Bangsa Indonesia selalu bangga akan predikat sebagai bangsa yang religius, yang berketuhanan yang maha esa. Sebuah predikat konyol yang hanya dilihat dari banyaknya tempat ibadah& makin fasisnya jemaat. Bukan dari kualitas hidup manusianya.
Tuhan yang seharusnya berada dalam ’ranah pribadi’ yang akan membentuk kualitas hidup manusia menuju kepenuhannya ditarik ke ’ranah publik’ yang sarat dengan berbagai kepentingan.
Lalu strategi disusun & siasat dijalankan. Kolaborasi kekuasaan & agama membentuk Majelis kaum ulama sebagai pemegang hegemoni, yang akan berfatwa tentang berbagai hal dalam benar-sesat pun halal-haram. Dalam dogma & hukum yang mengatasnamakan Tuhan manusia telah menjadi komoditi yang paling berharga.
Teringat kata Pujangga Besar Ronggowarsito ”Gereja rata Mesjid kanggo saba pitik”. Manusia gagal mengetahui jati dirinya karena ia hanya sebuah predikat kelembagaan yang mangatasnamakan Tuhan, ia cuma komoditi, budak dari suatu kepentingan (disadari atau tidak).
Sebuah cerita tentang katak :
Musim ini musim penghujan
Dikatakan sebagai bulan-bulan penuh kemenangan
Setiap hari turun hujan
Demikian juga berkat & rejeki mengalir layaknya air hujan
Katak katak bernyanyi
Diiringi terbang & rebana
Riang gembira bersahut-sahutan
Kuung Koong Reek Koong
Hidup senang si kodok bangkong
Kuung Koong Reek Koong
Banyak uang tebal kantong
Hari makin malam
Katak-katak mulai mencari pasangan
Bersembunyi dibalik semak
Dalam empuk hangatnya peraduan
Cintaku oh sayangku
Betapa molek indah dirimu
Biar kunikmati surga ini
Berkah karunia Ilahi
Puas sudah si katak
Segalanya sudah terlampiaskan
Segera keluar dari semak
Bersuci diri masuk kubangan
Kembali mereka bernyanyi
Riuh rendah naikkan puji
Kuung Koong Reek Koong
Hidup senang si kodok bangkong
Kuung Koong Reek Koong
Banyak uang tebal kantong
…………..Musim ini musim penghujan
…………..Dikatakan sebagai bulan-bulan penuh kemenangan
April 10, 2008 at 6:22 am
Itulah bahayangnya, Pak Tomy, ketika Tuhan dan agama sudah dilembagakan dan diformalkan dalam sebuah institusi. atas nama agama dan Tuhan, para pemegang hegemoni kekuasaan itu merasa sebagai juru bicara kaum beragama yang mesti diikuti semua fatwa dan dogmanya. mereka yang tidak sepaham tak segan2 dikafirkan. btw, apa memag agama telah menjadi sebuah komoditi, pak, hehehehe, sehingga mereka yang sukses memperjualbelikan agama selalu nyaring bernyanyi seperti kodok bangkong itu, hehehehehe
April 11, 2008 at 2:54 am
Saya memilih urusan ketuhanan adalah urusan jiwa dengan pemiliknya… tak ada habisnya jika diperdebatkan bukan?
April 11, 2008 at 6:12 am
Lah…lah….
Kenyataannya, faktanya, Negeri ini yg konon katanya dihuni oleh manusia-manusia yang RELIGIUS heks..heks…tapi baru dilevel Penampakan LUAR maksudne. Nek jarene sampeyan kan hanya sebatas ” PEMULASAN LAHIR “….betul..betul…kiks..kiks…
Lihat saja sekarang ini, AGAMA sudah merambah dunia POLITIK dan dijadikannya sebagai kendaraan….
Lah…apakah Agama akan bisa menjadi simbol KEDAMAIAN…dalam kancah POLITIK…??.
