Pamuji rahayu,
Sudah banyak tulisan yang mencoba mengulas makna dibalik tembang dolanan Sluku-sluku Bathok. Ada yang mengaitkannya dengan ajaran agama, pula yang melihatnya dari sudut pandang penekunan spiritual.
Bukan maksud saya ikut-ikutan latah mengulas makna tembang dolanan tersebut, namun kiranya pemaknaan dari sudut pandang lain juga kita perlukan sebagai alternative atau boleh hanya sekedar untuk menambah wawasan.
Saya mencoba memaknainya dari sudut pandang kenakalan saya yang dengan semena-mena saya sebut sendiri sebagai sudut pandang sangkan paran atau Jawa Kawitan.
Bagi yang belum tahu, berikut syair Sluku-sluku Bathok selengkapnya :
Sluku-sluku bathok
Bathoke ela-elo
Si Rama menyang Sala/Kutha
Oleh-olehe payung motha
Mak jenthit lolo lobah
Wong mati ora obah
Nek obah medeni bocah
Nek urip goleka dhuwit.
Sangkan, atau awal mula manusia menurut kitab-kitab agama dikisahkan berasal dari lempung yang disebul ‘mak bul’ langsung menjadi hidup…
mungkin dari kisah ini bisa menjelaskan kenapa umat manusia lebih banyak berjenis kelamin perempuan.
Lha kalo bikin laki-laki dari tanah lempung khan harus digelintiri dulu biar membentuk bulatan panjang atau ‘bunder dawa’, tentu ini membutuhkan waktu lebih lama daripada membuat kelamin perempuan, tinggal ditutul ‘mak tul’ ditarik dikit membuat belahan atau sigaran, jadi deh. ![]()
Maka ketika manusia menikah ‘si sigar’ ini bertemu dengan ‘si dawa’ lalu disebut ‘garwa’.
Namun itu hanya kisah dongeng, hipotesa kejadian manusia, yang menurut Eyang Darwin malahan manusia berasal dari spesies kera.
Entah berasal dari lempung atau munyuk, yang tak bisa dipungkiri adalah adanya manusia berasal dari bertemunya sel telur Ibu dan sperma Bapak.
Pertemuan dari sel telur dan sperma ini karena Bapak bermain sluku-sluku bathok duduk di bawah dengan meluruskan kedua belah kaki ke depan sedang kedua belah tangan memegang lutut, sebagai pasemon kehendak merenggangkan kaki Ibu karena keinginan menikmati bathoknya Ibu yang ela-elo.
Bathoke ela-elo adalah perlambang Bumi Suci Ibu, tempat persemaian benih kehidupan, yang juga disebut Nagari atau dalam syair disebut Kutha Sala.
Si Rama menyang Sala/Kutha mengandung maksud Bapak menyemai benih didalam bumi suci Ibu.
Oleh-olehe payung motha, payung motha adalah payung yang berwarna putih sabagai sanepan dari sperma, Kama Sang Bapak, Kama Dadi Kamaning Allah. Sang Pancaran Kehidupan.
Sehingga lahirlah kehidupan yang ditandai dengan rasa ‘Mak Jenthit’ ….rasa sebagai utusan Hidup, rasa yang membuktikan sekaligus sebagai saksi bahwa kita ini sejatinya Hidup.
Rasa akan Hidup membawa kesadaran yang menumbuhkan kehendak serta gerak. Lolo lobah, kesadaran akan Hidup yang menggerakkan seluruh aktivitas kita.
Hendaknya seluruh aktivitas gerak kehidupan kita diterangi oleh kesadaran ini. Kesadaran akan hidup yang menghidupi.
Wong mati ora obah, Tanpa kesadaran akan hidup yang menghidupi kita selayaknya mayat hidup, meski selalu bergerak berjalan-jalan kesana kemari tapi tak memiliki rasa, urip kapiran, tuna kepedulian sehingga medeni bocah menakutkan para bocah.
Nek urip goleka dhuwit, maka orang yang Hidup dan sadar akan Hidupnya selayaknya juga Menghidupi. Menghidupi dirinya sendiri dengan bekerja memenuhi kebutuhan sehari-hari juga menghidupi hidup sesamanya, sagung titah dumadi.
Demikian sekedar urun kenakalan saya, semoga bisa sedikit membawa pencerahan.
Jenang sela wader kalen sesonderan.
Apuranta yen wonten lepat kawula.
Hayu… Hayu… Rahayu Sagung Dumadi.




akhnayzz
Juni 4, 2011 at 7:38 am
maaf, pertamax gan..
baru tahu maknanya..
mengingatkanku saat usia kecil dulu,,
selamat berkarya>>>>
ngabehi
Juni 11, 2011 at 7:31 am
kula nuwun, ternyata masih rajin ngeblog to Denmas?Lha kok yo tenyata ga adoh saka selangkangan lagi ya, ha ha. Sungguh sarat makna.Selamat berkarya terus mas…Sukses selalu.
Yang-Kung
Agustus 6, 2011 at 4:29 pm
Matur nuwun Bapa pencerahanipun ,lugas mantab dan jelas.
Mugi Gusti tansah paring berkah .
salam karahayon.
Glagah Nuswantara
Agustus 18, 2011 at 10:27 pm
Ass.wr.wb., rahayu.. Bathok, juga perlambang “tanda baca sukun/saknah” pada huruf Al Qur’an. Artinya sakinah atau ketenangan jiwa, manusia yang telah “tahu makna bathok” tidak lekang oleh gegap-gemerlap dunia dan isinya, sadar pula sangkan-paraning-dumadi. Sugeng makaryo nguri-uri budhaya leluhur. Salam.