Go Kamane Allah,

Dzat kang Ilang Rusak Ragane Kabeh,

Labete Tan Kena Keri,

Dzat kang Tanpa Kumpulan Kahanane Ora Ana,

Ya Ingsun Sejatine Ora Ana Apa-Apa.

- Panembahan Senapati -

‘Aku’ dan ‘Ada’ tak hanya dikukuhkan oleh Descartes. Dibelahan lain dunia pada abad yang sama, pendiri dinasti Mataram Islam mengukuhkannya dalam bait-bait syair IBU JENDRA.

Substansi yang sejati adalah keseluruhan Dzat yang membentuk semesta, demikian dituturkan. Semesta yang terus berevolusi menuju kesempurnaan. Dan wahana dari kesempurnaan semesta mewujud dalam diri manusia, pan ingsun dzat Allah kang jumeneng pusering jagad angingkut sakehing arupa warna, karut dening aku kabeh.

Tanpa adanya Dzat yang berkumpul tidak akan pernah terbentuk suatu ‘kesadaran’, hanyalah awang-uwung, kosong belaka.

Manusialah, subyek, pusat pemaknaan, yang mempunyai kemampuan wruh ing anane dhewe, yang mampu berkata : Aku…Ada.

Jadi ‘ada’ adalah subyektif, kesadaran yang melahirkan angan-angan dan pemikiran, yang memunculkan kata-kata dan bahasa sebagai penanda.

Namun bahasa tak pernah mampu secara utuh menggambarkan konsep yang diekspresikannya.

Urip tan kena kinaya ngapa, (lagi…)

Oleh : Suprayitno

Berita tentang hasil survei atau jajak pendapat yang diselenggarakan oleh Harris Poll mengenai tingkat keberagamaan atau keyakinan masyarakat Amerika Serikat terhadap Tuhan, menunjukkan separuh penduduk AS tak yakin Tuhan ada (SM, 2/11/06). Hasil jajak pendapat itu bagi bangsa kita yang religius ini, merupakan berita yang memprihatinkan. Sebab, andaikata jajak pendapat itu dilakukan di negara kita pasti hasilnya akan jauh berbeda. Mungkin masyarakat kita 99 persen atau bahkan 100 persen yakin adanya Tuhan.

Tulisan ini ingin membahasnya melalui pendekatan filsafat (ontologisme) yaitu mengapa kita berkata ada? Apa sebenarnya yang dimaksud ‘ada’? Kemudian apa bedanya antara ada berdasarkan ‘pengetahuan’ dan ada berdasarkan ‘keyakinan’? Bisakah yang tidak ada kita katakan ada? Bagaimana syarat-syarat “keberadaan” sesuatu?

Substansi dan Ada

(lagi…)

wall_ambiance

Mistik itu …..


bukan orang mati kemaren yang suka meneror

membuat kamu mengidap paranoid

bukan menggantang asap

segala gumam para cenayang

membuat kamu hiperilusif


adalah terpana

temaram lembayung jingga

torehkan syahdu di warna senja

adalah menderu

dingin angin menimang lembut luruh daun

menggigil kelu dalam dekap canggung

adalah berdebur

ombak membelai pantai

tegaskan hadirmu dan hadirku

adalah gemetar

hasrat tersembunyi yang sempat kucuri

dari jengah hangat bibirmu


sadari dan hadapi tak hendak mensiasati

tarian gemulai gerai rambutmu

juga hening nafasmu satu…satu…

menuntun kedalaman rasa

meretas berjuta makna

tanpa kata

dalam penyerahan…

bukan pengendalian…

Masih ingatkah dulu?

Kala kau berikan aku

Surat cintamu

narsisku

Aku terlena

Dalam kebimbangan .. kebingungan..

Dan kau hanya tersenyum

Dan berkata…

Surat… untukmu..

Saat itulah aku tertegun

Bingung

Kubuka, kubaca dan kubaca

Kupahami segera

Inilah ungkapan cintamu

Cintamu.. pertamaku

Indah memang

Kunikmati setiap hari

Penuh kebahagiaan

Hari berganti minggu

Minggu berganti bulan

Jika saja waktu tidak berlalu

Kau tak akan pernah tinggalkanku

Dan … saat ini

Aku begitu sangat merindukanmu

pfupnKevCn

Apuranen kumawani atur kagawa tyas kayungyun,

Hening ati madyaning ratri,

Ameruhi…..

Kurungan peksi prada rukmi samya sunya tan ana kang nenggani

Perkutute anggegana sirna urubing cahya

Peteng ndedet lelimengan…..

Angrerintih kalimputan…..

Para bajang atut wuri Si Kaki

Adedamar nuntun barisan mecaki dalan

Wus rusak dhatulaya !!

Rasa datan bisa anyurasa !!

Oncat maligi jiwangga !!

