berjuang & merdeka


Susuhunan Kalijaga berada dalam persimpangan.
Sang Pembesar Negara bagaikan makan buah simalakama :
Sabaya pati sabaya mukti labuh Negara berdirinya Demak Bintoro ataukah mikul dhuwur mendhem jero leluhurnya Majapahit.

Mangro tingal Kanjeng Susuhunan, meski batinnya memihak Eyangnya, Sang Prabu Brawijaya; sebagai pendiri Negara dan Panglima ia wajib mewujudkan cita-cita Negara, sebuah tatanan baru yang membawa pencerahan bagi leluhurnya yang kapir kopar.

cakil2Kenya-Wandu03Konon dari vested interest tersebut terciptalah tokoh baru dalam pewayangan, KENYA WANDU dan BUTA CAKIL.
KENYA WANDU, sosok lelaki berpenampilan perempuan sebuah penggambaran diri Sunan Kalijaga, ambiguitas selaiknya si BUTA CAKIL raksasa berpenampilan ksatria.

Dengan rahang bawah yang menonjol keluar dihiasi gigi panjang tajam, si Cakil bersuara kecil kalau ngomong nyerocos tanpa jeda adalah symbol ahli dakwah yang tiada duanya, tiada yang mampu menandingi dalam berdebat.

Kemunculan Cakil dalam pewayangan tercerita dalam adegan Perang Begal, atau yang lebih dikenal sebagai Perang Kembang. Perangnya ksatria melawan para raksasa setelah adegan ‘Gara-Gara’.
Perang Kembang sejatinya tamsil kehidupan manusia.

Setelah mengalami Gara-Gara, chaos, manusia butuh keseimbangan, aktualisasi diri.
Dipenuhi idealisme yang menggebu-gebu tergambar sebagai empat punggawa raksasa pengikut Cakil, symbol 4 elemen dalam dirinya. Bumi, Geni, Angin, Banyu atau dalam terminology Islam Aluamah, Supiyah, Amarah, Mutmainah.
Idealism yang mengebu-gebu ini, yang membawa manusia terbang keawang-awang harus dibumikan kembali
Disesuaikan dengan keadaan & kondisi riil yang dihadapi agar taktik tidak merusak strategi.

CAKIL selalu mati karena tertusuk kerisnya sendiri :mrgreen: Muncul sebagai perlambang kebutuhan Manusia akan WATAK
WATAK adalah keberpihakan pada suatu kepentingan, dimana Ideologi menjadi motor yang bergerak dalam jiwa tanpa henti dengan konsekwen untuk membela kepentingan
WATAK tercermin dalam SIKAP, bermuara pada seluruh aktivitas gerak hidup manusia
Watak inilah yang menjiwai dan memberi visi pada gerak hidup manusia
Watak menghindarkan dari vested interest, sikap yang plin-plan atau mencla-mencle.

Punokawan-Togog

Cakil juga punya pandherek. Pandhereknya malah tidak kalah dengan pandhereknya Arjuna. Yaitu Togog, yang seasal-usul dengan Semar dan Bethara Guru.
Ini juga sebuah simbolisme, dalam aktualisasi diri manusia watak manusia bisa bermutasi sesuai dengan fatsun STATUS SOSIAL MENENTUKAN WATAK SOSIAL.
Maka menjadi sebuah pertanyaan ultim bagi setiap manusia yang memperjuangkan idealismenya, akankah dia bermutasi atau tetap setia pada idealismenya?
Diemong oleh Semar atau menjadi diemong oleh Togog?

CECAK MUNGSUH BAYAPERANG KEMBANG ‘CICAK LAWAN BUAYA’

Dalam konteks Indonesia, menilik situasi akhir-akhir ini dimana seakan terjadi kebangkrutan di segala bidang kehidupan bangsa, kaum muda ditantang dalam Gara-Gara besar untuk memenangkan Perang Kembang.
Perang Cicak lawan Buaya, yang disponsori Buta Cakil.
Dalam pandangan saya, ada sebuah proses yang terjadi sehubungan dengan ‘sileme prau gabus timbule watu item’ sebuah jangka atau ramalan tentang Indonesia.
Akan ada ‘Perang Silih Klambi’, penegak hukum melawan penegak hukum, yang nantinya akan menyingkapkan yang putih sejatinya hitam yang hitam sejatinya putih.
Si Buta Cakil akan menemui naasnya karena tertusuk kerisnya sendiri.

Maka bagi saya segala peristiwa yang terjadi ini menimbulkan optimisme akan bangkitnya ideal reformasi, tidak malah membuat pesimis.

‘Geni sakpelik munggah krapak’ sabda Sang Susuhunan Kalijaga
Ya api yang kecil itu telah menjalar, dan akan membakar semuanya
BAKAR… BONGKAR…

Salam Revolusi
Salam Buta Cakil

Antara lama ana marmaning Hyang Widhi,

Kusuma taruna jati bebisik Satriya Suci,

Wus mantun hanggenira piningit linuwaran dening Allah,

Kinen anyapih gung-agenging perang rusuh,

Hanyirnakaken durjana durmala durmadi,

Suksmaning Suksma Jati.

Sanadyan hamung priyangga prasasat hangadu jalmi,

Ewa semana mengsahira sami kabarubuh kasoran yudhanira.

Inggih satriya puniki langgeng dzikire,

Pandita, guru, kyai iku kang dadi kawulane.

Narpati Njeng Sunan Herucakra jejulukipun,

Hambawahi Tanah Jawa,

Jawa jawi mapan wus ngerti dadi wajibing wong urip sakdurunge mati.

Pangarsa kang nyata,

Imam Mahdi tetengeripun.

(lagi…)

Tumeka ing janji wajib dilakoni kudu ditindaki,

Aja samar aja cidra punapa semaya,

Kabeh wus tekan titi mangsane,

Putra wayah amusthi aji luhuring budi,

Duhkitaningtyas sumengka kawekas,

Penggalih datan kena ajrih,

Keteging angga mangayu hayuning bawana,

Dilah latu lathi micara,

Mentering aruna netra amyarsa,

Durga sirep,

kala lerep,


PUSAKASejalan dengan SUMPAH BUDAYA yang telah dideklarasikan bersama dan mundhi dawuh untuk menyingkap rekaman sejarah meski menyakitkan, dalam tulisan kali ini perkenankan saya mendongeng sebuah cerita yang tak tertulis hanya dari TUTUR TINULAR dan pengalaman ghaib yang tiada saksi.


Alkisah Sandyakalaning Majapahit, seperti dikisahkan di Kitab Darmagandul.

Para Sunan yang tergabung dalam Wali Sanga, membuat konspirasi untuk Adipati Bintara melakukan kudeta kepada ayahanda-nya dengan alasan membebaskan semua orang dari ke-kafir-an :-) .

