<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>RUJAKBELING KOLAKRAWE</title>
	<atom:link href="http://tomyarjunanto.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tomyarjunanto.wordpress.com</link>
	<description>PARA MUDHA KUDU ANJANGKAH MRIH JANGKA BISA DADI SUYASANING RAGA-LUMARAS. WUS SAYEKTINE, PARA MUDHA KUSUMA TUWUH RUNGKEB-RUMENGKUHE MARANG BUMI PERTIWI</description>
	<lastBuildDate>Mon, 09 Jan 2012 08:06:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='tomyarjunanto.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>RUJAKBELING KOLAKRAWE</title>
		<link>http://tomyarjunanto.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://tomyarjunanto.wordpress.com/osd.xml" title="RUJAKBELING KOLAKRAWE" />
	<atom:link rel='hub' href='http://tomyarjunanto.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>OBSESI, PERSEPSI &amp; REALITA YANG DIWUJUDKAN</title>
		<link>http://tomyarjunanto.wordpress.com/2011/09/06/obsesi-persepsi-realita-yang-diwujudkan/</link>
		<comments>http://tomyarjunanto.wordpress.com/2011/09/06/obsesi-persepsi-realita-yang-diwujudkan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Sep 2011 06:48:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tomyarjunanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[bangsa & manusia]]></category>
		<category><![CDATA[risalah hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tomyarjunanto.wordpress.com/?p=604</guid>
		<description><![CDATA[1. OBSESI HIDUP MANUSIA Entah saya mengalami delusi atau obsesi utopis, namun saya rasa bagi setiap manusia di segala jaman pasti merindu akan suatu tatanan kehidupan yang berkeadilan social. Dimana damba tersebut mewujud dalam konsep-konsep akan surga, rahmatan lil alamin, mengayu hayuning bawana, dictator proletariat, ataupun ratu adil. Berawal dari itu saya membaca keseluruhan alkitab [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tomyarjunanto.wordpress.com&amp;blog=2079665&amp;post=604&amp;subd=tomyarjunanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>1. </strong><strong>OBSESI HIDUP MANUSIA</strong></em></p>
<p><a href="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/09/keadilan1.gif"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-622" title="Mencari Keadilan" src="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/09/keadilan1.gif?w=150&#038;h=146" alt="" width="150" height="146" /></a></p>
<p>Entah saya mengalami delusi atau obsesi utopis, namun saya rasa bagi setiap manusia di segala jaman pasti merindu akan suatu tatanan kehidupan yang berkeadilan social.<br />
Dimana damba tersebut mewujud dalam konsep-konsep akan surga, rahmatan lil alamin, mengayu hayuning bawana, dictator proletariat, ataupun ratu adil.</p>
<p>Berawal dari itu saya membaca keseluruhan alkitab juga sebagai satu idea dasar yang selalu hidup dalam jiwa manusia yaitu keadilan social. Dengan segala liku perjuangan dan jatuh bangunnya manusia di setiap jamannya.</p>
<p>Sebagai bangsa semi nomadis di pinggir padang gurun, telah membangun kesadaran kaum Israel kala itu bahwa seorang individu tak dapat bertahan hidup sendiri, yang akhirnya melahirkan masyarakat keluarga &amp; marga yang menyatu sebagai suku-suku.<br />
Milik kepunyaan tak pernah menjadi suatu hak khusus yang diperoleh dengan membebani orang lain dalam lingkungan yang sama… tiada kepunyaan pribadi… kalaupun ada tak pernah dipakai buat menindas orang lain.<br />
Akhirnya setelah menjadi satu bangsa di Kanaan, kesadaran tradisi semi nomadis tersebut menjadi ‘teologi perjanjian’. Dimana ‘Perjanjian’ itu merupakan ide maupun cita-cita sebuah bangsa yang sederajat, baik diantara mereka sendiri maupun di hadapan Yahwe.</p>
<p>Janji Yahwe akan kemakmuran duniawi dijanjikan sebagai suatu keseluruhan, untuk dinikmati bersama oleh semua anggota masyarakat… asal mereka setia pada perjanjian, Yahwe memberi jaminan ”tidak akan ada orang yang miskin diantaramu” …”asal saja engkau mendengarkan baik-baik suara tuhanmu” .<br />
(suara tuhan saya artikan sebagai idea akan keadilan social tersebut…dikisahkan sebagai larangan untuk mengumpulkan ‘manna’ yang mungkin akan berakibat merusak kesederajatan mereka dalam hal ketergantungan akan Yahwe/ Sang Hidup).</p>
<p>Namun tiada tertib social yang tahan kemerosotan, selalu saja ada orang yang sanggup &amp; tidak sanggup. “Kelalaian dan kemalangan” sementara orang, “kekuatan dan kemujuran” yang lain memainkan peranan. Juga bauran budaya dengan kaum Kanaan &amp; Amori yang menganggap harta mereka sebagai komoditi yang bisa dijual, membuat kaum Israel memiliki dua macam hak milik tanah, satu milik marga yang dibagi saat jaman Yosua, satunya tanah milik pribadi yang dibeli dari Kaum Amori &amp; Kanaan.</p>
<p>Timbullah kekayaan dan keinginan untuk mendominasi…</p>
<p>Inilah yang menjadi permasalahan utama, dimana akhirnya para nabi bernubuat dan lahirlah berbagai perundangan seperti Hukum Taurat, Tahun Sabat, Tahun Yobel, Kabar Gembira Kerajaan Allah, Das Kapital…yang dapat kita tarik kesimpulan bahwa Yahwe yang diimani oleh Israel menurut alkitab bukanlah tuhan yang netral, namun secara gamblang menggambarkan Yahwe yang berada pada pihak kaum miskin dan tertindas.</p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/09/jesus_guevara1.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-625 aligncenter" title="jesus_guevara" src="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/09/jesus_guevara1.jpg?w=188&#038;h=127" alt="" width="188" height="127" /></a>Keberpihakan tersebut karena Yahwe adalah tuhan yang setia pada ‘Perjanjian’.<br />
“Allah Perjanjian”, Kesadaran sang manusia bahwa dalam kemiskinan &amp; ketertindasan itulah titik dimana kemanusiaannya paling terancam…. Baik penindas &amp; yang tertindas membutuhkan pembebasan, yang bagi para nabi pembebasan adalah berarti kembali kepada ‘Perjanjian’, suatu pengetahuan sejati akan Yahwe, pengetahuan sejati akan idea kemanusiaan… seluruh alkitab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru merupakan suatu undangan untuk menjadi ‘bebas’ dan membiarkan orang lain menjadi bebas sambil menjadi “Anak-Anak Allah”.</p>
<p>Saya tak sedang hendak menjelaskan tesis pokok marxisme dengan pembenarannya secara alkitabiah. Namun mungkin ini sebagai salah satu upaya pemaknaan hidup yang saya coba untuk lebih membumi *atau malahan terhalusinasi oleh mimpi* sesuai keadaan &amp; kondisi jaman dimana saya dihidupi.</p>
<p>Seperti juga “andon laku angulati serat pangruwating papa nista”…bertualang mencari kitab yang akan mengentaskan dan memuliakan keadaan papa nista”…sebuah laku spiritual pencarian makna hidup &amp; perjalanan perjumpaan kembali dengan diri sendiri yang tengah saya lakoni.</p>
<p><strong><em>2. REALITA</em></strong></p>
<blockquote><p>Apa sumbangan kebangkitan spiritualitas bagi moral, etika dan keadaan social manusia, dimana keadaannya seperti yang pernah ditulis Leonardo Rimba “greedy go lucky”?</p></blockquote>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align:center;"><em>”Dengan mata, seseorang dapat melihat pandangan memilukan; Mengapa Brahma itu tidak menciptakan secara baik? Bila kekuatannya demikian tak terbatas, mengapa tangannya begitu jarang memberkati? Mengapa dia tidak memberi kebahagiaan semata? Mengapa kejahatan, kebohongan dan ketidak-tahuan merajalela? Mengapa memenangkan kepalsuan, sedangkan kebenaran dan keadilan gagal?</em><br />
<strong><em> SAYA MENGANGGAP, BRAHMA ADALAH KETIDAK-ADILAN .</em></strong><br />
<em> Yang membuat dunia yang diatur keliru.”</em><br />
<em> [Bhuridatta Jataka, Jataka 543]</em></p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Mungkin memang saya sedang mengalami delusi,<br />
Realitas konkret alam semesta berjalan apa adanya sesuai hukum kausalitas dan kesetimbangan, tiada mengenal apa itu yang disebut keadilan social… namun kedegilan dan keterpurukan bangsa ini telah telanjur membuat saya menjadi obsesif sekaligus kapitulasi… butuh berapa ratus tahun lagi buat bangsa ini untuk bisa berevolusi mencapai kesadaran?<br />
Butuh suatu revolusi besar yang mungkin bila tak mampu dimotori manusia, akan diambil alih oleh alam sendiri sebagai konsekwensi hukum kausalitas tersebut. Dan pemikiran akan hal-hal ini yang menciptakan delusi… pengalaman puncak &amp; intuisi… sosok-sosok hero?</p>
<p>Bagaimanapun, saya berusaha untuk terus memahami, dan menerima realitas sebagaimana apa adanya bukan sebagaimana seharusnya…<br />
Menerima realitas, memahami realitas… Lalu bertindak berdasarkan apa yang seharusnya kita lakukan…<br />
Karena memang realitas hanya bisa kita terima ‘apa adanya’, sedang menerima ‘apa yang seharusnya’ hanya relevan untuk keputusan yang akan kita ambil…</p>
<p>Dan disinilah dalam pengambilan &amp; pembuatan keputusan ini… saya menyadari akan otentisitas, orisinalitas &amp; kualitas kemanusiaan…<br />
Segala arketipe bukan lagi suatu fixasi infantile, namun adalah gambaran dari kesadaran tentang kesejatian diri yang ingin diwujudnyatakan. Keperkasaan dan kehebatan segala sosok hero (ratu adil, satriya piningit) mendapatkan dan hanya akan mendapatkan eksistensinya dalam diri kita.</p>
<blockquote><p>….<em>”Keadilan sosial, moral, dan etika adalah bahasa manusia. Sebuah konsep yang ditemukan oleh manusia dalam meniti dan memaknai kehidupannya yang lahir karena adanya interaksi dan dialektika kepentingan dari manusia dengan manusia, manusia dengan alam. Jadi karena konsep ini dilahirkan oleh manusia, maka tugas manusia pula untuk terus mengusahakan dan mengembangkannya baik secara individual maupun kolektif”</em>….</p></blockquote>
<p>Semangat, keberpihakan, kejelasan orientasi tidak bisa diukur dari sensasi supranatural yang mungkin hanyalah pelarian infantile dari obsesi kita… juga tak pernah bisa dilihat dari reaksi-reaksi emosional terhadap realitas yang mau kita lawan (seolah-olah dengan demikian kita sudah berjuang melawan penindasan dan ketidakadilan), melainkan dari tindakan konkret yang dilakukan. realitas yang kita wujudnyatakan.</p>
<p>Ingin meruwat papa nista… ingin mengubah dunia… Hmmmm….</p>
<blockquote><p><a href="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/09/karna2.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-627 alignleft" src="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/09/karna2.jpg?w=155&#038;h=172" alt="" width="155" height="172" /></a>Yang rasional saya lakukan adalah mengubah diri terlebih dahulu!<br />
Karena tindakanku tak pernah berhadapan dengan dunia luas secara langsung, hanya kontak dengan dunia kecil yang saya hadapi, yang tergantung pada keterbatasan penginderaan.<br />
Dunia kecilku… itulah yang mestinya saya ubah.</p>
<p>Kalau tidak menghadapi itu, saya tidak mengubah apa-apa.</p>
<p>Bila saya menghadapinya, berarti menghadapi diri sendiri juga, dan itu juga berarti bergulat dengan perasaan dan pemikiran.</p></blockquote>
<p>Dan mungkin realitas tak seburuk yang selama ini saya duga…<br />
Realitas yang saya maksud adalah realitas konkret segala hal yang bisa kita cerap secara inderawi, bukan realitas persepsi kita, yang kita cerap secara intelektual, gagasan, pemikiran, dugaan, prasangka.</p>
<p>Realitas itu baik adanya, dimana yang namanya kejahatan memang inheren ada dalam diri manusia.<br />
Mengapa seseorang menjadi koruptor, pelacur, karena mereka mempunyai kondisi-kondisi tertentu yang membuat mereka menjadi seperti itu, mereka bermasalah karena mereka belum sadar. Masih hidup dalam dunia insting mereka.</p>
<p>Memahami mekanismenya, memahami pelaku-pelakunya, memahami bagaimana mereka bisa bertindak seperti itu. Memahami apa yang mengkondisikan mereka begitu, tahu keadaan yang melatarbelakangi dan akibat-akibatnya kemudian mencari alternative tindakan yang dilakukan.<br />
Lalu kita nantinya akan memahami bahwa manusia ini memang sedang tidur. Asyik masyuk terbuai mimpi.</p>
<p>Manusia yang telah terbangunkan yang memutuskan hal yang nyata atau cuma sekedar mimpi…dan dalam mewujudnyatakankan segala mimpi, kita tetap menyadari bahwa kita sedang mengalami segala sensasi dari kesadaran kita yang tengah asyik bermain-main…</p>
<p>Actor perubahan social adalah orang-orang yang sadar. Kesadaran yang menjadi penggerak perubahan!!</p>
<p style="text-align:center;"><em>Seorang Yogi harus bisa melihat</em><br />
<em> Hasil kerjanya selama hidup dihancurkan</em><br />
<em> Harapannya musnah</em><br />
<em> Rencananya dan semua usahanya sia-sia</em><br />
<em> Semuanya kandas</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Dan masih saja</em><br />
<em> Tidak goyah</em><br />
<em> Tidak peduli</em><br />
<em> Sejauh itu</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Dengan hati yang tiada sedih</em><br />
<em> Sebuah keluhan</em><br />
<em> Atau penyesalan</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Ia terus berusaha</em><br />
<em> Tanpa rasa kecut</em><br />
<em> …</em><br />
<em> Tanpa ketamakan</em><br />
<em> Tanpa kebencian</em><br />
<em> Tanpa ilusi</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>“Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta!”</em></p>