Lebur tumpur tataning sujanma !!

Duh… kadhang-kadhang taruna jatmika,

Jantraning jagad wus aweh sasmita,

Angajap tyas rahayu samya weweka,

Golonging tekad meper hardaning priyangga

Duh… reroncening puspa,

Datan rebut unggul hamung lila legawa

Anglepas tansaya pas

Angaturi dipun genepi

Dadya ratus ing Padupan Kencana,

Tulus sumedya angambar arum,

Kumelun sundul ngawiyat,

Handayani geter sarining bawana,

Sarining Allah sarining Rahsa

Byar padang sasangka

Kadya tanggal kaping limalas

Padang njaba pandang njero

Padang luwih padang

♥♥♥☼♥♥♥

Tuhan berkarya dalam diri manusia, manusialah tangan dan kakiNya

Setiap pribadi telah dianugrahi talenta bukan untuk digenggam erat namun untuk saling berbagi

Tiada yang paling hebat namun kebersamaan membuat kuat

Dengan tulus menerima dan merayakan talenta yang ada pada orang-orang disekitar kita & dengan rendah hati mempersembahkan (melepas) talenta kita hidup semakin dipenuhi dan digenapi

Karena kita seumpama untaian bunga, untaian batang-batang lilin yang menyala

Malampun benderang berpendar cahaya

Atmosfer dipenuhi harum wangi bunga

Ya Allah, Tuhan orang-orang yang terampas!
Engkau hendak merahmati Orang-orang yang terampas di dunia ini,

Orang kebanyakan yang bernasib tak berdaya
Dan kehilangan hidup,
Orang yang diperbudak sejarah,
Korban-korban penindasan
Dan penjarahan waktu,
Orang-orang celaka di atas bumi ini,
Menjadi pemimpin-pemimpin umat manusia
Dan pewaris-pewaris bumi. Sekarang sudah tiba waktunya
Dan orang-orang terampas di atas bumi ini
Merupakan pengharapan akan janji-Mu

Ali Syariati

Penggalan Kisah

Bermula dari sini, ketika memburu rejeki untuk pemenuhan kebutuhan, Tuhan menghardik aku lewat sosok pengemis gila di pertigaan.

(lagi…)

Dalam tulisan saya sebelumnya, diungkap bahwa kemiskinan dan penindasan yang makin parah serta tiadanya harapan untuk mencapai kesejahteraan membuat masyarakat mudah dihinggapi mimpi, ilusi sosial tentang kedatangan Ratu Adil.
Namun benarkah Keadilan *Ratu Adil* hanya sekedar dambaan ilusif ?

MITURUT PEMANGGIH KULA

Banyak orang berpandangan bahwa Ratu Adil adalah satu sosok pribadi, bahkan beberapa spiritualis mengklaim telah bertemu wujud asli dari Ratu Adil beserta pamongnya Sabdo Palon dan Nayagenggong.
Tentang hal ini saya tidak hendak menyanggah, meragukan atau menyetujuinya, namun saya mencoba untuk tidak terjebak *halah* dalam pengkultusan individu. Yang mengagung-agungkan sosok pribadi sebagai jalma linuwih, punjul-punjuling apapak, jalma limpat seprapat tamat. Kultus individu semacam ini tidak sesuai malah cenderung untuk mencederai Keadilan :D

Prinsip Keadilan adalah persamaan derajat diantara semua manusia, sama-sama tinitah di jagad raya sebagai Rasul, utusan Allah sebagai Rahmatin lil Alamin. *kalau kamu tidak merasa sebagai Rasul utusan Allah, lalu kamu itu utusan siapa?*
Manusia yang membawa unsur-unsur yang sama; bumi, api, angin, air, nur, rahsa, roh, akal, budi. Menghirup udara yang sama, sama-sama membawa serta segala kebaikan dan kejahatan dalam diri. Yang membedakan cuma keputusan manusia dalam memilih.
Otentisitas dan kualitas manusia terletak pada ‘pembuatan keputusan’, hendak menjadi baik atau tidak baik, hendak menjadi adil atau tidak adil, hendak menjadi utusan Allah atau utusan iblis :mrgreen:
Nah, kalau begitu mengapa tidak kita putuskan untuk menjadikan diri kita sebagai agen-agen keadilan, sebagai pamomong Sang Adil : menjadi Sabdopalon & Nayagenggong.
Sabdopalon dan Nayagenggong dalam bahasa Jawa termasuk ‘sengkalan memet’; kata yang mengandung makna konotasi.
Sabdo = ucapan yang terimplementasi dalam tindakan,
Palon = tiang pancang untuk mengikat kerbau, dalam hal ini diartikan sebagai patokan.
Naya = kata ganti nama orang seperti Si Naya, Si Suta, Si Waru dan Si Dadap,
Genggong = gede atau besar *jangkrik genggong = jangkrik yang besar*
Jadi arti dari Sabdopalon Nayagenggong : Orang Besar adalah orang yang ucapan & tindakannya bisa dijadikan patokan, bisa dijadikan teladan. :D
Sesuatu yang jarang ditemui di era dimana citra dianggap lebih meyakinkan daripada fakta :cry: sehingga capres cawapres serta para caleg berlomba-lomba mencitrakan diri lewat media informasi tanpa pernah kita tahu bagaimana kontribusi yang sesungguhnya bagi negara & bangsa.

