risalah hidup


Dalam mistik Jawa eksistensi Tuhan bersifat ambivalen, berpaham transendensi sekaligus imanensi.

Transendensi percaya bahwa Tuhan itu Tan Kena Kinaya Ngapa, awal segala ihwal, absolute & teramat sangat.

Imanensi menganggap Tuhan ada <inherent> atau hadir <present>.

Tuhan ada di jagad gumelar <alam semesta> sekaligus di jagad gumulung <diri manusia>.

Manusia Jawa yakin bahwa alam semesta adalah juga berada dalam dirinya. Dirinya adalah gambaran alam semesta karena apa saja terdapat dalam dirinya, seperti yang digambarkan dalam tembang-tembang Kisah Dewa Ruci di Serat Cebolek

…isining bumi, ginambar angganira

(lagi…)

Keadilan adalah sesuatu yang ada justru karena tak hadir. Ia ibarat akanan. Kita melihatnya ketika kita berdiri di tepi laut dan memandang nun jauh disana, tanpa tahu bagaimana wujudnya. Ia kosong selaik kolong – kosong yang dapat diberi nama dan ditunjuk. Ia absensi yang mengimbau, tandanya luka pedih yang terjadi ketika ketidak-adilan menguasai ruang.
Mungkin itulah sebabnya riwayat pergolakan sosial di Indonesia adalah riwayat orang-orang tertindas yang menantikan yang tak ada : Ratu Adil. Semakin absen keadilan, semakin yakin orang-orang ia akan muncul secara dramatis di hari akhir.
–. Gunawan Mohamad .—

(lagi…)

AKU dikukuhkan dalam relasi

Yang teruntai cinta sebagai tanggungjawab dimana AKU mengalami ENGKAU

Relasi yang mendahului pengetahuan tentang diri sebagai pribadi

Melalui ENGKAU manusia menjadi AKU

ENGKAU-lah yang membentuk AKU

Pemuda yang tercekat oleh keindahan sang kekasih

Limpahan hidup yang terberi terujar kata

Allah berkenan melawat daku dengan perantaraanmu

Bukan penolakan atasmu namun lewat penerimaan terhadapmu

Allah,

Sang Hidup,

Wajah Abadi yang tersembunyi dibalik setiap wajah manusia

Dalam pertemuan denganNya

Dalam relasi dengan setiap wajah yang datang dan pergi

Manusia sanggup mengakui bahwa dunia memiliki arti

Ini bukan sekedar bukti, namun uraian dari kenyataan yang kita hayati

Lewat relasi Hidup menyatakan diri

Dalam seru Tukang Kayu dari Nazareth

Dalam sujud takzim Sang Nabi

Aku ada didalam Bapa dan Bapa ada didalam aku

Kemanapun aku berpaling, disitulah wajah Allah

Agama di Indonesia selayaknya sebuah identitas bagi manusia yang telah mengalahkan kepribadian manusia itu sendiri. Ia adalah sebuah ’pembedaantara pribadi satu dengan pribadi lainnya, kerumunan manusia satu dengan kerumunan manusia lainnya. Karenanya sangatlah perlu dituliskan di KTP.

Agama menjadi sangat fasis, diakui atau tidak dalam menilai seseorang tak pernah lepas dari melihat juga apa agamanya.

Dalam pada itu, kapitalisme memperoleh ruang dalam agama, atau agama sendiri masuk dalam kuasa pasar demi melanggengkan hegemoninya. Ayat suci yang yang dibisniskan lewat telepon seluler, ceramah agama yang menjadi ’arena tepuk tangan’ dalam acara Dai cilik di televisi, ibadah haji yang menjadi ’hadiah togel’ di Bank Syariah adalah fakta yang sungguh terjadi. (lagi…)

Judul di atas juga tulisan-tulisan saya mungkin terdengar sangat provokatif.

Namun ini adalah suatu percikan permenungan hidup yang mungkin menantang sisi kedewasaan & kematangan spiritual dari siapapun yang membacanya. Apapun reaksi & pendapat Anda, mencerminkan seberapa matang Anda memahami spiritualitas dalam kehidupan Anda

……………………………….

Hakekat apa yang tertangkap saat terucap kata cinta?

Spirit apa yang terungkap saat manusia memandang puranama?

Terpana & takjub akan indahnya…sekaligus tercekat oleh gelap alam yang melingkupinya?

Cinta… Purnama…

Beroleh makna saat manusia dengan seluruh keberadaannya tercerap dalam momen yang intens.

Kata-kata hadir sebagai penanda.

Namun tanpa spirit kata-kata hanyalah sebuah konsep mati tanpa makna.

