politik


CAKRABASKARA

PENGANTAR


Seringkali bila berbicara tentang revolusi, khususnya di negeri tercinta ini saya katakan layaknya berbicara tentang menghancurkan gunung batu dengan modal sebuah sekop. :cool:

Pernyataan saya bukanlah pernyataan sikap pesimisme namun sebuah refleksi kondisi riil yang dihadapi bangsa ini.

Bangsa yang telah terjajah jiwanya dengan sedemikian parah si segala lini dan segi kehidupan.

Lalu kemudian bila revolusi adalah sebuah keniscayaan, yang menjadi pertanyaan penting adalah apa yang semestinya kita lakukan?

Pemikiran yang saya tuangkan disini sudah pernah saya utarakan dalam beberapa posting sebelumnya, saya rangkum dan coba membuat konklusi praktis.

Tentu saja sangat bersifat subjektif namun harapan saya sih semoga bisa memberi sumbangan bagi jalannya perjuangan menuju kejayaan bangsa ini. Kejayaan yang dicita-citakan para pendahulu bangsa, para pendiri Negara, yang diamanatkan pula dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. (lagi…)

Bung Karno pernah berkata : “Kutitipkan Negara ini kepadamu, namanya titipan pasti suatu saat akan diminta kembali, namun betapa sangat menyedihkannya bila titipan amanah itu ternyata tak mampu kita kelola denagn baik malahan kita telah merusaknya. Lihat saja Timor Timur yang terlepas dari pelukan Ibu Pertiwi, korupsi yang telah menjadi bagian dari budaya, mental ‘tukang nggaduhke’ yang tidak mau repot mengelola kekayaan Negara ini tapi malah memberikannya pada pihak asing untuk mengelola, maraknya aksi terorime berkedok agama & makin jauhnya kita dari nilai-nilai Pancasila *siapa yang masih hapal Pancasila..anak-anak?*
Kita gagal dalam mengemban amanah, titipan ini yang harus kita jaga & kelola malah kita hancurkan.

wus angancik arga sad indriya,
Nandhang duhkita Risang Sungkawa,

Telah mencapai puncaknya kesedihan Ibu Pertiwi kini, maka dalam kesedihan yang teramat sangat Para Leluhur Indonesia terlebih Bung Karno mencoba membangkitkan kembali nilai2 patriotisme generasi muda
Kunarpaning Sri Aji Narpati,
Sumunar tatas ambabar turas,

Inilah wejangan dari kumara Bung Karno tentang nilai-nilai kemanusiaan & makna 17-8-1945 :

Angka 1 adalah Sang Hidup, dalam aksara arab disebut Alief
Alief ini tak bisa berdiri sendiri karena belum bisa membentuk kata, atau Hidup belum bisa menghidupi.
Untuk itu dibutuhkan sandangan atau pakaian, perlu di doma’, fatah atau kasro sehingga membentuk angka 7 bisa berbunyi A, I, U Aku Iki Urip, Aku Ini Hidup, sebuah kesadaran akan diri.
Pakaian Sang Hidup inilah yang membuatnya MengHidupi, Hidup Yang menghidupi yang disebut sebagai agama. Bukan agama sebagai kelembagaan keyakinan namun agama sebagai ageming aji, pakaian Sang Hidup, kang tuwuh saka ing kalbu, bertumbauh dari dasar kalbu, kang mahanani marang pranatan, kasusilan saha kabudayan, yang terimplementasi dalam peraturan, tata susila & kebudayaan yaitu BUDI PEKERTI LUHUR.
Alief yang telah menjadi bunyi atau angka 1 menjadi angka 7 inilah yang disebut sebagai TONGKAT KOMANDO atau TEKEN ALIEF MBABAR DUMADI.
Kesadaran yang membabar kesejatian diri, bahwa setiap manusia sesungguhnya sama & sederajat berasal dari Sang Hidup yang Tunggal ( 1 ) maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan & peri keadilan, dan proklamasi adalah pembabaran kesadaran hidup manusia Indonesia untuk berjuang bersama seluruh masyarakat & bangsa dunia memayu hayuning bawana dengan berdasar pada persamaan, persaudaraan, kemerdekaan, perdamaian abadi & keadilan social.

Angka 8 adalah Pedoman seorang pemimpin bangsa yang mampu bersikap seperti 8 unsur alam yang disebut Hasta Brata seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya disini.
Juga sebenarnya adalah Tuntunan Hidup bagi tiap manusia, semangat juang yang tinggi mencapai kesejatian manusia

“GUNTUR menggelegar suaramu
Diah Permata Sari MEGAWATT 2000 sinar matamu
SUKMAWATI sukmamu
RAHMAWATI rahmatmu
GURUH menggelegar di atas kepala berjalan di bawah kaki
BAYU kekuatanmu
TOPAN badai membelah gunung
Mencari Dewa Ruci RATNA KARTIKA SARIDEWI”

Sebuah doa dari Leluhur kita agar anak-anaknya, kita semua ini sungguh mencapai kepenuhan hidup sebagai bangsa yang merdeka bersatu berdaulat adil dan makmur

Angka 1945 adalah kultur hidup manusia.
1 adalah Hidup
9 secara de yure ada Wali Sanga secara de facto adalah 9 bulan dalam kandungan Ibu *tambah 1 Sang Hidup menjadi 10 hari*, 9 lubang nafsu (Babahan Hawa Sanga), juga adalah terdiri dari
4 unsur alam yaitu Bumi, Api, Angin dan Air yang dilengkapi dengan
5 mudarah yaitu Nur, Rahsa, Roh, Akal & Budi.
Dalam mistik Jawa disebut pula sebagai Sedulur Papat kalima Pancer. Kesemuanya membentuk kesadaran Aku Iki Urip seperti telah diterangkan tadi.

Begitu dalam makna dari tanggal 17-8-1945, semoga dapat menjadi bahan refleksi kita dalam peringatan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 64 tahun ini.
Tanggal proklamasi tidaklah diambil secara sembarangan namun penuh pesan moral dan nilai filosofi yang tinggi. Tinggal kita para pemuda generasi penerus ini yang berkewajiban memaknai & mengisinya.
17-8-1945 pernyataan kemerdekaan Negara kita, tugas kita mewujudkannya bukan sebagai sebuah pernyataan namun sungguh dinyatakan

Akhir kata mengutip kata-kata Eyang Tunjung Seta, Danghyang Gunung Lawu :

HAYWA SAMAR
DUR SUKERING KAMURKAN
MRIH DHU KAMARDIKAN
BAYA SIRA HARSA MARDIKA

Jangan takut melawan segala bentuk kejahatan
Baik dari luar terlebih dari dalam diri
Bila engkau sungguh-sungguh ingin merdeka

Mari revolusi mental budaya kita
Kita buat budaya tandingan, berTRIWIKRAMA BUDAYA
Habitus baru yang jauh dari korup
Bersama memayu hayuning bawana
Dalam semanagt persamaan & persaudaraan
Sebagai Utusan Sang Hidup yang Menghidupi

TEKEN ALIEF MBABAR DUMADI,
Salam komando, Nusantara Jaya
Dirgahayu Republik Indonesia

Suradira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti

Sugeng Warsa Enggal 1 Sura 1942 Selasa Pahing Tahun Je Windhu Kuntara

Di blog Budaya Jawa dan Penyejuk Hati punya Kangmas Hidayat, saya mendapat pertanyaan dari Kangmas Ratnakumara mengenai hakikat Trisulawedha. Bagi para sedherek yang baru kali ini mendengar, Trisulawedha diyakini sebagai senjata pamungkas Pemimpin Besar Indonesia yang akan membawa bangsa ini kepada kejayaannya. Berikut kutipan Jangka Jayabaya pupuh ke 164 yang menjelaskannya :

Putra kinasih swargi kang jumeneng ing gunung Lawu. Hiya yayi Bethara Mukti, hiya Krisna, hiya Herumukti. Mumpuni sakabehing laku. Nugel tanah Jawa kapingpindho. Ngerahake jin setan, kumara prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo, kinen ambantu manungso Jawa padha asesanti TrisulaWeda. Landhepe triniji suci. Bener, jejeg, jujur. Kadherekake Sabdopalon lan Noyogenggong.

(lagi…)

Di kampungku telah terpilih ketua RT baru, seorang muda rupawan dengan penampilan dicitrakan sangat meyakinkan.
Dengan mengusung slogan Dengan Cinta Kita Bisa, beliau berhasil menarik simpati warga dan memenangkan hati untuk memimpin kampung kami.
Kampung kami terletak di pinggir hutan, kaya dengan berbagai tanaman, penuh keteduhan oleh rindang pepohonan.
Namun satu hal yang meresahkan, dengan mata pencaharian bercocok tanam dan beternak ayam, banyak musang dari hutan menyerang memangsa ayam.
Dalam program 100 harinya, Pak RT terpilih mengadakan terobosan yang mengesankan.
Beliau mengadakan MoU antara musang dan ayam agar dapat hidup rukun dalam satu kandang. Karena sejatinya dalam hitungan ekonomi, musang dan ayam sangat menguntungkan bila diternakkan.
Kepanitiaan dibentuk, peraturan diundangkan, pengawas pelaksana telah ditunjuk.
Dalam acara penandatanganan MoU dengan berapi-api Pak RT berorasi :

Hari ini adalah hari yang sangat istimewa…
Hari ini disini kita semua sebagai saksi akan terobosan besar sejarah peradaban…
Dimana cinta sebagai panglima, mengatasi segala perbedaan, melampaui segala kontradiksi, mendobrak sekat-sekat ideologi…
Bukan utopia jika kita menghargai harga 1 tetes darah, 1 tetes air mata…
Tiada lagi perjuangan kelas kalau kita mau kembali ke inti keberadan diri : Cinta Yang Abadi!!…
Jika yang abadi adalah Abadi, Maka kata-kata terakhir dari setiap kita adalah : Dengan Cinta Kita Bisa!!!

Kini musang dan ayam dikandangkan bersama. Dengan pengawasan penuh dan jadwal pemberian makan yang teratur, mereka bisa hidup damai meski ayam-ayam berkelompok dangan takut dan penuh curiga.
Pak RT yang rajin inspeksi merasa bangga dengan perkembangan sejauh ini.
Namun tak berselang lama tragedipun terjadi. Saat pengawasan lengah dan melemah, ayam-ayam sekandang habis dimakan musang.
Riuhlah kampung kami oleh kekacauan. Semua orang saling hujat dan menyalahkan…
Bapak RT tepekur lunglai tak berdaya…
Sementara itu jauh di pinggir hutan seorang pujangga bersyair :

Mungkinkah si ayam berdamai dengan musang,

Dan dapatkah orang kaya berdamai dengan orang miskin?

Keledai liar di padang rumput menjadi mangsa singa,

Demikianpun orang miskin menjadi perumputan orang kaya.

Bilamana orang kaya berbicara, maka semua berdiam diri serta memuji-muji perkatannya setinggi langit.

Sebaliknya, bilamana orang miskin berbicara, lalu orang berkata : “Siapa gerangan orang ini?”

Dan kalau ia tergelincir, maka ia direbahkan sama sekali.*

Memang cinta kuat seperti maut

Gairah gigih seperti dunia orang mati**

Namun tanpa hikmat dan kebijaksanan

Pengertian benar tentang sifat-sifat dasar kehidupan

Cintapun terseret kelembah kenistaan

*Sirakh 13:18-23

** Kidung Agung 8:6

Syahdan Ibu Inggit berpesan kepada Kusno ( Sukarno Muda ) :

“GUNTUR menggelegar suaramu

Diah Permata Sari MEGAWATT 2000 sinar matamu

SUKMAWATI sukmamu

RAHMAWATI rahmatmu

GURUH menggelegar di atas kepala berjalan di bawah kaki

BAYU kekuatanmu

TOPAN badai membelah gunung

Mencari Dewa Ruci RATNA KARTIKA SARIDEWI”

(lagi…)

Hasta Brata merupakan tuntunan laku pada seorang yang satria pinilih [pemimpin yang terpilih],

Hasta berarti delapan sedangkan Brata berarti laku, watak atau sifat utama yang diambil dari sifat alam. Dapat diartikan juga bahwa Hasta Brata adalah delapan laku, watak atau sifat utama yang harus dipegang teguh dan dilaksanakan oleh seorang pemimpin atau siapa saja yang terpilih menjadi pemimpin, seorang pemimpin utama.
Delapan watak utama tersebut diambil dari watak para Dewa bangsa kita yang merupakan manifestasi dari Gusti Kang Murbeng Dumadi, dan masing-masing mewakili sifat dari alam raya, yaitu: bumi, angin, air, bulan, matahari, angkasa, api, dan bintang.
Ke-delapan Dewa tersebut adalah :
- Batara Wisnu : simbol bumi / tanah [earth]
- Batara Bayu : simbol angin / maruto [wind/hurricane]
- Batara Baruna : simbol air / laut [water/sea]
- Batari Ratih/Chandra : simbol bulan [moon]
- Batara Surya : simbol matahari [sun]
- Batara Indra : simbol langit / angkasa [sky]
- Batara Brama : simbol api / dahana [fire]
- Batara Kartika/Ismaya : simbol bintang [star] (lagi…)

Oleh : Suprayitno

Apakah saat ini kita masih memiliki tokoh-tokoh publik yang patut kita hormati dan patut kita percayai? Sekarang tidak ada lagi tokoh. Yang ada hanyalah orang-orang terkenal karena “ucapan-ucapan atau omongannya” bukan karena watak, prilaku, sikap dan tanggungjawabnya yang besar terhadap bangsa dan negara. Para tokoh kita tidak berbuat apa pun terhadap perubahan masyarakatnya. Tokoh kita hanya sibuk mencacimaki terhadap sesama tokoh lainnya, sibuk berwacana, obral janji dan obral nasihat. Padahal yang lebih dibutuhkan oleh rakyat adalah NASI tanpa tambahan hat. Tokoh kita hanya pandai memproduksi “mimpi” tentang perubahan.

Perubahan dari masyarakat yang melarat menjadi masyarakat yang sejahtera. Perubahan dari masyarakat yang bodoh menjadi masyarakat yang cerdas, takwa dan bijaksana. Perubahan dari masyarakat agraris menuju masyarakat industrialis yang maju. Perubahan dari masyarakat yang tertindas menjadi masyarakat yang mandiri dibidang politik, ekonomi dan kebudayaan.

Sepanjang masa, para tokoh hanya menjual impian, sehingga perubahan-perubahan yang diinginkan tidak pernah tercapai sampai dengan detik ini. Perubahan hanya bisa terjadi dengan kerja keras, komitmen, konsistensi, integritas, dan awareness (kesadaran) yang tinggi. Sementara para tokoh yang ada saat ini tidak mau kerja keras, tidak ada komitmen, tidak ada konsistensi, tidak memiliki integritas (kejujuran) dan kesadaran yang tinggi akan nasib bangsa dan negara kedepan. Para tokoh hanya berpikir untuk dirinya sendiri dan kelompok.

(lagi…)