Oktober 2009


Tumeka ing janji wajib dilakoni kudu ditindaki,

Aja samar aja cidra punapa semaya,

Kabeh wus tekan titi mangsane,

Putra wayah amusthi aji luhuring budi,

Duhkitaningtyas sumengka kawekas,

Penggalih datan kena ajrih,

Keteging angga mangayu hayuning bawana,

Dilah latu lathi micara,

Mentering aruna netra amyarsa,

Durga sirep,

kala lerep,


PUSAKASejalan dengan SUMPAH BUDAYA yang telah dideklarasikan bersama dan mundhi dawuh untuk menyingkap rekaman sejarah meski menyakitkan, dalam tulisan kali ini perkenankan saya mendongeng sebuah cerita yang tak tertulis hanya dari TUTUR TINULAR dan pengalaman ghaib yang tiada saksi.


Alkisah Sandyakalaning Majapahit, seperti dikisahkan di Kitab Darmagandul.

Para Sunan yang tergabung dalam Wali Sanga, membuat konspirasi untuk Adipati Bintara melakukan kudeta kepada ayahanda-nya dengan alasan membebaskan semua orang dari ke-kafir-an :-) .

Pada saat pertemuan untuk merencanakan kudeta tersebut hanya seorang anggota dari dewan wali yang tidak setuju, yaitu Syekh Siti Jenar, maka kemudian Syekh Siti Jenar di eksekusi oleh Sunan Giri. Syekh Siti Jenar adalah satu-satunya wali yang memberikan ajaran Makrifat yang intinya mirip dengan Manunggaling Kawulo Gusti dari ajaran Jawa sehingga banyak masyarakat dan petinggi Majapahit berkawan akrab dengan Syekh Siti Jenar karena merasa ada kecocokan dalam sudut pandang tanpa harus terpaksa ikut ritual ajaran Makrifat itu sendiri, hal itu tidak disenangi oleh para wali yang lain yang lebih membawa ajaran agama rasul waktu itu ke Syariat. Pada saat leher dari Syekh Siti Jenar dipenggal oleh Sunan Giri terjadilah keajaiban di mana darah yang muncrat dari leher Syekh Siti Jenar membentuk tulisan asma Allah pada lantai, serta berbau wangi tidak anyir.


Singkat cerita, terjadilah kunjungan besar-besaran Pangeran Bintara disertai dengan para wali dan adipati-adipati pesisir yang sudah memeluk agama rasul dengan seluruh bala tentaranya, rencana itu sebetulnya sudah tercium oleh pasukan Majapahit yang menjaga kraton, tapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa karena Pangeran Bintara merupakan salah satu putra dari Sang Prabu Brawijaya VIII sendiri dan kunjungan besar-besaran itu awalnya disampaikan hanya merupakan kunjungan rombongan anak yang akan sowan kepada sang ayah. Pada saat itu kebetulan Sang Prabu Braiwjaya VIII sedang tidak ada di kraton karena sedang menuju Bali dengan diiringkan dua abdi-nya yaitu Sabdapalon dan Nayagenggong.

Kunjungan yang awalnya ditiupkan dalam keadaan damai berubah menjadi kudeta yang sangat berdarah, semua kitab-kitab di kraton dibakar, kraton dirusak habis-habisan dan terjadi pembunuhan massal kepada warga Majapahit di ibukota negara waktu itu yang tidak mau memeluk agama rasul. Kemenangan pasukan Bintara dan para wali itu harus dibayar dengan darah dari banyak warga ibukota Majapahit pada jaman itu


Setelah mereka berhasil memuaskan keinginan untuk merebut Kraton Majapahit *yang direbut waktu itu baru Kratonnya belum menundukkan Majapahitnya sendiri*, rombongan besar Adipati Bintara bersama dengan para wali kemudian sowan kepada kasepuhan mereka yaitu Sunan Ampel di Ampeldenta [Sunan Ampel sendiri merupakan kakek dari Jin Bun dan ayahanda dari Putri Cempa], pada saat itu Sunan Ampel sudah wafat sehingga mereka diterima oleh Nyai Ampel. Alangkah kagetnya Nyai Ampel pada saat mereka semua menghaturkan berita tentang berdirinya Kerajaan Islam pertama dengan jalan seperti itu. Nyai Ampel sangat marah besar dan tidak membenarkan perbuatan itu, apalagi cara yang dilakukan oleh Pangeran Bintara sangatlah tidak ksatria, menikam dari belakang, kepada orangtuanya sendiri lagi, karena bukan seperti itulah sejati-nya Islam yang benar. Sampai Nyai Ampel mengutuk cucunya sendiri yaitu Pangeran Bintara dengan sebutan ‘anak durhaka’
.

