RSS

MAKNA 17-8-1945, WEJANGAN BUNG KARNO

17 Agu

Bung Karno pernah berkata : “Kutitipkan Negara ini kepadamu, namanya titipan pasti suatu saat akan diminta kembali, namun betapa sangat menyedihkannya bila titipan amanah itu ternyata tak mampu kita kelola denagn baik malahan kita telah merusaknya. Lihat saja Timor Timur yang terlepas dari pelukan Ibu Pertiwi, korupsi yang telah menjadi bagian dari budaya, mental ‘tukang nggaduhke’ yang tidak mau repot mengelola kekayaan Negara ini tapi malah memberikannya pada pihak asing untuk mengelola, maraknya aksi terorime berkedok agama & makin jauhnya kita dari nilai-nilai Pancasila *siapa yang masih hapal Pancasila..anak-anak?*
Kita gagal dalam mengemban amanah, titipan ini yang harus kita jaga & kelola malah kita hancurkan.

wus angancik arga sad indriya,
Nandhang duhkita Risang Sungkawa,

Telah mencapai puncaknya kesedihan Ibu Pertiwi kini, maka dalam kesedihan yang teramat sangat Para Leluhur Indonesia terlebih Bung Karno mencoba membangkitkan kembali nilai2 patriotisme generasi muda
Kunarpaning Sri Aji Narpati,
Sumunar tatas ambabar turas,

Inilah wejangan dari kumara Bung Karno tentang nilai-nilai kemanusiaan & makna 17-8-1945 :

Angka 1 adalah Sang Hidup, dalam aksara arab disebut Alief
Alief ini tak bisa berdiri sendiri karena belum bisa membentuk kata, atau Hidup belum bisa menghidupi.
Untuk itu dibutuhkan sandangan atau pakaian, perlu di doma’, fatah atau kasro sehingga membentuk angka 7 bisa berbunyi A, I, U Aku Iki Urip, Aku Ini Hidup, sebuah kesadaran akan diri.
Pakaian Sang Hidup inilah yang membuatnya MengHidupi, Hidup Yang menghidupi yang disebut sebagai agama. Bukan agama sebagai kelembagaan keyakinan namun agama sebagai ageming aji, pakaian Sang Hidup, kang tuwuh saka ing kalbu, bertumbauh dari dasar kalbu, kang mahanani marang pranatan, kasusilan saha kabudayan, yang terimplementasi dalam peraturan, tata susila & kebudayaan yaitu BUDI PEKERTI LUHUR.
Alief yang telah menjadi bunyi atau angka 1 menjadi angka 7 inilah yang disebut sebagai TONGKAT KOMANDO atau TEKEN ALIEF MBABAR DUMADI.
Kesadaran yang membabar kesejatian diri, bahwa setiap manusia sesungguhnya sama & sederajat berasal dari Sang Hidup yang Tunggal ( 1 ) maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan & peri keadilan, dan proklamasi adalah pembabaran kesadaran hidup manusia Indonesia untuk berjuang bersama seluruh masyarakat & bangsa dunia memayu hayuning bawana dengan berdasar pada persamaan, persaudaraan, kemerdekaan, perdamaian abadi & keadilan social.

Angka 8 adalah Pedoman seorang pemimpin bangsa yang mampu bersikap seperti 8 unsur alam yang disebut Hasta Brata seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya disini.
Juga sebenarnya adalah Tuntunan Hidup bagi tiap manusia, semangat juang yang tinggi mencapai kesejatian manusia

“GUNTUR menggelegar suaramu
Diah Permata Sari MEGAWATT 2000 sinar matamu
SUKMAWATI sukmamu
RAHMAWATI rahmatmu
GURUH menggelegar di atas kepala berjalan di bawah kaki
BAYU kekuatanmu
TOPAN badai membelah gunung
Mencari Dewa Ruci RATNA KARTIKA SARIDEWI”

Sebuah doa dari Leluhur kita agar anak-anaknya, kita semua ini sungguh mencapai kepenuhan hidup sebagai bangsa yang merdeka bersatu berdaulat adil dan makmur

Angka 1945 adalah kultur hidup manusia.
1 adalah Hidup
9 secara de yure ada Wali Sanga secara de facto adalah 9 bulan dalam kandungan Ibu *tambah 1 Sang Hidup menjadi 10 hari*, 9 lubang nafsu (Babahan Hawa Sanga), juga adalah terdiri dari
4 unsur alam yaitu Bumi, Api, Angin dan Air yang dilengkapi dengan
5 mudarah yaitu Nur, Rahsa, Roh, Akal & Budi.
Dalam mistik Jawa disebut pula sebagai Sedulur Papat kalima Pancer. Kesemuanya membentuk kesadaran Aku Iki Urip seperti telah diterangkan tadi.

Begitu dalam makna dari tanggal 17-8-1945, semoga dapat menjadi bahan refleksi kita dalam peringatan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 64 tahun ini.
Tanggal proklamasi tidaklah diambil secara sembarangan namun penuh pesan moral dan nilai filosofi yang tinggi. Tinggal kita para pemuda generasi penerus ini yang berkewajiban memaknai & mengisinya.
17-8-1945 pernyataan kemerdekaan Negara kita, tugas kita mewujudkannya bukan sebagai sebuah pernyataan namun sungguh dinyatakan

Akhir kata mengutip kata-kata Eyang Tunjung Seta, Danghyang Gunung Lawu :

HAYWA SAMAR
DUR SUKERING KAMURKAN
MRIH DHU KAMARDIKAN
BAYA SIRA HARSA MARDIKA

Jangan takut melawan segala bentuk kejahatan
Baik dari luar terlebih dari dalam diri
Bila engkau sungguh-sungguh ingin merdeka

Mari revolusi mental budaya kita
Kita buat budaya tandingan, berTRIWIKRAMA BUDAYA
Habitus baru yang jauh dari korup
Bersama memayu hayuning bawana
Dalam semanagt persamaan & persaudaraan
Sebagai Utusan Sang Hidup yang Menghidupi

TEKEN ALIEF MBABAR DUMADI,
Salam komando, Nusantara Jaya
Dirgahayu Republik Indonesia

About these ads
 

41 responses to “MAKNA 17-8-1945, WEJANGAN BUNG KARNO

  1. Lumiere

    Agustus 17, 2009 at 4:55 am

    Jangan takut melawan segala bentuk kejahatan
    Baik dari luar terlebih dari dalam diri
    Bila engkau sungguh-sungguh ingin merdeka

    Hmmm.. serasa membaca petuah Siddartha, bahwa jiwa manusia baru bisa merdeka jika ia mampu menundukkan loba & moha ^-^

     
  2. Singal

    Agustus 17, 2009 at 12:16 pm

    Penuh makna, penuh pesan, bagi kita rakyat negeri, jangan buat susah ibu pertiwi.

