Salah seorang guru saya mengajarkan bahwa hidup di dunia ini sesungguhnya adalah mati. Dikatakan demikian karena hidup di dunia ini ada surga dan neraka yang tidak bisa ditolak oleh manusia. Manusia dalam menjalani hidupnya selalu mengalami kemelekatan dan penolakan. Setiap hal yang menyenangkan menimbulkan kemelekatan bila tercapai pemenuhannya dikatakan manusia mendapatkan surga. Sebaliknya hal-hal yang tidak menyenangkan menimbulkan penolakan bila tak mampu menghindarinya dikatakan neraka.
Dalam agama kita diajarkan bahwa Tuhan bertahta dalam Kerajaan Surga, juga diimani Tuhan ada dimana-mana, anglimputi ing sakabehing kalir. Jika Ia ada dimana-mana, tidakkah Surga juga ada dimana-mana. Jika surga ada dimana-mana lalu mengapa banyak orang masih berpaling dan tidak mau menghadapi dunia yang saat ini dijalani dan malahan terus berharap pada dunia (surga) yang nun jauh diseberang sana ?

Surga, kalau kita mau jujur, seperti yang diajarkan dalam agama, yang menjadi dongen pengantar tidur anak-anak kita juga sebuah pengharapan akan kehidupan yang lain bagi setiap orang adalah DAMBAAN DARI PUNCAK KENIKMATAN NAFSU.
Ya manusia adalah makhluk berhasrat. Hasrat atau hawa nafsu tidak akan terpenuhi oleh karena selalu direproduksi dalam bentuk yang lebih tinggi lagi. Sekali hasrat dicoba dipenuhi, maka yang muncul hanya hasrat yang lebih tinggi lagi, lebih sempurna lagi.
Salah satu sifat dari hawa nafsu adalah, bahwa ia tidak mau terpancang pada teritorial (kepuasan) yang telah dikuasainya. Hawa nafsu selalu bersifat deteritorial, selalu berontak melewati teritorialnya dan mencari teritori-teritori baru. Ia selalu menembus setiap batas-batas teritorial tanpa akhir. Hawa nafsu selalu membuat trik-trik dan tipu daya. Tipu daya yang dibahasakan sebagai akal budi, nilai-nilai keutamaan, iman dan juga Tuhan. Akan tetapi tipu daya saja tidaklah cukup; Ia butuh sesuatu yang abadi : SURGA, ritual pencarian yang tiada akhir.
Disinilah manusia terperangkap dalam nihilisme, ia tidak mampu untuk hidup, dalam bahasa guru saya manusia adalah mayat gentayangan, bathang angucap jisim lumaku, hanya mengejar kekosongan demi kekosongan, mengejar pemuasan hasrat demi pemuasan hasrat.
Nihilisme yang mengantar Begawan Wisrawa menuju kehancuran saat mewejang Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu kepada si cantik Sukesi. Seorang Raja Besar dengan dalih yang tak kurang besarnya, madheg pandhita, mengejar sosok superman, manusia linuwih yang punjul-punjuling apapak.
Metafisika Cartesian yang mengagungkan akal budi dengan cogito ergo sum-nya pun meregang nyawa dalam persetubuhan Wisrawa & Sukesi.
Diyu, hasrat, hawa nafsu yang seharusnya diruwat, diterima sebagai bagian dari kesejatian diri malahan ditolak dibiarkan terlepas dari rengkuhan kesadaran. Lahirlah Rahwana yang terus menerus mereproduksi hawa nafsu yang dalam apa yang disebut oleh Deleuze & Guattari sebagai ’mesin hasrat’. Mesin yang terus-menerus mereproduksi ‘perasan kekurangan’ didalam diri manusia. Menjadikan hawa nafsu bergejolak dan menjadi korba rasa ketakutan tiada akhir terhadap tidak terpenuhinya kepuasan.
Lebih lima ratus tahun berlalu semenjak Sang Guru menyibaknya. Beliau mengalami nasib yang tragis, dihukum mati oleh persekutuan tidak suci para penguasa dan pemegang kepentingan. Kepala anjing dijadikan dalih ketakmampuan mereka menodai kemurnian jasadnya. Dan namanya sebagai simbol ‘the outsider’ mereka yang mencari makna kemerdekaan hidup sejati. Menak JINGGA, Lemah ABANG, juga kaum ABANGAN.
MERAH…MERAH…MERAH…
Jadi bagaimana dengan surgamu kawan, kemelekatan akan segala yang menyenangkan di dunia atau pencarian akan pemenuhan hasrat yang abadi hingga ke dunia lain nun jauh diseberang sana?