Saat itu Pangeran Bintara sangat terpukul dan menyesal sehingga mengutus Sunan Kalijaga untuk menyusul Sang Prabu Brawijaya VIII yang sedang dalam sebuah perjalanan ke daerah Bali. Sunan Bonang berusaha menenangkan hati Pangeran Bintara bahwa apa yang dilakukan adalah sudah sewajarnya dan tidak usah menurutkan apa yang diucapkan oleh seorang wanita.


Sementara itu Sang Prabu Brawijaya VIII yang sedang dalam perjalanan dengan diiringkan Sabdopalon dan Nayagenggong melintas di daerah Blambangan [letak tepatnya kalo sekarang itu di daerah Porong] yang kemudian disusul oleh Sunan Kalijaga yang kemudian menyampaikan permohonan maaf dari Pangeran Bintara dan mempersilahkan Sang Prabu untuk kembali ke ibukota Majapahit. Berbagai kemarahan dan kutukan diujarkan oleh Sang Prabu demi mengetahui apa yang sudah dilakukan oleh salah seorang putranya itu, dan mempertanyakan sebab kenapa hanya demi sebuah ajaran mereka tega untuk berbuat yang sangat tidak patut itu. Terjadilah dialog yang sangat tinggi pada saat itu, yang disela dalam permintaan maafnya itu Sunan Kalijaga berusaha untuk menerangkan arti ajaran dari agama Rasul, pada saat dialog sampai ke kalimat syahadat secara tidak langsung dan tidak sengaja dalam pembahasan itu Sang Prabu Brawijaya VIII juga mengulang kata itu, yang kemudian disudutkan oleh Sunan Kalijaga bahwa sebagai seorang raja besar, kata yang secara tidak sengaja mengulang kalimat syahadat itu berarti sebuah kata sabda. Sang Prabu Brawijaya VIII terhenyak dan sebagai seorang raja besar tidak mungkin menarik sabda-nya itu.


Dan pada saat Sang Prabu Brawijaya VIII ikutan mengajak Sabdopalon dan Nayagenggong untuk ikutan beliau, maka terjadilah perang kawruh tingkat tinggi antara mereka. Dan pada saat itu juga Sabdopalon menyatakan diri untuk tidak menjadi momongan bagi Sang Prabu Brawijaya VIII alias oncat sebagai pamomong seorang ratu. Sebelum kemudian sirna, Sabdopalon menurunkan sabda-nya yang intinya menyatakan bahwa kelak 500 tahun lagi akan balik masa di mana tanah Jawa akan menagih janji, tiba datangnya agama budi/kawruh

Dan itu terjadi pada saat sekarang ini ketika Para Muda bangkit kesadarannya untuk merevolusi kultur, bertiwikrama budaya, masa akan datangnya jaman keemasan Majapahit, masa 500 tahun ini diakhiri dengan Kala Bendu untuk menyongsong datangnya jaman Kala Suba.


Setelah Sabdopalon moksa di puncak Gunung Mahendra [sekarang Gunung Lawu] dengan disaksikan oleh Sang Prabu Brawijaya VIII. Kemudian Sang Prabu Brawijaya VIII juga berkeinginan untuk kembali ke alam kelanggengan/moksa dan memilih Ngobaran [pantai Ngobaran di daerah Gunung Kidul untuk sanggar pamoksannya]. Sebelum berangkat menuju ke Ngobaran, Sang Prabu Brawijaya VIII mengeluarkan ‘Sabda’ kepada seluruh Kerajaan Majapahit dan wilayah-wilayah tundukannya [Nuswantara] untuk tidak melakukan perlawanan kepada ‘Demak’ karena memang sudah begitu nasib jagad sesuai dengan garis alam, dan memperbolehkan semua Raja/Adipati di semua wilayah Majapahit untuk menentukan nasibnya sendiri-sendiri.


Pada perjalanan Sang Prabu Brawijaya VIII dari puncak gunung Lawu menuju pantai Ngobaran, sampailah beliau di daerah Batur, Putat, Bobung, Gunung Kidul. Di sinilah sebetulnya inti dari awal muasalnya
terciptanya kidung Danghyangan.

Di daerah Gunung Kidul sebelum masuk kota Wonosari ada daerah yang bernama Bobung yang terkenal dengan kerajinan dari kayu [patung kayu, topeng kayu, dll.] dan naik ke atas lagi daerahnya bernama Batur – Putat, yang sebetulnya asli kerajinan dari kayu itu berasal dari sini, tapi karena letaknya lebih di bawah maka Bobung lebih dikenal sebagai sentra kerajinan dari kayu, padahal pasokannya justru dari Batur – Putat itu. Di Batur – Putat selain penduduknya yang trampil dalam membikin kerajinan dari kayu, di sana juga banyak ragam kesenian yang sampai sekarang masih cukup aktif, semacam gejog lesung, jathilan, reog, tari topeng, dll. Di daerah itu juga terdapat sebuah pohon Beringin putih dan sungsang daunnya. Cerita lisan dari penduduk Batur adalah, bahwa dulu konon Brawijaya pernah singgah di daerah situ dan di bawah pohon beringin itu lahirlah seorang putra dari Brawijaya. Satu kilometer dari letak pohon beringin putih sungsang itu, melewati perkampungan penduduk kita akan sampai ke sebuah air terjun yang landai berundak-undak, kadang pada saat musim kemarau airnya tidak kering, air terjun itu dikenal dengan nama air terjun Banyunibo, dan kalau mata kita cermat, sejajar dengan ketinggian air terjun di badan perbukitan dan tertutup banyak tanaman, kita dapat melihat sebuah gua di atas, yang untuk menuju ke gua tersebut kita harus merayap badan bukit, gua itu hanya muat untuk satu orang saja.


Pada saat dalam perjalanan ke lokasi pamoksannya, sampailah Sang Prabu Batara I Kling [Brawijaya VIII] di Batur – Putat; di saat bersamaan Sunan Kalijaga mendengar bahwa Sang Batara I Kling berniat akan moksa dan segeralah Sunan Kalijaga menyusul hingga mereka bertemu di Batur – Putat. Sunan Kalijaga berusaha mencegah Sang Prabu Batara I Kling untuk moksa karena beranggapan bahwa setelah Sang Prabu Batara I Kling mengucapkan kalimat syahadat dan dalam syariat tidak dikenal yang namanya moksa itu, tapi Sang Prabu Batara I Kling bersikeras dan tidak ada yang dapat mencegah niatnya untuk moksa. Terjadilah dialog yang meningkat ke perdebatan yang cukup tinggi pada saat itu, itulah kenapa daerah itu kelak dikenal dengan nama Batur yang dimaknai dari ‘mbat-mbat-an tutur’.

Dari dialog, meningkat ke perdebatan, sampai akhirnya harus dilanjutkan dengan adu kesaktian. Sehingga akhirnya memaksa Sang Prabu Batara I Kling untuk mengeluarkan ajian saktinya yang bernama ‘ajian waringin sungsang’, sebetulnya ajian itu sangat mematikan tetapi karena Sang Prabu Batara I Kling tidak berniat membunuh Sunan Kalijaga, sehingga tidak sampai terjadi ada nyawa yang melayang pada pertempuran itu. Sunan Kalijaga akhirnya tunduk dan mengakui bahwa memang banyak yang harus dipelajari oleh dia tentang tanah Jawi dan jagad raya.


Sebetulnya yang disebut oleh penduduk tentang Brawijaya mempunyai anak di bawah pohon beringin putih sungsang, kejadian sebenarnya adalah pada saat itu dan pada titik itu telah lahir sosok manusia baru yaitu Sunan Kalijaga yang berusaha mencoba memahami akan keluhuran tanah Jawi.


Kemudian oleh Sang Prabu Batara I Kling dibawalah Sunan Kalijaga ke bawah air terjun Banyunibo untuk disucikan, dan kemudian secara halus memanggil Sabdopalon untuk memberikan ajaran dan wedarannya, Sang Prabu Batara I Kling kemudian melanjutkan perjalanannya menuju pantai Ngobaran.

Oleh Sabdopalon kemudian Sunan Kalijaga diajak bersemadi di gua di punggung bukit air terjun Banyunibo dan memberikan banyak piwulang tentang keluhuran tanah Jawi, serta ada dua syarat yang harus dilakukan oleh Sunan Kalijaga kelak, yaitu bahwa ajaran agama yang akan disebarkan harus melalui jalur ‘nguri-uri kabudayan’ [karena pada saat-saat itu terjadi penghancuran besar-besaran oleh Demak terhadap semua atribut Jawa, mulai dari buku-buku, perilaku, bangunan-bangunan, sampai ke kesenian-kesenian baik bentuknya maupun peralatannya]. Syarat kedua adalah bahwa kelak setelah selesai masa piwulang di Banyunibo, Sunan Kalijaga harus melakukan perjalanan untuk sowan dan menyapa seluruh penunggu/Danghyang di tanah Jawi agar setiap langkahnya mendapat dukungan dari para Danghyang, sehingga dengan cara itu maka ajaran agama dengan muatan nguri-uri kabudayan baru dapat diterima di tanah Jawi hingga tiba pada saatnya.

KALIJAGADari titik itulah, kemudian Sunan Kalijaga mengganti penampilannya, dari berpakaian serba putih-putih berganti dengan jubah hitam, sintingan [ikat kepala] hitam, dan kemana-mana membawa sebilah keris. Secara dalam dapat dicermati bahwa apa jadinya kalau tidak ada peristiwa di Batur itu, ada kemungkinan sekarang kita tidak akan dapat lagi menikmati tari-tarian klasik Jawa, dolanan bocah, nglaras gending-gending Jawa, menikmati pertunjukan wayang, dll.

Kelak setelah Sunan Kalijaga dengan nguri-uri kabudayan-nya mengunjungi lokasi malinggihnya para Danghyang se tanah Jawi, maka dibuatlah Kidung Danghyangan. Sunan Kalijaga adalah satu-satunya Sunan yang sudah dimaafkan oleh para leluhur bangsa kita.

SUJUD SUNGKEM

Bukan bermaksud ngurek-urek barang bosok, membuka luka lama & membangkitkan sentiment masa lalu. Namun tulisan ini semoga dapat menjadi sebuah pelajaran bagi generasi sekarang.

Nusantara sangat kaya akan kearifan budayanya yang berdasarkan welas asih mawas diri tepa slira, tak seharusnya kita menganggap rendah budaya & pencapaian kita, bahkan memberi stigma kafir.

Seperti pada tulisan saya terdahulu,

Dalam hidup ini memang banyak hal yang tak dapat dinamai, tak dapat dijelaskan, tak dapat diringkus oleh keterbatasan nalar.

Untuk itu diperlukan penandaan, metafora, penamaan, penjelasan, penyederhanaan. Lalu diciptakanalah teks2 yang kita baca sebagai Tuhan, Allah lan sapanunggalanipun.

Budaya Nusantara menjelaskan dalam sanepan agar tiada finalitas definisi, karena selalu ada penundaan makna dari setiap symbol yang hadir

Penundaan yang akan terus menyingkap diri dalam setiap proses perjalanan manusia, dalam setiap relasi manusia.

Maka mari kita teruskan perjalanan manusia ini dalam mencapai kepurnamaannya, dengan membangun dan membina relasi.

Relasi dengan sesama, dengan alam dan diri sendiri


Semoga kita tak terperangkap dalam Logo-sentrisme, memaknai simbol hanya dalam batas apa yg tampak secara visual dan level “kulit” lalu memberi stigma buruk kepada orang lain yang kita anggap tak sepemahaman dengan kita

Semoga kita dapat mengambil hikmah.


Panutuping atur,

Tidak semua pihak akan dengan mata hati dan mata batin secara terbuka dapat menerima sebuah kenyataan yang memang kadang-kadang pahit untuk diungkap, tidak hanya sekedar open-mind untuk memahami ini, dibutuhkan juga open-wide :-)

” luwih becik wong sing ngakoni mung ora nglakoni tinimbang wong sing nglakoni mung ora ngakoni, mung tetep paling becik wong sing iyo nglakoni, iyo ngakoni. “

SUMPAH BUDAYA
Selasa 27 Oktober 2009

garuda-pancasilaGlobalisasi di ranah ide, gagasan, ilmu pengetahuan yang diiringi dengan teknologi berkembang amat pesat. Lebih cepat dari kemampuan manusia untuk merenungkan apa hakikat semuanya untuk kemanfaatan hidup. Orang tidak lagi disibukkan dengan pertanyaan untuk apa kita memiliki ilmu, pengetahuan dan teknologi. Namun lebih menekankan pada fungsi-fungsi kemanfaatan/pragmatisnya semata. Semua pada akhirnya mengikuti arus globalisasi secara latah dan masa bodoh dengan hakikat progress/kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahwa hakikat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk penyempurnaan proses hidup manusia menuju kesatuan dan keserasian lahir batin, jiwa dan raga.

Budaya Populer adalah budaya yang berada di pusaran arus global. Sayangnya, perkembangan budaya global justeru mematikan budaya-budaya nasional dan budaya lokal yang ada. Budaya lokal secara substansial tidak mengalami kemajuan yang berarti kecuali hanya untuk sarana komoditas ekonomi dan turisme saja. Budaya yang merupakan hasil manusia untuk mengolah daya cipta, rasa dan karsa berdasarkan atas kehendak dan keinginan masing-masing individu dalam sebuah wilayah tidak mampu lagi dianggap sebagai sebuah kearifan.

Individu yang berada di ruang-ruang budaya pun menjadi tumpul oleh arus pragmatis budaya global yang mungkin dipandang lebih menarik, mudah, cepat dan efisien. Para pengambil kebijakan tidak lagi memiliki semangat yang menyala untuk nguri-uri kebudayaan lokalnya. Apalagi bila semua pihak tidak mendukung lahirnya kreativitas-kreativitas baru berkebudayaan dan berkesenian.

Ini adalah situasi di mana kita mengalami sebuah Degradasi Budaya bahkan kehancuran sistematis budaya lokal. Bhinneka Tunggal Ika sebagai semangat berbudaya dalam rangka kebersatuan berbagai budaya lokal untuk maju dalam frame bangsa dan negara pun hanya sebagai slogan yang kini semakin dilupakan.

Tumbuh berkembang serta kemajuan sebuah budaya ditentukan pada bagaimana kita semua merespon dan menjawab tantangan-tantangan budaya global. Respon dan jawabannya adalah agar kita kembali kreatif, inovatif dan menciptakan wilayah-wilayah perjuangan budaya yang mampu menjadi alternatif budaya global yang terbukti tidak memiliki “ruh” kemanusiaan yang utuh.

Justeru pada budaya lokal, kita menemukan kembali “ruh” kemanusiaan itu. Ruh yang akan menyinari individu agar bisa bergerak secara harmonis antara individu dengan individu yang lain, antara individu dengan alam semesta, bahkan antara individu dengan dirinya sendiri sehingga nantinya individu tersebut akan menemukan diri sejati yang merupakan wakil Tuhan di alam semesta.

Siapa yang harus memulai untuk melakukan penyadaran adanya degradasi budaya ini? Sebuah fakta sejarah terjadi pada 28 Oktober 1928 saat para pemuda mengikrarkan Sumpah Pemuda. Intisari dan hakikat dari Sumpah Pemuda adalah kesadaran bahwa semua elemen bangsa harusnya memiliki kehendak, keinginan, cita-cita yang sama untuk mewujudkan sebuah kesatuan wahana dan ruang kreativitas dan kebebasan ekspresi yang berbeda-beda.

Jembatan untuk memasuki wahana persatuan dan kesatuan tersebut adalah tanah air, bangsa dan bahasa. Setiap babakan sejarah, pemuda selalu menjadi motor penggerak perubahan zaman. Sejarah telah menegaskan tentang kepeloporan pemuda di era kolonial hingga era perjuangan kemerdekaan bahkan di era reformasi. Perjuangan pemuda selalu dihadapkan pada tantangan hambatan dan kesulitan, bahkan darah dan airmata menjadi taruhan.

Di era masa lalu, gerakan kepemudaan lebih berorientasi pada bidang politik. Kini tantangan kaum muda masa kini justeru lebih banyak berupa rongrongan budaya global yang sangat berpengaruh pada pola pikir dan gaya hidup mereka sehingga harusnya gerakan kepemudaan kini lebih diorientasikan pada bidang budaya local (local wisdom).

Pemuda harus memiliki semangat untuk bersatu, lepas dari penindasan dan penguasaan budaya global. Kita berharap agar bangsa Indonesia bisa menghidupkan kembali budaya-budaya lokal yang ada sehingga nanti terwujud bangsa yang maju berkembang tanpa kehilangan jati dirinya. Kita buka mata dan hati kita, lihatlah bangsa India, Cina, Jepang, Thailand, dan Korea telah membuktikan sendiri. Bangsa yang meninggalkan pola hidup taklid hanya ikut-ikutan, ela-elu. Kini telah tumbuh menjadi macan Asia, dihormati dan segani masyarakat dunia, bangkit meraih kejayaan dengan berlandaskan loyalitasnya terhadap nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) yang terdapat dalam tradisi dan budayanya. Bangsa yang tahu karakter diri sejatinya, sangat tahu tindakan apa yang harus dilakukannya. Sementara itu, bangsa kita lebih kaya akan ragam budaya dan kearifan local. Didukung sumber daya alam, kita akan mampu menjadi bangsa yang lebih jayaraya dari bangsa-bangsa tersebut.

Sumpah Pemuda merupakan momentum yang berhasil menyatukan pemuda se-Indonesia dalam satu ikatan kebangsaan, perasaan senasib, sepenanggungan yang diderita oleh pemuda khususnya, telah memberikan kesadaran kritis terhadap situasi yang dihadapinya yaitu adanya sebagai tantangan bersama telah membangkitkan kesadaran kolektif pemuda untuk melawan penindasan budaya global. Diperlukan gerakan massif untuk menghidupkan kembali budaya-budaya lokal (baca; kearifan lokal) di tanah air secara terus menerus sebagai bentuk nyata dari perjuangan kaum muda.

Perjuangan kaum muda di bidang budaya diharapkan akan membawa perubahan sosial yang mendalam bagi masyarakat, terutama di bidang pendidikan. Dari pendidikan ini muncullah pejuang-pejuang muda yang kaya akan ide dan konsep untuk melawan budaya global.

Untuk mewujudkan ide tersebut maka dengan ini kami menyerukan kapada SEMUA PEMUDA DI TANAH AIR untuk bersatu dalam gerakan SUMPAH BUDAYA 2009:

  1. MENGHIDUPKAN KEMBALI BUDAYA DAERAH SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN BUDAYA NUSANTARA
  2. MENJADIKAN BUDAYA DAERAH SEBAGAI DASAR PIJAKAN IDE-IDE KREATIF PEMBANGUNAN
  3. MENGEMBANGKAN KEARIFAN BUDAYA DAERAH SEBAGAI NILAI-NILAI PEMBANGUNAN NASIONAL
  4. MENGEMBANGKAN NILAI-NILAI MORAL, MENTAL DAN AJARAN HIDUP BERMASYARAKAT YANG ADA DI BUDAYA DAERAH DALAM RANGKA MENDUKUNG PERKEMBANGAN BUDAYA NUSANTARA.
  5. MENGURANGI PENGARUH NEGATIF BUDAYA GLOBAL DENGAN MENGEMBANGKAN BUDAYA NUSANTARA

MOTTO :

THINK LOCALLY ACT GLOBALLY !!

SUMPAH BUDAYA

BERBUDAYA SATU, BUDAYA NUSANTARA

BERJATI DIRI SATU, JATI DIRI BANGSA INDONESIA

KASIH SAYANG SATU, KASIH SAYANG LINTAS AGAMA

Indonesia, 28 Oktober 2009

Tertanda:

  1. KI WONGALUS
  2. KI ALANG ALANG KUMITIR
  3. KI SABDALANGIT
  4. KI AGUNG HUPUDHIO
  5. TOMYARJUNANTO

Sepanjang sejarah, manusia membutuhkan pemahaman & pemaknaan akan hidupnya, Baik lewat jalan spiritual maupun ilmu pengetahuan, bisa lewat agama, pemuasan hawa nafsu juga eksploitasi alam.

Hanya dalam memperoleh pemahaman & pemaknan itu manusia butuh penanda ‘logos’, dimana para winasis mengibaratkan jaring dalam menangkap ikan

Bila ikan sudah tertangkap seharusnya lupakan jaringnya jangan malah terpaku padanya

Inilah yang terjadi pada manusia saat ia memahami makna namun terperangkap dalam penanda atau logos

Alih-alih menemukan kesejatian diri ia malah terperangkap oleh penanda seperti Tuhan, Tanah Terjanji, Surga dll. Logos menjadi semacam komoditas yang diperdagangkan & diperebutkan.

Manusia tidak lagi mencari makna ia sudah puas dengan segala pemaknaan yang secara kutural didoktrinasi & diinternalisasi kepadanya.

Inilah sumber kekacauan atau chaos. Manusia tak mampu meneruskan evolusinya menuju manusia atas meminjam istilah Nietzche.

Sebenarnya dibalik segala penanda yang secara empiris kita cerap ada yang disebut arche, kalau orang Jawa menyebutnya Sangkan Paraning Dumadi nggih sumangga kersa, sebuah proses yang membawa kita pada suatu kepenuhan hidup.

Contohnya infrastruktur yang dibuat manusia untuk memnuhi kebutuhan hidup seperti bendungan atau waduk. Ratusan tahun sebelumnya para Winasis telah meramalkan bahwa sebagian Jawa akan kembali jadi laut. Nah bukankah kalau terjadi gempa besar di daratan Jawa bendungan seperti Wadas Lintang, Gajahmungkur dadal sungguh2 akan membuat Jawa menjadi laut.

Ada sebuah proses yang sedang berlangsung dalam setiap peristiwa yang terjadi

Ada makna dibalik segala penanda

Ada arche yang mengawali logos

Sangkan paraning dumadi

Yesus

Yesus

Sebuah cerita di keluargaku


Saat pertemuan keluarga besar yang diadakan di rumahku rajah Kalacakra yang kupasang diatas pintu lupa belum kuambil.

Banyak Saudaraku yang mengernyitkan dahi melihatnya seakan melihat suatu hal ganjil dan aneh.

Seorang pamanku beragama Kristen bertanya apa maksud dari gambar coret-coret yang ada di atas pintuku.

Sebelum sempat menjawab pamanku yang lain mengatakan ,”Oh Tomy itukan penganut Kejawen..”

Yang lalu disambut pamanku yang tadi bertanya, “Gambar-gambar seperti itu namanya Antikris”

Dengan senyum aku menjawab sekenanya saja “Boleh jadi Om, tapi Yesus sendiri yang mengajarkan makna gambar itu kepada saya”.

Ah andai mereka mau mendengarkan tidak segera memberi penilaian dan stigma…

Simbol apapun baik dalam bentuk kata, lukisan atau tulisan diperlukan manusia untuk menangkap makna, seperti pamanku yang Kristen ia menggunakan Salib yang digantung di dinding untuk menjelaskan hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesamanya sementara pakdheku yang Islam lebih afdol memakai syair2 indah yang disebut dengan Al Fatihah.

“Kok bisa Yesus yang mengajarkan seperti itu?” Tanya pamanku sewot

“lho Yesus khan mengajarkan untuk mengasihi musuh-musuh kita bahkan salah satu sabdaNya adalah bila pipi kirimu ditampar berikan pipi kananmu. Sekarang coba Om kita simak doa dalam Kalacakra :


YAMARAJA…JARAMAYA

- siapa yang menyerang berbalik menjadi berbelas kasihan

YAMARANI…NIRAMAYA

- siapa datang bermaksud buruk akan malah menjauhi

YASILAPA…PALASIYA

- siapa membuat lapar akan malah memberi makan

YAMIRODA…DAROMIYA

- siapa memaksa, malah menjadi memberi keleluasaan atau kebebasan

YAMIDOSA…SADOMIYA

-siapa membuat dosa malah membuat jasa

YADAYUDA…DAYUDAYA

-siapa memerangi malah menjadi damai

YASIYACA…CAYASIYA

-siapa membuat celaka malah menjadi membuat sehat, sejahtera

YASIHAMA…MAHASIYA

-siapa membuat rusak malah menjadi membangun dan sayang.

Nah, makna yang tersirat sama antara tanda Salib, Al Fatihah maupun Rajah Kalacakra.

Bila kita telah mampu mengupas buah dan memakan isinya yang berasa sama, mengapa kita harus meributkan pembungkusnya


Sementara itu didalam rumah ada terpampang lukisan Ibu Ratu Kidul yang segera disikapi oleh bibiku sebagai musyrik. Dengan tenang istriku menjawab,

”Bila Bunda Maria menampakkan diri di Meksiko memakai pakaian Indian, masak Yesus jalan-jalan di Tanah Jawa tidak boleh pakai blangkon” :mrgreen:

~HA~

Hangidunga piwelinge Kaki,

Sabda Palon Pamong Nusantara,

Ameca kasengsarane,

Rakyat Nusa sedarum,

Nampi panodhining Hyang Widhi,

Kalambangnya wong nyabrang,

Prapteng tengah katempuh,

Santering kali kang bena,

Yeku ing Gapura Sapta Ngesti Aji (1879),

Keh jalma samya lena.

~NA~

Nandang mrata sak Tanah Jawi,

Dadi kersane kang Murbeng Alam,

Meruhna para kawulane,

Lamun jagad punika,

Mengku Pangeraning Ghoib,

Nraju becik myang ala,

Kang nandur angunduh,

Nandang wohira priyangga,

Den alamna kinarya amratandani,

Jagad ana kang ngasta

~CA~

Carane kang paring panodhi,

Warna-warna wujuding bebaya,

Angrusak tanah Jawane,

Wong glidig datan ngukup,

Nambut karya datan nyukupi,

Priyayi padha kapiran,

Saudagar padha ambruk,

Tetanen akeh kang sirna,

Rinusakan ama katerak paceklik,

Abot uriping jalma.

~RA~

Raharjaning bumi sirna yekti,

Mubaling ama sakelangkung ndadra,

Tuhu agung rerususuhe,

Keh pandung panci dalu,

Tan tentrem uriping jalma,

Ing rina akeh begal,

Dha rebut-rinebut,

Risak tataning sujanma,

Negari kewran anggenira ngadani,

Jalma tan ajrih pidana.

~KA~

Kalampah dumugi tigang warsi,

Jalma isih jroning heru-hara,

Rebutan sandang pangane,

Lali sanak sedulur,

Amarga tan tahan perihing ati,

Lali anggering praja,

Amung mburu napsu,

Gya ketungka praptanira,

Pagebluk kang linuwih sak tanah Jawi,

Akeh kang samya pralaya.

~DA~

Dadya girising pra setan sami,

Kesandung bae nemahi lena,

Mangkiya wujuding dadine,

Udan barat angin gung,

Kayu geng rebah mblasah sami,

Kali-kali dha bena,

Nggirisi satuhu,

Kadya benaning samodra,

Kang tinerak datan saged nanggulangi,

Larut amblas myang sirna.

~TA~

Tanda ingkang luwih nggegirisi,

Alun samya munggah ing daratan,

Angrisak tepis wiringe,

Karya getering kalbu,

Ingkang dumunung kanan kering,

Kayu-kayu keh kendang,

Padha sirna larut,

Sela ageng samya mbrasta,

Gumalundung balabag katut keli,

Gumlendung swaranira.

~SA~

Sakathahing hardi agung sami,

Nggegiri urubing dahana,

Gumaleger suwarane,

Mutah wlahar myang watu,

Mblabar ngelebi kanan-kering,

Nrajang wana lan desa,

Manungsa keh lampus,

Kebo sapi gusis samya,

Raja-kaya datan wonten ingkang keri,

Tan ana manggih puliha.

~WA~

Wasana sanget horeging bumi,

Ana lindu ping pitu sedina,

Karya angrusak jalmane,

Dha nela sitinipun,

Brekasakan sami angeksi,

Anyarat sagung jalma’

Samya pating gluruh,

Kathah ingkang nandang raga,

Warna-warna panggoda lawan sesakit,

Langka waras keh lena.

~LA~

Lah mangkono karya tetenger neki,

Ingwang prapta aneng Nusa Jawa,

Maujud tengah rakyate,

Kinanthi anak putu,

Wujud brekasakan myang demit,

Sun sebar kawruh nyata,

Agama satuhu,

Ameruhna mrang makripat,

Gami budi nenggih Islam kang sejati,

Agemannya sang sukma.

~PA~

Papestining Nusa tekan janji,

Yen wus jangkep limang atus warsa,

Kapetung jaman Islame,

Nusa bali marang Ingsun,

Jawi Budhi madep sawiji,

Sapa kang ngemohana yekti nampi bendu,

Sun oyakan putuningwang,

Dadya pratanda praptaning tundan-demit,

Nggegila myang nglelara.

~DHA~

Dha weweka jaman tundan-demit,

Haywa angiderna ngelmunira,

Nedya nglawan demite,

Sira yekti ginuyu,

Dening pra demit putu mami,

Haywa nandang yudha,

Ananjakna ngelmu,

Myang sarana marupa-rupa,

Kabeh iku tan pasah ing awak demit,

Mbalik anyabet sira.

~JA~

Jangkaning Nusa wus aweh wangsit,

Wineca dening jalma waskita,

Ing primbon Jayabayane,

Jalma tan pungguh wutuh,

Wineca sirnanya sepalih,

Dene ingkang waluya,

Perlu samya weruh,

Isarat nulak bebaya,

Mung netepi dharmaning urip sejati,

Wasitanya pra kuna.

~YA~

Yaiku sahadat kang sejati,

Ameruhi dununge Sang Gesang,

Ing teleng jiwa ragane,

Lamun tan bisa weruh,

Takokna guru kang sejati,

Kang wus putus kawruhnya,

Wikan manjing alus,

Bisa ngajal jroning gesang,

Wuninga sangkan paraning dumadi,

Perlu sira upaya.

~NYA~

Nyatakna yen sira wus winirid,

Kabeh wasitanya gurunira,

Meruhna ing makripate,

Manungsa urip iku,

Suket ing wana petaneki,

Yen wus tumekeng mangsa,

Ginaru kaluku,

Ingkang nlesep selanira,

Yeku jalma kang wruh sahadat sejati,

Wisikane sang sukma.

~MA~

Manawa sira anyulayani,

Marang geguritaning Sang Gesang,

Yekti abot pidanane,

Urip iku satuhu,

Nggawa reng-renganing Hyang Widhi,

Kodrat datan anyidra,

Marang kersa Agung,

Lamun wus tumekeng mangsa,

Geguritaning Gesang mbabar dumadi,

Laksita madyapada.

~GA~

Gagaring sahadat sejati,

Karsa lamun urip iku tunggal,

Tunggal myang kabeh sipate,

Gelaring jagad iku,

Pratanda agunging Hyang Widhi,

Kwasa nganakake jagad,

Myang kwasa angukud,

Paranipun kabeh sipat,

Marang sangkane yeku Sumbering Urip,

Purwanira dumadi.

~BA~

Babaring Gesang wujud dumadi,

Anggelar sawernaning agama,

Mrata para umate,

Tumeka wancinipun,

Pra umat ngungkurna agami,

Kang sih ngrasuk agama,

Tan wruh kang satuhu,

Amung nyekeh srengat,

Sunyataning agama tan urip ning ati,

Ngrasuk blongsong kewala.

~THA~

Thathit sliweran ning Nusa Jawi,

Pratanda Ingwang numedakna,

Nyampurnakna agamane,

Mbalikna myang kang tuhu,

Anyebarna Islam Sejati,

Dhuk jaman Brawijaya,

Ingsun datan purun,

Angrasuk agama Islam,

Marga Ingwang wuninga agama iki,

Nlisir saka kang nyata.

~NGA~

Ngelingna marang umat sami,

Yen sira tan ngetut kersaningwang,

Yekti abot panandange,

Ingsun pikukuhipun,

Nusantara ing saindenging,

Bawana sisih wetan,

Asia puniku,

Kasigeg nggeningwang nyabda,

Kasabdakna mrang bawana wadag iki,

Lumantar Panembahan GIRIMAYA.