Pada saat pertemuan untuk merencanakan kudeta tersebut hanya seorang anggota dari dewan wali yang tidak setuju, yaitu Syekh Siti Jenar, maka kemudian Syekh Siti Jenar di eksekusi oleh Sunan Giri. Syekh Siti Jenar adalah satu-satunya wali yang memberikan ajaran Makrifat yang intinya mirip dengan Manunggaling Kawulo Gusti dari ajaran Jawa sehingga banyak masyarakat dan petinggi Majapahit berkawan akrab dengan Syekh Siti Jenar karena merasa ada kecocokan dalam sudut pandang tanpa harus terpaksa ikut ritual ajaran Makrifat itu sendiri, hal itu tidak disenangi oleh para wali yang lain yang lebih membawa ajaran agama rasul waktu itu ke Syariat. Pada saat leher dari Syekh Siti Jenar dipenggal oleh Sunan Giri terjadilah keajaiban di mana darah yang muncrat dari leher Syekh Siti Jenar membentuk tulisan asma Allah pada lantai, serta berbau wangi tidak anyir.


Singkat cerita, terjadilah kunjungan besar-besaran Pangeran Bintara disertai dengan para wali dan adipati-adipati pesisir yang sudah memeluk agama rasul dengan seluruh bala tentaranya, rencana itu sebetulnya sudah tercium oleh pasukan Majapahit yang menjaga kraton, tapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa karena Pangeran Bintara merupakan salah satu putra dari Sang Prabu Brawijaya VIII sendiri dan kunjungan besar-besaran itu awalnya disampaikan hanya merupakan kunjungan rombongan anak yang akan sowan kepada sang ayah. Pada saat itu kebetulan Sang Prabu Braiwjaya VIII sedang tidak ada di kraton karena sedang menuju Bali dengan diiringkan dua abdi-nya yaitu Sabdapalon dan Nayagenggong.

Kunjungan yang awalnya ditiupkan dalam keadaan damai berubah menjadi kudeta yang sangat berdarah, semua kitab-kitab di kraton dibakar, kraton dirusak habis-habisan dan terjadi pembunuhan massal kepada warga Majapahit di ibukota negara waktu itu yang tidak mau memeluk agama rasul. Kemenangan pasukan Bintara dan para wali itu harus dibayar dengan darah dari banyak warga ibukota Majapahit pada jaman itu


Setelah mereka berhasil memuaskan keinginan untuk merebut Kraton Majapahit *yang direbut waktu itu baru Kratonnya belum menundukkan Majapahitnya sendiri*, rombongan besar Adipati Bintara bersama dengan para wali kemudian sowan kepada kasepuhan mereka yaitu Sunan Ampel di Ampeldenta [Sunan Ampel sendiri merupakan kakek dari Jin Bun dan ayahanda dari Putri Cempa], pada saat itu Sunan Ampel sudah wafat sehingga mereka diterima oleh Nyai Ampel. Alangkah kagetnya Nyai Ampel pada saat mereka semua menghaturkan berita tentang berdirinya Kerajaan Islam pertama dengan jalan seperti itu. Nyai Ampel sangat marah besar dan tidak membenarkan perbuatan itu, apalagi cara yang dilakukan oleh Pangeran Bintara sangatlah tidak ksatria, menikam dari belakang, kepada orangtuanya sendiri lagi, karena bukan seperti itulah sejati-nya Islam yang benar. Sampai Nyai Ampel mengutuk cucunya sendiri yaitu Pangeran Bintara dengan sebutan ‘anak durhaka’
.

Saat itu Pangeran Bintara sangat terpukul dan menyesal sehingga mengutus Sunan Kalijaga untuk menyusul Sang Prabu Brawijaya VIII yang sedang dalam sebuah perjalanan ke daerah Bali. Sunan Bonang berusaha menenangkan hati Pangeran Bintara bahwa apa yang dilakukan adalah sudah sewajarnya dan tidak usah menurutkan apa yang diucapkan oleh seorang wanita.


Sementara itu Sang Prabu Brawijaya VIII yang sedang dalam perjalanan dengan diiringkan Sabdopalon dan Nayagenggong melintas di daerah Blambangan [letak tepatnya kalo sekarang itu di daerah Porong] yang kemudian disusul oleh Sunan Kalijaga yang kemudian menyampaikan permohonan maaf dari Pangeran Bintara dan mempersilahkan Sang Prabu untuk kembali ke ibukota Majapahit. Berbagai kemarahan dan kutukan diujarkan oleh Sang Prabu demi mengetahui apa yang sudah dilakukan oleh salah seorang putranya itu, dan mempertanyakan sebab kenapa hanya demi sebuah ajaran mereka tega untuk berbuat yang sangat tidak patut itu. Terjadilah dialog yang sangat tinggi pada saat itu, yang disela dalam permintaan maafnya itu Sunan Kalijaga berusaha untuk menerangkan arti ajaran dari agama Rasul, pada saat dialog sampai ke kalimat syahadat secara tidak langsung dan tidak sengaja dalam pembahasan itu Sang Prabu Brawijaya VIII juga mengulang kata itu, yang kemudian disudutkan oleh Sunan Kalijaga bahwa sebagai seorang raja besar, kata yang secara tidak sengaja mengulang kalimat syahadat itu berarti sebuah kata sabda. Sang Prabu Brawijaya VIII terhenyak dan sebagai seorang raja besar tidak mungkin menarik sabda-nya itu.


Dan pada saat Sang Prabu Brawijaya VIII ikutan mengajak Sabdopalon dan Nayagenggong untuk ikutan beliau, maka terjadilah perang kawruh tingkat tinggi antara mereka. Dan pada saat itu juga Sabdopalon menyatakan diri untuk tidak menjadi momongan bagi Sang Prabu Brawijaya VIII alias oncat sebagai pamomong seorang ratu. Sebelum kemudian sirna, Sabdopalon menurunkan sabda-nya yang intinya menyatakan bahwa kelak 500 tahun lagi akan balik masa di mana tanah Jawa akan menagih janji, tiba datangnya agama budi/kawruh

Dan itu terjadi pada saat sekarang ini ketika Para Muda bangkit kesadarannya untuk merevolusi kultur, bertiwikrama budaya, masa akan datangnya jaman keemasan Majapahit, masa 500 tahun ini diakhiri dengan Kala Bendu untuk menyongsong datangnya jaman Kala Suba.


Setelah Sabdopalon moksa di puncak Gunung Mahendra [sekarang Gunung Lawu] dengan disaksikan oleh Sang Prabu Brawijaya VIII. Kemudian Sang Prabu Brawijaya VIII juga berkeinginan untuk kembali ke alam kelanggengan/moksa dan memilih Ngobaran [pantai Ngobaran di daerah Gunung Kidul untuk sanggar pamoksannya]. Sebelum berangkat menuju ke Ngobaran, Sang Prabu Brawijaya VIII mengeluarkan ‘Sabda’ kepada seluruh Kerajaan Majapahit dan wilayah-wilayah tundukannya [Nuswantara] untuk tidak melakukan perlawanan kepada ‘Demak’ karena memang sudah begitu nasib jagad sesuai dengan garis alam, dan memperbolehkan semua Raja/Adipati di semua wilayah Majapahit untuk menentukan nasibnya sendiri-sendiri.