<p style="text-align:center;">*****</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tomyarjunanto.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tomyarjunanto.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tomyarjunanto.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tomyarjunanto.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tomyarjunanto.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tomyarjunanto.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tomyarjunanto.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tomyarjunanto.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tomyarjunanto.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tomyarjunanto.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tomyarjunanto.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tomyarjunanto.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tomyarjunanto.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tomyarjunanto.wordpress.com/604/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tomyarjunanto.wordpress.com&amp;blog=2079665&amp;post=604&amp;subd=tomyarjunanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tomyarjunanto.wordpress.com/2011/09/06/obsesi-persepsi-realita-yang-diwujudkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/45594e0f1764f89bcbb731af715ba223?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">tomy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/09/keadilan1.gif?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Mencari Keadilan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/09/jesus_guevara1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">jesus_guevara</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/09/karna2.jpg?w=136" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>SUMPAH BUDAYA 2011</title>
		<link>http://tomyarjunanto.wordpress.com/2011/09/05/sumpah-budaya-2011/</link>
		<comments>http://tomyarjunanto.wordpress.com/2011/09/05/sumpah-budaya-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Sep 2011 06:05:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tomyarjunanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[berjuang & merdeka]]></category>
		<category><![CDATA[JANGKA NUSANTARA]]></category>
		<category><![CDATA[perjuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tomyarjunanto.wordpress.com/?p=602</guid>
		<description><![CDATA[Situasi mental sosial-budaya bangsa yang cukup memprihatinkan sekarang ini harus segera dicarikan jalan keluarnya dan harus ada langkah raksasa agar ada keperdulian dari semua elemen bangsa untuk memelihara dan menjaga budaya nusantara tidak sekedar parsial namun dalam scope nasional secara komprehensif. Perlu pula dilakukan semacam revitalisasi budaya bangsa dengan visi menjadi bangsa Indonesia yang berkarakter [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tomyarjunanto.wordpress.com&amp;blog=2079665&amp;post=602&amp;subd=tomyarjunanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;"><a href="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/09/22bender-gif.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-610" title="wpsementara.wordpress.com" src="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/09/22bender-gif.png?w=300&#038;h=195" alt="bendera" width="300" height="195" /></a>Situasi mental sosial-budaya bangsa yang cukup memprihatinkan sekarang ini harus segera dicarikan jalan keluarnya dan harus ada langkah raksasa agar ada keperdulian dari semua elemen bangsa untuk memelihara dan menjaga budaya nusantara tidak sekedar parsial namun dalam scope nasional secara komprehensif. Perlu pula dilakukan semacam revitalisasi budaya bangsa dengan visi menjadi bangsa Indonesia yang berkarakter (mempunyai jati diri), bermartabat dan terhormat.</p>
<p>Indonesia kini adalah sebuah bangsa yang telah kehilangan jati dirinya. Bangsa yang tidak lagi mengetahui apa dan bagaimana nilai-nilai interaksi manusia dengan lingkungan alam dan lingkungan sosialnya terbangun sejak ribuan tahun silam. Padahal dari nilai-nilai itu karakter jiwa suatu bangsa terlihat. Setiap celah kesadaran dan aktivitas hidup individu saat ini tidak lagi mencerminkan jati dirinya.</p>
<p>Bangsa kita sudah tidak berbudaya, bobrok moralitas dan etikanya. Budaya kita stagnan bahkan surut mundur ke wilayah masa lalu dimana kita hanya bisa menjadi pasif menerima budaya dari luar tanpa mampu untuk menggeliat, mewarnai dan kreatif menjalin sinergitas dengan budyaa yang dari luar. Masalah ini mutlak segera dibahas dan dipecahkan bersama-sama. Kita perlu menyadari bahwa banyaknya persoalan yang dihadapi bangsa ini sangat kompleks menyangkut kehidupan sosial, ekonomi, politik dan lainnya. Namun harus digarisbawahi kalau bidang-bidang tersebut sangat terkait dengan krisis yang berlaku di lapangan kebudayaan.</p>
<p>Kita mengakui budaya bangsa warisan leluhur kita sangat adiluhung. Namun kenapa perhatian semua pihak terhadap budaya bangsa semakin lama semakin rendah? Bangsa ini seakan menjadi bangsa yang tanpa budaya, dan perlahan dan pasti suatu saat nanti bangsa ini pasti lupa akan budayanya sendiri. Situasi ini menunjukan betapa krisis budaya telah melanda negeri ini. Rendahnya perhatian pemerintah untuk menguri-uri budaya bangsanya, menunjukan minimnya pula kepedulian atas masa depan budaya. Yang semestinya budaya senantiasa dilestarikan dan diberdayakan. Muara dari kondisi di atas adalah bangkrutnya tatanan moralitas bangsa. Kebangkrutan moralitas bangsa karena masyarakat telah kehilangan jati dirinya sebagai bangsa besar nusantara yang sesungguhnya memiliki “software” canggih dan lebih dari sekedar “modern”. Itulah “neraka” kehidupan yang sungguh nyata dihadapi oleh generasi penerus bangsa.</p>
<p>Kebangkrutan moralitas bangsa dapat kita lihat dalam berbagai elemen kehidupan bangsa besar ini. Rusak dan hilangnya jutaan hektar lahan hutan di berbagai belahan negeri ini. Korupsi, kolusi, nepotisme, hukum yang bobrok dan pilih kasih. Pembunuhan, perampokan, pencurian, pemerkosaan, asusial, permesuman, penipuan dan sekian banyaknya tindak kejahatan dan kriminal dilakukan oleh masyarakat maupun para pejabat. Bahkan oleh para penjaga moral bangsa itu sendiri. Duduk persoalannya, orang kurang memahami jika budaya bersentuhan langsung dengan sendi-sendi kehidupan manusia di segala bidang dengan lingkungan alamnya di mana mereka hidup. Sebagai contoh terjadinya kerusakan alam yang kronis menunjukkan dampak tercerabutnya (disembeded) manusia dengan harmoni lingkungan alamnya.</p>
<p>Undang Undang Dasar Negara RI tahun 1945 (UUD 1945) Pasal 32 ayat (1) dinyatakan, “Negara memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasa masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai–nilai budayanya”. Sudah sangat jelas konstitusi menugaskan kepada penyelenggara negara untuk memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Ini berarti negara berkewajiban memberi ruang, waktu, sarana, dan institusi untuk memajukan budaya nasional dari mana pun budaya itu berasal.</p>
<p>Amanah konstitusi itu, tidak direspon secara penuh oleh pemerintah. Bangsa yang sudah merdeka 66 tahun ini masalah budaya kepengurusannya “dititipkan” kepada institusi yang lain. Pada masa yang lampau pengembangan budaya dititipkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, kini Budaya berada dalam satu atap dengan Pariwisata, yakni Departemen Pariwisata dan Budaya. Dari titik ini saja telah ada kejelasan, bagaimana penyelenggara negara menyikapi budaya nasional itu. Budaya nasional hanya dijadikan pelengkap penderita saja.</p>
<p>Kita ingat beberapa saat yang lalu kejadian yang menyita perhatian yaitu klaim oleh negara Malaysia terhadap produk budaya bangsa Indonesia yang diklaim sebagai budaya negara Jiran tersebut, antara lain lagu Rasa Sayange, Batik, Reog Ponorogo, Tari Bali, dan masih banyak lainnya. Apakah kejadian seperti ini akan dibiarkan terus berulang?</p>
<p>Seharusnya peristiwa tragis tersebut dapat menjadi martir kesadaran dan tanggungjawab yang ada di atas setiap pundak para generasi bangsa yang masih mengakui kewarganegaraan Indonesia. Negara atau pemerintah Indonesia semestinya berkomitmen untuk mengembangkan kebudayaan nasional sekaligus melindungi aset-aset budaya bangsa, agar budaya Indonesia yang dikenal sebagai budaya adi luhung, tidak tenggelam dalam arus materialistis dan semangat hedonisme yang kini sedang melanda dunia secara global. Sudah saatnya negara mempunyai strategi dan politik kebudayaan yang berorientasi pada penguatan dan pengukuhan budaya nasional sebagai budaya bangsa Indonesia.</p>
<p>Sebagai bangsa yang merasa besar, kita harus meyakini bahwa para leluhur telah mewariskan pusaka kepada bangsa ini dengan keanekaragaman budaya yang bernilai tinggi. Warisan adi luhung itu tidak cukup bila hanya berhenti pada tontonan dan hanya dianggap sebagai warisan yang teronggok dalam musium, dan buku buku sejarah saja. Bangsa ini mestinya mempunyai kemampuan memberikan nilai nilai budaya sebagai aset bangsa yang mesti terjaga kelestarian agar harkat martabat sebagai bangsa yang berbudaya luhur tetap dapat dipertahankan sepanjang masa.</p>
<p>Dalam situasi global, interaksi budaya lintas negara dengan mudah terjadi. Budaya bangsa Indonesia dengan mudah dinikmati, dipelajari, dipertunjukan, dan ditemukan di negara lain. Dengan demikian, maka proses lintas budaya dan silang budaya yang terjadi harus dijaga agar tidak melarutkan nilai nilai luhur bangsa Indonesia. Bangsa ini harus mengakui, selama ini pendidikan formal hanya memberi ruang yang sangat sempit terhadap pengenalan budaya, baik budaya lokal maupun nasional. Budaya sebagai materi pendidikan baru taraf kognitif, peserta didik diajari nama-nama budaya nasional, lokal, bentuk tarian, nyanyian daerah, berbagai adat di berbagai daerah, tanpa memahami makna budaya itu secara utuh. Sudah saatnya, peserta didik, dan masyarakat pada umumnya diberi ruang dan waktu serta sarana untuk berpartisipasi dalam pelestarian, dan pengembangan budaya di daerahnya. Sehingga nilai-nilai budaya tidak hanya dipahami sebagai tontonan dalam berbagai festival budaya, acara seremonial, maupun tontonan dalam media elektronik.</p>
<p><a href="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/09/revolution11.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-612" title="http://abigdream.wordpress.com/" src="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/09/revolution11.jpg?w=120&#038;h=180" alt="http://abigdream.wordpress.com/" width="120" height="180" /></a>Masyarakat, sesungguhnya adalah pemilik budaya itu. Masyarakatlah yang lebih memahami bagaimana mempertahankan dan melestarikan budayanya. Sehingga budaya akan menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya pemeliharaan budaya oleh masyarakat, maka klaim-klaim oleh negara lain dengan mudah akan terpatahkan. Filter terhadap budaya asing pun juga dengan aman bisa dilakukan. Pada gilirannya krisis moral pun akan terhindarkan. Sudah saatnya, pemerintah pusat dan daerah secara terbuka memfasilitasi partisipasi masyarakat dalam upaya penguatan budaya nasional.</p>
<p>Dengan dasar di atas, kami bagian dari elemen bangsa ini bersumpah:</p>
<p><strong>SUMPAH BUDAYA</strong></p>
<ol>
<li><strong>MENDESAK KEPADA PEMERINTAH UNTUK SERIUS MEMPERHATIKAN PEMBANGUNAN BUDAYA DAN MEMPENETRASIKAN KE DUNIA PENDIDIKAN, EKONOMI, SOSIAL DAN POLITIK.</strong></li>
<li><strong>MENGELUARKAN KEBIJAKAN YANG MENDUKUNG LESTARINYA NILAI-NILAI BUDAYA LOKAL DAN NASIONAL YANG POSITIF DAN KONSTRUKTIF SEHINGGA MEMPERKUAT IDENTITAS DAN JATI DIRI BANGSA.</strong></li>
<li><strong>MENGGALANG SEMUA POTENSI BUDAYA YANG ADA MELALUI TATA KELOLA KEBUDAYAAN YANG BAIK DAN BENAR.</strong></li>
</ol>
<p>DITANDATANGANI DI YOGYAKARTA, 2 SEPTEMBER 2011</p>
<ol>
<li><em>SABDA LANGIT</em></li>
<li><em>WONG ALUS</em></li>
<li><em>KI CAMAT</em></li>
<li><em>MAS KUMITIR</em></li>
<li><em>SABDO SEJATI</em></li>
<li><em>TOMY ARJUNANTO</em></li>
<li><em>KANEKO GATI WACANA</em></li>
<li><em>KANGTONO</em></li>
<li><em>ANTON.S</em></li>
<li><em>SUPARJO</em></li>
<li><em>WISNU ARDEA</em></li>
</ol>
<p>Bagi saudara sebangsa dan setanah air, silahkan bergabung dengan gerakan ini dan menyebarkan sumpah budaya ini dengan ikut serta menyebarkan Sumpah Budaya ini. Demikian pernyataan kami. Terima kasih. Salam Berbudaya. Asah asih asuh. @@@</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tomyarjunanto.wordpress.com/602/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tomyarjunanto.wordpress.com/602/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tomyarjunanto.wordpress.com/602/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tomyarjunanto.wordpress.com/602/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tomyarjunanto.wordpress.com/602/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tomyarjunanto.wordpress.com/602/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tomyarjunanto.wordpress.com/602/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tomyarjunanto.wordpress.com/602/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tomyarjunanto.wordpress.com/602/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tomyarjunanto.wordpress.com/602/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tomyarjunanto.wordpress.com/602/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tomyarjunanto.wordpress.com/602/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tomyarjunanto.wordpress.com/602/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tomyarjunanto.wordpress.com/602/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tomyarjunanto.wordpress.com&amp;blog=2079665&amp;post=602&amp;subd=tomyarjunanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tomyarjunanto.wordpress.com/2011/09/05/sumpah-budaya-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/45594e0f1764f89bcbb731af715ba223?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">tomy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/09/22bender-gif.png?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">wpsementara.wordpress.com</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/09/revolution11.jpg?w=100" medium="image">