KONSEP KARAJAAN ALLAH

Harus diakui memang, untuk sungguh-sungguh adil itu sulit dan kadang kita tidak tahu adil itu yang bagaimana. Untuk itu saya coba urai konsep Keadilan merujuk Sabda Bahagia *juga Sabda Celaka yang sejajar* :mrgreen: tentang Kerajaan Allah.

Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.
…..
Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalamkekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburan
–. Lukas 6:20,24 .—

Ucapan Yesus tersebut tak hendak merestui kenyataan lahiriah orang yang tak beruang juga tak mengutuk kenyataan lahiriah si orang tajir.
Secara satir, kemiskinan dipuji sebagai suatu berkat *biasanya oleh mereka yang enggan untuk ambil bagian dalam berkat itu* :cool: kemiskinan dianggap sebagai situasi yang membahagiakan karena kemiskinan membuat orang lebih terbuka bagi Kerajaan Allah.
Katanya sih, kemiskinan membuat orang patuh secara spiritual, membuat orang menyadari ketak-berdayaannya dan sepenuh hati menyerahkan diri kepada Allah.
Ini mungkin benar berkenan dengan ‘kemiskinan rohani’, sikap yang tak terikat kepada benda-benda material. Namun pada kenyataannya kemisikinan menjadi sumber dari kejahatan. Kemiskinan sebagai penindasan, yang akhirnya merendahkan martabat manusia, sama sekali bukanlah nilai religius. :cool:
Orang miskin ‘bahagia’, bukan karena kemiskinan mereka itu sesuatu yang baik, bukan karena orang miskin memiliki sifat-sifat istimewa, melainkan tepatnya, karena kemiskinan adalah hal yang jahat yang harus diakhiri dengan kedatangan Kerajaan Allah.
Orang miskin ‘bahagia’, karena Kerajaan Allah berpihak kepada mereka *Tak berarti Kerajaan Allah datang untuk melawan yang tidak miskin.*
Kerajaan Allah ditujukan pada semua orang. Namun pertama-tama dan terutama ditujukan pada titik dimana kemanusiaan paling terancam, yaitu : Kemiskinan!
Di sisi lain kekayaan dianggap celaka bila bila barang-barang material yang menjadi ukuran keberhasilan. Tirani, penindasan serta ketidakadilan sosial adalah buah-buahnya yang berakhir pada kehancuran masyarakat. Ini sungguh tak sesuai dengan cita-cita Kerajaan Allah. :cry:
Sejak awal, Alam *atau Allah biar lebih religius halah* :mrgreen: telah memberi hak yang sama atas semua barang yang manusia butuhkan guna melangsungkan hidupnya. Tak seorangpun boleh berbangga karena keberuntungan secara alamiah :D namun hasart, keinginan yang tak pernah puas untuk menambah kepemilikan mengakibatkan penindasan dan kemiskinan. Keinginan itulah yang melahirkan kata-kata ’kepunyaanku’ dan ’kepunyaanmu’.
Baik ’penindas’ maupun ’yang tertindas’ semua membutuhkan pembebasan. Kerajaan Allah memang berada di pihak kaum miskin, tapi tidak membatasi diri pada orang-orang miskin saja. Kerajaan Allah adalah pembebas kedua-duanya.
Kerajaan Allah adalah suatu proses pengembalian kepada Wahyu Ilahi, seperti yang sudah saya tulis di postingan sebelumnya : wahyu yang diturunkan kepada Bapa-Bapa Bangsa; Wahyu yang membawa pengetahuan akan jati diri manusia, bahwa sesungguhnya semua manusia itu sederajat, baik diantara mereka sendiri maupun dihadapan Allah. Sebuah kenyataan religius maupun sosio ekonomis dan politis; menyangkut segala aspek kehidupan manusia.
Dengan pandangan seperti ini maka kemakmuran hidup adalah kemakmuran seluruh umat secara keseluruhan, untuk dinikmati bersama oleh semua umat. Kekayaan tidak merupakan milik pribadi dan milik pribadi tidak pernah menjadi suatu hak khusus yang diperoleh dengan membebani orang lain , tidak pernah dipakai untuk menindas orang lain.
Kemiskinan tidak seharusnya dipandang sebagai suatu kenyataan hidup yang diterima begitu saja, sebagai sesuatu yang tak dapat dihindari. Sebaliknya, kemiskinan harus dianggap sebagai suatu skandal yang bertentangaan dengan cita-cita Allah tentang masyarakat manusia, dan karenanya harus diatasi dengan segala macam cara!!
Keadilan menuntut suatu kemauan konkret untuk membagi apa yang dimiliki. Ukuran yang benar dalam pembagian bukanlah ‘kelebihan’ dari orang ‘ber-punya’ melainkan ‘kebutuhan’ dari orang ‘tak-punya’. Inilah kalau boleh saya katakan :D sebagai SOSIALISME KERAJAAN ALLAH.