Pada perjalanan Sang Prabu Brawijaya VIII dari puncak gunung Lawu menuju pantai Ngobaran, sampailah beliau di daerah Batur, Putat, Bobung, Gunung Kidul. Di sinilah sebetulnya inti dari awal muasalnya
terciptanya kidung Danghyangan.

Di daerah Gunung Kidul sebelum masuk kota Wonosari ada daerah yang bernama Bobung yang terkenal dengan kerajinan dari kayu [patung kayu, topeng kayu, dll.] dan naik ke atas lagi daerahnya bernama Batur – Putat, yang sebetulnya asli kerajinan dari kayu itu berasal dari sini, tapi karena letaknya lebih di bawah maka Bobung lebih dikenal sebagai sentra kerajinan dari kayu, padahal pasokannya justru dari Batur – Putat itu. Di Batur – Putat selain penduduknya yang trampil dalam membikin kerajinan dari kayu, di sana juga banyak ragam kesenian yang sampai sekarang masih cukup aktif, semacam gejog lesung, jathilan, reog, tari topeng, dll. Di daerah itu juga terdapat sebuah pohon Beringin putih dan sungsang daunnya. Cerita lisan dari penduduk Batur adalah, bahwa dulu konon Brawijaya pernah singgah di daerah situ dan di bawah pohon beringin itu lahirlah seorang putra dari Brawijaya. Satu kilometer dari letak pohon beringin putih sungsang itu, melewati perkampungan penduduk kita akan sampai ke sebuah air terjun yang landai berundak-undak, kadang pada saat musim kemarau airnya tidak kering, air terjun itu dikenal dengan nama air terjun Banyunibo, dan kalau mata kita cermat, sejajar dengan ketinggian air terjun di badan perbukitan dan tertutup banyak tanaman, kita dapat melihat sebuah gua di atas, yang untuk menuju ke gua tersebut kita harus merayap badan bukit, gua itu hanya muat untuk satu orang saja.


Pada saat dalam perjalanan ke lokasi pamoksannya, sampailah Sang Prabu Batara I Kling [Brawijaya VIII] di Batur – Putat; di saat bersamaan Sunan Kalijaga mendengar bahwa Sang Batara I Kling berniat akan moksa dan segeralah Sunan Kalijaga menyusul hingga mereka bertemu di Batur – Putat. Sunan Kalijaga berusaha mencegah Sang Prabu Batara I Kling untuk moksa karena beranggapan bahwa setelah Sang Prabu Batara I Kling mengucapkan kalimat syahadat dan dalam syariat tidak dikenal yang namanya moksa itu, tapi Sang Prabu Batara I Kling bersikeras dan tidak ada yang dapat mencegah niatnya untuk moksa. Terjadilah dialog yang meningkat ke perdebatan yang cukup tinggi pada saat itu, itulah kenapa daerah itu kelak dikenal dengan nama Batur yang dimaknai dari ‘mbat-mbat-an tutur’.

Dari dialog, meningkat ke perdebatan, sampai akhirnya harus dilanjutkan dengan adu kesaktian. Sehingga akhirnya memaksa Sang Prabu Batara I Kling untuk mengeluarkan ajian saktinya yang bernama ‘ajian waringin sungsang’, sebetulnya ajian itu sangat mematikan tetapi karena Sang Prabu Batara I Kling tidak berniat membunuh Sunan Kalijaga, sehingga tidak sampai terjadi ada nyawa yang melayang pada pertempuran itu. Sunan Kalijaga akhirnya tunduk dan mengakui bahwa memang banyak yang harus dipelajari oleh dia tentang tanah Jawi dan jagad raya.


Sebetulnya yang disebut oleh penduduk tentang Brawijaya mempunyai anak di bawah pohon beringin putih sungsang, kejadian sebenarnya adalah pada saat itu dan pada titik itu telah lahir sosok manusia baru yaitu Sunan Kalijaga yang berusaha mencoba memahami akan keluhuran tanah Jawi.


Kemudian oleh Sang Prabu Batara I Kling dibawalah Sunan Kalijaga ke bawah air terjun Banyunibo untuk disucikan, dan kemudian secara halus memanggil Sabdopalon untuk memberikan ajaran dan wedarannya, Sang Prabu Batara I Kling kemudian melanjutkan perjalanannya menuju pantai Ngobaran.

Oleh Sabdopalon kemudian Sunan Kalijaga diajak bersemadi di gua di punggung bukit air terjun Banyunibo dan memberikan banyak piwulang tentang keluhuran tanah Jawi, serta ada dua syarat yang harus dilakukan oleh Sunan Kalijaga kelak, yaitu bahwa ajaran agama yang akan disebarkan harus melalui jalur ‘nguri-uri kabudayan’ [karena pada saat-saat itu terjadi penghancuran besar-besaran oleh Demak terhadap semua atribut Jawa, mulai dari buku-buku, perilaku, bangunan-bangunan, sampai ke kesenian-kesenian baik bentuknya maupun peralatannya]. Syarat kedua adalah bahwa kelak setelah selesai masa piwulang di Banyunibo, Sunan Kalijaga harus melakukan perjalanan untuk sowan dan menyapa seluruh penunggu/Danghyang di tanah Jawi agar setiap langkahnya mendapat dukungan dari para Danghyang, sehingga dengan cara itu maka ajaran agama dengan muatan nguri-uri kabudayan baru dapat diterima di tanah Jawi hingga tiba pada saatnya.

KALIJAGADari titik itulah, kemudian Sunan Kalijaga mengganti penampilannya, dari berpakaian serba putih-putih berganti dengan jubah hitam, sintingan [ikat kepala] hitam, dan kemana-mana membawa sebilah keris. Secara dalam dapat dicermati bahwa apa jadinya kalau tidak ada peristiwa di Batur itu, ada kemungkinan sekarang kita tidak akan dapat lagi menikmati tari-tarian klasik Jawa, dolanan bocah, nglaras gending-gending Jawa, menikmati pertunjukan wayang, dll.

Kelak setelah Sunan Kalijaga dengan nguri-uri kabudayan-nya mengunjungi lokasi malinggihnya para Danghyang se tanah Jawi, maka dibuatlah Kidung Danghyangan. Sunan Kalijaga adalah satu-satunya Sunan yang sudah dimaafkan oleh para leluhur bangsa kita.

SUJUD SUNGKEM

Bukan bermaksud ngurek-urek barang bosok, membuka luka lama & membangkitkan sentiment masa lalu. Namun tulisan ini semoga dapat menjadi sebuah pelajaran bagi generasi sekarang.

Nusantara sangat kaya akan kearifan budayanya yang berdasarkan welas asih mawas diri tepa slira, tak seharusnya kita menganggap rendah budaya & pencapaian kita, bahkan memberi stigma kafir.

