berada di pihak kaum miskin, tapi tidak membatasi diri pada orang-orang miskin saja. Kerajaan Allah adalah pembebas kedua-duanya.
Kerajaan Allah adalah suatu proses pengembalian kepada Wahyu Ilahi, seperti yang sudah saya tulis di postingan sebelumnya : wahyu yang diturunkan kepada Bapa-Bapa Bangsa; Wahyu yang membawa pengetahuan akan jati diri manusia, bahwa sesungguhnya semua manusia itu sederajat, baik diantara mereka sendiri maupun dihadapan Allah. Sebuah kenyataan religius maupun sosio ekonomis dan politis; menyangkut segala aspek kehidupan manusia.
Dengan pandangan seperti ini maka kemakmuran hidup adalah kemakmuran seluruh umat secara keseluruhan, untuk dinikmati bersama oleh semua umat. Kekayaan tidak merupakan milik pribadi dan milik pribadi tidak pernah menjadi suatu hak khusus yang diperoleh dengan membebani orang lain , tidak pernah dipakai untuk menindas orang lain.
Kemiskinan tidak seharusnya dipandang sebagai suatu kenyataan hidup yang diterima begitu saja, sebagai sesuatu yang tak dapat dihindari. Sebaliknya, kemiskinan harus dianggap sebagai suatu skandal yang bertentangaan dengan cita-cita Allah tentang masyarakat manusia, dan karenanya harus diatasi dengan segala macam cara!!
Keadilan menuntut suatu kemauan konkret untuk membagi apa yang dimiliki. Ukuran yang benar dalam pembagian bukanlah ‘kelebihan’ dari orang ‘ber-punya’ melainkan ‘kebutuhan’ dari orang ‘tak-punya’. Inilah kalau boleh saya katakan
sebagai SOSIALISME KERAJAAN ALLAH.
KESIMPULAN
Keadilan butuh tindakan nyata secara kolektif, tidak sekedar berhenti pada pengaharapan saja. Keadilan harus diperjuangkan bukan hanya menjadi dambaan ilusif tentang sosok hero yang dikultuskan.
Perjuangan bersama untuk menjadikan diri kita masing-masing sebagai agen keadilan; kita harus dihadapkan pada keberanian memilih, membuat keputusan dalam hidup & mengambil tanggung jawab penuh atas hasil keputusan itu. Bila salah harus berani mengakui dan menerima resikonya sehingga hidup kita sungguh dapat dijadikan patokan, teladan karena satunya kata dan perbuatan.
Bila keadilan telah menjadi gerakan bersama, niscaya ’Sang Adil’ akan sungguh-sungguh datang, manuksma dalam diri panjengengan sedaya
Dan andaikan Ratu Adil sungguh datang sebagai sosok pemimpin paripurna sebagai sosok manusia purnama, maharaja Kerajan Allah dengan segala kebesaran dan kemuliaannya, mengadili orang hidup dan mati. Kita sudah tidak takut lagi untuk DIADILI..!!!