     
  3. lovepassword

    Agustus 17, 2009 at 2:08 pm

    SIP Markusip Mas Tomy..Sip Markusip

     
  4. m4stono

    Agustus 17, 2009 at 3:21 pm

    waaahhhh oke bgt artikelnya…..

    itu yg “guntur menggelegar suaramu….dkk” seperti anak2 beliau…memang begitulah harapan beliau thd putra2nya…tapi pada kenyataannya apakah mereka sudah memenuhi harapan bapaknya yaaa kita semua punya penilaian masing2 lah…heheheh….tapi yg jelas kita sebagai generasi muda/berjiwa muda…harus cancut tali wondo, gumregah, sepi ing pamrih rame ing gawe, golong gilig untuk bisa menjadi satria ingkang pinandhita…ngapain ditunggu2 sambil berpangku tangan kalo ternyata satria piningit itu kita sendiri yg berkesadaran rohani yg sudah meninggalkan dunia sebelum meninggal dunia….leres nopo mboten mas…

    nuwun

     
  5. hadi wirojati

    Agustus 19, 2009 at 9:48 am

    pamuji rahayu… kangma Tomy.

    “GUNTUR menggelegar suaramu
    Diah Permata Sari MEGAWATT 2000 sinar matamu
    SUKMAWATI sukmamu
    RAHMAWATI rahmatmu
    GURUH menggelegar di atas kepala berjalan di bawah kaki
    BAYU kekuatanmu
    TOPAN badai membelah gunung
    Mencari Dewa Ruci RATNA KARTIKA SARIDEWI”

    satu lagi : SATRIYO PINOTO BAWONO…

     
  6. KangBoed

    Agustus 19, 2009 at 11:17 am

    Saya mengucapkan SELAMAT menjalankan PUASA RAMADHAN.. sekaligus Mohon Maaf Lahir dan Bathin jika ada kata kata maupun omongan dan pendapat yang telah menyinggung atau melukai perasaan para sahabat dan saudaraku yang kucinta dan kusayangi.. semoga bulan puasa ini menjadi momentum yang baik dalam melangkah dan menghampiriNYA.. dan menjadikan kita manusia seutuhnya meliputi lahir dan bathin.. meraih kesadaran diri manusia utuh..

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
    I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

     
  7. Gostav Adam

    Agustus 20, 2009 at 9:22 am

    Seorang guru bangsa yang selalu mengajarkan kepada kita akan nasionalisme dan patriotisme. Guru yang menjadi idola bagi tokoh negara saat ini. Terbukti jika ada partai baru mereka selalu mengusung ideologinya Pak Karno.. salut

    salam kenal. mampir ke blog kami

     
  8. dBo

    Agustus 21, 2009 at 3:29 am

    TRIWIKRAMA-BUDAYA…..
    Akan selalu muncul dalam SIKLUS RESONANSI,

    Seorang WS.RENDRA adalah PEJUANG-BUDAYA,
    Menyatu dlm RESONANSI TRIWIKRAMA-BUDAYA.

    Seorang BUNG-KARNO yang tercermin dalam PEMBUKAAN UUD-RI 1945, juga telah menyatu dlm RESONANSI TRIWIKRAMA-BUDAYA…

    Seorang KERTANAGARA/Singhasari, yang tercermin dlm BHINNEKA TUNGGAL IKA dan NAGARA KERTAGAMA, juga menyatu dlm RESONANSI TRIWIKRAMA-BUDAYA…

    Pembabaran Artikel diatas ini, adalah cerminan telah menyatunya GENERASI-PENERUS BANGSA dlm GETAR RESONANSI TRIWIKRAMA-BUDAYA…

    Semoga getar ini semakin menebar dan menggelora diseluruh Persada NKRI…dan kami generasi tua masih diberi kesempatan untuk Tut Wuri Handayani…dan akhirnya surut dalam rasa bangga dan damai/ketenangan…

    Semoga Hyang Murbeng Dumadi…Hangijabahi TRIWIKRAMA-BUDAYA dalam meraih KEJAYAAN-NKRI…NUSWANTARA KERTAGAMA RAHARJA INDAH…..

    Rahayu…Karaharjan utk ki nakmas Tomy sekeluarga serta semua Kadang Sutresna NKRI

     
  9. suprayitno

    Agustus 22, 2009 at 5:11 am

    Mas tomy,
    KeMerdekaan dan tujuan merdeka menurutku sesungguhnya sederhana saja.

    Pertama sepertinya, cepat atau lambat yng namanya “kemerdekaan” secara politis dan yuridis formal memang pada akhirnya akan dinikmati oleh bangsa-bangsa yang terjajah. Tanpa harus repot-repot negara tersebut merebutnya.

    Dahulu pun sesungguhnya Jepang sudah mempersiapkan kemerdekaan RI tetapi ketika terjadi kevakuman kekuasaan (karena Jepang menyerah kalah/bertekuk lutut terhadap Amerika sementarta Belanda sudah cabut) maka Bung Karno dan Bung Hatta memilih memerdekaan diri.

    Apa yang menyebabkan seluruh negara jajahan pada akhirnya merdeka walau tanpa direbut sekalipun? Sebab, di jaman yang semakin modern, bentuk penjajahan itu tidak harus dilakukan secara vulgar “menguasai” secara langsung (fisik) negara-negara jajahannya.