Seperti pada tulisan saya terdahulu,

Dalam hidup ini memang banyak hal yang tak dapat dinamai, tak dapat dijelaskan, tak dapat diringkus oleh keterbatasan nalar.

Untuk itu diperlukan penandaan, metafora, penamaan, penjelasan, penyederhanaan. Lalu diciptakanalah teks2 yang kita baca sebagai Tuhan, Allah lan sapanunggalanipun.

Budaya Nusantara menjelaskan dalam sanepan agar tiada finalitas definisi, karena selalu ada penundaan makna dari setiap symbol yang hadir

Penundaan yang akan terus menyingkap diri dalam setiap proses perjalanan manusia, dalam setiap relasi manusia.

Maka mari kita teruskan perjalanan manusia ini dalam mencapai kepurnamaannya, dengan membangun dan membina relasi.

Relasi dengan sesama, dengan alam dan diri sendiri


Semoga kita tak terperangkap dalam Logo-sentrisme, memaknai simbol hanya dalam batas apa yg tampak secara visual dan level “kulit” lalu memberi stigma buruk kepada orang lain yang kita anggap tak sepemahaman dengan kita

Semoga kita dapat mengambil hikmah.


Panutuping atur,

Tidak semua pihak akan dengan mata hati dan mata batin secara terbuka dapat menerima sebuah kenyataan yang memang kadang-kadang pahit untuk diungkap, tidak hanya sekedar open-mind untuk memahami ini, dibutuhkan juga open-wide :-)

” luwih becik wong sing ngakoni mung ora nglakoni tinimbang wong sing nglakoni mung ora ngakoni, mung tetep paling becik wong sing iyo nglakoni, iyo ngakoni. “

SUMPAH BUDAYA
Selasa 27 Oktober 2009

garuda-pancasilaGlobalisasi di ranah ide, gagasan, ilmu pengetahuan yang diiringi dengan teknologi berkembang amat pesat. Lebih cepat dari kemampuan manusia untuk merenungkan apa hakikat semuanya untuk kemanfaatan hidup. Orang tidak lagi disibukkan dengan pertanyaan untuk apa kita memiliki ilmu, pengetahuan dan teknologi. Namun lebih menekankan pada fungsi-fungsi kemanfaatan/pragmatisnya semata. Semua pada akhirnya mengikuti arus globalisasi secara latah dan masa bodoh dengan hakikat progress/kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahwa hakikat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk penyempurnaan proses hidup manusia menuju kesatuan dan keserasian lahir batin, jiwa dan raga.

Budaya Populer adalah budaya yang berada di pusaran arus global. Sayangnya, perkembangan budaya global justeru mematikan budaya-budaya nasional dan budaya lokal yang ada. Budaya lokal secara substansial tidak mengalami kemajuan yang berarti kecuali hanya untuk sarana komoditas ekonomi dan turisme saja. Budaya yang merupakan hasil manusia untuk mengolah daya cipta, rasa dan karsa berdasarkan atas kehendak dan keinginan masing-masing individu dalam sebuah wilayah tidak mampu lagi dianggap sebagai sebuah kearifan.

Individu yang berada di ruang-ruang budaya pun menjadi tumpul oleh arus pragmatis budaya global yang mungkin dipandang lebih menarik, mudah, cepat dan efisien. Para pengambil kebijakan tidak lagi memiliki semangat yang menyala untuk nguri-uri kebudayaan lokalnya. Apalagi bila semua pihak tidak mendukung lahirnya kreativitas-kreativitas baru berkebudayaan dan berkesenian.

Ini adalah situasi di mana kita mengalami sebuah Degradasi Budaya bahkan kehancuran sistematis budaya lokal. Bhinneka Tunggal Ika sebagai semangat berbudaya dalam rangka kebersatuan berbagai budaya lokal untuk maju dalam frame bangsa dan negara pun hanya sebagai slogan yang kini semakin dilupakan.

Tumbuh berkembang serta kemajuan sebuah budaya ditentukan pada bagaimana kita semua merespon dan menjawab tantangan-tantangan budaya global. Respon dan jawabannya adalah agar kita kembali kreatif, inovatif dan menciptakan wilayah-wilayah perjuangan budaya yang mampu menjadi alternatif budaya global yang terbukti tidak memiliki “ruh” kemanusiaan yang utuh.

Justeru pada budaya lokal, kita menemukan kembali “ruh” kemanusiaan itu. Ruh yang akan menyinari individu agar bisa bergerak secara harmonis antara individu dengan individu yang lain, antara individu dengan alam semesta, bahkan antara individu dengan dirinya sendiri sehingga nantinya individu tersebut akan menemukan diri sejati yang merupakan wakil Tuhan di alam semesta.

Siapa yang harus memulai untuk melakukan penyadaran adanya degradasi budaya ini? Sebuah fakta sejarah terjadi pada 28 Oktober 1928 saat para pemuda mengikrarkan Sumpah Pemuda. Intisari dan hakikat dari Sumpah Pemuda adalah kesadaran bahwa semua elemen bangsa harusnya memiliki kehendak, keinginan, cita-cita yang sama untuk mewujudkan sebuah kesatuan wahana dan ruang kreativitas dan kebebasan ekspresi yang berbeda-beda.

Jembatan untuk memasuki wahana persatuan dan kesatuan tersebut adalah tanah air, bangsa dan bahasa. Setiap babakan sejarah, pemuda selalu menjadi motor penggerak perubahan zaman. Sejarah telah menegaskan tentang kepeloporan pemuda di era kolonial hingga era perjuangan kemerdekaan bahkan di era reformasi. Perjuangan pemuda selalu dihadapkan pada tantangan hambatan dan kesulitan, bahkan darah dan airmata menjadi taruhan.

Di era masa lalu, gerakan kepemudaan lebih berorientasi pada bidang politik. Kini tantangan kaum muda masa kini justeru lebih banyak berupa rongrongan budaya global yang sangat berpengaruh pada pola pikir dan gaya hidup mereka sehingga harusnya gerakan kepemudaan kini lebih diorientasikan pada bidang budaya local (local wisdom).

Pemuda harus memiliki semangat untuk bersatu, lepas dari penindasan dan penguasaan budaya global. Kita berharap agar bangsa Indonesia bisa menghidupkan kembali budaya-budaya lokal yang ada sehingga nanti terwujud bangsa yang maju berkembang tanpa kehilangan jati dirinya. Kita buka mata dan hati kita, lihatlah bangsa India, Cina, Jepang, Thailand, dan Korea telah membuktikan sendiri. Bangsa yang meninggalkan pola hidup taklid hanya ikut-ikutan, ela-elu. Kini telah tumbuh menjadi macan Asia, dihormati dan segani masyarakat dunia, bangkit meraih kejayaan dengan berlandaskan loyalitasnya terhadap nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) yang terdapat dalam tradisi dan budayanya. Bangsa yang tahu karakter diri sejatinya, sangat tahu tindakan apa yang harus dilakukannya. Sementara itu, bangsa kita lebih kaya akan ragam budaya dan kearifan local. Didukung sumber daya alam, kita akan mampu menjadi bangsa yang lebih jayaraya dari bangsa-bangsa tersebut.

