Bangsa Indonesia selalu bangga akan predikat sebagai bangsa yang religius, yang berketuhanan yang maha esa. Sebuah predikat konyol yang hanya dilihat dari banyaknya tempat ibadah& makin fasisnya jemaat. Bukan dari kualitas hidup manusianya.

Tuhan yang seharusnya berada dalam ’ranah pribadi’ yang akan membentuk kualitas hidup manusia menuju kepenuhannya ditarik ke ’ranah publik’ yang sarat dengan berbagai kepentingan.

Lalu strategi disusun & siasat dijalankan. Kolaborasi kekuasaan & agama membentuk Majelis kaum ulama sebagai pemegang hegemoni, yang akan berfatwa tentang berbagai hal dalam benar-sesat pun halal-haram. Dalam dogma & hukum yang mengatasnamakan Tuhan manusia telah menjadi komoditi yang paling berharga.

Teringat kata Pujangga Besar Ronggowarsito ”Gereja rata Mesjid kanggo saba pitik”. Manusia gagal mengetahui jati dirinya karena ia hanya sebuah predikat kelembagaan yang mangatasnamakan Tuhan, ia cuma komoditi, budak dari suatu kepentingan (disadari atau tidak).

Sebuah cerita tentang katak :

Musim ini musim penghujan

Dikatakan sebagai bulan-bulan penuh kemenangan

Setiap hari turun hujan

Demikian juga berkat & rejeki mengalir layaknya air hujan

Katak katak bernyanyi

Diiringi terbang & rebana

Riang gembira bersahut-sahutan

Kuung Koong Reek Koong

Hidup senang si kodok bangkong

Kuung Koong Reek Koong

Banyak uang tebal kantong

Hari makin malam

Katak-katak mulai mencari pasangan

Bersembunyi dibalik semak

Dalam empuk hangatnya peraduan

Cintaku oh sayangku

Betapa molek indah dirimu

Biar kunikmati surga ini

Berkah karunia Ilahi

Puas sudah si katak

Segalanya sudah terlampiaskan

Segera keluar dari semak

Bersuci diri masuk kubangan

Kembali mereka bernyanyi

Riuh rendah naikkan puji

Kuung Koong Reek Koong

Hidup senang si kodok bangkong

Kuung Koong Reek Koong

Banyak uang tebal kantong

…………..Musim ini musim penghujan

…………..Dikatakan sebagai bulan-bulan penuh kemenangan