    Boleh saja suatu negara menyatakan diri (memproklamasikan kemerdekaannya) tetapi bagi negara kapitalis “Kemerdekaan itu sesugguhnya hanyalah sebuah permainan bahasa” sebab pada akhirnya walaupun bangsa itu tiap hari dan tiap acara berteriak “MERDEKA!!!!!!!!!!!!” bukanlah berarti bangsa tersebut telah benar-benar bisa hidup merdeka yakni merdeka mengatur ekonomi, politik dan kebudayaan.

    Yang terjadi hingga detik ini, bangsa Indonesia terus dijajah oleh bangsa kapitalis dan kita yang suka berteriak merdeka!!!!!!!!!!!!!!! dibuat tidak berdaya.

    Jadi sebagai bangsa tampaknya kita begitu bangga terhadap “KEMERDEKAAN” tetapi dibalik kemerdekaan banyak hal yang justru semakin mundur. Padahal, tujuan merdeka adalah ingin mencapai yang “lebih baik” buat seluruh rakyat. Baik dalam bidang ekonomi, sosial, politik, pendidikan, kebudayaan, hukum, birokrasi, lingkungan hidup, keagamaan, infrastruktur dan seribu persoalan lainnya.

    Nah, apakah keadaan sekarang ini benar-benar semakin lebih baik buat seluruh rakyat? Rasanya kok tidak, sebab hanya golongan kecil yang bisa menikmati kemakmuran, kesejahteraan dan bekelimpahan. Sedangkan sebagian besar rakyat hidup dalam garis kemiskinan.

    Masalah lingkungan hidup dan infrastruktur, apakah saat ini kondisinya jauh lebih baik atau lebih buruk dibanding pada saat negara kita dikasai oleh Belanda?

    Mari kita lihat, apakah kualitas infrastruktur sperti jembatan-jembatan, jalan-jalan (termasuk jaringan rel KA), bangunan gedung, saluran air dan lain-lainnya mutunya lebih baik daripada saat dibangun dibawah pemerintah kolonial?

    Konon, sungai Berok yang membentang ditengah kota Semarang dahulu bisa untuk bongkar muat kapal kecil dan air sungainya pun sangat lancar dan bersih, tetapi mengapa setelah menjadi bangsa yang merdeka justru semua menjadi lebih buruk?

    Siapa yang salaH? apakah para pemimpin kita yang sangat bernafsu untuk menjadi bangsa yang merdeka atau siapa? Salahkah kita memilih merdeka? Tentu saja para founding fathers tidak salah, kita memilih merdeka juga tidak salah.

    Yang salah bangsa ini tak juga mampu melahirkan para pemimpin yang memiliki konsep yang jelas dan tindakan yang konkret “What next setelah kita merdeka?” apakah hanya bagi-bagi kekuasaan untuk kepentingan masing-masing kelompok atau untuk menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia?

    Silakan dikomentari singkat saja, lalu apa tindakan kita sebagai rakyat khususnya sabagai generasi muda.

    tk mas tomy

     
  10. Lambang

    Agustus 22, 2009 at 6:28 am

    Maaf ikutan nambahin komennya mas Suprayitno,

    Yang salah ada sistim pendidikan dini kita, yang sejak awal selalu memaksakan hukuman dan imbalan. Dalam pengajaran agamapun, pola itu juga yang selalu diutamakan. Padahal seharusnya yang diajarkan adalah empati, cinta kasih dan kreativitas.
    Pada akhirnya, nasib bangsa ini akan sangat tergantung pada pola pendidikannya. Baik yang sejak dini maupun setelah dewasa. Selama mind-setnya masih gitu-gitu aja, ya ngga banyak perubahan yang bisa diharapkan.

    Salam.

     
  11. suprayitno

    Agustus 22, 2009 at 2:04 pm

    SOAL PENDIDIKAN

    Tampaknya kita sepakat bahwa sektor “pendidikan”
    merupakan masalah teramat penting bagi kemajuan bangsa dan negara.
    Namun, hingga kini, masalah pendidikan tak pernah sepi dari berbagai
    kritik. Hal ini disebabkan masih terus terjadinya try and error dalam
    system pendidikan kita, dan lagi-lagi korbannya adalah siswa dan
    orangtua murid.

    Mestinya, kalau kita berbicara pendidikan harus dimulai dari “hulunya”. Hulu pendidikan tak bisa dilepaskan dari peran
    “guru”.

    Secara teoretis, jika staf pengajarnya (gurunya) baik, kemudian murid,
    kurikulum dan fasilitas (sarana dan prasarana) semua baik maka niscaya
    outputnya akan baik juga.

    Tetapi, jika persyaratan ideal itu tidak
    mungkin kita penuhi semuanya, maka satu hal yang tidak boleh tidak
    (conditio sine qua non) harus dipenuhi adalah soal “kualitas guru” mutlak harus baik.

    Guru yang baik tentu berasal dari training ground (lembaga pendidikan guru) yang berkualitas. Dan lembaga pendidikan penghasil guru dengan
    kualitas exellent (sangat baik) tentu hanya mau menerima “calon
    mahasiswa” yang sangat baik pula. Yang menjadi pertanyaan, apakah
    sejauh ini negara kita telah memiliki lembaga pendidikan guru yang
    benar-benar berkualitas? Berapa banyak dari calon mahasiswa dengan
    standar IQ superior yang interest menjadi guru? Apakah guru merupakan
    pilihan profesi yang cukup memberikan jaminan kesejahteraan?

    Hal-hal seperti itulah yang menurut pendapat saya justru harus
    dibongkar terlebih dulu, sebelum kita berbicara masalah kenaikan
    anggaran. Sebab, kenaikan anggaran yang tidak diimbangi dengan mutu
    staf pengajar hasilnya akan kurang efektif.

    Tolok ukur pendidikan yang berhasil yakni apabila output dari
    pendidikan mampu menjadi agent of chance (agen perubahan) sehingga
    secara bertahap negara Indonesia akan menjadi negara modern dengan PDB
    yang jauh lebih tinggi mengejar negara-negara maju lainnya. PDB yang
    tinggi jelas menunjukkan adanya produktifitas, kreativitas, inovasi,
    eksplorasi, kerja keras, jujur dan disiplin. Bagaimana mungkin hal
    tersebut dapat terwujud jika tanpa guru yang baik? Saya kira itu
    persoalannya.

    Sektor pendidikan seharusnya bersih dari “vested intersest politik aliran” artinya dia harus diupayakan secara lintas sektoral tanpa campur tangan kepentingan partai politik tertentu.

    Sialnya, saya melihat sektor pendidikan masih terlalu kuat campur tangan politis dari partai politik tertentu. Sehingga, pendidikan yang seharusnya untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan seluruh rakyat akhirnya justru terlalu sarat/penuh dengan beban biaya yang semakin tak terjangkau.

    Dengan kata lain pendidikan semakin elitis dan kapitalistik. Maka, saya berani menjamin “rusaklah” negeri ini jika pendidikan dibuat hanya untuk orang-orang yang berduit saja. Akibatnya sungguh sangat mengerikan!!!!!!!!!!!!!

     
  12. lovepassword

    Agustus 22, 2009 at 3:25 pm

    Masalah paling mumet dalam pendidikan saya rasa juga erat kaitannya dengan duit duit dan duit. Sekolah bermutu, gaji guru bagus, lab lengkap, ektsra kurikuler baik, perpus lengkap tentu butuh dana yang tidak sedikit. Akibatnya sekolah yang mutunya baik jadi elitis. Lha kalo elitis maka aspek sosial psikologis murid dan gurunya juga bisa malah nggak baik. Mereka jadi Sok gaya gicu.Gimana bisa jadi agen perubahan kalo belum2 merasa sok elit ???

    Lha kalo mengandalkan sumbangann pemerintah yang merasa “sok miskin” itu, mana mungkin mampu. Kalo untuk pendidikan standard bisalah dipikirkan, tetapi untuk mencapai tahap berkualitas beneran secara merata untuk semua masyarakat. Tidak ada anggaran yang mencukupi untuk itu.

    APBN pendidikan 20% juga terbukti belum bisa mengatasi masalah. Malah tekanan untuk mewujudkan pendidikan terstandard mengakibatkan kontraproduktif karena endingnya malah kecurangan kolektif ujian nasional yang disponsori sekolah dan dinas setempat.

     
  13. lovepassword

    Agustus 22, 2009 at 3:27 pm

    Ada lagi yang perlu dihapus : Dikotomi sekolah non sekolah itu sedemikian menyebalkan. Bagi sementara pihak yang sok berpengalaman : Lulusan sekolah diasumsikan sebagai manusia elit sok gaya yang sebenarnya masih hijau. Pada sisi lain, pihak yang sok intelektual menyepelekan pihak2 yang tidak bergelar pendidikan tinggi.

     
  14. suprayitno

    Agustus 22, 2009 at 9:04 pm

    Saya setuju bahwa pendidikan yang bermutu pastilah memerlukan duit yang banyak.

    Tetapi jika kita belajar pada sejarah, toh tidak ada negara yang begitu lahir sudah menjadi kaya. Mereka dulunya juga miskin artinya sangat kekurangan dana, tetapi mengapa dalam keterbatasan akhirnya negara tersebut pelan tetapi pasti bisa menjadi negara maju (punya banyak duit) sehingga mutu pendidikannya makin sulit terkejar?

    Konon, negara kita super kaya jika dilihat dari kekayaan SDAnya, kenapa kekayaan alam yang melimpah ruah tidak bisa menopang pendidikan yang baik dan murah?

    Ada apa dengan para pemimpin di Indonesia? jangan-jangan kalau aku menjadi pemimpin, aku pun justru akan korupsi yang lebih banyak lagi? padahal aku tahu, sumber kebejatan dan keruntuhan negara salah satunya ya karena korupsi itu tadi.

    Kalau begitu, intinya manusia atau bangsa indonesia SEBAGIAN BESAR sesungguhnya berisi orang-orang MUNAFIK.

    Nah gimana dong memerangi para munafikun ini? Kita maunya TEGAKKAN HUKUM DAN TERAPKAN HUKUMAN YANG BERAT BAGI PARA PELANGGARNYA, itu kan maunya kita (saya) karena kita (saya) bukan aparat polisi, jaksa atau pun hakim. Dengan mental munafik, mustahil kita (saya) bisa menegakkan hukum.

    Gimana dong, proses rekrutmen bagi para calon penegak hukum supaya mereka benar-benar bermental baja yang tidak mudah tergiur oleh SOGOKAN/suap?

    Kebayang susah banget kan Mr Love?

     
  15. suprayitno

    Agustus 24, 2009 at 12:19 am

    Wahai rakyat Indonesia teristimewa bagi kaum muda,

    Bangkitlah mari kita tengok negeri ini coba Anda bandingkan komentar saya di atas tentang MEMAKNAI KEMERDEKAAN dan mari seluruhnya membaca KORAN KOMPAS HARI INI 24/8 halaman pertama RI TERJEBAK IMPOR PANGAN dan juga baca halaman 6 tulisan Siswono Yudo Husodo yang membahas tentang KETERGANTUNGAN EKONOMI INDONESIA dibawah judul “Mandiri, Berdikari, Merdeka!!”

    Tahun 2014 generasi muda harus berani mengambil alih (take over) kepemirantahan negara kita, sebab sudah terbukti bahwa “generasi tua” tidak becus mengurus negara sehingga Indonesia menjadi negara terkorup, ketergantungan,dan salah urus.

    Buktikan bahwa generasi muda BISA LEBIH BAIK, jangan hanya berhura-hura dan bermanja-manja. Lebih baik kita menjadi negara sekuler tetapi bisa memakmurkan, menyejahterakan dan memberi perlindungan keamanan bagi seluruh rakyatnya, daripada menjadi negara yang religius tetapi tetap miskin dan penuh KKN.

    Saya melihat, potensi generasi muda dan masyarakat Indonesia begitu melimpah tetapi sebagian besar dari mereka malah asyik menenggelamkan dirinya pada hal-hal MISTIK yang ditandai merebaknya aktivitas keagamaan.

    Agama menjadi “benda” mainan yang begitu mengasyikkan sampai generasi muda lupa, bahwa agama tidak bisa membuat perut kita kenyang, agama tidak bisa dijadikan basis negara demokratis dan modern.

    Bagi negara maju yang sementara ini berhasil menguasai perekonomian negara kita, pasti sangat senang dan mendukung penuh jika generasi kita “mabok/mendem” agama. Paling yang mereka harapkan asal jangan menjadi teroris.

    Jika masyarakat atau rakyat Indonesia “mendem/mabok” agama maka semakin mudah dikuasai oleh asing. Sebab, produk dari agama hanyalah “KEIMANAN” dan mistisisme bukan menghasilkan teknolologi dan ilmu pengetahuan.

    Oleh karena itu, secara teoretis jika generasi muda kita mabok agama, maka tidak akan bisa bersaing dengan kemajuan global.

    Bagaimana komentar mas tomy dan kawan-kawan?

     
  16. tomy

    Agustus 24, 2009 at 2:19 am

    @ Lumiere
    Kemerdekaan memang banyak arti seperti juga pencerahan, hanya kadang kita terjebak dalam kemerdekaan atau pencerahan yang bersifat EGO kemerdekaan *pencerahan* berarti juga memerdekakan *mencerahkan*
    @ Singal
    mari bangun jiwanya bangun badannya :mrgreen:
    @ m4stono
    bagi saya itu doa orang tua bagi kita semua putra-putrinya penerus bangsa
    Leres sanget kita harus gumregah anawung kridha ungguling yudha :D
    @ Mas Hadi
    Bisa diceritakan lebih lanjut Mas
    @ KangBoed
    salam damai & kasih sayang Kang selamat tunaikan ibadah puasa
    Ilove you full
    @ Gostav Adam
    terimakasih Mas segera saya penuhi undangannya
    @ Eyang dBo
    Matur nuwun sanget Yang, kami banyak belajar dari para Sesepuh seperti Eyang.
    Donga saha pangestu selalu kami harapkan agar kami generasi muda ini sungguh mampu nglajengaken lelampahan para Minulya

     
  17. tomy

    Agustus 24, 2009 at 3:00 am

    Terimakasih sekali Mas Prayit atas segala uraiannya yang begitu gamblang dalam melihat wajah bangsa kita ini
    Tulisan saya diatas sebenarnya juga sebuah jawaban atas pendapat Mas Prayit saat kita diskusi dulu bahwa kita terlalu terburu-buru untuk merdeka
    Bagi saya 17-8-1945 merupakan moment yang sangat tepat dengan uraian filososi yang telah saya tulis.
    Memang sangat perlu dilakukan kerja di bidang ideology guna membangkitkan kesadaran anak bangsa ini yang telah tergadai otaknya Ideologi adalah pernyataan kepentingan, kepentingan yang menindas & kepentingan yang tertindas,
    selama ini kita tidak tahu bhawa segala kemudahan yang kita peroleh seperti slogan kosong kemerdekaan, bagi-bagi kapling surga adalah peluru berbalut madu yang meledakkan otak membuat kita jadi sekedar barang komoditas
    kita tak tahu lagi kita ini budak kepentingan siapa

    Kabeh manungsa wis ora duwe sirah amung gembung mlaku pating bilulung, cinaplok dening naga lan macan sirahe.
    Naga kinarya aji, mahanani ngelmu utawa agama.
    Macan kinarya arya, mahanani kekuwasaan, dhuwit lan nafsu kamurkan.
    Wis ora ana manungsa amung bathang angucap jisim lumaku.
    Sanadyan katon blegere lengkap nanging wis ora ana fungsine.
    Duwe mripat wis ora bisa kanggo mulat…
    Duwe kuping wis ora bisa kanggo angrungu…
    Duwe tutuk wis ora bisa kanggo micara…
    Duwe irung wis ora bisa kanggo ngganda…
    Bedane wong urip karo mati kuwi ana ing rasa, sanadyan isih ambegan, mloka-mlaku ning wis padha ora duwe rasa.
    Manungsa sirah urang lumampah baris tut wuri dening barisan jerangkong.
    Aweh sasmita manungsa wis malih kaya urang, wis ora duwe uteg, ngalor-ngidul anyunggi tai. Dene barisan jerangkong minangka pralampita menawa manungsa wus kelangan akal budi, utege garing kari cumplung nyengingis agawe miris.

    Mistik bagi saya adalah sarana agitasi bagi si jerangkong atau penyunggi tai tadi, karena sejatinya mistik adalah kedalaman pemaknaan dalam hidup sehari-hari bukan sekedar klenik & agama adalah budi pekerti luhur bukan sekedar atribut
    Semoga mistik *pemaknaan* tanggal 17-8-1945 ini bisa sebagai sumbangan membangunkan kesadaran bangsa, membangkitkan kebanggaan & kepercayaan diri bahwa kemerdekaan dari kolonialisme adalah buah dari perjuangan
    Bahwa budaya kita begitu adiluhung mencakup segala pencapaian moral segala bangsa bahwa kita semua manusia tercipta sama tiada yang lebih tinggi, sehingga kita dengan jernih dapat melihat kepentingan2 apa yang tersembunyi dalam dalam segala aktivitas setiap manusia

     
  18. sikapsamin

    Agustus 24, 2009 at 5:22 am

    Melihat perkembangan yang tergelar spt sekarang ini, sangat penting bagi para Generasi Muda Penerus Bangsa, untuk :
    1. Jangan Melupakan Sejarah, baik sejarah Indonesia (http://en.wikipedia.org/wiki/History_of_Indonesia), maupun sejarah dunia.
    2. Penyegaran kembali terhadap kandungan Makna PEMBUKAAN UUD-RI 1945
    3. Tiap JATI-DIRI PRIBADI(individu) harus siap membentuk keterpaduan menjadi JATI-DIRI BANGSA.

    Bhinneka Tunggal-Sikep
    Bakuh-Kukuh-Utuh…NKRI
    NUSWANTARA KERTAGAMA RAHARJA INDAH

    Samin adalah Sikap

     
  19. elmoudy

    Agustus 24, 2009 at 6:16 am

    waah kok bisa pas gt yaa.. 17 agustus 1945.

    hari yang cukup sakral n penuh makna tersmbunyi

     
  20. suprayitno

    Agustus 24, 2009 at 1:31 pm

    MANUSIA BUKANLAH HEWAN

    Mungkin semua orang setuju dengan pernyataan di atas. Namun, tidak semua mau menyadari kodrat demikian, sehingga Thomas Hobbes mengatakan “homo homini lupus”, manusia yang satu menjadi srigala bagi yang lainnya. Hewan atau binatang dalam rangka mempertahankan hidup (survival of the fittest) selalu menggunakan keperkasaan tubuhnya, kekuatan, racun/bisa, gigi, cakar, atau paruhnya. Orang Jawa sering mengungkapkan “adigang, adigung, adiguna”.

    Jika manusia dalam mempertahankan hidupnya “hanya” mengandalkan kekuatan, kekuasaan dan kecerdasan an sich, maka terjadilah penghisapan/eksploitasi antar sesama manusia. Akhirnya perang, permusuhan, penindasan dan kekerasan menjadi pilihan yang diagung-agungkan para elite.

    Manusia bukanlah hewan, sebab hewan tentu hanya sedikit bahkan mungkin tidak memiliki sifat “bijaksana” etika dan estetika, sedangkan manusia memiliki sifat yang jauh melebihi kodrat hewan. Manusia yang utuh kepribadiannya pastilah memiliki jiwa yang teduh karena mereka diliputi oleh kebijaksanaan hidup, etika dan estetika.

    Untuk bisa mencintai kebijaksanaan hidup dibutuhkan pembelajaran yang tak pernah berhenti. Prinsip wong Jowo sangat sederhana “ojo jiwit yen ora gelem dijiwit”. Namun sayangnya, saya melihat lebih banyak orang yang “egois”, hanya mau benere dewe lan menange dewe, sehingga yang minoritas, yang lemah, miskin, bodoh tetap teraniaya sepanjang masa.

    Penganiayaan ini bisa atas nama politik atau agama. Atas nama politik biasanya menggunakan dalil sakral “demokrasi” yakni, kekuasaan dari, oleh dan untuk rakyat. Sebagai slogan kata-kata Abraham Lincoln ini amatlah menarik. Tetapi dalam kenyataan tidak demikian, karena yang menentukan nasib rakyat tetap saja para elite. Kaum elite adalah pemilik kekuasaan yang akan menentukan akses sumber daya ekonomi dan politik. Dengan atau tanpa demokrasi tetap saja kekuasaan akan jatuh dalam pelukan kaum elite.

    Kemudian atas nama agama/keimanan yang dibalut kain sakral bernama “demi Tuhan” para elite agama pun menebarkan hawa mistis sehingga akhirnya berlaku hukum “pengkafiran” untuk menjustifikasi tindakan kekerasan terhadap golongan yang menolak untuk patuh pada elite agama.

    Sejatinya, semua itu hanyalah usaha kaum elite demi kepentingan “ekonomi, presitise dan kekuasaan” dengan mengorbankan kaum kecil/umat sebagai palang pintu. Sebab, sampai kapan pun yang namanya rakyat kecil tetap saja jadi palang pintu untuk kegiatan para “juragan” yang sejatinya tak pernah memikirkan kemiskinan, keterbelakangan, kemunduran dan kebodohan umatnya. Lord Acton berkata “power tends to corrupts” Semoga apa yang saya ungkapkan benar adanya.

     
  21. yang-kung

    Agustus 24, 2009 at 1:46 pm

    Dengan mencermati tulisan serta berbagai tanggapan tentang perkembangan negeri Nusantara ini,saya…sungguh2 merasa prihatin.Kalau hal ini tidak ada perubahan,saya khawatir negeri ini akan tenggelam kedalam lumpur yang dalam.Menjadi ejekan bagi negara2 tetangga,warganya hanya bisa jadi buruh,hanya bisa gembar-gembor,tukang ngebom dansuka padu dll.,kurang kreatif hanya ribut rebutan kue.

    Dengan penuh harapan kami mengajak para sahabat sekalian untuk menemukan inspirasi melalui rangkaian renungan harian,melalui sharing dan diskusi ,khususnya di bulan2 penuh rahmat ini,mungkin di lembaga2 pendidikan/di kantor2 jawatan/di tingkat RT/RW dll.untuk mencari solusi terbaik dalam “ikut andarbeni” NKRI.Sebab keprihatinan ini perlu kebersamaan,tidak mungkin kita berbuat sendirian untuk mengadakan perubahan.Usulkan pada pimpinan/lingkungan atau siapapun yang masih peduli pada NKRI.

    Akhir kata kami mengucapkan Selamat melaksanakan Ibadah Puasa,maaf lahir batin.

    salam rahayu.

     
  22. sunarnosahlan

    Agustus 24, 2009 at 1:55 pm

    nama adalah doa, begitu kan mas!

     
  23. hadi wirojati

    Agustus 24, 2009 at 2:44 pm

    PAMUJI RAHAYU

    panjang dan lebar kalu harus kami ceritakn kangmas.. karena ini menyangkut seseorang yang diluar dari keluarga besar yang diakui .. karena kemumpuninya beliau dianugrahi nama kahyangan dalam artian nama gaib oleh sang pengukir jiwa raganya.. dan memang beliau adalah orang yang selalu besembunyi dan tidak memproklamirkan dirinya adalah turunan sang …….?
    mohon maklum kangmas.. terima kasih.
    salam sihkatresnan
    rahayu..,

     
  24. Santri Gundhul

    Agustus 24, 2009 at 3:45 pm

    Kang Tommy,
    Aku lagi menyimak A~I~U.
    Yen ora ono A~I~U kuwi kan ateges Arab Gundhul…haaaaaaaaaaaa…

    Lanjut Kang

    Rahayu

     
  25. Sawali Tuhusetya

    Agustus 24, 2009 at 9:09 pm

    dirgahayu negeriku. sungguh disayangkan, petuah2 luhur semacam itu sekarang ini dinilai sudah mulai tergerus oleh nilai2 yang dibawa peradaban global, pak tomy. meski demikian, kita terus berharap dan berupaya agar jangan sampai nilai2 luhur baku semacam itu hilang dari fosil peradaban dan buku2 sejarah.

     
  26. KangBoed

    Agustus 26, 2009 at 7:50 pm

    Para Sahabat mari kita gunakan momentum PUASA RAMADHAN ini untuk mempersatukan RASA.. membentuk satu keluarga besar dalam persaudaraan ber dasarkan CINTA DAMAI DAN KASIH SAYANG.. menghampiri DIA.. menjadikan ALLAH sebagai SANG MAHA RAJA dalam diri.. menata diri.. meraih Fitrah Diri dalam Jiwa Tenang.. menemukan Jati Diri Manusia untuk Mengembalikan Jati Diri Bangsa
    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
    I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

     
  27. suprayitno

    Agustus 27, 2009 at 12:58 pm

    Kang Boed salam kenal,

    bagi yang sedang menjalankan ibadah puasa saya ucapkan selamat menunaikannya semoga dengan berpuasa akan menjadi manusia yang lebih peka, peka terhadap lingkungan dan peka terhadap rasa keadilan.

    bagi yang tidak menjalankan puasa (seperti saya), selamat makan dan minum. Nikmatilah hidup,jangan mau menyiksa diri, jika lapar ya makan, jika haus ya minum, jika ngantuk ya tidur aja, jika pengin hubungan seks ya lakukan aja.

    Tapi awas ya, jangan makan sembarangan, makan jangan berlebihan, makan yang menyehatkan jangan makan yang menyebabkan penyakit. Ingat yang enak-enak dimulut belum tentu enak bagi “perut/usus” bisa jadi itu merupakan sumber penyakit, yang akan memmbuat hidup kita jadi repot.

    Minum juga, jangan sembarangan minum apalagi minuman yang bikin gak sehat (mabok), tidur juga jangan sembarangan tidur, nanti di kantor tidur (sampai ngiler), wah gawat bisa dipecat, di bangku terminal tidur sampai ngorok, wah nanti dompet bisa hilang.

    Jadi tidurlah secukupnya dan ditempat yang semestinya, sebab orang yang terlalu banyak tidur akan mengakibatkan badan tidak sehat.

    Hubungan seks juga hati-hati, sebab jika tidak hati-hati maka seks itu bisa mematikan/membunuh. Seks itu disatu sisi “menghidupkan” tetapi di sisi lain bisa “membunuh”.

    Maka ambillah prisnsip seks itu yang “menghidupkan” yakni dilakukan secara sopan (ditempat dan waktu yang semestinya), bertanggungjawab, baik dan benar. Benar menurut ukuran peradaban manusia, bukan binatang.

    Nah itu ajaran sakkepenake dan sakbutuhe.Bila ini dinilai baik, sayangnya aku belum bisa menjalani 100 %, aku masih sering makan ngawur dan kekenyangan, juga dikit-dikit selingkuhlah (ini namanya seks yang membunuh/menyesatkan!!)

    Mungkin ini bukan ajaran/tuntunan agama,ini ajaran sesat jadi hiraukan sajalah.

    salam cinta kang bud, maaf ya jika tak berkenan dengan ajaran orang merdeka (sakkepanake) ini. Terima kasih.

     
  28. Santri Gundhul

    Agustus 27, 2009 at 1:46 pm

    Kadang mas Suprayitno,

    SALAM KAMARDIKAN….
    URIP MERDIKO…
    URIP TENTREM…
    URIP kang ora ono meneh reribeting POLAH.

    Rahayu

     
  29. lovepassword

    Agustus 27, 2009 at 5:49 pm

    Tahun 2014 generasi muda harus berani mengambil alih (take over) kepemirantahan negara kita, sebab sudah terbukti bahwa “generasi tua” tidak becus mengurus negara sehingga Indonesia menjadi negara terkorup, ketergantungan,dan salah urus.

    ===> Memangnya kau pikir para raja itu mau kita gusur ? Yang bener sajalah kau. Hi Hi hi. Generasi muda sok nyalon jadi presiden. Endingnya paling2 cuma bargaining buat bisa masuk tim sukses lalu jadi menteri. Faktanya kan gicu.

    Mau mabok agama, mau mabok apapun, yang namanya mabok itu berlebihan. Masalahnya pada berlebihannya itu.

     
  30. lovepassword

    Agustus 27, 2009 at 5:53 pm

    Tetapi jika kita belajar pada sejarah, toh tidak ada negara yang begitu lahir sudah menjadi kaya. Mereka dulunya juga miskin artinya sangat kekurangan dana, tetapi mengapa dalam keterbatasan akhirnya negara tersebut pelan tetapi pasti bisa menjadi negara maju (punya banyak duit) sehingga mutu pendidikannya makin sulit terkejar?

    ===> Masalahnya mereka berbuat, lha kita dari jaman celana monyet sama facebook sibuk terus berdebat. Termasuk kau dan aku ini. Hi Hi Hi.

    Tiap ada kebijakan diganti lagi alasannya untuk membangun pondasi pendidikan yang baik. Dari dulu sampai sekarang bongkar pasang pondasi melulu lha kapan mbangunnya. Kurikulum pendidikan kita sudah jungkir balik berapa kali ??? Hasilnya apa ?

     
  31. lovepassword

    Agustus 27, 2009 at 5:55 pm

    Masalahnya mereka berbuat, lha kita dari jaman celana monyet sama facebook sibuk terus berdebat. Termasuk kau dan aku ini.

    Yang ini salah ketik maksudku sampai . Ngetik saja nggak beres gimana mau pinter coba. :)

     
  32. suprayitno

    Agustus 28, 2009 at 7:37 am

    he……..he……he…….kita asyik berdebat, mereka asyik rebutan duit, duit dari mana aja seh. Entah dari utang luar negeri atau ngrampas hak rakyat.

    Dari dulu yang namanya rakyat susah melulu ya,mang paling asyik jadi penguasa.Lihat aja kondisi saat ini dimana semua partai pada akhirnya justru rebutan jabatan, tak peduli rakyatnya melarat atau menderita. Tak peduli negara sudah dalam jebakan impor pangan,sampai garam pun harus impor yang nilainya tidak tanggung tanggung sampai 900 milyar per tahun.

    Silakan bung rakyat rebutan balung!!!!!!!!!
    Lumayan buat sop-sopan,atau bikin tengkleng.

     
  33. hadi wirojati

    Agustus 28, 2009 at 1:03 pm

    Sementara yang lain rebutan duit.., sementara yang lain berdebat.., sementara yang lain rebutan kursi.. sementara yang lain bongkar pasang pondasi.. sementara yang lain nonton.. sementara yang lain diam.. dan sementara yang banyak sibuk mengais kemiskinan …, hehehe… saya termasuk yang rebutan balung… lumayan masih ada sungsumnya . berebut dengan semut…, lha terus sebagian ngapain ya…, lha wong lagu kebangsaan aja teks nya berubah .. ternyata eh ternyata … plesetan teksnya dibuat oleh orang kita sendiri.. di Amerika Utara…, lha …?

     
  34. lovepassword

    Agustus 29, 2009 at 4:31 am

    Hi Hi Hi

     
  35. KangBoed

    Agustus 31, 2009 at 3:39 pm

    SAHABATKU RAIH FITRAH DIRI menjadi MANUSIA SEUTUHNYA UNTUK MENGEMBALIKAN JATI DIRI BANGSA
    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
    I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

     
  36. itempoeti

    September 2, 2009 at 2:41 am

    hahahahaha…

    rupanya banyak juga yaaa…, yg dapet wejangan langsung dari beliau…
    :D

     
  37. edratna

    September 22, 2009 at 6:33 am

    Artikel yang mencerahkan, banyak sekali kandungan makna yang dalam ….

     
  38. amirul zulfi p

    Februari 23, 2010 at 12:13 pm

    mari kita lanjutkan apa yang telah di berikan oleh para pahlawan yang telah membebaskan negara ini dari penjajahan BELANDA karna kita adalah penerus jadi jangan sampai kita terjajah lagi

     
  39. savitri

    Agustus 3, 2012 at 1:07 am

    Pak Tomy….mohon diijinkan sy cuplik artikel panjenengan untuk disharekan … insya Allah bermanfaat.. matur nuwun..salam

     
  40. empattiganol

    Agustus 17, 2012 at 8:33 pm

    17 – 8 – 1945
    pidato menit ke 17 …17_8_2012 …suara itu persis suara Bung Karno …masuk ke dalam pikiranku …inilah (kurang lebihnya) yang kudengar …

    ….bilanganku hanya satu …hanya angka 8 … yang lainnya sudah jelas …17nya .. 19nya …4nya…5nya….pukul 10nya… 5 dan 6nya… nah angka 8 ini aku jatuhkan pada bulan ke 8 …. yang kebetulan bertepatan dengan bulan Ramadhan… bukan karena aku memilih Ramadhan… pada bulan ke 8 dimana aku akan proklamasikan kemerdekaan negeri ini .. di angka 8 ini aku rahasiakan 8 pendekar Nusantara dari 8 penjuru angin Nusantara …kepada mereka aku titipkan Indonesia …selagi mereka rukun dan damai ..maka selama itu pula Indonesia akan berjaya dan terus berjaya dan semakin berjaya di panggung dunia…membuat iri bangsa-bangsa lainnya …tapi kalau tidak …maka … entahlah … jika aku masih bisa menyaksikan saat itu maka bukan airmata yang menjadi hiasan tangisku ..tapi …darah …darah yang mengucur …bukan lagi menetes … mudah-mudahan dari salah satu penjuru angin itu …muncul seorang satria yang mumpuni yang bisa mempertahankan keberadaan Indonesia di panggung dunia … jangan kau pikir satria itu seseorang … karena satria itu adalah setiap diri kalian yang hidup di Indonesia … di utara Indonesia … di timur laut Indonesia …di timur Indonesia .. di tenggara Indonesia di selatan Indonesia di barat daya Indonesia, di barat Indonesia … dan di barat laut Indonesia …kalian adalah satria itu-satria itu …selama kalian rukun … aku tak khawatirkan Indonesia ….namun demikian diantara ratusan juta satria Nusantara tetap harus ada seorang satria yang dengan kesaktiannya akan menjaga dan mengawal Nusantara …. dialah satria yang bisa memeras awan menjadi hujan ….dialah satria yang bisa membalikkan alir sungai dari hilir ke hulu … dengan telunjuknya ia bisa memerintah gunung-gunung untuk tidak meletus … memerintah padang pasir untuk mengelurkan air … menunjuk gelombang pasang untuk tidak garang … (terputus) …

     
  41. AMI

    Desember 19, 2012 at 6:13 am

    http://satriopiningitmuncul.wordpress.com/trisula-wedha/

    TRISULA WEDHA
    Oleh: Yaman Al Bughury

    Prabu Jayabaya adalah orang yang pertama kali mempopulerkan istilah Trisula Wedha. Istilah ini disebutkan beberapa kali dalam ramalannya yang terkenal dengan ramalan Jayabaya. Banyak orang yang tidak mempercayai ramalan itu terutama masyarakat di luar pulau Jawa. Sebagian lagi bersikap apatis namun tidak sedikit juga yang meyakini kebenarannya. Sebagian masyarakat Jawa menjadikan ramalan Jayabaya sebagai rujukan dalam mengamati setiap era perubahan zaman.

    http://satriopiningitmuncul.wordpress.com/trisula-wedha/

     

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: