Hangidunga Piweling Kaki,
Sabdopalon Pamong Nusantara,
Ameca Kasengsarane,
Rakyat Nusa Sedarum,
Nampi Panodhining Hyang Widhi,
Kalambangnya Wong Nyabrang,
Prapteng Tengah Katempuh,
Santering Kali Kang Bena,
Yeku Ing Gapura Sapta Ngesthi Aji,
Keh Jalma Samya Lena.
Sastra ini harus dibabar
Maka kukidungkan kesedihan, tangisan lampau kisahkan derita menjelang
Kala manusia menyusut hanya menjadi bagian dari suatu nilai kegunaan
dan waktu dirampat ketam bagai binatang buruan
Ilusi diproduksi dalam hingar bingar iklan, jadikan mimpi lebih meyakinkan dibanding kenyataan
Tercampak laiknya budak…
Jalanmu didiktekan sesuai peta…
Sebrangi sungai…
Apa lacur, sesampai di tengah diterjang banjir bandang
Apa yang bisa kau jadikan pegangan?
Pemimpinmu lebih suka berebut remahan roti yang disebut kekuasaan
Sedang…
Pemegang peta tak lebih dari calo tiket yang sibuk perkaya diri berslogan ayat suci hingga membusa mulut
Tuntunan menjadi tontonan..!!!
Pupus harapanmu tiada lagi pegangan
..
..
..
Nandhang Mrata Sak Tanah Jawi,
Dadi Kersaning Kang Murbeng Alam,
Meruhna Pra Kawulane,
Lamun Jagad Puniku,
Mengku Pangeraning Ghoib,
Nraju Becik Myang Ala,
Kang Nandhur Angunduh,
Nandhang Wohira Priyangga,
Den Alamna Kinarya Amratandani,
Jagad Ana Kang Ngasta.
Sastra ini tetap harus dibabar
Maka yang terjadi biarlah terjadi sebagai tanda agung Ilahi
Keadilan adalah dendam, seruan akan sebuah harapan
Sebab dunia adalah ladang, tempat menabur benih dan menuai hasil
Maka siapa yang menabur dialah yang akan menuainya
Sungguh…
Yang dinanti telah datang, namun tak seperti yang kau kira
Dia datang membawa api
dan seperti yang dikehendakinya api itu telah berkobar menjalar kemana-mana
..
kobong.!
kobong.!!
KOBONG..!!!
..
..
..liyep liyep layaping ngaluyut
..
..
Cukup sudah yang perlu kusampaikan
Tunaikan wajib yang mesti diemban
Sastra ini harus dibabar