Sumpah Pemuda merupakan momentum yang berhasil menyatukan pemuda se-Indonesia dalam satu ikatan kebangsaan, perasaan senasib, sepenanggungan yang diderita oleh pemuda khususnya, telah memberikan kesadaran kritis terhadap situasi yang dihadapinya yaitu adanya sebagai tantangan bersama telah membangkitkan kesadaran kolektif pemuda untuk melawan penindasan budaya global. Diperlukan gerakan massif untuk menghidupkan kembali budaya-budaya lokal (baca; kearifan lokal) di tanah air secara terus menerus sebagai bentuk nyata dari perjuangan kaum muda.

Perjuangan kaum muda di bidang budaya diharapkan akan membawa perubahan sosial yang mendalam bagi masyarakat, terutama di bidang pendidikan. Dari pendidikan ini muncullah pejuang-pejuang muda yang kaya akan ide dan konsep untuk melawan budaya global.

Untuk mewujudkan ide tersebut maka dengan ini kami menyerukan kapada SEMUA PEMUDA DI TANAH AIR untuk bersatu dalam gerakan SUMPAH BUDAYA 2009:

  1. MENGHIDUPKAN KEMBALI BUDAYA DAERAH SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN BUDAYA NUSANTARA
  2. MENJADIKAN BUDAYA DAERAH SEBAGAI DASAR PIJAKAN IDE-IDE KREATIF PEMBANGUNAN
  3. MENGEMBANGKAN KEARIFAN BUDAYA DAERAH SEBAGAI NILAI-NILAI PEMBANGUNAN NASIONAL
  4. MENGEMBANGKAN NILAI-NILAI MORAL, MENTAL DAN AJARAN HIDUP BERMASYARAKAT YANG ADA DI BUDAYA DAERAH DALAM RANGKA MENDUKUNG PERKEMBANGAN BUDAYA NUSANTARA.
  5. MENGURANGI PENGARUH NEGATIF BUDAYA GLOBAL DENGAN MENGEMBANGKAN BUDAYA NUSANTARA

MOTTO :

THINK LOCALLY ACT GLOBALLY !!

SUMPAH BUDAYA

BERBUDAYA SATU, BUDAYA NUSANTARA

BERJATI DIRI SATU, JATI DIRI BANGSA INDONESIA

KASIH SAYANG SATU, KASIH SAYANG LINTAS AGAMA

Indonesia, 28 Oktober 2009

Tertanda:

  1. KI WONGALUS
  2. KI ALANG ALANG KUMITIR
  3. KI SABDALANGIT
  4. KI AGUNG HUPUDHIO
  5. TOMYARJUNANTO

Sepanjang sejarah, manusia membutuhkan pemahaman & pemaknaan akan hidupnya, Baik lewat jalan spiritual maupun ilmu pengetahuan, bisa lewat agama, pemuasan hawa nafsu juga eksploitasi alam.

Hanya dalam memperoleh pemahaman & pemaknan itu manusia butuh penanda ‘logos’, dimana para winasis mengibaratkan jaring dalam menangkap ikan

Bila ikan sudah tertangkap seharusnya lupakan jaringnya jangan malah terpaku padanya

Inilah yang terjadi pada manusia saat ia memahami makna namun terperangkap dalam penanda atau logos

Alih-alih menemukan kesejatian diri ia malah terperangkap oleh penanda seperti Tuhan, Tanah Terjanji, Surga dll. Logos menjadi semacam komoditas yang diperdagangkan & diperebutkan.

Manusia tidak lagi mencari makna ia sudah puas dengan segala pemaknaan yang secara kutural didoktrinasi & diinternalisasi kepadanya.

Inilah sumber kekacauan atau chaos. Manusia tak mampu meneruskan evolusinya menuju manusia atas meminjam istilah Nietzche.

Sebenarnya dibalik segala penanda yang secara empiris kita cerap ada yang disebut arche, kalau orang Jawa menyebutnya Sangkan Paraning Dumadi nggih sumangga kersa, sebuah proses yang membawa kita pada suatu kepenuhan hidup.

Contohnya infrastruktur yang dibuat manusia untuk memnuhi kebutuhan hidup seperti bendungan atau waduk. Ratusan tahun sebelumnya para Winasis telah meramalkan bahwa sebagian Jawa akan kembali jadi laut. Nah bukankah kalau terjadi gempa besar di daratan Jawa bendungan seperti Wadas Lintang, Gajahmungkur dadal sungguh2 akan membuat Jawa menjadi laut.

Ada sebuah proses yang sedang berlangsung dalam setiap peristiwa yang terjadi

Ada makna dibalik segala penanda

Ada arche yang mengawali logos

Sangkan paraning dumadi

Yesus

Yesus

Sebuah cerita di keluargaku


Saat pertemuan keluarga besar yang diadakan di rumahku rajah Kalacakra yang kupasang diatas pintu lupa belum kuambil.

Banyak Saudaraku yang mengernyitkan dahi melihatnya seakan melihat suatu hal ganjil dan aneh.

Seorang pamanku beragama Kristen bertanya apa maksud dari gambar coret-coret yang ada di atas pintuku.

Sebelum sempat menjawab pamanku yang lain mengatakan ,”Oh Tomy itukan penganut Kejawen..”

Yang lalu disambut pamanku yang tadi bertanya, “Gambar-gambar seperti itu namanya Antikris”

Dengan senyum aku menjawab sekenanya saja “Boleh jadi Om, tapi Yesus sendiri yang mengajarkan makna gambar itu kepada saya”.

Ah andai mereka mau mendengarkan tidak segera memberi penilaian dan stigma…

Simbol apapun baik dalam bentuk kata, lukisan atau tulisan diperlukan manusia untuk menangkap makna, seperti pamanku yang Kristen ia menggunakan Salib yang digantung di dinding untuk menjelaskan hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesamanya sementara pakdheku yang Islam lebih afdol memakai syair2 indah yang disebut dengan Al Fatihah.

“Kok bisa Yesus yang mengajarkan seperti itu?” Tanya pamanku sewot

“lho Yesus khan mengajarkan untuk mengasihi musuh-musuh kita bahkan salah satu sabdaNya adalah bila pipi kirimu ditampar berikan pipi kananmu. Sekarang coba Om kita simak doa dalam Kalacakra :


YAMARAJA…JARAMAYA

- siapa yang menyerang berbalik menjadi berbelas kasihan

YAMARANI…NIRAMAYA

- siapa datang bermaksud buruk akan malah menjauhi

YASILAPA…PALASIYA

- siapa membuat lapar akan malah memberi makan

YAMIRODA…DAROMIYA

- siapa memaksa, malah menjadi memberi keleluasaan atau kebebasan

YAMIDOSA…SADOMIYA

-siapa membuat dosa malah membuat jasa

YADAYUDA…DAYUDAYA

-siapa memerangi malah menjadi damai

YASIYACA…CAYASIYA

-siapa membuat celaka malah menjadi membuat sehat, sejahtera

YASIHAMA…MAHASIYA

-siapa membuat rusak malah menjadi membangun dan sayang.