			<media:title type="html">http://abigdream.wordpress.com/</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KIDUNG SENGGANA</title>
		<link>http://tomyarjunanto.wordpress.com/2011/06/09/kidung-senggana/</link>
		<comments>http://tomyarjunanto.wordpress.com/2011/06/09/kidung-senggana/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jun 2011 07:49:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tomyarjunanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[berjuang & merdeka]]></category>
		<category><![CDATA[JANGKA NUSANTARA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tomyarjunanto.wordpress.com/?p=592</guid>
		<description><![CDATA[Duk semana Jayabaya mantu, bebesanan Wanara Seta, Senggana iku arane, Jaya Sudarma wus kapacak kagyat leng-lenging ndriya, tinantang Prabu Mawenang, prang tandhing tumekeng sirna. Senggana sigra hamipit wayahipun Jaya Sudarma, Sukeksi araning dewi sayekti putra Kedhiri, Mukswaning Sang Jayabaya lair kakung Anglingdarma ***** Prabu Mawenang gugur ing madyaning prang, kasarekaken ing Bergas ingkang ugi katelah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tomyarjunanto.wordpress.com&amp;blog=2079665&amp;post=592&amp;subd=tomyarjunanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><a href="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/06/anoman.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-600" title="allinfo-mu.blogspot.com" src="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/06/anoman.jpg?w=510" alt=""   /></a></p>
<p><em>Duk semana Jayabaya mantu,</em><br />
<em>bebesanan Wanara Seta,</em><br />
<em>Senggana iku arane,</em><br />
<em>Jaya Sudarma wus kapacak kagyat leng-lenging ndriya,</em><br />
<em>tinantang Prabu Mawenang,</em><br />
<em>prang tandhing tumekeng sirna.</em><br />
<em>Senggana sigra hamipit wayahipun Jaya Sudarma,</em><br />
<em>Sukeksi araning dewi sayekti putra Kedhiri,</em><br />
<em>Mukswaning Sang Jayabaya lair kakung Anglingdarma</em></p></blockquote>
<p align="center">*****</p>
<p>Prabu Mawenang gugur ing madyaning prang, kasarekaken ing Bergas ingkang ugi katelah Bagasri. Pasareyanipun  tinengeran reca Ganesha.<br />
Gantining jaman ngancik Kamasiya taun 1943 sedane Herucakra nenggih Jatikusuma, peputra Kusna ingkang jejuluk Putra Sang Fajar…..</p>
<p align="right">Kados ingkang kawejang dening Ki Jangkung ing Sendang Cupu Manik Astagina</p>
<p><span id="more-592"></span><br />
<em>*****</em><br />
<em> </em><br />
<em>Kabupaten Semar_ang</em>, dalam naungan Gunung Ungaran…</p>
<p>Ong Aran, Hong, asal mula sagung dumadi. Di laladan Bergas, dulu disebut Bagasri, berasal dari kata Baga, perangkat kemaluan perempuan pasemon dari <em>Bumi Suci</em>, dan Sri, Sang Dewi Kesuburan. Teruntai kisah pingitan, torehan sejarah, ilham kebangkitan para hanom-hanomaning bangsa.</p>
<p>Bagasri, bumi suci yang penuh kesuburan, tempat menyemai &amp; menuai benih-benih kehidupan, dasanama dari Sang Ibu Bumi, Ibu Pertiwi.</p>
<p>Terbetik keinsyafannya akan cinta Ibu yang agung, Resi Subali mendapatkan Aji Pancasona, karunia yang membuatnya tak akan mati selama jasadnya tetap dalam rengkuhan kasih Ibu Pertiwi. Dan dalam embanan kasih Ibu pula Sang Anoman mendapatkan Aji Wundri, sebuah kekuatan mahadahsyat mampu mengangkat gunung mengguncang dunia.</p>
<p>Di pereng Kendhalisada ini teringat kembali aku akan semangat yang digelorakan Bapak Bangsaku, <em>“…Tetapi beri aku 10 pemuda, karena dengan mereka aku akan mengguncang dunia…”</em><br />
Maka dalam keheningan malam di dingin udara pegunungan,<br />
selepas membasuh tubuh di sendang bermata air hangat,<br />
kehangatan yang mengalir dari dalam perut bumi ibuku,<br />
kuwiridkan pengharapan,<br />
kulantunkan kidung pujian,<br />
bagi kebangkitan Hanoman… Hanom-hanomaning Bangsa</p>
<p style="text-align:center;"><em>Hong ngawigena sekaring bawana langgeng,</em><br />
<em>Dalem angluhuraken saha nyuwun sabdanipun Pepundhen Mayangga Seta,</em><br />
<em> ingkang lenggah wonten ing Kendhalisada,</em><br />
<em>Mugya enggal manuksma para hanom-hanomaning bangsa</em><br />
<em>Mbengkas kumayan Ratu Ngalengka,</em><br />
<em>Wus titi wancine pamungkase kang dur angkara</em><br />
<em><em>Hayu… Hayu… Rahayu Sagung Dumadi…</em></em></p>
<div id="attachment_597" class="wp-caption aligncenter" style="width: 234px"><a href="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/06/aji_wundri.jpg"><img class="size-full wp-image-597" title="http://herjaka.blogspot.com/" src="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/06/aji_wundri.jpg?w=510" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">Aji Wundri adalah ajian yang diberikan Dewi Sinta kepada Hanoman untuk memerangi Dasamuka si angkaramurka. Sesungguhnya Aji Wundri adalah pengejawantahan kekuatan seorang Ibu yang menghangatkan, yang mencintai kehidupan, tulus, perkasa dan sabar tak terbatas. Hanya orang-orang yang merasa lemah tak berdaya seperti layaknya seorang bayi yang dapat meyerap Aji Wundri</p></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tomyarjunanto.wordpress.com/592/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tomyarjunanto.wordpress.com/592/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tomyarjunanto.wordpress.com/592/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tomyarjunanto.wordpress.com/592/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tomyarjunanto.wordpress.com/592/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tomyarjunanto.wordpress.com/592/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tomyarjunanto.wordpress.com/592/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tomyarjunanto.wordpress.com/592/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tomyarjunanto.wordpress.com/592/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tomyarjunanto.wordpress.com/592/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tomyarjunanto.wordpress.com/592/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tomyarjunanto.wordpress.com/592/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tomyarjunanto.wordpress.com/592/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tomyarjunanto.wordpress.com/592/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tomyarjunanto.wordpress.com&amp;blog=2079665&amp;post=592&amp;subd=tomyarjunanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tomyarjunanto.wordpress.com/2011/06/09/kidung-senggana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/45594e0f1764f89bcbb731af715ba223?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">tomy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/06/anoman.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">allinfo-mu.blogspot.com</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/06/aji_wundri.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">http://herjaka.blogspot.com/</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>NGUSLUK-USLUK BATHOKE SAPA?</title>
		<link>http://tomyarjunanto.wordpress.com/2011/06/01/ngusluk-usluk-bathoke-sapa/</link>
		<comments>http://tomyarjunanto.wordpress.com/2011/06/01/ngusluk-usluk-bathoke-sapa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jun 2011 04:26:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tomyarjunanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Badan Asli Pambudidaya Amal Kebutuhan]]></category>
		<category><![CDATA[DEKONSTRUKSI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tomyarjunanto.wordpress.com/?p=584</guid>
		<description><![CDATA[Pamuji rahayu, Sudah banyak tulisan yang mencoba mengulas makna dibalik tembang dolanan Sluku-sluku Bathok. Ada yang mengaitkannya dengan ajaran agama, pula yang melihatnya dari sudut pandang penekunan spiritual. Bukan maksud saya ikut-ikutan latah mengulas makna tembang dolanan tersebut, namun kiranya pemaknaan dari sudut pandang lain juga kita perlukan sebagai alternative atau boleh hanya sekedar untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tomyarjunanto.wordpress.com&amp;blog=2079665&amp;post=584&amp;subd=tomyarjunanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/06/dolanan-anak-sluku2-bathok-1935.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-585" title="Dolanan anak - Sluku2 bathok" src="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/06/dolanan-anak-sluku2-bathok-1935.jpg?w=300&#038;h=182" alt="" width="300" height="182" /></a></p>
<p>Pamuji rahayu,</p>
<p>Sudah banyak tulisan yang mencoba mengulas makna dibalik tembang dolanan Sluku-sluku Bathok. Ada yang mengaitkannya dengan ajaran agama, pula yang melihatnya dari sudut pandang penekunan spiritual.<br />
Bukan maksud saya ikut-ikutan latah mengulas makna tembang dolanan tersebut, namun kiranya pemaknaan dari sudut pandang lain juga kita perlukan sebagai alternative atau boleh hanya sekedar untuk menambah wawasan.<br />
Saya mencoba memaknainya dari sudut pandang kenakalan saya yang dengan semena-mena saya sebut sendiri sebagai sudut pandang sangkan paran atau Jawa Kawitan.   <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Bagi yang belum tahu, berikut syair Sluku-sluku Bathok selengkapnya :</p>
<p align="center"><strong><em>Sluku-sluku bathok</em></strong></p>
<p align="center"><strong><em>Bathoke ela-elo</em></strong></p>
<p align="center"><strong><em>Si Rama menyang Sala</em></strong><strong><em>/Kutha</em></strong></p>
<p align="center"><strong><em>Oleh-olehe payung motha</em></strong></p>
<p align="center"><strong><em>Mak jenthit lolo lobah</em></strong></p>
<p align="center"><strong><em>Wong mati ora obah</em></strong></p>
<p align="center"><strong><em>Nek obah medeni bocah</em></strong></p>
<p align="center"><strong><em>Nek urip goleka dhuwit.</em></strong></p>
<p><span id="more-584"></span>Sangkan, atau awal mula manusia menurut kitab-kitab agama dikisahkan berasal dari lempung yang disebul ‘mak bul’ langsung menjadi hidup…<br />
mungkin dari kisah ini bisa menjelaskan kenapa umat manusia lebih banyak berjenis kelamin perempuan.<br />
Lha kalo bikin laki-laki dari tanah lempung khan harus digelintiri dulu biar membentuk bulatan panjang atau ‘bunder dawa’, tentu ini membutuhkan waktu lebih lama daripada membuat kelamin perempuan, tinggal ditutul ‘mak tul’ ditarik dikit membuat belahan atau sigaran, jadi deh.  <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /><br />
Maka ketika manusia menikah ‘si sigar’ ini bertemu dengan ‘si dawa’ lalu disebut ‘garwa’.<br />
Namun itu hanya kisah dongeng, hipotesa kejadian manusia, yang menurut Eyang Darwin malahan manusia berasal dari spesies kera.</p>
<p>Entah berasal dari lempung atau munyuk, yang tak bisa dipungkiri adalah adanya manusia berasal dari bertemunya sel telur Ibu dan sperma Bapak.<br />
Pertemuan dari sel telur dan sperma ini karena Bapak bermain <strong><em>sluku-sluku bathok</em></strong>  <strong>duduk di bawah dengan meluruskan kedua belah kaki ke depan </strong><strong>sedang </strong><strong>kedua belah tangan memegang lutut</strong><strong>, sebagai pasemon kehendak merenggangkan kaki Ibu karena keinginan menikmati bathoknya Ibu yang ela-elo.</strong><br />
<strong><em>Bathoke ela-elo</em></strong><strong><em> </em></strong><strong>adalah perlambang Bumi Suci Ibu, tempat persemaian benih kehidupan, yang juga disebut </strong><strong><em>Nagari </em></strong><strong>atau dalam syair disebut </strong><strong><em>Kutha Sala</em></strong><strong>.</strong><br />
<strong><em>Si Rama menyang Sala</em></strong><strong><em>/Kutha</em></strong> mengandung maksud Bapak menyemai benih didalam bumi suci Ibu.<br />
<strong><em>Oleh-olehe payung motha</em></strong>, payung motha adalah payung yang berwarna putih sabagai sanepan dari sperma, Kama Sang Bapak, Kama Dadi Kamaning Allah. Sang Pancaran Kehidupan.<br />
Sehingga lahirlah kehidupan yang ditandai dengan rasa <strong><em>‘Mak Jenthit’</em></strong> ….rasa sebagai utusan Hidup, rasa yang membuktikan sekaligus sebagai saksi bahwa kita ini sejatinya Hidup.</p>
<p>Rasa akan Hidup membawa kesadaran yang menumbuhkan kehendak serta gerak. <strong><em>Lolo lobah</em></strong>, kesadaran akan Hidup yang menggerakkan seluruh aktivitas kita.<br />
Hendaknya seluruh aktivitas gerak kehidupan kita diterangi oleh kesadaran ini. Kesadaran akan hidup yang menghidupi.<br />
