Ya Allah, Tuhan orang-orang yang terampas!
Engkau hendak merahmati Orang-orang yang terampas di dunia ini,

Orang kebanyakan yang bernasib tak berdaya
Dan kehilangan hidup,
Orang yang diperbudak sejarah,
Korban-korban penindasan
Dan penjarahan waktu,
Orang-orang celaka di atas bumi ini,
Menjadi pemimpin-pemimpin umat manusia
Dan pewaris-pewaris bumi. Sekarang sudah tiba waktunya
Dan orang-orang terampas di atas bumi ini
Merupakan pengharapan akan janji-Mu

Ali Syariati

Penggalan Kisah

Bermula dari sini, ketika memburu rejeki untuk pemenuhan kebutuhan, Tuhan menghardik aku lewat sosok pengemis gila di pertigaan.

Orang gila yang tak sedap dipandang disebuah pertigaan komplek perumahan elit & perkantoran, dimana mobil-mobil mewah berlalu-lalang. Berharap kepedulian manusia untuk memberikan air pelepas dahaga, ia terus memukulkan botol kosongnya ke gapura seraya berteriak mengacungkannya.

Hingga tengah hari yang panas saat aku berikan sebotol air kepadanya, ia masih disana. Nglesot diatas aspal dengan botol air yang masih kosong.

Dalam pandang penuh syukur dimatanya, Tuhan menampar dan menghardikku sedemikian keras dan menyakitkan.

Betapa selama ini dibutakan oleh kepentingan dan kebutuhan pribadi hingga tak mampu lagi melihat sosok manusia terbuang ini.

Betapa selama ini kau terlalu sibuk dengan diriku. Segala tangis sesal yang palsu atas dosa, segala syukur puji, semua harap akan rahmat dan berkat, semua teriak lantang dalam nama Tuhan…….Semua tentang diriku..dan hanya tentang diriku.

Selama ini aku mengamini kata2 bijak Karl Marx bahwa agama itu candu. :cry:

Yup, semua tentang aku yang terjebak dalam nihilisme, perburuan tiada henti akan pemuasan hasrat, yang dalam padang perburuan aku perlu ekstasi, kenikmatan sesaat, candu dimana segala dalih kemuliaan dan keilahian akan menjaga dan menopangku. J

Persis seperti yang disabdakan Nietsche, aku telah membunuh Tuhan. Tuhanku telah mati dalam doktrin, dibunuh oleh tafsir & kotbah yang dipaksakan, dikubur dalam teks-teks kosong, dikenang dalam ritual pengaguman dan pengagungan.

Namun lewat pengemis gila itu aku disapa oleh Tuhan yang hidup dan menghidupi, Tuhan yang bekerja melalui kebetulan-kebetulan yang kutemui dalam keseharian.

Teringat ujara-ujar orang tua dahulu ,”Le hati2lah kalau ada pengemis minta2 siapa tahu itu adalah Nabi atau Wali yang sedang menyamar”. Setuju sekali kawan, Tuhan sendiri sedang menyamar dalam dirimu, temanku si pengemis gila. :mrgreen:

Gusti Allah, Gusti ‘Bagusing Ati’ Allah ‘Myang Sepadha-padha’

Konsisten dengan tulisan saya tentang keadilan sosial dalam menyongsong jaman adil, ada sepenggal perumpamaan pengadilan antara Sang Raja dan para umatnya :

“Hai kamu yang diberkati, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika aku lapar, kamu memberiku makan, ketika aku haus kamu memberiku minum, ketika aku seorang asing kamu memberiku tumpangan, ketika aku telanjang kamu memberiku pakaian, ketika aku sakit kamu melawatku, ketika aku dalam penjara kamu mengunjungiku.”

”Ya Tuanku bilamanakah aku melihat engkau lapar dan memberikanmu makan…..?”

”Sesungguhnya segala sesuatu yang telah engkau lakukan bagi salah seorang saudaraku yang paling hina ini engkau melakukannya untuk aku.”

”Hai kamu yang terkutuk, enyahlah dari hadapanku….. Sebab ketika aku lapar, kamu tidak memberiku makan, ketika aku haus kamu tidak memberiku minum, ketika aku seorang asing kamu tidak memberiku tumpangan, ketika aku telanjang kamu tidak memberiku pakaian.”

”Ya Tuanku bilamanakah aku melihat engkau lapar dan tidak memberikanmu makan…..?”

”Sesungguhnya segala sesuatu yang tidak engkau lakukan bagi salah seorang saudaraku yang paling hina ini engkau tidak melakukannya untuk aku.”

Orang yang hidupnya dituntun oleh tanggung jawab terhadap nasib sesamanya, tidak sekedar dalam kata-kata melainkan dalam perbuatan keadilan sosial dan cinta yang nyata, ia yang telah menunjukkan perhatian praktis demi kesejahteraan sesamanya disebut sebagai orang benar yang diberkati.

Orang yang mengatakan hal-hal indah tentang cinta serta keadilan, entah dalam pidato kampanye caleg, dalam dokumen resmi seperti postingan blog ini, namun dalam kenyataannya menutup diri terhadap kebutuhan-kebutuhan nyata sesamanya, disapa sebagai orang yang terkutuk. *wah aku banget* :oops:

Namun bagaimana mungkin hubunganku dengan Allah ditentukan, dan hanya ditentukan oleh hubunganku dengan seseorang yang samasekali berbeda, yang melihatnyapun kita ogah dan jijik? Jawabannya terdapat dalam hubungan yang sangat erat, praktis identik, antara Tuhan dan pribadi sesamaku. Apa saja yang dilakukan bagi sesamaku yang paling hina dilakukan untuk Tuhan karena hanya disini dalam diri sesama kita yang paling hina Tuhan ditemukan juga dan akhirnya juga ditolak

Jadi wahai kawanku manakah yang lebih menggetarkan imanmu? Tuhan yang membangkitkan orang mati, Tuhan pembuat keajaiban ataukah Tuhan yang menghendaki kita berbagi dengan sesama yang paling hina?