Noe dalam Permintaan Hati bertanya adakah sutu kata diatas kata ‘sayang’ & ‘cinta’ yang sanggup mengungkapkan perasaannya pada sang kekasih?

Ya, kata-kata tak kan pernah mampu secara utuh menggambarkan konsep yang diekspresikannya.

Dalam pengalaman yang lebih intens akan HIDUP, manusia menemukan berbagai konsep : neraka, surga, malaikat, tuhan

Namun saat momen yang intens coba dikonstruksi dalam sastra yang indah KITAB SUCI, manusia justru meringkus HIDUP, meringkus Tuhan dalam teks kata-kata.

”Tuhan telah mati !”, seru Frederich Nietzche, ya Tuhan telah mati dalam teks-teks kosong KITAB SUCI.

Konsep yang dikonstruksi membuat kita telah melupakan ’spirit’, ’kejadian’, & ’pengalaman yang sakral’.

Tuhan telah mati, Ia tak lagi menyapa kita. Ia tinggal sejarah keselamatan, sejarah penebusan, dongeng cinta pada awal masa manusia.

Ia hanya bisa dikenang, dirindukan, namun tak pernah hidup di hati.

Diajarkan sebagai suatu yang lempang lurus, menciptakan manusia dengan iman yang presisi sesuai desain yang cocok dengan akidah

Dan segala pertanyaan menjadi salah & sesat

Konstruksi ulang akan pengalaman HIDUP dalam teks-teks KITAB SUCI membuat manusia ’menatap dinding’ yang hanya memantulkan sinar, sejatinya mengalihkan dirinya dari Sang Sumber Cahaya.

Desain yang dibangun lalu dilembagakan sebagai HUKUM, namun seperti semua hukum manusia meski dikatakan datang dari langit, selalu punya dimensi politik Tak dapat terelakkan selalu membawa serta kepentingan & kekuasaan manusiawi.

Yang tragisnya menjadi landasan hukum bagi pembenaran-pembenaran egois manusia.

Manusia adalah makhluk yang unik yang punya ciri khas masing-masing. Makhluk pluaralitas yang sangat kompleks, demikian juga pengalaman akan HIDUP.

HIDUP (Tuhan) suatu yang tak tepermanai, yang tak mungkin tertangkap dalam kata-kata. HIDUP tak akan bisa diringkus. Ia akan tetap selalu menyapa.

Sebagai orang gila di jalanan, sebagai telpon dari seorang client atau dalam pekerjaan yang dikejar dateline. Mungkin menyapa saat kita terbangun dari tidur menyadari keberadaan kita di pagi yang indah.

Boleh jadi Ia menyapa Anda lewat postingan ini.

Jangkrik kang padha ngerik

Banyu kang kemricik

Godhong-godhong pating kemlisik

Iku kabeh piwulang kang tharik-tharik

Selamat bertemu Tuhan dalam tiap momen hidupmu

Dag Hammersjold berkata,

“Terima kasih untuk semua yang telah berlalu

terjadilah yang akan terjadi

ya, aku terima”.

Kuandaikan ruang kosong dalam otakmu butuh sesuatu yang disebut Tuhan. Jadi setiap ada kekosongan dalam dirimu kau melarikan diri kepada Tuhan.

Ia telah menjadi semacam pelarian bagi jiwamu, semacam ekstasi yang kau butuhkan saat kau mengerut dari kenyataan.

Lalu kau puja dengan mengatakan “Aku mencintaiMu Tuhan lebih dari apapun di dunia ini”.

Kutanya bagaimana caramu mencintaiNya? Ia tak seperti manusia yang dapat dilihat, didengar atau disentuh. Ia bukan seorang pribadi sebagaimana kita mengerti arti kata ini. Karena Ia hanya persepsi / angan2 pengisi ruang kosong. .

CG Jung menjelaskan dalam Imago Dei, imaji mengenai sosok Tuhan yang tertanam dalam jiwa tiap manusia. Mendorong manusia untuk menempatkan entitas tertentu sebagai kekuatan yang berada di atasnya. Saya beranggapan agama cuma pelarian manusia saja yang tak berani mengambil tanggungjawabnya atas hidupnya sendiri
lalu coba mencari pemaknaan suatu entitas lain yang jauh lebih berkuasa dari dirinya, sebut aja Tuhan
Bagiku (jangan percaya..), mencintai Tuhan dengan seluruh hati berarti dengan seluruh hati mengucapkan kata ‘YA’ kepada kehidupan & segala peristiwa yang terjadi didalamnya, menerima tanpa syarat segala sesuatau yang direncanakan Tuhan dalam hidup ini, mengambil & membuat keputusan akan hidupnya & bertanggungjawab penuh atas keputusan hidup itu
Maka Tuhan akan benar2 hidup di hati, dengan kata lain kita benar2 mengalami Yang Illahi, bukan sekedar suatu entitas diluar sana atau ruang kosong dalam benak yang jadi tempat kita membuang tanggungjawab karena tak berani menghadapi HIDUP

Mari kita ambil tanggung jawab itu. Jangan Tuhan diseret-seret sekedar untuk menutupi ketidakberanian kita bertanggungjawab atas hidup,

pembenaran akan ketidakmampuan kita mengelola nafsu.

”urip iku satuhu,

nggawa reng-renganing Hyang Widhi,

kodrat datan anyidra,

marang Kersa Agung,

lamun wus tumekeng mangsa,

geguritaning Gesang mbabar dumadi,

laksita madyapada”

Ada hal-hal dalam hidup yang tak bisa kita kendalikan seturut kehendak kita, seperti kelahiran & kematian.

Takdir telah ditentukan atas hidup kita, namun tetap tersedia banyak pilihan untuk kita menjalaninya.

Apa yang terbuka bagi nasib ialah apa yang kita pilih untuk kita lakukan sepanjang perjalanan itu.

Memang kita tak dapat mencederai keabadian,

Namun kita dapat melawan nasib.

Takdir tidak untuk diratapi tetapi perjalanan hidup harus tetap & akan selalu dihargai.

Menghargai kehidupan……….

Sesuatu yang ingin kumintakan pendapat dari Anda sekalian.

Anda punya waktu tidak terbatas untuk membagikannya

Ketika berbicara tentang hidup, kita juga berbicara mengenai tubuh & pengalaman dalam memaknai tubuh.

Saat lahir, tubuh kita dalam keadaan telanjang & pengalaman adalah usaha membajui tubuh telanjang itu.

Tubuh tetap satu, namun pengalaman beraneka ragam.

Untuk mempertahankan kelangsungan hidup, kita memang butuh mengenakan penutup bagi tubuh telanjang kita.

Tidak sekedar pakaian, namun juga bermacam atribut seperti : nama, agama, gelar, status sosial, harta, dsb.

Seringkali karena salah dalam memaknai, hidup kita menjadi tak menentu. Kita menjadi terlalu melekat pada atribut. Bahkan atribut menjadi persyaratan utama dalam memaknai & mencapai kepenuhan hidup kita.

Tubuh adalah anugrah Tuhan. Atribut hanya salah satu sarana manusia mensyukuri anugrah itu.

Kita terlahir telanjang & suatu saat dalam keadaan telanjang kita akan kembali pada Sang Pencipta.

Mari kita maknai tubuh telanjang ini, tanpa kedok & kepura-puraan.

Menerima apa yang dianugrahkan & dipersiapkan Hidup bagi kita.

Dalam kekosongan yang berisi,

pribadi mengalami Yang Maha Misteri

Muhammad di Gua Hira

Sidharta di bawah pohon Bodhi

Juga Musa di Puncak Sinai

Namun kepentingan datang & agama dilembagakan

Pengalaman akan Ilahi coba dirumuskan dalam Kitab Suci

Pewahyuan; keadaan batin yang secara tiba2 terbuka & ter-heran2 akan keberadaannya sendiri coba direkonstruksi menjadi desain baku yang rapi

Getar takjub keajaiban hilang diganti kata2 yang berkelok menyesatkan

Tuhan sekedar buku pintar bagi mata pelajaran iman

Meski begitu,

Seorang Pencari tetap sadar

Seluruh dedaunan di dalam hutan

tak akan mungkin tergenggam

Melihat dengan kedua mata memiliki arti melihat dari berbagai segi

Melihat secara multidimensi

Dalam memandang, baik buruk terangkum

Baik ada karena ada buruk

Buruk ada karena ada baik

Dalam memandang terdapat kebijaksanaan

Antara terang dan gelap ada bayang-bayang

Bertolak dari itu kutempuh jalan ini :

Andai ada orang berjualan salak

Aku akan berjualan sepet (serabut kelapa)

Tiap kali ia tawarkan dagangannya

Aku pun tawarkan daganganku

”Salak..Salak” teriaknya

”Sepet..Sepet” teriakku

”Salak!!” tambah keras

”Sepet!!” aku tak mau kalah

Orang jadi mikir-mikir kalao mau beli ’salak sepet’

Ada pemikiran ada pandangan

Sebuah konflik berkecamuk

Kualitas baru terbentuk

Halaman Berikutnya »