KESIMPULAN

Keadilan butuh tindakan nyata secara kolektif, tidak sekedar berhenti pada pengaharapan saja. Keadilan harus diperjuangkan bukan hanya menjadi dambaan ilusif tentang sosok hero yang dikultuskan.
Perjuangan bersama untuk menjadikan diri kita masing-masing sebagai agen keadilan; kita harus dihadapkan pada keberanian memilih, membuat keputusan dalam hidup & mengambil tanggung jawab penuh atas hasil keputusan itu. Bila salah harus berani mengakui dan menerima resikonya sehingga hidup kita sungguh dapat dijadikan patokan, teladan karena satunya kata dan perbuatan.
Bila keadilan telah menjadi gerakan bersama, niscaya ’Sang Adil’ akan sungguh-sungguh datang, manuksma dalam diri panjengengan sedaya :D
Dan andaikan Ratu Adil sungguh datang sebagai sosok pemimpin paripurna sebagai sosok manusia purnama, maharaja Kerajan Allah dengan segala kebesaran dan kemuliaannya, mengadili orang hidup dan mati. Kita sudah tidak takut lagi untuk DIADILI..!!!

Keadilan adalah sesuatu yang ada justru karena tak hadir. Ia ibarat akanan. Kita melihatnya ketika kita berdiri di tepi laut dan memandang nun jauh disana, tanpa tahu bagaimana wujudnya. Ia kosong selaik kolong – kosong yang dapat diberi nama dan ditunjuk. Ia absensi yang mengimbau, tandanya luka pedih yang terjadi ketika ketidak-adilan menguasai ruang.
Mungkin itulah sebabnya riwayat pergolakan sosial di Indonesia adalah riwayat orang-orang tertindas yang menantikan yang tak ada : Ratu Adil. Semakin absen keadilan, semakin yakin orang-orang ia akan muncul secara dramatis di hari akhir.
–. Gunawan Mohamad .—

(lagi…)

Salah seorang guru saya mengajarkan bahwa hidup di dunia ini sesungguhnya adalah mati. Dikatakan demikian karena hidup di dunia ini ada surga dan neraka yang tidak bisa ditolak oleh manusia. Manusia dalam menjalani hidupnya selalu mengalami kemelekatan dan penolakan. Setiap hal yang menyenangkan menimbulkan kemelekatan bila tercapai pemenuhannya dikatakan manusia mendapatkan surga. Sebaliknya hal-hal yang tidak menyenangkan menimbulkan penolakan bila tak mampu menghindarinya dikatakan neraka.
Dalam agama kita diajarkan bahwa Tuhan bertahta dalam Kerajaan Surga, juga diimani Tuhan ada dimana-mana, anglimputi ing sakabehing kalir. Jika Ia ada dimana-mana, tidakkah Surga juga ada dimana-mana. Jika surga ada dimana-mana lalu mengapa banyak orang masih berpaling dan tidak mau menghadapi dunia yang saat ini dijalani dan malahan terus berharap pada dunia (surga) yang nun jauh diseberang sana ?
(lagi…)

Suradira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti

Sugeng Warsa Enggal 1 Sura 1942 Selasa Pahing Tahun Je Windhu Kuntara

Di blog Budaya Jawa dan Penyejuk Hati punya Kangmas Hidayat, saya mendapat pertanyaan dari Kangmas Ratnakumara mengenai hakikat Trisulawedha. Bagi para sedherek yang baru kali ini mendengar, Trisulawedha diyakini sebagai senjata pamungkas Pemimpin Besar Indonesia yang akan membawa bangsa ini kepada kejayaannya. Berikut kutipan Jangka Jayabaya pupuh ke 164 yang menjelaskannya :

Putra kinasih swargi kang jumeneng ing gunung Lawu. Hiya yayi Bethara Mukti, hiya Krisna, hiya Herumukti. Mumpuni sakabehing laku. Nugel tanah Jawa kapingpindho. Ngerahake jin setan, kumara prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo, kinen ambantu manungso Jawa padha asesanti TrisulaWeda. Landhepe triniji suci. Bener, jejeg, jujur. Kadherekake Sabdopalon lan Noyogenggong.

(lagi…)

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »