Tumeka ing janji wajib dilakoni kudu ditindaki,
Aja samar aja cidra punapa semaya,
Kabeh wus tekan titi mangsane,
Putra wayah amusthi aji luhuring budi,
Duhkitaningtyas sumengka kawekas,
Penggalih datan kena ajrih,
Keteging angga mangayu hayuning bawana,
Dilah latu lathi micara,
Mentering aruna netra amyarsa,
Durga sirep,
kala lerep,
Sejalan dengan SUMPAH BUDAYA yang telah dideklarasikan bersama dan mundhi dawuh untuk menyingkap rekaman sejarah meski menyakitkan, dalam tulisan kali ini perkenankan saya mendongeng sebuah cerita yang tak tertulis hanya dari TUTUR TINULAR dan pengalaman ghaib yang tiada saksi.
Alkisah Sandyakalaning Majapahit, seperti dikisahkan di Kitab Darmagandul.
Para Sunan yang tergabung dalam Wali Sanga, membuat konspirasi untuk Adipati Bintara melakukan kudeta kepada ayahanda-nya dengan alasan membebaskan semua orang dari ke-kafir-an
.
Pada saat pertemuan untuk merencanakan kudeta tersebut hanya seorang anggota dari dewan wali yang tidak setuju, yaitu Syekh Siti Jenar, maka kemudian Syekh Siti Jenar di eksekusi oleh Sunan Giri. Syekh Siti Jenar adalah satu-satunya wali yang memberikan ajaran Makrifat yang intinya mirip dengan Manunggaling Kawulo Gusti dari ajaran Jawa sehingga banyak masyarakat dan petinggi Majapahit berkawan akrab dengan Syekh Siti Jenar karena merasa ada kecocokan dalam sudut pandang tanpa harus terpaksa ikut ritual ajaran Makrifat itu sendiri, hal itu tidak disenangi oleh para wali yang lain yang lebih membawa ajaran agama rasul waktu itu ke Syariat. Pada saat leher dari Syekh Siti Jenar dipenggal oleh Sunan Giri terjadilah keajaiban di mana darah yang muncrat dari leher Syekh Siti Jenar membentuk tulisan asma Allah pada lantai, serta berbau wangi tidak anyir.
Singkat cerita, terjadilah kunjungan besar-besaran Pangeran Bintara disertai dengan para wali dan adipati-adipati pesisir yang sudah memeluk agama rasul dengan seluruh bala tentaranya, rencana itu sebetulnya sudah tercium oleh pasukan Majapahit yang menjaga kraton, tapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa karena Pangeran Bintara merupakan salah satu putra dari Sang Prabu Brawijaya VIII sendiri dan kunjungan besar-besaran itu awalnya disampaikan hanya merupakan kunjungan rombongan anak yang akan sowan kepada sang ayah. Pada saat itu kebetulan Sang Prabu Braiwjaya VIII sedang tidak ada di kraton karena sedang menuju Bali dengan diiringkan dua abdi-nya yaitu Sabdapalon dan Nayagenggong.
Kunjungan yang awalnya ditiupkan dalam keadaan damai berubah menjadi kudeta yang sangat berdarah, semua kitab-kitab di kraton dibakar, kraton dirusak habis-habisan dan terjadi pembunuhan massal kepada warga Majapahit di ibukota negara waktu itu yang tidak mau memeluk agama rasul. Kemenangan pasukan Bintara dan para wali itu harus dibayar dengan darah dari banyak warga ibukota Majapahit pada jaman itu
Setelah mereka berhasil memuaskan keinginan untuk merebut Kraton Majapahit *yang direbut waktu itu baru Kratonnya belum menundukkan Majapahitnya sendiri*, rombongan besar Adipati Bintara bersama dengan para wali kemudian sowan kepada kasepuhan mereka yaitu Sunan Ampel di Ampeldenta [Sunan Ampel sendiri merupakan kakek dari Jin Bun dan ayahanda dari Putri Cempa], pada saat itu Sunan Ampel sudah wafat sehingga mereka diterima oleh Nyai Ampel. Alangkah kagetnya Nyai Ampel pada saat mereka semua menghaturkan berita tentang berdirinya Kerajaan Islam pertama dengan jalan seperti itu. Nyai Ampel sangat marah besar dan tidak membenarkan perbuatan itu, apalagi cara yang dilakukan oleh Pangeran Bintara sangatlah tidak ksatria, menikam dari belakang, kepada orangtuanya sendiri lagi, karena bukan seperti itulah sejati-nya Islam yang benar. Sampai Nyai Ampel mengutuk cucunya sendiri yaitu Pangeran Bintara dengan sebutan ‘anak durhaka’.