Agama sudah tidak bisa lagi menjadi JALAN DAMAI bagi siap saja yang melaluinya…
Agama telah dijadikan alat dan sarana untuk MENGHAKIMI sesama makhluk…
Mungkinkah kita sudah LUPA…
Mungkinkah kita sudah LALAI…
Atau…
Mungkinkah kita telah SELINGKUH…
Hingga kita TIDAK sanggup lagi untuk MENJADI DIRI sendiri…sebagai makhluk yg telah diciptakan Tuhan..??
Nggelesod….mengamati sang KODOK…
April 11, 2008 at 2:55 pm
yah! saya kayaknya termasuk yang kodok bangkong iotu kali?! jadi malu saya!
April 12, 2008 at 1:36 am
@ sawali – agama tidak sekedar komoditi Pak, seperti halnya kapitalisme agamapun telah membuat manusia menjadi komoditi
@ rindu – setuju sekali, itulah yang saya katakan bahwa agama adalah ranah pribadi, yang sayangnya demi kepentingan agama telah ditarik menjadi ranah publik
@ santri gundhul – liyep-liyep layaping ngaluyup mendengar nyanyian kodok
@ gempur – ini hanya sebuah pembacaan saya terhadap sifat kodok dengan perilaku para pemegang hegemoni kok Pak
April 12, 2008 at 2:29 pm
JAGAD TAN SOYO RAME
Panggonan kang wingit wis padang, kaniasan lampu lan bangunan
setan-setan podo nggolek panggonan, nanging poro setan kebingungan. mergo wit-witan wis kanggo rebutan (jarah hutan) setan sidang mlebu kamar sembayang, setan membo-membo aweh nggo padang, nganti ra kroso jebul negoro bangkrut utang (kasus kredit macet)
JAGAD TAN SOYO INDAH
BLOGER PEMULA MBAH… NYUWUN SEWU
menungso rame podo golek wah, nganti wedi keno belet sawah, sak-iki wis ora ono medi sawah mergo sawah wis dadi omah. manungso sing ora biso urip wah rame-rame podo ngulu ngalap berkah kiblat wis ora ono nimg mekkah nanging ono panggonan sing salah. kiblat pindah ono ing kuburan sing nggowo sejarah.
ning kono manungso podo ngalap berkah kasebab wong urip sak-iki podo susahketambah roso resah mergo negoro tambah AKEH masalah.
RAMENING JAGAD INDAHING JAGAD
Koyo-koyo bumi meh kiyamat. (Tsunami, gempa, Lapindo dll) manungso ngomong sak-omong lali ora nggowo kalimat opo maneh bab sholat, koyo percoyo roso ati lungo minggat.
ONONE WEDI LAN WEDI
urip nang negoro iki rasane tan soyo nggegirisi, koyo wis ora ono menungso sing dipanuti,
maling gede podo minggat maling cilik podo disikat, untung isih ono dino jumat
JAGAD RA SIDO KIYAMAT heks….heks….heks…
April 12, 2008 at 2:31 pm
kupat disiram santen menawi lepat kulo nyuwun pangapunten…. good lucky
April 15, 2008 at 4:08 am
agomo wus kadya wedhak pupur. pecis kaji kanggo nutupi olehe korupsi. sujud rukuk kanggo panyamun olehe colong jupuk. donya wis kuwalik-walik. malinge wis wiwit tobat, malah kyaine ganti nyolong pitik.
April 22, 2008 at 8:09 am
masuk tuh postingannya…
btw koment bung eka…. hmmmm bagus..
duhhh kelas tinggi semua…
April 24, 2008 at 2:32 am
@ eka – kupat disiram santen
kebat kliwat panci makaten
@ Ki bodronoyo – donyane wis wolak walik
@ dyandesign – eh Bu Diyan ini anak cewek kok dipanggil Bung
April 28, 2008 at 3:13 am
salam kenal, pak tommy non soeharto
senang ketemu dengan kawan se-ideologi… hidup sekularisme!