Nah, makna yang tersirat sama antara tanda Salib, Al Fatihah maupun Rajah Kalacakra.

Bila kita telah mampu mengupas buah dan memakan isinya yang berasa sama, mengapa kita harus meributkan pembungkusnya


Sementara itu didalam rumah ada terpampang lukisan Ibu Ratu Kidul yang segera disikapi oleh bibiku sebagai musyrik. Dengan tenang istriku menjawab,

”Bila Bunda Maria menampakkan diri di Meksiko memakai pakaian Indian, masak Yesus jalan-jalan di Tanah Jawa tidak boleh pakai blangkon” :mrgreen:

Bung Karno pernah berkata : “Kutitipkan Negara ini kepadamu, namanya titipan pasti suatu saat akan diminta kembali, namun betapa sangat menyedihkannya bila titipan amanah itu ternyata tak mampu kita kelola denagn baik malahan kita telah merusaknya. Lihat saja Timor Timur yang terlepas dari pelukan Ibu Pertiwi, korupsi yang telah menjadi bagian dari budaya, mental ‘tukang nggaduhke’ yang tidak mau repot mengelola kekayaan Negara ini tapi malah memberikannya pada pihak asing untuk mengelola, maraknya aksi terorime berkedok agama & makin jauhnya kita dari nilai-nilai Pancasila *siapa yang masih hapal Pancasila..anak-anak?*
Kita gagal dalam mengemban amanah, titipan ini yang harus kita jaga & kelola malah kita hancurkan.

wus angancik arga sad indriya,
Nandhang duhkita Risang Sungkawa,

Telah mencapai puncaknya kesedihan Ibu Pertiwi kini, maka dalam kesedihan yang teramat sangat Para Leluhur Indonesia terlebih Bung Karno mencoba membangkitkan kembali nilai2 patriotisme generasi muda
Kunarpaning Sri Aji Narpati,
Sumunar tatas ambabar turas,

Inilah wejangan dari kumara Bung Karno tentang nilai-nilai kemanusiaan & makna 17-8-1945 :

Angka 1 adalah Sang Hidup, dalam aksara arab disebut Alief
Alief ini tak bisa berdiri sendiri karena belum bisa membentuk kata, atau Hidup belum bisa menghidupi.
Untuk itu dibutuhkan sandangan atau pakaian, perlu di doma’, fatah atau kasro sehingga membentuk angka 7 bisa berbunyi A, I, U Aku Iki Urip, Aku Ini Hidup, sebuah kesadaran akan diri.
Pakaian Sang Hidup inilah yang membuatnya MengHidupi, Hidup Yang menghidupi yang disebut sebagai agama. Bukan agama sebagai kelembagaan keyakinan namun agama sebagai ageming aji, pakaian Sang Hidup, kang tuwuh saka ing kalbu, bertumbauh dari dasar kalbu, kang mahanani marang pranatan, kasusilan saha kabudayan, yang terimplementasi dalam peraturan, tata susila & kebudayaan yaitu BUDI PEKERTI LUHUR.
Alief yang telah menjadi bunyi atau angka 1 menjadi angka 7 inilah yang disebut sebagai TONGKAT KOMANDO atau TEKEN ALIEF MBABAR DUMADI.
Kesadaran yang membabar kesejatian diri, bahwa setiap manusia sesungguhnya sama & sederajat berasal dari Sang Hidup yang Tunggal ( 1 ) maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan & peri keadilan, dan proklamasi adalah pembabaran kesadaran hidup manusia Indonesia untuk berjuang bersama seluruh masyarakat & bangsa dunia memayu hayuning bawana dengan berdasar pada persamaan, persaudaraan, kemerdekaan, perdamaian abadi & keadilan social.

Angka 8 adalah Pedoman seorang pemimpin bangsa yang mampu bersikap seperti 8 unsur alam yang disebut Hasta Brata seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya disini.
Juga sebenarnya adalah Tuntunan Hidup bagi tiap manusia, semangat juang yang tinggi mencapai kesejatian manusia

“GUNTUR menggelegar suaramu
Diah Permata Sari MEGAWATT 2000 sinar matamu
SUKMAWATI sukmamu
RAHMAWATI rahmatmu
GURUH menggelegar di atas kepala berjalan di bawah kaki
BAYU kekuatanmu
TOPAN badai membelah gunung
Mencari Dewa Ruci RATNA KARTIKA SARIDEWI”

Sebuah doa dari Leluhur kita agar anak-anaknya, kita semua ini sungguh mencapai kepenuhan hidup sebagai bangsa yang merdeka bersatu berdaulat adil dan makmur

Angka 1945 adalah kultur hidup manusia.
1 adalah Hidup
9 secara de yure ada Wali Sanga secara de facto adalah 9 bulan dalam kandungan Ibu *tambah 1 Sang Hidup menjadi 10 hari*, 9 lubang nafsu (Babahan Hawa Sanga), juga adalah terdiri dari
4 unsur alam yaitu Bumi, Api, Angin dan Air yang dilengkapi dengan
5 mudarah yaitu Nur, Rahsa, Roh, Akal & Budi.
Dalam mistik Jawa disebut pula sebagai Sedulur Papat kalima Pancer. Kesemuanya membentuk kesadaran Aku Iki Urip seperti telah diterangkan tadi.

Begitu dalam makna dari tanggal 17-8-1945, semoga dapat menjadi bahan refleksi kita dalam peringatan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 64 tahun ini.
Tanggal proklamasi tidaklah diambil secara sembarangan namun penuh pesan moral dan nilai filosofi yang tinggi. Tinggal kita para pemuda generasi penerus ini yang berkewajiban memaknai & mengisinya.
17-8-1945 pernyataan kemerdekaan Negara kita, tugas kita mewujudkannya bukan sebagai sebuah pernyataan namun sungguh dinyatakan

Akhir kata mengutip kata-kata Eyang Tunjung Seta, Danghyang Gunung Lawu :

HAYWA SAMAR
DUR SUKERING KAMURKAN
MRIH DHU KAMARDIKAN
BAYA SIRA HARSA MARDIKA

Jangan takut melawan segala bentuk kejahatan
Baik dari luar terlebih dari dalam diri
Bila engkau sungguh-sungguh ingin merdeka

Mari revolusi mental budaya kita
Kita buat budaya tandingan, berTRIWIKRAMA BUDAYA
Habitus baru yang jauh dari korup
Bersama memayu hayuning bawana
Dalam semanagt persamaan & persaudaraan
Sebagai Utusan Sang Hidup yang Menghidupi

TEKEN ALIEF MBABAR DUMADI,
Salam komando, Nusantara Jaya
Dirgahayu Republik Indonesia

Hangidunga Piweling Kaki,

Sabdopalon Pamong Nusantara,

Ameca Kasengsarane,

Rakyat Nusa Sedarum,

Nampi Panodhining Hyang Widhi,

Kalambangnya Wong Nyabrang,

Prapteng Tengah Katempuh,

Santering Kali Kang Bena,

Yeku Ing Gapura Sapta Ngesthi Aji,

Keh Jalma Samya Lena.

Sastra ini harus dibabar

Maka kukidungkan kesedihan, tangisan lampau kisahkan derita menjelang

Kala manusia menyusut hanya menjadi bagian dari suatu nilai kegunaan

dan waktu dirampat ketam bagai binatang buruan

Ilusi diproduksi dalam hingar bingar iklan, jadikan mimpi lebih meyakinkan dibanding kenyataan

Tercampak laiknya budak…

Jalanmu didiktekan sesuai peta…

Sebrangi sungai…

Apa lacur, sesampai di tengah diterjang banjir bandang

Apa yang bisa kau jadikan pegangan?

Pemimpinmu lebih suka berebut remahan roti yang disebut kekuasaan

Sedang…

Pemegang peta tak lebih dari calo tiket yang sibuk perkaya diri berslogan ayat suci hingga membusa mulut

Tuntunan menjadi tontonan..!!!

Pupus harapanmu tiada lagi pegangan

..

..

..

Nandhang Mrata Sak Tanah Jawi,

Dadi Kersaning Kang Murbeng Alam,

Meruhna Pra Kawulane,

Lamun Jagad Puniku,

Mengku Pangeraning Ghoib,

Nraju Becik Myang Ala,

Kang Nandhur Angunduh,

Nandhang Wohira Priyangga,

Den Alamna Kinarya Amratandani,

Jagad Ana Kang Ngasta.

Sastra ini tetap harus dibabar

Maka yang terjadi biarlah terjadi sebagai tanda agung Ilahi

Keadilan adalah dendam, seruan akan sebuah harapan

Sebab dunia adalah ladang, tempat menabur benih dan menuai hasil

Maka siapa yang menabur dialah yang akan menuainya

Sungguh…

Yang dinanti telah datang, namun tak seperti yang kau kira

Dia datang membawa api

dan seperti yang dikehendakinya api itu telah berkobar menjalar kemana-mana

..

kobong.!

kobong.!!

KOBONG..!!!

..

..

..liyep liyep layaping ngaluyut

..

..

Cukup sudah yang perlu kusampaikan

Tunaikan wajib yang mesti diemban

Sastra ini harus dibabar

Go Kamane Allah,

Dzat kang Ilang Rusak Ragane Kabeh,

Labete Tan Kena Keri,

Dzat kang Tanpa Kumpulan Kahanane Ora Ana,

Ya Ingsun Sejatine Ora Ana Apa-Apa.

- Panembahan Senapati -

‘Aku’ dan ‘Ada’ tak hanya dikukuhkan oleh Descartes. Dibelahan lain dunia pada abad yang sama, pendiri dinasti Mataram Islam mengukuhkannya dalam bait-bait syair IBU JENDRA.

Substansi yang sejati adalah keseluruhan Dzat yang membentuk semesta, demikian dituturkan. Semesta yang terus berevolusi menuju kesempurnaan. Dan wahana dari kesempurnaan semesta mewujud dalam diri manusia, pan ingsun dzat Allah kang jumeneng pusering jagad angingkut sakehing arupa warna, karut dening aku kabeh.

Tanpa adanya Dzat yang berkumpul tidak akan pernah terbentuk suatu ‘kesadaran’, hanyalah awang-uwung, kosong belaka.

Manusialah, subyek, pusat pemaknaan, yang mempunyai kemampuan wruh ing anane dhewe, yang mampu berkata : Aku…Ada.

Jadi ‘ada’ adalah subyektif, kesadaran yang melahirkan angan-angan dan pemikiran, yang memunculkan kata-kata dan bahasa sebagai penanda.

Namun bahasa tak pernah mampu secara utuh menggambarkan konsep yang diekspresikannya.

Urip tan kena kinaya ngapa, (lagi…)

Dalam tulisan saya sebelumnya, diungkap bahwa kemiskinan dan penindasan yang makin parah serta tiadanya harapan untuk mencapai kesejahteraan membuat masyarakat mudah dihinggapi mimpi, ilusi sosial tentang kedatangan Ratu Adil.
Namun benarkah Keadilan *Ratu Adil* hanya sekedar dambaan ilusif ?

MITURUT PEMANGGIH KULA

Banyak orang berpandangan bahwa Ratu Adil adalah satu sosok pribadi, bahkan beberapa spiritualis mengklaim telah bertemu wujud asli dari Ratu Adil beserta pamongnya Sabdo Palon dan Nayagenggong.
Tentang hal ini saya tidak hendak menyanggah, meragukan atau menyetujuinya, namun saya mencoba untuk tidak terjebak *halah* dalam pengkultusan individu. Yang mengagung-agungkan sosok pribadi sebagai jalma linuwih, punjul-punjuling apapak, jalma limpat seprapat tamat. Kultus individu semacam ini tidak sesuai malah cenderung untuk mencederai Keadilan :D

Prinsip Keadilan adalah persamaan derajat diantara semua manusia, sama-sama tinitah di jagad raya sebagai Rasul, utusan Allah sebagai Rahmatin lil Alamin. *kalau kamu tidak merasa sebagai Rasul utusan Allah, lalu kamu itu utusan siapa?*
Manusia yang membawa unsur-unsur yang sama; bumi, api, angin, air, nur, rahsa, roh, akal, budi. Menghirup udara yang sama, sama-sama membawa serta segala kebaikan dan kejahatan dalam diri. Yang membedakan cuma keputusan manusia dalam memilih.
Otentisitas dan kualitas manusia terletak pada ‘pembuatan keputusan’, hendak menjadi baik atau tidak baik, hendak menjadi adil atau tidak adil, hendak menjadi utusan Allah atau utusan iblis :mrgreen:
Nah, kalau begitu mengapa tidak kita putuskan untuk menjadikan diri kita sebagai agen-agen keadilan, sebagai pamomong Sang Adil : menjadi Sabdopalon & Nayagenggong.
Sabdopalon dan Nayagenggong dalam bahasa Jawa termasuk ‘sengkalan memet’; kata yang mengandung makna konotasi.
Sabdo = ucapan yang terimplementasi dalam tindakan,
Palon = tiang pancang untuk mengikat kerbau, dalam hal ini diartikan sebagai patokan.
Naya = kata ganti nama orang seperti Si Naya, Si Suta, Si Waru dan Si Dadap,
Genggong = gede atau besar *jangkrik genggong = jangkrik yang besar*
Jadi arti dari Sabdopalon Nayagenggong : Orang Besar adalah orang yang ucapan & tindakannya bisa dijadikan patokan, bisa dijadikan teladan. :D
Sesuatu yang jarang ditemui di era dimana citra dianggap lebih meyakinkan daripada fakta :cry: sehingga capres cawapres serta para caleg berlomba-lomba mencitrakan diri lewat media informasi tanpa pernah kita tahu bagaimana kontribusi yang sesungguhnya bagi negara & bangsa.

KONSEP KARAJAAN ALLAH

Harus diakui memang, untuk sungguh-sungguh adil itu sulit dan kadang kita tidak tahu adil itu yang bagaimana. Untuk itu saya coba urai konsep Keadilan merujuk Sabda Bahagia *juga Sabda Celaka yang sejajar* :mrgreen: tentang Kerajaan Allah.

Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.
…..
Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalamkekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburan
–. Lukas 6:20,24 .—

Ucapan Yesus tersebut tak hendak merestui kenyataan lahiriah orang yang tak beruang juga tak mengutuk kenyataan lahiriah si orang tajir.
Secara satir, kemiskinan dipuji sebagai suatu berkat *biasanya oleh mereka yang enggan untuk ambil bagian dalam berkat itu* :cool: kemiskinan dianggap sebagai situasi yang membahagiakan karena kemiskinan membuat orang lebih terbuka bagi Kerajaan Allah.
Katanya sih, kemiskinan membuat orang patuh secara spiritual, membuat orang menyadari ketak-berdayaannya dan sepenuh hati menyerahkan diri kepada Allah.
Ini mungkin benar berkenan dengan ‘kemiskinan rohani’, sikap yang tak terikat kepada benda-benda material. Namun pada kenyataannya kemisikinan menjadi sumber dari kejahatan. Kemiskinan sebagai penindasan, yang akhirnya merendahkan martabat manusia, sama sekali bukanlah nilai religius. :cool:
Orang miskin ‘bahagia’, bukan karena kemiskinan mereka itu sesuatu yang baik, bukan karena orang miskin memiliki sifat-sifat istimewa, melainkan tepatnya, karena kemiskinan adalah hal yang jahat yang harus diakhiri dengan kedatangan Kerajaan Allah.
Orang miskin ‘bahagia’, karena Kerajaan Allah berpihak kepada mereka *Tak berarti Kerajaan Allah datang untuk melawan yang tidak miskin.*
Kerajaan Allah ditujukan pada semua orang. Namun pertama-tama dan terutama ditujukan pada titik dimana kemanusiaan paling terancam, yaitu : Kemiskinan!
Di sisi lain kekayaan dianggap celaka bila bila barang-barang material yang menjadi ukuran keberhasilan. Tirani, penindasan serta ketidakadilan sosial adalah buah-buahnya yang berakhir pada kehancuran masyarakat. Ini sungguh tak sesuai dengan cita-cita Kerajaan Allah. :cry:
Sejak awal, Alam *atau Allah biar lebih religius halah* :mrgreen: telah memberi hak yang sama atas semua barang yang manusia butuhkan guna melangsungkan hidupnya. Tak seorangpun boleh berbangga karena keberuntungan secara alamiah :D namun hasart, keinginan yang tak pernah puas untuk menambah kepemilikan mengakibatkan penindasan dan kemiskinan. Keinginan itulah yang melahirkan kata-kata ’kepunyaanku’ dan ’kepunyaanmu’.
Baik ’penindas’ maupun ’yang tertindas’ semua membutuhkan pembebasan. Kerajaan Allah memang berada di pihak kaum miskin, tapi tidak membatasi diri pada orang-orang miskin saja. Kerajaan Allah adalah pembebas kedua-duanya.
Kerajaan Allah adalah suatu proses pengembalian kepada Wahyu Ilahi, seperti yang sudah saya tulis di postingan sebelumnya : wahyu yang diturunkan kepada Bapa-Bapa Bangsa; Wahyu yang membawa pengetahuan akan jati diri manusia, bahwa sesungguhnya semua manusia itu sederajat, baik diantara mereka sendiri maupun dihadapan Allah. Sebuah kenyataan religius maupun sosio ekonomis dan politis; menyangkut segala aspek kehidupan manusia.
Dengan pandangan seperti ini maka kemakmuran hidup adalah kemakmuran seluruh umat secara keseluruhan, untuk dinikmati bersama oleh semua umat. Kekayaan tidak merupakan milik pribadi dan milik pribadi tidak pernah menjadi suatu hak khusus yang diperoleh dengan membebani orang lain , tidak pernah dipakai untuk menindas orang lain.
Kemiskinan tidak seharusnya dipandang sebagai suatu kenyataan hidup yang diterima begitu saja, sebagai sesuatu yang tak dapat dihindari. Sebaliknya, kemiskinan harus dianggap sebagai suatu skandal yang bertentangaan dengan cita-cita Allah tentang masyarakat manusia, dan karenanya harus diatasi dengan segala macam cara!!
Keadilan menuntut suatu kemauan konkret untuk membagi apa yang dimiliki. Ukuran yang benar dalam pembagian bukanlah ‘kelebihan’ dari orang ‘ber-punya’ melainkan ‘kebutuhan’ dari orang ‘tak-punya’. Inilah kalau boleh saya katakan :D sebagai SOSIALISME KERAJAAN ALLAH.

KESIMPULAN

Keadilan butuh tindakan nyata secara kolektif, tidak sekedar berhenti pada pengaharapan saja. Keadilan harus diperjuangkan bukan hanya menjadi dambaan ilusif tentang sosok hero yang dikultuskan.
Perjuangan bersama untuk menjadikan diri kita masing-masing sebagai agen keadilan; kita harus dihadapkan pada keberanian memilih, membuat keputusan dalam hidup & mengambil tanggung jawab penuh atas hasil keputusan itu. Bila salah harus berani mengakui dan menerima resikonya sehingga hidup kita sungguh dapat dijadikan patokan, teladan karena satunya kata dan perbuatan.
Bila keadilan telah menjadi gerakan bersama, niscaya ’Sang Adil’ akan sungguh-sungguh datang, manuksma dalam diri panjengengan sedaya :D
Dan andaikan Ratu Adil sungguh datang sebagai sosok pemimpin paripurna sebagai sosok manusia purnama, maharaja Kerajan Allah dengan segala kebesaran dan kemuliaannya, mengadili orang hidup dan mati. Kita sudah tidak takut lagi untuk DIADILI..!!!

Keadilan adalah sesuatu yang ada justru karena tak hadir. Ia ibarat akanan. Kita melihatnya ketika kita berdiri di tepi laut dan memandang nun jauh disana, tanpa tahu bagaimana wujudnya. Ia kosong selaik kolong – kosong yang dapat diberi nama dan ditunjuk. Ia absensi yang mengimbau, tandanya luka pedih yang terjadi ketika ketidak-adilan menguasai ruang.
Mungkin itulah sebabnya riwayat pergolakan sosial di Indonesia adalah riwayat orang-orang tertindas yang menantikan yang tak ada : Ratu Adil. Semakin absen keadilan, semakin yakin orang-orang ia akan muncul secara dramatis di hari akhir.
–. Gunawan Mohamad .—

(lagi…)

Halaman Berikutnya »