Saat itu Pangeran Bintara sangat terpukul dan menyesal sehingga mengutus Sunan Kalijaga untuk menyusul Sang Prabu Brawijaya VIII yang sedang dalam sebuah perjalanan ke daerah Bali. Sunan Bonang berusaha menenangkan hati Pangeran Bintara bahwa apa yang dilakukan adalah sudah sewajarnya dan tidak usah menurutkan apa yang diucapkan oleh seorang wanita.
Sementara itu Sang Prabu Brawijaya VIII yang sedang dalam perjalanan dengan diiringkan Sabdopalon dan Nayagenggong melintas di daerah Blambangan [letak tepatnya kalo sekarang itu di daerah Porong] yang kemudian disusul oleh Sunan Kalijaga yang kemudian menyampaikan permohonan maaf dari Pangeran Bintara dan mempersilahkan Sang Prabu untuk kembali ke ibukota Majapahit. Berbagai kemarahan dan kutukan diujarkan oleh Sang Prabu demi mengetahui apa yang sudah dilakukan oleh salah seorang putranya itu, dan mempertanyakan sebab kenapa hanya demi sebuah ajaran mereka tega untuk berbuat yang sangat tidak patut itu. Terjadilah dialog yang sangat tinggi pada saat itu, yang disela dalam permintaan maafnya itu Sunan Kalijaga berusaha untuk menerangkan arti ajaran dari agama Rasul, pada saat dialog sampai ke kalimat syahadat secara tidak langsung dan tidak sengaja dalam pembahasan itu Sang Prabu Brawijaya VIII juga mengulang kata itu, yang kemudian disudutkan oleh Sunan Kalijaga bahwa sebagai seorang raja besar, kata yang secara tidak sengaja mengulang kalimat syahadat itu berarti sebuah kata sabda. Sang Prabu Brawijaya VIII terhenyak dan sebagai seorang raja besar tidak mungkin menarik sabda-nya itu.
Dan pada saat Sang Prabu Brawijaya VIII ikutan mengajak Sabdopalon dan Nayagenggong untuk ikutan beliau, maka terjadilah perang kawruh tingkat tinggi antara mereka. Dan pada saat itu juga Sabdopalon menyatakan diri untuk tidak menjadi momongan bagi Sang Prabu Brawijaya VIII alias oncat sebagai pamomong seorang ratu. Sebelum kemudian sirna, Sabdopalon menurunkan sabda-nya yang intinya menyatakan bahwa kelak 500 tahun lagi akan balik masa di mana tanah Jawa akan menagih janji, tiba datangnya agama budi/kawruh
Dan itu terjadi pada saat sekarang ini ketika Para Muda bangkit kesadarannya untuk merevolusi kultur, bertiwikrama budaya, masa akan datangnya jaman keemasan Majapahit, masa 500 tahun ini diakhiri dengan Kala Bendu untuk menyongsong datangnya jaman Kala Suba.
Setelah Sabdopalon moksa di puncak Gunung Mahendra [sekarang Gunung Lawu] dengan disaksikan oleh Sang Prabu Brawijaya VIII. Kemudian Sang Prabu Brawijaya VIII juga berkeinginan untuk kembali ke alam kelanggengan/moksa dan memilih Ngobaran [pantai Ngobaran di daerah Gunung Kidul untuk sanggar pamoksannya]. Sebelum berangkat menuju ke Ngobaran, Sang Prabu Brawijaya VIII mengeluarkan ‘Sabda’ kepada seluruh Kerajaan Majapahit dan wilayah-wilayah tundukannya [Nuswantara] untuk tidak melakukan perlawanan kepada ‘Demak’ karena memang sudah begitu nasib jagad sesuai dengan garis alam, dan memperbolehkan semua Raja/Adipati di semua wilayah Majapahit untuk menentukan nasibnya sendiri-sendiri.
Pada perjalanan Sang Prabu Brawijaya VIII dari puncak gunung Lawu menuju pantai Ngobaran, sampailah beliau di daerah Batur, Putat, Bobung, Gunung Kidul. Di sinilah sebetulnya inti dari awal muasalnya terciptanya kidung Danghyangan.
Di daerah Gunung Kidul sebelum masuk kota Wonosari ada daerah yang bernama Bobung yang terkenal dengan kerajinan dari kayu [patung kayu, topeng kayu, dll.] dan naik ke atas lagi daerahnya bernama Batur – Putat, yang sebetulnya asli kerajinan dari kayu itu berasal dari sini, tapi karena letaknya lebih di bawah maka Bobung lebih dikenal sebagai sentra kerajinan dari kayu, padahal pasokannya justru dari Batur – Putat itu. Di Batur – Putat selain penduduknya yang trampil dalam membikin kerajinan dari kayu, di sana juga banyak ragam kesenian yang sampai sekarang masih cukup aktif, semacam gejog lesung, jathilan, reog, tari topeng, dll. Di daerah itu juga terdapat sebuah pohon Beringin putih dan sungsang daunnya. Cerita lisan dari penduduk Batur adalah, bahwa dulu konon Brawijaya pernah singgah di daerah situ dan di bawah pohon beringin itu lahirlah seorang putra dari Brawijaya. Satu kilometer dari letak pohon beringin putih sungsang itu, melewati perkampungan penduduk kita akan sampai ke sebuah air terjun yang landai berundak-undak, kadang pada saat musim kemarau airnya tidak kering, air terjun itu dikenal dengan nama air terjun Banyunibo, dan kalau mata kita cermat, sejajar dengan ketinggian air terjun di badan perbukitan dan tertutup banyak tanaman, kita dapat melihat sebuah gua di atas, yang untuk menuju ke gua tersebut kita harus merayap badan bukit, gua itu hanya muat untuk satu orang saja.
Pada saat dalam perjalanan ke lokasi pamoksannya, sampailah Sang Prabu Batara I Kling [Brawijaya VIII] di Batur – Putat; di saat bersamaan Sunan Kalijaga mendengar bahwa Sang Batara I Kling berniat akan moksa dan segeralah Sunan Kalijaga menyusul hingga mereka bertemu di Batur – Putat. Sunan Kalijaga berusaha mencegah Sang Prabu Batara I Kling untuk moksa karena beranggapan bahwa setelah Sang Prabu Batara I Kling mengucapkan kalimat syahadat dan dalam syariat tidak dikenal yang namanya moksa itu, tapi Sang Prabu Batara I Kling bersikeras dan tidak ada yang dapat mencegah niatnya untuk moksa. Terjadilah dialog yang meningkat ke perdebatan yang cukup tinggi pada saat itu, itulah kenapa daerah itu kelak dikenal dengan nama Batur yang dimaknai dari ‘mbat-mbat-an tutur’.
Dari dialog, meningkat ke perdebatan, sampai akhirnya harus dilanjutkan dengan adu kesaktian. Sehingga akhirnya memaksa Sang Prabu Batara I Kling untuk mengeluarkan ajian saktinya yang bernama ‘ajian waringin sungsang’, sebetulnya ajian itu sangat mematikan tetapi karena Sang Prabu Batara I Kling tidak berniat membunuh Sunan Kalijaga, sehingga tidak sampai terjadi ada nyawa yang melayang pada pertempuran itu. Sunan Kalijaga akhirnya tunduk dan mengakui bahwa memang banyak yang harus dipelajari oleh dia tentang tanah Jawi dan jagad raya.
Sebetulnya yang disebut oleh penduduk tentang Brawijaya mempunyai anak di bawah pohon beringin putih sungsang, kejadian sebenarnya adalah pada saat itu dan pada titik itu telah lahir sosok manusia baru yaitu Sunan Kalijaga yang berusaha mencoba memahami akan keluhuran tanah Jawi.
Kemudian oleh Sang Prabu Batara I Kling dibawalah Sunan Kalijaga ke bawah air terjun Banyunibo untuk disucikan, dan kemudian secara halus memanggil Sabdopalon untuk memberikan ajaran dan wedarannya, Sang Prabu Batara I Kling kemudian melanjutkan perjalanannya menuju pantai Ngobaran.
Oleh Sabdopalon kemudian Sunan Kalijaga diajak bersemadi di gua di punggung bukit air terjun Banyunibo dan memberikan banyak piwulang tentang keluhuran tanah Jawi, serta ada dua syarat yang harus dilakukan oleh Sunan Kalijaga kelak, yaitu bahwa ajaran agama yang akan disebarkan harus melalui jalur ‘nguri-uri kabudayan’ [karena pada saat-saat itu terjadi penghancuran besar-besaran oleh Demak terhadap semua atribut Jawa, mulai dari buku-buku, perilaku, bangunan-bangunan, sampai ke kesenian-kesenian baik bentuknya maupun peralatannya]. Syarat kedua adalah bahwa kelak setelah selesai masa piwulang di Banyunibo, Sunan Kalijaga harus melakukan perjalanan untuk sowan dan menyapa seluruh penunggu/Danghyang di tanah Jawi agar setiap langkahnya mendapat dukungan dari para Danghyang, sehingga dengan cara itu maka ajaran agama dengan muatan nguri-uri kabudayan baru dapat diterima di tanah Jawi hingga tiba pada saatnya.
Dari titik itulah, kemudian Sunan Kalijaga mengganti penampilannya, dari berpakaian serba putih-putih berganti dengan jubah hitam, sintingan [ikat kepala] hitam, dan kemana-mana membawa sebilah keris. Secara dalam dapat dicermati bahwa apa jadinya kalau tidak ada peristiwa di Batur itu, ada kemungkinan sekarang kita tidak akan dapat lagi menikmati tari-tarian klasik Jawa, dolanan bocah, nglaras gending-gending Jawa, menikmati pertunjukan wayang, dll.
Kelak setelah Sunan Kalijaga dengan nguri-uri kabudayan-nya mengunjungi lokasi malinggihnya para Danghyang se tanah Jawi, maka dibuatlah Kidung Danghyangan. Sunan Kalijaga adalah satu-satunya Sunan yang sudah dimaafkan oleh para leluhur bangsa kita.

Bukan bermaksud ngurek-urek barang bosok, membuka luka lama & membangkitkan sentiment masa lalu. Namun tulisan ini semoga dapat menjadi sebuah pelajaran bagi generasi sekarang.
Nusantara sangat kaya akan kearifan budayanya yang berdasarkan welas asih mawas diri tepa slira, tak seharusnya kita menganggap rendah budaya & pencapaian kita, bahkan memberi stigma kafir.
Seperti pada tulisan saya terdahulu,
Dalam hidup ini memang banyak hal yang tak dapat dinamai, tak dapat dijelaskan, tak dapat diringkus oleh keterbatasan nalar.
Untuk itu diperlukan penandaan, metafora, penamaan, penjelasan, penyederhanaan. Lalu diciptakanalah teks2 yang kita baca sebagai Tuhan, Allah lan sapanunggalanipun.
Budaya Nusantara menjelaskan dalam sanepan agar tiada finalitas definisi, karena selalu ada penundaan makna dari setiap symbol yang hadir
Penundaan yang akan terus menyingkap diri dalam setiap proses perjalanan manusia, dalam setiap relasi manusia.
Maka mari kita teruskan perjalanan manusia ini dalam mencapai kepurnamaannya, dengan membangun dan membina relasi.
Relasi dengan sesama, dengan alam dan diri sendiri
Semoga kita tak terperangkap dalam Logo-sentrisme, memaknai simbol hanya dalam batas apa yg tampak secara visual dan level “kulit” lalu memberi stigma buruk kepada orang lain yang kita anggap tak sepemahaman dengan kita
Semoga kita dapat mengambil hikmah.
Panutuping atur,
Tidak semua pihak akan dengan mata hati dan mata batin secara terbuka dapat menerima sebuah kenyataan yang memang kadang-kadang pahit untuk diungkap, tidak hanya sekedar open-mind untuk memahami ini, dibutuhkan juga open-wide
” luwih becik wong sing ngakoni mung ora nglakoni tinimbang wong sing nglakoni mung ora ngakoni, mung tetep paling becik wong sing iyo nglakoni, iyo ngakoni. “
Globalisasi di ranah ide, gagasan, ilmu pengetahuan yang diiringi dengan teknologi berkembang amat pesat. Lebih cepat dari kemampuan manusia untuk merenungkan apa hakikat semuanya untuk kemanfaatan hidup. Orang tidak lagi disibukkan dengan pertanyaan untuk apa kita memiliki ilmu, pengetahuan dan teknologi. Namun lebih menekankan pada fungsi-fungsi kemanfaatan/pragmatisnya semata. Semua pada akhirnya mengikuti arus globalisasi secara latah dan masa bodoh dengan hakikat progress/kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahwa hakikat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk penyempurnaan proses hidup manusia menuju kesatuan dan keserasian lahir batin, jiwa dan raga.


