PERHENTIAN


wall_ambiance

Mistik itu …..


bukan orang mati kemaren yang suka meneror

membuat kamu mengidap paranoid

bukan menggantang asap

segala gumam para cenayang

membuat kamu hiperilusif


adalah terpana

temaram lembayung jingga

torehkan syahdu di warna senja

adalah menderu

dingin angin menimang lembut luruh daun

menggigil kelu dalam dekap canggung

adalah berdebur

ombak membelai pantai

tegaskan hadirmu dan hadirku

adalah gemetar

hasrat tersembunyi yang sempat kucuri

dari jengah hangat bibirmu


sadari dan hadapi tak hendak mensiasati

tarian gemulai gerai rambutmu

juga hening nafasmu satu…satu…

menuntun kedalaman rasa

meretas berjuta makna

tanpa kata

dalam penyerahan…

bukan pengendalian…

Masih ingatkah dulu?

Kala kau berikan aku

Surat cintamu

narsisku

Aku terlena

Dalam kebimbangan .. kebingungan..

Dan kau hanya tersenyum

Dan berkata…

Surat… untukmu..

Saat itulah aku tertegun

Bingung

Kubuka, kubaca dan kubaca

Kupahami segera

Inilah ungkapan cintamu

Cintamu.. pertamaku

Indah memang

Kunikmati setiap hari

Penuh kebahagiaan

Hari berganti minggu

Minggu berganti bulan

Jika saja waktu tidak berlalu

Kau tak akan pernah tinggalkanku

Dan … saat ini

Aku begitu sangat merindukanmu

Bukan nabi bukan rasul

Yang kutemui pertama kali saat kulahir

Namun raut muka cantik pucat ibuku

Yang telah bertaruh nyawa melahirkanku

Bukan Isa pula Muhammad

Yang menuntnuku pertama kali saat kulahir

Namun tatap bangga dan doa ayahku

Sebagai tali hidup ditelingaku

Bukan Taurat Mazmur Injil Qur’an

Yang mengajariku pertama kali saat kulahir

Namun payudara ibu

Alirkan empati, pengertian & cinta lewat segar air susu

Kini kembali ku padamu Ibu

Nafas hidupku dihembuskan dalam rahimmu

Sekarang aku pulang ayah

Benih hidup itu bertumbuh sudah

Tetes air bergemericik

Hembus angin berkemelisik

Jangkrik pun ikut mengerik

Bagai dedaunan di dalam hutan

Semua terhampar

Semua terpapar

Wahai manusia

Adakah yang dapat kau petik?

satu puisi untuk Sissi

 

 

Berdua…

tancapkan bendera di ketinggian

kibarkan cinta dan kerinduan

Bersama…

sematkan bara di dada

panas menyakitkan

damba menggairahkan

Ya..

cinta kita bukan tali kekang yang mencederai perbedaan

cinta kita bukan petikan gitar yang mengharap syair biduan

cinta kita adalah cangkul di tangan petani

tetes keringat kuli

gemericik air di kali

Bersatu…

jiwa kita titisan Garuda

membubung tinggi mendobrak batasan cakrawala

hasrat adalah guntur

gelegar mengoyak tirani dogma

dekap erat mengerjap

bibirmu di bibirku memercik api

ledakkan gairahnya

satukan dalam warna

MERAH.. PUTIH..

..terbakar aku oleh merahmu

..kulebur kau dalam putihku

MERAH PUTIH

061107

POORMAN

hasil bumi melimpah ruah

aku puas mengais sampah
yang enak dan yang nikmat kuberikan untukmu sobat
geli aku tertawa melihat banyaknya orang gila
kesetanan dikejar waktu
jalani hidup bagai ikan mendatangi bubu
andai mereka mau melihat indahnya mawar saat bunga mengembang
atau seekor burung ternyata memiliki banyak kicauan?
embun berkilauan bunga memamerkan kemewahan
aku puas hanya bertelanjang
yang baru dan yang indah kuberikan untukmu sobat
karena aku buang hajat gunung tinggi menjulang
karena aku kencing sungai-sungai mengalir
bangga dengan lantang aku pekikkan

“MERDEKA!!!!”

 

 171107

..mengapa memberi syarat pada hidupmu..?

 

tanggalkan saja semua bajumu biar tubuh bugilmu buatku terangsang

lalu mari kita maknai ketelanjangan

engkau perempuan aku lelaki

bagai madu dengan manisnya

seperti api dengan panasnya

membiru lautmu mengalun ombakku

menghitam pekat memutih silau

menerang siang menghening malam

 

terbelenggu.jpg

tapi kau malah sembunyikan molek indahmu

dengan segala atribut kosmetika palsu

yang kau impikan sebagai kemuliaan

kau khayalkan sebagai kebenaran

ayolah tanggalkan saja semua bajumu

yang hanya akan memerangkap memasung jiwamu

kan kutulis puisi di setiap lekuk tubuhmu

kulukis waktu.. saat mengada bersamamu

mengembara dalam padang gersang

melewati tandusnya hati

dimana benak-benak belukar tlah mengering

 

kudapati berlian yang tersembunyi

di balik bilik-bilik batu kerasnya kalbu

itu bukan punyaku

 

berjalan terus menyusuri kesendirian

memunguti ranting-ranting patah

..hidup & kematian..

lihat.. matahari hampir tenggelam

biar kupungut ranting-ranting itu

sebentar gelap kan datang

kujadikan api unggun

bersama diriku terbakar

asaku tuk menerangi kegelapan nanti malam