<strong><em>Wong mati ora obah, </em></strong>Tanpa kesadaran akan hidup yang menghidupi kita selayaknya mayat hidup, meski selalu bergerak berjalan-jalan kesana kemari tapi tak memiliki rasa, urip kapiran, tuna kepedulian sehingga <strong><em>medeni bocah </em></strong>menakutkan para bocah.<br />
<strong><em>Nek urip goleka dhuwit</em></strong>, maka orang yang Hidup dan sadar akan Hidupnya selayaknya juga Menghidupi. Menghidupi dirinya sendiri dengan bekerja memenuhi kebutuhan sehari-hari juga menghidupi hidup sesamanya, sagung titah dumadi.</p>
<p>Demikian sekedar urun kenakalan saya, semoga bisa sedikit membawa pencerahan.<br />
Jenang sela wader kalen sesonderan.<br />
Apuranta yen wonten lepat kawula.</p>
<p>Hayu… Hayu… Rahayu Sagung Dumadi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tomyarjunanto.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tomyarjunanto.wordpress.com/584/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tomyarjunanto.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tomyarjunanto.wordpress.com/584/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tomyarjunanto.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tomyarjunanto.wordpress.com/584/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tomyarjunanto.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tomyarjunanto.wordpress.com/584/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tomyarjunanto.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tomyarjunanto.wordpress.com/584/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tomyarjunanto.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tomyarjunanto.wordpress.com/584/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tomyarjunanto.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tomyarjunanto.wordpress.com/584/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tomyarjunanto.wordpress.com&amp;blog=2079665&amp;post=584&amp;subd=tomyarjunanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tomyarjunanto.wordpress.com/2011/06/01/ngusluk-usluk-bathoke-sapa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/45594e0f1764f89bcbb731af715ba223?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">tomy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/06/dolanan-anak-sluku2-bathok-1935.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Dolanan anak - Sluku2 bathok</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PANGRUWATING PANCENDRIYA</title>
		<link>http://tomyarjunanto.wordpress.com/2011/05/26/pangruwating-pancendriya/</link>
		<comments>http://tomyarjunanto.wordpress.com/2011/05/26/pangruwating-pancendriya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 May 2011 02:50:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tomyarjunanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Badan Asli Pambudidaya Amal Kebutuhan]]></category>
		<category><![CDATA[SASTRA CETHA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tomyarjunanto.wordpress.com/?p=564</guid>
		<description><![CDATA[Pethikan Kitab Sastra Cetha Amangsuli tembung Pancen Driya (Pancadriya), senajan sampun sami dipun sumerepi, nanging menggah ing salokanipun, punapa dene dunungipun, kinten-kinten taksih awis-awis sanget ingkang ngawuningani, mila perlu ing ngriki kedah katerangaken. Inggih punika makaten : Kasebut ing Serat Mahabarata bageyan ing Adiparwa, kacariyos Dewi Drupadi punika dados garwanipun Pandhawa Gangsal, sarta saking garwa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tomyarjunanto.wordpress.com&amp;blog=2079665&amp;post=564&amp;subd=tomyarjunanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="right">Pethikan Kitab Sastra Cetha</p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/05/dornawilutama.jpg"><img class="aligncenter" title="http://herjaka.blogspot.com/2010/12/seberkas-cahaya-illahi-terpercik-dari.html" src="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/05/dornawilutama.jpg?w=240&#038;h=182" alt="" width="240" height="182" /></a>Amangsuli tembung Pancen Driya (Pancadriya), senajan sampun sami dipun sumerepi, nanging menggah ing salokanipun, punapa dene dunungipun, kinten-kinten taksih awis-awis sanget ingkang ngawuningani, mila perlu ing ngriki kedah katerangaken. Inggih punika makaten :</p>
<p>Kasebut ing Serat Mahabarata bageyan ing Adiparwa, kacariyos Dewi Drupadi punika dados garwanipun Pandhawa Gangsal, sarta saking garwa wau sami peputra satunggal-satunggal. Para Raja Putra wau kasebut Pancabala, Pancawala, Pancakumara lan ugi Pancabalawitiya.</p>
<p>Tegesipun Pancabala = anak jaler gangsal, Hadiwitiya = pinunjul tanpa timbang. Inggih Pancabala Hadiwitiya punika ingkang dados pralampitaning Pancadriya. Raja putra gangsal wau, putra saking Prabu Yudhistira nama Sang Pretiwindya, kangge pralambanging paningal, saking Sang Werkudara asma Sang Sotasoma, kangge pralambanging pangganda, saking Sang Arjuna nama Sang Sutakirti kangge pangumpamening pamiyarsa, saking Sang Nakula nama Sang Sutanika kangge sanepaning raosing ilat, saking Sang Sadewa nama Sang Srutakarma kangge pralampitaning rasaning anggota (badan).</p>
<p><span id="more-564"></span>Ing ngajeng sampun kasebataken bilih tembung pancadriya punika saking luluhing tembung pancen driya ingkang wusananipun lajeng mingsed dados mungel panca driya. Dene pancadriya wau kakinten namung wonten gangsal. Milanipun saged ngantos kedadosan ingkang makaten punika, jalaran saking ingseding tembung wau dereng dipun sumerepi. Dene yen leresipun pancadriya inggih pepancening karsa punika wonten nem : inggih punika Sad Rasa, Sad lan Rasa, jarwanipun rasa nem. Dados tumrap ingkang sampun dipun sumerepi ing ngakathah taksih kirang satunggal, inggih punika wontening pamicara. Ing ngriki sampun jangkep nem, inggih punika : pangganda, paningal, pamiyarsa, raosing ilat, raosing badan, pamicara.</p>
<p>Wondene wontening pamicara, lajeng dipun pralambangi Sang Gathutkaca, inggih punika putranipun Sang Werkudara, patutan saking Dewi Hidimba (Arimbi), sebab sakderengipun Pandhawa dhaup kaliyan Dewi Drupadi, Sang Werkudara anggarwa Dewi Hidimba patutan satunggal inggih punika Sang Gathutkaca.</p>
<p>Dene Sang Gathutkaca anggenipun boten kalebet dados putranipun Retna Drupadi, sebab <em>Retna Drupadi punika kangge pralambangipun</em> <em>Gesang (Urip)</em>. Mila Retna Drupadi tetep namung  peputra 5 (gangsal), kasebut Pancabala Hadiwitiya, ingkang dados pralambanging : paningal, pangganda, pamiyarsa, raosing ilat lan raosing badan. Dene sedaya wau sanyata sami kedadosan saking purba wasesaning gesang (Drupadi). Nanging <em>gesang boten saged damel Wicara, kajawi namung saged damel swara</em>.</p>
<p>Kasunyatanipun, lare saged micara (wicanten) punika tetela saking ajaraning jajahrana lan saking pasrawungan, ingkang lajeng tinampen ing indriya gangsal wau. Mila yen lare wiwit lair boten sesrawungan kaliyan tiyang, tamtu dados bisu.</p>
<p>Mangsuli Sang Gathutkaca, kajawi dados pralambanging wicara, ugi lajeng dados pralambanging swara. Dene swara wijangipun dados wicara, kedah kaolah dening indriya gangsal. Mila senajan Sang Gathutkaca punika kacariyos dados putranipun Pandhawa ingkang pambajeng saking Sang Werkudara, nanging sejatosipun dados putra wuragil.</p>
<p>Putranipun Dewi Drupadi saking sang Werkudara nama Sang Sotasoma, kangge pralambanging pangganda, dene Sang Gathutkaca ingkang kangge pralambanging swara lan wicara.</p>
<p>Menggah wontening pangganda punika kasunyataning napas, makaten ugi wontening swara lan wicara, sedaya wau tetela kadadosan saking lampahing hawa kapralambangaken Sang Werkudara. Dados Sang Sotasoma lan Gathutkaca sami putranipun Sang Werkudara, menggah pikajengipun : amastani bilih napas lan swara punika kedadosan saking hawa, mila yen cangkem mingkem irung kapithes, anglengkara yen kita saged wicanten, sarta yen ngantos sawatawis dangunipun tamtu lajeng karawuhan Sang Hyang Yama, amargi kaoncatan Sang Hyang Maruta, inggih nama pejah.</p>
<p>Kasebut Sang Gathutkaca karma angsal Dewi Pregiwa, tembung Pregiwa, panggarbaning tembung PREGI HAWA, tegesipun pregi = perawan = paraban = prabon = sorot, tembung prawan ugi darbe teges = suci utawi urip, tembung pregi ugi teges = tuk = panggenan utawi wadhah, tembung hawa sampun kajarwa.</p>
<p>Gathutkaca sampun kasebut ing ngajeng yen dados pralambanging wicara lan swara, mila Gathutkaca saged miber tanpa lar, mletik tanpa sothang, sarta kacariyos Sang Gathtukaca bilih wonten ing mega malang sami kaadhep para bledheg, awit Sang Gathutkaca wau dados ratunipun bledheg.</p>
<p>Menggah sejatosipun ingkang dados bledheg punika inggih Sang Gathutkaca piyambak, amargi bledheg punika inggih swara, dene purwanipun saking tempuking hawa anggenipun Pregiwa dados bojonipun Gathutkaca, mengku pikajeng amastani bilih wontening swara wau punika kanyatakaning hawa, dene hawa punika inggih swara, utawi hawa punika ingkang amadhahi swara, sarta inggih hawa punika ingkang ngawontenaken swara.</p>
<p>Sedherekipun Dewi Pregiwa nama Pregiwati, punika kagarwa Sang Pancawla (Pancabala Hadiwitiya). Tembung pregi sampun kajarwa, dene tegesipun wati = rasa. Mengku suraos = rasa ingkang suci utawi panggenaning rasa. Inggih wadhahing rasa.</p>
<p>Dene Pancawala kasebut DEWA LELIMA, inggih punika Sang Pretiwindya, Sang Sotasoma, Sang Srutakirti, Sang Sutanika, Sang Srutakarma, punika sampun kajarwa ing nginggil bilih dados pasemoning Pancendriya (indriya gangsal), ingkang katelah nama Pancadriya.</p>
<p>Dados yen makaten, Pregiwati anggenipun dados garwaning Sang Pancawala darbe teges : <em>indriya gangsal punika rasa ingkang suci, tembung suci ing ngriki ateges urip utawi langgeng</em>.</p>
<div class="mceTemp" style="text-align:left;">
<dl class="wp-caption alignleft">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/05/gatotkaca-gugur04.jpg"><img class="size-medium wp-image-570 " title="http://gambaryono.blogspot.com" src="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/05/gatotkaca-gugur04.jpg?w=225&#038;h=150" alt="" width="225" height="150" /></a></dt>
<dd class="wp-caption-dd">Gathutkaca Gugur</dd>
</dl>
</div>
<p>Kasebut ing Serat Baratayudha para putranipun Dewi Drupadi gangsal pisan inggih Sang Pancawala sami kapejahan dening Sang Aswatama nalika lampah dhusta ngamuk ing pakuwon Pandhawa, dene Sang Gathutkaca pinejahan dening Sang Karna, tegesipun Pancawala lan Gathutkaca sampun kajarwa ing nginggil.</p>
<p>Dene tegesipun Karna = kuping, mangertosipun : <em>wontening wicara ingkang boten saged tinampen dening talinganing ngasanes, amargi sampun kasumerepan kacidranipun</em>, punapa dene bilih talingan kita boten purun kapanjingan utawi kelu dhateng swara kadoracaran wuwus kacandhalan lan sesaminipun, punika nama pejahing swara lan wicara, inggih ateges Sang Karna mejahi Sang Gathutkaca.</p>
<p>Dene Aswatama kangge pralambanging MANGSAH SAMADI. Mila sayogyanipun kita samiya anindakaken ulah samadi ing sak kuwasanipun, murih pepancening indriya kita inggih Sang Pancabala Hadiwitiya (Pancawala) saged pejah, ateges boten ketaman dening kumayaning sad guna inggih pepenginan nem prekawis. Menggah pepinginan nem prekawis wau, inggih ingkang among karsa utawi ingkang mituruti karsa. Wejanganipun kados ing ngadhap punika :</p>
<ol>
<li><em>Paningal (Sang Pretiwindya)</em>, anjurungi karsa aneningali wewarnen ingkang sarwa edi peni.</li>
<li><em>Pangganda (Sang Sotasoma)</em>, mituruti karsa angambet gegandan ingkang amrik arum mangambar-ambar.</li>
<li><em>Pamiyarsa (Sang Srutakirti)</em>, among karsa amiling-melingaken pamirnging swara ingkang sakeca angranging anganyut-anyut, langkung-langkung pangrintihing swara sak lebeting pulang asmara.</li>
<li><em>Pangraosing ilat inggih pangenyam (Sang Sutanika)</em>, angumbar karsa raosing sawarnining dhedhaharan tuwin unjukan ingkang sarwi miraos.</li>
<li><em>Pangarosing anggota (Sang Srutakarma)</em>, anguja karsa sekecaning salira (kesed, sungkan lan sesaminipun) langkung-langkung malih pangujaning raos kanikmatan asmara.</li>
<li><em>Wicara (Sang Gathutkaca)</em>, anjurungi karsa wedaling wicara utawi swara sereng kadosta : napsu, muring-muring, srengen, lan sesaminipun. Dene wedaling wicara ingkang manis arum anuju prana, naming yen kapinujon amawa pamrih, ateges wicara ingkang lelamisan. Mila Sang Gathutkaca ngagem tlumpah madu kacarma, tegesipun madu = wedaling wicara ingkang manis arum, kacarma = ka-awak, pikajengipun amastani ingkang pangawak madu. Ananging pangawak madunipun Sang Gathutkaca inggih wedaling wicara ingkang manis arum kadi madu pinastika punika mesi darubesi ingkang sakalangkung mandi, sinten kirang waspada, bilahi ingkang pinanggih.</li>
</ol>
<p>Para Rajaputra ing nginggil kajawi Gathutkaca, sami sirna dening Aswatama. Dene Sang Aswatama para mardibasa sami anegesi = anak kapal, kapendet saking tegesipun Aswa = kapal, tama = anak. Yen pikajengipun pralampita boten makaten, nanging tembung aswa = kapal paprangan, dene tegesipun tama = utami = prayogi = sae.</p>
<p>Menggah kapal punika dados tetumpakan sesaminipun, kados dene sepur, motor, kreta lan sapanunggalanipun, ingkang sedaya wau dados pirantining pangater-ater utawi pangiring, darbe kajeng tumrap sakathahing pirantos ingkang saged andumugeni panedya.</p>
<p>Dados tembung Aswatama darbe teges : <em>tumpakan ingkang utami</em>, utawi <em>pangater ingkang sae tuwin prayogi</em>. Dene tumpakan utawi pangater punika darbe raos sami kaliyan piranti, sarta piranti ugi darbe pikajeng sami kaliyan pandamel.</p>
<p>Saking katerangan punika dados tembung Aswatama samangke langkung sumeleh yen dipun tegesi “PANDAMEL INGKANG UTAMI”. Mila kasebut ing serat Baratayuda Aswatama darbe pusaka saking tiyang sepuhipun inggih Sang Durna, pusaka wau nama Cundhamanik. Tegesipun Cundha = cundhuk, manik (mani) = rahsa, dene tembung cundhuk darbe pikajeng sami kaliyan tembung cocok = gathuk = tunggil = awor, suraosipun : tunggil rahsa, inggih <em>anunggilaken rahsa</em> utawi <em>moworing rahsa</em>. Jarwa tetiga punika ingkang kapilih lan saged amadhangaken panggalih.</p>
<p><a href="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/05/dornawilutama.jpg"><br />
</a>Kasebut Aswatama mijilo saking Dewi Wilutama ingkang malih kapal sembrani sarta saged miber. Dene tegesipun Wilu = toya. Toya kangge pasemon piwulanging kawruh. (<em>golek banyu bening = golek kawruh</em>). Tama = utami, suarosipun : PIWULANGING KAWRUH INGKANG UTAMI, anggenipun saged mabur, kangge pralambang sumengkaning napas kita tumameng ing susuhunan (embun-embunan) inggih pandamel mangreh panjing wijiling (mlebet wedaling) napas punika kawruh ingkang utami piyambak.</p>
<p>Wondene ingkang kasebut perangipun Arjuna mengsah kaliyan Aswatama, kekalihipun ngedalaken senjata Brama, punika kangge pangumpamen, kita anadangaken pandamel, upami kita nedya angraosaken prabawa, mangka kapinujon mangsah kita inggih drabe aji wau, yen makaten temah lajeng pur kemawon. Nanging sanyatanipun ingkang mesthi kasoran ing prabawa, punika pundi ingkang ngenggeni lepating pandamel.</p>
<p>Dene ingkang kasebut pasinten ingkang kadhawahan jemparing wau dados boten wonten jawah salebeipun kalihwelas taun, punika pralambangipun tiyang ingkang kinasoraken saking dayaning pamandeng tamtu ical kaengetanipun (kawruhipun). Dene jawah kangge pralambang kawruh, kapirid saking tembung jawah = udan = udani = ngawruhi.</p>
<p>Ingkang kasebut sesampunipun Aswatama masrahaken senjata Cundhamanik dhateng Arjuna sebab saking kawon perangipun, lajeng kasabda dhateng Bathara Kresna, yen Aswatama kedah kesah ambraung ngantos tigang ewu taun laminipun. Menggah jarwanipun makaten : <em>ulah samadi punika pikajengipun kita anggriyakaken paningal dumunung salebetipun paningal</em>, tegesipun : paningal kita ingkang medal, punika kalebetaken ing telenging paningal murih boten sumerep punapa-punapa. Dene telenging paningal punika enggen raosing gesang kita ingkang sejati.</p>
<p>Dados menawi kita boten anindakaken ulah samadi, punika gesang kita kaumpamekaken ambraung, sebab boten nate mantuk utawi angenggeni griya kita ingkang sejati kados ingkang kasebut ing nginggil.</p>
<p>Makaten ugi ingkang kasebut Cundhamanik wonten ing Arjuna nanging boten karimat, awit Arjuna muhung katungkul amuja Dyah Banowati kemawon. Cariyos ingkang makaten punika inggih naming kangge pralambang  kita ingkang lirwa dhateng panindaking pandamel samadi.</p>
<p>Punapa malih ingkang kasebut pusaka wau, Aswatama nampi saking Bapa Durna lan Bapa saking Bathara Guru. Punika kangge pasemoning kawruh wau, bilih sanyatanipun kita boten saged pikantuk saking pagelaraning Sastra utawi piwulanganing Guru.</p>
<p style="text-align:left;">Dene <em>pikantukipun kawruh wau punika kedah saking pepadhanging kaengetan kita pribadi</em>, sagedipun pinaringan pepadhanging gesang kita pribadi, manawi tinarimah samadinipun, kuwasa anumbuhaken maworing Kawula Gusti.<a href="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/05/kesadaran.jpg"><br />
</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tomyarjunanto.wordpress.com/564/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tomyarjunanto.wordpress.com/564/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tomyarjunanto.wordpress.com/564/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tomyarjunanto.wordpress.com/564/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tomyarjunanto.wordpress.com/564/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tomyarjunanto.wordpress.com/564/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tomyarjunanto.wordpress.com/564/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tomyarjunanto.wordpress.com/564/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tomyarjunanto.wordpress.com/564/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tomyarjunanto.wordpress.com/564/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tomyarjunanto.wordpress.com/564/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tomyarjunanto.wordpress.com/564/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tomyarjunanto.wordpress.com/564/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tomyarjunanto.wordpress.com/564/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tomyarjunanto.wordpress.com&amp;blog=2079665&amp;post=564&amp;subd=tomyarjunanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tomyarjunanto.wordpress.com/2011/05/26/pangruwating-pancendriya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/45594e0f1764f89bcbb731af715ba223?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">tomy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/05/dornawilutama.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">http://herjaka.blogspot.com/2010/12/seberkas-cahaya-illahi-terpercik-dari.html</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/05/gatotkaca-gugur04.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">http://gambaryono.blogspot.com</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PANCADRIYA PEPANCENING KARSA</title>
		<link>http://tomyarjunanto.wordpress.com/2011/05/24/pancadriya-pepancening-karsa/</link>
		<comments>http://tomyarjunanto.wordpress.com/2011/05/24/pancadriya-pepancening-karsa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 May 2011 05:57:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tomyarjunanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Badan Asli Pambudidaya Amal Kebutuhan]]></category>
		<category><![CDATA[SASTRA CETHA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tomyarjunanto.wordpress.com/?p=550</guid>
		<description><![CDATA[Kapethik saking Kitab Sastra Cetha Amratelakaken kawruh pasamaden ingkang sanyata langkung ageng pigunanipun ingkang kasebut SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU. Tegesipun : SASTRA = empaning kawruh, JENDRA = saking panggarbaning tembung Harya Endra, tegesipun Harya = raharja, Endra = ratu = dewa, HAYU = rahayu = wilujeng, NINGRAT = jagad = enggen = badan. Suraosipun  [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tomyarjunanto.wordpress.com&amp;blog=2079665&amp;post=550&amp;subd=tomyarjunanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:right;">Kapethik saking Kitab Sastra Cetha</p>
<p style="text-align:right;">
<p><div id="attachment_561" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/05/wayang_01_by_sheilalala4.jpg"><img src="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/05/wayang_01_by_sheilalala4.jpg?w=300&#038;h=262" alt="" title="http://sheilasplayground.blogspot.com/2010/08/ramayana-calendar-illustration.html" width="300" height="262" class="size-medium wp-image-561" /></a><p class="wp-caption-text">Temptation of Sage Wisrawa and Dewi Sukesi</p></div><br />
Amratelakaken kawruh pasamaden ingkang sanyata langkung ageng pigunanipun ingkang kasebut <em><strong>SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU.</strong></em></p>
<p>Tegesipun :</p>
<ul>
<li><em><strong>SASTRA</strong></em> = empaning kawruh,</li>
<li><em><strong>JENDRA</strong></em> = saking panggarbaning tembung Harya Endra, tegesipun Harya = raharja, Endra = ratu = dewa,</li>
<li><em><strong>HAYU</strong></em> = rahayu = wilujeng,</li>
<li><strong><em>NINGRAT</em></strong> = jagad = enggen = badan.</li>
</ul>
<p>Suraosipun  : mustikaning kawruh ingkang kuwasa amartani ing karahayon, karaharjan, katentreman lan sapanunggalipun.</p>
<p>Dene tegesipun <em><strong>PANGRUWATING DIYU</strong></em> inggih amalihaken diyu, dene diyu = danawa, raseksa, asura, buta, punika kangge pasemoning piawon, penyakit, rereged, bebaya, pepetang, kabodhowan lan sesaminipun. Mengku suraos : amastani ingkang saged anyirnakaken saliring piawon tuwin samubarang bebaya pakewed.</p>
<p><span id="more-550"></span>Mangertosipun sinten ingkang tansah ajeg lumintu anindhakaken laku samadi bilih suwaunipun tiyang awon, lajeng sirna piawonipun malih dados tiyang sae lampahipun. Tiyang sakit sirna sakitipun, dados waras. Tiyang murka daksiya lajeng narimah sabar welas asih. Tiyang goroh lajeng dados temen. Tiyang bodho dados pinter sanget. Mekaten ugi tiyang golongan sudra dados waesa, waesa dados satriya, satriya dados brahmana, brahmana sumengka pangawak braja asarira bathara.</p>
<p>Gampilipun sawarnining kapiawonan tuwin saliring godha rencana bebaya pakewed punapa kemawon ingkang tuwuh saking kacidraning manah pribadi, punika sedaya sirna lebur dening pangastuti ulah samadi inggih mesu cipta amurmeng pandulu maworing kawula gusti.</p>
<p>Kajawi saking punika supados kita saged kasembadan punapa ingkang kados kasebat ing nginggil, kita kedah taberi manekung samadi, ameleng amesu cipta sedhakep suku tunggal nutupi babahan nawa sanga, tuwin telatos anggen kita angruwat sakathahing sesuker lan beladering pancadriya.</p>
<p>Wontenipun tembung nutupi babahan nawa sanga wau kangge ucap-ucapanipun Nata Dwarawati utawi Sang Arjuna manawi kaleres samadi manages ing Dewa. Inggih saking tembung punika wau ingkang dipun ugemi sarta lajeng dados pamanggihing umum, inggih sejatosipun namung pasemon utawi pralambang. Ananging menggah sejatosipun kita boten saged yen anutupana salah stunggal kemawon saking babahan nawa sanga wau. Liripun : upami kita nutupi grana margining napas, ing mangka lampahing napas punika ingkang dados tetekening ulah samadi. Sebab napas punika ingkang dados tetangsul utawi dados wahananing gesang kita. Mila yen grana kita kalantur dipun tutupi saestu badhe dumugi ing jaman sakaratil. Dados nutupi babahan nawa sanga (bolongan sanga) punika tetela saking kalintuning panampi tandha yektinipun saweg nutupi bolongan setunggal kemwon yekti tamtu boten saged tumindak.</p>
<p>Dene ing sak leresipun tembung <em><strong>NAWA SANGA</strong></em> inggih punika :</p>
<p>hawa – song – nga, wetahipun kedah mungel nutupi babahan hawa, song = kosong, nga = kosonga = kosongna. Suraosipun sedaya margining hawa napsu sami kakosongna, ateges sedaya bolongan sampun ngantos dados margining hawa napsu.</p>
<p>Dene margining hawa napsu wau winastan <em>INDRIYA</em> utawi <em>PANCADRIYA</em>, inggih paningal, pamiyarsa, pangambu, raos ilat tuwin raos badan. Tembung Pancadiya leresipun mungel <em>PANCEN INDRIYA</em>, wusana aksara I = Hi, luluh dhateng Ca = tja, kantun mungel Pancen Driya, tegesipun <em>PEPANCENING KARSA</em>, inggih ingkang nyediyani, anjageni, angladosi tuwin among karsa.</p>
<p>Menggah ingkang <em>AMONG KARSA</em> punika sejatosipun wonten 6 (nem) ingkang satunggal inggih punika pamicara, mila lajeng jangkep tembung <em>SAD INDRIYA</em>, utawi Indriya Nem (ing candra sengkala watak nem, tembung Sad Rasa, Sad Guna, Sad Gana, tegesipun Rasa Nem).</p>
<p>Kasebat ing Mahabarata Wanaparwa ing perangan Arannyakaparwa, Sad Indriya wau lajeng winastan <em>TAMAN LELANGENING INDRIYA NEM</em>. Ing ngriku katetepaken panggenan ingkang dados ugering pamarsudi lan sesanggeman. Mangertosipun, kita kedah marsudi dhateng widagdaning pamepes pangrubedaning Pancen Driya nem perkawis kados kasebut ing nginggil.</p>
<p>Dene pambrastaning temtu boten saged sampurna namung lajeng kapiyagah kemawon sareng-sareng kaliyan nalika kita mangsah samadi. Wondene inggih wonten ingkang ngaken saged angruwes sarta amiyagah, pangaken makaten wau tangeh leresipun. Awit saumpami kita angengarang, punika punapa saged kalampahan mangsi saking wadhahipun lajeng kaesokaken ing dlancang kemawon lajeng saged dados ukara tuwin tembung ingkang kita kersakaken? Mesthinipun boten.</p>
<p>Menggah pambrastaning pancadriya wau, sanyata boten saged sami kaliyan Hyang Pawana ingkang kuwasa ambuncang sakathahing pedhut ingkang anggendanu wonten ing natariksa. Nanging kedah mawi sarana tata titi,m telatos, atul sarwa ngatos-atos dhateng saliring pakari punapa kemawon, sarta katindakaken saben dinten wonten samadyaning pasrawungan.</p>
<p>Mila makaten awit ing salami-laminipun, ing salebeting cipta punika sampun kaisenan dening sesuker tuwin beladering pepinginan lan kamelikan. Ingkang makaten punika wau sampun samesthinipun kemawon yen sucinipun cipta katemah lebur sumawur sirna gempang tanpa tilas, kekantukipun namung awujud Gandana-Gandini ingkang banger bacin balrungan sapurug-purug, inggih wontenipun ganda amis ingkang manuksma wonten salebeting cipta wau punika ingkang tansah kita resiki ing saben dintenipun, srana tirtaning kawikcaksanan kanthi kasantosaning pangesthi.</p>
<p>Tetuladhanipun kados dene Sang Raja Putri Wiratha Dewi Durgandini sedherekipun Sang Durgandana. Tembung Durgandini tuwin Durgandana tegesipun ganda awon, mila  Dewi Durgandini ugi peparap Lara Amis, sesampunipun dipun jampeni dening Begawan Palasara, lajeng sirna memalanipun (sirna piawoning pandamelipun), nunten gantos naminipun peparap Dewi Gandawati nenggih Setiyawati, tegesipun : arum pangambaring gandanipun angebaki saindenging cakrawala (sayojana).</p>
<p>Menggah pikajengipun : menawi sampun sanyata kuwasa ambrasta sesukering indriya, tamtu lajeng boten saged kenging pangrubeda sakathahing pandamel ingkang tuwuh saking kumayaning Sad Guna kasebut ing nginggil.</p>
<p>Liripun : kita wonten jagading pasrawungan boten ambedak-bedakaken satru utawi mitra, cipta kita kuwasa nanggulangi panempuhing satru ingkang maujud wanodya ingkang mameraken kaendahaning warni tuwin kasulistyan lan wiraganing tenaganipun, ing satemah teguh kataman jemparinging Sang Hyang Asmara.</p>
<p>Sesotya raja brana namung kasamekaken beling utawi wingka, swara ingkang mardumarduwa ingkang linindhung gambang cemplung boten beda kaliyan swaraning grobag ing gragalan. Boten karem ing pangalem, boten geseng ing latuning kadoracaran. Gandaning ratusweda lan jebad kasturi saestu sami kaliyan gandane bangke ingkang bosok, boten pisan-pisan angisep-isep dhateng saliring akdurakan, pangrubedaning ilat saking saliring kanikmatan, boten pisan dipun kenyami. Dene wedaling swara manis arum anuju prana kadosdene madu pinastika tansah andamel kamartaning sasana, kadoracaran tuwin wuwus kacandhalan boten pisan kaucapaken, saliring pangandikan terus terang pratitis, nyata ing ndalem cipta tansah suci ngumalawening punapa dene boten pisan angemot piawon sanajan sawiji-wiji.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tomyarjunanto.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tomyarjunanto.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tomyarjunanto.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tomyarjunanto.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tomyarjunanto.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tomyarjunanto.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tomyarjunanto.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tomyarjunanto.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tomyarjunanto.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tomyarjunanto.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tomyarjunanto.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tomyarjunanto.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tomyarjunanto.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tomyarjunanto.wordpress.com/550/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tomyarjunanto.wordpress.com&amp;blog=2079665&amp;post=550&amp;subd=tomyarjunanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tomyarjunanto.wordpress.com/2011/05/24/pancadriya-pepancening-karsa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/45594e0f1764f89bcbb731af715ba223?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">tomy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/05/wayang_01_by_sheilalala4.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">http://sheilasplayground.blogspot.com/2010/08/ramayana-calendar-illustration.html</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ASMARADANA PULANG ASMARA</title>
		<link>http://tomyarjunanto.wordpress.com/2011/04/18/asmaradana-mbangun-tresna/</link>
		<comments>http://tomyarjunanto.wordpress.com/2011/04/18/asmaradana-mbangun-tresna/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Apr 2011 02:42:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tomyarjunanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[geguritan]]></category>
		<category><![CDATA[PERHENTIAN]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita & Aku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tomyarjunanto.wordpress.com/?p=530</guid>
		<description><![CDATA[&#8230;&#8230;&#8230;.Karipta dening Tomy Arjunanto Nganyut ndriya ndudut ati, Kwasa ngimpun rahsa mulya. Tuhu lam-lamen katreme, Nyawiji kang dadi sedya. Mbabar gatining wacana, Tetimbangan tresna tuhu, Jimat tulus panarima. Nimas pepujaning ati, Salira wewangi ganda. Rinuket sajroning jinem, Tan nedya ginggang sakrikma. Krya sesotya sun pepuja, Sang mustikaning pandulu, Sulistya endahing warna. Tresnaku sundul wiyati, Tumuwuh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tomyarjunanto.wordpress.com&amp;blog=2079665&amp;post=530&amp;subd=tomyarjunanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:right;">&#8230;&#8230;&#8230;.Karipta dening Tomy Arjunanto</p>
<p><a href="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/04/image004kamasutra1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-542" title="http://wayang-art.blogspot.com/2009/03/seni-kerajinan-wayang-kontemporer.html" src="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/04/image004kamasutra1.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a><br />
<em><strong>Nganyut ndriya ndudut ati,</strong></em><br />
<em><strong> Kwasa ngimpun rahsa mulya.</strong></em><br />
<em><strong> Tuhu lam-lamen katreme,</strong></em><br />
<em><strong> Nyawiji kang dadi sedya.</strong></em><br />
<em><strong> Mbabar gatining wacana,</strong></em><br />
<em><strong> Tetimbangan tresna tuhu,</strong></em><br />
<em><strong> Jimat tulus panarima.</strong></em></p>
<p><em><strong>Nimas pepujaning ati,</strong></em><br />
<em><strong> Salira wewangi ganda.</strong></em><br />
<em><strong> Rinuket sajroning jinem,</strong></em><br />
<em><strong> Tan nedya ginggang sakrikma.</strong></em><br />
<em><strong> Krya sesotya sun pepuja,</strong></em><br />
<em><strong> Sang mustikaning pandulu,</strong></em><br />
<em><strong> Sulistya endahing warna.</strong></em></p>
<p><em><strong>Tresnaku sundul wiyati,</strong></em><br />
<em><strong> Tumuwuh jroning prasaja,</strong></em><br />
<em><strong> Sumedya andum ing paweh,</strong></em><br />
<em><strong> Daya kamulyaning gesang.</strong></em><br />
<em><strong> Tinerak alun asmara,</strong></em><br />
<em><strong> Mbangun turut atut runtut,</strong></em><br />
<em><strong> Cumbana sigaran nyawa.</strong></em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tomyarjunanto.wordpress.com/530/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tomyarjunanto.wordpress.com/530/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tomyarjunanto.wordpress.com/530/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tomyarjunanto.wordpress.com/530/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tomyarjunanto.wordpress.com/530/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tomyarjunanto.wordpress.com/530/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tomyarjunanto.wordpress.com/530/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tomyarjunanto.wordpress.com/530/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tomyarjunanto.wordpress.com/530/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tomyarjunanto.wordpress.com/530/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tomyarjunanto.wordpress.com/530/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tomyarjunanto.wordpress.com/530/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tomyarjunanto.wordpress.com/530/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tomyarjunanto.wordpress.com/530/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tomyarjunanto.wordpress.com&amp;blog=2079665&amp;post=530&amp;subd=tomyarjunanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tomyarjunanto.wordpress.com/2011/04/18/asmaradana-mbangun-tresna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/45594e0f1764f89bcbb731af715ba223?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">tomy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/04/image004kamasutra1.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">http://wayang-art.blogspot.com/2009/03/seni-kerajinan-wayang-kontemporer.html</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>NGELMU URIP – BAWARASA KAWRUH KEJAWEN</title>
		<link>http://tomyarjunanto.wordpress.com/2011/01/10/ngelmu-urip-%e2%80%93-bawarasa-kawruh-kejawen/</link>
		<comments>http://tomyarjunanto.wordpress.com/2011/01/10/ngelmu-urip-%e2%80%93-bawarasa-kawruh-kejawen/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Jan 2011 05:47:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tomyarjunanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[berjuang & merdeka]]></category>
		<category><![CDATA[JANGKA NUSANTARA]]></category>
		<category><![CDATA[NGELMU URIP]]></category>
		<category><![CDATA[PADUPAN KENCANA]]></category>
		<category><![CDATA[PERJALANAN]]></category>
		<category><![CDATA[perjuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tomyarjunanto.wordpress.com/?p=516</guid>
		<description><![CDATA[Ada sebuah tantangan ultim yang dihadapi dan harus dijawab oleh bangsa ini, dalam pusaran arus globalisasi, manusia Indonesia makin kehilangan jati dirinya digerus pragmatisme budaya popular yang menghilangkan ‘ruh’ kemanusiaannya. Menjadikan  manusia tak lebih dari nilai kegunaan saja yang mudah dimobilisasi menjadi pengabdi  berbagai kepentingan. Dan ketika berbicara tentang budaya sendiri kita merasa inferior. Kearifan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tomyarjunanto.wordpress.com&amp;blog=2079665&amp;post=516&amp;subd=tomyarjunanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/01/ngelmu_urip1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-525" title="ngelmu_urip" src="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/01/ngelmu_urip1.jpg?w=205&#038;h=300" alt="" width="205" height="300" /></a>Ada sebuah tantangan ultim yang dihadapi dan harus dijawab oleh bangsa ini, dalam pusaran arus globalisasi, manusia Indonesia makin kehilangan jati dirinya digerus pragmatisme budaya popular yang menghilangkan ‘ruh’ kemanusiaannya. Menjadikan  manusia tak lebih dari nilai kegunaan saja yang mudah dimobilisasi menjadi pengabdi  berbagai kepentingan.</p>
<p>Dan ketika berbicara tentang budaya sendiri kita merasa inferior. Kearifan budaya bangsa hasil olah cipta, rasa dan karsa leluhur yang adiluhung dianggap sebagai suatu yang ketinggalan jaman. Sehingga tonggak pegangan dalam menghadapi gempuran budaya dan ideology global tersebut malah terpinggirkan dan ditinggalkan.<span id="more-516"></span></p>
<p>Keprihatinan ini yang oleh para leluhur waskitha jaman dulu telah di’jangka’ dalam bentuk kidungan Wecan Sabdopalon :</p>
<p><em> </em></p>
<blockquote><p><em>Rakyat Nusa Sedarum nampi panodhining Hyang Widhi, Kalambangnya wong nyabrang, Prapteng tengah katempuh santering kali kang bena,</em></p>
<p><em>Rakyat Nusantara diibaratkan orang yang sedang menyeberang sungai, sesampai di tengah diterjang banjir bandang, sehingga dalam kedaaan yang sangat sulit dengan tiadanya pegangan.</em></p></blockquote>
<p>Berangkat dari keprihatinan tersebut, menjawab tantangan jaman, Ki Sondong Mandali, tokoh budayawan Jawa, menggagas ‘Gerakan Renaisance Jawa’, kebangkitan budaya Jawa sebagai suatu falsafah pandangan hidup bangsa. Diharapkan wacana ‘Gerakan Renaisance Jawa’ ini dapat terus bergulir menjadi gerakan masif kebangkitan budaya dan kearifan local di seluruh Nusantara.</p>
<p>Kerja  nyatanya adalah sebagai narasumber di berbagai sarasehan budaya dan berbagai website dan milis ke-Jawa-an, juga sebagai salah satu pendiri dan ketua umum Yayasan Sekar Jagad, yang telah banyak dikenal kiprahnya dalam penyebaran ide dan wacana kebangkitan budaya Jawa.</p>
<p>Yang terbaru dari Ki Sondong Mandali, tulisan-tulisan beliau yang tersusun dalam empat buah buku: <em>‘Kawruh Kejawen-Bawarasa Kanggo Kekadangan’</em> versi Bahasa Jawa, <em>‘Bawarasa Kawruh Kejawen’</em> versi Bahasa Indonesia, <em>‘Piwulang kautaman’</em> dan <em>‘Penanggalan dan Pawukon’</em> dikumpulkan,  diringkas  dan diterbitkan dalam sebuah buku berjudul: <em>‘Ngelmu Urip – Bawarasa Kawruh Kejawen’</em>.</p>
<p>Sebuah buku yang mencoba menghadirkan bahasan (bawarasa) tentang Jawa dan ke-Jawa-an dari sudut pandang orang Jawa. Sebagai falsafah tuntunan hidup (Ngelmu Urip) orang Jawa, yang sarat dengan kearifan pencapaian budaya yang adiluhung, yang merupakan hasil cipta, rasa dan karsa yang bisa diselisik dan dirunut secara rasional untuk mudah dipahami.</p>
<p>Diharapkan pengertian Kejawen yang sering dikonotasikan negatif, dianggap tahayul atau klenik ini bisa dimengerti dan dipahami dengan benar sampai ke dasar falsafahnya. Sehingga Ngelmu Urip Orang Jawa bisa menjadi tonggak pegangan dalam mengarungi era globalisasi tanpa harus kehilangan jati diri dan karakter ke-Jawa-annya <em>(Jawan)</em>.</p>
<p>Ngelmu Urip adalah hasil pemikiran dan olah rasa orang Jawa yang berkesadaran <em>’ketuhanan, kesemestaan, dan keberadaban’</em> yang menjadi dasar yang melandasi budaya dan peradaban Jawa:</p>
<ol>
<li>Landasan peri kehidupan berdasar <strong><em>‘Falsafah      Panunggalan’</em></strong>, suatu pandangan hakiki bersatunya manusia dengan      alam semesta yang dalam istilah Jawa dinyatakan sebagai <em>‘jumbuhing jagad cilik lan jagad gedhe’</em>.</li>
<li>Landasan      peri kehidupan <strong><em>‘Agraris Paradesa’</em></strong>, suatu kehidupan social yang      berdasarkan kerukunan dan keselarasan. Mulai komunitas kecil (desa) sampai      kepada bentuk negara.</li>
<li>Landasan      peri kehidupan <strong><em>’Spiritual Magis’</em></strong>, merupakan karakter umum insan Jawa yang      spiritualis dan mempercayai adanya kekuatan-kekuatan magis dari alam      semesta dan jagad raya.</li>
<li>Landasan      peri kehidupan <strong><em>’Kalangwan’</em></strong> (Mempersembahkan Keindahan), merupakan      implementasi melaksanakan misi <em>’Memayu      Hayuning Bawana’</em>.</li>
<li>Landasan      peri kehidupan <strong><em>’Kejawen’</em></strong>, merupakan piwulang Jawa dalam menyikapi      berbagai perbedaan-perbedaan keyakinan dan kepercayaan umat manusia.</li>
</ol>
<p style="text-align:right;">pemesanan buku dapat menghubungi:</p>
<p style="text-align:right;">Ki Sondong Mandali</p>
<p style="text-align:right;">HP: 081390478229; 08157611019; 08179522629; 08882572343</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tomyarjunanto.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tomyarjunanto.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tomyarjunanto.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tomyarjunanto.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tomyarjunanto.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tomyarjunanto.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tomyarjunanto.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tomyarjunanto.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tomyarjunanto.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tomyarjunanto.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tomyarjunanto.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tomyarjunanto.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tomyarjunanto.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tomyarjunanto.wordpress.com/516/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tomyarjunanto.wordpress.com&amp;blog=2079665&amp;post=516&amp;subd=tomyarjunanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tomyarjunanto.wordpress.com/2011/01/10/ngelmu-urip-%e2%80%93-bawarasa-kawruh-kejawen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/45594e0f1764f89bcbb731af715ba223?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">tomy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tomyarjunanto.files.wordpress.com/2011/01/ngelmu_urip1.jpg?w=205" medium="image">
			<media:title type="html">ngelmu_urip</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SISTEM RELIGI JAWA</title>
		<link>http://tomyarjunanto.wordpress.com/2010/12/10/sistem-religi-jawa/</link>
		<comments>http://tomyarjunanto.wordpress.com/2010/12/10/sistem-religi-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Dec 2010 02:27:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tomyarjunanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[agama & manusia]]></category>
		<category><![CDATA[PADUPAN KENCANA]]></category>
		<category><![CDATA[PERJALANAN]]></category>
		<category><![CDATA[risalah hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tomyarjunanto.wordpress.com/?p=506</guid>
		<description><![CDATA[Pasugatan Ki Sondong mandali (Lanjutan Rasionalisasi Kejawen) &#160; Sistim religi Jawa merupakan hasil olah ‘cipta rasa karsa’ dan ‘daya spiritual’ manusia Jawa. Olah ‘cipta rasa karsa’ dan ‘daya spiritual’ tersebut melahirkan pemahaman adanya ‘maha kekuatan’ yang ‘murba wasesa’ (mengatur dan menguasai) seluruh jagad raya. Maka lahir kesadaran hakiki tentang adanya ‘realitas tertinggi’ yang disebut ‘Kang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tomyarjunanto.wordpress.com&amp;blog=2079665&amp;post=506&amp;subd=tomyarjunanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pasugatan Ki Sondong mandali</strong><strong><em> </em></strong></p>
<p>(Lanjutan <em><a title="Rasionalisasi Kejawen" href="http://sabdalangit.wordpress.com/2010/11/28/rasionalisasi-kejawen/" target="_blank">Rasionalisasi Kejawen</a></em>)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sistim religi Jawa merupakan hasil olah<em> ‘cipta rasa karsa’ </em>dan <em>‘daya spiritual’ </em>manusia Jawa. Olah ‘cipta rasa karsa’ dan ‘daya spiritual’ tersebut melahirkan pemahaman adanya ‘maha kekuatan’ yang ‘murba wasesa’ (mengatur dan menguasai) seluruh jagad raya. Maka lahir kesadaran hakiki tentang adanya <em>‘realitas tertinggi’</em> yang disebut <em>‘Kang Murbeng Dumadi’ </em>(sebutan lain: Kang Maha Kuwasa, Hyang Wisesa, Hyang Tunggal, dll.).</p>
<p>Karena dasarnya sebagai hasil olah ‘cipta rasa karsa’ dan ‘daya spiritual’ maka ada ‘perjalanan’ menuju kesadaran ‘adanya’ Realitas Tertinggi yang disebut ‘Kang Murbeng Dumadi’ tersebut secara <em>‘rasional logic’</em>. Adalah ‘keunikan’ Jawa yang kemudian mendiskripsikan Kang Murbeng Dumadi tersebut ‘tan kena kinayangapa lan murbawasesa jagad saisine’ (tidak bisa digambarkan wujudnya dan ‘melingkupi-menguasai-mengatur-mengendalikan’ seluruh alam semesta dengan seluruh isinya). Diskripsi yang demikian merupakan <em>‘puncak’ </em>pengertian paripurna orang Jawa tentang ke-‘Maha Esa’-an Tuhan yang bisa digapai ’cipta rasa karsa’ dan ’daya spiritual’ manusia.<span id="more-506"></span><!--more--></p>
<p>‘Kang Murbeng Dumadi’ juga disebut<em> ‘Guruning Ngadadi’</em> yang maknanya ‘sumber awal’ semua yang ada. Dari ‘Guruning Ngadadi’ mengada (tercipta) alam semesta yang terdiri dari 3 (tiga) unsur: bumi lan langit (materi), cahya lan teja (cahaya dan enerji), dan <em>‘Sejatining Urip’ </em>(Ruh Alam Semesta) yang diskripsinya: <em>“Berujud dzat mutlak suwung (kosong), abadi, tanpa arah dan tempat, tanpa kantha (wujud), tiada bau rasa dan suara, bersifat elok, bukan laki-laki bukan perempuan bukan banci, merasuki seluruh jagad seisinya”</em>.</p>
<p>Menurut pandangan Jawa, ‘manusia hidup’ sebagai salah satu ‘ciptaan’ yang menjadi isi alam semesta, maka pada dirinya terdapat ‘tajali’ (pancaran, emanasi, derivat) dari ketiga unsur semesta (materi, cahaya/enerji, dan urip/roh/suksma). Demikianlah, maka ‘manusia hidup’ disebut jagad cilik (mikro kosmos) yang dinyatakan ‘jumbuh’ (berhubungan secara kosmis-magis) dengan ‘jagad gedhe’ (makro kosmos, alam semesta).</p>
<p>Ketika manusia mati, maka semua unsur mengurai dan kembali ke sumbernya masing-masing. Namun demikian bagi urip/roh/suksma tidak mudah untuk kembali manunggal dengan ‘Sejatining Urip’ karena mengalami ‘pemudaran’ kesucian dzatnya sebagai akibat menjalani hidup di dunia. Banyak suksma-suksma yang ‘tersesat’ ke alam lain (alam binatang dan alam lelembut). Ada pula yang ‘klambrangan’ (tersesat) ke ‘kayu watu’ (pepohonan dan batu) serta menjadi danyang di tempat tersebut. Adapun yang berhasil melepaskan diri dari ‘jebakan’ alam lain tersebut kebanyakan berada di ‘tempat penantian’ yang disebut sebagai <em>‘Swarga Pangrantunan’ </em>atau <em>‘Gendhaga Suci’ </em>untuk menunggu ketentuan perjalanannya lebih lanjut. Ada yang kemudian terlahir kembali ‘menitis’ ke ‘anak turun’-nya, ada yang kemudian menghuni ’Alam Alus’ menjadi ’Para Suci’.<br />
Yang mulus bisa manunggal kembali dengan ‘Sejatining Urip’ disebut <em>‘nyawarga’</em> (berkumpul kembali dengan warganya). Istilah lain, <em>‘muksa’</em>. Maka kemudian terlahir ajaran laku kebatinan (spiritualisme) Jawa yang pada intinya mengajarkan upaya ‘mensucikan diri’ untuk bisa mengantar suksmanya kembali manunggal dengan ‘Sejatining Urip’ atau ‘muksa’.</p>
<p>Berdasar konsep ‘sistim religi’ (kepercayaan) Jawa sebagaimana diuraikan di atas, maka kemudian terajarkan banyak <em>‘ritual panembah’</em> kepada Tuhan dan <em>‘ritual sesaji’ </em>untuk memule (memuliakan) arwah leluhur. Ritual memuliakan arwah leluhur ini banyak mengundang ‘anggapan’ sebagai ‘menyembah’ arwah leluhur dan dikonotasikan sebagai ‘syirik’. Padahal ritual dimaksud adalah upaya memuliakan dan berkomunikasi dengan para arwah leluhur yang dimungkinkan belum mencapai ‘kasampurnan’ dan bersemayam di alam lain (pangrantunan, alam alus, dan pedanyangan). Dalam hal ini, pandangan Jawa menyatakan bahwa semua arwah yang belum mencapai ‘kasampurnan’ masih bisa berhubungan (ada ikatan spiritual) dengan anak keturunannya. Berdasar paham tersebut dinyatakan bahwa pekerti anak keturunan yang baik akan mampu membantu ‘nyuwargakake’ (mengantar ke sorga) para leluhurnya. Meski paham yang demikian dianggap ‘tidak masuk akal’,<br />
namun mengandung makna<em> ‘pendidikan’</em> tentang budi pekerti luhur yang harus diemban setiap insan demi kepentingan ‘menyempurnakan’ arwah leluhurnya.</p>
<p>Ritual panembah Jawa tidaklah sama dengan ritual agama. Wujud panembahnya berupa totalitas pelaksanaan ‘menjalani hidup’ yang benar, baik dan ‘pener’.</p>
<p>yaitu menjalani hidup dengan konsep:</p>
<p><strong><em>1)    bersembah/berbakti kepada Tuhan penguasa alam dengan ‘eling’ secara terus-menerus.</em></strong><br />
<strong> <em>2)    melakukan hubungan baik dengan alam semesta dan seluruh isinya, termasuk melakukan berbagai ’ritual sesaji’</em></strong><br />
<strong> <em>3)    melakukan hubungan antar sesama manusia dengan berkeadaban.</em></strong></p>
<p>Sistim religi Jawa juga berdasarkan <em>’falsafah panunggalan’</em>, bahwa semua yang ada dan tergelar di jagad raya merupakan<em> ’Maha Kesatuan Tunggal’</em> yang di-<em>’purbawasesa’ </em>(dikuasai, diatur, dikendalikan) oleh Yang Maha Kuwasa. Berdasar ’panunggalan’ ini terbangun struktur ’kawula-gusti’ sebagaimana hubungan<em> ’pancer-mancapat’</em> atau <em>’inti-plasma’.</em> Maknanya, Roh Alam Semesta (Sejatining Urip, Suksma Sejati) posisinya sebagai ’gusti’ (pancer, inti), sedang seluruh ciptaan yang lain sebagai ’kawula’ (mancapat, plasma). Dalam struktur bangunan seperti ini, manusia terposisikan sebagai ’kawula’ (mancapat, plasma) yang sama kedudukannya dengan semua ’titah dumadi’ yang lain. Maka kewajiban sesama ’kawula’ adalah membangun ’hubungan’ yang ’rukun selaras’ (harmoni) demi menjaga eksistensi ’Panunggalan Semesta’.</p>
<p>Dalam piwulang Kejawen hubungan ’rukun selaras’ dinyatakan sebagai ’sedulur’ (saudara), sesama warganya Pangeran Kang Murbeng Dumadi. Saudara-saudara tersebut dinyatakan dalam Wejangan Paseksen Wirid Wolung Pangkat: <em>“Yaiku wejangan jumenenge urip kita pribadi angakoni dadi “warganing Pangeran Kang Sejati” kinen aneksekake marang sanak sedulur kita, yaiku: bumi, langit, srengenge, rembulan, lintang, geni, angin, banyu, lan sakabehing dumadi kang gumelar ing jagad. </em>(Yaitu wejangan akan eksistensi hidup sejati kita ’mengakui’ jadi warganya Pangeran Kang Sejati untuk dipersaksikan kepada sanak saudara kita, yaitu: bumi, langit, matahari, bulan, bintang, api, angin, air, dan seluruh ciptaan yang tergelar di jagad raya).</p>
<p>Berdasar konsep ’panunggalan’ dalam sistim religi Jawa ini, maka ada kepercayaan bahwa semua yang ada di jagad memiliki <em>’kewajiban’</em> yang sama untuk<em> ’menyangga’ </em>panunggalan semesta. Juga ada kepercayaan bahwa ada ’titah dumadi’ yang bersifat gaib ’hidup bersama’ dengan manusia dengan sama-sama mengemban tugas kewajiban menjaga kehayuan semesta. Dari kepercayaan ini kemudian lahir<em> ’mitologi’ </em>Jawa tentang adanya dewa, bethara, hyang, danyang, lelembut, dlsb. Kesemuanya terposisikan sebagai ’saudara’ bagi manusia. Meski berbeda alam, namun sama-sama menghuni jagad raya yang sama. Maka demi hubungan ’persaudaraan’ yang baik, diajarkan kepada manusia untuk menjalin komunikasi dengan para saudaranya yang berbeda alam tersebut. Dalam pelaksanaan menjalani hidupnya, manusia diwajibkan untuk tidak ’mengganggu kehidupan’ para saudaranya tersebut. Itulah sebabnya, terlahir banyak ritual untuk berhubungan dengan para saudara<br />
gaib tersebut. Diantaranya berupa ritual sesaji untuk urusan menanam dan memanen padi, bersih desa, membakar batu bata, menguras patirtan, dll.</p>
<p>Suwun</p>
<p style="text-align:right;">Ki Sondong Mandali</p>
<p style="text-align:right;">(Penulis buku: ‘NGELMU URIP, Bawarasa Kawruh Kejawen’)</p>
<p style="text-align:right;">HP: 081390478229; 08157611019; 08179522629; 08882572343</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tomyarjunanto.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tomyarjunanto.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tomyarjunanto.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tomyarjunanto.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tomyarjunanto.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tomyarjunanto.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tomyarjunanto.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tomyarjunanto.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tomyarjunanto.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tomyarjunanto.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tomyarjunanto.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tomyarjunanto.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tomyarjunanto.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tomyarjunanto.wordpress.com/506/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tomyarjunanto.wordpress.com&amp;blog=2079665&amp;post=506&amp;subd=tomyarjunanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tomyarjunanto.wordpress.com/2010/12/10/sistem-religi-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/45594e0f1764f89bcbb731af715ba223?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">tomy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SUMPAH BUDAYA II</title>
		<link>http://tomyarjunanto.wordpress.com/2010/11/22/sumpah-budaya-ii/</link>
		<comments>http://tomyarjunanto.wordpress.com/2010/11/22/sumpah-budaya-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Nov 2010 07:44:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tomyarjunanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[berjuang & merdeka]]></category>
		<category><![CDATA[JANGKA NUSANTARA]]></category>
		<category><![CDATA[perjuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tomyarjunanto.wordpress.com/?p=502</guid>
		<description><![CDATA[SUMPAH BUDAYA II Oleh Mas Kumitir Situasi mental sosial-budaya bangsa semakin memprihatinkan dan harus segera dicarikan jalan keluarnya. Juga harus ada langkah raksasa agar ada keperdulian dari semua elemen bangsa untuk memelihara dan menjaga budaya nusantara tidak sekedar parsial namun dalam scope nasional secara komprehensif. Perlu pula dilakukan semacam revitalisasi budaya bangsa dengan visi menjadi bangsa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tomyarjunanto.wordpress.com&amp;blog=2079665&amp;post=502&amp;subd=tomyarjunanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SUMPAH BUDAYA II</strong></p>
<p>Oleh Mas Kumitir</p>
<p><strong>Situasi mental sosial-budaya bangsa semakin memprihatinkan dan harus segera dicarikan jalan keluarnya. Juga harus ada langkah raksasa agar ada keperdulian dari semua elemen bangsa untuk memelihara dan menjaga budaya nusantara tidak sekedar parsial namun dalam scope nasional secara komprehensif. Perlu pula dilakukan semacam revitalisasi budaya bangsa dengan visi menjadi bangsa Indonesia yang berkarakter (mempunyai jati diri), bermartabat dan terhormat.</strong></p>
<p><strong>Apa pentingnya budaya ?</strong><span id="more-502"></span><br />
<strong>Budaya merupakan seperangkat nilai yang tak bisa dianggap remeh. Karena kebudayaan merupakan nilai-nilai luhur sebagai hasil adanya interaksi manusia dengan lingkungan alam dan lingkungan sosialnya yang telah terbangun sejak ribuan tahun silam. Nilai-nilai luhur yang telah menjiwai sebuah bangsa dan masyarakat. Sehingga kebudayaan sangat mewarnai sekaligus memberi karakter pada jiwa suatu bangsa (volkgeist). Budaya menjadi cerminan nilai kejiwaan yang merasuk ke dalam setiap celah kesadaran dan aktivitas hidup manusia atau.</strong></p>
<p><strong>Oleh sebab itu, sistem budaya sangat berpengaruh ke dalam pola pikir (mind-set) setiap individu manusia. Budaya berkonotasi positif sebagai buah dari budi daya manusia dalam menjalani kehidupan dan meretas kreatifitas hidup yang setinggi-tingginya. Maka budaya pun bisa dikatakan nilai-nilai kearifan dan kebijaksanaan suatu masyarakat atau bangsa yang lahir sebagai hikmah (implikasi positif) dari pengalaman hidup selama ribuan tahun lamanya. Adanya budaya juga membedakan mana binatang mana pula manusia. Manusia tidak disebut binatang karena pada dasarnya memiliki kebudayaan yang terangkum dalam sistem sosial, plitik, ekonomi dan kesadaran spiritualnya. Setuju atau tidak setuju, kenyataannya budaya sangat erat kaitannya dengan moralitas suatu bangsa.</strong></p>
<p><strong>Lantas seperti apakah karakter budaya kita bangsa Indonesia ? Bangsa yang tidak berbudaya maksudnya untuk merujuk suatu bangsa yang sudah bobrok moralitas dan hilang jati dirinya. Budaya kita telah lama mengalami stagnasi kalau tidak boleh disebut kemunduran. Tanda-tandanya tampak terutama dalam pemujaan berlebihan di kalangan masyarakat luas terhadap hal-hal yang bersifat fisik dan material yang datangnya dari luar nusantara. Oleh karena itu, mutlak segera dibahas dan dipecahkan bersama-sama. Kita perlu menyadari bahwa banyaknya persoalan yang dihadapi bangsa ini sangat kompleks menyangkut kehidupan sosial, ekonomi, politik dan lainnya. Namun harus digarisbawahi kalau bidang-bidang tersebut sangat terkait dengan krisis yang berlaku di lapangan kebudayaan.</strong></p>
<p><strong>Kita mengakui budaya bangsa warisan leluhur kita sangat adiluhung. Namun kenapa perhatian semua pihak terhadap budaya bangsa semakin lama semakin rendah? Bangsa ini seakan menjadi bangsa yang tanpa budaya, dan perlahan dan pasti suatu saat nanti bangsa ini pasti lupa akan budayanya sendiri. Situasi ini menunjukan betapa krisis budaya telah melanda negeri ini. Rendahnya perhatian pemerintah untuk menguri-uri budaya bangsanya, menunjukan minimnya pula kepedulian atas masa depan budaya. Yang semestinya budaya senantiasa dilestarikan dan diberdayakan. Muara dari kondisi di atas adalah bangkrutnya tatanan moralitas bangsa. Kebangkrutan moralitas bangsa karena masyarakat telah kehilangan jati dirinya sebagai bangsa besar nusantara yang sesungguhnya memiliki “software” canggih dan lebih dari sekedar “modern”. Itulah “neraka” kehidupan yang sungguh nyata dihadapi oleh generasi penerus bangsa. Kebangkrutan moralitas bangsa dapat kita lihat dalam berbagai elemen kehidupan bangsa besar ini. Rusak dan hilangnya jutaan hektar lahan hutan di berbagai belahan negeri ini. Korupsi, kolusi, nepotisme, hukum yang bobrok dan pilih kasih. Pembunuhan, perampokan, pencurian, pemerkosaan, asusial, permesuman, penipuan dan sekian banyaknya tindak kejahatan dan kriminal dilakukan oleh masyarakat maupun para pejabat. Bahkan oleh para penjaga moral bangsa itu sendiri.</strong></p>
<p><strong>Undang Undang Dasar Negara RI tahun 1945 (UUD 1945) Pasal 32 ayat (1) dinyatakan, “Negara memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasa masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai–nilai budayanya”. Sudah sangat jelas konstitusi menugaskan kepada penyelenggara negara untuk memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Ini berarti negara berkewajiban memberi ruang, waktu, sarana, dan institusi untuk memajukan budaya nasional dari mana pun budaya itu berasal.</strong></p>
<p><strong>Amanah konstitusi itu, tidak direspon secara penuh oleh pemerintah. Bangsa yang sudah merdeka 65 tahun ini masalah budaya kepengurusannya “dititipkan” kepada institusi yang lain. Pada masa yang lampau pengembangan budaya dititipkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, kini Budaya berada dalam satu atap dengan Pariwisata, yakni Departemen Pariwisata dan Budaya. Dari titik ini saja telah ada kejelasan, bagaimana penyelenggara negara menyikapi budaya nasional itu. Budaya nasional hanya dijadikan pelengkap penderita saja.</strong></p>
<p><strong>Kita ingat beberapa saat yang lalu kejadian yang menyita perhatian yaitu klaim oleh negara Malaysia terhadap produk budaya bangsa Indonesia yang diklaim sebagai budaya negara Jiran tersebut, antara lain lagu Rasa Sayange, Batik, Reog Ponorogo, Tari Bali, dan masih banyak lainnya. Apakah kejadian seperti ini akan dibiarkan terus berulang?</strong></p>
<p><strong>Seharusnya peristiwa tragis tersebut dapat menjadi martir kesadaran dan tanggungjawab yang ada di atas setiap pundak para generasi bangsa yang masih mengakui kewarganegaraan Indonesia. Negara atau pemerintah Indonesia semestinya berkomitmen untuk mengembangkan kebudayaan nasional sekaligus melindungi aset-aset budaya bangsa, agar budaya Indonesia yang dikenal sebagai budaya adi luhung, tidak tenggelam dalam arus materialistis dan semangat hedonisme yang kini sedang melanda dunia secara global. Sudah saatnya negara mempunyai strategi dan politik kebudayaan yang berorientasi pada penguatan dan pengukuhan budaya nasional sebagai budaya bangsa Indonesia.</strong></p>
<p><strong>Sebagai bangsa yang merasa besar, kita harus meyakini bahwa para leluhur telah mewariskan pusaka kepada bangsa ini dengan keanekaragaman budaya yang bernilai tinggi. Warisan adi luhung itu tidak cukup bila hanya berhenti pada tontonan dan hanya dianggap sebagai warisan yang teronggok dalam musium, dan buku buku sejarah saja. Bangsa ini mestinya mempunyai kemampuan memberikan nilai nilai budaya sebagai aset bangsa yang mesti terjaga kelestarian agar harkat martabat sebagai bangsa yang berbudaya luhur tetap dapat dipertahankan sepanjang masa.</strong></p>
<p><strong>Dalam situasi global, interaksi budaya lintas negara dengan mudah terjadi. Budaya bangsa Indonesia dengan mudah dinikmati, dipelajari, dipertunjukan, dan ditemukan di negara lain. Dengan demikian, maka proses lintas budaya dan silang budaya yang terjadi harus dijaga agar tidak melarutkan nilai nilai luhur bangsa Indonesia. Bangsa ini harus mengakui, selama ini pendidikan formal hanya memberi ruang yang sangat sempit terhadap pengenalan budaya, baik budaya lokal maupun nasional. Budaya sebagai materi pendidikan baru taraf kognitif, peserta didik diajari nama-nama budaya nasional, lokal, bentuk tarian, nyanyian daerah, berbagai adat di berbagai daerah, tanpa memahami makna budaya itu secara utuh. Sudah saatnya, peserta didik, dan masyarakat pada umumnya diberi ruang dan waktu serta sarana untuk berpartisipasi dalam pelestarian, dan pengembangan budaya di daerahnya. Sehingga nilai-nilai budaya tidak hanya dipahami sebagai tontonan dalam berbagai festival budaya, acara seremonial, maupun tontonan dalam media elektronik.</strong></p>
<p><strong>Masyarakat, sesungguhnya adalah pemilik budaya itu. Masyarakatlah yang lebih memahami bagaimana mempertahankan dan melestarikan budayanya. Sehingga budaya akan menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya pemeliharaan budaya oleh masyarakat, maka klaim-klaim oleh negara lain dengan mudah akan terpatahkan. Filter terhadap budaya asing pun juga dengan aman bisa dilakukan. Pada gilirannya krisis moral pun akan terhindarkan. Sudah saatnya, pemerintah pusat dan daerah secara terbuka memfasilitasi partisipasi masyarakat dalam upaya penguatan budaya nasional.</strong></p>
<p><strong>Dengan dasar di atas, kami bagian dari elemen bangsa ini bersumpah untuk:</strong></p>
<ol>
<li><strong><em>IKUT SERTA MEMELIHARA WARISAN BUDAYA BANGSA      (NATIONAL HERITAGE).</em></strong></li>
<li><strong><em>MENDESAK KEPADA PEMERINTAH UNTUK SERIUS      MEMPERHATIKAN PEMBANGUNAN BUDAYA DAN MENSOSIALISASIKANNYA DI DUNIA      PENDIDIKAN.</em></strong></li>
<li><strong><em>MENGELUARKAN KEBIJAKAN YANG MENDUKUNG      LESTARINYA NILAI-NILAI BUDAYA LOKAL DAN NASIONAL YANG POSITIF DAN      KONSTRUKTIF.</em></strong></li>
<li><strong><em>MENYARING BUDAYA ASING YANG MASUK MELALUI      AKTUALISASI BUDAYA.</em></strong></li>
<li><strong><em>MENGGALANG SEMUA POTENSI BUDAYA YANG ADA      MELALUI “MANAJEMEN BUDAYA” TATA KELOLA KEBUDAYAAN YANG BAIK DAN BENAR      (GOOD CULTURAL MANAGEMENT/ GOOD CULTURAL GOVERNANCE).</em></strong></li>
</ol>
<p><strong>TERTANDA</strong></p>
<ol>
<li><strong><span id="mce_0_start" style="overflow:hidden;line-height:0;">﻿</span><a href="http://sabdalangit.wordpress.com/2010/11/22/sumpah-budaya-ii/" target="_blank">KI SABDALANGIT</a><span id="mce_0_end" style="overflow:hidden;line-height:0;">﻿</span>, </strong></li>
<li><strong><span id="mce_1_start" style="overflow:hidden;line-height:0;">﻿</span><a href="http://alangalangkumitir.wordpress.com/2010/11/22/sumpah-budaya-ii/" target="_blank">MAS KUMITIR, </a><span id="mce_1_end" style="overflow:hidden;line-height:0;">﻿</span></strong></li>
<li><strong><span id="mce_2_start" style="overflow:hidden;line-height:0;">﻿</span><a href="http://wongalus.wordpress.com/2010/11/22/sumpah-budaya-ii-2/" target="_blank">KI WONG ALUS</a><span id="mce_2_end" style="overflow:hidden;line-height:0;">﻿</span>, </strong></li>
<li><strong><a href="http://www.wongalus.wordpress.com/">TOMYARJUNANTO</a></strong></li>
</ol>
<p><strong>Bagi saudara sebangsa dan setanah air, silahkan bergabung dan sebarkan sumpah budaya ini dengan mengcopy paste dan mengisi nama anda dibawah Sumpah Budaya ini. Demikian pernyataan kami. Terima kasih. Asah asih asuh</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tomyarjunanto.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tomyarjunanto.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tomyarjunanto.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tomyarjunanto.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tomyarjunanto.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tomyarjunanto.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tomyarjunanto.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tomyarjunanto.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tomyarjunanto.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tomyarjunanto.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tomyarjunanto.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tomyarjunanto.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tomyarjunanto.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tomyarjunanto.wordpress.com/502/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tomyarjunanto.wordpress.com&amp;blog=2079665&amp;post=502&amp;subd=tomyarjunanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tomyarjunanto.wordpress.com/2010/11/22/sumpah-budaya-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/45594e0f1764f89bcbb731af715ba223?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">tomy</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
